background image
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
87
Efektifi tas Penggunaan Meal Replacement
Pada Pengaturan Diet Pasien Obesitas
Dalam Memperbaiki Komposisi Tubuh
Dan Faktor Risiko Sindroma Metabolik
Johf!Qfsnbeij-!!Tbnvfm!Pfupsp-!!Gjbtuvuj!Xjukbltpop
Efqbsufnfo!Jmnv!Hj{j!Lmjojl-!!Gblvmubt!Lfeplufsbo!Vojwfstjubt!Joepoftjb-!!Kblbsub!Joepoftjb
BCTUSBL
Mbubs!cfmblboh : Obesitas saat ini merupakan masalah yang sangat serius dan timbul sebagai suatu ancaman
kesehatan di seluruh belahan dunia. Penanganan obesitas sangat penting untuk mencegah terjadinya gangguan
metabolik kronik akibat kegemukan. Pemberian terapi diet pada obesitas bertujuan untuk mengurangi asupan
energi dan meningkatkan pengeluaran sehingga tercapai berat badan yang ideal.
Uvkvbo : Untuk mengetahui apakah penggunaan
meal replacement
dalam program penurunan berat badan akan
memberikan hasil yang lebih baik dalam memperbaiki komposisi tubuh dan faktor risiko sindroma metabolik
dibandingkan dengan makanan biasa rendah kalori.
Eftbjo : Penelitian
randomized controlled trial, pre-post test controlled group design
dilakukan untuk mendapat-
kan data mengenai pengaruh pemberian meal replacement (pengganti makan) yang diberikan pada kelompok
subyek obesitas terhadap komposisi tubuh, profil lipid, gula darah dan kadar antioksidan dibandingkan dengan
kelompok kontrol yang memperoleh diet makanan biasa dengan kalori terkontrol.
Ibtjm!ebo!qfncbibtbo : Setelah masa intervensi selama delapan minggu, terjadi perubahan yang berbeda an-
tara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Lingkar perut menurun 5,4±5,0 cm pada kontrol (n=12) dan
menurun 5,8±6,1 cm pada kelompok perlakuan (n=11). Tekanan sistolik naik 2,5±18,6 mmHg pada kontrol dan
turun 3,1±7,0 mmHg pada kelompok perlakuan. Tekanan diastolik turun 0,8±7,9 mmHg pada kontrol dan turun
2,5±5,3 mmHg pada kelompok perlakuan. Gula darah puasa turun 25,2±19,8 mg/dL pada kontrol dan turun
21,3±10,4 mg/dL pada kelompok perlakuan. Kadar trigliserida turun 37,6±64,1 mg/dL pada kontrol dan turun
60,2±70,0 mg/dL pada kelompok perlakuan. Kadar kolesterol HDL turun 1,4±7,1 mg/dL pada kontrol, sedang-
kan pada kelompok perlakuan naik 1,2±7,0 mg/dL.
Tjnqvmbo : Aktivitas paling banyak dan total asupan paling sedikit terjadi pada kelompok kontrol sehingga penu-
runan massa lemak dan masa otot terjadi paling besar. Namun pada kelompok perlakuan, meskipun jumlah asu-
pan kalori lebih banyak dan aktivitas lebih sedikit, tetap terjadi penurunan massa lemak tubuh dan bahkan terjadi
peningkatan massa otot. Dalam hal faktor risiko sindroma metabolik, terjadi perubahan yang lebih baik pada
kelompok perlakuan dibanding kontrol.
Kata kunci: Meal replacement, obesitas, pengaturan diet, sindroma metabolik.
Hasil Penelitian
MBUBS!CFMBLBOH
Penimbunan jaringan lemak tubuh yang berlebihan,
atau yang lazim disebut dengan obesitas atau kegemu-
kan, saat ini merupakan masalah yang sangat serius
dan timbul sebagai suatu ancaman kesehatan di selu-
ruh belahan dunia. Penimbunan ini disebabkan karena
ketidakseimbangan antara asupan energi dengan jum-
lah energi yang dikeluarkan.
1
Di Indonesia meskipun
prevalensinya masih relatif rendah, yaitu 2,5% pada
pria dan 5,9% pada wanita, namun sudah mulai menun-
jukkan tanda-tanda untuk menjadi masalah kesehatan
masyarakat. Hal ini mengacu pada hasil penelitian di
Jakarta yang menunjukkan peningkatan prevalensi obe-
sitas pada wanita di tahun 1982 sebesar 17,1% men-
jadi 24,1% di tahun 1992-1993, sedangkan pada pria
4,2% (tahun 1982) menjadi 10,9% (tahun 1993).
2
Usaha untuk menurunkan berat badan sebesar 5-
10% dapat bermanfaat untuk mencegah terjadinya
gangguan metabolik kronik akibat kegemukan, antara
lain berupa penurunan tekanan darah, perbaikan profil
lemak darah, perbaikan toleransi glukosa dan kecen-
derungan perbaikan trombosis.
2
Pemberian terapi
diet pada obesitas bertujuan untuk mengurangi asu-
pan energi dan meningkatkan pengeluaran sehingga
tercapai berat badan yang ideal.
Anjuran diet bagi penderita obesitas adalah diet den-
gan komposisi lemak yang lebih rendah yaitu <30%
background image
88
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
dari total kalori, karbohidrat >55% dari total kalori,
pemberian protein yang cukup antara 10-15% dari
total kalori, serat 25-30 gr/hari dan konsumsi alkohol
yang rendah. Pada orang yang mengalami obesitas,
dianjurkan untuk dapat mengurangi asupan makannya
sebanyak 200-300 kkal/hari, dengan standar diet
sekitar 1000-1200 kkal/hari.
3
Pengaturan diet akan berhasil dengan baik jika pola
makan dapat dipertahankan dan dapat dilaksanakan
dalam jangka panjang. Penggunaan pengganti makan
(
meal replacement
/MR) yang memiliki jumlah kalori
dan komposisi yang pasti sebagai pengganti makan kini
banyak ditawarkan sebagai alternatif pola pengaturan
diet agar dapat dilakukan dalam jangka panjang dan
dapat dipertahankan. Oleh karena itu, penelitian ini
dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah peng-
gunaan meal replacement dalam program penurunan
berat badan akan memberikan hasil yang lebih efisien
dibandingkan dengan makanan biasa rendah kalori.
EFTBJO!QFOFMJUJBO
Penelitian
randomized controlled trial, pre-post test
controlled group
design dilakukan untuk mendapatkan
data mengenai pengaruh pemberian meal replacement
(pengganti makan) yang diberikan pada kelompok sub-
yek obesitas terhadap komposisi tubuh, profil lipid, gula
darah. Penelitian ini dilakukan di Surabaya dan tempat
pengambilan data dilakukan di PT. Unilever Indonesia-
Surabaya mulai pada bulan Juli-September 2006.
Penelitian ini dilakukan pada 23 subyek obesitas yang
dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang
mendapat MR dan kelompok kontrol. Kriteria inklusi
adalah karyawan atau istri karyawan berusia 35-55 ta-
hun dengan obesitas (indeks massa tubuh/IMT >27) di
PT. Unilever Indonesia-Surabaya tahun 2006 dan tidak
ada riwayat penyakit metabolik, yaitu gagal ginjal kronik,
gangguan fungsi hati, diabetes mellitus dan sindroma
nefrotik. Kriteria eksklusi adalah subyek-subyek yang ti-
dak bersedia berpartisipasi dalam penelitian, mengkon-
sumsi obat yang mempengaruhi profil lipid, obat penu-
run berat badan, obat penambah hormon, obat diuretik,
subyek adalah vegetarian dan pada subyek wanita yang
berencana hamil, sedang hamil atau sedang menyusui.
Teknik pengambilan sampel menggunakan metode con-
venience sampling, yaitu bergantung pada jumlah sub-
yek yang dilibatkan dalam penelitian ini.
Masing-masing subyek menjalani program penelitian
selama 8 minggu, dengan rincian: dilakukan wawan-
cara data demografi, kuesioner data pola hidup,
pemeriksaan antropometri (berat badan/BB, tinggi
badan/ TB, lingkar pinggang, dan
body fat analysis
/
BFA), asupan gizi (
food recall, food frequency question-
naire
/FFQ), pemeriksaan profil lipid dan gula darah,
kuesioner pola hidup dan kuesioner aktivitas fisik pada
hari pertama minggu pertama, dilanjutkan perlakuan
selama 4 minggu. Pada hari pertama minggu keem-
pat dilakukan pemeriksaan antropometri, kuesioner
pola hidup, asupan gizi (
food recall
2x24 jam), kemu-
dian perlakuan yang sama dilanjutkan kembali pada
masing-masing kelompok sampai minggu ke delapan.
Pada akhir penelitian dilakuan pengisian kuesioner
data pola hidup, pemeriksaan antropometri (BB, TB,
Lingkar Pinggang, dan BFA), asupan gizi (
food recall
,
FFQ), pemeriksaan profil lipid dan gula darah, kuesio-
ner pola hidup serta kuesioner aktivitas fisik.
Perlakuan dibedakan pada kedua kelompok, yaitu ke-
lompok kontrol (kelompok A; n=12) mendapat pro-
gram diet makanan biasa dengan kalori terkontrol
1200-1500 kkal, dengan 3 kali makan tanpa kuda-
pan. Sedangkan kelompok yang mendapat MR diet
(kelompok B; n=11) diberikan dalam bentuk kombinasi
makanan biasa dan meal replacement 1200-1500
kkal, terdiri dari 3 kali makan tanpa kudapan dengan
aturan makan pagi (300 kkal) berupa MR 200 kkal
+ apel/pir/jambu/jeruk 100 kkal (pilih salah satu);
makan siang (500 kkal) berupa makan besar low fat;
dan makan malam (400 kkal) berupa MR 200 kkal +
sayur 100 kkal + buah 100 kkal.
Data hasil penelitian diolah dengan menggunakan pro-
gram SPSS version 12.00, sedangkan analisis data dilaku-
kan dengan menggunakan uji statistik parametrik Annova
dan interpretasi data dan hubungan antara variabel-varia-
bel yang telah ditentukan disimpulkan secara deskriptif.
Masing-masing subyek penelitian telah menandatan-
gani informed consent dan telah diberi penjelasan
mengenai tujuan dan cara penelitian serta diberi jami-
nan kerahasiaan terhadap data yang diperoleh.
IBTJM!EBO!QFNCBIBTBO
Secara umum, tidak ada perbedaan bermakna
(p>0,05) pada karakteristik subyek penelitian, seperti
yang terlihat pada tabel 1 dibawah ini.
Rerata skor pola aktivitas subyek sebelum perlakuan
adalah antara 5,9 ­ 6,8 dengan skor terendah sebe-
sar 4,5 dan skor tertinggi 7,7. Skor <6,2 dikategorikan
sebagai aktivitas rendah dan skor >7,1 dikategorikan
sebagai aktivitas tinggi.
Perubahan komposisi tubuh seseorang, baik pria mau-
pun wanita, dipengaruhi oleh banyak faktor seperti fak-
tor usia, penurunan aktivitas atau kondisi menopause
background image
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
89
dan penggunaan estrogen pada wanita, sedangkan
tingkat aktivitas fisik dapat mempengaruhi status
massa bebas lemak seseorang.
4
Dengan tidak adanya
perbedaan karakteristik usia dan pola aktivitas subyek
pada awal penelitian, maka dapat dikatakan komposisi
tubuh subyek penelitian menjadi homogen.
Ubcfm!2/!Tfcbsbo!vnvn!lbsblufsjtujl!tvczfl!qfofmjujbo!qsb!qfofmjujbo/
*Mean ± standar deviasi (sd)
# Tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok A dan B (p>0,05)
Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa
Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal
replacement
Secara umum, tidak ada perbedaan bermakna
(p>0,05) pada asupan zat gizi makro, ukuran antro-
pometrik dan hasil pengukuran BFA antar kelompok
perlakuan sebelum penelitian, seperti terlihat pada ta-
bel 2 di bawah ini.
Ubcfm!3/!Tfcbsbo!lbsblufsjtujl!tubuvt!hj{j!tvczfl!cfsebtbslbo!btvqbo!{bu!
hj{j!nblsp-!!vlvsbo!bouspqpnfusj!ebo!cpez!gbu!bobmztjt!)CGB*!qsb!qfofmjujbo/
*Mean ± standar deviasi (sd)
#Tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok A dan B (p>0,05)
Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa
Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal
replacement
Rerata asupan zat gizi makro (kalori, karbohidrat,
lemak dan protein) subyek penelitian pra perlakuan
adalah 900­1200 kkal/hari dengan asupan minimal
709 kkal dan maksimal 1487 kkal, dengan rincian
asupan makronutrien dalam tabel 3 berikut.
Ubcfm!4/!Sfsbub!btvqbo!{bu!hj{j!nblsp!tvczfl!qfofmjujbo!qsb!qfofmjujbo/
Bila dilihat dari laporan asupan dalam penelitian ini,
tampak konsumsi rata-rata total asupan harian sub-
yek penelitian sangat rendah, padahal orang dewasa
yang mengkonsumsi rata-rata kalori 800-1200 kkal/
hari tidak akan mengalami berat badan lebih. Hal ini
membuktikan adanya kesulitan dalam estimasi asu-
pan kalori pada suatu penelitian obesitas akan ber-
pengaruh pada analisis diet makronutrien subyek
penelitian.
5
Pada penelitian ini cenderung terdapat flat
slope syndrome, yaitu subyek menyebutkan lebih ban-
yak makanan yang sedikit dikonsumsi dan lebih sedikit
makanan yang banyak dikonsumsi,
6
atau memang
mereka tidak mengetahui jenis makanan tinggi kalori
sehingga kemungkinan total asupan hariannya jauh
lebih tinggi dibandingkan yang dilaporkan.
Rerata IMT subyek adalah 31 kg/m
2
, dengan IMT ter-
endah adalah 28,7 kg/m
2
dan tertinggi adalah 35,7
kg/m
2
. Berdasarkan hasil pengukuran antropometrik,
maka menurut kriteria Asia Pasifik (tahun 2000), IMT
subyek penelitian tergolong dalam Obesitas I dan II.
Menurut
Kriteria Sindroma Metabolik
menurut Asia Pa-
sifik (tahun 2000), seorang subyek tergolong memiliki
risiko sindroma metabolik bila memiliki kriteria lingkar
pinggang untuk pria >90 cm dan wanita >80 cm. Pene-
litian ini tidak dibedakan menurut gender, namun bila
melihat rata-rata lingkar pinggang, tampaknya subyek
penelitian berisiko menderita komorbiditas penyakit pe-
nyerta sindroma metabolik dan abdominal obesity .
Dari hasil analisis BFA subyek penelitian sebelum
perlakuan diperoleh rerata massa lemak tubuh total
adalah 34, rerata massa bebas lemak adalah antara
27-28, dan rerata massa otot berkisar antara 51-53.
Pada kasus over weight dan obesitas, terjadi kompo-
sisi tubuh yang tidak seimbang dimana massa lemak
tubuh berlebihan. Katch & McArdle menyebutkan
massa lemak tubuh normal pada pria dewasa 19.9%
dan wanita dewasa 25.2%,
7
sedangkan pada peneli-
tian ini didapatkan massa lemak tubuh subyek >30%.
Dari hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium tidak
didapatkan perbedaan bermakna (p>0,05) antara
tekanan sistolik, tekanan diastolik, profil lipid dan gula
darah puasa subyek pra perlakuan seperti terlihat di
tabel 4 berikut.
Rerata kadar kolesterol total subyek penelitian sebe-
Lbsblufsjtujl!Efnphsbgjl
Jumlah subjek
Usia (tahun)*
#
Jenis kelamin:
- Laki-laki
- Perempuan
Skor pola aktivitas fisik*
#
Tingkat aktivitas fisik: n (%)
- Rendah
- Cukup
- Tinggi
Lfmpnqpl!B
12
47,6 + 4,5
9
3
5,9 + 1,4
8 (66,7%)
2 (16,7%)
2 (16,7%)
Lfmpnqpl!C
11
44,4 + 7,1
9
2
6,8 + 0,9
2 (18,2%)
6 (54,5%)
3 (27,3%)
Lbsblufsjtujl!tubuvt!hj{j
Jumlah subjek
Asupan zat gizi makanan:*
#
- Kalori (kkal)
- Karbohidrat (g)
- Lemak (g)
- Protein (g)
Ukuran antropometik:*
#
- Tinggi badan (cm)
- Berat badan (kg)
- Indeks massa tubuh (kg/m
2
)
- Lingkar perut (cm)
Hasik BFA:*
#
- Massa lemak tubuh
- Massa bebas lemak
- Massa otot
Lfmpnqpl!B
12
1237,1 + 250,7
167,2 + 40,3
32,2 + 19,7
39,8 + 7,7
162,8 + 5,7
82,7 + 8,3
31,2 + 2,5
99,7 + 9,3
34,9 + 5,1
28,8 + 5,1
53,8 + 7,0
Lfmpnqpl!C
11
873,3 + 164,1
148,9 + 28,2
15,3 + 7,9
35,0 + 8,5
160,7 + 7,3
80,7 + 7,2
31,2 + 4,5
99,0 + 6,6
34,0 + 4,8
27,8 + 6,9
51,0 + 5,3
Kfojt
nblspovusjfo
Karbohidrat
Lemak
Protein
Sfsbub!btvqbo
ibsjbo!)h*
137 - 167
15 - 32
35 - 40
Sfsbub!btvqbo
ufsfoebi!)h*
89
4
19
Sfsbub!btvqbo
ufsujohhj!)h*
238
78
60
background image
90
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
lum perlakuan adalah antara 224-230 mg/dL, rerata
kadar kolesterol-LDL subyek penelitian adalah antara
123-128 mg/dL, sedangkan rerata kadar koleste-
rol-HDL-nya adalah antara 46-50 mg/dL, dan rerata
kadar trigliserida darah subyek adalah antara 144,3-
197,4 mg/dL. Rerata kadar gula darah subyek adalah
antara 126-132 mg/dL.
Ubcfm! 5/! Tfcbsbo! tvczfl! qfofmjujbo! cfsebtbslbo! ibtjm! qfnfsjltbbo!
uflbobo!ebsbi!qspgjm!mj qje-!ebo!hvmb!ebsbi!qvbtb!qsb!qfofmjujbo/
*Mean ± standar deviasi (sd)
#Tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok A dan B (p>0,05)
Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa
Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal
replacement
Berdasarkan kriteria sindroma metabolik menurut
NCEP-ATP III,8 sindroma metabolik ditegakkan bila
ditemukan tiga dari lima faktor risiko sebagai berikut:
· Lingkar pinggang : Pria >102 cm dan wanita >88
cm
· Gula darah puasa: > 110 mg/dL
· Tekanan darah: >130/85 mmHg
· Trigliserida: >150 mg/dL
· HDL-C: Pria <40 mg/dL dan wanita <50 mg/dL
Selain itu,
The International Diabetes Federation Con-
sensus
9
menambahkan adanya pengaruh etnik pada
lingkar pinggang yang dijadikan kriteria sindroma me-
tabolik. Untuk orang Indonesia yang tergolong kelom-
pok etnik Asia Selatan, parameter lingkar pinggang un-
tuk sindroma metabolik adalah bagi pria >90 cm dan
wanita >80 cm.
Pada penelitian ini didapatkan hasil penelitian sebagai
berikut:
· Tekanan darah subyek penelitian rata-rata berada
dalam batas normal.
· Rata-rata profil lipid subyek penelitian :
v Trigliserida berada di atas normal
v HDL dalam batas normal
· Lingkar pinggang berada di atas batas normal
Dikatakan bahwa parameter lingkar pinggang dan ka-
dar trigliserida 67,5-80% sudah dapat menunjukkan
adanya sindroma metabolik.
10, 11
Jadi walaupun hasil penelitian ini tidak dibedakan
menurut gender, namun tampaknya subyek penelitian
berisiko menderita komorbiditas penyakit penyerta
sindroma metabolik dan abdominal obesity .
Pasca perlakuan, secara umum terjadi perbedaan ber-
makna pada perubahan asupan zat gizi makro (p<0,05)
dan perubahan kadar kolesterol-LDL (p=0,039) subyek
antar kelompok. Selain itu terjadi perubahan beberapa pa-
rameter antropometri pra dan pasca penelitian (tabel 5)
yang tidak berbeda bermakna antar kelompok (p>0,05),
antara lain terjadinya penurunan BB pada kedua kelom-
pok penelitian sekitar 5 kg selama 8 minggu atau rata-rata
0,5 kg/minggu. Demikian juga terjadi penurunan lingkar
pinggang. Penurunan BB terjadi karena penurunan jumlah
asupan kalori dan juga peningkatan aktifitas fisik.
Ubcfm!6/!Qfohbsvi!joufswfotj!hj{j!zboh!cfscfeb!tfmbnb!efmbqbo!njohhv!
ufsibebq!cfcfsbqb!qbsbnfufs!bouspqpnfusj/
*Uji statistik ANOVA
#Uji statistik Kruskal-Wallis
¤ Tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok A dan B (p>0,05)
Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa
Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal
replacement
Penelitian ini membuktikan bahwa diet biasa dalam
waktu singkat ternyata dapat berefek baik terhadap
penurunan BB, sedangkan diet dengan menggunakan
meal replacement dalam waktu singkat juga dapat
menurunkan BB namun lebih sedikit efeknya diban-
dingkan dengan kelompok kontrol. Mungkin pengaruh
tersebut baru akan terlihat lebih jelas bila dilakukan
penelitian dalam jangka waktu yang lebih lama. Diet ke-
tat yang cukup lama membutuhkan motivasi yang tinggi
dan kemauan yang keras. Kebanyakan penderita obesi-
tas cenderung bosan setelah beberapa waktu berdiet.
Pada saat tersebut, mungkin diperlukan suplementasi
seperti meal replacement yang akan memudahkan sub-
yek untuk berdiet dan menentukan menu sehari-hari.
Penelitian dengan menggunakan meal replacement
dalam jangka waktu satu tahun,
12
dua tahun,
13
em-
pat tahun,
14
dan lima tahun
15
membuktikan bahwa
penggunaan meal replacement jangka panjang adalah
aman dan dapat mempertahankan target BB yang di-
harapkan dalam jangka waktu lama. Selain itu, meal
replacement efektif digunakan pada subyek dewasa,
selain untuk menurunkan BB juga dalam mengatasi
risiko sindroma metabolik.
16
Lbsblufsjtujl!tvckfl
Jumlah subjek
Tekanan darak sistolik*
#
Tekanan darah diastolik*
#
Lipid darah:*
#
- Kolesterol total (mg/dL)
- Kolesterol-LDL (mg/dL)
- Kolesterol-HDL (mg/dL)
- Trigliserida (mg/dL)
Gula darah 2 jam
post propandial (mg/dL)*
#
Lfmpnqpl!B
12
121,7 + 13,5
81,7 + 8,3
230,7 + 55,4
128,3 + 39,0
50,0 + 7,4
144,3 + 77,2
126,1 + 22,1
Lfmpnqpl!C
11
117,7 + 6,8
79,1 + 8,0
224,1 + 34,1
123,4 + 22,5
46,5 + 7,5
197,4 + 118,2
132,7 + 45,1
Qbsbnfufs
Jumlah subjek
Perubahan BB*
#
Perubahan IMT (kg/m
2
)*
#
Perubahan lingkar perut (cm)*
#
Lfmpnqpl!B
12
-5,6 + 2,2
-2,1 + 0,8
-5,4 + 5,0
Lfmpnqpl!C
11
-5,1 + 3,8
-2,1 + 1,6
-5,8 + 6,1
background image
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
91
Ubcfm!7/!Qfsvcbibo!uflbobo!ebsbi!qbtdb!qfofmjujbo/!
*Uji statistik ANOVA
#Uji statistik Kruskal-Wallis
¤ Tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok A dan B (p>0,05)
Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa
Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal
replacement
Tekanan darah akan membaik dengan penurunan BB.
Hasil pasca penelitian (tabel 6) memperlihatkan teka-
nan darah rata-rata mengalami penurunan yang tidak
berbeda bermakna antara kedua kelompok penelitian
(p>0,05), walaupun ada beberapa subyek yang me-
ngalami peningkatan meski peningkatan tersebut ma-
sih dalam batas normal.
Ubcfm!8/!Qfsvcbibo!btvqbo!lbmpsj!ebo!nblspovusjfo!qbtdb!qfofmjujbo/
*Uji statistik ANOVA
#Uji statistik Kruskal-Wallis
Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa
Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal
replacement
Pada penelitian ini, tampak terjadi penurunan total
asupan, walaupun jumlahnya pada rata-rata kelom-
pok kurang dari 150 kalori, bahkan sebaliknya pada
kelompok B terjadi peningkatan asupan kalori (tabel
7). Jumlah penurunan ini memang tampak sedikit bila
dibandingkan dengan total asupan awal yang sudah
rendah, namun bila dilihat penurunan BB sebesar
0.5 kg/minggu, sedikitnya sudah terjadi penurunan
asupan sebesar 500 kalori/hari selama satu ming-
gu.
17
Kesenjangan ini diduga terjadi karena adanya
kesulitan subyek penelitian dalam mencatat jenis dan
jumlah asupan hariannya. Hal inilah yang menyebab-
kan terjadinya inkonsistensi pencatatan data asupan
makanan dalam penelitian ini sehingga sulit untuk di-
berikan penilaian atas data yang ada.
Perubahan komposisi tubuh dipengaruhi oleh total
asupan, jenis makanan dan peningkatan aktivitas fisik.
Terlihat bahwa terjadi penurunan massa lemak tubuh
pada kedua kelompok sesuai dengan penurunan jumlah
total asupan (tabel 8). Asupan protein pada kelompok
perlakuan tampak lebih tinggi dibandingkan kontrol dan
ini diikuti dengan peningkatan massa otot yang lebih
tinggi pada kelompok perlakuan dibandingkan kontrol.
Pada suatu penelitian multietnis yang meliputi etnis
Asia Selatan, Cina, Aborigin Kanada dan Eropa, terbukti
terdapat hubungan berbanding terbalik antara abdomi-
nal obesity dengan asupan protein. Dengan mengganti
sebagian dari asupan karbohidrat dengan protein,
dapat menurunkan abdominal obesity pada populasi
tersebut.
18
Faktor usia sangat mempengaruhi pemben-
tukan otot. Pada orang lanjut usia, kecepatan sintesis
protein otot basal umumnya menurun, sedangkan de-
gradasi protein otot cenderung meningkat. Di lain pihak,
keadaan ini diperburuk dengan rendahnya efek stimu-
lasi asupan protein pada sintesis protein otot. Hal ini
mungkin disebabkan karena menurunnya kemampuan
anabolik pada orang lanjut usia. Pada orang berusia
muda, kondisi ini tidak ditemui dikarenakan kemampuan
anabolik yang masih baik. Selain itu, aktivitas fisik juga
dapat secara efektif merangsang pembentukan otot.
Oleh karena itu, kombinasi antara asupan protein yang
adekuat dan aktivitas fisik yang memadai akan merang-
sang pembentukan otot yang optimal.
19
Ubcfm!9/!Qfsvcbibo!lpnqptjtj!uvcvi-!btvqbo!qspufjo!ebo!blujwjubt!gjtjl!
qbtdb!qfofmjujbo.
*Uji statistik ANOVA
# Uji statistik Kruskal-Wallis
Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa
Kelompok-B mendapat diet makanan biasa dan meal
replacement
Untuk perubahan kadar kolesterol-LDL, terjadi perubahan
kadar kolesterol-LDL pada kelompok A yang secara statis-
tik berbeda bermakna bila dibandingkan dengan peruba-
han kadar kolesterol-LDL pada kelompok B (p=0,008).
Pemeriksaan profil lipid merupakan pemeriksaan yang
bersifat krusial karena membutuhkan waktu puasa lebih
lama, sementara kepatuhan subyek dalam melakukan
puasa selama 14 jam masih diragukan karena sebagian
besar subyek harus masuk bekerja pada pagi hari. Koles-
terol-LDL kelompok A mengalami penurunan, sedangkan
kolesterol-LDL kelompok B mengalami peningkatan. Hal
ini dapat disebabkan karena total asupan lemak pada
kelompok B lebih tinggi dibandingkan kelompok A. Pada
penelitian ini, semua kelompok penelitian mengalami
penurunan kolesterol total. Hal tersebut menggambar-
kan adanya penurunan asupan kalori total dibandingkan
asupan kalori sebelum penelitian. Kolesterol-HDL pada
kelompok B mengalami peningkatan, walaupun peruba-
han aktifitas fisiknya tidak lebih baik dibandingkan kelom-
pok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan
tersebut dapat disebabkan karena perbaikan pola asu-
pan lemak yang didapat dari meal replacement. Terjadi
penurunan kadar trigliserida pada kelompok A dan B, di
Qbsbnfufs
Perubahan tekanan sistolik*
#
Perubahan tekanan diastolik*
#
Lfmpnqpl!B
2,5 + 18,6
-0,8 + 7,9
Lfmpnqpl!C
-3,1 + 7,0
-2,5 + 5,3
Qbsbnfufs
Perubahan asupan kalori
#
Perubahan asupan karbohidrat
#
Perubahan asupan lemak
#
Perubahan asupan protein
#
Lfmpnqpl!B
-130,9 + 246,2
-18,4 + 34,3
-5,3 + 12,7
-2,4 + 10,9
Lfmpnqpl!C
156,1 + 283,6
-6,4 + 26,8
13,7 + 14,4
9,6 + 15,6
q
p=0,000
p=0,000
p=0,000
p=0,006
Qbsbnfufs
Perubahan massa lemak tubuh total
#
Perubahan massa bebas lemak
#
Perubahan massa otot
#
Perubahan asupan protein
#
Perubahan aktifitas fisik
#
q
p>0,05
p>0,05
p>0,05
p=0,06
p>0,05
Lfmpnqpl!B
-2,9 + 2,1
-4,3 + 1,9
-1,3 + 1,7
-2,4 + 10,9
1,5 + 1,5
Lfmpnqpl!C
-3,8 + 4,3
-4,9 + 6,3
1,1 + 5,1
9,6 + 15,6
0,2 + 1,0
background image
92
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
mana penurunan yang lebih banyak terjadi adalah pada
kelompok B. Hal ini dapat disebabkan karena terjadinya
perbaikan pola asupan lemak dan karbohidrat pada ke-
lompok ini. Kedua kelompok mengalami penurunan ka-
dar gula darah karena perbaikan pola makan (total kalori,
asupan karbohidrat) dan pola aktivitas fisik (tabel 9).
Ubcfm!:/!Qfsvcbibo!qspgjm!mfnbl!ebo!hvmb!ebsbi!tvczfl!qfofmjujbo!qbtdb!
qfofmjujbo/
*Uji statistik ANOVA
#Uji statistik Kruskal-Wallis
Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa
Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal
replacement
Terjadi perbaikan faktor risiko sindroma metabolik
setelah penelitian pada kedua kelompok. Pada ke-
lompok perlakuan terdapat perubahan lingkar perut,
tekanan darah, kadar trigliserida dan kolesterol-HDL
yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol, walau-
pun perubahan ini tidak berbeda bermakna (p>0,05).
Ubcfm!21/!Qfohbsvi!joufswfotj!hj{j!zboh!cfscfeb!tfmbnb!efmbqbo!njoh.
hv!ufsibebq!cfscbhbj!gblups!tjoespnb!nfubcpmjl!)TN*/
*Uji statistik ANOVA
#Uji statistik Kruskal-Wallis
¤Tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok A dan B (p>0,05)
Kelompok-A, mendapat diet makanan biasa
Kelompok-B, mendapat diet makanan biasa dan meal
replacement
LFTJNQVMBO
Kelompok kontrol adalah kelompok dengan aktivitas
paling banyak dan total asupan paling sedikit sehingga
mengakibatkan penurunan massa lemak dan masa otot
terjadi paling besar pada kelompok ini. Pada kelompok
perlakuan, jumlah asupan kalori dan protein lebih ban-
yak sedangkan aktivitas fisik lebih sedikit, namun tetap
terjadi penurunan massa lemak tubuh dan bahkan ter-
jadi peningkatan massa otot pada kelompok perlakuan.
Hal ini merupakan kelemahan metode record karena
kemungkinan terjadinya
flat slope syndrome
.
Terjadi perubahan yang cenderung lebih baik pada ke-
lompok perlakuan dibandingkan kontrol dalam hal fak-
tor risiko sindroma metabolik, walaupun tidak berbeda
bermakna. Hal ini kemungkinan disebabkan karena
waktu penelitian yang hanya delapan minggu, karena
itu diperlukan penelitian jangka panjang untuk mem-
buktikan apakah penggunaan meal replacement dapat
berefek menguntungkan pada penderita obesitas
dalam mencegah faktor risiko sindroma metabolik.
VDBQBO!UFSJNB!LBTJI
Terima kasih kepada PT Sanghiang Perkasa (
Kalbe
Nutritionals
) atas kesediaannya memberikan formu-
la meal replacement (
Entrasol Diet Nutrition
) untuk
membantu pelaksanaan penelitian ini.
EBGUBS!QVTUBLB
1. Bray GA. Handbook of Obesity. Clinical Applications. 2nd ed.
2. Waspadji S. Diabetes Mellitus, Penyakit Kronik dan Pencegahannya.
Dalam: Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Editor: Soegondo
S, Subekti I. Edisi 4, 2004, hal169-179.
3. Wallace JP. Obesity. In: ACSM's Exercise Management for Persons with
Chronic Diseases and Disabilities. Human Kinetics, 1997, p 106-111.
4. Guo SS, Zeller C, Chumlea WC, Sievobel RM. Aging, body composition and life-
style the Fels longitudinal study. 1999. Am J. Clin Nutr. Vol 70, no 3, 405-411.
5. Voss S, Kroke A, Grobusch KK, Boeing H. Is macronutrient composition
of dietary intake data underreporting? Results from the EPIC-Potsdam
study, EJCN 1998, vol 52, no 2, p 119-126).
6. Gibson RS. Nutritional assessment methods. Dalam: Principle of Nutrition
Assessment. 2nd ed. Oxford University Press, New York, 2005, hal 5-7.
7. Katch FI, Mc Ardle WD. In: Introduction to Nutrition, Exercise, and
Health, Evaluation and Management of Obesity, Lea and Febiger, Phila-
delphia, 1993, p 254.
8. Johnson JS, Johnson BD, Allison T, Bailey KR, Schwarz GL, Turner ST. Cor-
respondence between the Adult Treatment Panel III Criteria for Metabolic
Syndrome and Insulin Resistance, 2006, Diabetes Care 29, p 668-672.
9. The International Diabetes Federation consensus definition of the met-
abolic syndrome. Embargo: Thurs, 14th April 2005.
10. Depres J, Pascot A, Lemeiux A, Lemeiux S, Lamrche B, Couilard C,
Bergeron J. Obesity Management: A priority in the primary and sec-
ondary prevention of cardiovascular disease. In Progress in Obesity
Reseach: 9. Madeiros-Neto G, Halpern A, Bouchard C, John Libbey
Eurotext Ltd. 2003, p 29-35.
11. Witjaksono F. Association between metabolic sundrom (ATP III) and
hypertriglyceride mid waist in male employee. 3rd National Obesity
Symposium (NOS III). 2004.
12. Rothacker DQ, Staniszewski BA, Ellis PK. Liquid meal replacement vs traditional
food. Journal of the American Dietetic Association 2001, 101(3):345-347.
13. Ashley JM, St Jeor ST, Perumean-Chaney S, Schrage J, Bovee V
(2001). Meal replacements in weight intervention. Obesity Research
9(Suppl 4) : S312-20.
14. Flechtner-Mors M, Ditschuneit HH, Johnson TD, Suchard MA, Adler G.
Metabolic and weight loss effects of long-term dietary intervention in
obese patients: four-year results. Obes Res. 2000; 8 : 399-402.
15. Rothacker DQ. Five-Year Self Management of Weight Using Meal Re-
placements: Comparison With Matched Controls in Rural Wisconsin.
Nutrition 2000, 16, p 344-348.
16. Noakes M, Foster PR, Keogh JB, Clifton PM: Meal replacements are as
effective as structured weight-loss diets for treating obesity in adults with
features of metabolic syndrome. J Nutr 2004, 134(8):1894-1899.
17. Jackson D, Baltes A, Khushner R. Diets, In: Evalutaion and Manage-
ment of Obesity, Bessesen DH. and Khushner R. eds, Hanley dan Bel-
fus. Inc, Phyladelphia, 2002, p 41-46.
18. Merchant AT, Anand SS, Vuksan V, Jacobs R., Davis B, Teo K, Yusuf S.
For the SHARE and SHARE-AP Investigators. Protein intake is inversely
associated with abdominal obesity in a multi-ethnic population. J. Nutr.
135: 1196-1201, 2005.
19. Koopman R, Verdijk L, Manders RJF, Gijsen AP, Gorselink M, Pijpers E,
Wagenmakers AJM, and van Loon LJC. Co-ingestion of protein and
leucine stimulates muscle protein synthesis rates to the same extent
in young and elderly lean men. Am.J.Clin.Nutr. 2006; 84:623-32.
Qbsbnfufs
Perubahan kadar kolesterol total
#
(mg/dL)
Perubahan kadar kolesterol-LDL
#
(mg/dL)
Perubahan kadar kolesterol-HDL
#
(mg/dL)
Perubahan kadar trigliserida
#
(mg/dL)
Perubahan kadar gula darah puasa
#
(mg/dL)
q
p>0,05
p=0,008
p>0,05
p>0,05
p>0,05
Lfmpnqpl!B
-18,2 + 51,7
-20,3 + 41,1
-1,4 + 7,1
-37,6 + 64,1
-25,5 + 19,8
Lfmpnqpl!C
-7,2 + 32,9
13,0 + 16,4
1,2 + 7,0
-60,2 + 70,0
-21,3 + 10,4
Gblups!Sftjlp!TN
Jumlah subjek
Perubahan lingkar perut (cm)*
¤
Perubahan tekanan sistolik*
¤
(mmHg)
Perubahan tekanan diastolik*
¤
(mmHg)
Perubahan kadar gula darah puasa*
¤
(mg/dL)
Perubahan kadar trigloserida*
¤
(mg/dL)
Perubahan kadar kolesterol-HDL*
¤
(mg/dL)
Lfmpnqpl!C
11
-5,8 + 6,1
-3,1 + 7,0
-2,5 + 5,3
-21,3 + 10,4
-60,2 + 70,0
1,2 + 7,0
Lfmpnqpl!B
12
-5,4 + 5,0
2,5 + 18,6
-0,8 + 7,9
-25,2 + 19,8
-37,6 + 64,1
-1,4 + 7,1