background image
Pengobatan Urethritis Gonorrhoica Acuta
non-
komplikata dengan Amoksisilin tanpa Probenesid
dr.
Harijono Kariosentono,
dr. A.
Julianto Danukusumo
Bagian Ilmu Penyakit Kulit
Kelamin, Fakultas Kedokteran
UNS
Sebelas Maret/RSU Surakarta, Surakarta.
PENDAHULUAN
Obat pilihan untuk
gonorrhoea
sampai saat ini ialah
penisilin
--G. Akan
tetapi karena penggunaannya secara
paren-
tal
dan dosis
yang
kian
lama
semakin meningkat, maka di-
pilihlah obat-obat
yang
dapat diberikan
per oral
dan dengan
cara sederhana. Dosis penisilin
--G yang
makin meningkat itu
sering menimbulkan
rasa
sakit pada tempat penyuntikan dan
sering menimbulkan reaksi anafilaktik akut ataupun reaksi
terhadap prokain. Ini menyebabkan para ahli beralih pada
obat-obat
per oral
sebagai alternatif untuk pengobatan gonorr-
hoea
.
Amoksisilin merupakan salah satu alternatif.
Di
beberapa negara, terutama Inggris, negara tempat amok-
silin pertama kali diperkenalkan pada tahun
1973 (1),
amoksi-
silin dicoba dengan cukup berhasil untuk pengobatan
gonorr-
hoea.
Angka penyembuhan
yang
didapat dengan bermacam-
macam dosis dan cara pemberian berkisar antara
86%
sampai
99%
(lihat Tabel
1) (1- 4).
Amoksisilin
(alpha amino-p-
hydro-
xy benzyl
penicillin)
merupakan penisilin
semi
sintetik dengan
spektrum antibakteri
yang
hampir sama dengan ampisilin,
namun aktivitasnya terhadap gonococcus lebih besar (1,5).
Tak seperti pivampisilin dan hetasilin, amoksisilin tidak diubah
menjadi ampisilin dalam tubuh (5). Absorpsinya lebih baik
daripada ampisilin, dan efek samping seperti
skin rash
dan
diare lebih jarang (1,5,6).
Penelitian pendahuluan ini dilakukan untuk mengetahui
aktivitas amoksisilin tanpa probenisid terhadap urethritis
gonorrhoica acuta
non
komplikata pada pria
Indonesia.
BAHAN FAN CARA KERJA
Selama periode
6
bulan, dari Juli sampai Oktober
1979
diperiksa
49
penderita pria dengan urethritis gonorrhoica non-
komplikata
yang
datang berobat
di
Poliklinik Penyakit Kulit
Kelamin FK--UNS Sebelas Maret/RSU Surakarta.
Pada semua penderita
diagnosis
ditegakkan atas dasar :
(1) anamnesis : adanya keluhan miksi
yang
disertai keluarnya
sekret dari uretra dan sebelumnya didapatkan
"coitus
suspectus".
(2) pemeriksaan klinik : didapat sekret uretra
yang
muko-
purulen atau purulen dari orificium
urethra
externum.
(3) pemeriksaan mikroskopik, sediaan apus sekret uretra
dengan pewarnaan
Gram,
nampak adanya diplococcus
Gram
negatif
yang
terletak intra- maupun ekstrasel.
Tidak dilakukan pembenihan dan percobaan
-
percobaan
oksidase dan fermentasi berhubung kesulitan tehnis.
Pengobatan adalah
3 g
amoksisilin (Kalmoxilin
)
tanpa
probenesid
yang
diberikan mula-mula
2g
sekaligus
per oral
dan
diikuti
1g lima jam
kemudian. Pada hari ke
-3
dan ke
-7
setelah
pengobatan penderita
-
penderita disuruh datang kembali guna
pemeriksaan lanjutan. Bila pada pemeriksaan masih didapat-
kan sekret uretra, dibuat sediaan apus lagi dan bila tak di-
dapatkan, diadakan pemeriksaan sedimen urin. Penderita di-
nyatakan sembuh bila keluhan tidak ada, gejala klinik meng-
hilang dan pada sediaan apus maupun pemeriksaan sedimen
urin dengan pewarnaan
Gram
tak dijumpai lagi diplococcus
Tabel 1 :
Hasil pengobatan amoksisilin pada gonorrhoea acuta
secara oral dengan bermacam dosis dan cara pemberian
Nama penyelidik
Tabun
Dosis dan cara pemberian
Persentase
kesembuhan
Alergant C D
1973
I. Amoksisilin dosis tunggal lg
87,4
II. Amoksisilin 1g + probenesid lg
III. Amoksisilin 1g + penisilin prokain intra
94,2
muskulus 1,2 juta unit
98,8
RR Willcox
1974
Amoksisilin 2g diikuti 1g lima jam kemudian
97,5 -- 98,8
JD Price, J L Fluker
.
1975
AmoksisIlin 3g sekaligus
99 pada pria
95 pada wanita
RN Thin et al
1977
I. Amoksisilin 1g + probenesid 1g
86,0
II. Amoksisilin 3g + probenesid l g
94,4
Cermin Dunia Kedokteran No. 21. 1981 43
background image
Gram negatif. Dosis dan cara pemberian tersebut di atas sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Willcox
RR (4).
HASIL PENELITIAN
Data
penderita.--
Distribusi umur penderita dapat dilihat
pada Tabel 2. Status perkawinan mereka tercantum pada
Tabel 3. Dua puluh dua penderita (44,8%) menyatakan pe-
nyakitnya ini pertama kali diderita. Sumber infeksi terbesar
ialah wanita tuna susila (83,6%) (Tabel 4 ). Masa tunas berkisar
antara 1 hari sampai lebih dari 1 bulan, namun 42.8% antara
1 - 3 hari dan secara keseluruhan pada 84,1% kasus masa tunas
tidak lebih dari 7 hari (Tabel 5). 63,2% penderita datang se-
telah sakit selama 1 - 3 hari. Hanya 7 penderita yang sakit
lebih dari 8 hari (Tabel 6).
Hasil pengobatan.--
Pada hari ketiga setelah pengobatan,
36 penderita kembali dan 34 penderita (94,4%) dinyatakan
sembuh. Dua penderita lainnya masih menunjukkan tanda-
tanda urethitis gonorrhoeica
acuta; mereka menyangkal
adanya hubungan seksual lagi. Tiga belas orang tidak kembali
guna pemeriksaan ulang.
Pada hari ke-7, dari 28 penderita yang kembali, hanya se-
orang (3,6%) yang masih menunjukkan gejala urethritis dan
pada sediaan apus didapatkan diplococcus gram negatif.
Hubungan seksual ulang disangkal. Secara keseluruhan angka
kesembuhan setelah 7 hari ialah 96,4%.
Efek samping tidak dijumpai. Tak ada erupsi kulit, diare,
maupun reaksi anafilaktik.
Tabel 2 : Distribusi umur
Umur ( tahun )
Jumlah ( % )
15 ­ 19
6
( 12,2 )
20 ­ 24
23
( 46,9 )
25 ­ 29
5
( 10,2 )
30 ­ 34
6
( 12,2 )
35 ­ 39
7
( 14,2 )
40 ­ keatas
2
( 4,0 )
49
Rata - rata umur 26,1 tahun.
Tabel 3 : Status perkawinan
Status
Jumlah ( % )
Kawin
Belum kawin
Cerai
15
( 30,6 )
33
(67,3)
1
( 2,0 )
49
Tabel 4 : Sumber infeksi
Sumber infeksi
Jumlah ( % )
WTS
41
(83,6)
Teman wanita
3
( 6,1 )
Istri
4
( 8,1 )
Disangkal
1
( 0,2 )
49
Tabel 5 : Masa tunas
Masa tunas
Jumlah (
%
)
1 ­
3 hari
21
( 42,8 )
4 ­
7hari
19
( 41,3)
8 -- 14 hari
3
( 6,1 )
15 ­ 21 hari
4
( 8,1 )
22 ­ 28 hari
1
( 2,0 )
Lebih satu bulan
--
--
Tak diketahui
1
( 2,0 )
49
Tabel 6 : Lama sakit
Lama sakit
Jumlah ( % )
1 ­
3 hari
31
( 63,2 )
4 ­
7 hari
11
( 22,4 )
8 ­ 14 hari
5
( 10,2 )
15 ­ 21 hari
1
( 2,0 )
22 ­ 28 hari -- --
Lebih dari satu bulan
1
( 2,0 )
49
DISKUSI
Pada penelitian pendahuluan ini diagnosis ditegakkan atas
dasar anamnesis, pemeriksaan klinik dan sediaan apus. Persen-
tase kecermatan (accuracy) dari sediaan apus ini, menurut
Djuanda S adalah 98,7% bila dibandingkan dengan hasil pem-
biakan (7). Dari hasil yang didapat terlihat bahwa pengobatan
urethritis gonorrhoeica acuta dengan amoksisilin 3g tanpa
probenesid dalam dua dosis oral memberikan hasil kesembuh-
an yang cukup baik (angka penyembuhan 96,4%). Willcox RR
dengan cara pengobatan dan dosis yang sama pada 100 pen-
derita pria mendapatkan angka kesembuhan 97,5% pada
follow-up sampai 3 bulan; Sedang bila pengamatan dalam
waktu 2 minggu mendapatkan hasil kesembuhan 98,8% (4).
Pada pemberian per oral sekaligus, setelah enam jam 50 - 70%
amoksisilin akan dieliminiir melalui ginjal dan berada dalam
urin (5). Dengan cara pemberian bertahap yaitu dua dosis
oral seperti tersebut di atas, maka kadar amoksisilin dalam
serum dapat dipertahankan sehingga pemakaian probenesid
tidak diperlukan lagi. Pada hari ke - 3 setelah pengobatan ter-
sebut, dari 36 yang kembali, 34 sembuh dan 3 di antaranya
pada pemeriksaan urin didapatkan jumlah lekosit yang me-
lebihi normal. Ketiga penderita tersebut didiagnosis sebagai
Post Gonococcal Urethritis (PGU).
Dengan melihat hasil penelitian pendahuluan ini, pemakai-
an amoksisilin dengan dosis dan cara pemberian seperti di atas
pada urethritis gonorrhoeica acuta dapat kita pakai sebagai
salah satu alternatif.
Beberapa keuntungan dengan pengobatan ini adalah sbb :
-- efektif (angka kesembuhan lebih dari 90%)
-- bahaya reaksi anafilaktik kurang (pada penelitian ini tak
ada)
(
Bersambung ke
ha
laman
46 )
44 Cermin Dunia Kedokteran No. 21, 1981