TEKNIK
Pengembangan Uji Diagnostik melalui
Teknik Molekuler
Rochman Na'im
Jurusan Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan
Institut Pertanian Bogor, Bogor
PENDAHULUAN
Dalam bidang kedokteran (manusia maupun hewan), uji-uji
diagnostik merupakan salah satu metode untuk menangani kasus
penyakit. Berbagai uji diagnostiktelahdikembangkan, baik yang
didasarkan pada teknik kultur agen penyakit, reraksi kimia/
biokimia maupun reaksi imunologik. Dengan berkembangnya
teknologi dalam bidang biologi molekuler, maka pengembangan
uji-uji diagnostik mulai diarahkan kepada teknologi tersebut
yang menggunakan materi genetik sebagai dasar pengujiannya.
Materi genetik yang berupa asam nukleat baik DNA (Deoxy-
ribose Nucleic Acid) maupun RNA (Ribo Nucleic Acid) mengan-
dung tiga komponen, yaitu: 1) basa (purin dan pirimidin); 2) gula
(deoksiribosa untuk DNA dan ribosa untuk RNA); dan 3) fosfat.
Basa purin yang terdapat pada DNA maupun RNA adalah sama,
yaitu Adenine [A] dan Guanine [G] sedangkan basa pirimidin
berbeda, untuk DNA adalah Cytocine [C] dan Thymine [T] dan
untuk RNA kedudukan Thymine digantikan oleh Uracil [U]
Kedua unsur basa tersebut (purin dan pirimidin) akan berpa-
sangan membentuk kode-kode genetik pada DNA maupun RNA
melalui ikatan hidrogen (A akan berpasangan dengan T [pada
DNA] atau A dengan U [pada RNA]; dan G dengan C). Unsur
gula dan fosfat akan membentuk struktur DNA dan RNA. DNA
memiliki struktur rantai ganda sedangkan RNA memiliki rantai
tunggal. Struktur DNA lebih stabil bila dibandingkan dengan
RNA.
Berdasarkan materi genetik tersebut, uji-uji diagnostik di-
kembangkan melalui teknik-teknik molekuler seperti hibridisasi
dengan probe asam nukleat; polymerase chain reaction (PCR),
restriction fragment length polymorphism (RFLP) dan sekuensing
asam nukleat.
HIBRIDISASI
Mekanisme dasar di balik uji-uji diagnostik yang meng-
gunakan probe asam nukleat adalah hibridisasi. Teknik ini di-
dasarkan pada perpaduan dua basa nukleotida dan rantai asam
nukleat yang komplementer (DNA dengan DNA atau RNA; dan
RNA dengan RNA).
Teknik hibridisasi meliputi dua proses, yaitu proses denatu-
rasi atau pemisahan dua rantai asam nukleat yang komplementer
dari proses renaturasi atau perpaduan kembali dua rantai asam
nukleat. Proses denaturasi biasanya dilakukan dengan cara pe-
manasan DNA untuk memecah ikatan hidrogen yang terdapat
di antara pasangan basa sehingga rantai asam nukleat akan
terpisah. Proses ini kemudian diikuti dengan proses renaturasi
dengan cara pendinginan.
Uji-uji yang menggunakan hibridisasi membutuhkan proses
denaturasi dan fragmen asam nukleat yang tidak diketahui dan
memfiksasi fragmen tersebut pada bahan solid seperti filter
nitroselulosa. Kemudian suatu probe asam nukleat yang kom-
plementer dicampurkan dengan fragmen asam nukleat yang
terdapatpada bahan solid tersebut pada kondisi yang mendukung
terjadinya hibridisasi. Proses hibridisasi dapat juga dilakukan
dalam larutan (bukan bahan solid). Baik DNA yang hendak
didiagnosis (target) maupun probe dimasukkan dalam larutan
buffer. Kedua DNA tersebut bebas bergerak dan proses hibridi-
sasinya berlangsung 510 kali lebih cepat danipada di bahan
solid. Keadaan tersebut sangat penting dalam aplikasi kebanyak-
an diagnostik mikrobiologi yang memiliki konsentrasi DNA
target sangat sedikit dan membutuhkan waktu diagnosis lebih
cepat.
Kondisi yang dapat mempengaruhi apakah dua rantai
asam nukleat akan berhibridisasi disebut stringency. Kondisi
stringency yang kuat akan mendukung perpaduan dua basa dari
dua rantai yang komplementer dengan tepat. Sedangkan kondisi
stringency yang lemah akan menyebabkan banyaknya perpadu-
an dua basa yang tidak sesuai di antara dua rantai asam nukleat.
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
32
Salah satu kondisi yang mempengaruhi hibridisasi adalah
tipe asam nukleat yang akan dihibndisasi. Perpaduan dua basa
antara dua rantai DNA tidak sekuat pasangan basa antara DNA
dan RNA. Rantai asam nukleat yang lebih panjang dengan
jumlah pasāngan basa yang komplementer lebih banyak akan
berhibridisasi lebih kuat daripada rantai yang pendek. Kompo-
sisi basa asam nukleat juga akan mempengaruhi hibridisasi,
karena pasangan basa G-C lebih kuat daripada pasangan A-T.
Selain itu temperatur dan kekuatan ionik buffer yang digunakan
juga akan mempengaruhi reaksi hibridisasi.
Probe asam nukleat adalah suatu fragmen rantai tunggal
dari DNA atau RNA yang komplementer yang telah dilabel.
Probe ini dapat dibuat sesuai dengan komposisi basa yang ter-
dapat pada gen dan suatu agen penyakit sehingga probe tersebut
hanya dapat berhibridisasi dengan gen dan agen penyakit ter-
sebut dan secara spesifik akan mendeteksi adanya agen penyakit.
Ada berbagai cara untuk memperoleh dari melabel probe
asam nukleat. Sebuah gen dan agen penyakit yang akan dideteksi
hams dimurnikan terlebih dahulu, kemudian dilabel apakah
dengan radioisotop seperti
32
P atau dengan substansi non-radio-
isotop. Walaupun substansi non-radioisotop dan dapat disimpan
dalam waktu yang lebih lama. Sensitifitas uji diagnostik meng-
gunakan probe yang dilabel dengan non-radioisotop dapat di
,tingkatkan dengan penggunaan PCR. Substansi non-radioisotop
yang paling sering digunakan sebagai label adalah biotin dan
digoxigenin.
Probe yang dilabel dengan biotin akan dideteksi dengan
menggunakan konjugat streptavidin-alkaline phosphatase (atau
enzim lain) dan pewarna yang sesuai untuk menghasilkan reaksi
yang berwarna seperti pada reaksi ELISA (Enzyme Linked
Immunosorbent Assay). Untuk probe yang dilabel dengan
digoxigenin, konjugat antibodi terhadap digoxigenin dengan
berbagai enzim dapat digunakan dengan substrat yang sesuai
untuk menghasilkan reaksi berwarna. Bila antibodi terhadap
digoxigenin dikonjugasikan dengan alkaline phosphatase, substrat
chemiluminescent dapat digunakan untuk menghasilkan reaksi
bercahaya, yang bila diekspos ke film sinar X akan memberikan
metode deteksi yang sensitif.
Probe dapat juga dibuat dari oligonukleotida (biasanya
terdiri dari 30-40 nukleotida) yang dibuat secara sintetik.
Oligonukleotida tersebut dapat berupa fragmen DNA rantai
tunggal atau fragmen RNA yang dilabel.
Probe asam nukleat dapat digunakan pada hampir seluruh
agen patogen, baik untuk digunakan dalam laboratonium riset
sebagai alat eksperimental atau untuk uji-uji diagnostik yang
sifatnya komersial.
POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)
Salah satu perkembangan teknik biologi molekuler yang
sangat membantu dalam pengembangan uji-uji diagnostik ada-
lah PCR. PCR dapat mengamplifikasi DNA dan jumlah yang
sedikit menjadi jumlah yang dapat dideteksi/banyak.
Adanya penemuan DNA polymerase (Taq polymerase) yang
stabil pada temperatur tinggi dan pengembangan alat yang
mengatur temperatur proses PCR secara otornatis, telah mem-
buat PCR dapat digunakan untuk uji-uji diagnostik secara
praktis.
DNA polymerase adalah enzim yang dapat mensintesis
rantai DNA yang baru dan DNA yang sudah ada. Penemuan
enzim yang tahan panas sangat membantu untuk mensintesis
DNA barn, karena tahap awal proses PCR dilakukan dengan
cara pemanasan rantai DNA yang sudah ada pada temperatur
90°C.
Untuk mengamplifikasi DNA dilakukan 30-40 kali siklus
proses PCR. Satu siklus terdiri dari 3 tahap, yaitu tahap denatu-
rasi pada temperatur 95°C, tahap hibridisasi primer pada tem-
peratur 37° sampai 56°C dan tahap polimerisasi pada temperatur
72°C.
Secara umum, DNA yang akan diamplifikasi diapit oleh se-
pasang primer sintetik yang merupakan potongan pendek dari
DNA yang spesifik/komplementer yang berfungsi sebagai
template dari DNA yang akan diamplifikasi. DNA target yang
akan diamplifikasi didenaturasi terlebih dahulu dengan pema-
nasan, kemudian primer ditambahkan pada DNA target dan
temperatur diturunkan agan terjadi proses hibridisasi. Bila tahap
polimerisasi dimulai, maka rantai DNA target yang terdapat di
antara primer akan diperbanyak menjadi dua rantai dengan pan-
jang yang sama seperti DNA target. Dengan adanya pengulang-
an tahap-tahap denaturasi, hibridisasi dan polimerisasi beberapa
kali, maka DNA target akan diperbanyak secana efektif.
Bila enzim reverse transcriptase yang mensintesis DNA
dan template RNA, digunakan pada tahap awal proses PCR,
maka RNA ribosom dan genomik dan virus RNAjuga dapat di-
amplifikasi.
PCR dapat digunakan dalam uji-uji diagnostik untuk
mengamplifikasi asam nukleat dan agen-agen penyakit yang
ada dalam jumlah sedikit sehingga sensitifitas uji dapat diting-
katkan. DNA yang telah diamplifikasi selanjutnya diidentifikasi
dengan teknikhibridisasi yang rnenggunakan probe asam nukleat
yang spesifik, atau dengan analisis restriction fragment length
polymorphism (RFLP) dan elektroforesis pada gel aganose atau
dengan cara sekuensing.
RESTRICTION FRAGMENT LENGTH POLYMOR-
PHISM (RFLP)
Teknik ini menggunakan enzim-enzim restriksi yang ber-
fungsi sebagai pemotong DNA rantai ganda pada sekuens yang
spesifik, untuk menentukan apakah dua fragmen DNA memiliki
kesamaan. Dalam teknik ini, DNA didigesti atau dipotong de-
ngan enzim restriksi tertentu, kemudian dielektroforesis pada gel
aganose yang akan memisahkan fragmen DNA yang dipotong
sesuai dengan ukurannya. Kalau DNA tidak identik ukurannya,
maka pola fragmen DNA pada gel tidak akan sepadan. Bila pola
fragmen DNA sarna, maka enzirn restriksi tersebut akan diguna-
kan untuk menentukan apakah dua rantai DNA merniliki ke-
samaan.
Satu rantai DNA yang tidak diketahui dapat diidentifikasi
apakah berasal dari agen penyakit tertentu atau tidak dengan cara
pembar pola RFLP dengan referensi standar.
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 33
SEKUENSING ASAM NUKLEAT
Sekuensing asam nukleat merupakan suatu metode untuk
menentukan urutan-urutan basa nukleotida (A, C, G dan T)
dalam suatu gen dan asam nukleat. Saat m sekuensing asam
nukleat dapat dilakukan secara otomatis dengan suatu alat yang
disebut nucleic acid sequencer. Peralatan tersebut dapat meng-
identifikasi secara cepat suatu mikroorganisme berdasarkan
sekuens dan genomiknya. Bila alat tersebut aplikasinya di-
kombinasikan dengan PCR, maka dapat dijadikan suatu alat uji
diagnostik yang sensitif dan spesifik.
Bagaimanapun uji-uji diagnostik yang didasarkan pada
teknik molekuler bukanlah sesuatu yang mudah, melainkan
membutuhkan keterampilan khusus. Teknik molekuler tersebut
seharusnya digunakan untuk mengembangkan uji-uji diagnostik
yang Iebih sensitif dan lebih spesifik dengan biaya yang relatif
tidak mahal.
Untuk agen-agen penyakit tertentu metode diagnosis seperti
antibodi monokional, ELISA, mikroskop elektron, immuno-
fluoresensi ataupun uj i-ui i diagnostik konvensional lainnya
masih memberikan hasil yang cukup baik. Dengan demikian
teknik molekuler hanya akan berfungsi sebagai pelengkap uji-
uji diagnostik yang telah ada.
Teknik-teknik molekuler yang telah diuraikan tersebut se-
baiknya digunakan untuk memahami atau mempelajari agen
penyakit pada tingkat molekuler dan interaksinya dengan induk
semang.
KEPUSTAKAAN
1. Brock TD, Madigan MT. Biology of Microorganisms. 5th ed. Prentice Hall.
New Jersey. 1988.
2. Innis MA, Gelfand DH, Sninsky JJ, White TJ. PCR Protocols: A Guide to
Methods and Applications. Academic Press, Inc. San Diego. California.
1990.
3. Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. Harpers Biochemistry.
23rd ed. Prentice Hall International Inc. USA. 1993.
4. Old RW, Primrose SB. Principles of Gene Manipulation: An Introduction to
Genetic Engineering. Blackwell Scientific Publications. London. 1989.
5. Sambrook J, Fritsch EF, Maniatis T. Molecular Cloning: A Laboratory
Manual. 2nd ed. Cold Spring Harbor Laboratory Press. New York. 1989.
6. Swaminathan B, PrakashG. Nucleic Acid and Monoclonal Antibody Probes:
Application in Diagnostic Microbiology. Marcel Dekker, Inc. New York.
1989.
Half the ease of life oozes away through the leaks of unpunctuality
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
34