HASIL PENELITIAN
Pengaruh Akupunktur terhadap Produksi
Air Susu Ibu
Antonius Chandra, Hudori Urnar, Meliana Zailani
SMF Akupunktur Rumah Sakit Dr. Ciptomangunkusumo, Jakarta
ayi, karena sifatnya yang alami dan kom-
posi
au ASI yang tidak keluar sama
seka
an anak.
r adalah suatu ilmu dan seni pengobatan tra-
ngan cara penusukan jarum akupunktur, atau
moksa (ramuan daun yang dibakan) pada
ukaan tubuh. Dalam perkembangan se-
pengobatan akupunktur,
sono-punktur
akua-punktur
elektro akupunktur
transcutaneus electro-stimulation
laser-punktur
Akupunktur dápat memberikan efek yang baik untuk pe
ingkatan produksi ASI
(6)
. Fava dkk., dalam laporannya
akupunktur dalam meningkatkan
prod
an pertumbuhan bayi yang
kemampuan produksi ASI diperlukan beberapa upaya
sehatan ibu baik jasmani maupun mental.
an bila tidak benar-
·
yang menyenangkan baik bagi ibu maupun bayinya.
· Menjauhkan diri dan perasaan kuatir, ketakutan, kegelisah-
an dan ketegangan jiwa lain.
· Mencegah terjadinya bendungan ASI.
· Melakukan persiapan menyusui sejak masa kehamilan.
Kelenjar mammae sebenarnya merupakan kelenjar kulit
ABSTRAK
Pemberian air susu ibu pada bayi sangat bermanfaat, baik dari segi gizi maupun segi
ekonomi. Berbagai upaya dilakukan untuk menggalakkan pemberian ASI pada bayi,
produksi ASL Akupunktur merupakan salah
roduksi ASI. Adanya efek akupunktur dalam
ibuktikan dalam penelitian ini.
PENDAHULUAN
Air susu ibu, (selanjutnya ditulis ASI) merupakan sumber
nutrisi terbaik bagi b
si yang lengkap dan sesuai bagi bayi
(1,2,3,4)
.
Dari survai yang dilakukan oleh Prawiro Sudirdjo (1984),
tentang pemberian ASI oleh ibu-ibu di Jakarta, diketahui bahwa
produksi ASI yang sedikit at
li merupakan salah satu alasan penghentian pemberian ASI
pada bayi (38%)
(5)
.
Dalam masa pembangunan ini, pemberian ASI pada bayi
mempunyai anti ekonomi yang cukup besar, bila ditinjau dari
jumlah susu yang dihasilkan, dan kualitas susu dan dari segi
manfaat bagi kesehat
Akupunktu
disional Timur, de
pemanasan dengan
titik-titik khusus di perm
lanjutnya dikenal berbagai variasi cara
antara lain
(6,7,8)
.
akupresur
n
menyatakan keberhasilan
uksi ASI kurang lebih 78,9%°
Penelitian yang dilaporkan dalam tulisan ini bertujuan
untuk mengetahui efek akupunktur dalam meningkatkan pro-
duksi ASI.
TINJAUAN PUSTAKA
Menyusui bayi akan menghasilk
memuaskan bila produksi ASI cukup. Untuk membina dan me-
melihara
yaitu
(1,10)
.
· Memelihara ke
· Cukup makanan untuk memenuhi kebutuhan ibu sendiri,
dan cukup tambahan untuk laktasi.
· Kontinuitas dalam menyusukan bayi sedapatnya diperta-
hankan.
· Menghindari pemberian makanan buat
benar diperlukan.
Menyusukan bayi sedini mungkin, posisi menyusukan
salahsatunya adalah dengan meningkatkan
satu alternatif untuk dapat meningkatkan p
peningkatan produksi ASI d
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995 33
khusus, yang terletak di jaringan bawah kWit. Pada laki-laki,
setelah pubertas, kelenjar ini tidak tumbuh lagi, sedangkan pada
wanita tumbuh pesat pada saat pubertas
(11,12)
. Prolaktin, estrogen,
progesteron, hidrokortison dan insulin meningkatkan kompo-
nen-komponen penyusun kelenjar mammae. Pertumbuhan sis-
tem duktus tergantung pada estrogen, sedangkan pertumbuhan
alveolus tergantung pada progesteron. Estrogen mempunyai
efek sinergis dengan prolaktin dalam membentuk jaringan payu-
dara, tetapi bersifat antagonis dalam sekresi ASI.
Selama kehamilan kelenjar mamrnae tumbuh dan berkem-
bang pesat. Pada kehamilan normal pertumbuhan ini dikontrol
oteh hormon-hormon dan ovarium, adrenal, hipofisis anterior
dan plasenta yang semuanya bekerja secara sinergis
(11)
.
Setelah persalinan, kelenjar rnarnmae mulai menghasilkan
susu yang kaya lemak, gula dan protein. Alveoli melebar seperti
kantung dan teregang karena berisi susu. Kolostrum merupakan
susu yang pertama dikeluarkan, mengandung sedikit lemak dan
lebih banyak protein dan susu biasa. Di samping itu juga me-
ngandung imunoglobulin yang dapat memberi kekebalan
kepada bayi terhadap infeksi bakteri
(13,14)
.
Proses awal laktasi dipengaruhi oleh interaksi hormon-
hormon yang kompleks. Pada saat kelahiran, dengan terlepasnya
plasenta terjadi penurunan kadar estrogen dan progesteron.
Keadaan ini mempengaruhi kadar prolaktin yang adekuat dalam
darah. Pada saat ini hormon kortiko-adrenal merangsang terjadi-
nya awal proses laktasi. Produksi ASI tidak hanya dipengaruhi
oleh prolaktin,tetapi juga oleh aktivitas hormon-hormon hipofisis
anterior lainnya. Isapan bayi pada puting susu akan memberikan
rangsangan terhadap hipofisis anterior dan menyebabkan lepas-
nya prolaktin ke dalam darah. Prolaktin dengan bantuan hormon-
hormon lainnya akan merangsang alveoli untuk menghasilkan
susu. Mekanisme ini dikenal sebagai Refleks Pro1aktin
(14)
.
Cara-cara meningkatkan produksi ASI dengan cara aku-
punktur sudah dikenal sejak dahulu, hal ini dapat dilihat di dalam
buku Gatherings from outstanding acupuncturist and Great
Compendium of acupuncture and moxibustion yang terbit di
Jaman Ming
(15)
. Menurut ilmu akupunktur air susu berasal dari
Ci dan Sie di dalam meridian Cung dan Rca; bila Ci dan Sie
berkurang atau tersumbat maka air susu juga akan berkurang
atau tidak dihasilkan
(15,16)
. Dalam ilmu kedokteran, Ci dapat
diidentikkan dengan bio-energi, sedangkan Sie adalah darah.
Dasar pengobatan kurangnya produksi ASI adalah melan-
carkan Ci dan Sie
(6)
. Titik-titik akupunktur yang dipergunakan
sangat bervariasi, namun yang sering dipakai adalah titik Ru
Ken (III,18), Sao Ce (VI,1), dan Can Cung (XIII,17). Titik Ru
Ken terletak pada Meridian Lambung (meridian III) di daerah
kelenjar susu, penusukan titik ini gunanya untuk melancarkan
Ci meridian lambung dan Ci kelenjar susu. Penusukan titik Sao
Ce (VI,I) gunanya untuk memperbaiki Ci jantung, sedangkan
penusukan Can Cung untuk mempenlancar Ci secara umum
karena titik ini merupakan titik dominan Ci, yaitu titik yang
menguasai Ci tubuh
(6)
.
Beberapa hipotesis cara kerja akupunktur yang berhubung-
an dengan laktasi adalah:
· pemeliharaan laktogenesis (pembentukan ASI) dan
· galaktopoesis (pengeluaran ASI)
Laktogenesis dipertahankan oleh hormon prolaktin dan
kortikosteroid, sedangkan galaktopoesis di bawah kontrol pele-
pasan hormon oksitosin sebagai akibat pengisapan. Akupunktur
bekerja pada kedua refleks neuro hormonal tersebut
(9)
.
BAHAN
Subjek penelitian adalah 30 orang ibu menyusui yang ber-
kunjung ke Puskesmas Matraman, dibagi atas 15 kasus, dan 15
kelola.
Disain penelitian uji klinis dengan sampel acak.
Kriteria penerimaan
Berusia 2035 tahun, sehat secara fisik dan psikis. Post
partum 2 minggu 3 bulan, untuk anak 1,2 dan ke 3 dan me-
nyusui bayi sehat, tidak menderita kelainan kongenital, berusia
2 minggu 3 bulan. Selain itu sang ibu tidak menggunakan
kontrasepsi hormonal dan dapat menyusui secara teratur dalam
24 jam, tanpa susu pengganti/tambahan.
Kriteria Penolakan
Mempunyai kelainan di payudara seperti peradangan, ke-
ganasan, dan/atau sedang dalam pengobatan hipertensi atau
psikofarmaka.
Alat yang dipakai
· Timbangan bayi merck Kubota
· Pengukur waktu merek DIEHL
· Alat elektro akupunktur "Multi Purpose Health Device G
6805-2 SMIC"
· Breast Meal
· Gelas ukur
· Moksa batang merek TAI I
CARA
Persiapan
1) Identifikasi/pengisian status
2) Pengukuran ASI
· Ibu dianjurkan untuk menyusui bayi pada pukul 6.00 pagi,
dan tidak menyusui atau memberiikan susu lagi sampai pukul
9.00.
· Pukul 9.00 berat badan bayi ditimbang, kemudian ibu di-
minta untuk menyusui bayinya sampai bayi merasa kenyang.
Berat badan bayi ditimbang lagi.
· Sisa ASI yang masih ada dalam kelenjar susu dikeluarkan
dengan cara memompa dengan alat breast meal dan ditampung,
untuk diukur menggunakan gelas ukur.
· Pertambahan berat badan bayi sebelum dan sesudah disusui
ditambah dengan sisa ASI, dianggap sama dengan produksi
ASI dalam satu kali menyusui. (Pertambahan berat 1 gram
dianggap sama dengan 1 ml. ASI).
Tindakan
· Pasien pada posisi berbaring
· Ditentukan lokasi titik-titik yang akan dimanipulasi
· Dilakukan tindakan antisepsis pada titik-titik tersebut
· Dilakukan tindakan elektro akupunktur (tanpa penjaruman)
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995
34
pada titik Can Cung (XIII,17), selama 15 menit dengan
frekuensi 2 Hz., sampai pasien merasakan adanya getaran.
· Dilakukan moksibusi dengan moksa batang pada titik Sao
Ce (VI, 1), sampai timbul daerah berwarna kemerahan.
Pada kelompok kontrol tidak dilakukan tindakan apa-apa.
· Titik yang dipilih (Gambar 1)
a) Can Cung (XIII,17)
Lokasi anatomi
(17)
setinggi sela iga ke empat, pada perpo-
tongan garis median dan garis penghubung ke dua puting susu.
b) Sao Ce (VI,l)
Lokasi anatomi pada sisi ulnarjari tangan ke jima, 0,1 cm
di belakang lateral basis kuku.
Gambar 1. Titik Akupunktur yang dIgunakan
Evaluasi
Dilakukan dengan melakukan pengukuran ASI setelah 2
minggu baik untuk kasus (setelah 6 kali tindakan), maupun
untuk kontrol.
Analisis Data
Data yang terkumpul dari penelitian ini dimasukkan ke
dalam tabel induk. Uji statistik yang digunakan adalah
Wilcoxon`s Rank Sum Test. Dinyatakan bermakna bila p < 0,05.
HASIL PENELITIAN
Telah dilakukan penelitian terhadap 30 orang ibu menyusui
yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu (Tabel 1 dan Lampiran 1).
15 orang kasus, mendapat tindakan akupunktur berupa
elektro-akupunktur tanpa penjaruman dan moksibusi.
15 orang kasus tidak mendapat tindakan akupunktur.
Tabel 1. Ranking Kelompok Kasus dan Kontrol
Kasus Kelola
No.
Pertambahan
produksi ASI
(ml)
Ranking No.
Pertambahan
produksi ASI
(ml)
Ranking
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
52
52
52
50
80
1
53
5
37
38
51
97
100
52
53
22,5
22,5
22,5
18,5
28
6,5
25,5
8
16
17
20
29
30
22,5
25,5
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
50
0
22
1
25
25
0
5
12
0
28
25
0
54
25
18,5
3
9
6,5
12
12
3
8
12
3
15
12
3
27
12
Dari perhitungan statistik dengan uji Wilcoxon Rank Sum
Test, didapat p = 0,0008 (perhitungan dilakukan dengan Mini-
tab); terdapat perbedaan yang bermakna antara pertambahan
produksi ASI pada kasus dan pada kontrol.
Tabel 2. Pertambahan Produksi ASI pada Kasus
No.
Pengukuran
awal
Pengukuran
akhir
Pertambahan
ASI
%
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
51
50
50
55
50
50
53
60
76
77
90
55
55
103
02
103
102
102
105
130
51
106
65
103
105
141
152
155
155
155
52
52
52
50
80
1
53
5
37
38
51
97
100
52
53
101,96
104
104
90,9
180
2
100
8,33
48,68
49,35
102
176,36
181,81
98,11
51,96
Dari Tabel 2 dapat dilihat adanya pertambahan produksi
ASI pada kasus, rata-rata sebanyak 5 1,53 ml., atau 9 1,96%.
Tabel 3. Pertambahan Produksi ASI pada Kelola
No.
Pengukuran
awal
Pengukuran
akhir
Pertambahan
ASI
%
1 55
105
50 90,9
2 50
50
0
0
3 80
102
22 27,5
4 52
53
1
2
5 55
80
25 45,45
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995 35
6 80
105
25 31,25
7 105
105
0
0
8 105
105
0
0
9 55
80
25 45,45
10 55
55
0
0
11 52
80
25 45,45
12 55
80
28 53,84
13 105
105
0
0
14 55
105
50
90,9
15 80
105
25 31,25
Dari Tabel 3 dapat dilihat adanya pertambahan produksi
ASI pada kelola, rata-rata sebanyak 18,40 ml., atau 30,93%.
Tabel 4. Pertambaban Berat Badan Anak pada Kasus (Dalam gram)
No.
Beret badan
awal
Beret badan
akhir
Pertambahan %
1 4.300
4.800
50
11,63
2 3.400
3.950
55
13,24
3 4.700
5.400
70
14,89
4 4.700
5.500
80
17,02
5 5.100
5.825
72,5 14,21
6 3.800
4.250
45
11,84
7 5.250
5.750
50
9,61
8 4.200
4.650
45
10,71
9 5.000
5.600
60
12,00
10 4.700
4.600
75
19,48
11 3.200
5.350
65
13,82
12 4.700
3.750
55
17,18
13 4.700
5.450
75
15,95
14 4.000
4.750
75
18,75
15 4.200
4.850
65
15,48
Dari Tabel 4 dapat dilihat adanya pertambahan Berat
Badan Anak pada kasus, rata-rata 625 gram, atau 14,38%.
Tabel 5. Pertambahan Berat Badan Anak pada Kelola (Dalam gram)
No.
Beret badan
awal
Beret badan
akhir
Pertambahan %
1 3.550
4.050
50
14,08
2 3.000
3.400
40
13,33
3 4.450
5.050
60
13,48
4 3.650
4.050
40
10,96
5 5.050
5.500
45
8,91
6 3.800
4.350
55
14,47
7 5.775
6.450
67,5 11,68
'
8 5.050
5.650
60
10,90
9 4.450
4.850
40
8,98
10 3.900
4.300
40
10,25
11 4.150
4.600
45 11,64
12 5.050
5.450
40
7,92
13 5.750
6.300
65
11,30
14 6.050
6.650
,
60
9,91
15 2.950
3.500
55
13,92
Dari Tabel 5 dapat dilihat adanya pertambahan Berat
Badan Anak pada kelola, rata-rata 51 gram, atau 11,45%.
PEMBICARAAN
Penelitian efek akupunktur terhadap produksi ASI tidak
banyak dilaporkan dalam kepustakaan. Fava dkk. (1982) me-
laporkan hasil penelitian tentang adanya peningkatan produksi
ASI dengan akupunktur, tetapi cara dan metodologi penelitian
tidak dijelaskan sehingga angka yang diperoleh sukar untuk
dijadikan patokan. Titik yang digunakan dalam penelitianya
adalah titik Can Cung atau titik (XIII,17) dan titik Ru Ken
(III,18)
(9)
.
Untuk penelitian kali ini, peneliti memilih titik Can Cung
dan Sao Ce, yang berguna untuk melancarkan Ci dan Sie, karena
menurut ilmu kedokteran Cina, ASI berasal dari Ci dan Sie. Can
Cung, merupakan titik yang dianggap menguasai atau dapat
mempengaruhi Ci tubuh, sedangkan Sao Ce merupakan titik
yang dapat mempengaruhi jantung dalam memperbaiki Ci dan
Sie. Selain itu secara akupunktur jantung sangat dipengaruhi
oleh sires dan emosi, sedangkan produksi ASI juga dipengaruhi
oleh stres dan emosi
(18)
. Titik Ru Ken (III,18) tidak dipakai
dalam penelitian ini sebab sulit ditentukan letaknya dengan
tepat karena adanya pembesaran mamae, selain itu manipulasi
di daerah ini pada saat laktasi dikhawatirkan akan merangsang
tenjadinya infeksi (mastitis).
Dari data yang diperoleh, diketahui bahwa akupunktur
memberikan efek yang bermakna (p = 0,0008) terhadap
peningkatan produksi ASI setelab 6 kali tindakan akupunktur.
Bila dilihat persentasenya ternyata kelompok yang diaku-
punktur memperlihatkan penambahan ASI rata-rata sebanyak
91,96%, sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata hanya
30,93%. Dari pertambahan berat badan anak terlihat bahwa
pada anak yang ibunya diakupunktur pertambahannya rata-rata
14,38%, sedang pada anak dan kelompok kelola rata-rata per-
tambahan 11,45%.
KESIMPULAN
Dari penelitian yang dilakukan pada 30 sampel disimpulkan
adanya hubungan yang bermakna antara tindakan akupunktur
dengan peningkatan produksi ASI.
Pertambahan produksi ASI pada kelompok kontrol
(91,96%), jauh lebih besar danipada peningkatan produksi ASI
pada kelompok kelola (30,93%).
Perbedaan pertambahan berat badan anak yang ibunya di-
akupunktur (14,38%), tidak terlalu besar dibandingkan dengan
pertambahan berat badan anak dan kelompok kasus (11,45%).
KEPUSTAKAAN
1. Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1.
Jakarta. FKUI. 1985; 32022.
2. Wiharta. Pemberian ASI pada bayi baru lahir. Air susu jbu tinjauan dari
beberapa aspek. Ed. 2. Jakarta, FKUI. 1992; 85.
3. Prawirohartono EP. Mengukur masukan air susu ibu. Medika 1990; 17:
58890.
4. Firmansyah A. Keunggulan air susu ibu ditinjau dart aspek mikro flora
usus. Air susu ibu tinjauan beberapa aspek. Ed. 21. Jakarta. FKUI. 1992;
203.
5. Christine. Penggunaan tanarnan obat (Guidebook on the proper use of
medical plants). Farmako Jakarta. Indonesia. 1982; 65.
6. Tse CS, Wangsasaputra E, Wiran S. Budi H. Kiswoyo. limo Akupunktur
Ed. 2. Jakarta. Unit Akupunktur RSCM. 1985; 35556.
7. Anonim. Essentials of Chinese Acupuncture ed. 1. Beijing Foreign
Language Press. 1980; 175, 239.
8. Pong F, Djuharto SS. Pedoman Praktis Belajar Akupunktur dan Aku-
punktur Kecantikan. Bandung. Alumni. 1982; 15285.
9. Fava A, Bongiovanni A, Frasodalti P. Acupuncture in the treatment of
hypogalactia. Am. J. Acupunct. 10: 33338.
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995
36
10. Anonim. Buku Penuntun Calon Ibu. Keluarga Alumni Bidan St. Carolus,
Ed. 6, 1992.
11. Farida I. Tjahyadi. The influence of katu and papaya leaves consumption
on volume vitamin A level and protein content of breast milk. Jakarta:
Faculty of Medicine. University of Indonesia. 1989; 1041.
12. Tambayong J, Wonodirekso S. BukuAjarHistologi (terjemahan). Jakarta:
EGC. 1990.
13. Suharyono. Air susu ibu, Essential gastro - enterologi anak. FKUI. 1992;
6580.
14. Lawrence RA. Breast feeding-a guide for the medical profession. St.
Louis-Toronto-London: CV Mosby Co, 1980.
15. 0' Connor J, Bensky D. Acupuncture a comprehensive text. Chicago:
Eastland Press. 1981; 67778.
16. Cen XN. Chinese Acupuncture and Moxibustion. Ed. 1. Beijing: Foreign
Language Press, 1987: 46263.
Lampiran 1. Tabel Induk
No. Umur
Berat badan
anak
Pertambahan
beat badan anak
Produksi
ASI
Pertambahan
ASI
Anak
Anak
ke
Kasus/
Kontrol
Awal Akhir
n
%
Awal Akhir
n %
Ranking
1 25 1,5 1 Kasus 4300 4800 0,50 1163 51 103 52 101,96 22,5
2 27 0,5 1 Kasus 3400 3959 0,45 3,24 50 102 52 104 22,5
3 23 2 1 Kasus 4700 5400 0,70 14,89 50 102 52 104 22,5
4 29 2 1 Kasus 4700 5500 0,80 17,02 55 105 50 90,9 18,5
5 25
2,5 1 Kasus
5100
5825 0,725 14,21 50 130 80 160 28
6 32 1 2 Kasus 3800 4250 0,45 11,84 50 51 1 2
6,5
7 29 2,5 2 Kasus 5200 5750 0,50 9,61 53 106 53 100 255
8 30 1,5 2 Kasus 4200 4650 0,45 10,71 60 65 5 8,33
8
9 20 2 2 Kasus 5000 5600 0,60 12 76 103 37 48,68 16
10 20 1 2 Kasus 3850 4600 0,75 19,48 77 105 38 49,35 17
11
26
1,5 3 Kasus
4700
5350 0,65 13,82 50 101 51 102 20
12
34
0 5
3
Kasus 3200
3750
0,55
17 18
55
152
97
176,36
29
13
29
* 1
3
Kasus 4700
5450
0,75
15 96
55
155
100 181 81
30
14 34 1,5 3 Kasus 4000 4750 0,75 18,75 103 155 52 98,11 52,5
15 30 1,5 3 Kasus 4200 4850 0
65 15,48 102 155 53 51,96 25,5
16 24 1 1 Kontrol
3550 4050 0
50 14,08 55 105 50 90,9 18,5
17 20 1 1 Kontrol
3000 3400 0,40 13,33 50 50 - 0
3
18 27 2 1 Kontrol
4450 5050 0,60 13,48 80 102 22 27,5 9
19 21 1,5 1 Kontrol 3650 4050 0,40 10,96 52 53
1
2
6,5
20 27 2,5 1 Kontrol 5050 5500 0,45 8,91 55 80 55 45,45 12
21 30 1 2 Kontrol
3800 4350 0,55 14,47 80 105 25 31,25 12
22 24 2
2 Kontrol 5775 6450 0
675 11,68 105 105 -
-
3
23 22 1 2 Kontrol
5050 5650 0,60 10,90 105 105 -
-
8
24 22 1 2 Kontrol
4450 4850 0,40 8,98
55 80 25
45,45 15
25 21 1 2 Kontrol
3900 4300 0,40 10
25 55 55 -
-
3
26 31 1,5 3 Kontrol 4150 4600 0,45 11,64 52 80 28 53,84 15
27 30 2 3 Kontrol
5050 5450 0,40 7,92 55 80 25 45,45 12
28 32 2,5 3 Kontrol 5750 6300 0,65 11,30 105 105 -
-
3
29 26 2 3 Kontrol
6050 6650 0
60 9,91 55 105 50 90,9 2,7
30
27
0,5 3 Kontrol
3950
3500 0,55 13,92 80 105 25 31,25 12
Rage is mental imbecility
(H. Ballou)
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995 37