background image
HASIL PENELITIAN
Penapisan Efek Antidepresi
dan Fitokimia Beberapa Tumbuhan
Pakan Primata
dengan Metoda Berenang
Hayati Br. Tumangger, Anas Subarnas, Supriyatna
Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Padjadjaran, Bandung
ABSTRAK
Telah dilakukan penapisan efek antidepresi dan fitokimia tumbuhan pakan
primata : Acer laurinum, Acronychia laurifolia, Alsophila glauca, Glochidion album,
Glochidion capiratum, Kadsura scandens, Macropanaxdisper Quercus sp., Saurauia
caul dan Schima walichii serta tumbuhan jamu : Helicteres isora dan Sindora
sumatrana. Pengujian efek antidepresi dilakukan pada mencit jantan putih (Mus muscu-
lus) galur DDY dengan menggunakan metode berenang. Tumbuhan diekstraksi dengan
metanol dan ekstrak diberikan secara oral dengan dosis 1,0 dan 2,0 g/kg bobot badan.
Hasil pengujian menunjukkan ekstrak A. laurinum pada dosis 1,0 g/kg dapat
mengurangi durasi immobilitas selama pengamatan 5 dan 10 menit dengan perbedaan
yang signifikan dibandingkan dengan kontrol; A. glauca pada dosis 2,0 g/kg menurunkan
durasi immobilitas yang signifikan selama pengamatan 5 menit dan S. cauliflora serta S.
sumatrana pada dosis 2,0 g/kg menyebabkan penurunan durasi immobilitas yang sangat
signifikan selama pengamatan 5,10 dan 15 menit.
Penapisan fitokimia menunjukkan bahwa A. laurinum mengandung senyawa
polifenol, saponin dan steroid; A. glauca dan S. cauliflora mengandung polifenol dan
steroid, sedangkan S. sumatrana mengandung saponin dan triterpenoid. Dari hasil tersebut
diduga bahwa senyawa aktif anti depresi dan A. laurinum A. glauca dan S. caulifora
adalah golongan polifenol atau steroid, dan senyawa aktif dan S. Sumatrana diduga
senyawa saponin atau triterpenoid.
PENDAHULUAN
Setiap tahun jutaan manusia menderita depresi dan
jumlahnya akan semakin meningkat bila tidak segera diantisipasi.
Depresi adalah salah satu bentuk gangguan kejiwaan yang
ditandai dengan rasa sedih yang mendalam, rasa putus asa, rasa
lelah dan letih, tidak ada nafsu makan dan sukar tidur. Di samping
itu terjadi hambatan aktivitas yang disertai ketidak-tenangan jiwa
dan yang cukup berbahaya adalah kemungkinan adanya usaha
bunuh diri.
Khasiat tumbuh-tumbuhan umumnya dan tumbuhan pakan
primata khususnya, yang dapat digunakan untuk mengatasi
keadaan depresi belum banyak diketahui; oleh karena itu menarik
untuk dilakukan penapisan efek antidepresi terhadap beberapa
tumbuhan pakan primata.
Dalam penelitian ini dilakukan penapisan efek antidepresi
dan fitokimia 10 tumbuhan pakan pnimata dan 2 tumbuhan yang
biasa digunakan dalam racikan jamu. Cuplikan tumbuhan
tersebut adalah Acer laurinum (Huru kapas), Acronychia
Diikutsertakan pada Seminar Nasional Hasil Penehtian dalam Bidang Farmasi,
Bandung, 5-6 September 1997.
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999
30
background image
laurifolia (Kijeruk), Alsophila glauca (Paku haji), Glochidion
album (Katulampa), Glochidion capitatum (Kipare), Kadsura
scandens (Hunyur Buut), Macropanax dispermum (Cerem),
Quercus sp. (Pasang), Saurauia caul (Kileho), Schima
walichii (Puspa), Helicteres isora (Kayu ules) dan Sindora
sumatrana (Saparantu).
Pada penapisan efek antidepresi digunakan metode
berenang yang merupakan metode yang paling baik untuk
menguji efek antidepresi. Hal ini disebabkan karena metode ini
berhubungan dengan tingkah laku yang menyebabkan keadaan
depresi pada hewan percobaan. Hewan percobaan dipaksa
berenang pada tabung silinder sempit berisi air sehingga mereka
tidak dapat melarikan diri. Setelah periode awal saat hewan
berusaha melarikan diri dengan melakukan aktivitas berenang
dengan aktif, akhirnya hewan akan memperlihatkan sikap tidak
bergerak.
Gambaran sikap tidak bergerak merupakan suatu keadaan
penurunan suasana jiwa hewan percobaan. Hal ini menunjukkan
bahwa hewan percobaan mengalami keputusasaan yang
dianggap menyerupai keadaan depresi. Parameter yang diamati
adalah saat tidak bergerak setelah hewan percobaan dimasukkan
ke dalam tabung silinder berisi air.
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
1) Bahan Tanaman
Cuplikan tanaman yang dipergunakan dalam penelitian ini
adalah:
·
Acer laurinumfolium (daun Hurukapas)
·
Acmnychia laurifoliafolium (daun Kijeruk)
·
Alsophila glaucafolium (daun Pakuhaji)
·
Glochidion album folium (daun Katulampa)
·
Glochidion capitatumfolium (daun Kipare)
·
Kadsura scandensfolium (daun Hunyur buur)
·
Macmpanax dispermumfolium (daun Cerem)
·
Quercus sp. folium (daun Pasang)
·
Saurauia caul (daun Kileho)
·
Schima walichiifolium (daun Puspa)
·
Helicteres isorafructus (buah Kayu ules)
·
Sindora sumatranafructus (buah Saparantu)
2) Hewan Percobaan
Hewan yang dipergunakan adalah mencit putih (Mus
muculus) jantan, dengan berat 20-25 gram galur DDY.
3) Sediaan Percobaan
Ekstrak disuspensikan dalam larutan Pulvis Gummi
Arabicum (PGA) 2%. Masing-masing ekstrak dibuat sediaan
dengan dosis 1,0 g/kg bb dan 2,0 g/kg bb. Volume dosis yang
diberikan disesuaikan dengan berat mencit yang dipergunakan.
4) Ekstraksi
Cuplikan dihaluskan lalu ditimbang sebanyak 100 g.
Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi dengan metanol
3 x 500 ml. Setiap kali maserasi dilakukan selama 24 jam.
Selanjutnya ekstrak dipekatkan pada tekanan rendah dan suhu
35-40°C dengan pengisat gasing vakum sehingga diperoleh
ekstrak kasar.
5) Pengujian Efek Antidepresi
Sehari sebelum percobaan mencit dikondisikan dengan
memberikan perlakuan sebagai berikut: mencit diberenangkan
selama 5 menit pada tempat berisi air dengan suhu 25°C untuk
mengadaptasikan diri dengan lingkungannya.
Setelah sehari sebelumnya mencit dikondisikan, mencit
mendapatkan perlakuan sebagai benikut:
·
Mencit Kelompok Kontrol diberi larutan PGA 2% secara
oral.
·
Mencit Kelompok 1 diberi sediaan uji dengan dosis 1,0 g/
kg bb secara oral.
·
Mencit Kelompok 2 diberi sediaan uji dengan dosis 2,0 g/
kg bb secara oral.
·
Setelah masing-masing mencit dalam kelompok tersebut
diberi sediaan, biarkan selama satu jam.
·
Setelah satu jam, kemudian mencit dimasukkan ke dalam
tabung silinder berisi air dengan ketinggian 8cm pada suhu 25°C.
Mencit akan berenang secara aktif.
·
Setelah saat-saat tertentu mencit akan menunjukkan sikap
sama sekali tidak bergerak. Keadaan mencit tidak bergerak
menunjukkan bahwa mencit tersebut mengalami keputusasaan
yang dianggap menyerupai keadaan depresi.
·
Pada saat itu, lamanya mencit tidak bergerak dicatat setiap
5 menit selama waktu pengamatan 15 menit.
6) Penapisan Fitokimia
Uji penapisan fitokimia dilakukan menurut prosedur yang
dimodifikasi dari cara Farnsworth.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1) Hasil Pengujian Efek Antidepresi
Efek antidepresi diuji terhadap mencit dengan menggunakan
metode berei Parameter yag diamati adalah lamanya tidak
bengerak setelah mencit dimasukkan ke dalam silinder berisi air,
lamanya mencit tidak bergerak diamati setiap 5 menit selama
waktu pengamatan 15 menit.
Hasil penhitungan durasi mobilitas rata-rata (lamanya tidak
bergenak rata-rata) mencit selama waktu pengamatan 5, 10 dan
15 menit tertera pada Tabel 1. Untuk mengetahui perbedaan
yang bermakna antara perlakuan bahan uji dan kontrol, data
dianalisis dengan student-test.
Dari Tabel 1 terlihat bahwa dan duabelas tumbuhan yang
diuji, empat tumbuhan dapat mengurangi lamanya titik bergerak
mencit dibandingkan terhadap kontrol. Tumbuhan tersebut adalah
A. laurinum, A. glauca S. caul dan S. sumatrana.
Pada penlakuan ekstrak A. laurinum, kelompok kontrol pada
waktu pengamatan 5 dan 10 menit mempunyai durasi immobili-
tas rata-rata 236,00 dan 506,17 lebih besar daripada A. laurinum
dosis 1,0 g/kg bb dengan durasi immobilitas rata-rata 133,33
dan 447,67. Secara- statistik pada = 0,05 perbedaan tersebut
adalah signifikan dibandingkan dengan kontrol. Hal ini berarti
A. laurinum pada dosis 1,0 g/kg bb mengurangi durasi
immobilitas mencit dengan kata lain memberikan efek
antidepresi.
Pada waktu pengamatan 5, 10 dan 15 menit kelompok
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999 31
background image
kontrol perlakuan S. cauliflora mempunyai durasi immobilitas
rata-rata 211,20; 475,00 dan 751,00 lebih besar dari pada S.
cauliflora dosis 2,0 g/kg bb yang mempunyai rata-rata 148,17;
403,00 dan 654,50. Pada = 0,01 perbedaan tersebut adalah
sangat signifikan pada 3 periode waktu pengamatan. Hal ini
berarti S. cauliflora (2,0 g/kg) memberikan efek antidepresi atau
dapat menyebabkan penurunan durasi immobilitas.
Begitupun pada perlakuan S. sumatrana, kelompok kontrol
pada 5, 10 dan 15 menit pengamatan mempunyai durasi
immobilitas rata-rata sebesar 248,33; 527,33 dan 817,00 lebih
besar daripada S. sumatrana dosis 2,0 g/kg dengan rata-rata
180,17; 461,33 dan 653,50. Bila dibandingkan dengan kontrol
pada a = 0,01, perbedaan tersebut sangat signifikan. Berarti S.
sumatrana (2,0 glkg) mengurangi durasi immobilitas atau
memberikan efek antidepresi pada setiap selang waktu
pengamatan.
Sedangkan pada perlakuan dengan ekstrak tumbuhan
lainnya, secara statistik tidak memberikan perbedaan yang
signifikan sehingga dapat dikatakan tumbuhan lain yang diuji
selain empat tumbuhan tersebut tidak memberikan efek
antidepresi.
S. caul dan S. sumatrana dapat menurunkan durasi
Tabel
1.
Rata-rata lamanya tidak bergerak mencit (durasi immobilltas) selama 5 menit, 10
menit dan 15 menit. Perbedaan yang bermakna antara perlakuan bahan uji dan
kontrol
dianalisia
dengan
student's t-test.
Rata-rata durasi immobilitas + KB (detik)
Perlakuan
Dosis
(g/kg
oral)
5 menit
10 menit
15 menit
Kontrol
-
236,00 ± 17,27
506,17 ± 21,24
789,00 ± 24,06
Acer laurinum
1
133,33 ± 5,07 *
447,67 ± 6,59*
740,17 ± 15,85
2
228,17 ± 20,92
496,83 ± 32,17
790,17 ± 31,72
Kontrol
-
197,00 ± 17,96
476,17 ± 14,61
765,67 ± 15,19
Acronychia laurifolia
1
201,00 ± 12,01
481,67 ± 15,05
767,83 ± 12,76
2
209,60 ± 9,31
477,80 ± 18,75
766,00 ± 19,16
Kontrol
-
249,00 ± 7,53
530,00 ± 9,92
822,17 ± 9,59
Alsophila glauca
1
233,67 ± 19,76
503,50 ± 20,26
787,00 ± 17,59
2
221,60 ± 8,30
492,20 ± 21,65
773,00 ± 37,03
Kontrol
-
205,17 ± 12,13
482,83 ± 13,96
768,50 ± 20,35
Glochidion album
1
234,67 ± 15,45
524,00 ± 17,04
818,17 ± 16,70
2
217,50 ± 16,57
498,67 ± 17,99
787,83 ± 18,99
Kontrol
-
184,83 ± 15,76
448,33 ± 20,76
731,00 ± 25,40
Glochidion capitalum
1
198,00 ± 13,10
447,00 ± 21,57
732,17 ± 24,85
2
213,33 ± 15,87
482,33 ± 17,99
762,50 ± 28,24
Kontrol
-
206,17 ± 12,50
491,83 ± 13,92
788,00 ± 13,45
Kadsura scandens
1
207,80 ± 15,61
496,20 ± 15,26
790,60 ± 13,87
2
190,83 ± 19,89
445,00 ± 37,83
733,00 ± 36,92
Kontrol
-
204,67 ± 17,44
488,50 ± 19,55
785,00 ± 19,66
Macropanax dispernum
1
193,67 ± 16,79
475,00 ± 22,27
769,83 ± 21,86
2
218,33 ± 17,38
499,17 ± 24,18
733,00 ± 36,92
Kontrol
-
181,00 ± 17,66
440,80 ± 42,01
734,80 ± 41,23
Quercus sp.
1
156,80 ± 9,83
397,80 ± 22,57
669,60 ± 23,86
2
159,50 ± 15,29
428,67 ± 24,68
705,00 ± 29,89
Kontrol
-
211,20 ± 18,23
475,00 ± 19,13
751,00 ± 19,06
Saurauia cauliflora
1
196,50 ± 23,35
467,00 ± 26,61
745,67 ± 36,46
2
148,17 ± 6,61**
403,00 ± 11,85
654,50 ± 21,77
Kontrol
-
185,67 ± 19,25
447,671 ±29,36
740,33 ± 0,42
Scima walichii
1
169,00 ± 14,49
437,17 ± 19,77
702,17 ± 8,14
2
185,17 ± 15,28
442,67 ± 12,99
685,83 ± 39,52
Kontrol
-
205,17 ± 9,84
480,17 ± 10,80
765,67 ± 13,26
Helicteres isora
1
196,60 ± 12,23
465,20 ± 15,97
750,80 ± 15,82
2
195,50 ± 5,33
452,67 ± 11,04
734,50 ± 17,88
Kontrol
-
248,33 ± 10,26
527,33 ± 12,35
765,67 ± 13,64
Sindora sumatrana
1
246,00 ± 14,42
524,33 ± 20,02
808,00 ± 26,05
2
180,17 ± 10,82**
461,33 ± 12,47
753,50 ± 14,27**
Keterangan:
KB = kesalahan baku
* =
berbeda
signifikan
dibandingkan dengan kontrol pada p < 0,05
** = sangat berbeda signfikan dibandingkan dengan kontrol pada p < 0,01
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999
32
background image
immobilitas tidak hanya pada waktu pengamatan 5 menit dan
10 menit tetapi juga pada 15 menit berikutnya. Oleh karena itu
diduga S. caul dan S. sumatrana selain memberikan efek
antidepresi juga memberikan efek stimulan. Hal ini berdasarkan
Kitada (1981) dan Porsolt (1978) yang menyatakan bahwa efek
antidepresi hanya dapat menurunkan durasi immobilitas pada 5
menit pertama atau 10 menit, sedangkan psikostimulan selain
dapat menurunkan durasi immobilitas pada 5 menit pertama juga
pada 15 menit berikutnya.
Gambar 1. Diagram batang untuk durasi immobilitas mencit setelah
pemberian suspensi A. laurinum.
Gambar 2. Diagram batang untuk durasi immobilitas mencit setelah
pemberian suspensi A. glauca.
2) Hasil Penapisan Fitokimia
Pada Tabel 2 terlihat bahwa pada A. laurinum dan G.
capitatum terdeteksi mengandung polifenol, saponin dan ste-
roid; A. launfolia A. glauca, G. album, M. dispermum dan S.
cauliflora terdeteksi mengandung polifenol dan steroid; Quercus
sp. terdeteksi mengandung tanin, polifenol, kuinon dan steroid;
S. walichii terdeteksi mengandung polifenol, kuinon, saponin
dan steroid; H. isora terdeteksi mengandung polifenol dan sa-
ponin; S. sumatrana terdeteksi mengandung saponin dan
Gambar 3. Diagram batang untuk durasi immobilitas mencit setelah
pemberian suspensi A. cauliflora.
Gambar 4. Diagram batang untuk durasi immobilitas mencit setelah
pemberian suspensi S. sumatrana.
background image
Tabel 2. Hasil pengujian fitokimia dan ekstrak metanol
Ekstrak metanol
Golongan
Ek 1
Ek 2
Ek 3
Ek 4
Ek 5
Ek 6
Ek 7
Ek8
Ek9
Ek10
Ek11
Ek12
Alkaloid
Flavonoid
Tanin
Polifenol
Kuinon
Saponin
Triterpenoid
Steroid
-
-
-
+
-
+
-
+
-
-
-
+
-
-
-
+
-
-
-
+
-
-
-
+
-
-
-
+
-
-
-
+
-
-
-
+
-
+
-
+
-
-
-
+
-
-
-
+
-
-
-
+
-
-
-
+
-
-
+
+
+
-
-
+
-
-
-
+
-
-
-
+
-
-
-
+
+
+
-
+
-
-
-
+
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
+
-
Keterangan:
+ = terdeteks, - = tidak terdeteteksi, Ek = ekstrakmetanol, S = simplisia, 1 + A. Laurinum, 2 = A. Laurifolia,
3 = A.glauca, 4 = G. album, 5 = G. capitatum, 6 = K. scandens, 7 = M. dispermum, 8 = Quercus sp., 9 = S.
cauliflora, 10 = S. walichii, 11 = Helicteres isora, 12 = S sumatrana
triterpenoid sedangkan K. scandens tidak terdeteksi mengandung
senyawa kimia.
Hasil tersebut di atas menunjukkan hampir semua tumbuhan
pakan primata mengandung senyawa polifenol dan steroid.
Sedangkan pada tumbuhan jamu hanya H. isora saja yang
mengandung polifenol, dan kedua tumbuhan jamu mengandung
saponin.
KESIMPULAN
Pengujian efek antidepresi terhadap 10 tumbuhan pakan
primate dan 2 tumbuhan jamu dengan metode berenang, dengan
dosis masing-masing 1 g/kg dan 2g/kg, menunjukkan bahwa 3
tumbuhan pakan primata dan 1 tumbuhan jamu dapat mengurangi
lamanya tidak bergerak mencit atau dengan kata lain memberikan
efek antidepresi. Tumbuhan tersebut adalah Acer laurinum dosis
1 g/kg, Alsophila glauca dosis 2 g/kg, Saurauia califlora dosis
2 g/kg dan Sindora sumatrana dosis 2 gfkg.
Berdasarkan hasil perhitungan secara statistik, Acer
laurinum dan Alsophila glauca mempunyai efek yang cukup
signifikan, sedangkan Saurauia cauliflora dan Sindora
sumatrana mempunyai efek yang sangat signifikan.
Acer laurinum mengandung senyawa polifenol, saponin dan
steroid; Alsophila glauca dan Saurauia cauliflora mengandung
politenol dan steroid; Sindora sumatrana menandung saponin
dan triterpenoid dan hasil tersebut diduga senyawa polifenol atau
steroid adalah senyawa aktif antidepresi dan A. laurinum,
A. glauca dan S. cauliflora dan senyawa aktif dari S. sumatrana
diduga senyawa saponin atau triterpenoid.
Dari penapisan fitokimia dapat disimpulkan bahwa pada
umumnya tumbuhan pakan primata mengandung senyawa
polifenol dan steroid sedangkan kedua tumbuh-tumbuhan jamu
mengandung saponin.
KEPUSTAKAAN
1. Araki H, Kawashima K, Aihara H. The Difference in The Site of Action
of Tricyclic Antidepiessants and Methamphetamine on The Duration of
The Immobility in The Behavioral Despair Test, Jap J Pharmacol 1984;
35 : 67-72.
2. Backer CA, Bakhuizen Van den Brink RC. Flora of Java. vol. I, N.V.P.
Noordrof-Groningen-The Netherlands 1963; p: 99, 325, 399, 461.
3.
Backer CA, BakI Van den Brink RC. Flora of Java. vol. H N.VP.
Noordrof-Graningen-The Netherlands 1968; p: 101,143, 168.
4. Browne RG. Effects of Antidepressants in A Mouse "Bchavioaml De spair
Test", Europ I Pharinacol 1979; 58: 331.
5. Farnsworth. Biological and P1 Screening of Plant, J Parmaceut Sd 1966;h:
162.
7. Kitada Y, Miyauchi T, Satoh S. Effects of Antidepressants in The Rat
Famed Swimming Test, Europ J Phamacoi 1981; 72: 145-52.
8 Mutschler E. Dinamika Obat, penerjemah: Mathilda B. Widianto dan Anna
S.R.,edisiV,ITB,Eandung 1991;h: 141-9.
9. Porsolt, Roger D, Bertin A. Jallie M. Behavioural Despair in Mice: A
Primary Screening Test for Antidepressants, Arch Intern Pharmacodyn
1977; 229: 327-6.
10. Porsolt, Roger D, Anton Guy, Blavet Nadine, Jalfre M. Behavioural De
spair in Rats : A New Model Sensitive to Antidepiessants Treatments,
Europ J Phannacol 1978; 47: 379-89.
A wise man is better than a strong man
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999
34