background image
PENGALAMAN
PRAKTEK
Timbulnya shock setelah suntikan sewaktu praktek merupakan suatu hal yang
sangat mencekam dan menakutkan untuk seorang dokter, baik yang baru lulus
maupun yang sudah kawakan.
Dibawah ini disajikan pengalaman seorang dokter ternama yang selama prakteknya
telah mengalami tak kurang dari 23 X shock penicillin. Oleh karena tak satu
penderitapun meninggal akibat shock tersebut, kami menganggap bahwa cara-
caranya untuk menanggulangi shock patut diperhatikan dan dapat diterapkan
bila anda suatu saat harus menghadapi peristiwa tersebut dalam praktek.
q
SHOCK PENICILLIN
LAPORAN KASUS
Dalam jangka waktu tujuh tahun praktck spesialis dermato-
venereologi kami mengalami 23 kasus dengan shock penicillin.
Sebelum praktek spesialis, pada praktek umum selama delapan
tahun kami hanya menjumpai
2 kasus saja dengan shock
penicillin. Para penderita pada praktek spesialis bcrasal dari
golongan sosio-ekonomik
menengah atau tinggi, sedangkan
yang datang pada praktek umum
rata-rata dari golongan
sosio-ekonomik rendah.
Duapuluhtiga kasus tersebut terdiri atas 22 orang dewasa
(16 pria dan 6 wanita) dan seorang anak laki-laki berusia
8 tahun.
Mereka semuanya mendapat injeksi intra-muskulus
Penicillin Procain-G in aqua untuk pelbagai penyakit kulit
dan kelamin. Sebagian besar dari para penderita mempunyai
pula penyakit alergik, seperti dermatitis atopica, asthma bron-
chiale, dermatitis
medicamcntosa dan dermatitis contacta.
Rata-rata shock nampak dalam waktu 15 menit atau kurang
sesudah pemberian suntikan. Shock hampir selalu didahului
perasaan pusing, bersin, sesak nafas dan gatal-gatal. Secara
obyektip terlihat kepucatan, asthma
bronchiale like syn-
drome dan urticaria. Satu penderita muntah-berak sebelum
pingsan. Pada semua penderita tensi turun.
Terapi yang diberi ialah pemberian injeksi subkutan Sol.
Adrenalin 1/1000 sebanyak 0,5 - 1 ml. lni diberikan segera,
bila perlu sewaktu penderita masih jatuh dilantai,sebab setiap
detik kelambatan dapat membahayakan. Penderita kemudian
dibaringkan tanpa bantal, pakaian dikendorkan dan tensi
di-
ukur. Corticosteroid intra-muskulus diberikan, bila perlu
dalam dosis tinggi. Bila penderita sudah membaik, diberi
kopi hangat dan diminta tetap rebah di kainar praktek selama
satu jam. Bila perlu dapat pula disuntik antihistaminicum
intra-muskulus dan penderita diantar pulang kerumahnya.
Penderita dipesan, agar segera memberi tahu, bila kemudian
terjadi sesuatu. Surat keterangan, bahwa penderita hipersen-
sitip terhadap penicillin diberikan, agar digunakan bila dike-
mudian hari berobat pada dokter lain.
Dengan terapi tersebut
ternyata semua penderita tertolong.
DISKUSI
Pada rcaksi segera ( anaphylactic immediate reaction )
dari penicillin kita harus bertindak cepat dan agresip Setiap
detik yang terlambat dapat membahayakan jiwa penderita.
Bila suntikan penicillin diberi dipaha atau lengan atas,
maka harus dipasang tourniquet proksimal dari tempat sun-
tikan. Obat adrenergik misalnya sol. adrenalin 1/1000 disuntik
0,5 - 1 mil. subkutan proksimal dari tempat pengikatan
tourniquet. Suntikan ini dapat diberikan secara berfraksi,
tetapi harus diberi secepat-cepatnya sebab bersifat
"
life saving".
Sesudah itu disuntikkan pula corticosteroid atau ACTH intra-
muskulus atau intravena, bila perlu dalam dosis tinggi.
Bila ada alat, diberi pula preservasi pernafasan, agar ada
oksigenisasi dan ventilasi yang cukup. Bila tensi sudah normal
kembali dan keadaan umum baik, dapat pula diberi antihis-
taminicum.
Dapat ditekankan disini, bahwa setiap dokter harus selalu
sedia sol. adrenalin dan corticosteroid pro injectionem dalam
tas dokter/ kamar praktek. Pada tanda-tanda akan terjadinya
shock anafilaktik harus disuntikkan dulu agens adrenergik dan
corticosteroid, bukan
antihistaminicum.
Antihistaminica dan corticosteroid mempunyai peranan
utama pada reaksi lambat (
"
delayed reaction") dari penicillin.
q
Dr. Suria Djuanda
Ahli Ilmu Pen
yakit Kulit Kelamin
Jakarta
34
Cermin Dunia Kedokteran No. 6, 1976.