background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Aspek Klinik dan Farmakoterapi
Anak dengan Gangguan Pemusatan
Perhatian / Hiperaktivitas
Yusuf Alam Romadhon
Dokter PTT di Puskesmas Kartasura II Kab Sukoharjo, Jawa Tengah
ABSTRAK
Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (GPP/H) merupakan suatu sindrom neuro-
psikiatrik yang sering dijumpai dengan onset pada masa anak di tahun-tahun awal sekolah.
Menurut DSM-IV, GPP/H dibagi atas tiga subtipe: (1) subtipe inatensi, (2) subtipe
hiperaktif-kompulsif, (3) kombinasi. Terdapat penurunan gejala sebesar 50% setiap 5 tahun antara
usia 10 hingga 25 tahun, tetapi adanya kondisi psikiatri yang terjadi bersamaan dengan GPP/H
seperti gangguan mood, gangguan perilaku menentang (ODD [oppositional defiant disorder]),
gangguan bipoler dan sindrom Tourrette, dalam suatu penelitian prospektif akan meningkatkan 11
kali menetapnya gejala, 9 kali terjadinya gangguan kepribadian antisosial dan 4 kali lebih tinggi
kejadian gangguan penyalahgunaan obat; prediktor terkuat menetapnya psikopatologi adalah
komorbiditas psikiatrik dan riwayat GPP/H keluarga.
Dalam farmakoterapi GPP/H, psikostimulansia mempunyai tempat yang unik dan utama;
sejauh ini methylphenidate merupakan psikostimulansia yang paling banyak diteliti dan digunakan
karena menunjukkan hasil yang lebih efektif dan efek samping yang minimal dibandingkan obat
jenis yang lain seperti antidepresan dan neuroleptik.
Kata kunci : Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktif, aspek klinik, farmakoterapi.
PENDAHULUAN
Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (GPP/H)
merupakan suatu sindrom neuropsikiatrik yang sering dijumpai
dengan onset usia kanak-kanak, sebagian besar menjadi nyata
(dan menjadi perhatian medik) di tahun-tahun pertama kelas
sekolah
(1)
.
Kondisi ini merupakan suatu gangguan heterogen
dengan etiologi yang tidak diketahui
(1,2)
.
Di Amerika merupa-
kan satu dari problem klinik dan kesehatan masyarakat utama
karena berhubungan dengan morbiditas dan disabilitas
anak-anak, remaja dan dewasa. Pengaruhnya pada masyarakat
adalah dalam hal finansial, stres pada keluarga, pengaruh
negatif pada kegiatan akademik, pekerjaan dan juga ke-
percayaan diri
(2)
.
Data dari penelitian cross-sectional,
retrospektif dan follow-up menunjukkan bahwa anak-anak
dengan GPP/H berisiko menderita gangguan psikiatrik lain
baik di masa kanak-kanak, remaja dan dewasa yang meliputi
perilaku antisosial, penyalahgunaan zat serta gangguan mood
dan kecemasan
(1,2)
.
Keterkaitannya dengan gangguan tersebut
membuatnya menjadi suatu kelompok gangguan yang lebih
kompleks
(3)
. Pengenalan, penilaian (assessment) dan penata-
laksanaan dini dari kondisi-kondisi ini dapat mengarahkan
kembali perkembangan edukasional dan psikososial pada
sebagian besar anak dengan GPP/H
(4)
.
Nama dan nosologi GPP/H telah menjalani sejumlah
perubahan dalam beberapa dekade terakhir. Di tahun 1960-an
dalam DSM-II gejala-gejala motorik yang ditekankan serta
gangguan diberi nama reaksi hiperkinetik dari anak-anak. Di
tahun 1980-an, DSM-III menamai kembali sebagai gangguan
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
32
background image
pemusatan perhatian dan menekankan inatensi sebagai
gambaran inti. Di tahun 1987 dalam DSM-III-R dinamai
kembali dengan gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas
(attention deficit/hyperactivitydisorder[ADHD]). Baik inatensi
maupun hiperaktivitas ditekankan sama pentingnya sebagai
gambaran inti. Dalam DSM-IV dikenal tiga subtipe tergantung
pada gejala yang dominan; subtipe dominan inatensi, subtipe
dominan hiperaktivitas-impulsivitas dan subtipe campuran
(2)
.
PREVALENSI
Penelitian GPP/H di masyarakat memperlihatkan pre-
valensi antara 1,7%-16%, tergantung pada populasi dan
metodologi diagnostik yang dipergunakan (tabel 1)
(1)
.
Dengan menggunakan kriteria DSM IV, bila dibandingkan
dengan versi sebelumnya, maka lebih banyak perempuan yang
didiagnosis subtipe inatensi. Angka prevalensi juga sangat
bervariasi tergantung sampel yang diteliti, pada sampel
sekolah 6,9% (5,5%-8,5%) dibandingkan sampel komunitas
10,3% (8,2%-12,7%)
(4)
.
Pada uji lapangan DSM IV didapatkan kecenderungan
perbedaan usia untuk masing-masing subtipe. Anak dengan
GPP/H subtipe hiperaktif-impulsif rata-rata usianya 5,7 tahun,
subtipe kombinasi rata-rata usianya 8,5 tahun dan subtipe
inatensi rata-rata usianya 9,8 tahun. Penderita GPP/H subtipe
kombinasi dan hiperaktif-impulsif paling bermasalah dengan
perilaku mereka di rumah, sedangkan penderita dengan subtipe
inatensi cenderung lebih bermasalah di bidang akademik dan
secara bermakna lebih sering menggunakan fasilitas-fasilitas
pelayanan di sekolah. Penderita subtipe inatensi menunjukkan
taraf yang lebih rendah dalam hal atensi, kenakalan, agresifitas
dan gejala-gejala gangguan perilaku, tetapi tidak berbeda
dengan subtipe lain dalam hal masalah-masalah sosial,
psikosomatik atau gejala-gejala kecemasan dan depresi
(2)
.
Tabel 1. Penelitian mengenai prevalensi Gangguan Pemusatan Perhatian/
Hiperaktivitas
(1)
.
Tempat
Sumber, tahun
Kriteria #
Prevalensi
Selandia Baru
Anderson dkk., 1987
DSM III
6,7
New York, NY
Cohen, 1988
DSM III
3-6
Ontario
Szatmarl dkk., 1989
DSM III
6,3
Puerto Rico
Bird dkk., 1988
DSM III
9,5-16,1
Pusat kota AS
Newcorn dkk., 1989
DSM III
12,9
Pittsburg, PA
Costelo dkk., 1988
DSM III-R
2,6
Iowa
Lindgren dkk., 1990
DSM III
2,8
Jerman
Baumgnertel dkk, 1995
DSM III§
9,6
London, Inggris
Esser dkk., 1990
DSM III-R
1,7
Mannheim, Jerman
Esser dkk., 1990
DSM III-R
4,2
AS
Pelham dkk., 1992
DSM III-R
2,5-4,0
Tennessee
Wolraich dkk., 1996
DSM III-R
7,3
AS
Shaffer dkk., 1996
DSM III-R
4,1
# DSM III: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 7hird Ed
DSM III-R: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Third
Ed. yang direvisi; DSM IV: Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders, Fourth Ed.
Prevalensi 18,9% menggunakan DSM III-R
Prevalensi 6,1% menggunakan DSM III-R
§ Prevalensi 9,0% subtipe inatensi, 3,9 % subtipe hiperaktif-impulsif, 4,8%
subtipe campuran total 17,8% menggunakan DSM IV; 10,9% menggunakan
DSM III-R
Prevalensi 5,4% subtipe inatensi, 2,4% subtipe hiperaktif-impulsif, 3,6%
subtipe campuran menggunakan DSM IV
DIAGNOSIS GPP/H
Menegakkan diagnosis GPP/H pada anak harus ber-
dasarkan ciri-ciri yang memenuhi kriteria diagnosis (tabel 2).
Sedangkan langkah untuk menegakkan diagnosis dan evaluasi-
nya dapat dilihat pada Gambar 1.
Tabel 2. Kriteria Diagnosis Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktif*
A. Baik : (1) atau (2)
(1). Gangguan Pemusatan Perhatian (Inatensi)
Sekurang-kurangnya ada 6 dari gejala gangguan pemusatan perhatian
ini yang muncul dalam 6 bulan terakhir.
- Tidak mampu memberikan perhatian terhadap hal-hal yang kecil,
sering membuat kesalahan yang sesungguhnya tidak perlu terjadi
saat mengerjakan tugas di sekolah.
- Tidak mampu memusatkan perhatian secara terus-menerus pada
saat menyelesaikan tugas atau bermain.
- Sering tampak seperti tidak memperhatikan.
- Sering tidak dapat mengikuti perintah dan gagal menyelesaikan
tugas sekolah atau tugas lainnya.
- Sering mengalami kesulitan mengatur tugas atau aktivitas lainnya.
- Sering menolak atau tidak menyukai tugas yang memerlukan
perhatian terus-menerus.
- Sering kehilangan barang-barang atau alat yang diperlukan.
- Perhatian mudah teralih oleh rangsangan dari luar.
- Sering lupa menyelesaikan tugas/kegiatan rutin sehari-hari.
(2). Hiperaktivitas dan Impulsivitas
Sekurang-kurangnya ada 6 dari gejala gangguan hiperaktivitas dan
impulsivitas ini yang muncul dalam 6 bulan terakhir
· Hiperaktivitas
- Sering tangan dan kaki tidak bisa diam atau banyak bergerak di
tempat duduk.
- Sering meninggalkan tempat duduk saat mengikuti kegiatan di kelas
atau kegiatan lain yang mengharuskannya tetap duduk.
- Sering berlari-lari atau memanjat-manjat secara berlebihan.
- Tidak dapat mengikuti aktivitas atau bermain dengan tenang dan
santai.
- Selalu bergerak terus seperti digerakkan oleh mesin.
- Sering banyak berbicara.
· Impulsivitas
- Terlalu cepat memberikan jawaban sebelum pertanyaan selesai
didengar.
- Sulit
menunggu
giliran.
- Sering melakukan interupsi atau mengganggu orang lain.
B. Gejala-gejala tersebut terjadi sebelum usia 7 tahun.
C. Gejala-gejala tersebut terjadi pada lebih dari satu situasi.
D. Gejala-gejala tersebut secara klinis nyata menimbulkan hendaya
dalam kegiatan sosial, akademis dan tugas-tugas lainnya.
E. Gejala-gejala tersebut tidak diakibatkan oleh gangguan perkembangan
pervasif, schizophrenia dan gangguan jiwa yang lain. (misal,
gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan disosiatif atau
gangguan kepribadian).
*
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Ed.
Kode berdasarkan tipenya; 314.01 GPP/H, Tipe Kombinasi: bila terdapat
baik kriteria A(1) maupun A(2) dalam 6 bulan terakhir; 314.00 GPP/H, Tipe
Inatensi: bila terdapat kriteria A(1), tetapi tidak terdapat kriteria A(2) dalam
6 bulan terakhir; 314.01 GPP/H, Tipe Hiperaktif-Impulsif bila terdapat
kriteria A(2) tetapi tidak terdapat kriteria A(1) dalam 6 bulan terakhir.
Catatan pengkodean: Untuk individu (terutama remaja dan dewasa) yang saat
ini mempunyai gejala-gejala, yang tidak lagi memenuhi kriteria secara utuh,
sebaiknya dimasukkan "Dalam Remisi Parsial". (dari referensi 1)
Ada tiga subtipe GPP/H (DSM IV) berdasarkan dominasi
gejalanya, yaitu:
1. GPP/H subtipe inatensi (GPP/H-i) memenuhi sedikitnya 6
dari 9 kriteria perilaku inatensi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 33
background image
2. GPP/H subtipe hiperaktif-impulsif (GPP/H-hi) memenuhi
sedikitnya 6 dari 9 kriteria perilaku hiperaktif-impulsif.
3. GPP/H subtipe kombinasi (GPP/H-k) memenuhi sedikit-
nya 6 dari 9 perilaku baik dari daftar inatensi maupun dari
hiperaktif impulsif.
Anak yang memenuhi kriteria diagnostik untuk gejala-
gejala perilaku GPP/H tetapi tidak menunjukkan hendaya
fungsional tidak dapat didiagnosis GPP/H. Gejala-gejala GPP/
H harus ada di dua atau lebih situasi (seperti di rumah dan di
sekolah), dan perilaku harus berpengaruh buruk secara
fungsional baik di sekolah maupun di lingkungan sosial.
Diagnosis tersusun dari sintesis informasi orang tua, laporan
sekolah, juga perawat kesehatan jiwa jika mereka dilibatkan
serta dari wawancara/pemeriksaan anak. Dalam DSM IV
diperlukan bukti adanya gejala yang ada sebelum usia 7 tahun,
pada beberapa kasus, gejala-gejala GPP/H tidak dikenali oleh
orang tua atau guru sampai anak berusia lebih dari 7 tahun,
pada saat lebih sering berhadapan dengan tugas-tugas sekolah.
Usia onset dan lamanya gejala dapat diperoleh dari orang tua
melalui anamnesis secara komprehensif
(4)
.
PERJALANAN PENYAKIT DAN KOMORBIDITAS
GPP/H
Penelitian follow-up jangka panjang anak dengan GPP/H
hingga remaja dan dewasa awal menunjukkan bahwa GPP/H
seringkali menetap dan berhubungan dengan disfungsi dan
psikopatologi yang bermakna dalam kehidupannya di ke-
mudian hari. Remaja dan dewasa muda GPP/H berrisiko untuk
gagal sekolah, kesulitan emosional, hubungan buruk dengan
teman sekolah dan sering bermasalah dengan hukum.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa masalah agresi
dan perilaku di masa kanak-kanak merupakan prediksi
menetapnya GPP/H di kehidupan remaja dan dewasa muda,
namun demikian masih relatif sedikit yang diketahui mengenai
faktor- faktor risiko yang menentukan perkembangan GPP
/H
(2)
.
Secara rata-rata, gejala menurun sekitar 50% setiap 5
tahun antara usia 10 hingga 25 tahun. Hiperaktivitas sendiri
menurun lebih cepat ketimbang impulsivitas dan inatensi
(1)
.
Sejumlah kondisi psikiatri dapat terjadi bersamaan dengan
GPP/H. Antara 10% hingga 20% anak dengan GPP/H baik dari
sampel komunitas dan klinis menderita gangguan mood, 20%
menderita gangguan perilaku dan lebih dari 40% mungkin
mendenta ODD (gangguan perilaku menentang).
Hanya sekitar 7% pasien GPP/H menderita sindrom tik
atau Tourrette, tetapi 60% dari pasien sindrom Tourrette
menderita GPP/H, yang memunculkan kemungkinan adanya
etiologi bersama. Gangguan belajar (terutama gangguan mem-
baca) dan intelegensia subnormal juga meningkat dalam
populasi total GPP/H atau sebaliknya. Secara keseluruhan
mungkin 65% anak-anak GPP/H akan memiliki 1 atau lebih
kondisi komorbid, yang mungkin tidak akan dikenali tanpa
melakukan evaluasi dan anamnesis yang memadai.Suatu
penelitian prospektif penderita GPP/H dibandingkan dengan
kelompok kontrol selama rata-rata 16 tahun mendapatkan
peningkatan 11 kali menetapnya gejala GPP/H (11% lawan
1%), peningkatan 9 kali terjadinya gangguan kepribadian
antisosial (18% lawaan 2%) dan angka gangguan pe-
nyalahgunaan obat 4 kali lebih tinggi (16% lawan 4%).
Prediktor terkuat menetapnya psikopatologi adalah
komorbiditas psikiatrik dan adanya riwayat keluarga GPP/H
(1)
.
FARMAKOTERAPI PADA GPP/H
Psikostimulansia mempunyai tempat yang unik dalam
psikofarmakologi pediatrik
(5)
.
Walaupun terdapat lebih dari
150 penelitian terkontrol mengenai stimulansia dengan subyek
lebih dari 5000 anak-anak, remaja dan dewasa, sebagian besar
penelitian terbatas pada anak laki-laki kulit putih, usia laten
dan tidak lebih lama dari 2 bulan. Penelitian-penelitian ini
mencatat efektifitas dan keamanan stimulansia pada semua
kelompok usia terutama pada anak usia laten, tetapi secara
konsisten juga melaporkan bahwa rata-rata 30% anak-anak
dengan GPP/H tidak memberikan respons terhadap obat-obat
(stimulan) ini. Sejauh ini methylphenidate merupakan sti-
mulansia yang paling banyak diteliti, meskipun demikian
beberapa pasien mungkin lebih menunjukkan respons terhadap
satu stimulansia daripada dengan stimulansia yang lain
(2)
.
Macam-macam stimulansia yang umumnya diresepkan
untuk terapi GPP/H pada anak serta sediaan yang tersedia dan
strategi penentuan dosis yang dianjurkan dapat dilihat pada
Tabel 3. Di Indonesia stimulansia yang beredar saat ini adalah
methylphenidate (Ritalin
®
), penggunaan untuk anak usia
sekolah dianjurkan dimulai dengan dosis 5 mg bid diberikan
sebelum sarapan pagi dan makan siang karena methyl-
phenidate umumnya efektif untuk 3 sampai 4 jam. Bila perlu,
dosis ditingkatkan secara bertahap 5-10 mg/minggu. Pasien
usia sekolah umumnya sudah berrespons pada dosis 0,3-0,8
mg/kgbb. Dosis yang lebih tinggi dapat menimbulkan efek
buruk pada konsentrasi dan belajar
(1)
.
Saat ini tersedia preparat methylphenidate sustained
release untuk mempermudah dan meningkatkan ketaatan
pasien dalam minum obat, tetapi pemberian obat di siang hari
oleh guru di sekolah dapat membuat anak menjadi malu
sehingga menyulitkan keteraturan berobat pasien
(1)
.
Biederman dan kawan-kawan telah melakukan penelitian
terkontrol, acak menggunakan methylphenidate 0,1 mg/kg/
hari pada dewasa dengan GPP/H DSM III-R onset anak-anak
penilaian menggunakan instrumen baku terpisah atas GPP/H
saja, GPP/H dengan depresi dan GPP/H dengan anxietas
didapatkan respons terapi yang nyata dibandingkan plasebo
(78% banding 4%) respons terhadap methylphenidate tidak
tergan-tung pada jenis kelamin, komorbiditas psikiatri atau
riwayat gangguan psikiatri lainnya
(2)
.
Walaupun stimulansia mengakibatkan anoreksia dan
penurunan berat badan, pengaruhnya pada pertambahan tinggi
badan kurang pasti. Laporan terdahulu menunjukkan penurun-
an pertumbuhan tinggi badan yang menetap yang berhubungan
dengan stimulansia, tetapi laporan lainnya tidak dapat mem-
buktikannya. Tinggi akhir anak tampaknya tidak terpengaruh,
tetapi tidak ada yang meneliti pengaruh stimulansia pada
pertumbuhan anak yang diterapi jangka panjang secara terus-
menerus dari anak-anak sampai dewasa muda. Lebih lanjut,
defisit pertumbuhan dapat merupakan cermin keterlambatan
pematangan yang berkaitan dengan GPP/H itu sendiri (yakni
dismaturitas) ketimbang terapi stimulansia
(2,6)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
34
background image
A
Diagnosis dan Evaluasi
Anak dengan Gangguan PemusatanPerhatian/Hiperaktivitas
(4)
Algoritma Klinik
1
Anak usia 6-12 th datang dengan orang tua
atau guru yang memprihatinkan prestasi
akademik yang rendah dan/atau perilaku
khusus ATAU klinisi menilai
kondisi-kondisi ini selama skrining
kesehatan
Ya
Ke Box 8
3
Memenuhi
kriteria GPP/H
DSM IV harus
meliputi apakah
gejala
berpengaruh
secara fungsional
dan pd performa
dalam 2 situasi
/lebih dalam 6 bl
terakhir
Penilaian di Sekolah:
· Penilaian elemen khusus
o inatensi ; hiperaktivitas dan impulsivitas
· Gunakan checklist (btk singkat) perilaku GPP/H
· Ax dari guru meliputi
o perilaku dalam kelas
o pola belajar
o intervensi dalam kelas
o derajat hendaya fungsional
· Bukti pekerjaan di sekolah
o kartu laporan
o sampel pekerjaan sekolah
Penilaian di keluarga:
· Pencatatan elemen khusus dgn wawancara atau
gunakan cbecklist GPP/H:
· Pencatatan harus meliputi
o inatensi; hiperaktivitas dan impulsivitas dalam
2 situasi/lebih
o usia onset
o lamanya gejala
o derajat hendaya fungsional
Apakah anak memenuhi
kriteria GPP/H DSM IV?
2
Penilaian anak oleh klinisi di
pelayanan primer meliputi:
· Ax dan Pmx baku
· Pmx neurologik
· Penilaian di keluarga
· Penilaian di sekolah
Klinisi di pelayanan primer:
pertimbangkan GPP/H pd anak yg datang
dg keluhan sbb:
· Tak dapat duduk tenang/hiperaktif
· Kurang atensi/konsentrasi yg buruk
/tampak spt tdk mendengarkan/melamun
· Bertindak tanpa berfikir/impulsif
· Problem perilaku
Tidak
Tidak
Nilai ulang pasien/
keprihatinan orang tua
Ya
Nilai dan terapi
Apakah tdp bukti variasi atau
masalah perkembangan ata u
kondisi lain
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 35
background image
B
n
8
Lanjutan dari box 4
Kondisi yg
berhubungan/menyer-
tai) dpt meliputi:
· Ggn belajar/bahasa
· ODD
· Ggn perilaku
· Anxietas
· Depresi
· Kondisi lain
9
12
Nilai kondisi yg
menyertai
Apakah terdapat kondisi
yg berkaita
Ya
Tidak
13
15
10
Kondisi yg
menyertai dpt
dikonfirmasi?
Dx GPP/H &
kondisi yg
menyertai
Diagnosis GPP/H
Ya
11
Tidak
16
14
Edukasi orang tua/
pasien dan terapi
Edukasi orang tua/
pasien dan terapi
Kembali ke box 10
Tabel 3. Psikostimulansia yang umumnya diresepkan untuk terapi GPP/H pada pasien
pediatri; sediaan yang tersedia dan strategi penentuan dosis yang dianjurkan*
Obat
Sediaan tablet
(mg)
Dosis
awal
Interval
antar dosis
Kecepatan titrasi
(mg/mgg)
Dosis terapetik
umumnya
a
Methylphenidate
5, 10, 20
5mg bid
3-4
5-10
0,3-0,8
mg/kg/dosis
b
Dextroamphetamine
5, 10, 15
5 mg qd
atau bid
4-6 5
0,2-0.5
mg/kg/dosis
c
Adderall
d
10,
20
5 mg qd
atau bid
4-6 5
0,15-0,4
mg/kg/dosis
Pemoline
18,75; 37,5;
75
37,5 mg
qam
18,75
1-2 mg/kg/hari
f
* Diambil dari referensi 1; di Indonesia yang tersedia adalah methylphenidate (Ritalin
®
)
a
Remaja dapat memerlukan dosis mg/kg lebih rendah daripada pasien usia sekolah.
b
Total dosis harian lebih dari 60 mg tidak dianjurkan.
c
Hanya kasus jarang yang memerlukan lebih dari 40 mg/hari
d
Terdiri dari bagian yang sama amfetamin aspartat, amfetamin sulfat, dextroamfetamin sacharat dan dextroamfetamin sulfat
e
Pemoline tersedia dalam bentuk tablet kunyah
f
Dosis harian maksimum 112,5 mg/hari
ZAT LAIN
Zat nonstimulansia yang telah diteliti secara luas untuk
pengobatan GPP/H meliputi antidepresan (Tabel 4),
agonis
dan neuroleptik
Antidepressan
Tricyclic antidepressant (TCA) terutama imipramin dan
desipramin, merupakan komponen farmakoterapi kedua ter-
banyak untuk GPP/H. Dua puluh sembilan penelitian (18
terkontrol, 11 terbuka) telah mengevaluasi penggunaan TCA
pada 1016 orang anak dan remaja dan 63 orang dewasa
GPP/H. Hampir semua (93%) melaporkan sedikitnya per-
baikan sedang. Meskipun demikian sebagian besar penelitian
TCA untuk terapi GPP/H relatif singkat, mulai dari beberapa
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
36
background image
minggu hingga beberapa bulan, sedikit yang hingga lebih dari
2 tahun. Hasil penelitian baik jangka panjang maupun jangka
pendek sama positifnya
(2,6)
.
Untuk desipramin, ada laporan
kematian mendadak (sudden death) pada anak-anak yang
menggunakan obat ini
( 2,5,6)
.
Antidepresan baru bupropion hydrochloride yang mem-
blok reuptake norepinefrin dan dopamin, secara konsisten
dapat menurunkan gejala-gejala GPP/H pada pasien muda
dalam uji klinik terkontrol. Sedangkan fluoxetin, serotonin
specific reuptake inhibitor (SSRI) masih dipertanyakan efek-
tivitasnya sebagai monoterapi pada GPP/H
(1,2,5,6)
.
Tabel 4. Antidepressan dengan berpotensi bermanfaat bagi penderita
pediatri dengan GPP/H
(5)
.
Tricyclic antidepressant
Amitriptilin
Desipramin
Imipramin
Nortriptilin
a
Monoamine Oxidase Inhibitor
Bupropion
Fluoxetin
a
Venlafaxine
a
a
Penelitian terkontrol belum pernah dilakukan
Agonis
Klonidin mempunyai sifat agonis
adrenergik terutama
digunakan untuk terapi hipertensi bermanfaat untuk terapi
anak dengan GPP/H. Manfaat tersebut telah dilaporkan pada 4
penelitian, 1 penelitian terbuka, 1 tinjauan retrospektif dan 2
penelitian terkontrol dengan total 122 pasien. Dosis harian
yang digunakan 4 sampai 5
µg/kgbb. (dosis rata-rata 0,2
mg/hari). Semua penelitian melaporkan respons perilaku
positif, 50%-70% subyek sedikitnya menunjukkan perilaku
sedang. Akan tetapi efek pada kognisi masih kurang jelas
(2)
.
Neuroleptik
Neuroleptik potensi rendah seperti thioridazine dan
chlorpromazine, juga potensi tinggi seperti haloperidol mampu
menurunkan perilaku disruptif (mengganggu) dalam penelitian
terkontrol. Akan tetapi karena efek sampingnya dan kenyataan
bahwa stimulansia lebih efektif ketimbang antipsikotik, neuro-
leptik tidak dianjurkan pada GPP/H tanpa komplikasi
(5)
.
Rapley dan kawan-kawan melakukan penelitian deskriptif
mengenai pola diagnosis dan terapi pada 223 anak GPP/H
berusia 1-3 tahun dari data klaim Medicaid Michigan. Lebih
dari separuhnya menerima pengobatan psikotropik (57%),
hanya sedikit yang mendapat layanan psikologis (27%). Dua
puluh dua obat psikotropik yang berbeda telah digunakan, 46%
menggunakan lebih dari 1 obat psikotropik, 30% dengan
kombinasi yang digunakan secara bersamaan dan 44% kombi-
nasi yang digunakan secara berurutan. Obat-obat psikotropik
yang digunakan dapat dilihat pada tabel 5.
Walaupun maksud penelitian ini adalah untuk menekan-
kan perlunya batasan kriteria diagnosis yang lebih baik dan
terapi yang efektif pada anak-anak yang sangat muda dengan
GPP/H, namun tidak ada salahnya digunakan sebagai bahan
perbandingan untuk penatalaksanaan GPP/H.
Tabel 5. Obat-obat psikotropik yang digunakan pada anak usia 1-3
tahun dengan GPP/H berdasarkan frekuensi penggunaannya
(7)
.
Nama Generik Obat
Jumlah anak yang diterapi
(N = 223)
Methylphenidate hydrochloride
Clonidine hydrochloride
Dextroamphetamine sulfate
Imipramine hydrochloride
Thioridazine hydrochloride
Pemoline
Guanfacine hydrochloride
Trazodone hydrochloride
Fluoxetine hydrochloride
Nortriptyline hydrochloride
Venlafaxine hydrochloride
Sertraline hydrochloride
Amitriptyline hydrochloride
Buspiron hydrochloride
Bupropion hydrochloride
Desipramine hydrochloride
Doxepin hydrochloride
Haloperidol
Lithium carbonate
Nefazodone hydrochloride
Risperidone
Temazepam
73
48
31
24
18
15
9
9
7
6
5
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
KEPUSTAKAAN
1. Goldman LS et al. Diagnosis and Treatment of Attention
Deficit/Hyperactivity Disorder in Children and Adolescent. Council
Report. JAMA 1998; 279: 14
2. Biederman J. Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder: A Life Span
Perspective. J. Clin. Psychiatr. 1998; 59 (Suppl 7) : 4-12
3. Inu Wicaksono. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas.
Manifestasi Klinis dan Penatalaksanaanya dalam: Seminar Kesulitan
Belajar Bukan Halangan untuk Berprestasi pada Kasus Anak dengan
GPP/H. PPPTKA dan Kandepdiknas Jogjakarta, Februari, 2000.
4.
American Academy of Pediatrics Clinical Practice Guideline. Diagnosis
and Evaluation of the Child with Attention Deficit/Hyperactivity
Disorder. Pediatrics 2000; 105 (5).
5.
Findling RL, Dogin JW. Psychopharmacology of ADHD. Children and
Adolescents. J. Clin. Psychiatr. 1998 ; 59 (Suppl 7) : 42-8.
6. Biederman J. Psychopharmacology. in: Wiener JM (ed.). Textbook of
Child &Adolescent Psychiatry. American Psychiatric Press, 1991.
7.
Rappley MD et al. Diagnosis of Attention Deficit/Hyperactivity Disorder
and Use of Psychotropic Medication in Very Young Children. Arch
Pediatr Adolesc Med. 1999; 153.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 37