background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Vitiligo
Djunaedi Hidayat
Rumah Sakit Kusta Sitanala, Tangerang
Vitiligo adalah kelainan pigmentasi kulit, seringkali bersifat
progresif dan familial yang ditandai oleh makula hipopigmentasi
pada kulit yang asimtomatik
(1,2,3)
. Selain kelainan pigmentasi,
tidak dijumpai kelainan lain pada kulit tersebut
(1,4,5)
.
Kata vitiligo berasa dan bahasa lain vitellus yang berarti
anak sapi, karena kulit penderita berwarna putih seperti kulit
anak sapi yang berbercak putih
(3)
. Istilah vitiligo mulai diperke-
nalkan oleh Celsus, seorang dokter Romawi pada abad ke-2
Di seluruh dunia insidensnya rata-rata 1% (0,14­8,8%)
(2,7)
.
Penyakit ini dapat mengenai semua ras dan kedua jenis kelamin
dengan perbedaan yang tidak bermakna
(3)
. Sedangkan menurut
Domonkos (1982), penyakit ini lebih sering diderita oleh orang
kulit berwarna dan biasanya dengan derajat yang lebih berat
(5)
.
Penyakit dapat terjadi sejak lahir sampai usia lanjut dengan
frekuensi tertinggi pada usia 10­30 tahun
(1,2,3,5)
. Menurut statistik
di Amerika Serikat 50% dan penderita vitiligo mulai timbul pada
usia sebelum 20 tahun dan 25% pada usia di bawah 8 tahun
(3)
.
Penyebab vitiligo yang pasti belum diketahui, diduga suatu
penyakit herediter yang diturunkan secara autosomal domi-
nan
(1,2,3,5)
. Dari penyelidikannya, Lerner (1959) melaporkan 38%
penderita vitiligo mempunyai keluarga yang menderita vitiligo,
sedangkan Eli -Mofty (1968) menyebut angka 35%
(6)
.
Beberapa faktor pencetus terjadinya vitiligo antara lain
(2,3)
:
1) Faktor mekanis
Pada 10­70% penderita vitiligo timbul lesi setelah trauma
fisik, misalnya setelah tindakan bedah atau pada tempat bekas
trauma fisik dan kimiawi.
2) Faktor sinar matahari atau penyinaran ultra violet A
Pada 7­15% penderita vitiligo timbul lesi setelah terpajan
sinar matahari atau UV A dan ternyata 70% lesi pertama kali
timbul pada bagian kulit yang terpajan.
3) Faktor emosi/psikis
Dikatakan bahwa kira-kira 20% penderita vitiligo berkem-
bang setelah mendapat gangguan emosi, trauma atau stres psikis
yang berat.
4) Faktor hormonal
Diduga vitiligo memburuk selama kehamilan atau pada
penggunaan kontrasepsi oral. Tetapi pendapat tersebut masih
diragukan.
PATOGENESIS
Masih sedikit yang diketahui tentang patogenesis vitiligo,
sehingga patofisiologi penyakit ini masih menjadi teka-teki
Sampai saat ini terdapat 3 hipotesis klasik patofisiologi vitiligo
yang dianut, yang masing-masing mempunyai kekuatan dan ke-
lemahan yaitu
(1-5)
:
1) Hipotesis autositoksik
Hipotesis ini berdasarkan biokimiawi melanin dan pre-
kursornya. Dikemukakan bahwa terdapat produk antara dari
biosintesis melanin yaitu monofenol atau polifenol. Sintesis
produk antara yang berlebihan tersebut akan bersifat toksik ter-
hadap melanosit. Lerner (1959) mengemukakan bahwa me-
lanosit normal mempunyai proteksi terhadap proses tersebut,
sedangkan pada penderita vitiligo mekanisme proteksi ini labil,
sehingga bila ada gangguan, produk antara tersebut akan me-
rusak melanosit dan akibatnya terjadi vitiligo
(1,3)
. Hal ini secara
klinis dapat terlihat lesi banyak dijumpai pada daerah kulit yang
mengandung pigmen lebih banyak (berwarna lebih gelap). Juga
hal ini dapat terjadi pada pekerja-pekerja industri karet, plastik
dan bahan perekat karena banyak berkontak dengan bahan fenol
dan katekol
(3)
.
2) Hipotesis neurohumoral
Hipotesis ini mengatakan bahwa mediator neurokimiawi
seperti asetilkolin, epinefrin dan norepinefrin yang dilepaskan
oleh ujung-ujung saraf perifer merupakan bahan neurotoksik
yang dapat merusak melanosit ataupun menghambat produksi
melanin. Bila zat-zat tersebut diproduksi berlebihan, maka sel
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997 33
background image
melanosit di dekatnya akan rusak.
Secara klinis dapat terlihat pada vitiligo segmental satu atau
dua dermatom, dan seringkali timbul pada daerah dengan
gangguan saraf seperti pada daerah paraplegia, penderita poli-
neuritis berat
(3)
.
3) Hipotesis imunologik
Vitiligo merupakan suatu penyakit autoimun; pada pen-
derita dapat ditemukan autoantibodi terhadap antigen sistem
melanogenik, yaitu autoantibodi anti melanosit yang bersifat
toksik terhadap melanosit.
Dari hasil-hasil penelitian terakhir, tampaknya hipotesis
imunologik yang banyak dianut oleh banyak ahli
(2,8)
. Hal ini di-
sokong dengan kenyataan bahwa insidens vitiligo meningkat
pada penderita penyakit autoimun
(2,3,6)
, yaitu antara lain : penya-
kit kelenjar tiroid, alopesia areata, anemia pernisiosa, anemia
hemolitik autoimun, skleroderma, artritis rheumatoid
(1,2,4,5)
.
KLASIFIKASI
Bermacam-macam klasifikasi dikemukakan oleh beberapa
ahli. Koga (1977) membagi vitiligo dalam 2 golongan yaitu
(3)
:
1) Vitiligo dengan distribusi sesuai dermatom.
2) Vitiligo dengan distribusi tidak sesuai dermatom.
Berdasarkan lokalisasi dan distribusinya, Mosher (1987)
membagi menjadi
(2,3)
:
1) Tipe lokalisata, yang terdiri atas:
a) Bentuk fokal : terdapat satu atau lebih makula pada satu
daerah dan tidak segmental.
b) Bentuk segmental : terdapat satu atau lebih makula dalam
satu atau lebih daerah dermatom dan selalu unilateral.
c) Bentuk mukosal : lesi hanya terdapat pada selaput lendir
(genital dan mulut).
2) Tipe generalisata, yang terdiri atas:
a) Bentuk akrofasial : lesi terdąpat pada bagian distal ekstre-
mitas dan muka.
b) Bentuk vulgaris : lesi tersebar tanpa pola khusus.
c) Bentuk universalis : lesi yang luas meliputi seluruh atau
hampir seluruh tubuh.
Dapat pula terjadi bentuk-bentuk campuran atau bentuk-
bentuk peralihan, misalnya dari bentuk lokalisata menjadi ben-
tuk generalisata.
MANIFESTASI/GAMBARAN KLINIS
Makula hipopigmentasi yang khas pada vitiligo berupa
bercak putih seperti susu, berdiameter beberapa milimeter sam-
pai sentimeter, berbentuk bulat, lonjong, ataupun tak beraturan,
dan berbatas tegas. Selain hipopigmentasi tidak dijumpai ke-
lainan lain pada kulit
(1-4)
. Kadang-kadang rambut pada kulit yang
terkena ikut menjadi putih. Pada lesi awal kehilangan pigmen
tersebut hanya sebagian, tetapi makin lama seluruh pigmen
melanin hilang
(1)
.
Lesi vitiligo umumnya mempunyai distribusi yang khas.
Lesi terutama terdapat pada daerah terpajan (muka, dada, bagian
atas, punggung tangan), daerah intertriginosa (aksila, lipat paha),
daerah sekitar orifisium (sekitan mulut, hidung, mata dan anus),
pada bagian ekstensor permukaan tulang yang menonjol (jari-
jari, lutut, siku), daerah tibia anterior, daerah sekitar puting susu
dan umbilikus
(1,2,3,4)
. Daerah mukosa yang sering terkena ter-
utama genital, bibir dan gusi
(2)
.
Di samping itu dapatpula ditemukan bentuk-bentuk lain dari
lesi vitiligo, antara lain
(3)
:
1) Trichome vitiligo : vitiligo yang terdiri atas lesi berwarna
coklat, coklat muda dan putih.
2) Vitiligo inflamatoar: lesi dengan tepi yang meninggi erite-
matosa dan gatal.
3) Lesi linear.
Diagnosis ditegakkan terutama berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan klinis, dan ditunjang oleh pemeriksaan histopa-
tologik serta pemeriksaan dengan lampu Wood
(3)
.
Pemeriksaan histopatologi lesi vitiligo menunjukkan tidak
dijumpainya melanosit dan granul melanin di epidermis; pe-
warnaan perak atau reaksi dopa, memberi hasil negatif. Pada pe-
meriksaan dengan mikroskop elektron terlihat hilangnya mela-
nosit
(9)
, sedangkan pada tepi lesi sering dijumpai melanosit yang
besar dengan prosesus dendritikus yang panjang; beberapa pe-
nulis menjumpai infiltrat limfositik di dermis
(10)
. Pada lesi awal
atau tepi lesi masih dapat dijumpai beberapa melanosit dan
granul melanin
(10)
.
Pada pemeriksaan dengan lampu Wood, lesi vitiligo tampak
putih berkilau dan hal ini berbeda dengan kelainan hipopigmen-
tasi lainnya
(3)
.
PENATALAKSANAAN
Karena penyebab dan patogenesisnya masih banyak yang
belum diketahui, sampai sekarang pengobatan vitiligo masih
bersifat nonspesifik
(8)
. Pernah pula dilaporkan regresi spontan,
tetapi persentasinya sangat kecil
(7,8)
.
Beberapa cana dan usaha yang dilakukan untuk mengatasi-
nya, yaitu
(11)
:
1) Psoralen dan UVA
Fotokemoterapi dengan psoralen dan radiasi ultraviolet
natural atau artifisial masih dianggap sebagai pengobatan
dengan hasil yang cukup baik
(8)
. Psoralen untuk mengobati
vitiligo sudah dipakai sejak zaman Mesir kuno dan India
(12)
.
Psoralen yang sering dipakai adalah 8-metoksipsoralen atau
trimetil psoralen; hasilnya sangat bervariasi. Hal ini disebabkan
oleh variasi absorpsi obat yang besar pada tiap individu
(13)
.
Psoralen dapat dipakai secara topikal atau sistemik. Bila lesi
meliputi daerah yang luas (lebih dari 20­25% luas permukaan
kulit tubuh), psoralen sistemik dapat dipakai
(7)
; metode ini di-
anggap memberi harapan untuk timbulnya repigmentasi
(14)
. Bila
8-metoksipsoralen yang dipakai, dosisnya 0,3 mg per kilogram
berat badan. Obat dimakan 2 jam sebelum dijemur sinar mata
hari. Pajanan sinar matahani dapat dimulai dengan lama 5 menit
dan dapat diperpanjang 5 menit tiap kali pengobatan. Sebaiknya
jangan dijemur lebih dari 30 menit per tempat. Umumnya re-
pigmentasi dimulai setelah 30 sampai 50 kali pengobatan.
Repigmentasi dimulai sebagai bintik-bintik sekitar folikel ram-
but dan meluas secara perlahan dan berkonfluensi
(9)
.
Pada pemakaian psoralen secara topikal, penderita harus di-
peringatkan untuk mencuci obat setelah pemakaian dan se-
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997
34
background image
lanjutnya melindungi kulit dan pajanan sinar matahari
(6)
.
Mekanisme kerja obat ini masih belum diketahui dengan
Pasti
(7)
. Menurut Ortonne (19769) psoralen dan sinar ultraviolet
A akan merangsang mitosis melanosit pada folikel rambut dan
melanosit tersebut akan bermigrasi ke daerah lesi. Sedangkan
Nordlund (1982) mengatakan bahwa psoralen tidak secara
langsung merangsang pertumbuhan sel-sel melanosit, tetapi
merusak beberapa bahan penghambat atau sel di epidermis yang
bertanggung jawab terhadap pemusnahan sel-sel melanosit
(15)
.
Honigsmann (1987) mengatakan bahwa repigmentasi timbul ka-
rena stimulasi peningkatan jumlah melanosit fungsional, hiper-
trofi melanosit, aktivitas tirosinase dan mempercepat migrasi
melanosit dan adneksa kulit
(14)
.
Pengobatan tersebut digunakan secara terus menerus selama
memberi hasil yang cukup baik, yaitu timbulnya repigmentasi
yang dimulai dan folikel rambut yang makin lama makin me-
lebar dan berkonfluensi. Pada pengobatan dengan PUVA, pen-
derita harus sanggup menjalani 100 sampai 300 kali pengobat-
an
(2)
. Pengobatan sebaiknya dihentikan bila selama 3 bulan tidak
terjadi repigmentasi
(7,9)
.
2) Kortikosteroid
Pemakaian kortikosteroid topikal pada vitiligo berdasarkan
pada hipotesis autoimun. Kumani (1984) menggunakan klobe-
tasol propionat 0,05% dengan hasil yang cukup baik
(16)
. Pernah
pula dilaporkan penggunaan triamsionolon asetonid 0,1% intra-
lesi atau betametason 17 valerat 0,1% secara topikal
(9)
. Pada
kasus yang dini pemberian kortikosteroid intralesi efektif pada
50% penderita dan penggunaan kortikosteroid topmkal dapat
mencegah perkembangan lebih lanjut. Biasanya diperlukan ter-
api yang lama dan adanya efek samping akibat pemakaian steroid
yang lama menyebabkan pemakaiannya terbatas
(2,11)
.
3) Fluorourasil
Untuk menimbulkan pigmentasi pada lesi, dapat dipakai
fluorourasil secana topikal. Pemakaian fluorourasil tersebut di-
lakukan secara tertutup di atas kulit yang telah diepidermabrasi.
Pada kulit yang erosif tersebut dioleskan krim fluorourasil 5%
dan ditutup dengan bahan polietilen untuk jangka waktu 24 jam.
Cara pengobatan ini dihentikan setelah aplikasi sebanyak 7­10
kali. Salah satu hipotesis mengatakan bahwa fluorourasil juga
mengakibatkan kolonisasi melanosit di epidermis yang kemudi-
an bermigrasi ke daerah lesi sewaktu proses epitelisasi
(3)
.
4) Zat warna
Karena vitiligo mengganggu penampilan seseorang maka
dapat dipakai zat wanna topikal sebagai kamuflase
(11)
. Beberapa
kosmetik kamuflase dapat dipakai dan yang banyak terdapat di
Indonesia antara lain Dermablend Cover cream, Derma Color
Cover Cream, Covermark Cover Cream dan lain-lain
(17)
.
5) Lain-lain
a) Tehnik bedah:
·
tandur kulit/epidermis
(18)
.
·
invitro cultured epidermal auto graft bearing melanocytes
(19)
b) Akupunktur
Diperkirakan akupunktur memberikan efek stimulasi ter-
hadap melanosit, perbaikan mikrosirkulasi, peningkatan respons
imunitas dan efek regulasi fungsi organ
(20)
.
c) Monobenzil hidrokuinon adalah bahan pemutih yang mem-
berikan efek samping vitiligo. Obat ini dapat menyebabkan ke-
rusakan melanosit dan biasanya dipakai pada vitiligo yang sangat
luas, sehingga sisa kulit yang normal diputihkan seluruhnya.
Biasanya dipakai dalam bentuk krim dengan konsentrasi 2-4%
(21)
.
Cara pengobatan di atas memang memerlukan waktu yang
lama, pengobatan biasanya memerlukan waktu 18 bulan sampai
2 tahun
(7)
. Selain itu setiap penderita vitiligo perlu menggunakan
tabir cahaya
(22)
, karena dosis eritematosa minimal (MED) kulit
penderita vitiligo lebih rendah dari orang normal
(23)
. Biasanya
dipakai tabir cahaya dengan sun protective factor (SPF) 15
(22)
.
Efek psikososial vitiligo juga tidak boleh dilupakan. Tiap
penderita memerlukan dukungan psikologis, lebih-lebih bila
terdapat hambatan sosial atau psikis
(23,24)
.
Vitiligo bukan penyakit yang membahayakan kehidupan,
tetapi prognosisnya masih meragukan dan bergantung pula pada
kesabaran dan kepatuhan pen derita terhadap pengobatan yang
diberikan.
KEPUSTAKAAN
1. Lorincz AL. Disturbances of melanin pigmentation. In Moschella SL &
Hurley Hi (eds.): Dermatology. Vol. II. 2nded. Philadelphia, WB. Saunders
Co. 1985: 1292-6.
2. Mosher DB, Fitzpatrick TB, Ortonne JP, Hon Y. Disorders of pigmenta-
tion. In Fitzpatrick TB et al. (eds.): Dermatology in general medicine. 3
rd
ed. New York, McGraw Hill Book Co. 1987: 810­21.
3. Achyar RY. Kelainan-kelainan hipopigmentasi dan vitiligo. Dalani Sugito
TL dick. (eds.) : Kelainan pigmentasi kulit dan penanggulangannya (Sim
posium). Jakarta, PADVI Jaya. 1988 : 46-60.
4. Mosher DB, Pathak MA, Fitzpatrick TB. Vitiligo : etiology pathogenesis,
diagnosis and treatment. In Fitzpatrick TB et al. (eds.): Update: Demiato
logy in general medicine. New York, McGraw Hill Book Co. 1983
205­55.
5. Domonkos AN, Arnold HL, Odom RB. Andrews diseases of the skin. 7
th
ed. Philadelphia, WB. Saunders Co. 1982: 1057­9.
6. McBurney El. Vitiligo. Clinical picture and pathogenesis. Arch Dermatol
1979; 139: 1295­7.
7. Symposium. Management of vitiligo in children. Ped Dermatol 1986; 3/6:
498­510.
8. Ortonne JP. Vitiligo. In Orfanos CE et al. (eds.) : Dermatology in five
continents. Proceeding of the XVII World Congress of Dermatology.
Berlin, Springer-Verlag. 1988 : 210­7.
9. Kukita A. On vitiligo vulgaris. In Tham SN etal. (eds.) : Proceedings of the
Dermatological Society of Singapore. Singapore, Dermatological Society
of Singapore. 1987: 16­9.
10. Lever WF, Schaumburg-Lever G. Histopathology of the skin. 6th ed
Philadelphia, JB. Lippincott Co. 1983 : 441­2.
11. Nasution D. Penanggulangan kelainan hipopigmentasi dan vitiligo. DaIwa
Sugito TL dick. (eds) : Masalah pigmentasi kulit dan penanggulangannya
(Simposiuni). Jakarta, PAD VI Jaya. 1988 : 61-6.
12. Todes-Taylor N, Abel EA. Cox AJ. The occurence of vitiligo after psora
lens and ultraviolet A therapy. J Am Acad Dermatol 1983; 9/4: 526­32.
13. Parrish JA, Fitzpatrick TB, Shea C, Pathak MA. Photochemotherapy of
vitiligo. Arch Dermatol 1976; 112: 1531­4.
14. Honigmann H, Wolff K Fitzpatrick TB, Pathak MA, Parrish JA. Oral
photochemotherapy with psoralens and UVA (PYVA): principles and
practice. In Fitzpatrick TB. et al. (eds.): Dermatology in general medicine.
3rd ed. New York, McGraw Hill Book Co. 1987: 1533­58.
15. Nordlund ii, Lerner AB. Vitiligo. It is important. Arch Dermatol 1982;
118:5­8.
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997 35
background image
16. Kumari J. Vitiligo treated with topical clobetasoJ propionate. Arch Dernia-
to] 1984; 120: 631­5.
21. Handoko RP. Penanggulangan kelainan hiperpignientasi dan melasma.
Dalam Sugito TL dkk. (eds). Masalab pigmentasi kulit dan penanggulang
annya (Simposium). Jakarta, PADVI Jaya. 1988 : 40­5.
17. Kusumadewi. Kaniuflase estetik kelainan pigmentasi kulit. Dalam Sugito
TL dkk. (eds.) : Masalah pigmentasi kulit dan penanggulangannya (Sim-
posium). Jakarta, PAD VI Jaya. 1988 : 80­9.
22. Widodo J. Tabirsurya dan aplikasi pada kelainanpigmentasi kulit. Dalam
Sugito TL dkk. (eds.). Masalah pigmentasi kulit dan penanggulangannya
(Simposium). Jakarta, PADVI Jaya. 1988 : 98­107.
18. Falabella R. Repigmentation of segmental vitiligo by autologous minigraft-
ing. I Am Acad Dennatol 1983; 9: 514­21.
23. Westerhof W. Recent advances of pigmentary disorders and their manage-
ment. Dalam Sugito TL dkk. (eds.). Masalah pigmentasi kulit dan pe-
nanggulangannya (Simposium). Jakarta, PADVI Jaya. 1988: 108­19.
19. Falabella R, Escobar C, Borrero J. Treatment of refractory and stable
vitiligo by transplantation of In vitro cultured epidermal autografts bearing
melanocytes. JAm Acad Dermatol 1992; 26: 230­6.
24. Mansjur S. Aspekpsikososial penderitakelainanpigmentasi. DalamSugito
TL dkk. (eds.). Masalah pigmentasi kulit dan penanggulangannya (Sim-
posium). Jakarta, PADVI Jaya, 198 : 67­79.
20. Widya DK. Akupunktur pada kelainan pigmentasi kulit. Dalam Sugito TL
dkk. (eds.). Masalah pigmentasi kulit dan penanggulangannya (Simpo-
sium). Jakarta, PADVI Java. 1988 : 90­7.
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997
36