background image
346
T
I
n
j
A
u
A
n
P
u
S
T
A
K
A
|
a g u s t u s 2 0 0 9
347
T
I
n
j
A
u
A
n
P
u
S
T
A
K
A
|
a g u s t u s 2 0 0 9
Pemeriksaan penunjang
Tahap 1
Uji Tinja
Kultur bakteri dan deteksi virus
Pemeriksaan telur dan parasit
Uji toksin C.difficile
Pemeriksaan Cryptosporidia
Breath hydrogen test
Tahap 2
Sigmoidoskopi dan biopsi
Mikroskop : Mycobacteria, CMV, Cryptos-
poridia
Kultur : Mycobacteria
Tahap 3
Endoskopi dan kolonoskopi
Mikroskop : Mycobacteria, CMV, Cryp-
tosporidia
Kultur : Mycobacteria
Mikroskop elektron dan diagnostik mo le-
kular
Tata laksana
1. Pemberian cairan dan elektrolit
Tanpa dehidrasi : cairan rumah tangga
·
dan Asi diberikan semaunya,oralit
diberikan sesuai usia setiap kali buang
air besar dengan dosis :
< 1tahun : 50-100 ml
1-5 tahun : 100-200 ml
>5 tahun : semaunya
Dehidrasi ringan-sedang : rehidrasi
·
dengan oralit 75 ml/kgbb. dalam 3 jam
pertama dilanjutkan dengan pemberi-
an oralit sesuai kehilangan cairan yang
sedang berlangsung sesuai umur sep-
erti diatas setiap kali buang air besar
Dehidrasi berat: Rehidrasi parenteral
·
dengan cairan RL/RingAs 100 ml/
kgbb.
Cara pemberian :
- <1tahun : 30 ml/kgbb dalam 1
jam pertama dilanjutkan de-
ngan 70 ml/kgbb dalam 5 jam
berikutnya
- >1tahun : 30 ml/kgbb dalam
½ jam pertama dilanjutkan
de ngan 70 ml/kgbb dalam 2½
jam berikutnya
- Berikan minum jika anak su-
dah mau minum : 5 ml/kgbb
selama proses rehidrasi
2. Pemberian nutrisi
Nilai gizi seimbang,cukup karbohidrat,
·
protein,vitamin dan mineral
Bebas laktosa
·
Rendah lemak,rendah serat
·
Pemberian ASI diteruskan
·
Diberikan dalam porsi kecil tetapi de-
·
ngan frekuensi yang sering ±6x/hari
3. Terapi spesifik
Salmonella : Ampisilin, Amoksisilin,
·
TMP-SMX, Cefotaxim, Ceftriaxon
Shigella : Ampisilin, Amoksisilin,
·
TMP-SMX, Cefotaxim, Ceftriaxon,
Cefixim, Ciprofloxacin,
Ofloxcacin
·
Campylobacter : Eritromisin, Cipro-
·
floxacin
Mycobacterium avium complex: Klari-
·
tromisin + Etambutol + Rifabutin
Mycobacterium tuberculosis : Terapi
·
standar untuk tuberkulosis
Yersinia enterocolica : TMP-SMX
·
Giardia lamblia : Metronidazol
·
E.hystolitica : Metronidazol
·
C.difficile : Spiramisin, metronidazol,
·
vankomisin
C.parvum : Paromomisin
·
Microsporidia : Albendazol
·
Cytomegalovirus : Terapi suportif,
·
Gansiklovir (mahal)
Rotavirus : Terapi suportif, Hyperim-
·
mune bovine colostrum
Ket : Ciprofloxacin tidak dapat diberi-
·
kan pada bayi dan anak < 5 tahun,
Rifabutin tidak tersedia di kawasan
Asia Tenggara
4. Terapi lain
Mikronutrien : vitamin A,B12,Asam
·
folat, Zinc, Fe untuk regenerasi mu-
kosa dan fungsi imunologis
Probiotik
·
n
Pedoman tatalaksana infeksi HIV dan terapi retroviral pada anak di Indonesia. Dalam: Kurniati N,penyunting. Jakarta:Depkes RI;2008.
1.
Pusponegoro H, Hadinegoro SR, Firmanda D dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Ed.1.Jakarta;IDAI 2005,h 49-52
2.
Wilcox CM, Wanke CA. Evaluation of the HIV-infected patient with diarrhea. Diunduh dari:htttp://www.update.com/online/content/topic
3.
Ball C. Diarrhea in patient with AIDS .AIDS Read.2002:12:380-8
4.
Greenberg PD,Cello JP.Treatment of severe diarrhea caused by C.parvum with oral bovine immunoglobulin concetrate in patient with AIDS. J AIDS.Hum.
5.
Retrovirol.1996;13 :348-54
Rossit ARB, Almeida MTG, Nogueira CAM, Oliveira JDC, Barbosa D, Moscardini A,dkk.Bacterial,yeast,parasitic and viral enteropathogens in HIV-infected children
6.
from Sao Paolo State. Southern Brazil.Diag.Microbiol.Inf.Dis.2007;57 :59-66
Guarino A, Bruzzese E, Marco GD, Buccigrossi V. Management of gastrointestinal disorders in children with HIV infection. Pediatr Drugs.2004;6 :347-62
7.
FAO/WHO. Joint Working Group Guidelines for Probiotic in food.Http//www.who.int/foodsafety/fs_management/en/probiotic_guidelines,pdf.
8.
Daftar Pustaka
ETIOLOGI
Leptospirosis disebabkan bakteri pato-
gen berbentuk spiral genus Leptospira, fami-
li leptospiraceae dan ordo spirochaetales.
Spiroseta berbentuk bergulung-gulung ti-
pis, motil, obligat, dan berkembang pelan
anaerob. Genus Leptospira terdiri dari 2
spesies yaitu L interrogans yang patogen
dan L biflexa bersifat saprofitik.
Berdasarkan temuan DNA dapat di-
identifikasi 7 species patogen pada lebih
250 varian serologi (serovars). Leptospira
dapat menginfeksi sekurangnya 160 spe-
sies mamalia di antaranya tikus, babi, an-
jing, kucing, rakun, lembu, dan mamalia
lainnya. Hewan peliharaan yang paling
berisiko adalah kambing dan sapi. Resevoar
utamanya di seluruh dunia adalah bina-
tang pengerat dan tikus. Di Amerika yang
paling utama adalah anjing, ternak, tikus,
binatang buas dan kucing. Berberapa sero-
var dikaitkan dengan beberapa binatang,
L pomona and L interrogans terdapat pada
lembu dan babi, L grippotyphosa pada lem-
bu, domba, kambing, dan tikus, L ballum
dan L icterohaemorrhagiae sering dikait-
kan dengan tikus dan L canicola dikaitkan
dengan anjing. Beberapa serotipe penting
lainnya adalah L.autumnalis, L.hebdomidis,
dan L.australis.
Penularan penyakit ini bisa melalui tikus,
babi, sapi, kambing, kuda, anjing, serangga,
burung, landak, kelelawar dan tupai.
EPIDEMIOLOGI
Dikenal pertamakali sebagai penyakit
occupational pada beberapa pekerja pada
tahun 1883. Pada tahun 1886 Weil meng-
ungkapkan manifestasi klinis 4 penderita
penyakit kuning berat, disertai demam,
perdarahan dan gangguan ginjal. Sedang-
kan Inada mengidentifikasikan penyakit
ini di Jepang pada tahun 1916.
Penyakit ini dapat menyerang semua
usia, sebagian besar 10-39 tahun, pada
laki-laki usia pertengahan; mungkin usia
adalah faktor risiko. Angka kejadian pe-
nyakit tergantung musim. Di negara tropis
sebagian besar saat musim hujan, di negara
barat terjadi saat akhir musim panas atau
awal musim gugur karena tanah lembab
dan alkalis.
Angka kejadian penyakit Leptospira
sebenarnya sulit diketahui. Kasus leptos-
pirosis umumnya
underdiagnosed, unre-
ported dan underreported karena beberapa
kasus asimtomatis atau bergejala ringan,
self limited, salah diagnosis dan nonfatal.
Di Amerika Serikat (AS) tercatat 50 sam-
pai 150 kasus leptospirosis setiap tahun.
Sekitar 50% terjadi di Hawaii. Di Indonesia
penyakit demam banjir sudah sering dila-
porkan di daerah Jawa Tengah seperti Kla-
ten, Demak atau Boyolali. Beberapa tahun
terakhir juga dilaporkan di daerah banjir
seperti Jakarta dan Tangerang. Bakteri lep-
tospira juga banyak berkembang biak di
daerah pesisir pasang surut seperti Riau,
Jambi dan Kalimantan.
Angka kematian akibat leptospirosis
tergolong tinggi, mencapai 5-40%. In-
feksi ringan diperkirakan pada 90% kasus.
Anak balita, orang lanjut usia dan pende-
rita immunocompromised berrisiko kema-
tian tinggi. Pada usia di atas 50 tahun, ri-
siko kematiannya bisa mencapai 56%. Pada
penderita ikterus yang sudah mengalami
kerusakan hati, risiko kematiannya lebih
tinggi.
Paparan pekerjaan diperkirakan pada
30-50% kasus. Kelompok berisiko utama
adalah para pekerja pertanian, peternakan,
penjual binatang, bidang agrikultur, ru-
mah jagal, tukang ledeng, buruh tambang
batubara, militer, tukang susu, dan tukang
jahit. Ancaman juga bagi yang mempunyai
hobi aktivitas di danau atau sungai, seper-
ti berenang atau rafting dan kegiatan yang
berhubungan dengan air yang tercemar.
Berkemah dan bepergian ke daerah ende-
mik, berkendara roda dua melalui genang-
an juga menambah risiko.
PATOFISIOLOGI DAN
PATOGENESIS
Di Indonesia, penularan paling sering
melalui tikus. Air kencing tikus terbawa ban-
jir kemudian masuk ke tubuh manusia me-
lalui permukaan kulit yang terluka, selaput
lendir mata dan hidung. Bisa juga melalui
makanan atau minuman yang terkontamina-
si urine tikus yang terinfeksi leptospira.
Sejauh ini tikus merupakan reservoir
dan sekaligus penyebar utama leptospirosis.
Beberapa hewan lain seperti sapi, kambing,
domba, kuda, babi, anjing dapat terserang
leptospirosis, tetapi potensi menularkan ke
manusia tidak sebesar tikus. Leptospirosis
tidak menular langsung dari pasien ke pa-
sien. Masa inkubasi leptospirosis 2 - 26 hari.
Sekali berada di aliran darah, bakteri ini bisa
menyebar ke seluruh tubuh dan mengaki-
batkan gangguan khususnya hati dan ginjal.
Di ginjal kuman akan migrasi ke inter-
stitium, tubulus renal, dan tubular lumen
menyebabkan nefritis interstitial dan nek-
rosis tubular. Gagal ginjal biasanya karena
kerusakan tubulus, hipovolemia karena
dehidrasi dan peningkatan permeabilitas
kapiler. Gangguan hati berupa nekrosis
sentrilobular dengan proliferasi sel Kupffer
menyebabkan ikterus.
Leptospira juga dapat menginvasi otot
skeletal menyebabkan edema, vakuolisasi
miofibril, dan nekrosis fokal. Gangguan
sirkulasi mikro muskular dan peningkatan
Leptospirosis pada Manusia
Widodo Judarwanto
allergy Behaviour Clinic, Picky Eaters Clinic (Klinik Kesulitan Makan) Rumah sakit Bunda, Jakarta, Indonesia
PENDAHULUAN
Salah satu penyakit yang dapat terjadi paska banjir adalah leptospirosis. Penyakit menular ini adalah penyakit hewan yang dapat
menjangkiti manusia; termasuk penyakit zoonosis yang paling sering di dunia. Leptospirosis juga dikenal dengan nama flood
fever atau demam banjir karena memang muncul karena banjir. Di beberapa negara leptospirosis dikenal dengan nama demam
icterohemorrhagic, demam lumpur, penyakit Stuttgart, penyakit Weil, demam canicola, penyakit swineherd, demam rawa atau
demam lumpur.
background image
348
T
I
n
j
A
u
A
n
P
u
S
T
A
K
A
|
a g u s t u s 2 0 0 9
349
T
I
n
j
A
u
A
n
P
u
S
T
A
K
A
|
a g u s t u s 2 0 0 9
permeabilitas kapiler dapat menyebabkan
kebocoran cairan dan hipovolemi sirkula-
si. Pada kasus berat disseminated vasculitic
syndrome akan menyebabkan kerusakan
endotelium kapiler. Gangguan paru adalah
mekanisme sekunder kerusakan alveolar
and vaskular interstitial yang mengakibat-
kan hemoptu. Leptospira juga dapat men-
ginvasi akuos humor mata dan menetap
dalam beberapa bulan, sering mengakibat-
kan uveitus kronis dan berulang.
Meskipun komplikasi berat dapat ter-
jadi, lebih sering dijumpai self limiting di-
sease. Respon imun sistemik dapat meng-
eliminasi kuman, tetapi dapat memicu
reaksi inflamasi yang dapat mengakibatkan
secondary end-organ injury.
MANIFESTASI KLINIS
Infeksi leptospirosis mempunyai mani-
festasi yang sangat bervariasi dan kadang
asimtomatis, sehingga sering terjadi mis-
diagnosis. Hampir 15-40% penderita ter-
papar infeksi tidak bergejala tetapi serolo-
gis positif. Masa inkubasi 7-12 hari dengan
rentang 2-20 hari. Sekitar 90% penderita
ikterus ringan, 5-10% ikterus berat yang
sering dikenal sebagai penyakit Weil.
Perjalanan penyakit leptospira terdiri
dari 2 fase, yaitu fase septisemia dan fase
imun. Pada periode peralihan fase selama
1-3 hari kondisi penderita membaik.
Fase awal dikenal sebagai fase septise-
mik atau fase leptospiremik karena bakteri
dapat diisolasi dari darah, cairan serebros-
pinal dan sebagian besar jaringan tubuh.
Fase awal sekitar 4-7 hari, ditandai gejala
nonspesifik seperti flu dengan beberapa
variasinya. Manifestasi klinisnya demam,
menggigil, lemah dan nyeri terutama tu-
lang rusuk, punggung dan perut. Gejala
lain adalah sakit tenggorokan, batuk, nye-
ri dada, muntah darah, ruam, nyeri ke-
pala frontal, fotofobia, gangguan mental,
dan meningitis. Pemeriksaan fisik sering
mendapatkan demam sekitar 40oC diser-
tai takikardi. Subconjunctival suffusion,
injeksi faring, splenomegali, hepatomegali,
ikterus ringan, mild jaundice, kelemahan
otot, limfadenopati dan manifestasi kulit
berbentuk makular, makulopapular, erite-
matus, urticari, atau rash juga didapatkan
pada fase awal penyakit.
Fase ke dua sering disebut fase imun
atau leptospirurik karena sirkulasi antibodi
dapat dideteksi dengan isolasi kuman dari
urine; mungkin tidak dapat didapatkan lagi
dari darah atau cairan serebrospinalis. Fase
ini terjadi pada 0-30 hari akibat respon
pertahanan tubuh terhadap infeksi. Gejala
tergantung organ tubuh yang terganggu se-
perti selaput otak, hati, mata atau ginjal.
Gejala nonspesifik seperti demam
dan nyeri otot mungkin lebih ringan
dibanding kan fase awal selama 3 hari sam-
pai beberapa minggu. Sekitar 77% pende-
rita mengalami nyeri kepala terus menerus
yang tidak responsif dengan analgesik.
Gejala ini sering dikaitkan dengan gejala
awal mening itis selain delirium. Pada fase
yang lebih berat didapatkan gangguan
mental berkepanjang an termasuk depresi,
kecemasan, psikosis dan demensia.
Manifestasi klinis sesuai organ yang
terganggu. Gejala umum berupa adenopati,
rash, demam, perdarahan, tanda hipovole-
mia atau syok kardiogenik. Pada pemerik-
saan fungsi hati didapatkan ikterus, hepa-
tomegali, tanda koagulopati. Gangguan
paru berupa batuk, batuk darah, dispneu,
dan distres pernapasan. Manifestasi neuro-
logi berupa palsi saraf kranial, penurunan
kesadaran, delirium atau gangguan mental
berkepanjangan seperti depresi, kecemas-
an, iritabel, psikosis, dan dementia. Pada
mata terdapat perdarahan subconjuntiva,
uveitis, tanda iridosiklitis atau korioreti-
nitis. Gangguan hematologi berupa pera-
darahan, petekie, purpura, ekimosis dan
splenomegali. Kelainan jantung ditandai
gagal jantung atau perikarditis.
Meningitis aseptik adalah manifestasi
klinis paling penting pada fase anikterik
imun. Gejala meningeal terjadi pada 50%
penderita. Kelumpuhan saraf kranial, en-
sefalitis, dan perubahan kesadaran jarang
didapatkan. Meningitis bisa terjadi pada
beberapa hari awal, biasanya pada minggu
pertama dan kedua. Kematian jarang pada
kasus anikterik.
Leptospirosis dapat diisolasi dari darah
selama 24-48 jam setelah timbul ikterus.
Nyeri perut dengan diare dan konstipa-
si pada sekitar 30%, hepatosplenomegali,
mual, muntah dan anoreksia.
Uveitis pada 2-10% kasus dapat terja-
di pada awal atau akhir penyakit, bahkan
dilaporkan dapat sangat lambat sekitar 1
tahun setelah gejala awal. Iridosiklitis and
korioretinitis adalah komplikasi lambat
yang akan menetap selama setahun. Gejala
pertama timbul 3 minggu hingga 1 bulan
setelah paparan. Perdarahan subkonjunti-
va terjadi pada 92% penderita.
Gejala renal seperti azotemia, pyuria,
hematuria, proteinuria dan oliguria tam-
pak pada 50% penderita. Kuman lepto-
spira juga dapat mengenai ginjal. Manife-
stasi paru terjadi pada 20-70% penderita.
Adenopati, rash, and nyeri otot juga dapat
timbul.
Sindrom klinis tidak khas untuk seroti-
pe tertentu; tetapi beberapa manifestasi le-
bih sering tampak pada seerotipe tertentu.
Misalnya ikterus pada 83% penderita in-
feksi L icterohaemorrhagiae dan 30% pada
L pomona. Rash eritematous pretibial se-
ring pada infeksi L autumnalis. Gangguan
gastrointestinal pada infeksi L grippotypho-
sa. Meningitis aseptik sering pada infeksi L
pomona atau L canicola.
Sindrom Weil adalah bentuk leptospi-
rosis berat ditandai ikterus, disfungsi ginjal,
nekrosis hati, disfungsi paru, dan diatesis
perdarahan. Kondisi ini terjadi pada akhir
fase awal dan meningkat pada fase ke dua,
tetapi bisa memburuk setiap waktu. Krite-
ria penyakit Weil tidak dapat didefinisikan
dengan baik. Manifestasi paru meliputi ba-
tuk, dispnu, nyeri dada, sputum darah, ba-
tuk darah, dan gagal napas. Disfungsi gin-
jal dikaitkan dengan timbulnya ikterus 4-9
hari setelah gejala awal. Penderita dengan
ikterus berat lebih mudah terkena gagal
ginjal, perdarahan dan kolap kardiovasku-
lar. Hepatomegali juga didapatkan. Oligu-
ri atau anuri karena nekrosis tubular akut
sering terjadi pada minggu ke dua. Dapat
terjadi gagal multi-organ, rhabdomyolysis,
sindrom gagal napas, hemolisis, splenome-
gali, gagal jantung kongestif, miokarditis,
dan perikarditis. Kasus berat dengan gan-
gguan hepatorenal dan ikterus mengaki-
batkan mortalitas 20-40%. Mortalitas juga
akan meningkat pada lanjut usia.
Dapat ditemukan makular atau rash
makulopapular, nyeri perut mirip apendisi-
tis akut, pembesaran kelenjar limfoid mirip
infeksi mononucleosis.. Leptospirosis dicu-
rigai pada penderita flulike disease dengan
meningitis aseptik atau mialgia berat.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium digunakan
untuk konfirmasi diagnosis dan menge-
tahui gangguan organ tubuh dan kompli-
kasi yang terjadi.
Urine yang paling baik diperiksa karena
kuman leptospira terdapat dalam urine se-
jak awal penyakit dan akan menetap hing ga
minggu ke tiga. Cairan tubuh lainnya yang
mengandung leptospira adalah darah, cere-
brospinal fluid (CSF) tetapi rentang peluang
untuk isolasi kuman sangat pendek
Isolasi kuman leptospira dari jaringan
lunak atau cairan tubuh penderita adalah
standar kriteria baku. Jaringan hati, otot,
kulit dan mata adalah sumber identifikasi
kuman tetapi isolasi leptospira lebih sulit
dan membutuhkan beberapa bulan.
Taxime
background image
350
T
I
n
j
A
u
A
n
P
u
S
T
A
K
A
|
a g u s t u s 2 0 0 9
351
f
A
R
M
A
K
o
l
o
G
I
|
a g u s t u s 2 0 0 9
Spesimen serum akut dan serum kon-
valesen dapat digunakan untuk konfirmasi
diagnosis tetapi lambat karena serum akut
diambil 1-2 minggu setelah timbul ge-
jala awal dan serum konvalesen diambil 2
ming gu setelah itu. Antibodi antileptos-
pira diperiksa menggunakan microscopic
agglutination test (MAT).
Titer MAT tunggal 1:800 pada sera
atau identifikasi spiroseta pada mikroskopi
lapang gelap dikaitkan dengan manifestasi
klinis yang khas akan cukup bermakna.
Pemeriksaan complete blood count
(CBC) sangat penting. Penurunan hemo-
globin dapat terjadi pada perdarahan paru
dan gastrointestinal. Hitung trombosit
untuk mengetahui komponen DIC. Blood
urea nitrogen dan kreatinin serum dapat
meningkat pada anuri atau oliguri tubu-
lointerstitial nefritis pada penyakit Weil.
Peningkatan bilirubin serum dapat terja-
di pada obstruksi kapiler di hati. Peningkatan
transaminase jarang dan kurang bermakna,
biasanya <200 U/L. Waktu koagulasi akan
meningkat pada disfungsi hati atau DIC.
Serum creatine kinase (MM fraction) sering
meningkat pada gangguan muskular.
Analisis CSF bermanfaat hanya untuk
eksklusi meningitis bakteri. Leptospires
dapat diisolasi secara rutin dari CSF, tetapi
penemuan ini tidak mengubah tatalaksana
penyakit.
Pemeriksaan pencitraan foto polos
paru dapat menunjukkan air space bilateral.
Juga dapat menunjukkan kardiomegali dan
edema paru pada miokarditis. Perdarahan
alveolar dan patchy multiple infiltrate dapat
ditemukan. Ultrasonografi traktus bilier
dapat menunjukkan kolesistitis akal kulus.
Perwarnaan silver staining dan immu-
nofluorescence dapat mengidentifikasi lep-
tospira di hati, limpa, ginjal, CNS dan otot.
Selama fase akut pemeriksaan histologi
menunjukkan organisma tanpa banyak in-
filtrat inflamasi.
DIAGNOSIS BANDING
1. Dengue Fever
2. Hantavirus Cardiopulmonary
Syndrome
3. Hepatitis
4. Malaria
5. Meningitis
6. Mononucleosis, influenza
7. Enteric fever
8. Rickettsial disease
9. Encephalitis
10. Primary HIV infection
TATALAKSANA
Terapi antimikrobial adalah pengoba-
tan utama. Pada infeksi tanpa komplikasi
tidak perlu rawat inap. Doksisiklin oral
menurunkan durasi demam. Rawat inap
perlu untuk terapi penicillin G intravena.
Penelitian terakhir menunjukkan sefa-
losporin sama efektifnya dengan doksi-
siklin dan penisilin pada fase akut. Eritro-
misin digunakan pada kasus kehamilan
yang alergi terhadap penisillin sedangkan
amoksisilin adalah terapi alternatif.
Pada kasus berat dengan gangguan or-
gan dan gagal multiorgan, terapi suportif.
Yang paling penting adalah pemantauan
cermat perubahan klinis karena kolaps
kardiovaskular dan syok dapat cepat dan
mendadak. Fungsi ginjal harus dievalu-
asi cermat; jika gagal ginjal perlu dialisis.
Umumnya kerusakan ginjal reversibel jika
dapat melewati fase akut. Ventilasi meka-
nik dan proteksi jalan napas bila terjadi
gangguan pernapasan berat. Pamantauan
jantung untuk risiko takikardi ventrikel,
kontraksi ventrikel prematur, fibrilasi atri-
al, flutter, dan takikardi.
PENCEGAHAN
Menghindari atau mengurangi kontak
dengan binatang yang berpotensi terpapar
air atau lahan tercemar. Orang berisiko
tinggi harus memakai sarung tangan, baju
dan kacamata pelindung. Higiene sanitasi
lingkungan, kontrol binatang pengerat se-
perti tikus harus diperhatikan secara ketat.
Penggunaan vaksin pada hewan dan
manusia masih kontroversial.
Kemoprofilaksis efektif pada manusia
risiko tinggi seperti anggota militer atau
wisatawan di daerah endemik. Doksisiklin
250 mg peroral sekali seminggu, efikasinya
sangat baik. Tetapi pencegahan tidak dian-
jurkan untuk jangka panjang.
KOMPLIKASI DAN PROGNOSIS
Komplikasi tergantung perjalanan pe-
nya kit dan pengobatanmya. Prognosis pen-
de rita dengan infeksi ringan sangat baik te-
tapi kasus yang lebih berat sering buruk. n
Aston JM, Broom JC. Leptospirosis in Man and Animals. Edinburgh and London: Livingstone; 1958.
1.
Bajani MD, Ashford DA, Bragg SL et al. Evaluation of four commercially available rapid serologic tests for diagnosis of leptospirosis. J Clin Microbiol 2003 Feb; 41(2): 803-9.
2.
Boyer AS, Runyan RB. TGFbeta Type III and TGFbeta Type II receptors have distinct activities during epithelial-mesenchymal cell transformation in the embryonic heart. Dev Dyn 2001 Aug; 221(4):
3.
454-9
Cacciapuoti B, Ciceroni L, Maffei C. A waterborne outbreak of leptospirosis. Am J Epidemiol 1987 Sep; 126(3): 535-45.
4.
Carvalho CR, Bethlem EP. Pulmonary complications of leptospirosis. Clin Chest Med 2002 Jun; 23(2): 469-78.
5.
CDC. Outbreak of leptospirosis among white-water rafters - Costa Rica occupational infections. MMWR 1997; 46(25): 77-578.
6.
CDC. From the Centers for Disease Control and Prevention. Update: outbreak of acute febrile illness among athletes participating in Eco-Challenge-Sabah 2000--Borneo, Malaysia, 2000. JAMA
7.
2001 Feb 14; 285(6): 728-30.
Chu KM, Rathinam R, Namperumalsamy P. Identification of Leptospira species in the pathogenesis of uveitis and determination of clinical ocular characteristics in south India. J Infect Dis 1998
8.
May; 177(5): 1314-21.
Cohen R, LaDou J(eds). Occupational Infections. In: Occupational Environmental Medicine. Connecticut: Appleton & Lange; 1997.
9.
Cole DJ, Hill VR, Humenik FJ. Health, safety, and environmental concerns of farm animal waste. Occup Med 1999 Apr-Jun; 14(2): 423-48.
10.
Corwin A, Ryan A, Bloys W. A waterborne outbreak of leptospirosis among United States military personnel in Okinawa. Japan. Int J Epidemiol 1990 Sep; 19(3): 743-8.
11.
De Serres G, Levesque B, Higgins R. Need for vaccination of sewer workers against leptospirosis and hepatitis A. Occup Environ Med 1995 Aug; 52(8): 505-7.
12.
Doudier B, Garcia S, Quennee V. Prognostic factors associated with severe leptospirosis. Clin Microbiol Infect 2006 Apr; 12(4): 299-300.
13.
Edwards GA, Domm BM. Human leptospirosis. Medicine (Baltimore) 1960 Feb; 39: 117-56.
14.
Faine S. In: Leptospira and Leptospirosis . Boca Raton: CRC Press Inc; 1994.
15.
Farrar WE, Mandel GL, Bennett JE, Dolin R, eds. Leptospira species (leptospirosis). In: Principles and Practice of Infectious Diseases. New York: Churchill Livingstone; 1995: 2137-41.
16.
Feigin RD, Anderson DC. Human leptospirosis. CRC Crit Rev Clin Lab Sci 1975 Mar; 5(4): 413-67.
17.
Freedman DO, Woodall J. Emerging infectious diseases and risk to the traveler. Med Clin North Am 1999 Jul; 83(4): 865-83, v.
18.
Farr RW. Leptospirosis. Clin Infect Dis 1995 Jul; 21(1): 1-6; quiz 7-8.
19.
Guidugli F, Castro AA, Atallah AN. Antibiotics for preventing leptospirosis. Cochrane database of systematic reviews. The Cochrane Library 2004; 2.
20.
Im JG, Yeon KM, Han MC et al. Leptospirosis of the lung: radiographic findings in 58 patients. AJR Am J Roentgenol 1989 May; 152(5): 955-9.
21.
Inada R, Ido Y et al. Etiology, mode of infection and specific therapy of Weil's disease. J Exp Med 1916; 23: 377-402.
22.
Kaufman AF, Wenger JD, Last JM, Wallace RB, eds. Leptospirosis. In: Maxcy-Rosenau-Last Public Health and Preventive Medicine. 13th ed. Norwalk, Connecticut; 1992: 264-265.
23.
untuk lebih lengkapnya daftar pustaka ada pada redaksi
Daftar Pustaka
FARMAKODINAMIK
Mekanisme kerja
Levofloxacin dapat menghambat en-
zim topoisomerase IV dan DNA gyrase
yaitu enzim yang diperlukan untuk rep-
likasi, transkripsi, perbaikan (repair), dan
rekombinasi DNA bakteri.
2
Spektrum aktivitas antibakteri
Levofloxacin mempunyai spektrum
aktivitas antibakteri yang luas yaitu da-
pat melawan bakteri gram positif (seperti:
Streptococcus pneumoniae termasuk yang
resisten terhadap penicillin, Staphylococcus
aureus yang peka terhadap methicillin) dan
negatif (seperti: Haemophillus influenzae,
Moraxella catarrhalis, Enterobacteriaceae)
serta bakteri atipikal (seperti: Chlamydia
pneumoniae, Mycoplasma pneumoniae dan
Legionella spp).
3
Aktivitas bakterisidal levofloxacin
tergantung pada konsentrasi (concentra-
tion dependent). Oleh karena itu, aktivitas
terhadap bakteri dapat meningkat dengan
cara memaksimalkan konsentrasinya..
4
Se-
makin tinggi AUC:MIC dan Cmak:MIC
maka efektivitasnya semakin besar.
5
Post antimicrobial effect (PAE)
Levofloxacin memiliki PAE sekitar 2 -
4,5 jam tergantung pada patogennya.
6
Resistensi
Resistensi fluorokuinolon dapat terjadi
melalui mutasi pada daerah tertentu dari
DNA gyrase atau topoisomerase IV yang
disebut dengan istilah Quinolone-Resis-
tance Determining Regions (QRDRs), atau
melalui perubahan efluks. Fluorokuinolon
termasuk levofloxacin, mempunyai struk-
tur kimia dan mekanisme aksi yang ber-
beda dari aminoglycoside, macrolide dan
antibiotik -lactam termasuk penicillin
sehingga fluoroquinolones mungkin efek-
tif untuk mengatasi bakteri yang resisten
terhadap antimikroba yang tersebut.
Secara in vitro, resistensi levofloxacin
karena mutasi spontan jarang terjadi (10
-9
sampai 10
-10
). Meskipun resistensi silang
dapat teramati pada penggunaan levofloxa-
cin dengan fluoroquinolone lain, beberapa
mikroorganisme yang resisten terhadap
fluoroquinolone lain mungkin saja peka
terhadap levofloxacin.
7
Berdasarkan program surveillance di
Amerika, resistensi levofloxacin diantara
patogen saluran pernafasan termasuk S.
pneumoniae masih rendah (1%).
6
FARMAKOKINETIK
Ada 2 rute pemberian levofloxacin
yaitu oral dan intravena (IV). Setelah pem-
berian oral, levofloxacin dapat diabsorpsi
dengan cepat dan mempunyai bioavaibili-
tas (99 %). Formulasi sediaan oral dan in-
travena adalah bioequivalen.
6
Levofloxacin
oral dengan IV dapat saling menggantikan
(interchangeable).
3
Levofloxacin terdistribusi secara luas
termasuk ke paru, kulit, dan kelenjar pros-
tat dengan kadar yang melebihi minimum
inhibitory concentration (MIC) bakteri
yang ada pada tempat tersebut.
3
Ekskresi utama di ginjal (75- 87 % da-
Levofloxacin
Candrasa Tanujaya
Departemen Medical Pt. Kalbe Farma tbk. Pusat, Jakarta
PENDAHULUAN
Levofloxacin adalah suatu antibakterial golongan kuinolon generasi 3 yang merupakan isomer S dari ofloxacin. Levofloxacin
pertama kali dipatenkan pada tahun 1987 (Levofloxacin European Patent Daiichi) dan telah diterima penggunaannya oleh Food Drug
Administration (FDA), Amerika pada tahun 1996.1 Saat ini, Levofloxacin dipasarkan dengan berbagai merk dagang.
Gambar 1. Struktur Kimia Levofloxacin
1