background image
2.4 gm
(2 ).
Di daerah-daerah yang sudah diketahui terdapat
Plasmodium falciparum
yang resisten terhadap chloroquine,
baru dapat dipertimbangkan untuk menggunakanobat antimala-
ria lain bila perlu, misalnya kombinasi sulfadoksin dan pyrime-
thamine. Kombinasi ini perlu dibatasi pemakaiannya untuk
mencegah timbulnya resistensi parasit malaria terhadap obat ini.
KEPUSTAKAAN
1. Moore DV, Lanier JE. Observations on two Plasmodium falciparum
infections with an abnormal response to chloroquine. Am J Trop
Med Hyg 1961; 10 : 5 - 9.
2.Wld Hlth Org. Chemotherapy of malaria and Resistance to anti-
malaria. Wld Hlth Org Tech Rep Ser No. 529, 1973.
3.Omer AH. Response of Plasmodium falciparum in Sudan to oral
chloroquine. Am J Trop Med Hyg 1978; 27 : 853 - 857.
4. Khan AA, Maguire MJ. Relative chloroquine resistance of Plasmodi-
um falciparum in Zambia. Br Med J 1978; i: 1669 - 1670.
5.Fogh S, Jepsen S, Efferson P. Chloroquine-resistant Plasmodium
falciparum malaria in Kenya. Trans Roy Soc Trop Med Hyg I979;
73 : 228 - 229.
6.Campbell CC, Chin W, Collins WE, Teutsch SM, Moss DM. Chloro-
quine-resistant Plasmodium falciparum from East Africa. Lancet
1979; 1151 - 1154.
7.Eke RA. Possible chloroquine-resistant Plasmodium falciparum in
Nigeria. Am J Trop Med Hyg 1979; 28 (6) : 1074 - 1075.
8.Tillema S. Enkele gevallen van chinine of atebrin resistente malaria.
Geneesk Tijdschr Ned Ind 1936; 76 : 2399.
9.Van Goor WTh, Lodens JG. Clinical malaria prophylaction with
proguanil. Doc Neerl Ind Morb Trop 1950; 2 : 62.
10.Van Goor WTh, Lodens JG, Gemps JA. Klinische prophylaxe met
proguanil (paludrin) gedurende 2 jaar en met Nivaquine (chloro-
quine) gedurende 1 jaar bij de bevolking van een zelfde dessa.
Madj Kedok Ind 1951; 1: 141.
11.Meuwissen JHET. Resistance of Plasmodium falciparum to pyri-
methamine and proguanil in Netherlands New Guinea. Am J Trop
Med Hyg 1961; 10 : 135.
12.Verdrager J, Arwati. Resistant Plasmodium falciparum infection
from Samarinda, Kalimantan. Bull Hlth Studies in Indon 1974;
2 : 43.
13.Verdrager J, Arwati. Effect of a single dose of minocycline on a
chloroquine-resistant falciparum infection from Balikpapan, Kali-
mantan. Bull Hlth Studies in Indon 1975; 3 : 41 - 46.
14.Verdrager J, Arwati, Simandjuntak CH, Sulianti Saroso J. Chloro-
quine-resistant falciparum malaria in East Kalimantan, Indonesia.
J Trop Med Hyg 1976; 79 (3) : 58 - 66.
15.Ebisawa I, Fukuyama T. Chloroquine-resistant falciparum malaria
from West Irian and East Kalimantan. Ann Trop Med Parasit 1975;
69 (1) : 131 - 132.
16.Ebisawa I, Fukuyama T. Chloroquine resistance of Plasmodium
falciparum in West Irian and East Kalimantan. Ann Trop Med
Parasit 1975; 69 (1) : 275 - 282.
17.Ebisawa I, Fukuyama T, Kawamura Y. Additional foci of chloro-
quine-resistant falciparum malaria in East Kalimantan and West
Irian, Indonesia. Trop geogr Med 1976; 28 : 349 - 354.
18.Verdrager J, Sulianti Saroso J, Arwati, Simandjuntak CH. Response
of falciparum malaria to a standard regimen of chloroquine in
Jayapura, Irian Jaya (Indonesia). Bull Hlth Studies in Indon 1976;
4 : 19.
19.Clyde DF, Mc Cazthy VC, Miller RM, Hornick RB. Chloroquine-
resistant falcipazum malaria from Irian Jaya (Indonesia, New Gunea).
J Trop Med Hyg 1976; 79 : 38 - 41.
20.Soegiarto AH, Soedarmadji ThP,Sorensen K, Dennis DT, Atmosoe-
djono S. Pengamatan kekebalan falcipazum malaria terhadap kloro-
kuin di Salawati, Irian Jaya. Seminaz Nasional Parasitologi I, Bogor,
1977; 8 - 10 Desember.
21.Dakung LS, Pribadi W, Ismid IS. Plasmodium falciparum yang
tersangka resisten terhadap klorokuin di Jakarta. Maj Kedok Indon
1978; 28 (10, 11, 12) : 114 - 117.
22.Hutapea AM. In vivo strain sensitivity test to a standard dose of
chloroquine in falcipazum malaria in Jayapura, Indonesia. Maj
Kedok Indon 1979; 29 (9, 10, 11, 12) : 49 - 51.
23.Dondero Jr TJ, Kosin E, Parsons RE, Tann G, Lumanauw FH.
Preliminazy survey for chloroquine resistant malaria in parts of
North Sumatra, Indonesia. Southeast Asian J Trop Med Pub Hlth
1974; 5 (4) : 574 - 578.
24.Gundelfinger BF, Wheeling CH, Lien JC, Atmosoedjono S, Siman-
djuntak CH. Observation of malaria in Indonesia Timur. Am J Trop
Med Hyg 1976; 24 : 393.
Pengaruh Penyakit Malaria terhadap Keadaan
Gizi Anak Balita
Marbaniati
Puskesmas Wanadadi Kabupaten Banjarnegara.
PENDAHULUAN
Sudah sejak lama diketahui, bahwa penyakit infeksi mem-
punyai hubungan yang erat dengan gizi. Keduanya saling
pengaruh mempengaruhi. Dari pengunjung poliklinik dan
hasil active case detection terhadap malaria, ternyata penyakit
malaria menduduki tempat teratas dalam urut-urutan penyakit
yang terbanyak diderita oleh penduduk kecamatan Wanadadi
(tabel 1).
Sejak puluhan tahun yang silam sebetulnya penyakit
malaria di kecamatan Wanadadi telah banyak, namun karena
jeleknya pelaporan dan pencatatan, maka tak banyak yang
diketahui tentang malaria di kecamatan Wanadadi sampai
dengan tahun
1972.
Hal ini sesuai dengan pendapat Bachrawi
Wongsokoesoemo (1976) bahwa reporting dan recording
penyakit menular di Indonesia sangat jelek sampai tahun
1969 (1).
Dari tabel
2
nampak bahwa penyakit malaria sudah nampak
tinggi sejak tahun
1972,
dengan Annual Parasit
e Incidence
43
°/o
o
,
dan Slide Positivity Rate I6,5%. Pada tahun
1975
Annual Parasite Incidence-nya menjadi meningkat 4 kalinya
dan pada tahun 1976 menjadi I0 kalinya. Pada tahun
1978
dan 1979 keadaan ini dapat ditekan.
Tabel 1 : Distribusi penyakit
yang
diketemukan pada pengunjung
poliklinik Puskesmas Wanadadi dan dari active case
detection terhadap malaria, pada tahun 1979 berdasar
jenis penyakit.
No.
Jenis penyakit
Banyaknya %
1.
malaria
21,5
2.
Penyakit saluran pernapasan
bagian atas
18,8
3.
Kelainan kulit
12,5
4.
Penyakit saluran pernapasan
bagian bawah
6,1
5.
Mencret
3,9
6.
Kelainan mata
3,7
7.
Keluhan saluran pencernaan
3,6
8.
Helminthiasis
0,3
9.
Penyakit kelamin
0,6
10.
Lain - lain
29
27
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
background image
Tabel 2 Tindakan yang telah dilakukan dalam pemberantasan Malaria dikecamatan Wanadadi, Slide positivity rate, dan
Annual Parasite Incidence pada tahun 1972 - 1979.
Tahun
T i n d a k a n
Jumlah
slide
yang di-
periksa
Jumlah
slide positive
SPR
%
API
(°/ )
oo
insektisida
m.f.t.
v.h.w.
m.d.p.
surv.
1972
DDT
-
-
-
+
6779
1118
16,5
43
1973
DDT
-
-
-
+
5367
785
14,6
30
1974
DDT
-
-
-
+
7184
1399
19,5
54
1975
DDT
-
+
-
+
14400
4397
30,5
170,3
1976
DDT
+
+
-
+
29991
1 0887
36,3
421,7
1977
Fen.Fog.
+
+
+
+
24331
8049
33,1
311,7
1978
Fen.DDT
-
+
+
+
9213
1684
18,3
61,5
1979
Fen.Fog.
+
+
-
27962
2265
8,1
82,7
Catatan : m.f.t. =
m.d.p.=
A.P.I. =
Fen
=
mass fever treatment; v.h.w. = village health worker.
mass drug prophylaxis; surv. = surveillance; S.P.R. = Slide positivity rate
Annual Parasite Incidence; Fen.Fog = Fenitrothion fogging
fenitrothion residual spraying.
Sumber : Marbaniati (1979) dengan modifikasi (2).
Tabel 3
Insidensi malaria di antara anak-anak umur 0 - 11 bulan
di desa Wanadadi, tahun 1977.
Umur
Jumlah kasus
Insidensi °/oo
lnsidensi
rata-rata
°
/oo
0 -1 bulan
1
166,7
2 bulan
1
166,7
3 bulan
1
333,3
217,4
4 bulan
2
500
5 bulan
0
0
6 bulan
3
333,3
7 bulan
2
1000
8 bulan
0
0
9 bulan
4
2000,
481,5
10 bulan
4
666,7
11 bulan
0
0
Tabel 4
Insidensi malaria di kecamatan Wanadadi berdasarkan
umur, dalam tahun 1976 - 1979.
Tahun
Insidensi malaria berdasar umur
°
/oo
0-llbl
1-3th
4-6th
7-14th
15th+
1976
204,8
825,8
542,3
492,5
301,2
1977
303,2
721,7
313
297,2
232
1978
53,1
168,4
64,5
59,8
48,4
1979
85,7
282
105,7
77,6
59,9
Usaha-usaha yang telah dilakukan sejak tahun I972 sampai
1979 dapat dilihat dalam tabel 2, yang menunjukkan bahwa
banyak usaha dan daya yang telah dilakukan.
Dari tabel 3 dan 4 nampak bahwa insidensi terbanyak
dari penyakit malaria di kecamatan Wanadadi adalah pada
usia 1 - 3 tahun, sedangkan usia 6 - 11 bulan mempunyai
angka yang tinggi pula.
SITUASI
Kecamatan Wanadadi terletak kabupaten Banjarnegara
karesidenan Banyumas, dengan ketinggian 239 meter di atas
permukaan laut. Terdiri dari 1 2 desa, dengan jumlah penduduk
28030 jiwa (akhir Desember 1979) dengan jumlah anak di-
bawah tiga tahun sebanyak 3081 jiwa (11%). Penduduk
hidup dari bertani. Pendapatan per capita sekitar Rp 58.435,-
Makanan utama padi; di samping itu ketela dan jagung juga
merupakan makanan pokok.
Sawah ditanami padi terus menerus sepanjang tahun karena
irigasi yang memungkinkan. Sedangkan tanaman palawija
kurang menguntungkan karena tanahnya akan pecah-pecah
bila ditanami palawija tersebut.
MASALAH
PEMBAHASAN.
Dalam tulisan ini penulis akan membahas 3 masalah :
(1) Sebab-sebab penyakit malaria berpengaruh terhadap
keadan gizi anak balita, (2) Pengaruh penyakit malaria
terhadap keadaan gizi anak balita dalam pertumbuhan berat
badannya.
(3)
Cara-cara
mengatasi keadaan tersebut.
1.
Sebab-sebab penyakit malaria berpengaruh terhadap ke-
adaan gizi anak balita.
Di negeri berkembang seperti di Indonesia, penyakit yang
mengenai bayi dan anak-anak sangat berhubungan erat dengan
umur, lingkungan dan pola makannya (3) Anak-anak dengan
berat badan kurang sulit untuk mengisap susu, mempertahan-
kan temperatur tubuh, memobilisir gula yang cukup untuk
energi dan pertahanan terhadap infeksi, terutama pada keada-
an rumah yang tak bersih. Sehingga daya tahan tubuh anak
Simposium Masalah Penyakit Parasit
28
background image
terhadap penyakit pada anak-anak dengan berat badan kurang,
akan lebih rendah dibandingkan dengan yang normal, sehingga
lebih mudah kena penyakit.
Kekurangan gizi adalah satu dari penyakit kanak-kanak
di negara berkembang. Walaupun ini mudah dicegah dengan
memberikan makanan yang baik, baik dalam kualitas maupun
dalam kuantitas.
Penyakit-penyakit infeksi,
misalnya malaria,
penyakit
saluran pernapasan, gastroenteritis, measles banyak terjadi
pada anak-anak dengan berat badan kurang. Di samping itu
penyakit infeksi sebaliknya juga memacu anak untuk menjadi
kekurangan gizi.
Menurut Brown H W (1975) gejala-gejala penyakit malaria
adalah sebagai berikut : serangan panas tinggi yang berselang-
seling, anemia sekunder dan pembesaran limpa. Primary attack
dari malaria akuta paling sedikit selama 2 minggu, kemudian
diikuti dengan malaria kronik setelah periode laten yang lama.
Masa prodromal 1 minggu atau lebih, dengan gejala-gejala yang
tidak spesifik yaitu : sakit kepala, kelelahan, anorexia, rasa
sakit di tulang-tulang dan sendi-sendi, panas dingin yang
terasa setiap hari atau tak beraturan.
Serangan dimulai dengan fase dingin selama lebih kurang
satu jam, menggigil walau suhunya di atas temperatur normal.
Kemudian diikuti dengan fase panas dalam waktu yang lebih
lama daripada fase dingin, di mana tubuh kering dan panas,
muka kemerah-merahan, suhu antara 39,5°C - 40,5°C, nadi
cepat, sakit kepala, mual, muntah-muntah, kadang-kadang
pada anak dan bayi timbul konvulsi dan diare.
Kemudian diikuti dengan fase berkeringat di mana penderita
berkeringat banyak dan temperatur tubuhnya menurun, sakit
kepala menghilang, sehingga dalam beberapa jam dia nampak
tanpa gejala, walau agak lelah. Serangan malaria ini lamanya
sekitar 8 - 12 jam, tetapi pada infeksi falciparum lebih lama.
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa penyakit
malaria mempengaruhi keadaan gizi anak balita karena :
1. anorexia pada semua kasus malaria.
2. diare pada beberapa kasus
3. muntah-muntah pada hampir semua kasus.
4. panas badan yang tinggi pada semua kasus, yang me-
nyebabkan:
-- absorpsi
usus
berkurang.
-- pembakaran lebih banyak kalori dan pemakaian
protein yang berlebihan untuk mengatasi infeksinya.
2.
Pengaruh penyakit malaria terhadap keadaan gizi anak
balita
Linggasari adalah salah satu desa di kecamatan Wanadadi,
di mana penimbangan terhadap balita pada tahun 1978 dijalan-
kan dengan baik dari bulan ke.bulan.
Dalam program penimbangan tersebut, kepada anak diberikan
makanan tambahan, dan penyuluhan-penyuluhan kepada ibu-
ibu untuk hidup secara sehat. Anak ditimbang satu bulan
sekali. Pada tahun 1978 tidak ada kejadian wabah penyakit
lain di Linggasari selain malaria, sehingga dapat dianggap
bahwa penyakit-penyakit lain selain malaria selalu stabil dari
bulan ke bulan dalam tahun 1978.
Pada tahun tersebut jumlah JMD (Juru Malaria Desa)
sangat terbatas. Satu orang untuk 3 desa (7000 orang). JMD
tersebut mengunjungi rumah-rumah dengan interval satu bulan
sekali. JMD tersebut jugalah yang mengunjungi anak-anak
balita dan balita di desa dengan interval sama. (Dalam program
penimbangan/program gizi, kita tak secara langsung mengambil
sample darah dari anak-anak tersebut, karena hal tsb mungkin
akan menghambat anak untuk berani datang kepertemuan
penimbangan lagi).
Harinasuta T et al (4) menyebutkan adanya symptomless
malaria di Asia. Hal ini juga didapati di daerah ini, dalam
jumlah sedikit.
Schuffner W mengutip pendapat R. Ross, bahwa pemerik-
saan terhadap sample darah secara massal terlalu berkepanjang-
an dan sangat bergantung pada :"reliability" dan routine dari
mikroskopis. Bila diterapkan dalam sample yang kecil maka
"probability mistake" -nya terlalu besar (5).
Berdasar pertimbangan terhadap kedua pendapat tersebut
di atas, maka penulis memperbandingkan parasite incidence
pada anak-anak yang berumur di bawah 3 tahun yang ada di
desa Linggasari pada tahun 1978 dan jumlah anak balita yang
berat badannya turun pada tiap-tiap bulan dari semua balita
yang ada di Pos Penimbangan I.
Gambar 1 menunjukkan bahwa pada waktu
insidensi
malazia tinggi, ternyata jumlah anak balita yang berat badan-
nya turunpun juga tinggi.
Peak malaria di desa Linggasari ada 2 kali, pada bulan Mei
dan Juni 1978, ada hama wereng pada musim tanam, dan juga
pada bulan Nopember dan Desember 1978. Sehingga pada
saat itu terjadi peceklik. Didalam Gambar 1, nampak bahwa
bulan ---- + 1978
Gambar 1 :
Parasite incidence pada batita dan prosentase
batita dengan berat badan turun, didesa Ling-
gasari tiap bulan pada tahun 1978.
29
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
background image
pada masa puncak paceklik tersebut (Mei), jumlah anak yang
berat badannya turun bertambah dengan pesat, sedangkan
incidence malarianyapun agak tinggi, dimana saat itu seharus-
nya tidak tinggi.
3. Cara mengatasi keadaan tersebut.
Selama masa akut dari penyakit malaria seyogyanya pen-
derita minum cukup cairan, misalnya air buah. Dan segera
setelah panas turun, dia harus makan makanan yang cukup
bergizi
untuk mengganti kerusakan-kerusakan
tubuhnya
selama demam (6).
Insidensi malaria pada umumnya terbanyak pada golongan
umur 6 bulan - 3 tahun walaupun golongan umur lainnya
cukup banyak juga.
Qbat-obatan untuk pengobatan radical terhadap malaria yang
tersedia adalah camoquin, atau chloroquin, dan primaquin.
Obat-obatan tersebut pahit dan harus diminum dalam jumlah
banyak selama beberapa hari ( 3 atau 5 hari ).
Orang-orang dewasa agak sulit memakannya, apalagi anak-anak
umur 6 bulan - 3 tahun. Pengobatan pencegahan dengan obat
khemoprofilaksis lebih mudah diterima , karena jumlah butir
obat yang harus ditelan lebih sedikit. Bila diminum dalam
waktu-waktu transmisi penyakit sedang banyak sekali, dapat
mengurangi penularan penyakit.
Tabel 5 menunjukkan efek mass drug prophylaxis dalam pe-
nurunan insidensi mala
r
ia pada anak balita pada masa peak
malaria.
Tabel 5 : Jumlah anak balita yang berat badannya turun, di desa
dengan drug prophylaxis dan di desa tanpa drug prophy-
laxis.
TINDAKAN
jumlah balita
pd bulan VII
yang berat ba-
dannya turun
jumlah balita
pada bulan IX
yang berat badan
nya turun
Prosentasi
penurunan
tanpa drug
prophylaxis
13,5%
21,2%
-57%
dengan
drug
prophylaxis
28%
11,5%
59,9%
KESIMPULAN
Dari pembicaraan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Penyakit malaria mempengaruhi keadaan gizi anak balita.
2. Penyakit kekurangan gizi mempengaruhi keadaan malaria
pada anak balita.
3. drug prophylaxis terhadap malaria untuk anak balita
di daerah endemis malaria perlu.
SARAN SARAN
Untuk mengatasi masalah malaria dalam hubungannya
dengan gizi balita maka perlu bukan saja untuk mengobati
penderita tapi mencegah jangan sampai terkena malaria mau-
pun jangan sampai keadaan gizi anak-anak menjadi kurang,
karena kedua keadaan tersebut berhubungan erat.
Malaria dan kekurangan gizi dapat dicegah dengan jalan :
1. Tindakan yang bersifat lokal :
(a) Mengintensifkan Program Penyuluhan Kesehatan Ma-
syarakat dan Program gizi.
(b) Mengintensifkan program pemberian preventive drugs
terhadap
malaria
pada golongan-golongan rawan,
yaitu anak umur 6 bulan - 3 tahun, yang bergizi ku-
rang, dan berstatus sosial ekonomi rendah. Pemberian
dilakukan pada 1 bulan sebelum peak dari malaria.
2. Tindakan yang bersifat nasional :
(a) Memperbaiki dan
mempertinggi usaha-usaha pem-
berantasan penyakit malaria, dengan :
· Penyemprotan dengan insektisida yang lebih poten
dan efeknya lebih lama daripada yang sudah-sudah.
· Penyediaan obat yang tidak pahit, agar anak-anak
golongan rawan (6bulan - 3 tahun dapat menelannya
dengan tenang, dan dalam dosis yang tepat ).
(b) Menambah dan meningkatkan status sosial ekonomi
penduduk, sehingga mereka memiliki cukup uang
untuk membeli makanan yang berkualitas dan ber-
kuantitas cukup (7).
(c)
Menambah dan meningkatkan status pendidikan umum
dari masyarakat, sehingga mudah mengerti dan melaku-
kan hal-hal yang telah diajarkan kepada mereka (7).
(d) Menambah dan memperbaiki penyediaan makanan,
yang berhubungan erat dengan sektor pertanian (7).
KEPUSTAKAAN
1. Wongsokoesoemo B.Malaria control in Indonesia. MKI 1976; 11 - 12
2. Marbaniati. Primary health care in Banjarnegara, Java by village
health worker with special reference to malaria. Dissertation sub-
mitted for Diploma in Community Health of The Tropics, London
School of Hygiene and Tropical Medicine, University of London.
1979.
3. Cameron M, Hofrander Y. Manual on feeding infants and young
children, New York : United Nations, 1976.
4. Harinasuta T et al. Malaria in South East Asia. SEAMEO­TROP-
MED scientific group meeting, Bangkok, 1976.
5. Schuffner W. Two subjects from the epidemiology of malaria.
Mededeelingen v.d. Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Neder-
landsch-Indie 1919, DI.IX, pg 1 - 52.
6. Cooper et al. Nutrition in health and disease. Philadelphia Mon-
treal : IB Lippinestt Co, 1963.
7. Burgess HJL (1969). Protein calarie Malnutrition in children.
In : The Ross lnstitute Information and advisory service, Bulletin
no 12. London: Juni 1974.
Survei Malariometrik di Daerah Endemik
Soesanto Tj., Supargiyono, Noerhayati S. dan Siti Moesfiroh
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM
PENDAHULUAN
Masalah penyakit malaria merupakan masalah yang men-
cakup berbagai faktor yang saling berkaitan. Misalnya masalah
Simposium Masalah Penyakit Parasit
30