background image
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
414
Gigi yang sehat adalah gigi yang rapi, bersih, bercahaya dan di
dukung oleh gusi yang kencang dan berwarna merah muda.
Pada kondisi normal, dari gigi dan mulut yang sehat tidak
tercium bau yang tidak sedap. Kondisi ini hanya dapat dicapai
dengan perawatan yang tepat (Eddy, 2003).
Keadaan oral hygine yang buruk seperti adanya kalkulus dan
stain, banyak karies gigi, keadaan tidak bergigi atau ompong
dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan seharihari
(Gabriella, 2000). Kebersihan mulut adalah cermin kesehatan.
Faktanya, ada penyakit yang berhubungan dengan kesehatan
mulut dan gusi tersebut (Anonim (A), 2002). Dalam kehidupan
sehari-hari sering dijumpai orang-orang yang merasa malu
untuk tersenyum atau berbicara dengan leluasa. Hal ini terjadi
karena bebagai macam hal, antara lain keadaan oral hygiene
atau kebersihan mulut yang buruk, banyak gigi karies atau
dapat juga karena ompong (Gabriella, 2002). Penyakit gigi dan
mulut yang paling banyak menyerang manusia adalah karies
gigi dan penyakit periodontal (Kristanti, dkk, 1995).
Karies gigi adalah penyakit jaringan keras gigi yang ditandai
dengan terjadinya mineralisasi bagian anorganik dan demine-
ralisasi dari substansi organik (Anies, dkk, 1997). Karies dapat
terjadi pada setiap gigi yang erupsi, pada tiap orang tanpa
memandang umur, jenis kelamin, bangsa, maupun status
ekonomi (Monang, 1996). Penyakit karies ini masih menjadi
masalah di Indonesia, karena prevalensinya mencapai 80% dari
jumlah penduduk (Anies, dkk, 1997). Prevalensi gigi karies itu
sendiri meningkat dengan bertambahnya usia (Foresster, 1981).
Distribusi karies masyarakat menurut kelompok usia di Kabu-
paten Lampung Tengah Propinsi Lampung tahun 1983 didapat-
kan untuk kelompok usia 10-19 tahun prevalensinya sebesar
71,6%, usia 20-29 tahun sebesar 86,4% dan usia 30-39 tahun
sebesar 87,8% (Adi Prayitno, dkk., 1983).
Periodonsium adalah jaringan penyangga gigi yang terdiri dari
jaringan gusi, tulang alveolar, ligamentum periodontal dan
sementum yang melekat pada akar gigi (Adi Prayitno, 1983;
Lesmana, 1999). Pada penelitian yang dilakukan Marshall-Day
dinyatakan umumnya keradangan gingiva pada usia muda
rata-rata mencapai 75% atau lebih dan akan meningkat men-
dekati 100% (Prijantojo (a, b, c), 1996). Prevalensi terjadinya
gingivitis di Amerika Serikat pada tahun 1988 sampai 1991
menurut kelompok usia didapatkan untuk usia 13-17 tahun
sebesar 65,9% dan usia 18-24 sebesar 73,3% (WHO, 1995).
Pada dasarnya kedua penyakit tersebut di atas disebabkan
karena plak yang melekat pada gigi (Kristanti, dkk, 1995). Plak
yang menempel pada sulcus gingiva mampu menimbulkan
infeksi dan menyebabkan kasus serius (Anonim (B), 2003).
Pada permukaan akar yang terbuka, yang merupakan tempat
melekatnya plak pada penderita dengan resesi gingiva karena
penyakit periodonsium, adalah salah satu tempat yang mudah
diserang karies (Kidd, 1998). Kejadian karies pada akar gigi
biasanya terjadi pada usia dewasa, yaitu usia 18 tahun ke atas.
Terjadinya karies akar gigi dapat dipengaruhi oleh adanya poket
periodontal (De Paolo, 1989). Dari pemantauan Direktorat
Kesehatan Gigi Dir. Yan. Medik pada akhir Pelita V (1984-1994)
menunjukkan pasien yang berobat jalan ke puskesmas karena karies
gigi sebesar 45,7% sedangkan yang disebabkan oleh kelainan
gusi dan periodontal sebesar 31,7% (Kristanti, dkk, 1995).
KESIMPULAN
Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa :
Kelainan tersering untuk tahun 1994 adalah bidang konser-
vasi dan terjarang adalah bidang orthodonsi, sedang kasus
tersering untuk tahun 2004 adalah bidang konservasi dan
terjarang adalah bidang pedodonsi.
Bahwa ada perbedaan pada macam kelainan antara tahun
1994 dengan 2004 dan ada perbedaan pada tindakan
antara tahun 1994 dan 2004.
Ada perbedaan pada jumlah kelainan gigi dan mulut dan
tindakan odontectomy (OD) yang nyata antara tahun 1994
dengan 2004.
DAFTAR PUSTAKA :
Adi Prayitno, dkk, 1997. Kegoyahan Gigi Geligi pada Penyakit Diabetus Mellitus
Tak Terkontrol dan Terkontrol. Fakultas Kedokteran UNS, Surakarta, pp: 26-7.
Gabriella Aditya, 2000. Pemutihan Kembali Gigi yang Berubah Warna dengan
Teknik Bleaching. Jurnal Kedokteran Trisakti. Vol. 19, No.1, p: 29.
Kidd A.M. Edwina, 1998. Dasar-Dasar Karies, Penyakit dan Penanggulangannya,
EGC, Jakarta, pp: 5-8.
Kristanti, Salma Ma»ruf, Ratna Budiarso, Syahrudji Naseh, 1995. Penyakit Gigi
dan Mulut di Indonesia. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia. Tahun XXIII,
No. 8, pp: 542-3.
Anies, Henry Setiawan, Soeharyo Hadisaputro, 1997. Karies Gigi dan Perlaku
Pencegahan serta Pengobatan di Kotamadya Semarang. Majalah Medika
Indonesiana. Vol. 32, No. 1, pp: 37-42.
Anonim (A), 2003. Remehkan Kesehatan Gigi Picu Diabetes. www.sinarharapan.
co.id/iptek/kesehatan.
Anonim (B), 1994. Karang Gigi, File:A\Karang Gigi, Htm.
De Paolo D.F., 1989. Methodology Issue Relative to The Quantification of Root
Surface Caries Gerodontal, pp: 3-6.
Eddy Hasby, 2003 Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut. http://www.kompas.com/
kompas-cetak/0207/19/iptek/pera34.htm. Forrester, 1981. Pediatric Dental Medicine.
Lea and Febiger, Philadelphia, pp : 142-9.
Monang Panjaitan, 1996. Pengaruh Pemberian Obat Kumur Mengandung Fluor
terhadap Perkembangan Karies Gigi Narapidana Lembaga Pemasyarakatan
Tanjung Gusta, Medan. Cermin Dunia Kedokteran. No. 106, pp: 52-3
Adi Prayitno, dkk, 1983. Status Kesehatan Gigi Geligi Masyarakat di Daerah
Lampung. Fakultas Kedokteran Gigi Gadjah Mada, Yogyakarta, pp: 7-12.
Prijantojo (a), 1996. Hambatan Pembentukan Plak Gigi dengan Larutan Obat
Kumur Hexetidine 0,1%. Cermin Dunia Kedokteran. No. 106, p: 55.
Prijantojo (b), 1996. Kondisi Jaringan Periodonsium dari Sekelompok Masyarakat
di Daerah Pedesaan Sesuai dengan Kelompok Umur. Majalah Kesehatan
Masyarakat. Tahun XXIV, No. 2, p: 128.
Prijantojo (c), 1996. Evaluasi Derajat Keradangan Gingiva pada Masyarakat
dengan Tingkat Pendidikan yang Berbeda. Majalah Kesehatan Masyarakat
Indonesia. Tahun XXIV, No. 5, p: 330.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
BERITA TERKINI
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
415
P
ara peneliti menjelaskan bahwa pada hewan yang diteliti,
OxLDL, yang merupakan fraksi yang kecil LDL (0,001%-5%),
berkontribusi dalam proses yang mengarah ke kejadian
sindrom metabolik; hal ini belum dibuktikan pada manusia.
Karena itulah para peneliti ingin mengetahui dengan pasti
hubungan antara konsentrasi OxLDL dengan angka kejadian
sindrom metabolik beserta komponennya (obesitas abdomen,
hiperglikemi, and hipertrigliseridemi) dalam 5 tahun dengan
melakukan penelitian Coronary Artery Risk Development in
Young Adults (CARDIA).
Penelitian ini melibatkan 5115 pasien berusia antara 18-30
tahun pada saat dipilih di tahun 1985-1986 di Amerika
Serikat. OxLDL diperiksakan pada 2823 orang pada tahun
ke-15, sebagai bagian dari penelitian Young Adult Longitudi-
nal Trends in Antioxidants (YALTA). Kriteria eksklusi: kehami-
lan, tidak puasa selama 8 jam sebelum pemeriksaan dilaku-
kan, data tidak lengkap, sudah menderita sindrom metabo-
lik; sehingga yang memenuhi kriteria 1889 pasien.
Hasil : selama 20 tahun penelitian, 243 pasien (12,9%) dari
1889 pasien ini menderita sindrom metabolik. Setelah
menyesuaikan beberapa variabel, OxLDL memperlihatkan
hubungan bertingkat dengan kejadian sindrom metabolik.
Pasien yang memiliki kadar OxLDL tinggi mengalami pening-
katan risiko sindrom metabolik hingga 3,5 kali. (Tabel1)
Tabel 1. Odds ratio untuk kejadian sindrom metabolik setelah follow up
5 tahun dengan pengukuran kadar OxLDL:
Telah disesuaikan untuk umur, jenis kelamin, ras, senter penelitian, merokok,
indeks massa tubuh, aktivitas fisik dan kadar colesterol LDL.
Kadar OxLDL yang tinggi juga disertai dengan komponen
sindrom metabolik: obesitas, hipertrigliseridemi, kadar
glukosa darah puasa yang tinggi, namun tidak disertai
dengan peningkatan tekanan darah atau kolesterol HDL
(high-density lipoprotein cholesterol)
Tabel 2. Odds ratio yang sudah disesuaikan untuk kejadian kompo-
nen sindrom metabolik dengan perbandingan antara kadar OxLDL
yang tinggi dengan yang rendah:
Telah disesuaikan untuk umur, jenis kelamin, ras, senter penelitian, merokok,
indeks massa tubuh, aktivitas fisik dan kadar colesterol LDL
Sebaliknya, kolesterol LDL memperlihatkan hubungan yang
terbatas dengan sindrom metabolik. Para peneliti menga-
takan masih sangat dini untuk mengatakan apakah OxLDL
menjadi salah satu penyebab terjadinya sindrom metabolik;
namun terdapat hubungan yang kuat antara kadar OxLDL
dengan kejadian sindrom metabolik.
Kesimpulan:
OxLDL, merupakan salah satu petanda adanya sindrom
metabolik.
Peningkatan kadar OxLDL disertai dengan peningkatan
komponen sindrom metabolik: obesitas, hipertrigliseridemi,
kadar glukosa darah puasa yang tinggi, namun tidak disertai
dengan peningkatan tekanan darah atau kolesterol HDL.
Perlu penelitian lanjutan untuk memastikan apakah OxLDL
sendiri ikut berperan dalam meningkatkan kejadian sindrom
metabolik. (
YYA)
Referensi :
1. Holvoet P, Lee DH, Steffes M, et al. Association between circulating oxidized lowdensity
lipoprotein and incidence of the metabolic syndrome. JAMA 2008;299:2287-93
2. Hughes
S.
Oxidized LDL Associated with Metabolic Syndrome.http://www.medscape.com/
viewarticle/574827?src=mpnews&spon=2&uac=117092CG
·
·
Komponen sindroma metabolik OR tertinggi vs terendah quintile (95% CI)
Obesitas abdomen
2.1 (1.2 - 3.6)
Glukosa puasa tinggi
2.4 (1.5 - 3.8)
Trigliserida tinggi
2.1 (1.1 - 4.0)
·
Quintile of oxidized LDL
OR (95% confidence interval [CI])
1 (<55.4 U/L)
1
2 (55.4 - 69.1 U/L)
2.1 (1.1 - 3.8)
3 (69.2 - 81.2 U/L)
2.4 (1.3 - 4.3)
4 (81.3 - 97.3 U/L)
2.8 (1.5 - 5.1)
5 (>97.4 U/L)
3.5 (1.9 - 6.6)
CARDIA:
OxLDL dan Sindrom Metabolik
Dalam sebuah penelitian diketahui bahwa konsentrasi OxLDL (oxidized low-density lipoprotein
(LDL)-cholesterol) berkaitan dengan sindrom metabolik. Penelitian tersebut dipimpin oleh dr. Paul
Holvoet dari Katholieke Universiteit Leuven, Belgia, dipublikasikan dalam JAMA edisi Mei 2008.
Sedangkan penulis senior, dr. David Jacobs dari University of Minnesota, Minneapolis mengomen-
tari bahwa hasil penelitian ini merupakan bukti lain bahwa oxLDL merusak dan merupakan risiko
penyakit jantung di kemudian hari, walaupun pada pasien yang masih muda dan sehat.