background image
274
| MEI - JUNI 2010
HASIL
PENELITIAN
PENDAHUlUAN
Di Indonesia, insidens penyakit kanker
diperkirakan 100 orang per 100.000
penduduk
(1)
. Saat ini penyakit kanker
telah digolongkan dalam penyebab
kematian utama pada usia produk-
tif. Proporsi kematian akibat penyakit
kanker telah meningkat dari 4.8% pada
tahun 1992
(2)
menjadi 10.6% pada ta-
hun 1995
(3)
. Untuk itu perlu dilakukan
usaha-uasaha pencegahan terhadap
penyakit tersebut.
Telah diketahui bahawa beberapa vita-
min berpotensi sebagai penghambat
terjadinya tumor/kanker. Salah satu di
antaranya adalah vitamin A yang juga
bersifat anti oksidan
(4)
. Vitamin ini da-
pat dijumpai dalam sayuran hijau, di-
kenal sebagai betakaroten, misalnya
daun singkong (ketela pohon) meng-
andung 3300 gram/100 gram
(5)
. Satu
molekul beta karoten akan menjadi
dua molekul vitamin A di dalam tubuh
(6)
.
Tujan penelitian ini adalah untuk
mengetahui daya hambat ekstrak
daun singkong terhadap pertumbu-
han kanker pada tikus percoaan yang
diinduksi nitrosamin.
METODA DAN CARA KERJA
Rancangan Penelitian
Penelitian ini dirancang mengguna-
kan Rancangan Acak Lengkap Vari-
able Independen adalah Ekstrak Daun
Singkong (EDS) terdiri dari dosis per-
lakuan
Kel 1: Kelompok tikus diberi maka-
nan baku (MB)
Kel 2: Kelompok tikus diberi MB +
DMN (Dimethyl Nitrosamine)
Kel 3: Kelompok tikus diberi MB +
DMN + Beta karoten standard
600 mg/kgbb.
Kel 4: Kelompok tikus diberi MB +
DMN + EDS 200 mg/kgbb.
Kel 5: Kelompok tikus diberi MB +
DMN + EDS 400 mg/kgbb.
Kel 6: Kelompok tikus diberi MB +
DMN + EDS 600 mg/kgbb.
Kel 7: Kelompok tikus diberi MB +
DMN + EDS 800 mg/kgbb.
Kel 8: Kelompok tikus diberi MB +
DMN + EDS 1000 mg/kgbb.
Variabel dependen terdiri dari: Be-
rat badan, kadar bilirubin total, kadar
SGPT kadar SGOT dan kadar kreati-
nin serum.
Jumlah sampel :
Ditentukan menurut rumus Federer:
T (n-1)
15
T = Jumlah perlakuan
n = Jumlah ulangan
Dalam penelitian ini digunakan ulan-
gan 5 ekor tiap dosis perlakuan. Jadi
banyaknya tikus yang digunakan ada-
lah 8 x 5 ekor = 40 ekor.
Ekstraksi Daun Singkong
Metoda ekstraksi daun singkong ada-
lah metoda maserasi. Daun singkong
(tidak dikeringkan) dilumatkan hingga
halus kemudian direndam dengan
larutan petroleum ether + aseton (5:1).
Perbandingannya 1 bagian daun sing-
kong dan 3 bagian larutan petroleum
ether + eseton . Perendaman selama
24 jam, sewaktu-waktu diaduk. Set-
elah itu disaring; filtrat dimasukkan ke
botol penampung sedangkan ampas
direndam lagi seperti di atas. Filtrat
selanjutnya dimasukkan ke kolom kro-
matografi yang telah diisi dengan cam-
puran alumina dan Na ­Sulfat Anhidrat
(1:1). Setetah filtrat di atas permukaan
kolom tepat habis, tambahkan petro-
leum ether di atas permukaan kolom
tersebut. Cairan yang keluar dari ko-
lom ditampung dan dimasukkan ke
Pengaruh Ekstrak Daun Singkong (Manihot uttilisima)
terhadap Fungsi Hati dan Ginjal Tikus Putih yang
Diinduksi Karsinogen Nitrosamin
Cornelis Adimunca, Olwin Nainggolan
Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi,
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI
ABSTRAK
Penelitian ekstrak daun singkong terhadap tikus putih bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak tersebut gang-
guan fungsi hati dan ginjal pada tikus coba. Gangguan fungsi ditinjau dari parameter bilirubin, SGOT, SGPT yang
merupakan fungsi hati serta kreatinin untuk fungsi ginjal. Hasil menunjukkan bahwa berat badan tikus coba yang diberi
perlakuan dimetilnitrosamin, kemudian diberi ekstrak daun singkong dengan dosis 200, 400, 600, 800 dan 1000 mg/
kgbb. tidak berbeda bermakna dibandingkan kelompok kontrol (p>0.05). Kadar bilirubin, SGOT dan SGPT di kelompok
dosis 800 dan 1000 mg/kgbb. tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol (p>0.05) sedangkan
kadar kreatinin kelompok dosis 200, 400, 600, 800 dan 1000 mg/kgbb. tidak berbeda bermakna dibandingkan kelompok
kontrol (p>0.05). Disimpulkan bahwa perlakuan dosis 800 dan 1000 mg/kgbb. ekstrak daun singkong menunjukkan ke-
mampuan menghambat kerusakan sel hati.
CDK ed_177 mei ok.indd 274
4/26/2010 10:55:26 AM
background image
276
| MEI - JUNI 2010
untuk memisahkan ekstrak dari pelarut
petroleum ether. Selanjutnya disem-
protkan gas N2 sehingga ekstrak be-
bas dari sisa-sisa petroleum ether.
Perlakuan Tikus Percobaan
Sebanyak 40 ekor tikus jantan umur
3 bulan, rata-rata beratnya badan
97,65
±12,78 gram, dibagi dalam 6
kelompok (sesuai dosis perlakuan)
sehingga di setiap kelompok terda-
pat 5 ekor tikus percobaan. Dimethyl
Nitrosamin (DMN), beta karoten dan
ekstrak daun singkong diberikan se-
cara oral (dicekok) setiap hari. Lama
pemberian bahan-bahan tersebut 12
minggu. Setelah 12 minggu dilakukan
pengukuran variabel dependen.
Pengolahan Data
Jika data berdistribusi normal dan
bervarian homogen maka dilaku-
kan uji anova 1 arah dan dilanjutkan
dengan uji berganda BNT. Jika data
tidak normal dan atau tidak homogen
maka data tersebut ditransformasi
x,
atau
x + 0,5 (bila data terkecil, < 10).
Jika data transformasi ternyata ber-
distribusi normal dan varian homogen
dilakukan uji anova 1 arah seperti di
atas. Namun jika data transformasi
tidak berdistrubusi normal dan atau ti-
dak bervarian homogen, dilakukan uji
Kruskal Wallis dan dilanjutkan dengan
uji berganda Daniel
(7)
HASIl
Data parameter berat badan, biliru-
bin, SGPT, SGOT dan kreatinin berdis-
tribusi normal dan homogen. Uji ano-
va terhadap parameter berat badan
pada semua kelompok perlakuan ti-
dak menunjukkan pengaruh bermakna
(P>0.05). Hal ini menunjukkan bahwa
perlakuan belum mempengaruhi be-
rat badan secara bermakna; namun
berat badan pada kelompok yang
tidak diberi ekstrak daun singkong
(kel 2) paling rendah yaitu 115,5
±10,5
gram. Berat badan kelompok yang di-
beri ekstrak daun singkong 1000 mg/
kgbb. 156,5
±15,7 gram dan kelompok
betakaroten (kel 3) 162,5
±13,0 gram.
Grafik berat badan pada tiap ke-
lompok perlakuan dapat dilihat pada
gambar 1.
Uji anova terhadap parameter bilirubin
menunjukkan pemberian ekstrak daun
singkong mempengaruhi konsentrasi
bilirubin serum (P<0.05). Pemberian
ekstrak daun singkong (EDS) mulai
dari 800, 1000 mg/kgbb. tidak meng-
hasilkan perbedaan dengan kelompok
kontrol (Kel 1) yang hanya diberi ma-
kanan baku; juga bila dibandingkan
terhadap kelompok yang diberi beta
karoten (Kel 3). Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa pemberian
ekstrak daun singkong dosis 800 dan
1000 mg/kgbb. dapat menekan pen-
ingkatan konsentrasi bilirubin yang
merupakan efek negatif Di methyl Ni-
trosamine (DMN). (gambar 2).
Uji anova terhadap parameter SGPT
menunjukkan bahwa ekstrak daun
singkong (EDS) mempengaruhi kon-
sentrasi SGPT (P<0.05). Pemberian
ekstrak daun singkong (EDS) mulai
dari 800, 1000 mg/kgbb. tidak meng-
hasilkan perbedaan dengan kelompok
kontrol (Kel 1) yang hanya diberi maka-
nan baku dan yang diberi beta karoten
(Kel 3). Sehingga ekstrak daun sing-
kong (EDS) dosis 800 dan 1000 mg/kg
BB juga mempunyai daya hambat ter-
hadap peningkatan konsentrasi SGPT
sebagai efek negatif Dimethyl Nitro-
samine (DMN).
Uji anova terhadap parameter SGOT
menunjukkan bahwa ekstrak daun sin-
gkong (EDS) memberikan pengaruh
terhadap konsentrasi SGOT (P<0.05).
Pemberian ekstrak daun singkong
(EDS) mulai dari 800, 1000 mg/kgbb.
tidak menghasilkan perbedaan den-
gan kelompok kontrol (Kel 1) yang
hanya diberi makanan baku dan yang
diberi beta karoten (Kel 3). Dosis
ekstrak daun singkong (EDS) 800 dan
1000 mg/kg BB menunjukkan konsen-
trasi SGOT yang paling rendah yaitu
59,16
±3,08
µ/L dan 61,68±35,53 µ/L.
Uji anova terhadap parameter kreati-
nin menunjukkan bahwa ekstrak daun
singkong (EDS) tidak memberikan
pengaruh bermakna (P>0.05). Kadar
kreatinin paling rendah dijumpai di
kelompok betakaroten (kel 3) yaitu
0,43
±0,12 mg/dl disusul kelompok
esktrak daun singkong (EDS) 800 mg/
kgbb. sebesar 0,47
±0,05 mg/dl.
Tabel 1. Hasil pengamatan berat badan, bilirubin, SGPT, SGOT dan kreatinin.
KElOMPOK PERlAKUAN
Berat Badan (gram)
Bilirubin (mg/dl)
SGPT (µ/l)
SGOT (µ/l)
Kreatinin (mg/dl)
MB (Kel 1)
133.5±17.3 a
0.48±0.05 b
25.50±3.85 e
53.50±5.75 h
0.45±0.07 j
MB + DMN (Kel 2)
115.5±10.5 a
1.17±0.11 c
76.43±6.45 f
122.32±5.69 i
0.53±0.10 j
MB + DMN +
-car
std 600 mg/kg BB (Kel 3)
162.5±13.0 a
0.57±0.10 b
32.80±2.15 e
57.03±6.76 h
0.43±0.12 j
MB + DMN + EDS
200 mg/kg BB (Kel 4)
137.0±13.2 a
1.02±0.05 c
71.66±4.38 f
103.05±3.59 h
0.49±0.05 j
MB + DMN + EDS
400 mg/kg BB (Kel 5)
144.5±12.5 a
0.97±0.09 cd
69.35±5.25 f
82.32±5.50 i
0.50±0.10 j
MB + DMN + EDS
600 mg/kg BB (kel 6)
144.5±17.5 a
0.87±0.07 d
56.05±3.01 fg
78.85±4.45 i
0.51±0.09 j
MB + DMN + EDS
800 mg/kg BB (kel 7)
133.5±17.3 a
0.55±0.06 b
48.18±7.23 eg
59.16±3.08 h
0.47±0.05 j
MB + DMN + EDS
1000 mg/kg BB (Kel 8)
156.5±15.7 a
0.52±0.09 b
49.25±4.50 eg
61.68±5.53 h
0.49±0.08 j
Keterangan: Huruf yang sama menunjukkan perbedaan tidak bermakna (p>0.05)
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_177 mei ok.indd 276
4/26/2010 10:55:28 AM
background image
277
| MEI - JUNI 2010
PEMBAHASAN
Senyawa nitrosamin terbentuk sebagai
hasil reaksi nitrosasi antara nitrat/nitrit
dan senyawa amin pada daging dan
ikan
(8)
. Pada tikus yang diberi dime-
thyl nitrosamin dalam makanannya (50
mg/kgbb.), setelah 16 minggu hati ti-
kus mengalami nekrosis dan setelah 40
minggu terdapat tumor hati
(9)
. Salah
satu faktor penghambat terbentuknya
senyawa nitrosamin adalah vitamin
A,C,E dan K
(10)
. Pada penelitian ini
terlihat bahwa ekstrak daun singkong
yang diduga kuat mengandung se-
nyawa karotenoid mampu mengham-
bat kerusakan sel hati. Kadar bilirubin,
GPT dan GOT serum pada kelompok
800 dan 1000 mg/kgbb. tidak berbeda
bermakna (P>0.05) dibandingkan den-
gan kelompok makanan baku (MB)
dan kelompok beta karoten (MB +
DMN + beta karoten). Beta karoten di-
ubah menjadi vitamin A di usus; salah
DAFTAR PUSTAKA
1. Gunawan S. Masalah kanker di Indonesia,
dalam Kumpulan Naskah Seminar Nasional
Manajemen Kanker. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Jakarta, 7-10 No-
vember 1988,.
2. Budiarso RL. Laporan sementara Survei Kese-
hatan Rumah Tangga 1992 pola kematian. Da-
lam S. Sumantri, Gotama IBI, Prapti IY. Loka-
karya Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
1992, Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan RI , hal 38
3. Sumantri S, Budiarso RL, Suhardi, Sarimawal,
Bachroen C, Survei Kesehatan Rumah Tangga
1995. Badan Penelitan dan Pengembangan
Kesehatan RI , 1997, hal 109
4. Goldstein M. Biokimia suatu pendekatan fung-
sional, Airlangga University Press, Surabaya,
1996. hal 944
5. Oey KN. Daftar analisis bahan makanan, Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas In-
donesia, Jakarta, 1992. hal 25
6. Muliawan M. Ikhtisar ringkasan vitamin dan
hormon terpenting, Penerbit Djambatan , Ja-
karta, 1983,hal 5.
7. Daniel WW. Statistik non parametrik terapan.
Penerbit Gramedia Jakarta, 1989, hal 272 -
280
8. Muchtadi D. Nitrosamin dalam hubungan
dengan penggunaan nitrit sebagai bahan
pengawet makanan, diajukan kepada seminar
bahan tambahan kimiawi , Jakarta.
9. Symington T, Carter RL. Scientific Foundations
of Oncology, W.Heinemann Medical Books
Ltd, London 1976. p 292.
10. Tannenbaun SR, Wisanok JS. Inhibition of nit-
rosamin formation by ascorbic acid, Ann Nat.
Acad Sci, 1987.
11. Bratawidjaja KG. Imunologi dasar, Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta, hal 1. 1988.
12. Moriguchi, Warner SL, Watson RR, High di-
etary vitamin A (Retinyl Palmitate) and cellular
immune functions in mice. Immunology 1985;
56: 169-176
satu peranannya adalah pertahanan
seluler yang meliputi sel fagosit, dan
sel NK yang menghancurkan virus,
sel neoplasma atau sel tumor
(11)
. Vi-
tamin A selain meningkatkan aktivitas
fagositik juga meningkatkan aktivitas
tumorisidal makrofag
(12)
SIMPUlAN
Berat badan kelompok tikus yang
tidak diberi dibandingkan dengan
yang diberi ekstrak daun singkong
tidak berbeda bermakna (P>0.05).
Hal yang sama pada kadar kreatinin,
sehingga dapat dikatakan bahwa or-
gan ginjal masih aman.
Ekstrak daun singkong dosis 800 dan
1000 mg/kg BB menunjukkan kemam-
puan menghambat kerusakan sel hati
akibat Dimethyl Nitrosamine.
Gambar 1. Pengaruh ekstrak daun singkong terhadap berat badan (BB), kadar SGPT dan SGOT tikus putih
yang diinduksi karsinogen nitrosamin
Gambar 2. Pengaruh ekstrak daun singkong terhadap kadar bilirubin, dan kreatinin tikus putih yang diin-
duksi karsinogen nitrosamin.
Kel 1
Kel 1
350
300
250
200
150
100
50
1.8
1.6
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
0
Kel 2
Kel 2
Kel 3
Kel 3
Kel 4
Kel 4
Kel 5
Kel 5
Kel 6
Kel 6
Kel 7
Kel 7
Kel 8
Kel 8
SGOT
Kreatinin
SGPT
Bilirubin
BB
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_177 mei ok.indd 277
4/26/2010 10:55:29 AM