background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Refluks Esofagitis
Muljadi Hartono
Dokter PTT Puskesmas Kunduran, Kabupaten Blora, Jawa Tengah
ABSTRAK
Refluks esofagitis adalah inflamasi mukosa esofagus akibat refluks. Penyakit ini
merupakan penyebab lazim gejala saluran cerna bagian atas, yakni heartburn dan
regurgitasi. Perkembangan refluks esofagitis menggambarkan ketidakseimbangan an-
tara mekanisme anti refluks esofagus dengan kondisi lambung. Anamnesis adalah
faktor tunggal yang sangat berguna dalam diagnosis refluks esofagitis. Pemeriksaan
khusus hendaknya dilakukan bila gejala tidak spesifik atau tetap muncul setelah
diterapi. Tujuan terapi adalah mengendalikan gejala dan menyembuhkan kerusakan
mukosa. Sangatlah berguna untuk mempertimbangkan terapi dalam tiga tahap:
perubahan gaya hidup, medikamentosa dan pembedahan. Komplikasi lokal utama
refluks esofagitis adalah perdarahan, ulkus, formasi striktur dan terbentuknya
epithelium Barrett.
PENDAHULUAN
Refluks esofagitis merupakan kerusakan mukosa esofagus
yang diakibatkan oleh refluks cairan lambung ke dalam
esofagus
(1)
. Refluks esofagitis sering dijumpai dalam kehidupan
masyarakat sehari-hari; sekitar 36% dari populasi pernah meng-
alami sedikitnya satu serangan dalam satu bulan dan 7% di
antaranya mengeluhkan tiap hari
(2,3)
.
Refluks esofagitis mempunyai implikasi klinis yang cukup
penting karena kronisitas gejala yang ditimbulkan serta be-
ragamnya komplikasi yang dapat muncul
(1)
.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai patofisiologi,
gejala yang ditimbulkan, diagnosis serta penatalaksanaannya.
PATOFISIOLOGI
Terjadinya refluks esofagitis merupakan titik temu dari
kondisi lambung serta mekanisme anti refluks dari esofagus
bagian bawah
(2-4)
; refluks terjadi manakala tidak ada kese-
imbangan antara mekanisme anti refluks esofagus dan kondisi
lambung
(3,5)
. Mekanisme anti refluks esofagus terletak pada
sfingter esofagus bagian bawah (SEB); sedangkan kondisi lam-
bung yang memungkinkan terjadinya refluks adalah: peningkat-
an volume lambung seperti setelah makan; lambatnya pe-
ngosongan lambung; peningkatan tekanan dalam lambung
seperti pada obesitas, kehamilan, ascites
(2-5)
.
Esofagus secara anatomis dibatasi kedua ujungnya dengan
suatu sfingter. Sfingter krikofaringeus adalah sfingter bagian
atas yang membatasi esofagus dengan farinks; fungsi utamanya
adalah mencegah masuknya udara ke esofagus sewaktu me-
narik nafas, sedangkan bagian bawah adalah sfingter esofagus
bawah (SEB). Ia berfungsi menghalangi refluks cairan lambung
masuk ke esofagus. SEB merupakan otot sirkular yang terletak
di bagian bawah esofagus, tepatnya sekitar 5 cm di atas per-
batasan dengan lambung
(5)
.
Secara anatomis sfingter ini tidak berbeda dari bagian eso-
fagus lainnya. Akan tetapi, secara fisiologis sfingter ini bersifat
tonis; berbeda dengan bagian tengah esofagus yang dalam ke-
adaan normal senantiasa relaksasi
(4,5)
. Pada saat terjadi gerakan
peristaltik menelan, maka terjadi pelemasan sfingter otot se-
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000 33
background image
belum gerakan peristaltik timbul. Dengan keadaan ini makanan
yang ditelan dimungkinkan untuk didorong dengan mudah
masuk ke lambung
(4)
.
Banyak penderita refluks memiliki tekanan SEB yang
rendah dibanding populasi sehat
(4,5)
dengan berbagai kemung-
kinan penyebab (TabeI 1). Beberapa penderita memiliki tekan-
an SEB normal, namun kemampuan relaksasi sfingter menurun
sehingga memungkinkan terjadinya refluks
(4)
.
Tabel 1. Penyebab menurunnya tekanan SEB
(4)
Makanan
Kafein
Lemak
Coklat
Minuman alkohol
Obat-obatan
Preparat antikolinergik
Teofilin
Progesteron
Preparat antagonis kalsium
Diazepam
Preparat agonis beta-adrenergis
Preparat antagonis alpha-adrenergis
Merokok
Tentang peranan hiatus hernia sebagai penyebab refluks
esofagitis, hingga saat kini belum dapat dipastikan sepenuh-
nya
(3,6)
. Refluks esofagitis terjadi dan cukup berat intensitasnya
meski tanpa disertai oleh hiatus hernia; dan adanya hiatus
hernia tidak selalu berarti penderita akan mengalami esofagitis.
Beberapa kajian dengan pengukuran pH intra esofagus me-
nemukan bahwa pengosongan asam dari esofagus umumnya
lebih lambat pada penderita dengan hiatus hernia dibanding
tanpa hiatus. Lambatnya pengosongan ini agaknya akibat
sekunder dari berulangnya refluks asam dari cekungan hernia
ke esofagus setiap kali menelan. Meskipun peningkatan refluks
pada hiatus hernia berperan atas terjadinya esofagitis pada be-
berapa penderita, keadaan tersebut tidak memadai untuk
menimbulkan gejala pada seluruh penderita hiatus hernia
(6)
.
GEJALA KLINIS
Pirosis merupakan gejala yang sering dikemukakan oleh
banyak penderita
(2,3,7)
. Pirosis atau heartburn adalah sensasi
nyeri esofagus yang sifatnya panas membakar, mencekam atau
mengiris dan umumnya timbul di belakang ujung bawah
sternum. Penjalarannya umumnya ke atas hingga rahang bawah
dan ke bawah, ke epigastrium, belakang punggung dan bahkan
ke lengan kiri menyerupai nyeri pada angina pektoris
(2,7)
. Tim-
bulnya keluhan ini diduga akibat rangsangan khemoreseptor
pada mukosa
(2)
. Rasa terbakar tersebut disertai dengan sen-
dawa, mulut terasa masam dan pahit, serta merasa cepat
kenyang. Umumnya nyeri ini terjadi setelah penderita makan
dalam jumlah banyak
(3,7)
. Intensitas nyeri akan meningkat saat
penderita membungkukkan badan, berbaring atau mengejan
(2)
.
Refluks yang sangat kuat dapat memunculkan regurgitasi.
Cairan regurgitasi yang mencapai rongga mulut umumnya
ditelan kembali oleh penderita. Namun pada beberapa kasus,
cairan ini sangat banyak sehingga tidak jarang dimuntahkan
(7)
.
Kadang kala penderita datang dengan keluhan odinophagia
(sakit sewaktu menelan) atau disfagia (kesulitan dalam me-
nelan), yang merupakan petanda munculnya komplikasi
refluks
(2,3)
, berbeda dengan disfagia yang disebabkan oleh ke-
lainan motoris, keluhan disfagia karena refluks gastroesofagus
lebih sering terhadap makanan padat dibanding cair
(3)
.
DIAGNOSIS
Secara umum, diagnosis dapat ditegakkan hanya berdasar
pada anamnesis yang cermat
(2,7)
. Pemeriksaan tambahan di-
anjurkan bila gejala yang muncul tidak spesifik atau tidak ada
perbaikan meski telah dilakukan terapi
(2)
. Termasuk pemeriksa-
an tambahan di sini adalah endoskopi saluran cerna atas,
pengukuran pH intra esofagus selama 24 jam, foto barium
`telan', manometri esofagus, tes Bernstein serta skintigrafi
esofagus
(1,2,3,7)
.
Meski endoskopi bersifat invasif, pemeriksaan ini merupa-
kan pemeriksaan terpilih untuk kasus refluks esofagitis. Selain
sifat tes yang sangat sensitif, pemeriksaan ini sangat membantu
menemukan penyulit secara dini. Hasil endoskopi yang normal
belum dapat menyingkirkan diagnosis
(1,3)
.
Pengukuran pH intra esofagus selama 24 jam cukup mem-
bantu bila hasil endoskopi normal. Pemeriksaan dilakukan
dengan memasukkan elektroda pengukur pH melalui hidung
dan meletakkannya sekitar 5 cm di atas SEB (yang telah di-
tentukan sebelumnya dengan endoskopi). Elektroda tersebut
dihubungkan dengan alat perekam yang ringan dan mudah
dibawa oleh penderita
(2)
. Dikatakan terjadi refluks apabila pH
esofagus didapati kurang dari 4 selama 24 jam pengawasan
(7)
.
Dengan cara ini pula, penderita dapat merekam saat-saat gejala
muncul, sehingga dapat dicari korelasi waktu antara episode
serangan dan pH
(3,7)
.
Berbeda dengan kedua jenis pemeriksaan di atas, foto ba-
rium `telan' bukanlah pemeriksaan primer. Hasil pemeriksaan
barium umumnya normal pada refluks esofagitis tanpa kom-
plikasi. Pemeriksaan foto barium `telan' lebih dianjurkan bila
dicurigai munculnya striktur esofagus
(1,3)
.
Manometri esofagus merupakan pemeriksaan untuk men-
cari pola kontraksi esofagus. Ia sangat membantu untuk meng-
evaluasi sumber gejala refluks. Manometri juga sangat berguna
dalam perencanaan terapi pembedahan
(3,7)
.
Tes Bernstein atau tes `infus asam' biasanya merupakan
bagian dari pemeriksaan manometri esofagus. Selama tes ini,
esofagus penderita diperfusi dengan asam hidroklorida 0,1M.
Hasil tes positif berupa timbulnya gejala menunjukkan bahwa
penderita memiliki esofagus yang sensitif terhadap asam dan
timbulnya gejala disebabkan oleh refluks esofagitis
(2,3)
.
Skintigrafi dengan albumin technetium 99 m dapat pula
digunakan untuk menilai penderita refluks esofagitis. Semen-
tara senyawa radioaktif tersebut ditelan, penderita dipantau
dengan kamera gamma yang dihubungkan dengan komputer.
Perjalanan albumin Tc 99 m sepanjang esofagus memberikan
penilaian semikuantitatif tingkat motilitas serta transit esofagus.
Esofagus bagian distal dapat dipantau untuk membuktikan
apakah refluks terjadi secara spontan atau selama dilakukan
manuver
(3)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000
34
background image
Skintigrafi juga dapat digunakan untuk mengukur kelam-
batan dalarn pengosongan lambung, yang berperan dalam ter-
jadinya refluks
(3,7)
.
TERAPI
Tujuan terapi secara umum adalah mengendalikan gejala
serta menyembuhkan kerusakan mukosa yang muncul
(1,7)
. Se-
cara mendasar, terapi refluks esofagitis dapat dipilah dalam tiga
tahap
(7)
.
Tahap Pertama: Perubahan gaya hidup
Termasuk dalarn perubahan gaya hidup adalah: pengaturan
posisi kepala saat tidur dengan memberi bantal tambahan;
perubahan pola makan dengan cara menghindari terlalu banyak
makan dan menghindari makan serta minum sedikitnya tiga
jam sebelum tidur; mengurangi berat badan serta membatasi
obat atau jenis makanan yang dapat mencetuskan serangan
refluks.
Penggunaan antasida dianjurkan untuk meningkatkan
efektivitas terapi ini; dosis lazim yang dianjurkan adalah 10-20
ml setelah makan dan menjelang tidur. Sesudah dua minggu,
keluhan biasanya banyak berkurang dan frekuensi pemberian
obat dapat dikurangi.
Pada umumnya, 60% penderita memberikan respon yang
memadai dengan bentuk terapi ini. Kegagalan respon merupa-
kan indikasi penggunaan bentuk terapi tahap kedua.
Tahap Ke dua: Medikamentosa
Antagonis reseptor Hi dan Omeprazole
Penakanan asam lambung adalah sasaran dalam penangan-
an refluks gastroesofagus. Preparat antagonis reseptor H
2
se-
macam simetidin, ranitidin, dan famotidin dilaporkan berhasil
menekan gejala serta memberikan perbaikan nyata atas ke-
rusakan mukosa esofagus.
Dosis awal untuk simetidin adalah 800 mg/hari, ranitidin
300 mg/hari dan famotidin 40 mg/hari. Beberapa penelitian me-
nunjukkan bahwa penekanan produksi asam lambung selama
24 jam mampu memberikan pemulihan mukosa esofagus lebih
nyata; oleh karena itu dianjurkan pemberian 2 kali sehari.
Omeprazole dengan dosis antara 20-40 mg/hari dilaporkan
lebih efektif dibanding antagonis H
2
dalam menyembuhkan
refluks. Baik omeprazole dan antagonis H
2
ditoleransi cukup
baik dengan sedikit efek samping.
Penggunaan preparat antagonis H
2
dan omeprazole pada
penderita refluks merupakan penggunaan jangka panjang kare-
na angka relaps yang cukup tinggi pada pemutusan obat secara
mendadak.
Obat-obat Lain
Pada beberapa kasus, refluks resisten dengan terapi pe-
nekan sintesis asam; untuk itu patut dipertimbangkan peng-
gunaan terapi kombinasi. Preparat yang bisa digunakan adalah
preparat prokinetik dan sukralfat.
Preparat prokinetik yang paling menjanjikan adalah Cisa-
pride. Titik kerjanya adalah merangsang pelepasan asetilkolin
dari pleksus mesenterikus. Beberapa penelitian menunjukkan
pemberian preparat ini akan meningkatkan peristalsis dan
tekanan SEB. Cisapride memiliki efek aditif saat dikombinasi
dengan preparat antagonis H
2
. Dosis yang diberikan adalah 10
mg 3-4 x/hari.
Suspensi sukralfat 1 g dalarn empat kali pemberian sehari
cukup efektif dalam menekan gejala. Titik kerja sukralfat di-
duga adalah : (a) melalui pembentukan prostaglandin endogen
dan (b) efek langsung meningkatkan sekresi mukus. Agar
bekerja maksimal, preparat ini hendaknya tidak diberikan ber-
samaan dengan antasida atau penyekat reseptor H
2
.
Tahap Ketiga : Pembedahan
Pembedahan baru dilakukan bila terapi tidak membuahkan
hasil atau pada penderita dengan esofagitis yang berat atau
munculnya komplikasi penyulit. Prosedur bedah yang lazim
dilakukan adalah fundoplikasi Nissen; dibuat semacam katup
buatan pada pertemuan gastro-esofagus dengan menutup atau
merajut fundus gaster di sekitar bagian bawah esofagus.
KOMPLIKASI
Komplikasi utama refluks esofagitis adalah perdarahan,
ulkus, striktur dan terbentuknya epithelium Barrett
(1,3,7)
).
Perdarahan dari refluks esofagitis umumnya ringan, namun
kadang kala timbul perdarahan masif, sehingga tidak jarang
terjadi anemia defisiensi Fe
(3)
. Ulkus esofagus pada umumnya
sulit dipulihkan, terutama yang didapati dengan epithelium
Barrettt
(3,7)
. Striktur esofagus umumnya berlokasi pada squamo
columnar junction
(1,3)
; secara umum dapat diterapi dengan pre-
parat anti refluks yang dikombinasi dengan dilatasi esofagus
berulang. Bila dilatasi berulang ini tak membuahkan hasil,
dianjurkan untuk dilakukan pembedahan
(3)
.
Epithelium Barrett merupakan perubahan metaplastik dan
epithelium squamous mukosa esofagus menjadi epithelium
kolumnar seperti pada lambung
(7,8)
. Perubahan metaplastik ini
terjadi pada 10 hingga 12% pasien dengan refluks esofagitis
berat. Sekali transformasi ini terjadi, epithel sangat jarang
kembali pada bentuk semula
(7)
. Meski sering asimptomatis, lesi
ini memberi arti yang sangat penting; sebuah kajian menemu-
kan epithelium Barrett pada 36% kasus ulkus dan 38% striktur.
Ulkus dan striktur yang muncul pada penderita dengan epi-
thelium Barrett umumnya resisten dengan pengobatan yang
ada
(9)
.
Perhatian utama diletakkan pada kecenderungan keganasan
dari proses ini. Insidensi timbulnya adenokarsinoma diperkira-
kan sekitar 18 hingga 40 kali lebih besar dibanding populasi
umum. Oleh karenanya dianjurkan pemeriksaan berulang
dengan endoskopi dan biopsi pada penderita refluks esofagitis
kronis setiap dua atau tiga tahun sekalit.
KEPUSTAKAAN
1. Goyal RJ. Diseases of The Esophagus. In: Braunwald E. et al (eds)
Harrison's Principles of Internal Medicine 12
th
ed. Hamburg:
McGraw-Hill Book Co. GmbH, 1991; 122-9.
2.
Goff JS. Reflux Oesophagitis: diagnosing the problem. Mod Med Austral
1990; (Jan): 41-3.
3. Tygat GNJ, Nio CY, Schothorgh RH. Reflux oesophagitis. Scand
Jgastroenterol. 1990; 25: 1-2.
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000 35
background image
4. Naveh F, Texter EC. Gastroesophageal reflux. Pathophysiologic
Concepts. Arch Intern Med 1985; 145: 329-33.
5.
Dodds WJ, Dent J, Hogan WJ. Mechanisms of Gastroesophageal reflux in
patients with retlux oesophagitis. N Engl J Med 1982; 307: 1547-52.
6. Hanslry J. Oesophagitis and Hiatus Hernia. Med Progr 1988; Nov: 32-6.
7. Kerlin P, MacDonald G. Diagnosis and Management of Reflux Oesopha.
in the Adult. Mod Med Austral 1993; Jan: 54-8.
8. Spechler SJ, Goyal RK. Barnet's Oesophagus.N Engl J Med 1986;315-62.
9. Dent J, Bremner CG, Collen MJ, Haggitt RC, Spechler SJ: Barrett
Oesophagus J Gastroenterol Hepatol 1991; 6: 1-22.
Sekarang para dokter
mendeteksi penyakit
dengan aplikasi serba jitu
........
alat-alat modern ke
sasaran !
Sedang mbah dukun
tak mau kalah,
dengan memejamkan mata
dan .....digrayangi !
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000
36