background image
S
ebuah penelitian di Brazil menemukan bahwa flunarizine
bermanfaat sebagai terapi skizofrenia. Penelitian ini bertujuan
mengevaluasi efekasi terapeutik dan tolerabilitas flunarizine
dibandingkan dengan haloperidol pada pasien skizofrenia
(DSM-IV) stabil kronik dan gangguan skizoafektif.
Penelitian melibatkan 70 pasien yang secara acak menerima
terapi flunarizine (n=34, 10-50 mg/hari) atau haloperidol
(n=36, 2.5-12.5 mg/hari) selama 12 minggu. 25 pasien dari
kelompok flunarizine dan 27 dari kelompok haloperidol
menyelesaikan penelitian.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pada kelompok
flunarizine terjadi penurunan nilai rata-rata total the Positive
and Negative Syndrome Scale (PANSS) sebesar 21% dari
baseline dan pada kelompok haloperidol berkurang 19%.
Penurunan ini bermakna secara statistik pada kedua kelompok
(p<0,05). Selain itu tidak ada perbedaan bermakna perihal
subscale scores dan the Clinical Global Impression-Improve-
ment scores antara kedua kelompok penelitian.
Pada penilaian efek samping, akatisia yang berhubungan
dengan terapi lebih besar pada kelompok haloperidol (p=0.04)
dan peningkatan berat badan lebih banyak pada kelompok
flunarizine (p<0.05). Gejala ekstrapiramidal dan kadar prolaktin
tidak berbeda antara kedua kelompok. Ini adalah penelitian
pertama yang mengevaluasi manfaat flunarizine sebagai anti-
psikotik; dalam penelitian ini flunarizine efektif dan ditoleransi
dengan baik oleh pasien.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk konfirmasi manfaat fluna-
rizine ini. Bila memang bermanfaat bagi skizofrenia, maka
flunarazine akan menjadi salah satu alternatif terapi skizofrenia
yang baik, dengan profil waktu paruh yang panjang (2-7
minggu) dan biaya relatif rendah. (YYA)
Referensi :
1. Bisol LW, Brunstein MG, Ottoni GL, Ramos FL, Borba DL, Daltio CS, et al. Is flunarizine
a long-acting oral atypical antipsychotic? A randomized clinical trial versus haloperidol
for the treatment of schizophrenia. . J Clin Psychiatry 2008; 69 (10): 1572-9.
2. Yan J. Journal Digest. Psychiatr News 2008; 43 (24):19. [cited 2009 Feb 04].
Available from: http://pn.psychiatryonline.org/cgi/content/full/43/24/19-a?maxtoshow=
&HITS=&hits=&RESULTFORMAT=&fulltext=flunarizine&andorexactfulltext=
and&searchid=1&FIRSTINDEX=0&fdate=1/1/2008&resourcetype=HWCIT
Flunarizine adalah obat calcium channel blocker non-spesifik yang sejak lama telah
digunakan sebagai terapi migren, vertigo dan gangguan kognitif yang berhubungan
dengan gangguan serebrovaskular. Flunarizine juga dapat memblokade reseptor dopamine
(D2) dan efektif dalam penelitian hewan sebagai antipsikosis.
Flunarizine untuk Skizofrenia
Flunarizine untuk Skizofrenia
Flunarizine untuk Skizofrenia
I
rbesartan merupakan obat antihipertensi golongan angiotensin
II receptor antagonist, yang dalam penelitian terbukti memperbaiki
fungsi endotel pembuluh darah pada pasien-pasien dengan risiko
tinggi kardiovaskular. Penelitian IRMA 2 (Irbesartan in Patients
with Type 2 Diabetes and Microalbuminuria) memperlihatkan
bahwa pemberian irbesartan pada pasien diabetes tipe 2 dengan
mikroalbuminura, mengurangi parameter inflamasi seperti high-
sensitivity C-reactive protein (hs-CRP), interleukin (IL)-6, dan fibrinogen
secara bermakna. Di dalam penelitian ISLANDS (the Irbesartan and
Lipoic Acid in Endothelial Dysfunction Study), pemberian irbesartan
pada pasien-pasien dengan sindroma metabolik memperbaiki fungsi
endotel dan penanda pro-inflamasi. Karena manfaatnya mem-
perbaiki fungsi endotel, maka diperkirakan bahwa irbesartan juga
memiliki manfaat memperbaiki fungsi ereksi pada pasien-pasien
dengan disfungsi ereksi.
Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh irbesartan
terhadap disfungsi ereksi pada pasien-pasien hipertensi dengan
sindroma metabolik. Penelitian ini melibatkan 1069 pasien, ter-
masuk pasien-pasien yang terlibat dalam survei DO-IT (the Docu-
mentation of hypertension and metabolic syndrome in patients
with Irbesartan Treatment).
Pasien yang terlibat dalam penelitian ini dibagi menjadi 4 kelompok
penelitian yang mendapatkan terapi irbesartan 150 mg (n=162),
irbesartan 300 mg (n=219), irbesartan/hydrochlorothiazide (HCTZ)
150/12,5 mg (n=245) dan irbesartan/hydrochlorothiazide (HCTZ)
300/12,5 mg (n=419). Terapi diberikan selama 6 bulan. Disfungsi
ereksi diperiksa menggunakan indeks internasional untuk fungsi
ereksi. The Cologne Evaluation Questionnaire of Erectile Dysfunction
digunakan sebagai kontrol.
Hasil pemeriksaan memperlihatkan bahwa fungsi ereksi membaik
secara bermakna (p<0,0001) pada semua kelompok penelitian
setelah terapi selama 6 bulan. Perbaikan disfungsi ereksi ini tidak
bergantung pada dosis irbesartan serta tidak berhubungan dengan
penambahan HCTZ. Kejadian disfungsi ereksi menurun dari 78,5%
pada baseline, menjadi 63,7% pada bulan ke-6.
Gambar 1. Pengaruh pemberian irbesartan atau irbesartan + HCTZ selama 6
bulan terhadap angka kejadian atau beratnya disfungsi ereksi. IIEF, merupakan
singkatan untuk International Index of Erectile Function. Peningkatan skor IIEF
mengindikasikan perbaikan fungsi ereksi.
Gambar 2. Perubahan pada skor IIEF memperlihatkan tidak adanya perbedaan
yang bermakna antara kelompok irbesartan maupun dengan kelompok irbesartan
+ HCTZ. Perubahan skor juga tidak dibergantung pada dosis irbesartan.
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa terapi dengan irbesartan
maupun irbesartan plus HCTZ sebagai kombinasi memperbaiki fungsi
ereksi pada pasien hipertensi dengan sindroma metabolik. Perbaikan
fungsi ereksi ini diperkirakan terjadi karena penurunan tekanan darah
yang terjadi dan efek perbaikan fungsi endotel oleh irbesartan.
Penelitian lanjutan diperlukkan untuk mendapatkan konfirmasi
mengenai hal ini.
Kesimpulan:
· Terapi dengan irbesartan maupun irbesartan plus HCTZ sebagai
kombinasi memperbaiki fungsi ereksi pada pasien hipertensi
dengan sindroma metabolik.
· Perbaikan disfungsi ereksi ini tidak bergantung pada dosis irbesartan
serta tidak berhubungan dengan penambahan HCTZ. (YYA)
Referensi :
1. Baumhakel M, Schlimmer N, Bohm M, on behalf of the DO-IT Investigators. Effect of
irbesartan on erectile function in patients with hypertension and metabolic syndrome.
International Journal of Impotence Research 2008: 18
2. Persson F, Rossing P, Hovind P, Stehouwer CDA, Schalkwijk C, Tarnow L. et al. Irbesartan
Treatment Reduces Biomarkers of Inflammatory Activity in Patients With Type 2 Diabetes and
Microalbuminuria: An IRMA 2 Substudy. Diabetes, 2006; 55: 3550 - 5.
3. Sola S, Mir MQS, Cheema FA, Khan-Merchant N, Menon RG, Parthasarathy S, et al. Irbesartan
and Lipoic Acid Improve Endothelial Function and Reduce Markers of Inflammation in the
Metabolic Syndrome Results of the Irbesartan and Lipoic Acid in Endothelial Dysfunction
(ISLAND)
Study.
Patogenesis terjadinya disfungsi ereksi berhubungan dengan disfungsi endotel pembuluh
darah Pasien dengan faktor-faktor risiko kejadian kardiovaskular seperti sindroma metabolik
mengalami peningkatan risiko disfungsi ereksi.
Irbesartan Memperbaiki Fungsi Ereksi
Irbesartan Memperbaiki Fungsi Ereksi
Irbesartan Memperbaiki Fungsi Ereksi
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
271
BERITA TERKINI
272
BERITA TERKINI
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009