background image
HASIL PENELITIAN
Sigi Status Gizi Balita
dari Beberapa Faktor yang Berpengaruh
di Desa Tertinggal Alur Bandung
Kalimantan Barat
Dr. Joni Wahyuhadi
Kepala Puskesmas Teluk Batang, Kabu ten Ketapang, Kalimantan Barat
pa
ABSTR
be
n
a
d
tamat Sekolah Dasar. Beban keluarga m
anak 3 ­ 5 orang dan 10,6% memiliki anak hidup
ur
nanga
ndala
dalam meningkatkan statu
al Alur Bandung khususnya dan
desa-desa tertinggal lainnya.
AK
berapa faktor yang berpengaruh di desa
Suatu sigi terhadap masalah gizi balita dan
tertinggal atau desa miskin desa Alur Bandu
tinggi badan. Sigi dilakukan terhadap 142 balita
menunjukkan 14,1% dan 7,7% dari balita m
buruk; 80,3% pendapatan keluarga berasal
tidak
g menggunakan indek berat badan terhadap
yang ada di desa Alur Bandung. Hasil
sing-masing menderitagizi kurang dan gizi
pertanian tradisional, 64,8% ibu balita
ari
asih cukup tinggi, 41,5% keluarga memiliki
6 ­ 8 orang.
Status gizi balita di desa tertinggal Al
kan langkah-Iangkah yang tepat dalam me
Bandung masih sangat rendah dan diperlu-
ni faktor-faktor yang menjadi ke
s gizi balita di desa tertingg
PENDAHULUAN
Tujuan program perbaikan giz
m nurunkan angka gizi kurang ya
derita masyarakat dengan penghasilan rendah yang terutama
p a balita dan wanita. Sampai awal Repelita V masih terdapat
10,8% balita Indones
Puskesmas adala
W
d
g
K
g
b
b
p rawan gizi di desa miskin khususnya balita dapat terhindar
ari masalah kekurangan gizi.
a pada desa tertinggal dan be-
hi.
2) Sebagai Iangkah awal sistim kewaspadaan pangan dan gizi
dalam menyusun strategi penanggulangan masalah gizi pada
eluk Batang.
tertinggal Alur Bandung yang
esa 669 ha, jumlah pendu-
12 KK. Sasaran sigi adalah
bagian balita mengikuti
ukim sementara di ladang yang tidak
yang berjumlah 218,
ukan di desa tersebut dan di-
lakukan pengukuran.
Pengukuran panjang badan atau tinggi badan dan berat ba-
i dalam Repelita Lima adalah
ng pada umumnya banyak di-
TUJUAN
1) Mengetahui status gizi balit
berapa faktor yang mempengaru
e
ad
ia menderita gizi kurang dan gizi buruk.
h merupakan unit kerja terdepan di daerah.
desa tertinggal di wilayah kerja Puskesmas T
ilayah binaan Pusk
ua di antaranya dikategorikan sebagai desa miskin atau terting-
AHAN DAN CARA KERJA
Penelitian dilakukan di desa
esmas Teluk Batang terdiri dari enam desa,
B
al, masing-masing Desa Alur Bandung dan Desa Mas Bangun.
berjarak 6 km dan puskesm
ondisi desa miskin tentunya akan sangat mempengaruhi status
as. Luas d
duk tercatat 2025 jiwa, terdiri dari 4
izi masyarakat khususnya pada kelompok rawan gizi yaitu seluruh balita di desa. Namun karena se
alita.
orang tuanya untuk berm
Sigi ini merupakan usaha untuk mengetahui kondisi gizi terjangkau, maka dari perkiraan balita
alita di desa miskin dan upaya rnengatasinya, sehingga kelom-
hanya 142 balita yang dapat ditem
ok
d
Cermin Dunia Kedokteran No. 103, 1995
30
background image
dan dilakukan dengan menggunakan alat yang sama bagi seluruh
akan indek tinggi badan dan berat
atus gizi adalah metodanya yang
udah, sederhana; sebagian besar orang tua balita tidak meng-
at lagi tanggal lahir anaknya. O
gizi berdasarkan indek berat ba
kesul
S
hasil
kriteria, apabila t
dari berat badan s
berat badan standar ada!ah gizi kurang
80% berat badan standar adalah gizi bu
Faktor yang mempengaruhi kondisi gizi balita pa
miskin kami bagi dalam tiga keadaa
) Pekerjaan orang tua bal
Hal ini dapat menggambarkan pendapatan keluarga. Petani
adisional dengan sistim ladang berpindah adalah bentuk
ertanian yang ada di desa Alur Bandung. Nelayan tradisi-
ional dengan peralatan yang sangat sederhana juga merupakan
entuk kegiatan nelayan di desa tertinggal tersebut. Oleh ka-
nanya pendapatan dari dua mata pencaharian tersebut dapat
enggambarkan pendapatan keluarga.
) Pendidikan formal orang tua, khususnya ibu balita d
sebagai gambaran pengetahuan dan tingkat penyerapan i
masi yang telah diberikan
dalam mengasuh bal
3) Jumlah anak da
dan menjadi tanggu
keluarga dan perhati
nya.
Sigi dilakukan
dan ibu balita di bala
tidak datang dilakuk
HASIL DAN PEM
Hasil sigi kami saji
.
Hasil sigi menunjukkan bahwa status gizi di daerah ter-
nggal Alur Bandung, masih lebih buruk dibandingkan dengan
onesia rata-rata pada awal Repelita V yaitu
yang
ndisi yang digambarkan dalam hasil sigi jelas memerlu-
Tabel 1. Status gizi balita di desa tertinggal Alur Bandung berdasar Indek
Tinggi badan dan berat badan, Juli 1993
Nomor Status
Gizi Prosentase
balita. Pertimbangan menggun
adan dalam menentukan st
b
m
ing
Ieh karena itu penentuan status
dan dan umur akan mengalami
itan.
etelah pengukuran dan mencatat data yang diperlukan,
nya dikelompokkan menjadi tiga jenis st gizi dengan
inggi badan terhadap berat badan 90% s/d 110%
tandar adalah gizi normal (N), 80% s/d 90% dari
(K) dan bila kurang dari
ruk (B).
da daerah
n yaitu:
ita
1
tr
p
s
b
re
m
2
apat
nfor-
tentang masalah kesehatan khususnya
ita.
lam keluarga khususnya anak yang hidup
ngan keluarga akan menggambarkan beban
an orang tua terhadap perkembangan balita-
dengan cara mengumpulkan seluruh balita
i desa pada bulan Juli 1993, bagi balita yang
an kunjungan rumah.
BAHASAN
kan dalam bentuk tabel-tabel
ti
kondisi gizi balita Ind
masih terdapatnya 14,1% balita dengan gizi kurang dari 7,7%
balita dengan gizi buruk. Pendapatan keluarga 80,3% bersumber
dari pertanian menggambarkan rendahnya pendapatan mereka.
Pendidikan yang masih sangat rendah 64,8% ibu balita tidak
tamat SD dan beban keluarga dapat merupakan faktor kendala
mengakibatkan buruknya kondisi gizi balita. Besan pe-
ngaruh tiga faktor tersebut terhadap status gizi balita masih
memerlukan penelitian yang lebih mendalam. Sanitasi ling-
kungan yang masih buruk dan masih tingginya angka kesakitan
penyakit menular pada desa miskin, jelas merupakan faktor-
faktor yang penlu diperhatikan.
Ko
kan intervensi yang tepat dan sistematis serta terpadu dalam
1.
2.
3.
Normal (N)
Kurang (K)
Buruk (B)
78,2 %
14,1 %
7,7 %
Tabel 2. Pekerjaan orang tua balita di desa tertinggal Alur Bandung,
1993
Nomor Macam
Pekerjaan
Juli
Prosentase
1.
2.
3.
Petani
Nelaya
Dagang
4.
n
/swasta
Pegawai negeri
80,3 %
14,8 %
4,2 %
0,7 %
Tabel 3. Pendidikan Orang Tua Balita (Ibu Balit
Bandung,
Juli
1993
a) di desa tertinggal Alur
Nomor Macam
Pendidikan Prosentase
1.
2.
3.
4.
Tidak tamat SD
Tamat SD
Tamat SUP
Tamat SLTA
64,8 %
31 %
2,1 %
2,1 %
Tabel 4. Jumlah Keluarga dengan Anak Hidup di desa tertinggal Alur
Bandung,
Juli
1993
mor
Jumlah Anak Hidup
Prosentase
No
1.
2.
3.
4.
0 - 2 orang
3- 5orang
6 - 8 orang
9 - I 1 orang
45,1
41,5
10,6%
2,8%
upaya menangani masalah gizi di desa tentin
khususnya dari d
ggal Alur Bandung
esa-desa tertinggal lainnya.
ung masih buruk ­
14,1% dan 7,7% dan balita masing-masin berstatus Gizi Ku-
rang dan Gizi Buruk.
2) Pendidikan ibu balita masih sangat rendah ­ 64,8% tidak
tamat SD. Beban keluanga yang masih tinggi serta penghasilan
ma dari pertanian tnadisional (80,3%) akan menjadi-
sis-
matis dan terpadu dalam meningkatkan dan menggali potensi-
KESIMPULAN
1) Gizi balita di desa tertinggal Alur Band
g
yang teruta
kan masalah gizi benlarut-lanut apabila tidak ditanggulangi se-
segera mungkin.
3) Diperlukan langkah-langkah yang tepat dengan upaya pe-
ningkatan UPGK lintas sektonal antara Pemenintah Daerah, sektor
Kesehatan, sektor Pertanian dan sektor Pendidikan, secana
te
potensi desa.
KEPUSTAKAAN
1. Departemen Kesehatan RI, Pedoman Kerja Puskesmas Jilid 11, Jakarta tahun
1989/90; seksi 5.
2. Direktorat Jendral Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Direktorat Bina Ke-
sehatan Keluarga, Depkes RI, Jakarta, 1992; p. 1­14.
Cermin Dunia Kedokteran No. 103, 1995 31