P
engobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien,
mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan
rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman
terhadap OAT.
Prinsip pengobatan penyakit TB :
· OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi, dalam jumlah
cukup dan dosis tepat sesuai kategori pengobatan. OAT
tunggal (monoterapi) tidak dianjurkan.
· Untuk menjamin kepatuhan pasien minum obat, dilakukan
pengawasan
langsung
(DOT = Directly Observed Treatment)
oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
· Pengobatan TB dibagi dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan
lanjutan.
Jenis, sifat dan dosis OAT
(Referensi: Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Depkes RI 2006)
Tahap awal (intensif): (2-3 bulan)
· Pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi langsung
untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
· Bila pengobatan tahap intensif diberikan secara tepat, pasien menular
umumnya menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
· Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif
(konversi) dalam 2 bulan.
Tahap lanjutan: (4 atau 7 bulan)
· Pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka
waktu yang lebih lama
· Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten
sehingga
mencegah
kekambuhan.
Paduan OAT dan peruntukannya
1. Kategori 1 (2HRZE / 4H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
- Pasien baru TB paru BTA positif
- Pasien TB paru BTA negatif foto torak positif
- Pasien TB ekstra paru
Profil obat anti tuberkulosis (OAT):
Rifampisin dan Etambutol
2. Kategori 2 (2HRZES / HRZE / 5H3R3E3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah
diobati sebelumnya :
-
Pasien
kambuh
-
Pasien
gagal
- Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus)
3. OAT sisipan (HRZE)
OAT sisipan sama dengan OAT tahap intensif kategori 1 yang
diberikan selama 1 bulan.
Efek samping OAT
Efek samping ringan
(Referensi: Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Depkes RI 2006)
Efek samping berat
(Referensi: Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Depkes RI 2006)
Efek samping "gatal dan kemerahan kulit"
Pasien yang diberi OAT jika mengeluh gatal, singkirkan kemung-
kinan penyebab lain. Berikan anti-histamin sambil meneruskan
OAT dengan pengawasan ketat. Gatal pada sebagian pasien
menghilang, namun pada sebagian menjadi kemerahan kulit.
Jika demikian, hentikan OAT; dan bila gejala bertambah berat,
pasien dirujuk.
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
425
F A R M A K O L O G I
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
426
LAPORAN KASUS
berikan cairan bila fungsi menelan sudah baik. Kebutuhan cairan
pasien adalah 35 mL/hari (sesuai usia).
8
Bila kebutuhan tidak
dapat dipenuhi maka disarankan pemberian minum melalui
NGT. Bila tetap sulit, jalan terakhir adalah pemberian cairan
intravena. Cegah dehidrasi dan malnutrisi karena akan menam-
bah masalah dan morbiditas. Pasien ini pada masa nifas
sehingga perlu diperhatikan kebutuhan gizinya.
Medikamentosa untuk relaksasi otot polos yang berperan dalam
proses menelan dan mengurangi spasme esofagus perlu diberi-
kan pada pasien dengan compliance pengobatan yang baik.
Obat yang dipilih adalah nifedipine 30 mg10 selama kurang
lebih 4 minggu. Hati-hati dengan efek samping hipotensi yang
akan memperburuk vaskularisasi otak pasien. Hentikan pengo-
batan bila ada tanda dan gejala hipotensi; bila pemantauan tidak
mungkin, sebaiknya obat ini tidak diberikan.
Untuk masalah pneumonia aspirasi, pasien dapat diberi antibio-
tik seftriakson selama perawatan di rumah sakit (1 x 2 g/hari).
Antibiotik oral yang dapat digunakan adalah amoksisilin/asam
klavulanat (golongan penisilin) selama 7 hari walaupun efektivi-
tasnya lebih rendah dibandingkan sefalosporin generasi ketiga;
selain itu, peluang resistensinya juga lebih besar. Pemberian
seftriakson juga lebih dianjurkan pada pasien yang memiliki
riwayat alergi terhadap penisilin.
7
Prognosis kesembuhan pasien adalah baik dengan beberapa
catatan; pasien masih harus mendapat penanganan lanjutan
terhadap risiko pneumonia aspirasi. Selain itu, perlu penanganan
adekuat terhadap fungsi menelan dan risiko serangan stroke
iskemik berulang.
Penatalaksanaan disfagia neurogenik fase orofaringeal yang
terpadu dan adekuat akan memperbaiki prognosis. Selain ahli
THT, saraf, gizi, dan rehabilitasi medik, dibutuhkan keinginan
kuat pasien dan dorongan seluruh keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
1. Martino N, Foley N, Bhogal S, Diaman N, Speechley M, Teasel R. Dysphagia after stroke:
incidence, diagnosis, and pulmonary complication. Stroke 2005;36:2756-63
2. Heart and Stroke Foundation of Ontario. Management of dysphagia in acute stroke: an
educational manual for the dysphagia screening professional. Januari, 2006
3. Brown AE. Implementation of a dysphagia management programs for acute stroke survivors:
the Quinte Health Care experience, final report. Stroke Strategy of Southern Ontario, 2002
4. Tamin S. Disfagia orofaring. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N (editors). Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi keenam. Jakarta: FKUI. 2006.
5. Soepardi EA. Disfagia. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N (editors). Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi keenam. Jakarta: FKUI. 2006.
6. Misbach HJ. Stroke, aspek diagnostik, patofisiologi, manajemen. Balai penerbit FKUI, Jakarta,
1999:
h.1-25.
7. Dahlan Z. Pneumonia bentuk khusus. Dalam Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata
M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi IV. Jakarta; Pusat Penerbitan Ilmu
Penyakit Dalam FKUI: 2006
8. Finestone HM, Finestone LSG. Rehabilitation medicine: diagnosis of dysphagia and its
nutritional management for stroke patients. Can Med Assoc J 2003;169(10): 1041-44
9. Carnaby G, Hankey JH, Pizzi J. Behavioural intrevention for dysphagia in acute stroke: a
randomised controlled trial. Lancet Neurol 2006;5:31-7
10. Perez I, Smithard DG, Davies H, Kalra L. Pharmacological treatment of dysphagia in stroke.
Dysphagia
1998;13:12-16
DIABETES
GASTROENTEROLOGI
ANTI AGING MEDICINE
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
427
F A R M A K O L O G I
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
428
F A R M A K O L O G I
Etambutol sensitif terhadap galur M tuberculosis dan spesies
mikobakterium lainnya namun tidak efektif untuk kuman lain,
jamur ataupun virus. Resistensi dapat terjadi sangat cepat bila
Etambutol digunakan secara tunggal; sedangkan penggunaan
Etambutol dikombinasi dengan OAT lain akan sulit menimbul-
kan resistensi. Konsentrasi hambat minimum Etambutol adalah
1-8 _g/mL.
FARMAKOKINETIK
Pada pemberian oral sekitar 75-80% Etambutol diabsorpsi dari
saluran cerna. Absorpsi cepat bila tidak dipengaruhi oleh makanan.
Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 2-4 jam
setelah pemberian. Dosis tunggal 15 mg/kgBB menghasilkan
kadar plasma sekitar 2-5 _g/ml pada 2-4 jam; tidak menyebabkan
akumulasi obat pada pasien dengan fungsi ginjal normal,
namun dapat terjadi pada pasien dengan insufisiensi ginjal.
Masa paruh eliminasinya adalah 3-4 jam pada pasien dengan
fungsi ginjal normal, sedangkan pada pasien insufisiensi ginjal
memanjang hingga 7-8 jam.
Dalam waktu 24 jam, 50% Etambutol diekskresi dalam bentuk
utuh melalui urin, 15% sebagai metabolit, berupa derivat
aldehid dan asam karboksilat. Bersihan ginjal untuk Etambutol
kira-kira 7 ml/menit/kg, menandakan bahwa obat ini selain
mengalami filtrasi glomerulus juga disekresi melalui tubuli.
Etambutol tidak dapat menembus sawar darah otak, tetapi pada
meningitis TB dapat ditemukan kadar terapi dalam cairan otak.
INDIKASI
Etambutol diindikasikan untuk terapi TB, pemberiannya dikom-
binasi dengan OAT lainnya (Rifampisin, Isoniasid, Pirazinamid,
Streptomisin) berdasarkan Pedoman Nasional Penanggulangan
TB 2006, Kategori 1, Kategori 2, atau OAT sisipan.
DOSIS DAN CARA PEMBERIAN
Untuk dewasa :
Fase intensif 20 mg/kgBB
Fase lanjutan 15 mg/kgBB, 30 mg/kgBB 3x seminggu, atau
BB > 60kg
: 1500 mg
BB 40-60 mg
: 1000 mg
BB < 40 kg
: 750 mg
Untuk anak :
Etambutol tidak direkomendasikan untuk pasien anak usia < 5
tahun, karena efek samping Etambutol yang mempengaruhi
penglihatan.
Anak usia 6 12 tahun : 10 15 mg/kgBB/hari. (dengan ketajaman
penglihatan yang baik dan tidak buta warna, serta perlu penga-
wasan dokter). Usia yang direkomendasikan adalah > 13 tahun.
KONTRAINDIKASI
· Anak usia kurang dari 6 tahun
· Neuritis
optik
· Penderita hipersensitif terhadap Etambutol
PERINGATAN DAN PERHATIAN
· Lakukan pemeriksaan tajam penglihatan dan warna sebelum
terapi dan secara periodik selama terapi.
· Apabila terjadi perubahan ketajaman visual, penggunaan
Etambutol
harus
dihentikan.
· Pada penderita dengan gangguan visual seperti katarak,
radang mata berulang, neuritis optik, retinopati diabetik,
evaluasi perubahan visual lebih sulit dilakukan. Oleh karena
itu harus dapat dibedakan dengan pasti antara perubahan
visual karena keadaan tersebut dengan perubahan visual
karena
Etambutol.
· Hati-hati pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal.
Dosis harus diturunkan dan disesuaikan dengan kadar Etambutol
dalam
darah.
· Pada pengobatan jangka panjang pemeriksaan fungsi organ
harus dilakukan secara periodik termasuk ginjal, hati, hema-
topoetik.
· Data keamanan pemakaian Etambutol pada wanita hamil
dan menyusui belum cukup.
INTERAKSI OBAT
· Kombinasi dengan isoniasid dan piridoksin dapat meningkatkan
kadar asam urat darah, hal ini disebabkan penurunan ekskresi
asam urat melalui ginjal.
· Pemberian bersama aluminium hidroksida (antasid) pada 13
pasien tuberkulosis menurunkan konsentrasi serum dan
ekskresi urin Etambutol sekitar 20% dan 13%. Pemberian
Etambutol dianjurkan 4 jam setelah mengkonsumsi aluminium
hidroksida.
(MML)
RIFAMPISIN
FARMAKOLOGI
Rifampisin adalah derivat semisintetik rifamisin B yaitu salah satu
anggota kelompok antibiotik makrosiklik yang disebut rifamisin.
Kelompok zat ini dihasilkan oleh Streptomyces mediterranei.
Aktifitas antibakteri
Rifampisin menghambat pertumbuhan berbagai kuman gram
positif dan gram negatif. Terhadap kuman gram positif kerjanya
tidak sekuat Penisilin G, tetapi sedikit lebih kuat daripada eritro-
misin, linkomisin dan sefalotin. Terhadap kuman gram negatif,
kerjanya lebih lemah daripada tetrasiklin, kloramfenikol, kana-
misin dan kolistin. Rifampisin sangat aktif terhadap N. meningitidis
dan Haemophilus influenzae. Kadar hambat minimalnya berkisar
antara 0,1-0,8 _g/ml. In vitro, Rifampisin pada kadar 0,0005
0,2 _g/ml menghambat pertumbuhan M. tuberculosis. Pembe-
rian Rifampisin dapat meningkatkan aktivitas streptomisin dan
isoniazid terhadap M. tuberculosis, namun tidak terhadap etambutol.
Mekanisme kerja
Rifampisin terutama aktif terhadap sel yang sedang tumbuh.
Kerjanya menghambat DNA-dependent RNA polymerase miko-
bakteria dan mikroorganisme lain dengan menekan mula ter-
bentuknya rantai dalam sintesis RNA. Rifampisin dapat meng-
hambat sintesis RNA mitokondria mamalia tetapi diperlukan
kadar yang lebih tinggi daripada kadar untuk penghambatan
pada kuman. Rifampisin kadar tinggi juga dapat menghambat
pertumbuhan berbagai jenis virus. Rifampisin bakterisidal terhadap
mikroorganisme intraseluler dan ekstraseluler.
FARMAKOKINETIK
Pemberian rifampisin per oral menghasilkan kadar puncak dalam
plasma dalam 2-4 jam. Dosis tunggal 600 mg menghasilkan kadar
sekitar 7 _g/ml. Setelah diserap dari saluran cerna, obat ini cepat di-
ekskresi melalui empedu, kemudian mengalami sirkulasi entero-
hepatik. Penyerapan dihambat oleh adanya makanan (sekitar 30%).
Rifampisin cepat mengalami deasetilasi, dalam waktu 6 jam hampir
semua obat yang berada dalam empedu berbentuk deasetil
rifampisin, yang mempunyai aktivitas antibakteri penuh. Masa
paruh eliminasi rifampisin bervariasi dari 1,5-5 jam dan meman-
jang bila ada kelainan fungsi hepar. Pada pemberian berulang
masa paruh akan memendek sekitar 40% dalam waktu 14 hari.
Pada pemberian berulang masa paruh akan memendek sekitar
40% dalam waktu 14 hari. Sekitar 80% rifampisin terikat pada
protein plasma. Obat ini berdifusi ke berbagai jaringan termasuk
ke cairan otak. Luasnya distribusi ini tercermin dari warna merah
pada urin, tinja, sputum, air mata dan keringat penderita. Ekskresi
melalui urin mencapai 30%, setengahnya merupakan rifampisin
utuh sehingga penderita gangguan fungsi ginjal tidak memerlu-
kan penyesuaian dosis.
INDIKASI
Rifampisin diindikasikan untuk terapi semua bentuk tuberkulosis,
pemberiannya dikombinasi dengan isoniazid, etambutol, pirazinamid
dan streptomisin berdasarkan Pedoman Nasional Penanggulangan
TB 2006 : Kategori 1, Kategori 2, atau OAT sisipan
DOSIS DAN CARA PEMBERIAN
- Untuk
dewasa
:
BB > 60kg
: 600 mg
BB 40-60 mg
: 450 mg
BB < 40 kg
: 300 mg
- Untuk anak :
BB < 10 kg
: 75 mg
BB 10-20 kg
: 150 mg
BB 20-32 kg
: 300 mg
Pemberian dianjurkan sekali sehari, 1 jam sebelum atau 2 jam
setelah makan.
KONTRAINDIKASI
Pasien yang memiliki hipersensitivitas terhadap rifampisin.
PERINGATAN DAN PERHATIAN
· Pasien dengan disfungsi hati
· Pemeriksaan fungsi hati dan tes hematologi harus dilakukan
secara periodik pada pemakaian jangka panjang
· Jika terjadi komplikasi serius seperti : gagal ginjal, anemia
hemolitik, trombositopenia dan gangguan fungsi hati,
pengobatan
harus
dihentikan
· Rifampisin dapat menyebabkan urin, feses, air mata, saliva
dan keringat berwarna merah, terutama pada pemakaian
pertama kali, oleh karena itu harus diberitahukan kepada pasien
· Dapat menyebabkan perubahan warna pada lensa kontak
secara
permanen.
INTERAKSI OBAT
· Kombinasi dengan PAS akan menghambat absorpsi rifampisin
sehingga kadarnya dalam darah tidak cukup
· Rifampisin dapat menurunkan respon obat-obatan seperti :
hipoglikemik oral, kortikosteroid dan kontrasepsi oral
· Rifampisin dapat mengganggu metabolisme vitamin D sehingga
dapat menimbulkan kelainan tulang berupa osteomalasia
· Disulfiram dan probenesid dapat menghambat ekskresi
rifampisin melalui ginjal
· Rifampisin juga dapat meningkatkan hepatotoksisitas INH
ETAMBUTOL
FARMAKOLOGI
Etambutol merupakan bakteriostatik dengan mekanisme kerja
menekan pertumbuhan M.tuberculosis dengan cara mengham-
bat metabolisme sel sehingga sel tidak dapat memperbanyak diri
dan mati. Karena itu Etambutol hanya aktif terhadap sel yang
tumbuh dengan khasiat tuberkulostatik.
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
427
F A R M A K O L O G I
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
428
F A R M A K O L O G I
Etambutol sensitif terhadap galur M tuberculosis dan spesies
mikobakterium lainnya namun tidak efektif untuk kuman lain,
jamur ataupun virus. Resistensi dapat terjadi sangat cepat bila
Etambutol digunakan secara tunggal; sedangkan penggunaan
Etambutol dikombinasi dengan OAT lain akan sulit menimbul-
kan resistensi. Konsentrasi hambat minimum Etambutol adalah
1-8 _g/mL.
FARMAKOKINETIK
Pada pemberian oral sekitar 75-80% Etambutol diabsorpsi dari
saluran cerna. Absorpsi cepat bila tidak dipengaruhi oleh makanan.
Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 2-4 jam
setelah pemberian. Dosis tunggal 15 mg/kgBB menghasilkan
kadar plasma sekitar 2-5 _g/ml pada 2-4 jam; tidak menyebabkan
akumulasi obat pada pasien dengan fungsi ginjal normal,
namun dapat terjadi pada pasien dengan insufisiensi ginjal.
Masa paruh eliminasinya adalah 3-4 jam pada pasien dengan
fungsi ginjal normal, sedangkan pada pasien insufisiensi ginjal
memanjang hingga 7-8 jam.
Dalam waktu 24 jam, 50% Etambutol diekskresi dalam bentuk
utuh melalui urin, 15% sebagai metabolit, berupa derivat
aldehid dan asam karboksilat. Bersihan ginjal untuk Etambutol
kira-kira 7 ml/menit/kg, menandakan bahwa obat ini selain
mengalami filtrasi glomerulus juga disekresi melalui tubuli.
Etambutol tidak dapat menembus sawar darah otak, tetapi pada
meningitis TB dapat ditemukan kadar terapi dalam cairan otak.
INDIKASI
Etambutol diindikasikan untuk terapi TB, pemberiannya dikom-
binasi dengan OAT lainnya (Rifampisin, Isoniasid, Pirazinamid,
Streptomisin) berdasarkan Pedoman Nasional Penanggulangan
TB 2006, Kategori 1, Kategori 2, atau OAT sisipan.
DOSIS DAN CARA PEMBERIAN
Untuk dewasa :
Fase intensif 20 mg/kgBB
Fase lanjutan 15 mg/kgBB, 30 mg/kgBB 3x seminggu, atau
BB > 60kg
: 1500 mg
BB 40-60 mg
: 1000 mg
BB < 40 kg
: 750 mg
Untuk anak :
Etambutol tidak direkomendasikan untuk pasien anak usia < 5
tahun, karena efek samping Etambutol yang mempengaruhi
penglihatan.
Anak usia 6 12 tahun : 10 15 mg/kgBB/hari. (dengan ketajaman
penglihatan yang baik dan tidak buta warna, serta perlu penga-
wasan dokter). Usia yang direkomendasikan adalah > 13 tahun.
KONTRAINDIKASI
· Anak usia kurang dari 6 tahun
· Neuritis
optik
· Penderita hipersensitif terhadap Etambutol
PERINGATAN DAN PERHATIAN
· Lakukan pemeriksaan tajam penglihatan dan warna sebelum
terapi dan secara periodik selama terapi.
· Apabila terjadi perubahan ketajaman visual, penggunaan
Etambutol
harus
dihentikan.
· Pada penderita dengan gangguan visual seperti katarak,
radang mata berulang, neuritis optik, retinopati diabetik,
evaluasi perubahan visual lebih sulit dilakukan. Oleh karena
itu harus dapat dibedakan dengan pasti antara perubahan
visual karena keadaan tersebut dengan perubahan visual
karena
Etambutol.
· Hati-hati pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal.
Dosis harus diturunkan dan disesuaikan dengan kadar Etambutol
dalam
darah.
· Pada pengobatan jangka panjang pemeriksaan fungsi organ
harus dilakukan secara periodik termasuk ginjal, hati, hema-
topoetik.
· Data keamanan pemakaian Etambutol pada wanita hamil
dan menyusui belum cukup.
INTERAKSI OBAT
· Kombinasi dengan isoniasid dan piridoksin dapat meningkatkan
kadar asam urat darah, hal ini disebabkan penurunan ekskresi
asam urat melalui ginjal.
· Pemberian bersama aluminium hidroksida (antasid) pada 13
pasien tuberkulosis menurunkan konsentrasi serum dan
ekskresi urin Etambutol sekitar 20% dan 13%. Pemberian
Etambutol dianjurkan 4 jam setelah mengkonsumsi aluminium
hidroksida.
(MML)
RIFAMPISIN
FARMAKOLOGI
Rifampisin adalah derivat semisintetik rifamisin B yaitu salah satu
anggota kelompok antibiotik makrosiklik yang disebut rifamisin.
Kelompok zat ini dihasilkan oleh Streptomyces mediterranei.
Aktifitas antibakteri
Rifampisin menghambat pertumbuhan berbagai kuman gram
positif dan gram negatif. Terhadap kuman gram positif kerjanya
tidak sekuat Penisilin G, tetapi sedikit lebih kuat daripada eritro-
misin, linkomisin dan sefalotin. Terhadap kuman gram negatif,
kerjanya lebih lemah daripada tetrasiklin, kloramfenikol, kana-
misin dan kolistin. Rifampisin sangat aktif terhadap N. meningitidis
dan Haemophilus influenzae. Kadar hambat minimalnya berkisar
antara 0,1-0,8 _g/ml. In vitro, Rifampisin pada kadar 0,0005
0,2 _g/ml menghambat pertumbuhan M. tuberculosis. Pembe-
rian Rifampisin dapat meningkatkan aktivitas streptomisin dan
isoniazid terhadap M. tuberculosis, namun tidak terhadap etambutol.
Mekanisme kerja
Rifampisin terutama aktif terhadap sel yang sedang tumbuh.
Kerjanya menghambat DNA-dependent RNA polymerase miko-
bakteria dan mikroorganisme lain dengan menekan mula ter-
bentuknya rantai dalam sintesis RNA. Rifampisin dapat meng-
hambat sintesis RNA mitokondria mamalia tetapi diperlukan
kadar yang lebih tinggi daripada kadar untuk penghambatan
pada kuman. Rifampisin kadar tinggi juga dapat menghambat
pertumbuhan berbagai jenis virus. Rifampisin bakterisidal terhadap
mikroorganisme intraseluler dan ekstraseluler.
FARMAKOKINETIK
Pemberian rifampisin per oral menghasilkan kadar puncak dalam
plasma dalam 2-4 jam. Dosis tunggal 600 mg menghasilkan kadar
sekitar 7 _g/ml. Setelah diserap dari saluran cerna, obat ini cepat di-
ekskresi melalui empedu, kemudian mengalami sirkulasi entero-
hepatik. Penyerapan dihambat oleh adanya makanan (sekitar 30%).
Rifampisin cepat mengalami deasetilasi, dalam waktu 6 jam hampir
semua obat yang berada dalam empedu berbentuk deasetil
rifampisin, yang mempunyai aktivitas antibakteri penuh. Masa
paruh eliminasi rifampisin bervariasi dari 1,5-5 jam dan meman-
jang bila ada kelainan fungsi hepar. Pada pemberian berulang
masa paruh akan memendek sekitar 40% dalam waktu 14 hari.
Pada pemberian berulang masa paruh akan memendek sekitar
40% dalam waktu 14 hari. Sekitar 80% rifampisin terikat pada
protein plasma. Obat ini berdifusi ke berbagai jaringan termasuk
ke cairan otak. Luasnya distribusi ini tercermin dari warna merah
pada urin, tinja, sputum, air mata dan keringat penderita. Ekskresi
melalui urin mencapai 30%, setengahnya merupakan rifampisin
utuh sehingga penderita gangguan fungsi ginjal tidak memerlu-
kan penyesuaian dosis.
INDIKASI
Rifampisin diindikasikan untuk terapi semua bentuk tuberkulosis,
pemberiannya dikombinasi dengan isoniazid, etambutol, pirazinamid
dan streptomisin berdasarkan Pedoman Nasional Penanggulangan
TB 2006 : Kategori 1, Kategori 2, atau OAT sisipan
DOSIS DAN CARA PEMBERIAN
- Untuk
dewasa
:
BB > 60kg
: 600 mg
BB 40-60 mg
: 450 mg
BB < 40 kg
: 300 mg
- Untuk anak :
BB < 10 kg
: 75 mg
BB 10-20 kg
: 150 mg
BB 20-32 kg
: 300 mg
Pemberian dianjurkan sekali sehari, 1 jam sebelum atau 2 jam
setelah makan.
KONTRAINDIKASI
Pasien yang memiliki hipersensitivitas terhadap rifampisin.
PERINGATAN DAN PERHATIAN
· Pasien dengan disfungsi hati
· Pemeriksaan fungsi hati dan tes hematologi harus dilakukan
secara periodik pada pemakaian jangka panjang
· Jika terjadi komplikasi serius seperti : gagal ginjal, anemia
hemolitik, trombositopenia dan gangguan fungsi hati,
pengobatan
harus
dihentikan
· Rifampisin dapat menyebabkan urin, feses, air mata, saliva
dan keringat berwarna merah, terutama pada pemakaian
pertama kali, oleh karena itu harus diberitahukan kepada pasien
· Dapat menyebabkan perubahan warna pada lensa kontak
secara
permanen.
INTERAKSI OBAT
· Kombinasi dengan PAS akan menghambat absorpsi rifampisin
sehingga kadarnya dalam darah tidak cukup
· Rifampisin dapat menurunkan respon obat-obatan seperti :
hipoglikemik oral, kortikosteroid dan kontrasepsi oral
· Rifampisin dapat mengganggu metabolisme vitamin D sehingga
dapat menimbulkan kelainan tulang berupa osteomalasia
· Disulfiram dan probenesid dapat menghambat ekskresi
rifampisin melalui ginjal
· Rifampisin juga dapat meningkatkan hepatotoksisitas INH
ETAMBUTOL
FARMAKOLOGI
Etambutol merupakan bakteriostatik dengan mekanisme kerja
menekan pertumbuhan M.tuberculosis dengan cara mengham-
bat metabolisme sel sehingga sel tidak dapat memperbanyak diri
dan mati. Karena itu Etambutol hanya aktif terhadap sel yang
tumbuh dengan khasiat tuberkulostatik.