TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Anomali Ebstein
Finariawan Asrining Santosa, A. Samik Wahab
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada /
Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito, Yogyakarta
SEJARAH
Pada tanggal 12 Juni 1864, seorang pekerja laboratorium
terpaksa dirawat di rumah sakit All Saint's Hospital di Breslau-
Polandia karena nafas pendek dan palpitasi. Pasien terlihat
kurus, dengan sianosis dan pulsasi vena jugularis yang nyata.
Pasien ini diduga menderita kelainan jantung kongenital. Tanpa
terapi, pasien ini kemudian meninggal dunia seminggu
kemudian. Otopsi yang dilakukan oleh Dr. Wilhelm Ebstein
mendapatkan hasil: a) adanya malformasi berat pada katup
trikuspidalis, b) tidak adanya daun katup anterior, c) foramen
ovale paten. Kelainan yang dianggap beliau penting adalah
malformasi katup trikuspidal. Kemudian beliau membuat suatu
laporan kasus dalam Archiv fur Anatomy, Physiologie und
weissenschafliche Medicin yang terbit tanggal 12 Januari 1866;
dalam laporannya beliau menekankan gangguan sirkulasi yang
disebabkan oleh abnormalitas katup trikuspidalis dan
menerangkan mekanisme sistole-diastole selama pasien
tersebut hidup. Pada tahun 1900, seorang asisten profesor
Bagian Patologi Universitas Johns Hopkins bernama William
G. McCallum menampilkan koleksi museumnya yang
mirip/identik dengan kasus Ebstein. Pada tahun 1927, Alfred
Arnstein mempublikasikan kasus yang keempat puluh dan
menyimpulkan kasus ini sebagai "Ebstein Krankheit"
(Ebstein's Anomaly). Dari saat inilah muncul istilah "Anomali
Ebstein"
(1)
.
ASPEK ANATOMI
Seperti yang telah ditemukan oleh Dr. Wilhelm Ebstein,
kelainan utama yang mendasari adalah malformasi katup
trikuspidalis jantung
(1)
. Kelainan ini terutama disebabkan oleh
pelekatan katup septal dan posterior ke dinding miokardium
ventrikel kanan atau septum interventrikularis kanan ke arah
apeks jantung. Daun katup anterior dapat ditemukan melebar,
mengkerut, menebal, ataupun atretik
(2)
. Hanya katup posterior
dan septal yang salah tempat melekat. Dua daun katup ini
mengalami displasia dan ukurannya bervariasi. Daun katup
anterior tidak salah melekat tetapi sebagian besar melebar (Sail
Like) dan berupa jaringan fibrosa
(1)
.
Karena katup posterior dan septal salah melekat, volume
atrium kanan bertambah, dan ventrikel terbagi menjadi dua.
Bagian ventrikel yang berada di atas pelekatan katup abnormal
disebut ventrikel teratrialisasi, sedangkan sisanya disebut
ventrikel fungsional (trabekular atau outlet portions).(Gb.1).
(3,4)
Gb. 1. Gambaran anatomis anomali Ebstein, terlihat adanya malformasi
katup trikuspidalis dan ruangan ventrikel teratrialisasi.
Dari gambar 1 tidak terlihat foramen ovale yang paten
karena tertutup oleh aorta. Volume atrium jelas membesar
sedangkan volume ventrikel kecil, dinding atrium terlihat tipis,
dan daun katup anterior terihat sangat lebar dan hampir
menutup jalan keluar menuju arteri pulmonalis. Pada beberapa
kasus terjadi penutupan total atrioventrikular kanan, sehingga
ruangan ventrikel teratrialisasi terpisah dengan ruangan
fungsional ventrikel kanan, hal ini disebut anomali Ebstein
imperforata
(1)
. Daun katup posterior dan septal terlihat melekat
terlalu ke bawah sehingga terdapat ruangan yang disebut
ventrikel teratrialisasi
(2)
. Sayangnya foramen ovale yang
terbuka tidak dapat terlihat pada gb. 1. Dari pemeriksaan
histologis ternyata ditemukan adanya penipisan dinding atrium,
ventrikel teratrialisasi, dan ruangan fungsional ventrikel kanan
dengan penurunan jumlah serabut otot jantung. Sedangkan
pada ventrikel kiri dari pemeriksaan histologis ditemukan
sebagian besar terjadi fibrosis, hipertrofi, dan displasia non-
Cermin Dunia Kedokteran No. 143, 2004 37
spesifik. Kelainan-kelainan anatomis ini menjadi dasar pato-
fisiologi anomali Ebstein ini
(1)
.
ASPEK EMBRIOLOGI
Daun katup trikuspidalis dan chordae terbentuk dari
miokardium embrionik ventrikel kanan bagian dalam dengan
melubangi daerah masuk (inlet zone) dari dinding ventrikel
(delamination). Diawali sebagai bentuk otot, daun katup dan
chordae kemudian menjadi jaringan fibrosa. Daun katup
anterior dibentuk pada saat lebih akhir. Pada anomali Ebstein,
daun katup inferior dan septal memasuki daerah penghubung
(junction) antara inlet dan bagian trabekular, yang kemudian
menghentikan proses delaminasi. Daun katup posterior
terbentuk dari jaringan penghubung inlet dan trabekular
tersebut
(1)
.
Penyebab gangguan pembentukan sekat atrio-ventrikuler
kanan ini masih belum jelas, beberapa ahli menduga infeksi
dan/atau zat kimia teratogenik sebagai penyebab anomali
Ebstein. Antidepresan lithium diduga kuat menyebabkan
kelainan ini, dari penelitian populasi ditemukan peningkatan
insidensi anomali Ebstein pada ibu-ibu hamil yang mengguna-
kan lithium sebagai anti depresannya
(5)
.
ASPEK EPIDEMIOLOGI
Anomali Ebstein merupakan kasus yang amat jarang
ditemukan, diduga 0,3% sampai 1% dari seluruh kasus kelainan
jantung kongenital
(4)
. Di Amerika didapatkan kejadian anomali
Ebstein sekitar 1:210.000 kelahiran hidup. Kelainan ini
ditemukan pada 1 dari 1000 kali otopsi pasien dengan dugaan
kelainan jantung kongenital. Angka kejadian wanita sebanding
dengan pria, biasanya sporadik, tetapi pernah dilaporkan terjadi
dalam satu hubungan kekerabatan. Pada umumnya 40% sampai
60% pasien meninggal pada setahun awal kehidupan
(1)
.
PATOFISIOLOGI
Kelainan anatomi mendasari semua patofisiologi penyakit
ini. Karena adanya kelainan katup trikuspidal dan terbentuknya
ventrikel kanan teratrialisasi, terjadi pembesaran atrium kanan.
Katup trikuspidal ini tidak mampu bekerja untuk menutup
sempurna sehingga terjadi regurgitasi darah dari ventrikel
kanan, kejadian inilah yang menyebabkan pembesaran atrium.
Ruangan ventrikel kanan teratrialisasi lebih banyak
menghambat arus darah yang menuju ruangan fungsional
ventrikel kanan dan arus keluar ventrikel kanan karena
perbedaan anatomi dan waktu kontraksi, ruangan ini relatif
menghambat arus darah dari ventrikel kanan menuju ke arteri
pulmonalis. Dua kejadian ini menyebabkan pembesaran
ruangan atrium kanan. Dengan adanya penambahan volume
terjadi juga peningkatan tekanan pada atrium kanan sehingga
terjadilah patensi foramen ovale dan akhirnya shunt dari kanan
ke kiri (Gb. 2). Hambatan yang terjadi pada arus keluar
ventrikel akan diperberat dengan tidak efektifnya proses
kontraksi ventrikel kanan, menyebabkan curah jantung kanan
menurun, yang akhirnya juga menurunkan uptake O
2
, hal ini
memacu otak untuk lebih memacu kerja pernafasan dan
jantung. Maka terjadilah takikardia dan nafas cepat serta
dangkal, terjadi juga pacuan untuk lebih memproduksi darah
oleh sumsum tulang sehingga pada beberapa kasus terjadi
polisitemia.
Darah yang mengalir ke atrium kiri menjadi lebih sedikit
sehingga tekanan diastole atrium kiri relatif lebih rendah
daripada tekanan diastole atrium kanan, terjadilah shunt dari
kanan ke kiri saat awal sistole. Secara umum curah jantung
menurun, menyebabkan gejala sistemis dan diperberat dengan
kerja
(1,3)
.
Keterangan:
AKa: Atrium Kanan
VKa: Ventrikel Kanan
PFO: Paten Foramen Ovale
AP: Arteri Pulmonalis
Ao: Aorta
AKi: Atrium Kiri
VKi: Ventrikel Kiri
VCi: Vena Cava Inferior
VCs: Vena Cava Superior
Gb. 2. Fungsi Jantung pada anomali Ebstein secara skematis. Darah dari
Atrium kanan mengalir ke Ventrikel kanan, tetapi saat Ventrikel
kanan berkontraksi sebagian darah kembali ke Atrium kanan.
Terjadi Shunt dari kanan ke kiri setinggi foramen ovale.
Dari keadaan anatomi dan patofisiologi tersebut di atas,
maka dapat dipahami terjadinya berbagai bunyi patologis
jantung. Pada saat awal sistole terjadi pembukaan katup
anterior yang memunculkan klik, dengan adanya malformasi
katup trikuspidal terjadi bising protosistolik. Pada saat atrium
selesai berkontraksi yang kemudian disusul dengan kontraksi
ventrikel terdengar bising selama proses kontraksi (bising
holosistolik), hal ini disebabkan kegagalan katup trikuspidal
untuk menutup sehingga sebagian darah berbalik kembali ke
atrium. Pada saat diastole terdengar adanya suara pengisian
(S3) jantung dan suara awal kontraksi atrium (S4) karena
dilatasi atrium kanan dan patensi foramen ovale. Suara jantung
akan terdengar jauh karena adanya pembesaran atrium kanan
yang dapat disertai juga pembesaran ventrikel kanan
(1,3)
.
Secara sistemik tubuh merespon kekurangan suplai O
2
akibat shunt dari kanan ke kiri setinggi atrium dengan patensi
foramen ovale. Hal ini menyebabkan pemacuan kerja jantung
sehingga muncul takikardi (umumnya supraventrikuler),
palpitasi, fibrilasi, dan aritmi. Terjadi pacuan produksi sel
darah merah oleh sumsum tulang yang menimbulkan gejala
Cermin Dunia Kedokteran No. 143, 2004
38
flushing atau malar rash dll. Dari gb. 3, terlihat daerah
berwarna biru yang menggambarkan darah venosa, daerah
berwarna merah yang berarti darah kaya O
2
, dan daerah ungu
yang berarti darah yang terjadi karena pencampuran antara
darah venosa dan darah kaya O
2
.
Gb. 3. Gambaran skematis arus darah pada Anomali Ebstein. Darah
berwarna merah merupakan darah kaya O
2
, darah berwarna biru
menggambarkan darah dari vena, dan darah ungu merupakan
percampuran keduanya.
Shunt yang terjadi selain memunculkan pacuan sistemik,
juga memunculkan gejala klinis yang dapat diamati di antara-
nya: sianosis, letargi, jari tabuh.
Klasifikasi anomali Ebstein dibuat oleh Carpentier dengan
4 derajat abnormalitasnya (gb.4).
Gb. 4. Klasifikasi Carpentier untuk Anomali Ebstein
Dari gb. 4 terlihat empat tipe dari klasifikasi ini yang dapat
diterangkan sebagai berikut:
·
tipe A : volume ventrikel kanan masih cukup (adekuat)
·
tipe B : terjadi atrialisasi ventrikel kanan yang cukup
besar, dengan katup anterior mobile
·
tipe C : terjadi keterbatasan gerak daun katup anterior
trikuspidal, sehingga menyebabkan obstruksi infundi-
bulum
·
tipe D : atrialisasi ventrikel kanan hampir menyeluruh
(sindrom Uhl's)
MANIFESTASI KLINIS
Keparahan gejala dan derajat sianosis tergantung pada
derajat perpindahan katup trikuspidalis dan keparahan
penyumbatan saluran keluar ventrikel kanan. Sianosis terjadi
karena shunt dari kanan ke ke kiri setinggi atrium dengan
patensi foramen ovale
(1,3)
. Gejala klinis lain di antaranya
letargi, dispnea, takikardia, palpitasi, malar rash, flushing, dan
suara jantung patologis
(1)
. Gejala anomali Ebstein biasanya
ditemukan pada neonatus. Secara umum, neonatus ini
menderita sianosis berat yang nyata sebagai tanda utama;
bising ataupun takikardia supraventrikular kurang dapat
diamati karena frekuensi denyut jantung yang relatif cepat pada
masa anak-anak. Setelah memasuki masa anak pasien dapat
sianotik ataupun asianotik, tergantung keparahan penyakit
(2)
.
Polisitemia yang sering muncul memberi penampakan
flushing ataupun malar rash pada sebagian penderita. Wajah
ataupun bagian wajah yang lain seperti pipi, dagu, akan terlihat
kemerahan. Bentuk dada yang asimetri juga dapat ditemukan,
umumnya berupa penonjolan (prominensia) dada kiri
(1,3)
.
Dari pemeriksaan fisik selain gejala-gejala di atas dapat
ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada anomali Ebstein.
Auskultasi dapat menemukan berbagai macam suara patologis
dan amat bervariasi tergantung status pernafasan dan tingkat
keparahan. Suara jantung terdengar lunak (soft) atau jauh,
dengan bising yang dapat berupa sistolik, holosistolik, dan
presistolik. Split terdengar pada S1 maupun S2. Split pada S1
terdengar dengan rentang jarak yang lebar (wide) disebabkan
oleh adanya pembesaran atrium kanan dan kesulitan penutupan
katup trikuspidal, dan penutupan katup mitral mendahului
penutupan katup trikuspidal. Split pada S2 terdengar persisten
dan lebar (wide), diduga karena adanya RBBB. Suara pengisian
jantung (S3) dan suara pengisian ventrikel/kontraksi awal
miokardium (S4) sering juga ditemukan. Terjadi klik pada awal
sistolik (proto-sistolik), yang mungkin menjadi pertanda
pembukaan katup anterior trikuspidal yang stenosis ataupun
yang abnormal. Bising juga terjadi karena adanya regurgitasi
sebagian darah ventrikel kanan menuju atrium kanan, dan
malformasi katup trikuspidalis itu sendiri. Bising holosistolik
dapat ditemukan pada linea parasternalis kiri sebagai tanda
regurgitasi. Semua bising bervariasi menurut status
respirasi
(1,3)
.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pemeriksaan Rontgen dapat ditemukan gambaran
khas akibat pembesaran atrium kanan masif yang dapat juga
disertai dengan pembesaran ventrikel kanan dengan efusi
perikardium. Bentuk khas yang terkenal disebut Balloon
Shaped atau Box Shaped pada posisi posterio-anterior. Dari
gambaran lateral akan terlihat jantung mengisi ruangan
retrosternal karena pembesaran atrium kanan. Pada pasien
Cermin Dunia Kedokteran No. 143, 2004 39
dengan shunt dari kiri ke kanan dengan sianosis yang nyata
seringkali gambaran vaskularisasi paru berkurang, tetapi
jarang didapatkan. Pada neonatus seringkali gambaran
radiologi tidak khas dan kurang informatif untuk penegakan
diagnosis (Gb. 5 dan 6)
(1,3,4)
.
Gb. 5. Rontgen Anak dengan anomali Ebstein, terlihat pembesaran
jantung berbentuk balon.
Gb. 6. Rontgen bayi dengan anomali Ebstein, terlihat pembesaran
jantung berbentuk balon.
Elektrokardiografi (EKG) menjadi alat yang cukup
membantu diagnosis anomali Ebstein. Selalu ditemukan
gambaran elektrokardiogram abnormal; yang sering adalah
tanda pembesaran atrium kanan dengan gelombang P tinggi,
malah pada anomali Ebstein disebut sebagai Giant P wave
(Himalayan P wave). Ditemukan pemanjangan interval P-R,
sumbu QRS deviasi ke kanan tapi dapat juga normal (Gb. 7
dan 8)
(1)
.
Gb. 7. Gambaran EKG normal
Sering ditemukan RBBB komplet atau inkomplet. Pada
beberapa pasien dapat pula ditemukan penurunan voltase
komplek QRS pada hantaran prekordial kanan.
Pada sekitar 4% sampai 26% EKG pasien anomali Ebstein
mempunyai gambaran sindrom Wolff-Parkinson-White
(WPW), umumnya tipe B
(1,3)
. Hal ini diduga karena hubungan
atrioventrikular abnormal. Pola patologis ini dapat transien
ataupun intermiten, amat bervariasi. Dapat pula ditemukan
blokade AV komplet ataupun Mobitz I atau Mobitz II
(1)
. Pada
pencitraan dengan Ekokardigrafi dua dimensi, lebih dapat
dilihat kelainan anatomis yang ada. Didapatkan terutama
pembesaran atrium kanan dengan malformasi katup trikuspidal,
dengan penyumbatan aliran keluar ventrikel kanan. Dapat
terekam adanya salah tempat ke bawah dari kedua daun katup
trikuspidal septal dan posterior (Gb. 9). Terlihat pula adanya
keterlambatan penutupan valvula trikuspidalis dengan disertai
klik pre-sistolik.
Dengan kemajuan teknologi telah dapat dilakukan pen-
Cermin Dunia Kedokteran No. 143, 2004
40
Gb. 8. Gambaran EKG pada anomali Ebstein. Terlihat penurunan gelombang Q (panah), adanya
peninggian gelombang P (kepala panah), dan pemanjangan interval P-R (tanda kurung).
citraan dengan penambahan informasi tentang hemodinamika
darah jantung dengan Ekokardiografi Doppler. Dari teknik ini
dapat dilihat darah yang menuju probe, atau menjauhi probe.
Darah yang menuju probe diwarnai merah sedangkan yang
menjauhi diwarnai biru (Gb. 10). Pada kasus yang berat katup
pulmonal dapat tampak tidak bergerak (immobile) dan aliran
darah pulmonal datang dari duktus arteriosus
(3)
.
Pemeriksaan yang sudah mulai ditinggalkan adalah
kateterisasi jantung dan angiokardiografi jantung, karena risiko
tindakan yang besar. Kateterisasi yang dilakukan merupakan
kateterisasi jantung kanan dengan target ventrikel kanan.
Keadaan yang sering ditemukan adalah dilatasi atrium kanan
dengan peningkatan tekanan atrium. Pada umumnya tekanan
ventrikel kanan normal tetapi pada tahap lanjut tekanan dapat
juga meningkat. Tekanan pada arteria pulmonalis seringkali
normal dan pada tahap lanjut dapat turun. Pada pemeriksaan
dengan angiokardiografi selektif didapatkan regurgitasi
trikuspidalis pada proyeksi antero-posterior (AP), gambaran
katup anterior trikuspidal yang lebar (sail like), dan dilatasi
atrium kanan. Didapatkan gambaran tiga lobus (trilobed) pada
struktur kanan jantung yang disebabkan oleh perbedaan kontras
yang terjadi antara atrium kanan, ventrikel teratrialisasi, dan
ventrikel fungsional
(1)
.
A
B
Gb. 9. Pencitraan Ekokardiografi dengan gambar A gambaran jantung normal, dan gambar B gambaran
anomali Ebstein, terlihat volume ventrikel kanan yang membesar dengan malformasi katup
trikuspidal.
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding anomali Ebstein adalah keadaan
stenosis kongenital katup pulmonalis yang disertai dengan
kegagalan jantung kanan. Keadaan lain adalah penyakit jantung
rematik derajat berat yang menyerang katup trikuspidalis.
Beberapa keadaan pembesaran jantung yang mengarah pada
penyakit perikardium dapat disingkirkan dengan riwayat
penyakit
(4)
.
KOMPLIKASI DAN PROGNOSIS
Komplikasi yang terjadi lebih disebabkan karena perburukan
penyakit daripada pemunculan penyakit baru. Sering terjadi
aritmi atrial dan gagal jantung kanan. Henti jantung mendadak
(sudden death) seringkali terjadi
(4)
. Prognosis pada kasus yang
ringan adalah baik, dengan kemungkinan pasien dapat hidup
normal cukup besar
(3)
. Life expectancy diperkirakan sampai
dengan 50 tahun
(1)
. Pada kasus yang berat prognosis dapat
menjadi sangat buruk, terutama bila muncul komplikasi yang
semakin memperburuk penyakit
(1,3)
.
TERAPI
Terapi amat spesifik menurut keadaan pasien, terapi
Cermin Dunia Kedokteran No. 143, 2004 41
Gb. 10. Pencitraan dengan ekokardiografi Doppler pada anomali Ebstein.
konservatif dapat dilakukan pada kasus yang ringan
dengan gangguan hemodinamik ringan. Pada neonatus dilaku-
kan usaha agar dapat melampaui masa adaptasi. Prostaglandin
dapat diberikan agar duktus arteriosus tetap terbuka, obat-obat
jantung diberikan sesuai keadaan, misal digoksin untuk mem-
perbaiki kerja jantung, tetapi diuretika kurang dapat digunakan
karena risiko dehidrasi yang cukup besar. Pada masa bayi,
anak-anak, ataupun dewasa jika gejala dan tanda peyakit ini
memburuk maka terapi bedah merupakan pilihan
(2)
.
Terapi bedah dilakukan bertahap sesuai dengan prosedur
yang dianut. Pada umumnya dilakukan plikasi atrium kanan,
untuk menghilangkan bagian ventrikel teratrialisasi. Jika
regurgitasi jantung kanan amat besar dan berpengaruh pada
hemodinamika maka diperlukan penggantian katup
(4)
.
Pada neonatus dengan hipoksia berat yang tergantung
prostaglandin, terapi penambalan dengan prosedur Starnes
dapat dilakukan. Prosedur ini meliputi penambalan katup
trikuspidalis, septektomi atrium dan penempatan shunt aorto-
pulmonal. Operasi ini membuat katup trikuspidalis kembali
berfungsi, pasien setelah menjalani prosedur Starnes dapat
dilanjutkan untuk menjalani perbaikan lebih lanjut dengan
operasi dari Glenn dan terakhir Fontan. Perbaikan atau peng-
gantian katup trikuspidal abnormal dengan penutupan ASD
dapat dilakukan kemudian
(3)
.
Pada dasarnya terapi konservatif dapat dilakukan dengan
hasil yang cukup memuaskan pada kasus-kasus ringan. Terapi
bedah merupakan pilihan terakhir dengan hasil yang men-
janjikan.
KEPUSTAKAAN
1.
Arthur G. Jr, J. Timothy B, McNamara DG. The Science and Practice of
Pediatric Cardiology. Lea & Febiger,Vol II, 1990;1134-44.
2.
Sudigdo S, Bambang M. Buku Ajar Kardiologi Anak. Ikatan Dokter Anak
Indonesia, 1994; 257-60.
3.
Nelson WE, Behrman RE., Kliegman R, Arvin AM. Nelson: Ilmu
Kesehatan Anak, edisi.15, Vol.2, EGC, 2000; 1609-11.
4.
Cheitlin M.D. Clinical Cardiology. A Lange Medical Book, 6
th
ed. 1993;
394-6.
5.
Walker A. Long. Fetal and Neonatal Cardiology. WB Saunders, 1990; 597.
Cermin Dunia Kedokteran No. 143, 2004
42
PERTANYAAN ANOMALI EBSTEIN
Pilihlah salah satu dari tiga pernyataan ini yang sesuai.
1.
Elektrokardiogram pada anomali Ebstein memberi kesan
a.
hipertrofi atrium kanan dan ventrikel kiri
b.
hipertrofi atrium kiri dan tidak ada hipertrofi ventrikel
kanan
c.
hipertrofi atrium kanan dan blokade cabang berkas
kanan komplet atau blokade intraventrikular
2.
Penderita dengan anomali Ebstein mempunyai tanda-tanda
berikut kecuali
a.
ada bising sistolik maupun diastolik
b.
atrium kanan kecil dan ventrikel kanan sangat besar
c.
daun katup trikuspidal besar seperti layar
3.
Pada anomali Ebstein ada
a.
atrialisasi ventrikel kanan
b.
atrialisasi ventrikel kiri
c.
atrialisasi ventrikel kanan dan ventrikel kiri
4.
Gambaran Roentgen PA anomali Ebstein
a.
jantung berbentuk balon
b.
jantung berbentuk angka 8
c.
jantung berbentuk sepatu
5.
Pada gambaran Ekokardiografi anomali Ebstein tampak
a.
atrium kanan mengecil
b.
atrium kiri membesar
c.
atrium kanan membesar
Pilihlah salah satu dari lima pilihan tersebut yang paling tepat.
6.
Penderita sianosis umur 16 tahun dengan anomali Ebstein
mungkin mempunyai tanda-tanda berikut, kecuali
a.
sinar X dada menampakkan kardiomegali yang men-
colok dan aliran darah paru kurang
b.
ekokardiogram menampakkan katup trikuspidal besar
dengan penutupan terlambat disbanding dengan pe-
nutupan katup mitral
c.
S1 membelah keras, dengan bising regurgitasi tri-
kuspidal
d.
hipertrofi ventrikel kanan pada elektrokardiogram
e.
elektrogram intrakardial menampakkan grafik ventri-
kel pada daerah yang tekanannya berkontur grafik
atrium
7.
Penderita dengan penyakit Ebstein mempunyai tanda-
tanda sebagai berikut, kecuali
a.
perpindahan ke bawah katup trikuspidal ke dalam
ventrikel kanan
b.
mungkin tidak ada gejala sampai masa dewasa
c.
ada bising sistolik maupun diastolic
d.
atrium kanan kecil dan ventrikel kanan amat besar
e.
daun katup trikuspidal anterior seperti layar, besar
8.
Anomali Ebstein adalah kelainan pada
a.
katup aorta
b.
katup pulmonal
c.
katup trikuspidal
d.
katup mitral
e.
duktus arteriosus
Setiap pertanyaan di bawah ini berisi empat kemungkinan
jawaban, salah satu atau lebih darinya benar. Pilihlah:
A.
jika 1, 2, dan 3 benar
B.
jika 1, dan 3 benar
C.
jika 2 dan 4 benar
D.
jika 4 saja yang benar
E.
jika semuanya benar
9.
Kelainan yang dihubungkan dengan transposisi arteri-
arteri besar corrected adalah
1.
defek sekat ventrikel
2.
anomali Ebstein katup trikuspidal
3.
atresia atau stenosis trikuspidal
4.
blokade atrioventrikular
10. Gambaran EKG anomali Ebstein
1.
ada gambaran gelombang P raksasa (giant P wave)
2.
ada gambaran gelombang lebar dengan lekukan
3.
ada pemanjangan PR
4.
T meninggi pada sandapan V6
JAWABAN :
1. C 2. B 3. A 4. A 5. C
6. D 7. D 8. C 9. E 10. B
Cermin Dunia Kedokteran No. 143, 2004 43