background image
Pola Perilaku Masyarakat
Di Dua Kabupaten di Jawa Barat
Terhadap Penyakit Campak
Imran Lubis, Djoko Yuwono
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyakit campak (measles) merupakan suatu penyakit me-
nular yang disebabkan oleh virus. Pe.nderita terutama dari go-
longan umur anak. Masa inkubasi, yaitu masa dari mulai terkena
infeksi sampai timbul gejala penyakit, adalah 10­20 hari. Setelah
itu, timbul gejala penyakit seperti demam, batuk, bercak merah
padakulit (eritema) di bagian tengkuk, wajah, lengan atas, dada,
perut dan tungkai bawah. Akibat penyakit ini, penderita akan
mengalami penurunan daya tahan tubuh yang memudahkan ter-
jadinya komplikasi penyakit sekunder seperti : radang telinga
(otitis media akuta), radang otak (ensefalitis), radang paru-paru
(bronchitis, bronchopneumonia). Bila komplikasi bronchopneu-
monia terjadi pada penderita campak yang juga menderita ke-
kurangan gizi, atau mengidap penyakit menahun lain seperti tbc
maka keadaan ini dapat menyebabkan kematian.
Penyakit campak masih merupakan suatu masalah kese-
hatan di Indonesia. Wabah secara sporadik berupa Kejadian Luar
Biasa (KLB) sampai sekarang masih sering dilaporkan dari ber-
bagai tempat. Satu-satunya cara menanggulangi penyakit cam-
pak adalah dengan meningkatkan cakupan imunisasi sampai
mendekati angka 100%. Secara nasional, cakupan imunisasi
pada tahun 1992 telah mencapai angka 85,5%. Angka cakupan
ini untuk setiap daerah masih sangat berbeda-beda, ada yang
lebih dan ada juga yang masih kurang.
Berbagai faktor dapat mempengaruhi upaya peningkatan
cakupan imunisasi, dan salah satunya yang penting adalah par-
tisipasi masyarakat. Pada masyarakat yang partisipasinya ter-
hadap program imunisasi campak rendah maka cakupan imuni-
sasinyapun akan rendah, masyarakat yang terlindungi sedikit,
sehingga mudah terjadi letusan wabah. Keadaan ini terbalik pada
masyarakat dengan tingkat partisipasi yang tinggi. Masyarakat
dengan tingkat KABP (Knowledge, Attitude, Believe, Practice)
tinggi terhadap imunisasi campak pada gilirannya nanti akan
dapat pula membantu menurunkan angka kesakitan dan kema-
tian anak terhadap penyakit campak.
Tingkat perilaku masyarakat tertentu terhadap penyakit
campak perlu diketahui oleh pelaksana program, agar nantinya
dapat diketahui tindakan-tindakan yang diperlukan untuk meng-
ubah perilaku yang kurang menyokong program menjadi peri-
laku yang lebih menunjang program peningkatan cakupan
imunisasi campak; misalnya perlu peningkatan di bidang kete-
nagaan, penyebaran informasi, penyuluhan dan sebagainya.
Penelitian ini merupakan salah satu hasil dari suatu peneli-
tian campak yang telah dilakukan oleh Kelompok Peneliti Penya-
kit Menular Lainnya, Puslit Penyakit Menular, Badan Litbangkes.
Salah satu tujuan dari penelitian campak tersebut, adalah untuk
mengetahui pola kekebalan anak umur 0­36 bulan di suatu
daerah dengan cakupan imunisasi campak sekitar 80%.
BAHAN DAN CARA
Jenis penelitian
Bentuk penelitian ini adalah cross sectional.
Tempat dan waktu penelitian
Waktu penelitian adalah tahun 1991­1992.
Tempat penelitian adalah dua kabupaten di Jawa Barat yang
mempunyai perbedaan antara lain :
-
Cakupan imunisasi campak berbeda, walaupun di sekitar
80%.
-
Satu daerah perkotaan dan satunya lagi daerah pedesaan.
-
Keduanya belum pemah melaporkan KLB campak dalam 3
tahun terakhir.
Populasi sampel
Jumlah sampel untuk masing-masing daerah penelitian (ka-
bupaten), adalah 400 orang. Responden adalah orangtua anak
yang bertempat tinggal di daerah penelitian.
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 100, 1995 29
Lokasi penelitian dipilih secara cluster sampling menurut
WHO, dengan unit terkecil desa.
Koleksi Data
Cara koleksi data dengan menggunakan kuesioner khusus.
Vanabel yang diukur adalah :
-
Umur
-
Pekerjaan
-
Jumlah anak
-
Pengetahuan tentang campak
-
Pengetahuan tentang cara mencegah campak
-
Perilaku terhadap imunisasi Campak.
Pengolahan Data
Pengolahan data akan dilakukan dengan menggunakan
komputer IBM PC Compatible, dengan menggunakan program
EPI INFO vers 5.01.
Analisis Data
Penelitian ini akan melakukan metoda analisis deskriptif
untuk menghasilkan data berupa Label frekuensi dari berbagai
macam perilaku masyarakat terhadap program imunisasi cam-
pak.
Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini mempunyai keterbatasan akibat terbatasnya
jumlah sampel clan daerah yang diwakili hanya dua kabupaten di
Propinsi Jawa Barat.
HASIL DAN DISKUSI
Dipilih dua lokasi penelitian di Propinsi Jawa Barat :
1) Kabupaten Sukabumi yang mewakili daerah perkotaan
(kriteria Biro Pusat Statistik) belum pernah melaporkan KLB
Campak, dan dengan cakupan imunisasi campak (1988­1991):
88,5%­92,2%;
2) Kabupaten Kuningan, yang mewakili daerah pedesaan, yang
juga belum pernah melaporkan KLB campak, cakupan imunisasi
campak (1988­1991) : 91,0%­103,6%.
Jumlah kuesioner yang telah diisi adalah 1241 berarti me-
lampaui target sampel sebesar 800. Pada entri data pada kom-
puter tidak dilakukan cleaning sehingga jumlah sampel untuk
setiap variabel dapat berbeda, tergantung jumlah responden
yang menjawab pertanyaan tersebut.
Umur rata-rata seluruh responden adalah 20­50 tahun
(96,5%), dengan perincian di Sukabumi adalah 97,7% (mean =
27,67; SD = 6,83) dan di Kuningan adalah 95,5% (mean = 29,97
dan SD = 7,00).
Orang tua anak yang mempunyai rata-rata umur 20­40
tahun di Kabupaten Sukabumi sebesar 83,1% dan di Kabupaten
Kuningan sebesar 77,9% (Tabel 1). Untuk kelompok umur
40­49 tahun, responden dan kabupaten Kuningan lebih banyak
yaitu 22,4% dibanding dan Sukabumi yaitu 14,6%. Sehubungan
pengambilan sampel dilakukan secara cluster method maka
setiap individu di kecamatan terpilih akan mempunyai probabili-
tas yang sama untuk menjadi sampel; sehingga perbedaan umur
responden pada penelitian ini dapat mencerminkan keadaan
demografi sebenarnya, bahwa antara kedua kabupaten tersebut,
kabupaten Sukabumi terdiri dari penduduk yang sedikit lebih
muda daripada penduduk di kabupaten Kuningan.
Tabel 1. Umur Responden
Sukabumi Kuningan Jumlah
Umur
(tahun)
n % n % n %
10 ­19
20 ­ 29
30 ­ 39
40 ­ 49
50 ­ 59
60 ­ 69
­
219
289
89
11
3
­
35,8
47,3
14,6
1,8
0,5
1
131
322
140
28
1
0,2
21,0
51,7
22,4
4,5
0,2
1
350
611
229
39
4
0,1
28,3
49,5
18,5
3,1
0,3
Total 611 100,0 623 100,0 1234 100,0
Jumlah anak pada masing-masing responden tidak banyak
berbeda (Tabel 2). Di Sukabumi maupun Kuningan, proporsi
responden yang mempunyai anak satu orang dan dua orang
adalah sama, yaitu 32,8% dan 33,0% di Sukabumi dan 30,2% dan
28,7% di Kuningan. Sedangkan responden yang mempunyai 3
anak di Sukabumi adalah 18,9% dan di Kuningan adalah 22,9%.
Masih ada responden yang mempunyai anak lebih dari 3 orang
yaitu sekitar 7%.
Tabel 2. Jumlah Anak pada Setiap Responden
Sukabumi Kuningan Jumlah
Jumlah
anak
(orang)
n % n % n %
1
2
3
4
5
6
7
200
201
115
53
31
7
3
32,8
33,0
18,9
8,7
5,1
1,1
0,5
186
176
141
57
31
13
5
30,2
28,6
22,9
9,3
5,0
2,1
0,8
386
378
256
110
62
20
8
31,6
30,9
20,9
9,0
5,1
1,6
0,7
Total 610 100,0 610 100,0 1220 100,0
Dari segi pekerjaan responden, pada umumnya mereka ada-
lah tani (49,1%), buruh (35,3%) sebagian kecil adalah pegawai
(8,8%) dan dagang (6,9%) (Tabel 3). Perbedaan terdapat pada
kelompok dagang di Kabupaten Sukabumi lebih rendah (2,4%)
dibandingkan dengan di Kabupaten Kuningan (11,4%). Se-
baliknya kelompok tani di Kabupaten Sukabumi lebih tinggi
(54,5%) dibandingkan dengan di Kabupaten Kuningan (43,6%).
Tabel 3. Pekerjaan Responden
Sukabumi Kuningan Jumlah
Jenis
Pekerjaan
n % n % n %
Buruh
Dagang
Pegawai
Tani
200
14
55
322
33,8
2,4
9,3
54,5
221
68
49
261
36,9
11,4
8,2
43,6
419
82
104
583
35,3
6,9
8,8
49,1
Total 591 100,0 599 100,0 1188 100,0
Di kedua kabupaten yang diteliti, sebagian besar pendidik-
an responden adalah Sekolah Dasar (tamat dan tidak tamat)
sebesar 81,9%, sedangkan SLTP maupun SLTA hampir sama
yaitu 8,0% dan 9,6%. Responden yang paling sedikit adalah
background image
mereka dengan pendidikan Universitas (0,5%) dan Kejuruan
(0,8%) (Tabel 4). Tidak ditemukan perbedaan yang mencolok
antara Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Kuningan untuk
setiap kelompok pendidikan.
Tabel 4. Pendidikan Responden
Sukabuml Kuningan Jumlah
Pendi-
dikan
n % n % n %
SD
SLTP
SLTA
Kejuruan
Universitas
470
51
55
5
4
80,3
8,7
9,4
0,9
0,7
466
41
56
4
2
81,9
7,2
9,8
0,7
0,4
936
92
111
9
6
81,9
8,0
9,6
0,8
0,5
Total 585 100,0 569 100,0 1154 100,0
Pengetahuan responden tentang penyakit campak tampak
pada Tabel 5. Di dua kabupaten tersebut hanya 31,6% memberi-
kan jawaban yang benar yaitu penyakit yang menimbulkan
gejala demam dan bintik merah di kulit. Jawaban salah seperti
penyakit gatal-gatal, kemerahan di kulit menduduki angka 21,7%,
penyakit yang dapat menyerang anak-anak maupun orang de-
wasa sebesar 19,0%, dan sebagainya. Jawaban yang sangat salah
masih ditemukan walaupun dalam jumlah kecil misalnya cam-
pak sebagai penyakit yang disebabkan karena guna-guna 0,8%,
muntaber 0,8%, muntaber dan perdarahan hidung 0,8%, keturunan
2,0%. Perbedaan antara kedua kabupaten untuk jawaban tentang
apa itu penyakit campak yang benar, yaitu responden dari Ka-
bupaten Sukabumi lebih mengetahui tentang penyakit campak
(41,6%) dibandingkan dengan responden dari Kabupaten Ku-
ningan (21,3%), perbedaan ini cukup bermakna. Begitu juga
tentang jawaban yang salah dari responden di Kabupaten Suka-
bumi lebih sedikit daripada responden dari kabupaten Kuningan.
Hal ini dapat dikatakan bahwa pengetahuan tentang penyakit
campak responden kabupaten Kuningan lebih rendah. Oleh ka-
rena itu mungkin kesadaran untuk berpartisipasi terhadap pro-
gram imunisasi campak akan lebih rendah.
Tabel 5. Pengetahuan Responden tentang Gejala Campak
Sukabumi Kuningan Jumlah
Gejala Penyakit Campak
n % n % n %
Demam, rash B
Gatal I
Anak din Dewasa K
Danam, rash, hawk C
Menular pada anak F
Danam,
ekimosis A
Sanbuh
sendiri L
Kewrunan J
Muntaber, perdarahan G
Muataber
H
Guna-guna E
248
131
102
66
17
12
7
6
4
2
1
41,6
22,0
17,1
11,1
2,9
2,0
1,2
1,0
0,7
0,3
0,2
125
128
123
68
51
41
12
18
6
7
8
21,3
21,8
21,0
11,6
8,7
7 0
2,0
3,1
1,0
1,2
1,4
373
259
225
134
68
53
19
24
10
9
9
31,6
21,7
19,0
11,3
5,8
4,5
1,6
2,0
0,8
0,8
0,8
Total
596 100,0 587 100,0 1183 100,0
Keterangan :
A.
Demam, timbul bintik besar merah di kulit
B.
Demam, timbul bintik kecil merah di kulit
C.
Demam, bintik kemerahan dan batuk
D.
Demam, bintik kemerahan dan mantra
E.
Penyakit karena guna-guna orang
F.
Penyakit menular pada anak dengan bintik merah
G.
Penyakit perdarahan hidung, muntah dan berak
H.
Penyakit muntah berak
I.
Penyakit gatal-gatal, kemerahan kulit
J.
Penyakit keturunan yang timbul pada anak
K.
Penyakit yang menyerang anak maupun orang dewasa
L.
Penyakit yang dapat sembuh sendiri
Jawaban mengenai penyebab penyakit campak menurut
responden dapat dilihat pada Tabel 6. Di sini hanya 45,8%
responden yang menjawab dengan benar yaitu akibat penularan
kuman dari orang sakit campak. Salah pengertian masih cukup
besar yaitu campak disebrabkan oleh udara yang tidak baik
38,3%, oleh jamur 8,9% dan dari makanan dan minuman kotor
6,9%. Secara keseluruhan responden di Kabupaten Sukabumi
lebih banyak salah (57,0%) daripada di Kabupaten Kuningan
(51,3%).
Tabel 6. Penyebab Penyakit Campak
Sukabumi Kuningan Jumlah
Jenis Penyebab
n % n % n %
Kuman
dari
os D
Udara B
Jamur C
Makanan-minuman A
222
230
32
32
43,0
44,6
6,2
6,2
251
165
60
39
48,7
32,0
11,7
7,6
472
395
92
71
45,8
38,3
8,9
6,9
Total 516
100,0
515
.
100,0
1030
100,0
Keterangan :
A.
Makanan dan minuman kotor
B.
Dari udara yang tidak baik
C.
Berasal dari suatu jamur
D.
Karena kuman yang berasal/ditulari dari penderita
Praktek yang dilakukan oleh responden bila anak mereka
sakit campak dalam mencari pengobatan tampak pads Tabel 7.
Pada umumnya, mereka berobat ke puskesmas, dokter atau
mantri (65,1%). Sedangkan obat tradisional dan modern sama
banyak digunakan oleh responden, yaitu 13,5% dan 13,4%
berurutan. Walaupun begitu masih ada 5,8% responden yang
membawa anaknya ke dukun. Perbedaan di antara ke dua ka-
bupaten tampak pada penggunaan obat tradisional, Kabupaten
Sukabumi lebih tinggi yaitu 19,1% dibanding dengan Kabupaten
Kuningan yang hanya 7,9%, begitu jugs untuk pengobatan ke
dukun sebesar 10,4% dibanding dengan 1,0%. Sebaliknya untuk
pengobatan secara obat modern dan didiamkan, responden ka-
bupaten Sukabumi lebih rendah (8,5% dan 0,5% dibanding
dengan 18,5% dan 3,8% di Kuningan). Walaupun pads Tabel 5
responden Kuningan menunjukkan pengetahuan tentang pe-
nyakit campak yang lebih rendah, tampak di sini bahwa mereka
dalam menanggulangi penderita campak lebih menggunakan
obat modern daripada ke dukun atau penderita didiamkan saja.
Di sini menunjukkan bahwa kesadaran untuk segera membawa
berobat lebih tinggi di kabupaten Kuningan.
Perilaku responden dalam mencegah penyakit campak
tampak pads Tabel 8. Secara keseluruhan, imunisasi dijawab
oleh lebih dari separuh responden (63,4%) dan sebagian lagi
memberi jawaban menjauhkan diri dari penderita (16,3%).
Jawaban yang salah terdapat pada mandi bersih (7,5%) dan
background image
Tabel 7. Pola Pengobatan yang Dilakukan untuk Penderita Penyakit
Campak
Sukabumi Kuningan Jumlah
Pola Pengobatan
Penyakit Campak
n % a % n %
Berobat *)
Obat tradisionil
Obat modern
Berobat ke dukun
Didiamkan
368
114
51
62
3
61,5
19,1
8,5
10,4
0,5
398
46
107
6
22
68,7
7,9
18,5
1,0
3,8
766
159
158
68
25
65,1
13,5
13,4
5,8
2,1
Total
598 100,0 579 100,0 1176 100,0
Keterangan :
* Berobat ke Puskesmas, dokter atau mantri
Tabel 8. Cara Pencegahan Penyakit Campak
Sukabumi Kuningan Jumlah
Cara Pencegahan
Penyakit Campak
n % n % n %
Immunisasi A
Obat
dan
jamu D
Hindari
os C
Mandi B
406
91
58
44
67,8
15,2
9,7
7,3
342
60
134
44
59,0
10,3
23,1
7,6
747
151
192
88
63,4
12,8
16,3
7,5
Total 599
100,0
580
100,0
1178
100,0
Keterangan :
A.
Dengan imunisasi
B.
Dengan mandi bersih
C.
Dengan menjauhkan diri dari penderita
D.
Dengan minim obat atau jamu kuat
minum obat dan jamu kuat (12,8%). Responden dari kabupaten
Sukabumi lebih banyak mengira bahwa pencegahan campak
dapat dilakukan dengan minum obat dan jamu kuat (15,2%)
daripada responden dari kabupaten Kuningan (10,3%). Meng-
hindari orang yang sedang sakitcampak merupakan pengetahuan
dasar untuk mencegah penularan suatu penyakit, dart dijawab
lebih banyak oleh responden dari kabupaten Kuningan (23,1%)
dibandingkan dengan responden dari kabupaten Sukabumi (9,7%),
perbedaan ini cukup bermakna (lebih dari 2 kali). Cara meng-
hindari penyakit campak swam keseluruhan lebih dimengerti
oleh responden dari kabupaten Kuningan.
Berbagai macam cara dapat dipakai untuk menyebar luas-
kan informasi tentang penyakit campak. Pada Tabel 9, secara
keseluruhan, tidak ditemukan satu sumber informasi yang me-
nonjol. Secara merata informasi kesehatan diperoleh dari Pe-
tugas kesehatan (24,8%), pejabat daerah (28,3%), Posyandu
(13,4%), Puskesmas (11,8%) dan keluarga (11,4%). Fungsi
majalah, koran, pamflet, radio, televisi, yang seharusnya sudah
masuk desa, haiiya berperan di bawah 6% saja. Perbedaan yang
tampak yaitu bahwa responden dari kabupaten Sukabumi lebih
banyak mendapat informasi dari petugas kesehatan dan Puskes-
mas (33,3% dan 15,6% dibandingkan responden dari kabupaten
Kuningan sebesar 16,0% dan 8,0%). Sedangkan informasi dari
Pejabat dan Posyandu lebih sedikit memberikan informasi ke-
pada responden dari kabupaten Sukabumi (19,6% dan 11,4%)
dibandingkan dari kabupaten Kuningan (37,3% dan 15,7%).
Apakah hal ini menyebabkan pengetahuan tentang penyakit
campak di kabupaten Kuningan lebih rendah (Tabel 5) perlu
diselidiki lebih lanjut tentang materi penyuluhan yang diberikan
oleh para pejabat daerah dan kader Posyandu.
Tabel 9. Sumber Informasi tentang Penyakit Campak
Sukabumi Kuningan Jumlah
Sumber Informasi
Penyakit Campak
a % a % n %
Tenga
Kesehatan I
Pejabat J
Puskesmas F
Posyandu
E
Keluarga H
Tetangga
G
Majalah-koran A
Punnet B
Radio-TV D
199
117
93
68
55
48
2
­
15
33,3
19,6
15,6
11,4
9,2
8,0
0,3
­
2,5
94
219
47
92
80
28
7
10
10
16,0
37,3
8,0
15,7
13,6
4,8
1,2
1,7
1,7
293
335
140
160
135
76
9
10
25
24,8
28,3
11,8
13,5
11,4
6,4
0,8
0,8
2,1
Total
597 100,0 587 100,0 1183 100,0
Keterangan :
A.
Majalah, koran
B.
Pamflet, Selebaran
D. Radio, Televisi
E Posyandu
F.
Puskesmas
G.
Tetangga, teman
H.
Ibu, keluarga lain
I.
Petugas kesehatan (praktek : dokter, mantri, bidan)
J.
Pejabat daerah (lurah, kepala desa)
Perilaku yang benar dari masyarakat terhadap program pe-
nanggulangan penyakit campak adalah melakukan imunisasi
campak. Pada Tabe1 10, dari 1241 kuesioner yang dikumpulkan
dalam penelitian ini, ternyata 1240 mengisi status imunisasi
anaknya dan hanya 193 (15,5%) yang menjawab bahwa anaknya
tidak pernah diimunisasi campak. Sedangkan pada Tabel 11,
sejumlah 1047 (84,3%) responden menjawab anaknya telah di-
beri imunisasi campak. Keadaan ini mendekati angka laporan
cakupan dari DitJen. P2M&PLP yang menyatakan bahwa
cakupan di kedua kabupaten tersebut sekitar 88,5%­91,096.
Tabel 10 menunjukkan perbedaan anak responden yang tidak
diimunisasi campak. Pada kelompok anak pertama yang tidak
mendapatimunisasi campak, ternyatadi kabupaten Sukabumi le-
bih rendah (39,8%) dibandingkan dengan kabupaten Kuningan
(42,5%). Sedangkan pada anak urutan berikutnya, ternyata di
kabupaten Sukabumi justru lebih tinggi daripada di kabupaten
Kuningan. Hal ini berarti bahwa baru sekitar setahun terakhir
ini terjadi peningkatan kesadaran masyarakat Kuningan untuk
memvaksinasi anaknya, dibaridingkan dengan tahun-tahun se-
belumnya. Hal ini perlu dikaitkan dengan apakah ada peningkat-
an aktivitas penyuluhan, tenaga kesehatan atau penyediaan
vaksin campak dikabupaten Kuningan. Kemungkinan lain adalah
karena penyuluh di Kuningan lebih banyak dilakukan oleh pejabat
daerah dan petugas Posyandu (Tabel 9), yang mungkin lebih
dianggap sebagai tokoh panutan oleh masyarakat setempat.
Bila dibandingkah dengan data padaTabel 11, tentang anak
yang sudah divaksinasi campak, tampak bahwa proporsi urutan
anak dan pemberian vaksin campak antara kedua kabupaten
sudah seimbang. Anak pertama, secara keseluruhan 37,2% telah
background image
Tabel 10. Status Anak Responden yang Tidak Mendapat Imunisasi Cam
pak
Tidak mendapat imunisasi campak
Sukabumi Kuningan Jumlah
Anak yang ke
n % n % n %
Pertama
Kedua
Ketiga
Keempat
Keenam
Kelima
51
41
15
12
2
7
39,8
32,0
11,7
9,4
1,6
5,5
31
15
7
3
3
6
47,7
23,1
10,8
4,6
4,6
9,2
82
56
22
15
5
13
42,5
29,0
11,4
7,8
2,6
6,7
Total
128 100,0 65 100,0 193 100,0
mendapat vaksinasi campak, pada anak ke dua menurun menjadi
16,1% dan anak ke tiga naik kembali menjadi 28,5%. Urutan
anak lebih dari anak ke tiga yang mendapat sedikit vaksinasi
campak mungkin disebabkan karena sekitar4 tahun yang lampau
kampanye vaksinasi campak belum begitu gencar dibandingkan
dengan akhir-akhir ini. Kemungkinan lain adalah proses kognitif
dari orang tua anak yang membutuhkan beberapa tahun untuk
dapat merubah sikap dan perilakunya.
Tabel 11. Status Anak Responden yang Diberi Imunisasi Campak
Dapat imunisasi campak
Sukabumi Kuningan Jumlah
Anak yang ke
n % n % n %
Pertama
Kedua
Ketiga
Keempat
Kelima
Keenam
191
139
74
48
22
21
38,6
28,1
14,9
9,7
4,4
4,2
199
158
96
55
21
24
36,0
28,6
17,4
9,9
3,8
4,3
390
298
169
102
43
45
37,2
28,5
16,1
9,7
4,1
4,3
Total 495
100,0
553
100,0
1047
100,0
Kenapa anak tidak divaksinasi campak, pada umumnya
responden menjawab karena tidak tabu (83,0%), lupa (8,2%),
jauh (7,0%) dan dilarang oleh orang lain (1,8%). Di sini jelas
bahwa sebagian besar karena faktor tidak tabu, bisa saja tidak
tabu kapan dan di mana dilakukan vaksinasi, apa itu vaksinasi
campak, siapa saja yang harus divaksinasi campak dan se-
bagainya. Hal ini menunjukkan kurangnya informasi campak
yang sampai pada mereka. Mungkin oleh karena kurang diman-
faatkan secara optimum penggunaan media massa penyuluhan
melalui pamflet, koran, majalah, televisi dan radio (Tabel 9).
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian perilaku masyarakat di kabupaten
Sukabumi dan kabupaten Kuningan, Propinsi Jawa Barat, ter-
hadap penyakit campak, dapat diajukan kesimpulan dan saran
sebagai berikut .
1) Lebih banyak responden berumur sedikit lebih tua di ka-
bupaten Kuningan (mean = 29,97 dan SD = 7,00) dibandingkan
dengan kabupaten Sukabumi (mean = 27,67 dan SD = 6,83).
2) Pekerjaan responden di kabupaten Sukabumi lebih banyak
bertagi sedangkan di kabupaten Kuningan lebih banyak ber-
dagang.
3) Tingkat pendidikan masyarakat di kedua kabupaten adalah
sama.
4) Masyarakat Sukabumi lebih mengenal penyakit campak
daripada masyarakat Kuningan. Tetapi masyarakat Kuningan
lebih mengetahui dalam hal penyebab penyakit campak, bagai-
mana mencegah campak, mencari pengobatan untuk penderita
campak, hal ini mungkin karena masyalakat Kuningan secara
ekonomis lebih mampu karena pekerjaannya bersifat pedagang.
5) Media massa seperti pamflet, koran, majalah, radio, televisi
masih sangat kurang berperan dalam menyebarluaskan infor-
masi tentang penanggulangan penyakit campak. Petugas kese-
hatan dan Puskesmas di kabupaten Kuningan perlu meningkat-
kan kegiatan penyuluhan penyakit campak; sedangkan para
pejabat daerah dan kader Posyandu perlu mendapat penataran
tentang penyuluhan penyakit campak agar mampu menghi-
langkan persepsi masyarakat terhadap penyakit campak yang
salah seperti misalnya dalam hal apa itu campak, penyebab
campak, dan cars pencegahan campak yang telah ditemukan
dalam penelitian ini.
6) Ditemukan 84,3% anak yang telah mendapat vaksinasi
campak. Mereka yang belum mendapat vaksinasi campak mem-
berikan alasan tidak tabu (83,0%), lupa (8,2%), jauh (7,0%) dan
dilarang oleh orang lain (1,8%).
7) Disarankan agar dalam rangka meningkatkan cakupan
imunisasi campak khususnya di kabupaten Sukabumi dart Ku-
ningan perlu lebih ditingkatkan upaya penyuluhan kesehatan
dengan menggunakan jalur majalah, pamflet, koran, radio, te-
levisi masuk desa; dengan menggunakan materi penyuluhan
yang benar seperti beberapa hal yang telah ditemukan ternyata
menimbulkan persepsi salah.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kami sampaikon kepada Kakanwil Dep. Kes. Propinsi
Jawa Barat, Dinas P2M&PLP Propinsi Jawa Barat, Dokabu don para staf di
kabupaten Sukabumi dan kabupaten Kuningan, Kapuslit Penyakit Menular,
serta staf Kelompok Peneliti Penyakit Menular Lainnya, Puslit Penyakit Me-
nular, Badan L,itbangkes, sehingga dapat terlaksananya penelitian ini dengan
baik.
KEPUSTAKAAN
1.
Kristianti, Rosi Sanusi. Vaksinasi campak pads anak umur 6-36 bulan di
kecamatan Salem, Kabupaten Magelang, Propinsi Jaws Tengah. Berita
POKJA Campak ed VII, Juli 1990; p. 9-21.
2.
Wibisono H. Penyakit campak setelah pencapaian UCL Seminar Sehari
Masalah Campak di Perkotaan ditinjau dari berbagai Aspek. Kelompok
Studi Kesehatan Perkotaan Univ. Atmajaya, Jakarta 25 Maret 1991.
3.
Imran Lubis. Virologi campak. Seminar Sehari Masalah Campak di
Perkiuan ditinjau dari berbagai Aspek. Kelompok Studi Kesehatan
Perkotaan Univ. Atmajaya, Jakarta 25 Mare' 1991.
4.
Imran Lubis, Marjanis S, Mulyono W. Etiologi Infeksi Pemapasan Akin
(ISPA) dan Faktor Lingkungan, Bul PeneHt Kes 1990; 18(2): 26-33.
5.
Sub. Dit. Imunisasi. Strategi Umurp Peningkatan Cakupan Campak untuk
Pencapaian UCI pada akhir tahun 1990, Berita POKJA Campak, ed VII,
Juli 1990, p 1-3.
6.
Kandun IN, Wibisono H, Ruspandi H dick. Penelitian kekebalan dan sero-
konversi setelah vaksinasi campak pada bayi-bayi di Kab. Mojokerto, Jawa
T'imur, 1986. Laporan Intern.