background image
LAPORAN KASUS
Tuberkulosis Uveitis Anterior
Laporan Kasus
Suhardjo, Rahajeng Lestari
Laboratorium Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
UPF Penyakit Mata RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta
Key words . tuberculous anterior uveitis ­ mutton fat keratic precipitate ­ pulmonary
tube rculosis ­ triple drugs.
PENDAHULUAN
Uveitis adalah suatu peradangan jaringan uvea yang dapat
bersifat purulen atau non purulen. Uveitis granulomatosa biasa
nya mengikuti invasi organisme penyebab seperti Mikobakte
rium tuberkulosis
(1)
. Penyebab lain adalahToksoplasma gondii,
sarkoidosis, sifihis dan lepra. Semua bagian traktus uvea bisa ter-
serang tetapi predileksinya pada koroid. Uveitis sekarang di-
gunakan untuk menyatakan berbagai bentuk peradangan intra-
okuler yang tidak hanya mengenai uvea, tetapi juga struktur
struktur yang berdekatan
(2)
. Uveitis merupakan penyebab ke-
butaan yang utama di Nigeria
(3)
:
Uveitis tidak termasuk dalam 10 pola penyakit mata utama
di Indonesia
(4)
. Peradangan jaringan uvea merupakan persoalan
kompleks yang kadang-kadang sukar ditentukan penyebabnya
dan memerlukan pengobatan khusus
(1)
. Uveitis kebanyakan ter-
dapat pada usia 20­50 tahun, di daerah urban lebih sering di-
banding di daerah rural
(6)
.
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Mikobakterium tuberkulosis, ditandai dengan terjadinya gra-
nuloma dan nekrosis. Infeksi ini paling sering mengenai paru,
akan tetapi dapatjuga meluas mengenai organ-organ tertentu
(7)
.
Tuberkulosis paru masih merupakan masalah utama di negara
sedang berkembang karena sebagian besar penduduknya hidup
dengan derajat kesehatan yang masih rendah. Prevalensi tuber=
kulosis paru dengan BTA (+) di Indonesia masih cukup tinggi
sekitar 0.3%, berarti di antara 1000 orang dijumpai 3 orang
penderita tuberkulosis paru yang masih potensial menular
(7)
.
Survai tahun 1961­1963 di Yogyakarta memperlihatkan pre-
valensi penderita tuberkulosis paru dengan BTA positif sebesar
0.3% dan dengan biakan positif sebesar 0.6%
(8)
.
Kuman tuberkulosis terutama menyerang paru-paru, tetapi
kuman ini dapat pula menyerang organ tubuh lainnya. Penyakit
tuberkulosis di luar paru tidak jarang ditemukan, hanya sering
terlupakan
(9)
. Adanya riwayat tuberkulosis dan adanya uveitis
kronis, merupakan dua hal yang menimbulkan dugaan uveitis
tuberkulosis
(1)
. Keterlibatan uvea tampak sebagai uveitis anterior
kronis atau koroiditis diseminata. Dalam identifikasi peradang-
an jaringan uvea, penyakit tuberkulosis memegang peranan pen-
ting
(5)
. Di antara penderita uveitis endogen 25­30% terdiri dari
penderita uveitis tuberkulosis.
Diagnosis uveitis tuberkulosis sukar ditegakkan, karena
tidak dapat dilakukan pemeriksaan bakteriologik dan histologik
pada mata. Biasanya diagnosis ditegakkan atas dasar gambaran
uveitis yang spesifik dan hasil pemeriksaan lanjut yang menun-
jukkan tuberkulosis. Karena sukarnya menegakkan diagnosis,
banyak klinik memasukkannya ke dalam golongan uveitis yang
tak diketahui penyebabnya
(5)
.
Pada tulisan ini dilaporkan seorang penderita dengan uveitis
granulomatosa disertai tuberkulosis paru, dengan tujuan untuk
mengingatkan kembali perihal diagnosis dan penanganannya.
LAPORAN KASUS
Seorang laki-laki umur 35 tahun alamat Gondolayu Yogya-
karta, nomor rekam medik 181317, pada tanggal 17 Juli 1991
datang berobat ke poliklinik mata RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
dengan keluhan mata kiri kabur.
Dua belas bulan sebelum ke poliklinik Mata, penderita
berobat ke poliklinik Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito dengan
keluhan sering batuk-batuk yang berdahak putih, demam, ber-
keringat bila malam hari dan nafsu makan berkurang. Keluarga
satu rumah ada yang sakit paru-paru. Di bagian Penyakit Dalam
dilakukan pemeriksaan laboratonium dan foto dada, didiagnosis
tuberkulosis paru, diberi pengobatan triple drugs (INH 400 mg.
ethambutol 750 mg dan nifampisin 600 mg). Selanjutnya pende-
rita kontrol rutin, tetapi tidak teratur. Sejak 1 bulan sebelum ke-
bagian Mata, penderita merasa mata kirinya seperti melihat kabut
yang melayang-layang, tidak ada rasa sakit dan tidak kelihatan
merah. Setelah penglihatan mata kiri semakin kabur penderita
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997 33
background image
berobat ke poliklinik Mata. Mata kanan kabur sejak kecil dan
juling ke dalam.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum cukup,
gizi sedang, kompos mentis. Tekanan darah 120/80 mmllg, nadi
80 X/menit, respirasi 16 X/menit, teratur, suhu afebril. Anemia
(­), ikterus (­), jantung dan paru dalam batas normal, hati dan
limpa tak teraba, anggota gerak dalarn batas normal.
Pada pemeriksaan mata kiri didapatkan visus 6/6, kabur,
addisi S +1 untuk penglihatan dekat, tapi terasa kurang jelas,
palpebra tenang, konjungtiva tenang, terdapat keratic precipitate
besar-besar pada kornea, kamera okuli anterior flare tak jelas,
pupil bulat, fundus dalam batas normal, tekanan intraokuler
normal. Pada mata kanan didapatkan visus 2/60 tak dapat di-
koreksi, Hisberg 300 esotropia, Krimsky 60 prisma dioptri base
out, palpebra tenang, kunjungtiva tenang, korneajernih, kamera
okuli anterior dalam jernih, iris/pupil dalam batas normal, fundus
dalam batas normal, tekanan intraokuler normal.
Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 13,4 g%,
lekosit 4400 per mm
3
dengan hitungjenis eosinofil 1%, segmen
76%, limfosit 22% dan monosit 1%. LED 12mm/jam. VDRL:
0, ASTO 0, Rheumatoid factor : 0, CRP: 0. Toksoplasma IgG:
600 IU/ml, IgM: (­), glukosa 90 mg/dl. Hasil pemeriksaan urine
dan feses dalam batas normal. Foto dada menunjukkan KP
dupleks.
Diagnosis pada mata kiri : uveitis granulomatosa dengan
dugaan penyebab tuberkulosis, mata kanan amblyopia. Hasil
konsuitasi ke bagian penyakit dalam bisa diberi kortikosteroid di
samping obat untuk tuberkulosisnya. Penderitanya diberi peng
obatan prednison 3. 3.0. (2 hari), 2.2.0. (2 hari), homatropin 2%
danCendomycos® 2 X, pengobatan dan bagian penyakit dalam
diteruskan (INH 400mg, ethambutol 750mg dan rifampi sin 600
mg). Mata kanan esotropia (ambliopia).
Lima hari setelah mendapat tetes mata penderita kontrol
kembali ke poliklinik Mata. Keluhan mata kiri kabur sudah
berkurang. Pada pemeriksaan mata kiri didapatkan visus 6/6,
segmen anterior tenang, keratic precipitate (+) warna kecoklat
an, flare tidak jelas, lensa jernih, fundus dalam batas normal.
Mata kanan segmen anterior tenang, iris/pupil dalam batas nor-
mal, lensa jernih, fundus dalam batas normal. Pengobatan di-
teruskan dan penderita dianjurkan untuk kontrol kembali.
Pada kontrol di poiiklinik Mata bulan ke tujuh, didapatkan
pada mata kanan visus 2/60, mata kiri: penglihatan kabur ber-
kurang, visus 6/6, palpebra tenang, konjungtiva tenang, kornea
jernih, keratic precipitate (­), flare (­), iris/pupil bulat, lensa
jernih, tekanan intraokuler normal, fundus dalam batas normal.
Penderita diberi pengobatan Cendomycos®. Pengobatan tuber-
kulosis diteruskan.
Pada kontrol bulan ke 11, penderita menyatakan sudah bisa
membaca dan sudah merasa lebih baik. Pada pemeriksaan di-
dapatkan mata kanan visus 2/60, mata kiri visus 6/6, palpebra dan
konjungtiva tenang, kornea keratic precipitate (­),flare (­), iris/
pupil bulat, lensa jernih, tekanan intraokuler normal, fundus
dalam batas normal. Pada foto dada ulang didapatkan kesan pe-
nyembuhan.
Pada pemeriksaan terakhir tanggal 1 Oktober 1995 (saat
kunjungan rumah) atau setelah 4 tahun dan saat pertama kali
peniksa ke poliklinik Mata, sudah tidak ada keluhan pada mata
kiri. Segmen depan mata tenang, pupil dan fundus baik. Keluhan
batuk-batuk tidak ada, tetapi masih mendapat terapi tuberkulosis
rifampisin 600 mg dua kali seminggu, INH 400 mg dan etham-
butol 750 mg setiap hari satu kali.
PEMBAHASAN
Kasus ini merupakan uveitis granulomatosa pada mata kiri
dengan gejala penglihatan kabur setelah 1 tahun mendapat peng-
obatan tuberkulosis. Pada pemeriksaan tidak ada rasa nyeri dan
kemerahan pada mata, dan kamera okuli anteriornya berkabut
serta terdapat keratic precipitate pada korneanya. Penderita di-
kelola sebagai uveitis anterior granulomatosa dengan kecuriga-
an kausa tuberkulosis.
Uveitis granulomatosa lebih tersamar dan pada uveitis non
granulomatosa, biasanya tanpa rasa nyeri dan kemerahan, tetapi
kerusakan mata permanen relatif berbahaya
(1)
. Serangannya pelan,
pada mata yang terkena terdapat sedikit kemerahan yang me-
nyeluruh. Karena vitreus berkabut dan retina terkena, visusnya
bisa kabur. Rasa nyeri minimal atau tidak ada, dengan fotopobia
ningan. Pupil bisa normal atau bila terdapat sinekia posterior
menjadi tak teratur dan sedikit lebih kecil dan normal. Pada pe-
meriksaan dengan slit lamp atau loupe terdapat large gray mutton
fat keratic precipitates. Kamera okuli anterior keruh, nodul iris
sering terdapat dan menyebabkan vitreus berkabut. Lesi baru
pada koroid tampak kuning bila dilihat dengan oftalmoskop.
Gambaran pada penderita sesuai dengan yang tersebut di
atas. Wilson
(9)
juga menyatakan, radang granulomatosa intraokuler
pada segmen anterior serangannya pelan, ningan, warna mata ke
arah putih, dengan nodul atau flokul pada iris, mutton fat keratic
precipitates yang sedang atau besar dan suan ringan. Pada seg-
men posterior umumnya terdapat pada koroid, retina, dengan
eksudat vitreus yang hebat. Pada penderita terdapat keratic
precipitates, keratic precipitates ini merupakan deposit seluler
pada endotel kornea
(2)
.
Semua penderita yang dicurigai uveitis perlu menjalani
pemeriksaan laboratorium laju endap darah, VDRL, tes serologi
untuk toksoplasmosis, tes PPD dan foto rontgen dada
(1)
. Pada
penderita ini sudah dilakukan semua pemeriksaan-pemeriksaan
tersebut, kecuali tes PPD. Penyebab uveitis di Nigeria adalah
lepra (1 penderita), tuberkulosis (1 penderita), herpes zoster (16.
penderita), onchocenciasis (3 penderita), sedang toksoplasmosis
menyebabkan uveitis posterior
(3)
.
Pada pemeriksaan toksoplasma terdapat IgG (+) 600 IU/ml;
mungkin penderita ini pernah terkena toksoplasmosis, tetapi saat
ini sudah tidak aktif lagi karena 1gM (­), dan bila mengenai
mata biasanya berupa uveitis posterior. Kemungkinan penyebab
uveitis karena sifihis pada pende kurang menyokong secara
klinis maupun laboratonis, sedang penyebab lain (selain tuber-
kulosis) secara klinis kurang menyokong dan secara laborato-
nium belum diperiksa, mengingat terlalu spesifik dan biayanya
mahal.
Manifestasi klinis tuberkulosis paru adalah terutama ada-
nya batuk kronis dengan sputum yang non purulen, hemoptisis
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997
34
background image
biasanya berupa garis-garis darah pada sputum
(10)
. Mangun-
negoro
(11)
menyatakan manifestasi klinik tuberkulosis paru an-
tara lain : a. batuk-batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa
sputum, batuk darah, sesak nafas, nyeri dada; b. malaise, ano-
reksia, demam, berat badan menurun, c. gejala yang berhubung-
an dengan penyebaran ekstrapulmoner. Manifestasi klinis yang
adapada penderita cukup menyokong kriteria tersebut; diagnosis
tuberkulosis didasarkan atas riwayat penderita,. manifestasi kli-
nis, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologi
(12)
;
segala pemeriksaan tersebut sudah dilakukan dan diagnosis tu-
berkulosis sudah ditegakkan oleh bagian penyakit dalam.
Pada penderita belum dilakukan pemeriksaan basil tahan
asam. Penemuan basil tahan asam (BTA) dalam sputum mem-
punyai arti penting dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis,
namun kadang-kadang tidak mudah untuk menemukan BTA ter-
sebut. BTA ditemukan dalam sputum bila bronkus telah terlibat.
Pemeriksaan mikroskopik langsung dengan BTA (­), bukan
berarti tidak ditemukan kuman sebagai penyebab, dalam hal ini
penting sekali peranan hasil biakan kuman. Faktor-faktor yang
dapatmenyebabkan hasil bakteriologiknegatifadalah : a. bronkus
belum terlibat; b. kuman dalam sputum terlalu sedikit; c. cara
pemeriksaan tak adekuat; d. pengaruh obat, terutama rifampi-
sin
(7)
. Bila diagnosis tuberkulosis paru semata-mata berdasarkan
pada ditemukannya BTA pada sputum, maka sangat banyak
tuberkulosis paru yang terlewat tanpa pengobatan. Sedangkan
justru pada tuberkulosis paru yang baru dengan sputum BTA (­)
dan menular paling mudah diobati dan dapat sembuh sem-
purna
(7)
.
Pada penderita juga belum dilakukan pemeriksaan uji tu-
berkulin. Uji tuberkulin kulit merupakan tes hipersensitivitas
(tipe 4) terhadap tuberkuloprotein
(12)
. Tetapi pemeriksaan uji
tuberkulin pada orang dewasa sensitivitasnya rendah, tidak mem-
punyai arti diagnostik
(7)
. Friedenwald et al
(13)
, juga menyatakan
bahwareaksi tuberkulin kulit bisa positif kuat, tetapi korelasinya
sedikit. Bukan hanya reaksinya positif kuat walau tanpa ada
uveitis, tetapi juga bisa positif lemah atau negatif walau pada
tuberkulosis aktif.
Pemeriksaan lain untuk diagnosis penyakit tuberkulosis,
tetapi juga belum dikerjakan pada kasus ini antara lain: tes
Takahashi, uji peroksidase anti peroksidase (PAP), Uji enzyme
immunoassay (EIA), bahkan akhir-akhir ini dikembangkan de-
teksi M. tuberkulosis dengan metode polymerase chain reaction
(PCR). Tes Takahashi merupakan perkembangan pemeriksaan
serologik untuk penyakit tuberkulosis. Antibodi anti phos-
phatide dapat ditunjukkan dengan reaksi phosphatide kaolin
agglutination test atau tes Takahashi. Kriteria diagnostik bila
titernya 1/32
(14)
. Uji peroksidase anti peroksidase (PAP) merupa-
kan uji serologis untuk menentukan adanya IgG imunospesifik
terhadap Mikobakterium tuberkulosis. Uji ini bukan hanya se-
bagai sarana diagnostik dan penyakit tuberkulosis paru maupun
tuberkulosis di luar paru, namun juga sebagai sarana memantau
hasil pengobatan. Uji PAP-TB yang positif umumnya 96%
menyatakan penderita sedang menderita tuberkulosis, kambuh
atau baru sembuh yang kurang dari 3 bulan
(15)
. Pemeriksaan IgG
anti TB juga dapat dilakukan dengan metode Enzyme Immuno-
assay (EIA) dan antigen M. tuberkulosis yang murni. Sensitivi-
tas sekitar 80% sedangkan spesifisitasnya 100%
(16)
. Penggunaan
deteksi M. tuberkulosis dengan polymerase chain reaction
(PCR) merupakan cara deteksi yang lebih cepat, dengan spesi-
fisitas 74­100%. Pemeriksaan PCR ini berdasar pengenalan
urutan DNA oligonucleotide primers yang dipasangkan dengan
rangkaian lawannya, kemudian dilakukan amplifikasi DNA (di-
copy secara mu1tipel)
(18)
.
Tuberkulosis pada mata yang kronis untuk diagnosisnya
dapat dari pemeriksaan klinis dan histo1ogis
(13)
. Diagnosis Minis
yang menganah tuberkulosis mata kronis yaitu adanya radang
granulomatosa kronik dan tidak ada penyebab lain selain tuber-
kulosis. Hal ini sesuai dengan yang terdapat pada mata kiri
penderita. Tiga bentuk utama tuberkulosis mata kronis adalah:
1. tuberkulosis mata anterior kronis; 2. tuberkulosis koroiditis;
3. tuberkulosis flebitis retina1is
(13)
. Kim et al
(18)
menyatakan
manifestasi tuberkulosis pada mata sebagai uveitis anterior kro-
nik atau koroiditis yang menyebar. Pada kasus ini manifestasi
yang dijumpai berupa uveitis anterior.
Padapemeriksaan histologis terdapat tuberkel pada jaringan
mata, akumulasi sel epiteloid, dari sel raksasa yang dikelilingi
oleh infiltrasi limfosit. Pembuktian adanya kuman tuberkulosis
pada jaringan mata sangat sulit
(13)
. Smith & Nozik
(19)
juga me-
nyatakan bahwa pada pemeriksaan histologis nodul pada kon-
jungtiva, iris, koroid, retina atau saraf optikus didapatkan tuber-
kel yang dikelilingi sel mononuklear.
Tuberkulosis bisa mengenai berbagai bagian dan mata.
Radang dapat menyeluruh mengenai semua bagian mata.
Korioretinitis dan uveitis merupakan manifestasi yang sering.
Diagnosis tuberkulosis pada mata sulit ditentukan, dan sebagian
besar diagnosis merupakan dugaan, kecuali keratitis fliktenu-
lanis. Hal ini juga sesuai dengan penjelasan Kim et al
(18)
bahwa
diagnosis uveitis tuberkulosis hampir selalu dengan dugaan,
karena pemeriksaan jaringan mata tidak praktis. Diagnosis pe-
nyakit tersebut dibuat dengan berdasarkan kepada kronisitas
penyakit, mengeksklusi diagnosis lain, kegagalan terapi dengan
anti inflamasi konvensional dan adanya respons terhadap peng-
obatan dengan anti tuberkulosis. Pada kasus ini belum dilakukan
pemeriksaan histologis, karena pemeriksaan ini invasif.
Tuberkulosis dapat mengenai mata lewat beberapa jalan.
Granuloma konjungtiva tuberkulosis disebabkan sindrom
okuloglandular Perinauds; konjungtivitis dan keratitis fliktenu-
lanis akibat reaksi hipersensitif terhadap tuberkuloprotein; dan
inidosiklitis tuberkulosms dengan atau tanpa lesi pada kornea
(20)
.
Pada kasus dengan gej ala tuberkulosis sistemik perlu dikon-
sultasikąn untuk mendapat pengobatan yang cukup. Dianjurkan
pemberian isoniazid 400 mg per hari ditambah ethambutol 750
mg atau nifampisin 600 mg per hari, selama 1 tahun atau lebih
dengan tambahan vitamin B6 25­50mg per hari. Kortikosteroid
diperlukan untuk mengomtrol peradangan pada mata yang be-
rat
(19,20)
. Pengobatan tuberkulosis masa kini menggunakan obat
yang bersifat bakterisid yaitu isoniazid, nifampisin, pirazinamid,
streptomisin dan satu obat yang bersifat bakteriostatik yang
sering digunakan adalah ethambutol
(21)
.
Hasil pengobatan paduanjangka pendek ternyata lebih efek
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997 35
background image
tif daripada paduan obat jangka panjang, disebabkan karena
besarnya putus berobat dan kegagalan berobat
(22)
. Penderita
sudah mendapat gabungan obat jangka pendek, tetapi ternyata
tak dapat terlaksana dengan baik, karena penderita tidak kontrol
secara rutin. Penyebab kegagalan pengobatan tuberkulosis di
antaranya ketidakpatuhan penderita untuk kontrol dan adanya
infeksi virus pada penderita defesiensi imun
(21)
.
Pada saat ini banyak dilaporkan peningkatan kejadian resis-
tensi obat terhadap tuberku1osis
(24)
. Kim et al
(18)
melaporkan
seorang penderita korioretinitis tuberkulosis yang resisten ter-
hadap pengobatan isoniazid dan rifamisin yang diberikan sebe-
lumnya. Mekanisme resistensi ini bervariasi, mungkin disebab
kan karena pengobatan yang tidak kengkap atau akibat penderita
tidak patuh terhadap pengobatan yang diberikan. Setiap dokter
harus faham betul tentang terapi rasional tuberkulosis paru dan
selalu mengusahakan agar penderita tetap patuh mengikuti peng-
obatannya dengan tertib dan tidak putus di tengah jalan
(25)
.
Prinsip pengobatan uveitis adalah: a. menekan peradangan;
b. mengeliminir agen penyebab; c. menghindari efek samping
obat-obat yang merugikan pada mata dan organ tubuh di luar
mata. Obat-obat non spesifik antara lain : midriatik-sikioplegik,
kortikosteroid, imunosupresan. Penderita mendapat terapi ho-
matropin. Homatropin dipakai sebagai sikioplegik karena iris
akan tetap dapat berkontraksi supaya tidak terjadi sinekla poste-
rior
(9)
. Pengobatan uveitis anterior dengan steroid dan midriatik
sikloplegik lokal adalah paling logis dan efektif.
Respons tuberkulosis pada mata dengan kemoterapi baku
tuberkulosis adalah baik
(1,4)
. Pengobatan uveitis granulomatosa
tergantung pada penyebabnya
(1)
. Pupil perlu dibuat midriasis
dengan atropin, prognosis visusnya baik. Pengobatan tuberkulo-
sis pada mata ada dua prinsip yaitu non spesifik dan spesifik
(5)
.
Cara pengobatan non spesifik di antaranya: a. cara umum
dengan meninggikan resistensi terhadap penyakiti/kesehatan
umum; b. cara topikal dengan mencegah komplikasi antara lain
dengan pemberian sikoplegia untuk memberi istirahat dan
mencegah sinekla posterior, pemberian midriatikum untuk
mengurangi sinekla posterior; c. cara oral dengan pemberian
kortikosteroid dan anti metabolik inimunosupresif, namun efek
samping obat ini besar. Pengobatan spesifik yaitu pengobatan
anti tuberkulosis, dalam pengobatan perlu dipikirkan efisiensi,
toksisitas, akseptabilitas dan daya beli penderita
(5)
.
Penderita juga mendapat pengobatan kortikosteroid, yang
di samping penggunaannya secara umum, pada penyakit mata
terutama pada kasus uveitis sering digunakan
(19)
. Pada uveitis
preparat kortikosteroid merupakan salah satu terapi non spesifik
yang dianjurkan.
Tuberkulosis pada mata dapat menyebabkan komplikasi
glaukoma sekunder, katarak, ablasi retina, atropi optik, dan
hilangnya fungsi makula akibat scar korioretina pada area
makula
(19)
. Komplikasi-komplikasi tersebut belum terjadi pada
penderita. Prognosis pada umumnya baik bila diagnosisnya dini
dan struktur intraokular yang penting seperti makula dan saraf
optikus tidak mengalami kerusakan permanen akibat radang
(19)
.
KESIMPULAN
Telah dilaporkan seorang penderita dengan uveitis granulo-
matosa pada mata kiri dengan penyebab ke arah tuberkulosis.
Penderita didiagnosis tuberkulosis paru di bagian dalam, sudah
mendapat obat-obatan yang baik, tetapi penderita kontrol tidak
teratur.
Diagnosis tuberkulosis paru berdasarkan riwayat penyakit,
pemeriksaan klinis dan laboratorium dari pemeriksaan radiologi.
Dasar diagnosis uveitis tuberkulosis berdasarkan kepada kronisi
tas penyakit, gambaran klinis, mengeksklusi diagnosis lain, dan
adanya respons terhadap pengobatan dengan antituberkulosis.
Pada penderita belum dilakukan pemeriksaan histologis, karena
invasif. Setelah mendapat terapi antituberkulosis dan obat-obat
untuk uveitis, penderita mengalami perbaikan.
KEPUSTAKAAN
1. Schroeder SA, Krupp MA, Tiemey LM. Current Medical Diagnosis &
Treatment. Appleton & Lange, Connecticut: 1988; pp. 101­2.
2. Kanski JJ. Clinical Opthalmology. A Systematic Approach. London,
Butterworth-Heinemann, 1989; 2nd ed. chap. 6, pp. 135­80.
3. Ayanru JO. The problem of uveitis in Bendle State of Nigeria : experience
in Benin City. Br. J. Opthlamol. 1977; 61: 655
4. Aditama TY. Pola dan kecenderungan berobat penderita tuberkulosis paru.
CDK 1990; 63: 17­9.
5. Chambali, Ginting AM. Uveitis Tuberkulosis. Transaction ­ Kongres
PERDAMI IV, Medan; Februari 1980.
6. Char DH, Schlaegel TF. General factors in uveitis. Dalam: Duane TD,
Jaeger EA (eds.): Clinical Ophthalmology. Philadelphia: Harper & Row
Publisher, 1987; Vol. 4, Chap. 39, pp. 1­7.
7. Nawas A. Diagnosis tuberkulosis paru. CDK 1990; 63: 13­6.
8. Sumantri ES. Pengobatan tuberkulosis ekstra paru. MDK 1990; 9(3):
8­11.
9. Wilson FM. Intraocular Inflamation, Uveitis, and Ocular Tumors. San
Francisco, American Academy of Ophthalmology, 1990; Sec. 3, pp.
77­141.
10. Daniel TM. Tuberculosis. Dalam: Braunwald EK, lsselbacheri, Petersdorf
RG, Wilson JD, Martin JB, Fauci AS (eds.) : Harrison's Principle of Internal
Medicine. New York: McGraw-Hill Book Company, 1987; 1 ltd ed. Chap
119, pp. 625­33.
11. Mangunnegoro H. Peranan praktis diagnosis dan penatalaksanaan TBparu.
Ramicin Medinfo. 1993; 1: 4­5.
12. Liam CK. Update on tuberculosis and its treatment. Medicine Digest.
1994; 3: 8­18.
13. Friedenwald JS, WilderHC, Maumenee AE, Sanders TE, Keyes JE, Hogan
MJ, Owens WC. Ophthlamic Pathology: an Atlas and Textbook. Phila-
delphia: WB. Saunders Company, 1952; Chap. 7. pp 112­59.
14. HisyamB. Efusi Pleura. Bagian llmuPenyakitDalamFK-UGMYogyakarta,
1982.
15. Handojo 1. Pola perubahan titer uj PAP-TB pada penderita tuberkulosis
paru yang mengalami penyembuhan. Dexa Medica. 1994; 2: 2­5.
16. Muliaty D. Serodiagnostik tuberkulosis. Informasi Laboratorium Prodia.
1994; 4: 1­2.
17. Marie-Elise G. Tuberculosis and Leprosy: Molecular approaches to
diagnosis. Academisch Proefschrift, Amsterdam, 1995.
18. Kim JY, Carml CP, Opremcak EM. Antibiotic-resistant tuberculous choroidi-
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997
36
background image
tis. Am. J. Opththalmol. 1993; 115(2): 259­61.
22. Kusnindar. Masalah penyakit tuberkulosis dan pemberantasannya di
Indonesia. CDK 1990; 63: 8­12.
19. Smith RE, Nozik RA. Uveitis A Clinical Approach to Diagnosis and
Management. Baltimore, Williams & Wilkins, 1983; Chap. 26 & 42, pp.
120­4& 179­84.
23. Bellin E. Failure of tuberculosis control. A precription for change, JAMA.
1994; 271:708­9.
20. Suherman SK. 1981 Adrenokortikotropin, adrenokortikoid dan kortiko-
steroid sintetik dalam Gan S. (ed.): Farmakologi dan terapi. Bag. Farmako-
logi UI Jakarta, 1991; 2nd ed. pp. 558­77.
24. Snider DE, Jr. Cauthen GM, Farer LS, Kelly GD, Kilburn JO, Good RC
Dooley SW. Drug-resistant tuberculosis. Am. Rev. Respir. Dis. 1991; 144
732.
21. Suryatenggara W. Pengobatan tuberkulosis paru. CDK 1990; 63: 25­8.
25. Mukty HA. Terapi rasional tuberkulosis paru. CDK 1990; 63: 20-8.
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997 37