TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Pendekatan Diagnostik
Interseksualitas pada Anak
Charles Darwin Siregar
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Rumah Sakit H. Adam Malik Medan
PENDAHULUAN
Interseksualitas adalah suatu keadaan tidak terdapatnya
kesesuaian karakteristik yang menentukan jenis kelamin
seseorang, atau bisa juga disebutkan sebagai seseorang yang
mempunyai jenis kelamin ganda (= ambiguous genitalia).
(1,2)
Dalam setiap persalinan pertanyaan yang umum diajukan
oleh si ibu yang baru saja melahirkan maupun keluarganya,
tentulah mengenai jenis kelamin bayi yang baru lahir tersebut.
Untuk menentukan jenis kelamin seseorang secara sederhana
adalah dengan melihat alat kelarnin luar saja. Bila terlihat penis
maka dinyatakan lelaki, dan bila tak tampak penis maka
dianggap perempuan.
Adakalanya sejak lahir orangtua maupun bidan bersalinnya
sukar menentukan jenis kelamin bayi yang dilahirkan. Hal ini
disebabkan alat kelamin luar tidak bisa memberi pegangan
tentang jenis kelamin bayi, karena alat kelamin luar bayi
mempunyai kemiripan dengan alat kelamin perempuan tetapi
juga mirip dengan alat kelamin lelaki. Keadaan ini akan
menimbulkan kebingungan baik bagi bidan bersalin yang
menolong persalinan, maupun bagi orangtuanya.
Walaupun dalam bahasa pergaulan di Indonesia sering kita
dengar tentang banci, bencong atau waria, namun istilah
tersebut belum mempunyai makna sesungguhnya dari Inter-
seksualitas yang akan dibahas di sini.
Angka kejadian Interseksualitas belum pernah dilaporkan
di Indonesia.
Tujuan tulisan ini untuk mengingatkan kembali perlunya
kehati-hatian kita dalam menentukan jenis kelamin seseorang
bila kita melihat suatu keanehan atau keragu-raguan pada
kelaminnya. Pemberitahuan jenis kelamin bayi yang pertama
kali akan mempunyai arti yang sangat mendalam bagi orangtua
nya.
KRITERIA JENIS KELAMIN
Untuk menentukan jenis kelamin seseorang anak diperlu-
kan minimal 7 sifat, yaitu 5 sifat organik dan 2 sifat psikologis.
Ketujuh sifat itu ialah
(1)
:
1) Susunan kromosom
Susunan kromosom disebut juga kelamin genetik (=genetic
sex). Manusia memiliki 23 pasangan kromosom, 22 di antara-
nya hampir serupa, dan yang ke-23 adalah yang menentukan
perbedaan jenis kelamin. Pada perempuan kromosom itu ialah
XX, sedangkan pada lelaki ialah XY.
2) Jenis gonad (= gonadal sex)
Lelaki mempunyai testes, dan perempuan mempunyai
ovarium.
3) Morfologi genitalia eksterna
Genitalia eksterna pada lelaki adalah skrotum, penis dan
glans penis. Sedangkan genitalia eksterna pada perempuan
adalah labia mayora, labia minora dan klitoris.
4) Morfologi genitalia interna
Genitalia interna pada lelaki yaitu vasa deferens, vesikula
seminalis, dan epididimus. Sedangkan genitalia interna pada
perempuan yaitu tuba falloppii, uterus, dan sepertiga bagian
atas vagina.
5) Hormon seks
Merupakan faktor endokrin yang berperan penting dalam
pertumbuhan dan perkembangan anak, serta berpengaruh
terhadap morfologi genitalia dan tanda seks sekunder.
6) Pengasuhan (the sex of rearing)
Cara anak dibesarkan oleh orangtuanya akan menentukan
penampilan dalam kehidupan kelak. Ini merupakan faktor
psikologis. Bila seseorang sejak lahir dibesarkan sebagai pe-
rempuan maka perilakunya akan seperti perempuan. Inilah
yang dilihat oleh masyarakat.
7) Peranan dan orientasi (gender role and orientation)
Yang dimaksudkan di sini ialah apa yang diperbuat atau
dinyatakan oleh seseorang untuk mewujudkan dirinya sebagai
seorang perempuan atau seorang lelaki. Yang perlu diperhati-
kan ialah: kelakuan, pilihan permainan, minat, khayalan, per-
cakapan, impian, kebiasaan erotisme, dan jawaban atas per-
tanyaan-pertanyaan yang kadang-kadang menentukan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000
32
Gambar 1. Diferensiasi seksual in utero
Ketujuh kriteria ini harus dipenuhi untuk menyatakan
seseorang anak lelaki atau perempuan. Jika ada kontradiksi
antara 5 sifat organis (yaitu nomor 1 s/d 5), maka terjadilah
interseksualitas organis. Jika timbul sifat berlainan antara 5
faktor organis dengan 2 faktor psikologis, maka terjadilah
transeksual. Untuk menentukan jenis kelamin bayi baru lahir
cukup menggunakan 5 sifat organik, karena 2 sifat psikologis
belum bisa dinilai.
PERKEMBANGAN ALAT KELAMIN
Sel manusia normal terdiri dari 23 pasang kromosom, 22
pasang krornosom autosomal, dan sepasang kromosom seks
yang merupakan penentu perbedaan jenis kelamin. Pada
perempuan ialah XX, dan pada lelaki XY.
Sampai pada minggu ke-6 masa kehamilan, gonad embrio
masih belum dapat dibedakan lelaki atau perempuan. Pada
masa ini janin telah mempunyai premordial saluran genital
yaitu saluran Muller dan saluran Wolf, serta mempunyai
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000 33
premordial genitalia eksterna.
(3,4)
Perkembangan genitalia lelaki merupakan suatu proses
aktif. Pada minggu ke-7 kehamilan, atas prakarsa Testes
Determining Factor yang diproduksi oleh kode gen untuk seks
lelaki, yaitu gen SRY (sex determining region of the y
chromosome), gonad berdiferensiasi menjadi testes.
(5-6)
Proses
diferensiasi ini melibatkan 3 kelompok sel utama yaitu sel
Sertoli dan sel-sel lainnya yang terbentuk dari tubulus
seminiferus, sel Leydig dan komponen lainnya dari intersisium,
dan spermatogonia.
(3,4)
Pada minggu ko8 s/d ke-12 masa
kehamilan, kadar gonadotropin korion plasenta meningkat, dan
merangsang sel Leydig janin untuk mengeluarkan testoteron
serta merangsang sel sertoli untuk mengeluarkan Mullerian
inhibiting factor. Testosteron akan merangsang diferensiasi
saluran Wolf menjadi epididimus, vasa deferens, vesikula
seminalis, dan saluran ejakulator lelaki. Sedangkan Mullerian
inhibiting factor akan menyebabkan involusi pada prekusor
embriogenik dari tuba fallopii, uterus, serviks, dan sepertiga
bagian atas vagina.
(5-7)
Pada minggu ke-9 kehamilan, enzim 5
Reduktase dari sel target akan mengubah sebagian testosteron
menjadi 5
Dihidrotestosteron, dan Dihidrotesteron inilah
yang merangsang terjadinya diferensiasi alat kelamin luar
lelaki, merangsang pertumbuhan tuberkel genital, fusi lekuk
uretra, den pembengkakan labioskrotal untuk membentuk glans
penis, penis, dan skrotum.
(8,9,10)
Perkembangan genitalia perempuan lebih sederhana bila
dibandingkan dengan perkembangan genitalia lelaki. Pada
minggu ke-7 s/d ke-12 masa kehamilan, sejumlah sel germinal
mengalami transisi dari oogonia menjadi oosit, sehingga terjadi
diferensiasi dari gonad menjadi ovarium. Saluran Muller ber-
kembang menjadi tuba fallopii, uterus, serviks, dan sepertiga
bagian atas vagina, sedangkan saluran Wolf menjalani proses
regresi. Pada diferensiasi genitalia eksterna perempuan, tuber-
kel genital tetap kecil dan membentuk klitoris. Lekuk uretra
membentuk labia minora, dan lekuk labioskrtital membentuk
labia mayora
(5,6)
(Gambar 1).
Bila terjadi gangguan pada proses perkembangan genitalia
yang demikian kompleks, maka akan terjadi kelainan pada
genitalia sesuai dengan pada tahapan mana gangguan terjadi.
KLASIFIKASI INTERSEKSUALITAS
Interseksualitas dapat diklasifikasikan dalam 4 kelom-
pok,
(2)
yaitu .
I. Gangguan pada gonad dan atau kromosom.
Yang termasuk dalamn klasifikasi ini antara lain herma-
frodit sejati, disgenesis gonad campuran, disgenesis gonad yang
berhubungan dengan kromosom Y, dan testes rudimenter atau
sindrom anorkia (Tabel 1).
Tabel 1. Penyebab interseksual yang berhubungan dengan gonad atau hormoal
Gonad
Analisa
kromosom
USG + genitograf
(Saluran Muller)
Peningkatan
steroid plasma
Gejala
tambahan yang
menonjol
1. Kelainan gonadal/kromosom
* Hermafrodit sejati
* Disgenesis gonad
* Translokasi kromosom Y
* Testes rudimenter
(+)/(-)
(+)(-)
(+)(-)
(-)/testes kecil
46 XX/46 XY Mosaik
45 X/46 XY
Translokasi
46 XY
(+)
(+)
(+)
(-)
2. Maskulinisasi pada genetik
perempuan
a. Hiperplasia adrenal kongenital
- 21 - hidroksilase
- 11 beta hidroksilase
- 3 beta HSD
b. Obat-obat transplasenta
c. Androgen maternal
d. Defisiensi aromatase
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
46 XX
46 XX
46 XX
46 XX
46 XX
46 XX
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
17 OH Progesterone testosteron
17 OH progesterone testosteron
17 OH propregnenolone androstenediol
Testosteron, androstenedione
Natrium
Hipertensi
Natrium
3. Maskulinisasi tak lengkap pada
genetik lelaki
a.
Kerusakan
adrenal
-
20,22
desmolase
- 3 beta HSD
- 17 alpha reduktase
b. Kerusakan testes
-
17,20
desmolase
- 17 KS reduktase
c. Kerusakan di respons organ
- 5 alpha reduktase
-
Sindrom androgen insensitif
parsial
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
46 XY
46 XY
46 XY
46 XY
46 XY
46 XY
46 XY
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
17 OH pregnenolone, androstenediol
kurtikosterone
17 OH progesterone androstenedione,
estrone
Ratio testosteron dihidrotestosteron
testosteron, estradiol
Natrium
Natrium
Hipertensi
Keterangan : (=) : Ada
(=)/(-) : Bisa ada bisa tak ada
(-) : Tak ada
: Naik
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000
34
I.1) Hermafrodit sejati.
Pada hermafrodit sejati, jaringan ovarium dan testes dapat
ditemukan sebagai pasangan yang terpisah atau kombinasi
keduanya di dalam gonad yang sama dan disebut sebagai
ovotestis.
I.2) Disgenesis gonad campuran.
Pada disgenesis gonad campuran ini biasanya ditemukan
testes unilateral dan fungsional abnormal.
I.3) Disgeriesis gonad dengan translokasi kromosom Y.
Pada kelainan ini ditemukan disgenesis gonad, namun dari
hasil pemeriksaan analisis kromosom menunjukkan adanya
translokasi kromosom Y.
I.4) Testes rudimenter atau sindrom anorkia.
Ditemukan pada lelaki 46 XY dengan diferensiasi seksual
normal sejak minggu ke-8 s/d 13, tetapi kemudian testes
menjadi sangat kecil atau anorkia komplit. Struktur saluran
interna adalah lelaki. Terjadi kegagalan pada proses virilisasi.
II. Maskulinisasi dengan genetik perempuan (Female pseudo-
hermaphroditism)
Terdapat pada seseorang dengan kromosom 46 XX,
ovarium tidak ambiguous dan tidak ditemukan komponen testes
di gonad, sehingga struktur saluran Muller tidak mengalami
regressi. Terjadinya maskulinisasi akibat terdapatnya androgen
dalarn jumlah berlebihan dari sumber endogen atau eksogen,
yang merangsang janin perempuan terutama sebelum minggu
ke-12 masa kehamilan, sehingga genitalia eksterna mengalami
virilisasi.
(2-7)
Yang termasuk dalam klasifikasi ini antara lain
Hiperplasia Adrenal Kongenital, Androgen berlebihan bersum-
ber dari Ibu atau obat-obatan yang diperoleh Ibu semasa
kehamilan, dan Defisiensi Aromatase.
(2-11)
Ill. Maskulinisasi tak lengkap pada genetik lelaki (Male
pseudohermaphroditism)
Terdapat pada seseorang dengan kromosom 46 XY dan
mempunyai testes. Maskulinisasi tak lengkap disebabkan oleh
adanya gangguan sintesis atau sekresi testosteron janin, atau
gangguan konversi testosteron menjadi dihidrotestosteron, ke-
kurangan atau kerusakan aktivitas reseptor androgen atau
kerusakan produksi dan aksi lokal dari Mullerian inhibiting
factor.
IV. Gangguan pada embriogenesis yang tidak melibatkan
gonad ataupun hormon
Kelainan genitalia eksterna dapat terjadi sebagai bagian
dari suatu defek dari embriogenesis. Contoh dari kelainan ini
ialah epispadia glandular, transposisi penoskrotal, penis yang
dihubungkan dengan ahus imperforata, dan klitoromegali pada
neurofibromatosis.
(2-12)
DIAGNOSIS
Untuk menentukan penyebab terjadinya interseksualitas
atau ambiguous genitalia tidak mudah, diperlukan kerja sama
interdisipliner/intradisipliner, tersedianya sarana diagnostik,
dan sarana perawatan. Pada pemeriksaan medis perlu perhatian
khusus terhadap hal-hal tertentu.
Skema Pendekatan Diagnostik Ambiguous Genitalia pada Bayi Baru Lahir
(13,14,15)
Gonad
T
ak
te
ra
ba
Terab
a
- Disgenesis gonad
- Hermafrodit sejati
- "Female pseudohermaphrodit"
- "Male pseudohermaphrodit"
- Disgenesis gonad
- Hermafrodit sejati
- "Male pseudohermaphrodit"
- Disgenesis gonad
- Hermafrodit sejati
- "Female pseudohermaphrodit"
"Female pseudohermaphrodit"
atau
Hermafrodit sejati
Disgenesis gonad
USG
+
Genitografi
+
Analisis kromosom
Male pseudohermaphrodit
- Disgenesis gonad
- Hermafrodit sejati
Disgenesis gonad
Hermafrodit sejati
Struktur salur
an
Muler (+)
S
tru
ktu
r s
alu
ra
n
M
ule
r (
-),
4
6X
Y
Struktur salur
an
Muler (-)
, 46XY
45 X/46 XY
46 XY
46 XX
45
X
/4
6 X
Y
46
X
Y
46 XX
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000 35
Anamnesis
Pada anamnesis perlu diperhatikan mengenai :
1) Riwayat kehamilan
adakah pemakaian obat-obatan seperti hormonal atau
alkohol, terutama pada trimester I kehamilan.
2) Riwayat keluarga
adakah anggota keluarga dengan kelainan jenis kelamin.
3) Riwayat kematian neonatal dini.
4) Riwayat infertilitas dan polikistik ovarii pada saudara
sekandung orangtua penderita.
5) Perhatikan penampilan ibu
akne, hirsutisme, suara kelaki-lakian.
Pemeriksaan jasmani
1) Khusus terhadap genitalia eksterna/status lokalis : tentukan
apakah testes teraba keduanya, atau hanya satu, atau tidak
teraba. Bila teraba di mana lokasinya, apakah di kantong
skrotum, di inguinal atau di labia mayora. Tentukan apakah
klitoromegali atau mikropenis, hipospadia atau muara uretra
luar. Bagaimana bentuk vulva, dan adakah hiperpigmentasi ?
2) Tentukan apakah ada anomalia kongenital yang lain.
3) Tentukan adakah tanda-tanda renjatan.
4) Bagi anak-anak periksalah status pubertas, tentukan apakah
ada gagal tumbuh atau tidak.
Pemeriksaan penunjang
1) Laboratorium
1.1 Analisis kromosom.
1.2 Pemeriksaan hormonal disesuaikan dengan keperluan-
nya seperti testosteron, uji HCG, 17 OH progesteron.
1.3 Pemeriksaan elektrolit seperti Natriurn dan Kalium.
2) Pencitraan
2.1 USG pelvis :
untuk memeriksa keadaan genital interna.
2.2 Genitografi untuk menentukan apakah saluran genital
interna perempuan ada atau tidak. Jika ada, lengkap
atau tidak.
Jadi pencitraan ini ditujukan terutama untuk menentukan ada/
tidaknya organ yang berasal dari saluran Muller.
KESIMPULAN
Kasus Interseksualitas bisa ditemukan dalam praktek
sehari-hari, oleh sebab itu pendekatan diagnostik intersek-
sualitas cukup layak untuk lebih difahami.
Dalam menentukan jenis kelamin seseorang diperlukan
minimal 7 sifat, yaitu: susunan kromosom, jenis gonad, morfo-
logi genital interna, morfologi genital eksterna, hormon seks,
pengasuhan, serta peranan dan orientasi.
Interseksualitas dapat diklasifikasikan dalarn 4 kelompok,
yaitu gangguan pada gonad dan atau kromosom, maskulinisasi
pada genetik perempuan, maskulinisasi tak lengkap pada
genetik lelaki, dan gangguan pada embriogenesis yang tidak
melibatkan gonad ataupun kromosom.
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000
36
Untuk menentukan penyebab terjadinya interseksualitas
diperlukan kerja sama interdisipliner/intradisipliner, tersedianya
sarana diagnostik, dan sarana perawatan.
Petunjuk pada kecurigaan terhadap adanya Intersek-
sualitas:
1) Genitalia eksterna yang bersifat 2 atau tak lengkap.
2) Genitalia eksterna lelaki :
skrotum kosong, testes ada tetapi kecil, hipospadia, penis
kecil.
3) Genitalia eksterna perempuan :
klitoris membesar, bentuk vulva tak sempurna, benjolan-
benjolan di inguinal atau labia mayora, dan berperawakan
pendek.
4) Pada riwayat keuarga ada keluarga dengan kelainan jenis
kelamin.
5) Riwayat ibu sewaktu hamil memperoleh obat androgen
atau progesteron.
KEPUSTAKAAN
1. Assin MS. Interseksualitas. Dalam: Masalah penyimpangan pertumbuhan
somatik dan perkembangan seksual pada anak. Naskah lengkap PKB IKA
ke-XIII, Jakarta, 1986, 82-91.
2. Park JS. Intersex. Dalam : Kaplan AS, Ed. Clinical Pediatric and
adolescent endocrinology. Philadelphia, WB Saunders Co, 1982, 327-45.
3. Sizenenko PC. Sexual differentiation. Dalam : Bertrand J, Rappaport R,
Sizenenko PC, Ed. Pediatric endocrinology physiology, pathophysiology
and clinical aspects, edisi-2. Baltimore, Williams and Wilkins, 1990,
88-99.
4. Migeon CJ, Berkovitz GD, Brown T. Sexual differentiation and
ambiguity. Dalam: Kappy MS, Blizzard RM, Migeon CJ. (Penyunting).
The Diagnosis and Treatment of Endocrine disorders in childhood and
adolescence, edisi 4, Springfield, Charles C Thomas Publ, 1994, 573-715.
5. Conte FA, Grumbach MM. Abnormalities of sexual differentiation.
Dalam: Greenspan Basic and Clinical Endocrinology, Appleton and
Large, New Jersey, 1991, 491-518.
6.
Warne GL, Zajac JD. Disorders of sexual differentiation. Dalarn : Endo-
crinol Metabolism Clin North Am 1998; 27(4): 945-67.
7. Grumbach MM. Abnormalities of sex differentiation. Dalam : Rudolph
Pediatrics, Appleton & Large, New Jersey, 1991, 1649-65.
8. DiGeoege MA. Disorders of the gonades. Dalam: Nelson Textbook of
Pediatrics, edisi-4, Philadelphia; WB Saunders Co, 1992, 1454-1472.
9.
Lippe BM. Ambiguous genitalia. Dalam: Lavin (Penyunting). Manual of
Endocrinology and Metabolism, Boston: Little-Brown, 1986, 193-202.
10. Simpson JL. Genetic of Sexual Differentiation. Dalam : Carpenter SE,
Rock JA. (Penyunting) Pediatric and Adolescent Gynecology. New York:
Raven Press, 1992, 1-37.
11. Adashi EY, Hennebold JD. Single-gene mutations resulting in
reproductive dysfunction in women. N Engl J Med, 1999; 390(9): 709-18.
12. Nonomura K dkk. A Case of neurofibromatosis associated with clitoral
enlargement and hypertension, J Pediatr Sucg, 1992; (27(1): 110-2.
13. Migeon CJ, Berkovitz GD. Congenital Defects of the External Genitalia
in the Newborn and Prepubertal Child. Dalam: Carpenter SE, Rock JA.
(Penyunting) Pediatric and Adolescent Gynecology. New York, Raven
Press, 1992, 77-93.
14. Meyers-Seifer CH, Charest NJ. Diagnosis and management of patients
with ambiguous genitalia. Dalam : Seminar in Perinatology, 1992; 16(5):
332-9.
15. Zoantz MR, Packer MG. Abnormalities of the external genitalia Dalam
Pediatr Urol, 1997; 44(5): 1267-97.
Forgive thyself nothing, others much