background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Pengaruh
Obat Penghambat Reseptor Beta
pada Penderita Asma Bronkial
Boedi Swidarmoko
Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Unit Paru RS. Persahabatan, Jakarta
PENDAHULUAN
Powell dan Slatter (1958) menemukan Dichlor Isoprotere-
nol (DCI), yaitu suatu obat yang dapat menghambat reseptor
adrenergik beta
(1,2)
. Sesudah DCI, bermacam-macam obat
penghambat reseptor beta telah ditemukan dan dipakai secara
luas untuk pengobatan hipertensi, angina pektoris, infark
miokard dan aritmia. Masalahnya akan rumit bila penderita-
penderita tersebut di atas juga menderita kelainan saluran napas
seperti asma bronkial atau penyakit paru obstruktif menahun.
Sebagaimana telah diketahui, beberapa obat penghambat
reseptor beta, di samping bekerja pada jantung, juga mem-
punyai efek menghambat reseptor beta-2 yang terdapat pada
otot polos bronkus, sehingga terjadi bronkospasme; sebaliknya
terdapat pula beberapa obat penghambat reseptor beta yang
dapat diberikan pada penderita penyakit kelainan saluran napas
tersebut di atas karena sedikit sekali memberikan efek
bronkospasme. Oleh karena itu penggunaan obat penghambat
reseptor beta pada penderita yang disertai kelainan paru/saluran
napas seperti asma bronkial dan penyakit paru obstruktif
menahun harus hati-hati dan selektif.
Pada tinjauan kepustakaan ini akan dibahas pengaruh obat-
obat penghambat beta adrenergik terhadap reseptor beta-2 (di
paru-paru/saluran napas) pada penderita asma bronkial.
ASMA BRONKIAL
Asma bronkial dapat didefinisikan sebagai penyakit saluran
napas yang reaktif dan reversibel dengan karakteristik mengi
yang episodik, dispnea atau batuk
(3)
. Definisi lain adalah penya-
kit dengan karakteristik sesak napas dalam berbagai derajat yang
disebabkan oleh penyempitan luas saluran napas perifer paru,
bervariasi dalam derajat keparahan dengan periode yang singkat
membaik secara spontan maupun sebagai hasil terapi
(4,5)
.
Definisi yang sering dipakai saat ini yaitu: asma bronkial
adalah penyakit yang ditandai dengan peningkatan reaksi (hiper
aktivitas) trakea dan bronkus terhadap berbagai macam
rangsangan dan bermanifestasi penyempitan bronkus yang luas
dan menyeluruh dengan derajat berubah-ubah baik secara
spontan maupun akibat pengobatan
(6-8)
.
Faktor-faktor yang dapat mencetuskan asma bronkial ada-
lah antara 1ain
(3,9)
:
­ Inhalasi antigen spesifik
­ Lingkungan terpolusi
­ Infeksi
­ Cuaca ekstrim panas/dingin
­ Exercise
­ Stres fisik/psikis
­ Obat-obatan antara lain aspirin, indomethacin, morfin,
propanolol.
Dalam gambar 1 terlihat bagaimana mekanisme bronko-
dilatasi-bronkokontriksi serta peranan propranolol dalam me-
kanisme tersebut.
RESEPTOR ADRENERGIK (ADRENOSEPTOR)
Terdiri dan reseptor alfa dan beta yang dibedakan atas dasar
responnya terhadap beberapa obat adrenergik, di samping ada-
nya penghambat selektif untuk masing-masing reseptor)
(10,11)
.
Reseptor beta masih dibedakan lagi menjadi dua subtipe yang
disebut beta-i dan beta-2 berdasarkan perbedaan respon ber-
bagai stimulan dan penghambat reseptor beta terhadap reseptor
beta yang terdapat di berbagai organ. Berdasarkan konsep ini,
reseptor beta yang terdapat di jantung dan usus disebut reseptor
beta-1, sedangkan di bronkus, pembuluh darah otot rangka dan
uterus disebut reseptor beta-2 (tabel 1)
(10,11)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 29
background image
Gambar 1. Mekanisme Bronkodilatasi-Bronkokonstriksi
Saluran napas secara dominan dipersarafi para simpatis
(vagus), ujung simpatiknya disebut reseptor iritan dan serabut
motoriknya mempersarafi otot-otot bronkus
(4)
. Reseptor beta
adrenergik dalam paru disebut sebagai beta-2 reseptor. Beta
adrenergik stimulan (epinephrin/isoproterenol) adalah bronko-
dilator, sedangkan antagonisnya adalah adrenergic blocking
agent, menyebabkan penyempitan saluran napas
(4)
. Telah dide-
monstrasikan, bahwa pada tingkat seluler stimulasi beta-1
(yang berada dijantung) akan mempunyai efek antara lain pada
frekuensi jantung dan kekuatan kontraksi, sedangkan stimulasi
beta-2 (yang berada di otot polos bronkus) akan berakibat
terjadi bronkodilatasi
(4)
.
OBAT-OBAT PENGHAMBAT RESEPTOR BETA
Obat penghambat reseptor beta bersifat antagonis spesifik,
dengan demikian setiap rangsang reseptor beta pada jantung
akan dihambat oleh obat-obat pen ghambat reseptor beta
tersebut tanpa memandang asal rangsang tersebut
(2,11)
.
Obat-obat penghambat reseptor beta mempunyai struktur
kimia yang mirip dengan isoproterenol. Rantai samping dengan
gugus amin sekunder yang bersubstitusi isopropil rupanya di-
perlukan untuk interaksi dengan adrenoseptor beta. Substitusi
butil tersier pada gugus amin sekunder juga selektif untuk
adrenoseptor beta, dan tahan terhadap pemecahan oleh enzim
metabolisme. Substitusi pada cincin aromatik menentukan efek
obat terutama perangsangan atau penghambatan, dan juga me-
nentukan kardioselektivitasnya
(10,11)
.
Obat-obat penghambat reseptor beta menghambat secara
kompetitif efek obat adrenergik, baik yang dilepaskan ujung
sarafadrenergik maupun obat adrenergik yang beredar dalam
Tabel 1. Berbagai organ tubuh berikut reseptornya dan responnya ter
hadap
perangsangan
saraf
adrenergik
Organ/Jaringan
Reseptor
Adrenergik
Respons
Jantung
Nodus S - A
Atrium
Sistem
konduksi
Otot
Nodus A - V
Ventrikel
Sistem
konduksi
Otot
Pembuluh darah
Kulit
dan
mukosa
Otot
rangka
Visera
&
ginjal
Otak
Koroner
Bronkus
Lambung
Motilitas dan tonus
Sfingter
Usus
Motilitas dan tonus
Sfingter
Kandung kemih
Detrusor
Trigon dan sfingter
Uterus
Mata
Otot radial iris
Otot
siliaris
Kulit
Otot
pilomotor
Kelenjar
keringat
Hati
Sel pankreas
Sel lemak
1
1
1
1
1
1
2
2
2
2
1
1
2
2
2
2
2
1
Denyut jantung
Kecepatan konduksi
Kontraktilitas
Kecepatan konduksi
Kecepatan konduksi
automatisitas
Kontraktilitas
Konstriksi
Konstriksi
Dilatasi
Konstriksi
Dilatasi
Konstriksi (sedikit)
Konstriksi (sedikit)
Dilatasi
Bronkodilatasi
Kontraksi
Kontraksi
Relaksasi
Kontraksi
Kontraksi (bila hamil)
Relaksasi (bila tidak hamil)
Kontraksi (midriasis)
Relaksasi untuk melihat jauh
(sedikit)
Kontraksi
Sekresi (keringat adrenergik)
Glikogenolisis
Sekresi insulin (kuat)
Sekresi insulin (lemah)
Lipolisis
darah, pada adrenoseptor beta
(10,11)
. Obat ini tidak menghalangi
pengeluaran/penglepasan katekolamin pada sisi reseptor beta
atau dan medulla kelenjar adrenal. Kerja obat ini hanya me-
ngurangi efek katekolamin dan bersifat reversibel
(1,2,10)
.
Sifat-sifat lain obat penghambat reseptor beta:
1) Cardioselectivily
Obat-obat penghambat reseptor beta tidak hanya berbeda
dalam potensinya, tetapi juga mempunyai kerja yang selektif
terhadap reseptor beta. Selain obat penghambat reseptor beta
yang kardioselektif, yaitu obat-obat yang bekerja menghambat
reseptor beta-1 (yang terdapat pada jantung), seperti asebutolol
(Sectral®), atenolol (Tenormin®), metoprolol (Lopresor®),
practolol (Eraldin®), terdapat pula yang bersifat nonkardiose-
lektif, yaitu di samping dapat menghambat reseptor beta-1 juga
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
30
background image
Gambar 2. Struktur kimia isoproterenol dan berbagai obat penghambat reseptor beta
(10)
menghambat reseptor beta-2 (yang terdapat pada bronkus dan
pembuluh darah); contohnya: oxprenolol (Trasicor®), pindolol
(Visken®), propranolol (Inderal®), nadolol (Corgard®); se-
hingga bila obat-obat yang nonkardioselektif diberikan pada
penderita yang disertai asma bronkial akan timbul bronko-
spasme
(1,2,12-14)
.
2) Intrinsic Sympathomimetic Activity (ISA)
Beberapa obat penghambat reseptor beta, di samping meng-
hambat reseptor beta, juga bersifat merangsang reseptor beta,
sifat ini disebut intrinsic sympathomimetic activity atau partial
agonist.
Pengaruh obat penghambat reseptor beta dengan ISA pada
manusia tergantung dan besarnya ISA dan derajat tonus
simpatikus; bila tonus simpatikus tidak ada terlihat pengaruh
stimulasi, bila tonus simpatikus relatif rendah tidak akan
terlihat efek sama sekali; tetapi bila tonus simpatikus
meningkat akan terlihat efek hambatan.
Obat-obat penghambat reseptor beta yang mempunyai ISA
adalah : asebutolol, aiprenolol, oxprenolol, pindolol, dan
praktolol, sedangkan obat-obat penghambat reseptor beta tanpa
ISA antara lain : atenolol, metoprolol, propranolol dan nado-
lol
(1,2,10,12­14)
.
3) Membrane Stabilizing Activity (MSA)
Beberapa obat penghambat reseptor beta mempunyai efek
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 31
background image
langsung pada membran sel otot jantung dan saraf yang menye-
babkan hambatan pemindahan natrium melalui membran sel.
Sifat ini disebut sebagai Membrane Stabilizing Activity atau
Local Anaesthetic Effect atau Quinidine-like Effect. Sifat MSA
ini menyebabkan meningkatnya ambang rangsang, memper-
lambat action potential dan memperpanjang konduksi atrio-
ventrikular, sedangkan resting potential dan repolarisasi tidak
banyak dipengaruhi. Sifat MSA ini biasanya baru terlihat, bila
obat diberikan dengan dosis yang lebih tinggi dan biasa.
Bila obat-obat dengan MSA ini diberikan dengan dosis
yang berlebihan dapat menyebabkan depresi umum fungsi
miokard dan dapat mengakibatkan kematian.
Obat penghambat beta dengan MSA antara lain:
asebutolol, alprenolol, oxprenolol, pindolol dan propranolol;
sedangkan obat penghambat beta tanpa MSA antara lain:
atenolol, practolol, sotalol, timolol dan nadolol
(1,2,10-15)
.
Tabel 2. Berbagai obat penghambat adrenoseptor beta dengan sifat-sifat
farmako1ogiknya
(10)
Obat Perbandingan
Potensi blokade
adrenoseptor
(propranolol=1)
Kardio-
selek.
tivitas
Aktivitas
Simpato-
mimetik
Intriksik
(ASI)
Aktivitas
Stabilisasi
Membran
(ASM)
Asebutolol
Alprenolol
Atenolol
Metoprolol
Okspreno
Pindolol
Praktolol
Propranolol
d-propranolol
Sotalol
Timolol
0.3
0.3
1.0
1.0
0.5 ­ 1.0
6.0
0.3
1.0
0.1
0.3
6.0
+
0
+
+
0
0
+
0
0
0
0
+
++
0
0
++
+++
++
0
0
0
±
+
+
0
±
+
+
0
++
++
0
0
PENGARUH OBAT PENGHAMBAT BETA PADA RE-
SEPTOR BETA PENDERITA YANG DISERTAI ASMA
BRONKIAL
Penatalaksanaan hipertensi pada penderita asma bronkial
(hypertensive asthmatic) menjadi lebih rumit, dalam hal ini perlu
pencegahan dan terapi nonformaka semaksimal mungkin; bila
tak berhasil, digunakan antihipertensi spesifik/kardioselektif
disertai dengan obat anti asma secara minimal dan hati-hati.
Perlakuan umum untuk penderita hipertensi juga diberlakukan
pada penderita yang disertai asma bronkial, misalnya diit rendah
garam, mempertahankan berat badan optimal, penanganan stres,
uji latih/olah raga dan istirahat yang cukup. Penderita asma
bronkial tersebut haruslah berhenti merokok, menghindari polusi
udara/paparan alergen spesifik, mencegah terjadinya infeksi
saluran napas. Hal ini berlaku pada penderita hipertensi yang
mempunyai predisposisi untuk terjadinya bronkospasme
(16)
.
Seperti telah diketahui, obat-obatan (termasuk obat-obat
penghambat beta) dapat mencetuskan asma bronkial; meka-
nisme yang mendasari terjadinya hipereaktifitas saluran napas
tersebut belumlah diketahui dengan jelas, namun diajukan teori
sebagai berikut:
1) Melalui beta adrenergik reseptor.
Stimulasi beta adrenergik (misalnya oleh isoproterenol)
menyebabkan bronkodilatasi, sebaliknya blokade beta adrener-
gik (oleh obat-obat penghambat beta seperti propranolol) men-
cetuskan bronkospasme akut pada individu dengan asma
bronkial, atau meningkatkan respon bronkus terhadap obat-obat
bronkokonstriktor seperti asetilkolin. Kontraksi otot polos bron-
kus bergantung pada keseimbangan antara cyclic 3', 5'-ade-
nosine monophosphate (cAMP) dan cyclic 3', 5'-guanosine
monophosphate (cGMP)
(9,17-20)
.(Gambar 3).
Gambar 3. Keseimbangan cAMP - cGMP
(9)
2) Melalui kontrol parasimpatis.
Rangsang pada ujung distal vagus menyebabkan bronko-
konstniksi dan produksi mukus. Inhalasi histamin atau paparan
gas iritan atau asap rokok mencetuskan terjadinya hiperpnea
dan bronkokonstriksi melalui refleks vagal
(9,17-20)
. Penghambat
beta (propranolol) tidak hanya meningkatkan resistensi saluran
napas dalam keadaan istirahat, tetapi juga dapat meningkatkan
labilitas total bronkus uji latih (exercise) pada dewasa muda
yang normaI
(17)
. Sedangkan Pride
(18)
menyebutkan bahwa sti-
mulasi reseptor beta (beta adrenoseptor) dalam dinding bronkus
mengakibat kan pengurangan tonus otot polos dan bronko-
dilatasi; hal ini akan dihambat oleh obat-obat penghambat beta.
Sedangkan stimulasi alfa adnenosepton akan mengakibatkan
bronkokonstniksi pada penderita asma bronkia1
(18-20)
.
Bronkospasme terjadi pada 2­10% penderita walaupun tanpa
adanya riwayat asma bronkial atau bronkospasme.
Asma bronkial merupakan kontraindikasi penggunaan
penghambat reseptor beta; dosis tunggal dapat menimbulkan
serangan hebat. Obat-obat ini harus digunakan dengan sangat
hati-hati pada penderita yang pernah menderita asma bronkial
semasa anak atau pada penderita dengan bronkitis kronik tanpa
bronkospasme yang je1as
(10)
. Penghambat adnenoseptor beta
yang kardioselektif seperti praktolol memang kurang me-
nimbulkan bronkospasme, tetapi tetap dapat menimbulkannya
pada penderita yang peka
(10,16)
.
Walaupun ada obat penghambat beta kardioselektif yang
relatif aman, tetapi tidak ada yang mutlak kardiospesifik. Karena
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
32
background image
itu pemakaian obat ini pada penderita asma bronkial atau
penyakit paru obstruktif menahun harus berhati-hati, karena
obat ini masih dapat menimbulkan bronkospasme.
KEPUSTAKAAN
1. Nickerson M. Drugs Inhibiting Adrenergic Nerves and Structures Inner-
vated by Them. In: Goodman LS & Oilman A Ed. The Pharmacological
Basis of Therapeutics 4th Ed. The Mc Milan Co. 1970; 565­70.
Sampai saat ini belum dapat diketahui dengan pasti obat
penghambat reseptor beta yang dapat dipakai secara aman
tanpa menimbulkan efek samping terutama pada pemakaian
jangka panjang.
2. Frishman W. Clinical pharmacology of the new beta adrenergic blocking
drugs. Am Heart J, 1979; 97: 663­70.
3. Kiss GT. Diagnosis and Management of Pulmonary Disease in Primary
Practice. California: Addison-Wesley PubI Co. 147­53.
Tabel 3. Efek berbagai antihipertensi pada asma bronkial
4. Farzan S. A Concise Handbook of Pulmonary Diseases. Virginia: Reston
PubI Co Inc. 1978; 101­12.
Interactions With
Bronchodilators
Drug Effect
in
Asthma
Hypotensive
Effect
Spasmolytic
Effect
Beta-blockers
Reserpine
Methyldopa
Clonidine
Guanethidine
Prazosin
Hazardous
May exacerbate
No significant effect
No effect
May exacerbate
No significant effect
or
5. Peterson JW. Bronchodilators. In: Clark TJH, Godfrey S Eds. Asthma.
London: Chapman and Hall, 1977; 251.
6. American Thoracic Society. Chronic Bronchitis, Asthma, and Pulmonary
Emphysema. A Statement for the Committee on Diagnostic Standards for
Non Tuberculous Respiratory Disease. Am Rev Respir Dis 1962; 85: 762­
8.
7. Daniels RP. Padaophysiology of Asthma. In: Fishman AP (ed). Pulmonary
Diseases and Disorders. New York: McGraw Hill. 1980; 567­76.
8. Tisi GM. Asthma. In: Tisi GM (ed). Pulmonary Physiology in Clinical
Medicine. Baltimore: Williams & Wilkins. 1980; 163­74.
9. Cherniack RM, Cherniack L. Respiration in Health and Disease. Third Ed.
Tokyo: WB Saunders Co. 1983; 27 8­82.
Keterangan :
* l = Increased effect, = decreased effect,= severe hypertension may result
10. Arini Setiawati. Adrenergik. Dalam: Sulistia Gan dkk (eds). Farmakologi
dan Terapi. Edisi 2. Jakarta: Bagian Farmakologi FKUI. 1980; 3 1­70.
KESIMPULAN
11. Ariens RJ, Simonis AM. Receptors and Receptor Mechanisms. In: Saxena
PR and Forsyth RP (eds). Beta-adrenoceptor Blocking Agents. New York:
American Elsevier Publ Camp Inc. 1976; 3­27.
1) Obat-obat penghambat beta dipakai secara luas dalam peng-
obatan hipertensi, angina pektoris, infark miokard dan aritmia.
12. Taylor SH. Beta Receptors and Beta-blockers. Austral Fam Physician
1975; 4: 9­13.
2) Beberapa faktor dapat mencetuskan asma bronkial antara
lain propranolol melalui mekanisme mengurangi aktifitas
cAMP dan atau pembentukannya dan ATP.
13. Shanks RG. The Properties of Beta-adrenoceptor Antagonist. In:
Hofferand BI, Shanks RG, Brick I (eds). Ten Years of Propranolol.
Postgrad Med J 1976; Supp (4); 52: 12­9.
3) Ada dua reseptor adrenergik yaitu alfa dan beta, sedangkan
reseptor adrenergik beta dibedakan lagi sebagai beta-i (di jan-
tung) dan beta-2 (di bronkus).
14. Clark BJ. Pharmacology of Beta-adrenoceptOr Blocking Agents. In:
Saxena PR, Forsyth RP (eds). Beta-adrenoceptor Blocking Agents. New
York: American Elsevier PubI Co Inc. 1976; 45­76.
4) Terdapat beberapa sifat farmakologi dan obat penghambat
beta, yang penting di antaranya adalah kardioselektivitas.
15. Robinson C, Birkhead J, Crook B, Jennings K, Jewwitt D. Clinical Electra-
physiological Effects of Atenolol ­ A New Cardioselective Beta-blocking
Agent. Br HeartJ 1978; 40: 14­21.
5) Penatalaksanaan hipertensi pada penderita yang disertai
asma bronkial tidaklah sesederhana pada penderita tanpa asma
bronkial. Walau ada obat penghambat beta yang kandio-
spesifik, namun tidak ada yang mutlak bebas dan efek samping
pada saluran napas yaitu antara lain bronkospasme. Oleh
karena itu pemakaian obat penghambat beta pada penderita
yang disertai dengan asma bronkial dan penyakit paru
obstnuktif menahun haruslah dengan hati-hati; bila mungkin
sebaiknya dicari modalitas terapi farmaka lainnya.
16. Ziment I. Management of Hypertension in The Asthmatic Patient. Chest
1983; 83(2): 392­5.
17. Godfrey S. Exercise-induced Asthma. In: Clark TJH, Godfrey S (eds).
Asthma. London: Chapman and Hall. 1977; 73.
18. Pride NB. Physiology. In: Clark TJH, Godfrey S (eds). Asthma. London:
Chapman and Hall. 1977; 29.
19. Deal EC Jr. Airway Reactivity. In: Montenegro HD (ed). Chronic
Obstructive Pulmonary Disease. New York: Churchill Livingstone Inc.
1984; 49-63.
20. Reid L. Padaological Changes in Asthma. In: Clark TJH, Godfrey S (eds).
Asthma. London: Chapman and Hall. 1977; 84.
One thorn of experience is worth a whole wilderness of warning
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 33