background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Osteoporosis
Dwi Djuwantoro
Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta
PENDAHULUAN
Osteoporosis, yang berarti "tulang keropos atau tulang yang
berlubang," merupakan kelainan tulang umum yang ditandai
oleh penurunan pembentukan osteoblastik matriks disertai
dengan peningkatan resorpsi osteokiastik tulang dan sebagai
akibatnya, penurunan jumlah total tulang dalam tulang rangka
(osteopenia, yang berarti "terlalu sedikit tulang')
(1,2,3)
. Osteopo-
rosis mempermudah timbulnya fraktur traumatik kolumna ver-
tebra, femur atas, radius distal, humerus proksimal, rami pubis
dan kosta
(5)
sehingga biaya sosial dan ekonomi osteoporosis
besar seka1i
(2)
.
Meskipun penurunan deposisi tulang telah lama dianggap
merupakan faktor utama penyebab gangguan keseimbangan
yang menimbulkan osteoporosis, namun data baru-baru ini
memperlihatkan bahwa peningkatan resorpsi tulang mungkin
merupakan faktor yang lebih penting
(3)
.
Percobaan pada tahun-tahun sekarang ini memberi kesan
bahwa terdapat beberapa bentuk penatalaksanaan yang efektif
untuk penderita osteoporosis
(2)
.
JENIS-JENIS OSTEOPOROSIS
Terdapat beberapa jenis osteoporosis, yaitu:
1) Osteoporosis postmenopause (tipe I): Bentuk yang paling
sering ditemukan pada wanita kulit putih dan Asia. Bentuk
osteoporosis ini disebabkan oleh percepatan resorpsi tulang
yang berlebihan dan lama setelah penurunan sekresi estrogen di
masa menopause.
2) Osteoporosis involutional (tipe II): Terjadi pada kedua
jenis kelamin yang berusia di atas 75 tahun. Tipe ini diakibatkan
oleh ketidakseimbangan yang samar dan lama antara kecepatan
resorpsi tulang dengan kecepatan pembentukan tulang.
3) Osteoporosis idiopatik: Tipe osteoporosis primer jarang
yang terjadi pada wanita premenopause dan pada laki-laki yang
berusia di bawah 75 tahun. Tipe ini tidak berkaitan dengan pe-
nyebab sekunder atau faktor risiko yang mempermudah timbul-
nya penurunan densitas tulang. Penyebabnya tidak diketahui.
4) Osteoporosis juvenil: Bentuk osteoporosis yang terjadi
pada anak-anak prepubertas. Bentuk ini jarang dijumpai.
5) Osteoporosis sekunder: Penurunan densitas tulang yang
cukup berat untuk menyebabkan fraktur atraumatik akibat faktor
ekstrinsik seperti kelebihan kortikosteroid, artritis reumatoid,
kelainan hati/ginjal kronis, sindrom malabsorbsi, mastositosis
sistemik, hiperparatiroidisme, hipertiroidisme, varian status
hipogonade, dan lain-lain
(5)
.
TANDA DAN GEJALA KLINIS
1) Nyeri/sakit punggung, dapat akut/kronis atau intermiten.
Gejala ini mungkin berkaitan dengan fraktur mikroskopis
berulang. Juga dapat terjadi nyeri tulang di tempat lain
(1,3,5)
.
2) Kifosis/skoliosis.
Penderita biasanya memperlihatkan kifosis dorsal dalam
derajat abnormal.
3) Fraktur atraumatik.
Fraktur patologis merupakan komplikasi klinis yang sangat
sering dijumpai.
4) Mungkin deformitas tulang perifer tidak dijumpai.
5) Sklera tidak biru/hijau/abu-abu.
6) Penurunan tinggi badan
(5)
.
PENYEBAB
1) Postmenopause (tipe I): Hiperestrogenemia.
2) Involutional: Tidak diketahui.
3) Juvenil: Tidak diketahui
4) Sekunder: Berbeda-beda (seperti yang telah disebutkan di
atas)
(5)
.
FAKTOR RISIKO
1) Diet: kalsium yang tidak memadai, fosfat/protein yang ber-
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 29
background image
lebihan; masukan vitamin D yang tidak memadai pada orang
tua.
2) Fisik: imobilisasi, dan gaya hidup duduk terus-terusan
(sedentary).
3) Sosial: penggunaan alkohol, sigaret dan kafein.
4) Medis: kelainan kronis, endokrinopati, (lihat osteoporosis
sekunder).
5) Iatrogenik: kortikosteroid, penggantian hormon tiroid yang
berlebihan, heparin kronis, kemoterapi, loop diuretic, anti-
konvulsan, tetrasiklin, dan terapi radiasi.
6) Genetik/familial: massa tulang suboptimal pada maturi-
tas
(5)
.
DIAGNOSIS
Diagnosis Banding
1) Mieloma multipel.
2) Neoplasma lainnya.
3) Osteomalasia.
4) Osteogenesis imperfekta tarda (Tipe I).
5) Hiperparatirodisme skeletal (primer dan sekunder).
6) Mastositosis (jarang)
(5)
.
Pemeriksaan Laboratorium
a) Semua "pemeriksaan rutin' biasanya menunjukkan hasil
yang normal.
b) Alkali fosfatase dapat meningkat dalam waktu sementara
setelah fraktur.
c) Elektroforesis protein serum dan/atau urin normal.
d) Osteocalcin serum,jika tinggi, menunjukkan tipe perganti-
an (turnover) yang tinggi.
e) Kalsium urin normal
(5)
.
Gambaran Patologis
1) Penurunan massa tulang rangka, tulang trabekuler jauh
lebih sering dibanding denghan tulang kortikal. Juga dapat
ditemukan hilangnya hubungan trabekuler.
2) Jumlah osteokias dan osteoblas berbeda.
3) Kelainan tulang metabolik lainnya serta peningkatan os-
teoid yang tidak menunjukkan mineralisasi tidak ditemukan
(5)
.
Pemeriksaan Radiologis
1) Foto Rontgen:
a) Perubahan "dini" yang berupa pelebaran ruang interverte-
bralis, penonjolan relatif lempeng korteks, dan garis-garis ver-
tikal korpus vertebra.
b) Perubahan "akhir" ­ fraktur lempeng kortikal, fraktur kom-
presi vertebra, fraktur perifer pada ujung tulang panjang, dan
fraktur kosta.
2) Bone scan menunjukkan peningkatan ambilan pada tempat
fraktur sebelumnya, jikalau tidak negatif.
3) Bone mineral density (BMD) dengan cara dual energy x-ray
absorptiometry (DXA) atau quantitative SC scan (QCT)
(5)
.
Prosedur Diagnostik
Biopsi tulang jarang diperlukan, untuk mengesampingkan
kelainan tulang metabolik. Kadang kala digunakan untuk me-
nentukan kuantitas kehilangan massa tulang, dengan meng-
gunakan teknik histomorfometrik kuantitatif
(5)
.
PENATALAKSANAAN
Tindakan Umum
Tindakan yang dilakukan pada kasus ini seperti yang di-
perlukan pada keadaan dengan nyeri dan kecacatan, misalnya
kompres hangat, analgetik, dan terapi fisik
(5)
.
Aktivitas
1) Aktivitas jalan-jalan tetap dipertahankan. Penderita dapat
melakukan jalan-jalan sepanjang 1 mil dua kali sehari, dan jika
mungkin, berenang.
2) Penderita harus menghindari latihan fisik dan manuever
yang meningkatkan gaya kompresif dan stres mekanis pada
vertebra dan tempat tulang perifer.
3) Prosedur rehabilitasi untuk spasme otot punggung dan do-
rongan berjalan-ja1an
(5)
.
Diet
1) Diet penurun berat badan jika penderita mempunyai berat
badan yang berlebihan.
2) Masukan kalsium 1.500 mg/hari dan semua sumber, jika
penderita tidak menderita hiperkalsiuria atau tanpa riwayat baru
kalsium. Hasil penelitian menunjukkan penurunan kehilangan
massa tulang pada kelompok yang diberi kalsium
(2,5)
.
3) Hindari masukan fosfat atau protein yang berlebihan, yaitu
hindari minuman yang mengandung asam fosfor dan masukan
daging yang berlebihan.
4) Vitamin D 400-800 UI setiap hari
(5)
.
PENGOBATAN
Obat Piihan
1) Kalsitonin sintetik dan ikan salem (Osteocalcin®, Calci-
mar®, Miacalcin®) 100 UI setiap hari atau lebih baik qod; 50 UI
setiap hari atau 3 kali seminggu dapat efektif pada tipe
pergantian yang tinggi. Sebaiknya tidak digunakan bersamaan
dengan kalsium dan vitamin D.
2) Synthetic hu,nan calcitonin (Cibacalcin®), 0,5 mg setiap
hari sampai tiga kali seminggu.Namun indikasi ini belum disetujui
oleh FDA; dapat digunakan terdapat alergi atau resistensi ter-
hadap kalsitonin sintetik ikan salem
(5)
.
3) Terapi penggantian hormon (estrogen/progesteron).
Beberapa preparat masing-masing obat tersedia, dan dosis
tergantung pada preparat. Terapi estrogen masih efektif dalani
memperbaiki massa tulang dan menurunkan angka fraktur ver-
tebra pada wanita dengan osteoporosis. Namun, belum ada bukti
yang meyakinkan bahwa estrogen bermanfaat pada wanita yang
berusia lebih dari 75 tahun
(2,5)
.
Obat alternatif
1) Binatrium etidronat.
Obat ini sedang dalam penelitian dan mendapatkan pertim-
bangan FDA.
2) Bifosfonat lainnya.
Obat ini sedang diteliti, memiliki sifat inhibitor resorpsi
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
30
background image
EDUKASI PENDERITA
tulang, dan mungkin mempunyai efek terhadap pembentukan
tulang
(5)
.
Dalam memberikan edukasi kepada penderita, sebaiknya
selalu dijelaskan bahwa penatalaksanaan hanya menurunkan
risiko terjadinya fraktur selanjutnya. Jika penderita telah meng-
alami fraktur osteoporotik, mereka mungkin akan mengalami
fraktur selanjutnya dan perlu diketahui bahwa fraktur vertebra
selanjutnya dapat terjadi sekalipun telah diberi pengobatan yang
tampak berhasil.
3) Natrium fluorida.
Memacu pembentukan tulang tetapi mempunyai efek yang
tidak diinginkan pada tulang kortikal
(5)
. Dosis tinggi bersama
kalsium, vitamin D dan estrogen ternyata paling efektif, sesudah
minimal 2 tahun massa tulang sudah bertambah dengan nyata
(4)
.
4) Tamoxifen
Perlu dilakukan pemeriksaan ahli, penatalaksanaan fraktur
dengan analgetik, pemberian alat penopang bilamana sesuai,
operasi, rehabilitasi aktif dan tindakan untuk mengesampingkan
penyebab osteopenia lainnya.
Derivat klomifen tanpa kior dengan efek estrogen lemah dan
efek antiestrogen kuat
(4)
. Obat ini mempunyai efek estrogen
pada tulang tanpa menunjukkan potensial stimulasi payudara.
Dapat memacu uterus
(5)
.
Dalam edukasi osteoporosis pada orang tua, harus diingat
bahwa fraktur sendi panggul dan pergelangan tangan biasanya,
dicetuskan oleh jatuh. Langkah-langkah perlu diambil untuk
mengurangi insidensi jatuh bilamana mungkin. Hal ini mungkin
memerlukan obat-obatan psikotropik, antihipertensi dan lain-
nya,penilaian lingkungan di rumah dan di luar rumah, pemberian
alat bantu yang sesuai, serta pemeriksaan penglihatan
(2)
.
5) Raloxifen
Mempunyai efek estrogen pada tulang tanpa memiliki po-
tensi stimulasi payudara atau uterus.
6) Progestagen
Mempunyai efek tulang serupa dengan estrogen atau andro-
gen
(5)
. Pada wanita yang mempunyai uterus yang intak, pro-
gesteron harus diberikan untuk menginduksi perubahan sekresi
(4)
.
7) Androgen/anabolik
Dapat memacu pembentukan tu1ang
(5)
. Steroid anabolik
seperti nandrolon dekanoat meningkatkan kandungan mineral,
tetapi penelitian terhadap efek aksialnya masih sedikit. Meski-
pun efek samping androgenik membatasi manfaatnya, kasus
dapat dipertimbangkan untuk mendapatkan pengobatan selama
KEPUSTAKAAN
1. Chehab RH. Osteoporosis. Dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Bagian
Bedah FKUI, Jakarta, hal. 675-78.
2. Peter JL. Osteoporosis After 60. In: Medical Progress, Mar. 1994; 21(3);
41-5.
enam bulan (misalnya nandrolon dekanoat 50 mg secara
intra- muskuler setiap enam minggu)
(4)
.
3. Salter RB. Textbool of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal
System, 2nd ed., Williams & Wilkins; Baltimore/London, 1993. 152-156.
8) Ipriflavone
4. Tan Kirana. Obat-obat Penting, ed 4, 1986. hal 526-29; 742-43.
Mempunyai sifat inhibitor resorpsi tulang. Obat ini sedang
dalam penelitian.
5. Wallach S. Osteoporosis. In: Griffiths 5 Minute Clinical Consult. Williams
& Wilkins, Baltimore/London, 1995. 742-43
The giver makes the gift valuable
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 31