Terapi Pembedahan Tumor Otak
Dr. Djoko Riadi
Bagian Bedah Saraf, Departemen Bedah RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta
PENDAHULUAN
Terapi pembedahan pada kasus-kasus tumor otak hanyalah
merupakan salah satu bentuk terapi. Terapi komprehensif ter-
hadap pasien tumor otak diberikan secara multimodalitas yang
terdiri atas :
1.
Terapi medikamentosa
2.
Terapi pembedahan
3.
Radioterapi
4.
Khemoterapi
5.
Hormoterapi
6.
Immunoterapi
7.
Terapi rehabilitasi.
Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu
pembedahan tumor otak; yaitu diagnosis yang tepat,seksama dan
rinci, perencanaan dan persiapan pra bedah yang lengkap, teknik
neuroanestesi yang baik, kecermatan dan ketrampilan dalam
operasi pengangkatan tumor serta perawatan pasea bedah yang
baik. Berbagai cara pendekatan dan teknik operasi dengan
menggunakan kemajuan teknologi seperti mikroskop, sinar
laser, ultrasound aspirator, bipolar coagulator dan realtime
ultra sound banyak membantu ahli bedah saraf dalam upaya
mengeluarkan masa tumor otak dengan aman.
DIAGNOSIS
Bagi seorang ahli bedah saraf diagnosis suatu tumor otak
haruslah lengkap dan mencakup beberapa informasi seperti
jcnis tumor, karakteristik, lokalisasi, batas-batasnya, hubung-
annya dengan sistim vcntrikel otak, vaskularisasinya dan hu-
bungannya dengan struktur vital otak misalnya sirkulus Wilisi,
hipotalamus dan lainnya.
Untuk itu diagnosis suatu tumor otak memerlukan berbagai
pemeriksaan diagnostik radiologis yang canggih baik yang in-
vasif maupun yang non invasif. Pemeriksaan diagnostik non
inyasif seperti Computerized Axial Tomography Seanning (CT
Sean) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) sangat mem-
bantu ahli bedah dalam melcngkapi informasi yang diperlukan.
Bila perlu pemeriksaan tersebut dapat diperjelas dengan pem-
berian zat kontras yang akan mempertegas batas-batas tumor,
karakteristik tumor dan adanya peningkatan vaskularisasinya.
MRI dapat lebih lengkap lagi memberikan gambaran tentang
lokalisasi dan batas-batas tumor dengan struktur otak vital ka-
rena proyeksi potongan dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan.
Pemeriksaan diagnostik invasif yang sampai kini masih sering
dilakukan untuk kasus tumor otak adalah angiografi karotis dan
vertebralis. Dengan angiografi serebral berbagai informasi
tentang sistim pendarahan tumor, dan hubungannya dengan
pembuluh darah sirkulus Wilisi serta cabang-cabangnya dapat
diketahui dan diperkirakan lokasinya. Bila perlu, untuk tumor
otak yang sangat vaskuler dapat dilakukan embolisasi pra
bedah sehingga kelak operasi pengangkatan masa tumornya
menjadi lebih mudah. Di samping itu dengan angiografi dapat
pula diketahui hubungan masa tumor dengan sistim vcna otak
dan sinus duramatrisnya yang vital itu. Beberapa pemeriksaan
invasif lain seperti pneumocnsefalografi, ventrikulografi dan
sisternografi sudah sangat jarang dikerjakan karena dapat di-
gantikan oleh CT Sean atau MRI.
PERTIMBANGAN RASIONAL TERAPI PEMBEDAHAN
Sano, menggambarkan dalam grafik hubungan antara
jumlah sel tumor, waktu, tindakan pembedahan dan terapi
Dibacakan pada Simposium Tumor Otak, RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, 30
Juli 1991.
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992
30
adjuvant lainnya (Gambar 1). Pada tumor otak jenis glioma,
tindakan operatif kraniotomi tidak mungkin mengeluarkan se-
luruh masa tumor secara total. Biasanya jumlah set tumor yang
dapat dikeluarkan dalam suatu operasi "hampir total", hanya
dapat mengurangi jumlah set tumor sampai 3 log raja. Sebagai
contoh bila masa tumor sebelum operasi adalah 100 gram (10
11
)
reseksi tumor dapat menurunkan jumlah sel sampai 1 gram (10
9
).
Dengan radioterapi diharapkan jumlah sel akan berkurang lagi
dengan 3 log, demikian pula dengan tindakan khcmoterapi dan
immuniterapi. Tindakan operatif mengeluarkan masa tumor
sebanyak mungkin ini sangat membantu efektifitas terapi
adjuvant.
Gambar 1. Hubungan antara terapi multimodalitas dan jumlah sel tumor
Pertimbangan rasional dalam menentukan tindakan terapi
pembedahan untuk tumor otak bergantung pada berbagai faktor,
namun pada prinsipnya didasarkan pada tujuan untuk memper-
baiki kualitas hidup dan memperpanjang survival pasien. Pada
tumor otak misalnya jenis neurocpitelial (glioma) yang umum-
nya maligna, tindakan operatif tidak mungkin mengcluarkan
seluruh masa tumor, karenanya dasar pertimbangan tindakan
operatif adalah :
1.
Diagnosis histopatologi untuk menentukan terapi adjuvant
yang optimal dan prognosis yang akurat.
2.
Memperbaiki kondisi neurologis pasien secara paliatif
dengan mengeluarkan sebanyak mungkin masa tumor sehingga
tekanan intrakranial menjadi normal dan kembalinya fungsi-
fungsi neurologis yang semula tertekan oleh masa tumor.
3.
Membantu meningkatkan efektifitas terapi adjuvant.
Dengan tindakan operatif, sel-sel tumor yang resisten terhadap
terapi adjuvant dapat dikeluarkan, masa tumor mengecil se-
hingga penetrasi obat-obat khemoterapeutika lebih mudah, ter-
jadi perubahan lase siklus set tumor menjadi fase yang sensitif
terhadap radioterapi dan khemoterapi.
Pertimbangan rasional dalam menentukan tindakan terapi
pembedahan pada kasus tumor otak yang diperkirakan jinak
seperti meningioma tidaklah sulit, namun sebaliknya path tu-
mor-tumor otak metastasis pertimbangan itu menjadi sangat
kompleks. Keputusan untuk melakukan tindakan operatif pada
kasus tumor otak hendaknya berdasarkan pertimbangan rasional
berpaduan faktor-faktor tumor dan faktor-faktor host/pasien
(Gambar 2).
Gambar 2. Skema pola pertimbangan terapi pembedahan pada tumor
otak.
a. Faktor-faktor tumor
Dengan anamnesis dan pemeriksaan klinis yang seksama
dibantu dengan pemeriksaan diagnostik radiologis seperli CT
Scan, MRI dan Angiografi maka seorang ahli bedah sudah dapat
memperkirakan jcnis tumor otak dari pasiennya, apakah tumor
otak primer atau tumor otak metastasis. Hal ini sangat penting
karena pola penatalaksanaan kedua tumor ini sangat berbeda.
Bila tumor otak primer maka tahap berikutnya adalah me-
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992 31
ncntukan karakteristik tumor apakah benigna atau maligna.
Tindakan operatif untuk mengcluarkan masa tumor sebanyak
mungkin jelas akan banyak memperbaiki kondisi otak pasien
karena menurunkan tekanan intrakranial, kemungkinan herniasi
otak semakin kecil dan defisit ncurologis akan membaik serta
akan meningkatkan cfektifitas terapi adjuvant yang kelak diberi-
kan.
Pertimbangan yang terpenting di sini adalah resektabilitas
tumor, yaitu penilaian seberapa jauh dan seberapa banyak masa
tumor dapat dikeluarkan tanpa menimbulkan kerusakan atau
gangguan tambahan terhadap struktur di sekitar masa tumor.
Informasi yang akurat tentang lokalisasi tumor, ukurannya,
hubungannya dengan struktur otak vital dan sistim vaskulari-
sasinya dapat menjawab perkiraan resektabilitas nama tumor
tersebut.
Di samping itu teknik operasi dan cara pendckatan
(approach) ke masa tumor juga berperanan dalam menentukan
resektabilitas tumor. Sebagai contoh tumor hipofisis dengan
ekstensi ke suprasellcr, melekat pada hipotalamus dan lamina
terminalis dan menckan chiasma optikum. Operasi tumor ini
akan aman bila dilakukan dengan bantuan mikroskop operasi
dan alat-alat mikrooperasi serta approach yang tepat (fronto
lateral subfrontal atau pterional) sehingga seluruh masa tumor
dapat dikeluarkan tanpa menimbulkan dcfisit neurologis tam-
bahan.
b. Faktor-faktor host
Faktor-faktor yang sudah ada pada pasien akan mem-
pengaruhi keberhasilan suatu operasi tumor otak. Faktor-faktor
itu adalah status neurologis, usia dan kondisi umum pasien.
Kondisi umum pasien dapat dinilai dengan Karnofsky Per-
formance Seale. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi risiko
anestesi dan operasi. Dan hal ini memerlukan bantuan pertim-
bangan dari berbagai disiplin ilmu kedokteran lain secara
komprehensif.
Pertimbangan tindakan terapi multimodalitas pada tumor
otak metastasis, termasuk terapi pembedahannya sangatlah
komplcks dan sampai kinipun masih merupakan subyek kon-
troversi di kalangan ahli bedah saraf maupun ahli-ahli di bidang
lainnya. Berbagai pertanyaan akan timbul dalam penatalaksana-
an tumor otak metastasis, seperti :
1.
Apakah tumor tersebut soliter atau multipel ?
2.
Apakah tumor primer telah diketahui ?
3.
Bagaimana status patologis dan status biologisnya ?
4.
Apakah masih perlu direncanakan terapi adjuvant ?
5.
Di mana lokalisasi tumor ?, Apakah masa tumor dapat
diangkat tanpa mengakibatkan cacad neurologis iatrogenik ?
6.
Apakah sudah ada penycbaran sistemik ?
7.
Berapa kemungkinan hidup pasien dengan atau tanpa
tindakan operatif ?
8.
Bagaimana risiko operasi/anestesi pada pasien tersebut ?
9.
Bagaimana pertimbangan kode etik kedokteran ?
Berbagai pertanyaan lain dapat dilontarkan dalam penata-
laksanaan tumor metastasis ini dan relatif tergantung pada filosofi
masing-masing ahli dalam tumor board di pusat pelayanan itu.
ALTERNATIF TINDAKAN PEMBEDAHAN
1.
DEkomprEsi cksterna.
Terapi ini telah lama ditinggalkan. Pertama kali diilustra-
sikan oleh Victor Horsley yaitu tindakan kranicktomi dengan
membuang tulang di dekat masa tumor sehingga masa tumor dan
isi rongga tengkorak menonjol keluar melalui defek tulang tadi.
Dahulu operasi ini hanya dilakukan pada tumor-tumor glioma.
2.
Biopsi stereotaksi.
3.
Kraniotomi dan dekompresi interns.
Tindakan mengeluarkan seluruh masa tumor sampai tampak
batas jaringan otak normal.
4.
Kraniotomi, Lobektomi.
Tindakan mengcluarkan seluruh masa tumor dan jaringan
otak normal sekitar tumor (silent area).
Terapi pembedahan akan berlangsung sesuai dengan ha-
rapan bila perencanaan dipersiapkan dengan seksama yang
mencakup :
a.
Pemeriksaan pre operatif.
b.
Persiapan anestesi dan teknik neuroanestesi.
c.
Persiapan infra operatif.
d.
Perawatan pasea bedah.
Namun demikian kita harus menyadari bahwa masih banyak
faktor yang membatasi kemampuan seorang ahli bedah saraf
dalam melakukan tindakan terapi pembedahan pada tumor-
tumor otak. Lokalisasi masa tumor yang dalam dan berdekatan
dengan bagian vital otak seperl.i hipotalamus, batang otak dan
lainnya, karakteristik tumor yang sangat ganas, fasilitas peralat-
an operasi dan pengalaman serta ketrampilan ahli bedah sendiri
tidak jarang masih merupakan kendala.
Terapi pembedahan pada tumor otak terutama tumor jenis
gtioma dan tumor maligna hanyalah salah satu bentuk terapi,
masih banyak modalitas terapi lain seperti khemoterapi, radio-
terapi, brachiterapi dan immunoterapi dengan interferon, yang
kesemuanya diperlukan secara bersama-sama dalam memper-
baiki kualitas hidup pasien dan penyembuhannya.
KEPUSTAKAAN
1.
Apuzzo MU. Innovative approaches in the management of cerebral ma-
lignant gliomas, Proc Annual Congr Japan Neurosurgical Society, 1984.
2.
Nakamura 0, Maruo K, Uezama Y, Takakura K. Interactions of human
fibroblast interferon with, chemotherapeutic agents and radiation against
human gliomas in nude mice. Neurological Researeh 1986; 8: 152-6.
3.
Sano K. Integrative treatment of gliomas, Clin. Neurosurg. 1983; 30: 93-
124.
4.
Selker RG. Intracranial metastatic disease : Devclopmenttal of surgical
philosophy. In: Long DM. (Ed.), Current Therapy in Neurological Surgery
2, Toronto: BE. Decker Inc., 1989, 546.
5.
Sudiharto P. Dasar-dasar pembedahan tumor otak, Kumpulan makalah
P.I.T. IKABSI 1990, 49-61.
6.
Walters CL. Surgical management of intracranial gliomas. In: Sehmidek
1111, Sweet Wit. (Eds.) Operative Neurosurgical Techniques, vol. 1, New
York: Gnine & Stratton, 1982, 447-80.
7.
Wilson CB, Harsh IV GR. Neuroepithclial tumors of the adult brain. In:
Youmans JR. (Ed.). Neurological Surgery, vol. 5, 3rd, ed., Philadelphia:
W.B. Saunders, 1990, 3040-3136.
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992
32