HASIL PENELITIAN
Keefektifan Paduan Obat Ganda
Bifasik Anti Tuberkulosis Dinilai Atas
Dasar Kegiatan Anti Mikrobial dan
Atas Dasar Kegiatan Pemulihan
Imunitas Protektif
3. Penilaian atas dasar kegiatan pemulihan
imunitas protektif
R.A. Handojo, Sandi Agung, Anggraeni Inggrid Handojo
Malang, Indonesia
RINGKASAN
Suatu penelitian mengenai keefektifan paduan obat anti-tuberkulosis dari segi ke-
giatan pemulihan imunitas protektif telah dikerjakan di Balai Pemberantasan Penyakit
Paru-paru di Malang, meliputi 204 orang kasus tuberkulosis paru yang belum pernah
memperoleh obat-obat anti-tuberkulosis dan mempunyai dahak yang mikroskopis dan
biakan positif.
Sebanyak 68 orang memperoleh paduan obat jangka pendek HR/5H
1
R,, 68 orang
memperoleh paduan obat jangka pendek HR/8H
2
R
2
dan 68 orang memperoleh paduan
obatjangka panjang HS/11H
2
S
2
.
Kegiatan pemulihan imunitas protektif dinilai atas dasar kemampuan pemulihan ke-
dudukan imunologis golongan pada spektrum kedudukan imunologis penyakit tuber-
kulosis dari kedudukan imunologis tipe Koch ke posisi kedudukan imunologis tipe
Listeria. Kedudukan imunologis golongan pada penyakit tuberkulosis ditentukan atas
dasar indurasi rata-rata reaksi tuberkulin pada golongan kasus yang diperiksa, dan pasca
perbandinganjumlah kasus dengan reaksi tuberkulin positif normal (10-15 mm) terhadap
jumlah kasus dengan reaksi tuberkulin positif kuat (16 mm). Perolehan kesembuhan
imunologis merupakan petanda terjadinya pemulihan kedudukan imunologis termasuk
pemulihan imunitas protektif.
Paduan obat jangka pendek ganda 6-9 bulan, bifasik yang terdiri dari INH dan RMP
digunakan oleh golongan kasus tuberkulosis yang mempunyai strain hasil baik yang
sensitif penuh terhadap INH dan RMP, yang resisten terhadap INH dan/atau RMP, se-
bagian besar resisten terhadap INH melulu maupun yang tidak diperiksa kepekaan basil
TB terhadap obat-obat yang digunakan, telah mampu menjadikan regresi horisontal pada
spektrum kedudukan imunologis penyakit tuberkulosis sudah pada akhir bulan peng-
obatan pertama, dan perolehan kesembuhan imunologis sudah pada akhir bulan peng-
obatan pertama juga.
Perolehan kesembuhan imunologis padapenggunaan paduan obatgandajangka pan-
jang bifasik yang terdiri dari INH dan SM, dimungkinkan hanya bila paduan obat yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 29
dimaksud digunakan oleh golongan kasus yang mempunyai strain hasil yang sensitif
penuh terhadap INH dan SM.
Penggunaan paduan obat jangka pendek HR/8H
2
R
2
dan paduan obat jangka panjang
HS/11H
2
S
2
menghasilkan pengetahuan bahwa kegiatan pemulihan imunitas protektif ber-
langsung selama seluruh kurun waktu pengobatan bahkan sesudah kurun waktu peng-
obatan enam bulan. Paduan obat HS/I IH,S, digunakan oleh golongan kasus yang tidak
mengalami pemeriksaan kepekaan hasil terhadap obat-obat yang digunakan, baru mampu
menjadikan perolehan kesembuhan imunologis pada akhir bulan pengobatan ke-12,
walaupun regresi horisontal sudah rerjadi pada akhir bulan pengobatan ke-1. Paduan obat
yang lama digunakan oleh golongan kasus yang sama pula tetapi yang hanya terdiri dari
kasus-kasus kegagalan pengobatan atas dasar pemeriksaan bakteriologis pada akhir bulan
pengobatan ke-6, telah mampu menjadikan regresi horisontal yang berlangsung selama
tiga bulan sejak dimulai pengobatan dan disusul kemudian oleh kejadian progresi hori-
sontal yang berlangsung sampai akhir kurun waktu pengobatan.
Penemuan-penemuan mengenai kesembuhan bakteriologis dun kesembuhan imuno-
logis pada penggunaan paduan obat anti-tuberkulosis. membuka jalan untuk penelitian
lebih lanjut mengenai manfaat suntikan BCG (imunoterapi BCC) untuk memperpendek
kurun waktu pengobatan dan memperkokoh kesembuhan bakteriologis yang diperoleh.
Hal ini perlu dipertimbangkan terurama di daerah-daerah endemis tuberkulosis dengan
masalah biaya pengobatan serta ketaatan pengobatan yang tidak dapat diabaikan.
PENDAHULUAN
Pemberian khemoterapi anti-mikrobial untuk kasus-kasus
yang menderita penyakit infeksi. termasuk penyakit tuberkulosis
(TB). pada hakikatnya dimaksud untuk membantu dan mening-
katkan daya-tahan imunologis tubuh host dalam usahanya me-
nmsnahkan patogen yang memasuki jaringan tubuhnya dan
yang telah membangkitkan kelainan patologis sebagai akibat dari
terjadinya cidera imunologis.
Khemoterapi anti-mikrobial perlu bekerja sama dengan daya-
tahan imunologis tubuh host untuk mewujudkan kesembuhan
yang sempurna (complete healing). Keberadaan daya-tahan
imunologis yang berfungsi secara adekuat mutlak diperlukan
untuk khemoterapi anti-mikrobial agar yang disebut belakangan
ini dapat berfungsi secara optimal pula
(1,2)
.
Telah dibuktikan melalui suatu penelitian klinis bahwa se-
lain kegiatan anti-mikrobial (bakterisidal), khemoterapi anti-
tuberkulosis (anti-TB) juga dapat mencegah terjadinya kekam-
buhan bakteriologis sesudah dihentikannya pengobatan yang
berhasil
(3-7)
.
Penghentian pengobatan yang berhasil berarti peng-
hentian paduan obat yang telah mewujudkan kesembuhan bakte-
riologis. Menstabilkan kesembuhan bakteriologis untuk mencegah
kekambuhan bakteriologis merupakan usaha yang dikembang-
kan oleh imunitas protektif. Dalam hal tuberkulosis, respons
imunologis mempunyai peranan yang paling pealing pada pem-
hangkitan imunitas protektif. Respons imunologis ini dikem-
bangkan melalui kegiatan dua unsur imunologis fundamental
yang dikenal sebagai responsimun seluler(cell mediated immune
response) dan respons imun humoral (humoral immune response).
Respons imun seluler yang merupakan respons imun yang sangat
vital dalam menghadapi kuman tuberkulosis, dibangkitkan me-
lalui kegiatan dua unsur fundamental yang dikenal sebagai sel
makrofag dan sel limfosit-T.
BAHAN DAN CARA
1) Jumlah kasus
Sebanyak 204 orang kasus tuberkulosis bertempat tinggal di
Kotamadya Malang, berumur 15 tahun atau lebih, dengan dahak
mikroskopis dan biakan positif (M+B+), helm pernah memper-
oleh obat-obat anti-TB sepanjang diketahui melalui anamnesis
yang cermat, dimasukkan dalam penelitian ini.
2) Khemoterapi anti-tuberkulosis
Pada penelitian klinis ini digunakan 3 jenis paduan obat anti-
TB, yaitu :
1) Paduan obat jangka pendek 6 bulan yang terdiri dari isoniazid
(INH, H) dan rifampicin (RMP, R), diberikan tiap hari selama
satu bulan dan dua kali seminggu selama 5 bulan (golongan A;
HR/5H,R
t
).
2) Paduan obat jangka pendek 9 bulan yang terdiri dari INH dan
RMP, diberikan tiap hari selama satu Milan dan dua kali se-
minggu selama 8 bulan (golongan B; HR/8H
2
R
2
).
3) Paduan obat jangka panjang 12 bulan yang terdiri dari INH
dan streptomisin (SM, S) diberikan tiap hari selama satu bulan
dan dua kali seminggu selama 11 bulan (golongan C;HS/11H
2
S
2
)
Dosis INH adalah 400 mg/hari, diberikan selama fase peng-
obatan tiap hari, dan 700 mg/hari selama fase pengobatan dua
kali seminggu.
Dosis RMP adalah 450 mg/hari selama fase pengobatan tiap
hari dan 600 mg/hari selama fase pengobatan dua kali seminggu.
Dosis SM adalah 3/4 gram/hari selama fase pengobatan tiap
hari dan 1 gram/hari selama lase pengobatan dua kali seminggu.
Dosis [NH, RMP maupun SM tidak ditentukan oleh berat-
badan kasus, diberikan sebagai dosis tunggal pagi hari setengah
jam sebelum makan secara fully supervised treatment dan se-
bagai pengobatan jalan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998
30
3) Pelaksanaan uji tuberkulin
Uji tuberkulin dikerjakan dengan PPD Rt23 dengan Tween-
80, 2TU/0,1 ml,disuntikkan intradermal (uji Mantoux) di lengan
bawah. Pembacaan reaksi tuberkulin dikerjakan 72 jam sesudah
suntikan dan dilaksanakan oleh seorang petugas pembaca reaksi
tuberkulin yang terlatih.
Uji tuberkulin dikerjakan pada bulan 0 (sebelum dimulai
pengobatan), pada akhir bulan ke-1, ke-3, ke-6, ke-9 dan ke-12
selama kurun waktu pengobatan aktif.
4) Pole reaksi tuberkulin
Pola reaksi tuberkulin (the pattern of tuberculin reaction)
ditentukan atas dasar:
a)
Indurasi rata-rata reaksi tuberkulin pada golongan kasus
yang memperoleh paduan obat yang sama
b)
Perbandingan antara jumlah kasus dengan reaksi tuberkulin
positif normal (1015 mm) dan jumlah kasus dengan reaksi
tuberkulin positif kuat (16 mm) pada golongan kasus yang
memperoleh paduan obat yang sama.
Pola reaksi tuberkulin mencerminkan kedudukan imunolo-
gis pada golongan kasus yang homogen. Kedudukan imunologis
mencerminkan imunitas protektif pada golongan kasus yang
homogen.
5) Pemeriksaan dahak
Pemeriksaan dahak mikroskopis dan biakan dikerjakan di
Laboratorium Mikrobiologi Brompton Hospital di London.
Pemeriksaan dahak mikroskopis dan biakan dikerjakan pada
bulan pengobalan 0, tiap akhir bulan pengobatan selama fase
pengobatan aktif, tiap akhir bulan selama kurun waktu tindak
lanjut 12 bulan dan selanjutnya tiga bulan sekali selama 6 bulan.
6) Penilaian hasil pengobatan
Penilaian hasil pengobatan dikerjakan alas dasar hasil
pemeriksaan dahak.
Kegagalan pengobatan (treatment failure) ditentukan atas
dasar :
a)
Kepositifan dahak persisten selama kurun waktu pengobat-
an.
b)
Kekambuhan bakteriologis selama berlangsung pengobatan
sesudah terjadi konversi dahak selama kurun waktu pengobatan.
Konversi dahak ialah dahak biakan negatif selama 3 bulan
benurut-turut pada pemeriksaan dahak sebulan sekali.
Kekambuhan bakteriologis ialah dahak biakan positif selama
tiga bulan berturut-turut pada pemeriksaan dahak sebulan sekali
sesudah terjadi konversi dahak.
Kekambuhan bakteriologis selama kurun waktu tindak lanjut
ditentukan atas dasar terjadinya dahak biakan positif tiga bulan
berturut-turut pada pemeriksaan dahak sebulan sekali sesudah
dihentikan pengobatan yang berhasil. Kepositifan dahak biakan
untuk menentukan terjadinya kekambuhan bakteriologis ialah
pertumbuhan sebanyak 10 koloni atau lebih.
7) Penilaian kegiatan pemulihan imunitas protektif
Golongan kasus TB dengan dahak positif memperlihatkan
pola reaksi tuberkulin yang mencerminkan kedudukan imunolo-
gis tipe K yang diwarnai oleh indurasi rata-rata reaksi tuberkulin
sebesar kurang-lebih 18 mm, dan perbandingan jumlah kasus
dengan reaksi positif normal terhadap jumlah kasus dengan
reaksi positif kuat sebesar sekitar 15/85.
Golongan individu sehat tetapi tertular memperlihatkan
pola reaksi tuberkulin yang mencerminkan kedudukan imuno-
logis yang diwarnai oleh indurasi rata-rata reaksi tuberkulin se-
besar kurang-lebih 16 mm, dan perbandingan jumlah orang
dengan reaksi tuberkulin positif normal terhadap jumlah orang
dengan reaksi tuberkulin positif kuat sebesar sekitar 37/63.
Golongan individu yang telah memperoleh vaksinasi BCG
memperlihatkan pola reaksi tuberkulin yang mencerminkan
kedudukan imunologis yang diwarnai oleh indurasi rata-rata
reaksi tuberkulin sebesar kurang-lebih 12mm, dan perbandingan
jumlah orang dengan reaksi tuberkulin positif normal terhadap
jumlah orang dengan reaksi tuberkulin positif kuat sebesar se-
kitar 76/24
(8,9)
.
Pemulihan imunitas protektif dinilai atas dasar pergeseran
(shift) pada kedudukan imunologis dari posisi tipe K ke posisi
kedudukan imunologis golongan orang sehat tetapi tertular, dan
seterusnya ke posisi golongan penerima BCG setelah melewati
titik-tengah pada spektrum imun tuberkulosis. Makin jauh per-
geseran posisi kedudukan imunologis terjadi dari posisi tipe K ke
arah posisi tipe L, makin tinggi kemampuan kegiatan pemulihan
imunitas protektif dari paduan obat yang digunakan
(3,12)
.
Pergeseran posisi kedudukan imunologis dari tipe K ke tipe
L diwarnai oleh penemuan-penemuan sebagai berikut :
1) Indurasi rata-rata reaksi tuberkulin menurun sampai pada
posisi kedudukan imunologis individu sehat tetapi tertular (healthy
infected individuals), atau lebih lanjut ke arah posisi kedudukan
imunologis golongan penerima BCG (BCC recipients) (Gam-
bar 1).
2) Peningkatan peranan makrofag yang diukur atas dasar pe-
ningkatanjumlah kasus dengan reaksi tuberkulin positif normal
dan penurunan jumlah kasus dengan reaksi tuberkulin positif
kuat (Gambar 1). Sampai titik-tengah (mid-point) spektrum
kedudukan imunologis penyakit tuberkulosis, jumlah kasus
dengan reaksi tuberkulin positif normal adalah sama dengan
jumlah kasus dengan reaksi tuberkulin positif kuat. Titik-tengah
ini disebut juga titik-pemutaran (the reversal point).
Gambar 1. Spektrum Kedudukan Imunologis Golongan
BCG TT Nx + CXR + CXR +
* CXR spt spt +
N
: 1284 5915 345
34
x mm : 12,9 17,5 17,8 19,6
15 mm 76 50 37 20 15
16 mm 24 50 63 80 85
N
=
jumlah
orang TT =
titik
tengah spt =
sputum
x =
industri
rata-rata
Mx =
uji
mantoux
reaksi
tuberkulin CXR =
Chest
X-ray
HASIL
1) Jumlah kasus TB
Sebanyak 204 orang diikutsenakan pada penelitian ini.
Melalui penentuan secara acak (at random), sebanyak 68 orang
memperoleh paduan obat jangka pendek 6 bulan (golongan A;
HR/5H
2
R
2
),68 orang memperoleh paduan obat jangka pendek 9
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 31
bulan (golongan B: HR/SH,R,) dan 68 orang memperoleh pad-
uan obat jangka panjang 12 bulan (golongan C; HS/11H
2
S
2
).
Dari 68 orang yang memperoleh paduan obat jangka pendek
6 bulan, terdapat 54orang (79%) yang dapat dinilai (subgolongan
A
3
), 26 orang (48%) dengan strain hasil yang sensitif penuh
terhadap INH dan RMP (subgolongan A
1
) dan 28 orang (52%)
dengan strain hasil yang resisten terhadap INH dan/atau RMP,
sebagian besar resisten terhadap INH melulu (subgolongan A,).
Dari 68 orang yang memperoleh paduan obat jangka pendek
sembilan bulan, terdapat 58 prang (85%) yang dapat dinilai
(subgolongan B
3
), 29 orang (50%) dengan strain hasil yang
sensitif penuh terhadap INH dan RMP (subgolongan B
1
)
dan 29
orang (50%) dengan strain hasil yang resisten terhadap INH dan/
atau RMP, sebagian besar resisten terhadap INH melulu
(subgolongan B
2
).
Dari 68 orang yang memperoleh paduan obat jangka panjang
12 bulan, terdapat 59 orang (87%) yang dapat dinilai (subgolon-
gan C,), 28 orang (47%) dengan strain hasil yang sensitif penuh
terhadap INH dan SM (subgolongan C
1
) dan 31 orang (53%)
dengan strain hasil yang resisten terhadap INH dan/atau SM,
sebagian besar resisten terhadap INH melulu (subgolongan C
2
).
Pada penilaian sampai akhir bulan pengobatan ke-6, golon-
gan pengobatan A dijadikan satu dengan golongan pengobatan B
(golongan A-B). Terdapat 112 orang dari subgolongan A
3
B
3
55 orang dari subgolongan A,-B, dan 57 orang dari subgolongan
A
2
B
2
(lihat Skema).
Skema
2) Penilaian kegiatan pemulihan imunitas protektif
2.1) Penilaian sampai akhir bulan pengobatan ke-6
a) Pada subgolongan kasus dengan strain hasil yang sensitif
penuh terhadap obat-obat yang dipakai.
Tabel la memperlihatkan bahwa pada subgolongan kasus
yang memperoleh paduan obat HR/5-8H
2
R
2
(subgolongan A-B
1
)
terjadi penurunan indurasi rata-rata reaksi tuberkulin (X) pada
akhir bulan ke-1 dari sebesar 17,4 mm pada bulan 0 menjadi 16,4
mm (X = 1,0 mm). Selanjutnya X ini bertahan pada 16,4 mm
(X = 0 mm) pada akhir bulan ke-3 dan kemudian menurun
menjadi sebesar 16,3 mm (X= 0,1 mm) pada akhir bulan ke-6.
Terdapat perbedaan yang statistis jelas bermakna mengenai X
antara penilaian pada bulan 0 dengan baik penilaian pada akhir
bulan ke-I (p <0,01), penilaian pada akhir bulan ke-3 (p = 0,01)
maupun penilaian pada akhir bulan ke-6 (p < 0,01).
Tabel 1a. Sensitif terhadap INH + RMP + SM
HB/5-8H
2
R
2
(A-B
1
) HS/11H
2
S
2
(C
1
)
Bulan
ke-
Jumlah
orang
X
mm
X
mm
Nilal p
terhadap
bulan 0
Jumlah
orang
X
mm
X
mm
Nilal p
terhadap
bulan 0
0
1
3
6
51
49
55
55
17,4
16,4
16,4
16,3
1,0
0
0,1
<0,01
=0,01
<0,01
26
20
28
28
18,6
16,9
16,6
16,3
1,7
0,3
0,3
<0,01
<0,01
<0.01
Keterangan :
X
=
industri
rata-rata
X =
tambahan
X
Tabel la memperlihatkan pula bahwa pada subgolongan
kasus yang memperoleh paduan that HS/11H
2
S
2
(subgolongan
C,) terjadi penurunan X dari 18,6 mm pada bulan 0 menjadi
16,9 mm pada akhir bulan ke- I (X = 1,7 mm), selanjutnya
menjadi 16,6 mm (X = 0,3 mm) pada akhir bulan ke-3 dan
kemudian menjadi 16,3 mm (AX=0,3 mm) pada akhir bulan
ke-6. Terdapat perbedaan yang statistis jelas bermakna
mengenai X antara penilaian pada bulan 0 dengan baik
penilaian pada akhir bulan 1 (p <0,01), penilaian pada akhir
bulan ke-3 (p < 0,01) maupun penilaian pada akhir bulan ke-6
(p < 0,01).
Tabel lb menunjukkan bahwa pada subgolongan yang
memperoleh paduan obat HR/5-8H
2
R
2
(subgolongan A-B
1
) ter-
jadi peningkatan peranan makrofag (PM) dari 27% pada bulan
0 menjadi 35% pada akhir bulan ke-1 (PM = 8%), selanjutnya
menjadi 40% (X = 5%) pada akhir bulan ke-3, dan pada akhir
bulan ke-6 dijumpai peranan makrofag yang lama yaitu sebesar
40% (PM = 0%). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p
> 0,05) mengenai PM antara penilaian pada bulan 0 dan baik
penilaian pada akhir bulan-bulan ke-I, ke-3 maupun ke-6.
Tabel 1b memperlihatkan bahwa pada subgolongan kasus
yang memperoleh paduan obat HS/11H
2
S
2
(subgolonyan C
1
)
tidak terjadi peningkatan PM pada akhir bulan pengobatan ke-
1; yang terjadi bahkan penurunan PM dari 38% pada bulan 0
menjadi 20% pada akhir bulan pengobatan ke-1. Tidak terdapat
perbedaan yang statistis bermakna (p > 0,05) mengenai PM
antara penilaian pada bulan 0 dan penilaian pada akhir bulan
pengobatan ke-1.
Tabel lb. Sensitif terhadap INH + RMP + SM
HR/5-8H
2
R
2
(A-B
1
) HS/11H
2
S
2
(C
1
)
Bulan
ke-
Jumlah
orang
PM
%
PM
%
Nilai p
terhadap
bulan 0
Jumlah
orang
PM
%
PM
%
Nilai p
terhadap
bulan 0
0
1
3
6
51
49
55
55
27
35
40
40
+8
+5
+0
>0,05
>0.05
>0,05
26
20
28
28
38
20
50
54
18
+30
+4
>0,05
>0,05
>0,05
Keterangan:
PM = peranan makrofag
PM = tambahan PM
Peranan makrofag kemudian meningkat dari 20% pada
akhir bulan pengobatan ke-I menjadi 50% pada akhir bulan
pengobatan ke-3 (APM = 30%) dan selanjutnya menjadi 54%
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998
32
pada akhir bulan pengobatan ke-6 (PM = 4%). Tidak terdapat
perbedaan yang statistis bermakna (p > 0,05) mengenai PM
antara penilaian pada bulan 0 dan penilaian pada akhir bulan
pengobatan ke-3, begitu juga antara penilaian pada bulan 0 dan
penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-6.
b) Pada subgolongan kasus dengan strain basil yang resisten
terhadap INH dan/atau RMP atau terhadap INH dan/atau SM.
Tabel 2a memperlihatkan bahwa pada subgolongan kasus
yang memperoleh paduan obat HR/5-8H
2
R
2
(subgolongan A-B
2
)
terjadi penurunan X pada akhir bulan pengobatan ke-1 dari 16,8
mm pada bulan 0 menjadi 16,2 mm pada akhir bulan pengobatan
ke-1 (X = 0,6 mm). Terdapat perbedaan yang statistis ber-
makna (p <0,05 mengenai X antara penilaian pada bulan 0 dan
penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-1.
Tabel 2a. Resisten terhadap INH dan/atau RMP dan/atau SM
HR/5-8H
2
R
2
(A-B
2
) HS/11H
2
S
2
(C
2
)
Bulan Jumlah
Ke-
orang
X
mm mm
X
terhadap
Nilai p
bulan 0
Jumlah
orang
X
mm
X
mm
Nilai p
terhadap
bulan 0
0
1
3
6
57
5
54
57
57
16,8
16,2 0.6
16,4 + 0,2
16,2 0,2
< 0,05
< 0,05
= 0,01
31
30
31
31
17,1
16,8
16,4
16,9
0,3
0,4
+ 0,
> 0,05
> 0,05
> 0,05
Keterangan
X = indurasi rata-rata
X = tambahan X
Indurasi rata-rata reaksi tuberkulin ini meningkat pada akhir
bulan pengobatan ke-3 (X = 0,2 mm) dan selanjutnya menurun
lagi menjadi 16,2 mm pada akhir bulan pengobatan ke-6 (X =
0,2 mm). Terdapat perbedaan yang bermakna secara statistis
(p<0,05) mengenai X antara penilaian pada bulan 0 dan penilai-
an pada akhir bulan pengobatan ke-3 maupun antara penilaian
pada bulan 0 dan penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-6
(p
=0,01).
Penurunan X terjadi juga pada subgolongan kasus yang
memperoleh paduan obat HS/11H
2
S
2
(subgolongan C
2
) dari 17,1
mm pada bulan 0 menjadi 16,8 mm (X = 0,3 mm) pada akhir
bulan ke-1, selanjutnya menjadi 16,4 mm (X = 0,4 mm) pada
akhir bulan ke-3 dan kemudian menjadi 16,9 mm (X= 0,5 mm)
pada akhir bulan pengobatan ke-6 (Tabel 2a). Tidak terdapat
perbedaan yang bermakna secara statistis (p > 0,05) mengenai X
antara penilaian pada bulan 0 dengan baik penilaian pada akhir
bulan pengobatan ke-1, pada akhir bulan pengobatan ke-3 maupun
pada akhir bulan pengobatan ke-6 (Tabel 2a).
Peranan makrofag terdapat meningkat pada subgolongan
kasus yang memperoleh paduan obat HR/5-8H
2
R
2
(subgolongan
A-B
2
) dari 23% pada bulan 0 menjadi 50% pada akhir bulan
pengobatan ke-1 (PM = 27%), menurun menjadi 44% pada
akhir bulan pengobatan ke-3 (PM = 6%), lalu meningkat
menjadi 47% pada akhir bulan pengobatan ke-6 (PM = 3%)
(Tabel 2b). Tidak terdapat perbedaan yang statistis bermakna
(p>0,05) mengenai PM antara penilaian pada bulan 0 dengan
baik penilaian pada akhir bulan ke-1, penilaian pada akhir bulan
pengobatan ke-3 maupun penilaian pada akhir bulan pengobatan
ke-6 (Tabel 2b).
Tabel 2a. Resisten terhadap INH dan/atau RMP dan/atau SM
HR/5-8H
2
R
2
(A-B
2
)
HS/11H
2
S
2
(C
2
)
Bulan
Ke-
Jumlah
orang
PM
%
PM
%
Nilai p
terhadap
bulan 0
Jumlah
orang
PM
%
PM
%
Nilai p
terhadap
bulan 0
0
1
3
6
57
54
57
57
23
50
44
47
+ 17
6
+ 3
> 0.05
> 0,05
> 0,05
31
30
31
31
39
43
35
35
+ 4
8
+ 0
> 0.05
> 0,05
> 0,05
Keterangan:
PM = peranan makrofag
PM = tambahan PM
Tabel 2b selanjutnya memperlihatkan terjadi juga pening-
katan PM pada subgolongan kasus yang memperoleh paduan
obat HS/11H
2
S
2
(subgolongan C
2
) dari 39% pada bulan 0 menjadi
43% pada akhir bulan pengobatan ke-I (PM = 4%), selanjut-
nya menurun menjadi 35% pada akhir bulan pengobatan ke-3
(PM = 8%) dan kemudian benahan pada 35% pada akhir bulan
pengobatan ke-6 (PM = 0%). Perbedaan PM antara penilaian
pada bulan 0 dengan baik penilaian pada akhir bulan ke-1, pe-
nilaian pada akhir bulan pengobatan ke-3 maupun penilaian
pada akhir bulan pengobatan ke-6 tidak bermakna secara statistis
(p > 0,05).
c) Pada subgolongan keseluruhan kasus TB.
Pada subgolongan keseluruhan kasus yang memperoleh
paduan obat HR/5-8H
2
R
2
(subgolongan A-B
2
) terjadi penurunan
X dari 17,1 mm pada bulan 0 menjadi 16,3 mm (X = 0,8 mm)
pada akhir bulan pengobatan ke-1. Terdapat perbedaan X yang
jelas bermakna antara penilaian pada bulan 0 dan penilaian pada
akhir bulan ke- 1 (p < 0,01) (Tabel 3a).
Indurasi rata-rata reaksi tuberkulin ini selanjutnya mening-
kat menjadi 16,4 mm (X = 0,1 mm) pada akhir bulan peng-
obatan ke-3 dan kemudian menurun menjadi 16,2 mm pada akhir
bulan pengobatan ke-6 (X = 0,2 mm). Terdapat perbedaan X
yang statistis jelas bermakna (p < 0,01) antara penilaian pada
bulan 0 dan baik penilaian pada akhir bulan ke-3 maupun
penilaian pada akhir bulan ke-6 (Tabel 3a).
Tabel 3a. Golongan Keseluruhan
HR/5-8H
2
R
2
(A-B
3
) HS/11H
2
S
2
(C
3
)
Bulan
ke-
Jumlah
orang
X
mm
X
mm
Nilai p
terhadap
bulan 0
Jumlah
orang
X
mm
X
mm
Nilai p
terhadap
bulan 0
0
1
3
6
108
103
112
112
17,1
16,3
16,4
16,2
0.8
+ 0,1
0,2
< 0,01
< 0,01
< 0,01
57
50
59
59
17,1
16,8
16,5
16,6
0,3
0,3
+ 0,1
> 0,05
> 0,05
> 0,05
Keterangan
X = indurasi rata-rata
X = tambahan X
Pada Tabel 3a terlihat pula adanya penurunan X dari 17,1
mm pada bulan 0 menjadi 16,8 mm (X = 0,3 mm) pada akhir
bulan ke-1 pada subgolongan keseluruhan kasus yang memper-
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 33
oleh HS/11H
2
S
2
(subgolongan C
3
). Indurasi rata-rata reaksi
tuberkulin ini selanjutnya menurun menjadi 16,5 mm pada akhir
bulan pengobatan ke-3 (X=0,3 mm) dan kemudian meningkat
menjadi 16,6 mm pada akhir bulan pengobatan ke-6 (X = 0,1
mm) (Tabel 3a). Tidak terdapat perbedaan X yang statistis ber-
makna (p>0,05) antara penilaian pada bulan 0 dengan baik peni-
laian pada akhir bulan-bulan ke-1,ke-3 maupun ke-6 (Tabel 3a).
Tabel 3b memperlihatkan bahwa pada subgolongan ke-
seluruhan kasus yang memperoleh paduan obat HR/5-8H
2
R
2
(subgolongan A-B
3
) terjadi peningkatan PM dari 34% pada bulan
0 menjadi 43% pada akhir bulan pengobatan ke-1 (PM = 9%).
Peranan makrofag ini selanjutnya menurun menjadi 42% pada
akhir bulan pengobatan ke-3 (PM = I%) dan selanjutnya
menjadi 44% (PM = 2%) pada akhir bulan pengobatan ke-6.
Tidak terdapat perbedaan PM yang statistis bermakna (p> 0,05)
antara penilaian pada bulan 0 dengan baik penilaian pada akhir
bulan-bulan pengobatan ke-1, ke-3 maupun ke-6.
Taber 3b. Golongan Keseluruhan
HR/5-8H,R, (A-B
3
) HS/11H
2
S
2
(C
3
)
Bulan
ke-
Jumlah
orang
PM
%
PM
%
Nilai p
terhadap
bulan 0
Jumlah
orang
PM
%
PM
%
Nilai p
terhadap
bulan 0
0
1
3
6
108
103
112
112
34
43
42
44
+ 9
1
+ 2
> 0,05
> 0,05
> 0,05
57
50
59
59
39
34
42
44
5
+ 8
+ 2
> 0,05
> 0,05
> 0,05
Keterangan:
PM = peranan makrofag
PM = tambahan PM
Tabel 3b menunjukkan bahwa pada subgolongan ke-
seluruhan kasus yang memperoleh paduan obat HS/11H
2
S
2
(subgolongan C
3
) terjadi penurunan PM dari 39% pada bulan 0
menjadi 34% (PM = 5%) pada akhir bulan pengobatan ke-I.
Peranan makrofag ini selanjutnya meningkat menjadi 42% pada
akhirbulan pengobatan ke-3 (PM =8%) dan kemudian menjadi
44% (PM = 2%) pada akhir bulan pengobatan ke-6. Tidak ter-
dapat perbedaan yang bermakna secara statistis (p > 0,05) me-
ngenai PM antara penilaian pada bulan 0 dengan baik penilaian
pada akhir bulan-bulan pengobatan ke-1, ke-3 maupun ke-6.
2.2) Penilaian sampai akhir boron pengobatan ke-9 dan
ke-12
Pada subgolongan keseluruhan kasus yang memperoleh
paduan obat HR/8H
2
R
2
(subgolongan B
3
) terjadi penurunan X
dan 17,2 mm pada bulan 0 menjadi 16,4 mm pada akhir bulan
pengobatan ke-1 (X = 0,8 mm) (Tabel 4a). Terdapat perbedaan
yang statistis bermakna (p < 0,05) mengenai X antara penilaian
pada bulan 0 dan penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-l.
(Taber 4a). Indurasi ram-rata reaksi tuberkulin ini menurun
menjadi 16,3 mm (X = 0,1 mm) pada akhir bulan pengobatan
ke-3, selanjutnya menjadi 16,1 mm (X = 0,2 mm) pada akhir
bulan pengobatan ke-6 dan kemudian menjadi 15,4 mm = (X=
0,7 mm) pada akhir bulan pengobatan ke-9 (Tabel 4a). Terdapat
perbedaan yang statistis jelas bermakna (p=0,01 sampai <0,01)
mengenai X antara penilaian pada bulan 0 dengan baik penilai-
an pada akhir bulan pengobatan ke-3 (p = 0,01), penilaian pada
akhir bulan pengobatan ke-6 (p < 0,01) maupun penilaian pada
akhir bulan pengobatan ke-9 (p <0,01) (Tabel 4a).
Tabel 4a. Golongan Keseluruhan
HR/5-8H
2
R
2
(A-B
3
) HS/11H
2
S
2
(C
3
)
Bulan
ke-
Jumlah
orang
X
mm
X
mm
Nilai p
terhadap
bulan 0
Jumlah
orang
X
mm
X
mm
Nilai p
terhadap
bulan 0
0
1
3
6
9
12
57
49
58
58
57
17,2
16,4
16,3
16,1
15,4
0.8
0,1
0,2
0,7
< 0,05
< 0,01
< 0,01
< 0,01
57
50
59
59
55
57
17,1
16,8
16,5
16,6
16,5
16,0
0,3
0,3
+ 0,1
0,1
0,5
> 0,05
> 0,05
> 0,05
> 0,05
< 0,01
Keterangan
X = indurasi rata-rata
X = tambahan X
Tabel 4a selanjutnya memperlihatkan bahwa pada sub-
golongan keseluruhan kasus yang memperoleh paduan obat HS/
11H
2
S
2
(subgolongan C
3
) terjadi penurunan X dari 17,1 mm pada
bulan 0 menjadi 16,8 mm (X = 0,3 mm) pada akhir bulan
pengobatan ke-l; selanjutnya menjadi 16,5 mm pada akhir bulan
pengobatan ke-3 (X = 0,3 mm), meningkat menjadi 16,6 mm
(X = 0,1 mm) pada akhirbulanpengobatan ke-6, menurun
men-jadi 16,5 mm pada akhir bulan pengobatan ke-9 (X = 0,1
mm) dan kemudian menjadi 16,0 mm pada akhir bulan ke-12
(X = 0,5 mm). Tidak terdapat perbedaan yang statistis
bermakna (p>0,05) mengenai X antara penilaian pada bulan 0
dengan baik penilaian pada akhir bulan ke-1 , penilaian pada
akhir bulan ke-3, penilaian pada akhir bulan ke-6 maupun
penilaian pada akhir bulan ke-9. Terdapat perbedaan yang
statistis jelas ber-makna (p <0,01) mengenai X antara penilaian
pada bulan 0 dan penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-12.
Pada subgolongan keseluruhan kasus yang memperoleh
paduan obat HR/8H
2
R
2
(subgolongan B
3
) terjadi peningkatan
PM dari 35% pada bulan 0 menjadi 39% (PM =4%) pada akhir
bulan pengobatan ke-1. Peranan makrofag ini selanjutnya me-
ningkat menjadi 43% (PM = 4%) pada akhir bulan pengobatan
ke-3, menjadi 45% (PM = 2%) pada akhir bulan pengobatan
ke-6 dan kemudian menjadi 54% (APM = 9%) pada akhir
bulan pengobatan ke-9 (Tabel 4b). Tidak terdapat perbedaan
PM yang statistis bermakna (p > 0,05) antara penilaian pada
bulan 0 dengan baik penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-1,
penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-3 maupun penilaian
pada akhir bulan pengobatan ke-6. Terdapat perbedaan PM
yang statistis bermakna (p <0,05) antara penilaian pada bulan 0
dan penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-9.
Pada subgolongan keseluruhan kasus yang memperoleh
paduan obat HS/11H
2
S
2
(subgolongan C
3
) terjadi penurunan PM
dari 39% pada bulan 0 menjadi 34% pada akhir bulan pengobatan
ke-1 (PM = 5%). Peranan makrofag ini selanjutnya meningkat
pada akhir bulan pengobatan ke-3 (PM = 8%), menjadi 44%
pada akhir bulan pengobatan ke-6 (PM = 2%), menurun pada
akhir bulan pengobatan ke-9 menjadi 38% (PM = 6%) dan
kemudian meningkat menjadi 49% (PM + 11%) pada akhir
bulan pengobatan ke-12 (Tabel 4b). Tidak terdapat perbedaan
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998
34
Tabel 4b. Golongan Keseluruhan
HR/5-8H
2
R
2
(A-B
3
) HS/11H
2
S
2
(C
3
)
Bulan
ke-
Jumlah
orang
X
mm
X
mm
Nilai p
terhadap
bulan 0
Jumlah
orang
X
mm
X
mm
Nilai p
terhadap
bulan 0
0
1
3
6
9
12
57
49
58
58
57
35
39
43
45
54
+ 4
+ 4
+ 2
+ 9
> 0,05
> 0,05
> 0,05
< 0,05
57
50
59
59
55
57
39
34
42
44
38
49
5
+ 8
+ 2
6
+ 11
> 0,05
> 0,05
> 0,05
> 0,05
> 0,05
Keterangan
X = indurasi rata-rata
X = tambahan X
yang statistis bermakna (p> 0,05) mengenai PM antara penilaian
pada bulan 0 dan baik penilaian pada akhir bulan pengobatan
ke-1, penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-3, penilaian
pada akhir bulan pengobatan ke-6, penilaian pada akhir bulan
pengobatan ke-9 maupud penilaian pada akhirbulan pengobatan
ke-12 (Tabel 4b).
2.3) Penilaian pada subgolongan keseluruhan kasus dengan
keberhasilan pengobatan dan dengan kegagalan peng-
obatan
Tabel 5a memperlihatkan bahwa pada subgolongan kese-
luruhan kasus yang memperoleh paduan obat jangka panjang
HS/11H
2
S
2
yang berhasil pada akhir kurun waktu pengobatan,
terjadi penurunan X dari 17.0 mm pada bulan 0 menjadi 16,8 mm
pada akhir bulan pengobatan pertama (X = 0,2 mm). Indurasi
rata-rata reaksi tuberkulin ini selanjutnya meningkat menjadi
16,9 mm (X = 0,1 mm) pada akhir bulan pengobatan ke-3,
menurun menjadi 16,6 mm (X = 0,3 mm) pada akhir bulan
pengobatan ke-6, menurun menjadi 16,4 mm (X = 0,2 mm)
pada akhir bulan pengobatan ke-9 dan kemudian menjadi 15,8
mm (X = 0,6 mm) pada akhir bulan pengobatan ke-12. Tidak
terdapat perbedaan yang statistis bermakna (p > 0,05) mengenai
X antara penilaian pada bulan 0 dengan baik penilaian pada
akhir bulan pengobatan ke-1, penilaian pada akhir bulan peng-
obatan ke-3, penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-6 maupun
penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-9. Terdapat perbeda-
an yang statistis jelas bermakna (p <0,01) mengenai X antara
penilaian pada bulan 0 dan penilaian pada akhir bulan peng-
obatan ke-12.
Tabel 5a. HS/11H
2
S
2
(C
3
) Pengobatan
Berhasil Gagal
Bulan
ke-
Jumlah
orang
X
mm
X
mm
Nilai p
terhadap
bulan 0
Jumlah
orang
X
mm
X
mm
Nilai p
terhadap
bulan 0
0
1
3
6
9
12
47
40
49
50
48
49
17,0
16,8
16,9
16,6
16,4
15,8
0,2
+ 0,1
0,3
0,2
0,6
> 0,05
> 0,05
> 0,05
> 0,05
< 0,01
10
10
10
9
7
8
17,9
16,8
14,6
16,6
17,0
17,4
1,1
2,2
+ 2,0
+ 0,4
+ 0,4
> 0,05
< 0,05
> 0,05
> 0,05
> 0,05
Keterangan
X = indurasi rata-rata X = tambahan X
Pada subgolongan keseluruhan kasus yang memperoleh
paduan obat HS/11H
2
S
2
yang gagal pada akhir kurun waktu
pengobatan, terjadi penurunan X dari 17,9 mm pada bulan 0 men-
jadi 16,8 mm pada akhir bulan pengobatan ke-1 (X=1,1 mm).
Tidak terdapat perbedaan yang statistis bermakna (p > 0,05)
mengenai X antara penilaian pada bulan 0 dan penilaian pada
akhir bulan ke-1. Indurasi rata-rata reaksi tuberkulin selanjutnya
menurun menjadi 14,6 mm (X = 2,2 mm) pada akhir bulan
pengobatan ke-3. Terdapat perbedaan yang statistis bermakna
(p < 0,05) antara X pada bulan 0 dengan X pada akhir bulan
pengobatan ke-3.
Selanjutnya X ini meningkat menjadi 16,6 mm (X = 2,0
mm) pada akhir bulan ke-6, menjadi 17,0 mm (X = 0,4 mm)
pada akhir bulan ke-9 dan kemudian meningkat lagi menjadi
sebesar 17,4 mm pada akhir bulan ke-12. Tidak terdapat per-
bedaan X yang statistis bermakna (p > 0,5) antara penilaian
pada bulan 0 dengan baik penilaian pada akhir bulan pengobat-
an ke-6, penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-9 maupun
penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-12 (Tabel 5a).
Tabel 5b memperlihatkan bahwa pada subgolongan ke-
seluruhan kasus yang memperoleh paduan obat HS/11H
2
S
2
yang
berhasil pada akhir kurun waktu pengobatan, terjadi penurunan
PM dari 43% pada bulan 0 menjadi 38% pada akhir bulan
pengobatan kcal (PM = 5%), meningkat menjadi 41% pada
akhir bulan pengobatan ke-3 (PM = 3%), menjadi 44% pada
akhir bulan pengobatan ke-6 (PM = 3%), menurun menjadi
38% pada akhir bulan pengobatan ke-9 (APM = 6%) dan ke-
mudian meningkat menjadi 53% pada akhir bulan pengobatan
ke-12 (PM = 15%). Tidak terdapat perbedaan PM yang statistis
bermakna (p > 0,05) antara penilaian pada bulan 0 dengan
penilaian baik pada akhir bulan ke-1, penilaian pada akhir bulan
pengobatan ke-3, penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-6,
penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-9 maupun penilaian
pada akhir bulan pengobatan ke-12.
Tabel 5a. HS/11H
2
S
2
(C
3
) Pengobatan
Berhasil Gagal
Bulan
ke-
Jumlah
orang
X
mm
X
mm
Nilai p
terhadap
bulan 0
Jumlah
orang
X
mm
X
mm
Nilai p
terhadap
bulan 0
0
1
3
6
9
12
47
40
49
50
48
49
43
38
41
44
38
53
5
+ 3
+ 3
6
+ 15
> 0,05
> 0,05
> 0,05
> 0,05
> 0,05
10
10
10
9
7
8
20
20
50
44
43
25
+ 0
+ 30
6
1
18
> 0,05
> 0,05
> 0,05
> 0,05
> 0,05
Keterangan
X = indurasi rata-rata
X = tambahan X
Tabel.5b selanjutnya memperlihatkan bahwa pada sub-
golongan keseluruhan kasus yang memperoleh paduan obat
jangka panjang HS/I1H
2
S
7
yang gagal pada akhir kurun waktu
pengobatan, tidal( terjadi peningkatan PM (PM = 0%) pada
akhir bulan pengobatan ke-1, selanjutnya terjadi peningkatan
PM menjadi 50% pada akhir bulan pengobatan ke-3 (PM =
30%); sesudah itu menurun menjadi 44% (PM = 6%) pada
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 35
akhir bulan pengobatan ke-6, menjadi 43% (PM = 1%) pada
akhir bulan pengobatan ke-9 dan kemudian menurun lagi men-
jadi 25% (PM = 18%) pada akhir bulan pengobatan ke-12.
Tidak terdapat perbedaan PM yang statistis bermakna (p > 0,05)
antara penilaian pada bulan 0 dengan baik penilaian pada akhir
bulan ke-1, penilaian pada akhir bulan pengobatan ke-3, penilai-
an pada akhir bulan pengobatan ke-6, penilaian pada akhir bulan
pengobatan ke-9 maupun dengan penilaian pada akhir bulan
pengobatan ke-12.
DISKUSI
Kasus-kasus TB paru yang diikutsertakan pada penelitian
ini adalah kasus-kasus TB dengan kelainan radiografis di paru
yang tergolong khronis aktif yang relevan untuk TB (CXR+)
disertai dahak yang mikroskopis dan biakan positif (spt+). Oleh
karena itu, mereka merupakan golongan yang homogen dan
mempunyai kedudukan imunologis yang disebut kedudukan
imunologis tipe Koch (tipe K) atau kedudukan imunologis tipe
Koch-Listeria (tipe KL), yaitu gabungan kedudukan imunologis
tipe Koch dan kedudukan imunologis tipe Listeria.
Dari segi kedudukan imunologis individual, kasus TB paru
yang mempunyai kedudukan imunologis tipe K, dikenal melalui
kelainan radiografis khronis aktif yang disebut kelainan infil-
trarif (infiltration). Kelainan infiltratif ini dapat mengalami pro-
gresi vertikal pada spektrum kedudukan imunologis individual
penyakit TB menjadi kelainan kaverne (cavitation) dan apabila
terjadi penyembuhan melalui penurupan kaverne (cavityclosure)
terjadi pembentukan kelainan fibrotik (fibrosis) (Gambar 2).
Gambar. 2. Spektrum kedudukan imunologis individual
Dari segi kedudukan imunologis individual, kasus TB paru
yang mempunyai kedudukan imunologis tipe KL, dikenal me-
lalui kelainan radiografis di paru berupa gabungan kelainan
radiografis khronis aktif disertai kelainan radiografis akut aktif.
Kelainan radiografis akut aktif ini ditampilkan sebagai kelainan
eksudatif (exudation) yang dapat mengalami progresi vertikal
pada spektrum kedudukan imunologis individual penyakit TB
menjadi kelainan perkejuan (caseation) dan apabila terjadi pe-
nyembuhan dibentuk kelainan pekapuran (calcification) dan/
atau kelainan induratif (induration) (Gambar 2).
Pada subjek-subjek dengan penularan alamiah pertama kali
(primarynatural infection)danpada individu-individu penerima
BCG (BCG recipients) dibangkitkan kedudukan imunologis
golongan sebagai kedudukan imunologis tipe L yang diwarnai
oleh imunitas protektif (protective immunity) yang tinggi.
Penularan berulang yang terus-menerus secara endogenik
dan/atau eksogenik menyebabkan terjadinya reaksi kemunduran
(downgrading reaction) kedudukan imunologis pada.spektrum
kedudukan imunologis golongan penyakit TB berupa progresi
horisontal dari posisi kedudukan imunologis individu penerima
BCG menjadi posisi individu tertular tetapi sehat (CXR-,
Mx+), selanjutnyamenjadi posisi kasus-kasus TB dengan dahak
negatif (CXR+, spt-) dan kemudian menjadi posisi kasus TB
dengan dahak positif (CXR+, spt+). Yang disebut paling
belakang ini mempunyai kedudukan imunologis yang diwarnai
oleh keberadaan imunitas protektif yang rendah (Gambar 2).
Pada spektrum kedudukan imunologis individual penyakit
tuberkulosis, penularan tersebut menyebabkan reaksi kemun-
duran berupa progresi horisontal dari posisi individu yang
mempunyai kedudukan imunologis tipe L menjadi posisi kasus
yang mempunyai kedudukan imunologis tipe LK, selanjutnya
menjadi posisi kasus yang mempunyai kedudukan imunologis
tipe KL dan kemudian menjadi posisi kasus dengan kedudukan
imunologis tipe K. Kedudukan imunologis tipe L dan tipe LK
diwarnai oleh dahak yang negatif (spt-) dan kedudukan imuno-
logis tipe KL dan tipe Kdiwarnai oleh dahak yang positif (spt+)
(Gambar 2).
Sebaliknya, pemberian khemoterapi anti-TB yang berhasil
menyebabkan terjadinya reaksi perbaikan (upgrading reaction)
berupa regresi horisontal dari posisi kedudukan imunologis
kasus TB dengan dahak positif menjadi posisi kedudukan imu-
nologis individu penerima BCG atau dari posisi kasus dengan
kedudukan imunologis tipe K menjadi posisi individu dengan
kedudukan imunologis tipe L
(3,8,9)
.
Penilaian sampai akhir bulan pengobatan ke-6 menunjuk-
kan bahwa pada 55 orang kasus TB yang memperoleh paduan
obat HR/5-8H
2
R
2
(A-B
1
) dan yang mempunyai strain basil yang
sensitif penuh terhadap INH dan RMP, telah terjadi penurunan
indurasi rata-rata reaksi tuberkulin (X) dari 17,4 mm pada per-
mulaan pengobatan menjadi sebesar 16,4 mm pada akhir bulan
pengobatan ke-1. Perbedaan ini jelas bermakna secara statistis
(p< 0,01). Indurasi rata-rata reaksi tuberkulin ini menurun lagi
menjadi 16,3 mm pada akhir bulan pengobatan ke-6. Perbedaan
X antara bulan pengobatan ke-0 dan bulan pengobatan ke-6
secara statistis jelas bermakna (p < 0,01). Golongan pengobatan
A-B
1
ini terdiri dari kasus-kasus TB yang berhasil diobati
(successful treatment) pada akhir bulan pengobatan ke-6.
Penemuan tersebut menunjukkan bahwa paduan obat INH
dan RMPjangka pendek 6-9 bulan (HR/5-8H
2
R
2
) diberikan
pada kasus-kasus TB yang mempunyai hasil yang sensitif
penuh terhadap obat-obat yang digunakan, telah berhasil
menurunkan X dari X pada golongan kasus TB dengan dahak
positif menjadi X antara golongan individu sehat tetapi tertular
dan golongan individu penerima BCG (Tabel la) (Gambar
3a). Penurunan X (X) terjadi paling besar antara bulan
pengobatan ke-0 dan bulan pengobatan ke-1 (Tabel la).
Selain menurunkan X, paduan that HR/5-8H
2
R
2
pada kasus-
kasus TB yang mempunyai strain hasil sensitif penuh terhadap
obat-obat yang digunakan dan yang menunjukkan keberhasilan
pengobatan pada akhir bulan pengobamn ke-6, telah pula mampu
menaikkan peranan makrofag (PM) pada pembangkitan respons
imun seluler dari 27% pada bulan pengobatan ke-0 menjadi 35%
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998
36
Gambar 3a. Golongan kasus yang memperoleh HR/5-8H
2
R
2
Penilaian
sampai bulan ke-6.
A-B
l
= golongan yang sensitif terhadap INH dan RMP
A-B
2
= golongan yang resisten terhadap INH dan/atau RMP
A-B
3
= golongan keseluruhan (A-B1 plus A-B2)
pada akhir bulan pengobatan ke-1, meskipun tidak bermakna
(p>0.05). Selanjutnya PM ini meningkat menjadi 40% pada
akhir bulan pengobatan ke-6, namun tidak bermakna (p > 0,05)
bila dibandingkan dengan bulan pengobatan ke-0. Kenaikan
PM (PM) terdapat paling besar antara bulan pengobatan ke-0
dan bulan pengobatan ke-1 (Tabel lb).
Penemuan tersebut menunjukkan bahwapaduan obatjangka
pendek HR/5-8H
2
R
2
telah mampu meningkatkan PM dari PM
pada golongan kasus TB dengan dahak positif menjadi PM
pada golongan individu yang sehat tetapi tertular bila paduan
obat itu diberikan pada golongan kasus TB yang mempunyai
strain hasil sensitif penuh terhadap INH dan RMP; paduan obat
itu telah mampu memperbaiki kedudukan imunologis golongan
dan meningkatkan imunitas protektif sudah pada akhir bulan
pengobatan ke-1, dan pada akhir bulan pengobatan ke-6 regresi
horisontal kedudukan imunologis golongan sudah sampai
sedikitnya pada posisi kedudukan imunologis golongan
individu yang sehat tetapi tertular pada spektrum kedudukan
imunologis penyakit tuberkulosis.
Kedudukan imunologis golongan yang inheren pada
golongan individu yang sehat tetapi tertular adalah identik
dengan kedudukan imunologis golongan pada golongan kasus
TB yang telah disembuhkan secara imunologis. Pada
penggunaan paduan obat jangka pendek HR/5-8H
2
R
2
oleh
golongan kasus TB sensitif penuh terhadap obat-obat yang
digunakan, kesembuhan imunologis sudah diperoleh pada akhir
bulan pengobatan ke-1 (Tabel la dan 1b).
Pada penggunaan paduan obatjangka panjang HS/11H
2
S
2
oleh kasus TB dengan dahak positif yang mempunyai strain
hasil TB yang sensitif penuh terhadap INH dan SM, regresi
horisontal kedudukan imunologis golongan sudah terjadi pada
akhir bulan pengobatan ke-1, kesembuhan imunologis sudah
diperoleh pada akhir bulan pengobatan ke-3 dan dipertahankan
pada akhir Milan pengobatan ke-6. Terdapat perbedaan X yang
statistis jelas bermakna antara bulan pengobatan ke-0 dengan
baik bulan pengobatan ke-1 (p <0,01), bulan pengobatan ke-3
(p <0,01) maupun bulan pengobatan ke-6 (p <0,01). Tidak
terdapat perbedaan PM yang statistis bermakna (p > 0,05)
antara bulan pengobatan ke-0 dengan baik bulan pengobatan
ke-I, bulan pengobatan ke-3 maupun bulan pengobatan ke-6
(Tabel la dan lb). Peningkatan PM pada akhir bulan
pengobatan ke-6 bahkan melampaui titik pertengahan (mid-
point) pada spektrum kedudukan imunologis penyakit
tuberkulosis (Gambar 3b).
Gambar 3b. Golongan kasus yang memperoleh HS/11H
2
S
2
. Penilaian
sampai bulan ke-6.
A-B1 = golongan yang terhadap INH dan SM
A-B2 = gologan yang resisten terhadap INH dan/atau SM
A-B3 = golongan keseluruhan (C1 plus C2)
Penggunaan paduan obat jangka pendek HR/5-8H
2
R
2
oleh
golongan kasus TB dengan dahak positif dan mempunyai hasil
yang resisten primer terhadap INH dan/atau RMP, sebagian
besar resisten terhadap INH melulu, telah menurunkan X
secara bermakna (p < 0,05) pada akhir bulan pengobatan ke-1.
Pada akhir bulan pengobatan ke-6 perbedaan dengan bulan
pengobatan ke-0jelas bermakna (p = 0,01) (Tabel 2a). Di
samping itu, peningkatan PM sudah terjadi pada akhir bulan
pengobatan ke-1, yang dipertahankan sampai akhir bulan
pengobatan ke-6. Walaupun tidak ada perbedaan PM yang
statistis bermakna (p> 0,05) antara bulan pengobatan ke-0
dengan baik bulan pengobatan ke-1, bulan pengobatan ke-3
maupun bulan pengobatan ke-6, namun telah melampaui PM
yang inheren pada posisi golongan individu yang sehat tetapi
tertular dan mendekati titik tengah pada spektrum kedudukan
imunologis penyakit tuberkulosis (Gambar 3a).
Penemuan tersebut menunjukkan bahwa paduan obat jangka
pendek HR/5-8H
2
R
2
digunakan oleh golongan kasus tuberkulosis
dengan dahak positif yang mempunyai strain hasil yang
resisten primer terhadap INH dan/alai RMP, sebagian besar
resisten terhadap INH melulu, telah mampu membangkitkan
regresi horisontal pada spektrum kedudukan imunologis
penyakit tuberkulosis sudah pada akhir bulan pertama dan
mampu pula menyebabkan kesembuhan imunologis sudah pada
akhir bulan pengobatan ke-1 dan dipertahankan pada akhir
bulan pengobatan ke-6 (Tabel 2a dan 2b). Adalah menarik
sekali untuk dikemukakan bahwa sebagian kecil golongan
kasus TB tersebut di alas menunjukkan kegagalan pengobatan
dari segi bakteriologis pada akhir bulan pengobatan ke-6.
Di lain pihak, penggunaan paduan obat jangka panjang
HS/ 11H
2
S
2
oleh golongan kasus TB dengan dahak positif dan
mempunyai strain hasil TB yang resisten primer terhadap INH
dan/ atau SM, sebagian besar resisten terhadap INH melulu,
tidak mampu menurunkan indurasi rata-rata reaksi tuberkulin
secara statistis bermakna sampai pada akhir bulan pengobatan
ke-6 (Tabel 2a) dan tidak mampu pula meningkatkan PM
sampai pada akhir bulan peagobatan ke-6 (Tabel 2b). Namun
regresi horisontal pada spektrum kedudukan imunologis
penyakit tuberkulosis sudah terjadi pada akhir bulan
pengobatan ke-1 (Tabel 2a). Sebagian golongan kasus TB
tersebut di atas menunjukkan kegagalan pengobatan dari segi
bakteriologis pada akhir bulan pengobatan ke-6.
Jadi, penggunaan paduan obat jangka panjang HS/11H
2
S
2
oleh kasus-kasus TB dengan dahak positif yang mempunyai
strain hasil TB yang resisten primer terhadap INH dan/atau SM,
sebagian besar resisten terhadap INH melulu, tidak mampu
menghasilkan kesembuhan imunologis pada akhir bulan peng-
obatan ke-6 (Gambar 3b).
Paduan that jangka pendek HR/5-8H
2
R
2
digunakan oleh
golongan seluruh kasus-kasus TB dengan dahak positif (gol. A-
B
1
) telah mampu menurunkan X secara statistis jelas bermakna
(p < 0,01) sudah pada bulan pengobatan ke-1 dan
dipertahankan pada akhir bulan pengobatan ke-6 (Tabel 3a).
Di samping itu telah terjadi peningkatan PM dari 34% pada
bulan pengobatan ke-0 menjadi 43% pada akhir bulan
pengobatan ke-1, selanjutnya menjadi 42% pada akhir bulan
pengobatan ke-3 dan kemudian menjadi 44% pada akhir bulan
pengobatan ke-6. Tambahan PM (PM) terjadi paling banyak
pada akhir bulan pengobatan ke-1 , yaitu 9% (Tabel 3b).
Penemuan tersebut di atas berani bahwa pada penggunaan
paduan obat jangka pendek HR/5-8H
2
R
2
oleh golongan kasus TB
dengan dahak positif tanpa pemeriksaan kepekaan strain hasil
terhadap obat-obat yang digunakan, telah membangkitkan
regresi horisontal pada spektrum kedudukan imunologis pe-
nyakit tuberkulosis sudah pada akhir bulan pengobatan ke-l dan
telah terjadi kesembuhan imunologis pada akhir bulan ke-1 pula
(Tabel 3a).
Di lain pihak, paduan obatjangka panjang HS/11H
2
S
2
pada
golongan keseluruhan kasus-kasus TB dengan dahak positif (gol.
C
3
) tidak mampu menurunkan X secara bermakna (Tabel 3a)
sampai pada akhir bulan pengobatan ke-6 walaupun regresi hori-
sontal pada spektrum kedudukan imunologis penyakit tuberkulo-
sis sudah terjadi pada akhir bulan pengobatan ke-1 (Tabel 3a).
Di samping itu, terjadi peningkatan PM dari 39% pada bulan
pengobatan ke-0 menjadi 44% (PM = 5%) pada akhir bulan
pengobatan ke-6; tidak terdapat perbedaan PM yang statistis
bermakna (p>0,05) antara bulan pengobatan ke-0 dengan baik
akhir bulan pengobatan ke-I, akhir bulan pengobatan ke-3
maupun akhir bulan pengobatan ke-6 (Tabel 3b). Dengan lain
perkataan, paduan obatjangka panjang HS/11H
2
S
2
digunakan
oleh golongan keseluruhan kasus-kasus TB dengan dahak
positif tanpa pemeriksaan kepekaan strain hasil TB terhadap
obat-obat yang digunakan, tidak mampu menghasilkan
kesembuhan imunologis sampai akhir bulan pengobatan ke-6.
Penilaian pada akhir kurun waktu pengobatan menunjukkan
bahwa penggunaan paduan obat jangka pendek HR/8H
2
R
2
oleh
golongan keseluruhan kasus TB dengan dahak positif tanpa
pemeriksaan kepekaan hasil terhadap obat-obat yang digunakan,
telah menyebabkan regresi horisontal sudah pada akhir bulan
pengobatan ke-1, kesembuhan imunologis sudah pada akhir
bulan pengobatan ke-1 dan perbaikan kedudukan imunologis
yang mendekati posisi titik-tengah pada spektrum kedudukan
imunologis pada akhir bulan ke-6. Perpanjangan kurun waktu
pengobatan selama 3 bulan sesudah bulan pengobatan ke-6,
menjadikan X menurun lebih lanjut dari 16,1 mm pada akhir
bulan pengobatan ke-6 menjadi 15,4 mm pada akhir bulan peng-
obatan ke-9 (X=0,7 mm). Di samping itu, PM telah meningkat
lebih lanjut dari 45% pada akhir bulan pengobatan ke-6 menjadi
54% (PM = 9%) pada akhir bulan pengobatan ke-9 (Tabel 4b)
(Gambar 4a). Perbedaan X yang bermakna secara statistis (p <
0,01) antara bulan pengobatan ke-0 dan akhir bulan pengobatan
ke-6 tetap bermakna secara statistis (p < 0,01) pada akhir bulan
pengobatan ke-9. Di samping itu, perbedaan PM yang statistis
tidak bermakna (p > 0,05) antara bulan pengobatan ke-0 dan
akhir bulan pengobatan ke-6 menjadi statistis bermakna (p <
0,05) pada akhir bulan pengobatan ke-9. Penemuan tersebut me-
nunjukkan bahwa paduan obat anti-TB melanjutkan perbaikan
imunitas protektif apabila digunakan lebih lama dari 6 bulan.
Imunitas protektif yang lebih tinggi berkemampuan lebih tinggi
untak mencegah terjadinya kekambuhan bakteriologis sesudah
penghentian pengobatan yang berhasil.
Gambar 4a. Golongan keseluruhan yang memperoleh HR/8H
2
R
2
Penilai-
an sampai bulan ke-9.
Penggunaan paduan obat jangka panjang HS/11H
2
S
2
oleh
golongan keseluruhan kasus TB dengan dahak positif tanpa
pemeriksaan kepekaan hasil terhadap obat-obat yang digunakan
telah mampu menghasilkan regresi horisontal pada spektrum
kedudukan imunologis penyakit tuberkulosis sudah pada akhir
bulan pengobatan ke-1,. namun pada akhir bulan pengobatan
ke-6 belum diperoleh kesembuhan imunologis karena paduan
obat yang dimaksud belum mampu menurunkan X secara sta-
tistis bermakna (p > 0,05) pada akhir bulan pengobatan ke-6
(label 4a). Perpanjangan kurun waktu pengobatan dengan
paduan obat yang dimaksud selama 6 bulan sesudah akhir bulan
pengobatan ke-6 menurunkan X dari 16,6 min pada akhir bulan
pengobatan ke-6 menjadi 16,5 mm (X = 0,1 mm) pada akhir
bulan pengobatan ke-9 dan menurun lagi menjadi 16,0 mm
(X=0,5 mm) pada akhir bulan pengobatan ke-12. Perbedaan X
yang statistis tidak bermakna (p > 0,05) antara bulan pengobat-
an ke-0 dan akhir bulan pengobatan ke-6 menjadi statistis ber-
makna (p<0,01) pada akhir bulan pengobatan ke-12 (Tabel 4a).
Di samping itu, perpanjangan kurun waktu pengobatan dengan
paduan obat yang dimaksud selama 6 bulan sesudah akhir bulan
pengobatan ke-6 meningkatkan PM dari 44% pada akhir bulan
pengobatan ke-6 menjadi 49% pada akhir bulan pengobatan
ke-12 (Tabel 4b). Dengan lain perkataan, perbaikan kedudukan
imunologis sudah sampai pada posisi titik-tengah pada spektrum
kedudukan imunologis penyakit tuberkulosis (Gambar 4b).
Gambar 4b. Golongan keseluruhan yang memperoleh HS/11H
2
R
2
Pe-
nilaian
sampai
bulan
ke-12.
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998
38
Penemuan tersebut di atas menunjukkan bahwa penggunaan
paduan obat HS/11H
2
S
2
oleh golongan keseluruhan kasus TB
dengan dahak positif tanpa pemeriksaan kepekaan hasil terhadap
obat-obat yang digunakan baru mampu menghasilkan kesem-
buhan imunologis pada akhir bulan pengobatan ke-12; perbaikan
imunitas protektif melalui perbaikan kedudukan imunologis
golongan berlangsung selama seluruh kurun waktu pengobatan.
Dengan hanya mengikutsertakan golongan kasus TB yang
memperoleh kesembuhan bakteriologis pada akhir bulan peng-
obatan ke-6 pada penilaian keefektifan pemulihan imunitas
protektif, penggunaan paduan obat jangka panjang HS/11H
2
S
2
oleh golongan keseluruhan kasus TB dengan dahak positif
tanpa pemeriksaan kepekaan hasil terhadapobat-obat yang
digunakan, baru mampu menjadikan kesembuhan imunologis
pada akhir bulan pengobatan ke-12 (Tabel 5a) berdasarkan
penurunan X yang statistis jelas bermakna (p <0,01) pada akhir
bulan pengobatan ke-12. Peningkatan peranan makrofag
melampaui posisi titik-tengah pada spektrum kedudukan
imunologis penyakit tuberkulosis terjadi pada akhir bulan
pengobatan ke-12 (Gambar 5a).
Gambar 5a. Golongan keseluruhan kasus yang memperoleh HS/11H
2
R
2.
Penilaian sampai bulan ke-12. Pengobatan yang berhasil.
Dengan hanya mengikutsertakan golongan kasus TB yang
menunjukkan kegagalan pengobatan dari segi pemeriksaan
bakteriologis pada akhir bulan pengobatan ke-6, penggunaan
paduan obat jangka panjang HS/11H
2
S
2
oleh golongan ke-
seluruhan kasus TB dengan dahak positif tanpa pemeriksaan
kepekaan hasil terhadap obat-obat yang digunakan, telah mampu
menghasilkan regresi horisontal pada spektrum kedudukan
imunologis penyakit tuberkulosis sudah pada akhir bulan peng-
obatan ke-1. Regresi horisontal yang dimaksud hanya berlangsung
3 bulan; setelah bulan pengobatan ke-3 terjadi progresi horison-
tal dan k yang tadinya menurun dari 17,9 mm pada bulan peng-
obatan ke-0 menjadi 14,6 mm pada akhir bulan pengobatan
ke-3 meningkat lagi menjadi 16,6 mm pada akhir bulan peng-
obatan ke-6 dan kemudian menjadi 17,4 mm pada akhir bulan
pengobatan ke-12 (Tabel 5a). Di samping itu, terjadi pening-
katan PM sampai pada akhir bulan pengobatan ke-3. Sesudah
bulan pengobatan ke-3 terjadi penurunan PM yang berlangsung
sampai akhir bulan pengobatan ke-12 (Tabel 5b). Jadi, pada
kasus-kasus kegagalan pengobatan, dari segi pemeriksaan bakte-
riologis tidak terjadi kesembuhan imunologis; berarti tidak ter-
jadi perbaikan imunitas protektif walaupun paduan obat yang ter-
kait diteruskan melebihi kurun waktu pengobatan enam bulan
(Gambar 5b).
Penemuan-penemuan mengenai kesembuhan bakteriologis
dan kesembuhan imunologis pada penggunaan paduan obat anti-
Gambar 5b. Golongan keseluruhan kasus yang memperoleh HS/11H
2
R
2
.
Penilaian sampal bulan ke-12. Pengobatan yang gagal.
tuberkulosis membuka jalan untuk penelitian lebih lanjut
mengenai manfaat suntikan BCG untuk memperpendek waktu
pengobatan dengan paduan obat anti-TB. Dalam hal digunakan
paduan obat jangka pendek yang terdiri dari INH dan RMP oleh
golongan kasus TB dengan dahak positif tanpa pemeriksaan ke-
pekaan hasil terhadap obat-obat yang digunakan, suntikan BCG
sudah dapat mengganti paduan obat yang dimaksud pada akhir
bulan pengobatan ke-3 asalkan kasus TB yang dimaksud sudah
menunjukkan kesembuhan bakteriologis pada saat suntikan BCG
dikerjakan dan belum pernah memperoleh obat-obat anti-TB
sebelumnya. Usaha ini perlu dipertimbangkan pada daerah-
daerah dengan masalah biaya pengobatan dan ketaatan peng-
obatan. Suntikan BCG pada kasus-kasus TB dengan dahak
positif yang tidak pernah memperoleh obat-obat anti-TB sebe-
lumnya dan yang telah memperoleh kesembuhan bakteriologis
pada akhir bulan pengobatan ke-6, telah mampu meningkatkan
imunitas protektif yang diwujudkan melalui pencegahan kekam-
buhan bakteriologis sesudah penghentian pengobatan yang ber-
hasil
(13)
.
Dari segi kemampuan pemulihan imunitas protektif, paduan
obat ganda jangka pendek, bifasik yang terdiri dari INH dan
RMP temyata lebih efektif daripada paduan obat ganda jangka
panjang, bifasik yang terdiri dari INH dan SM, temtama bila di-
lakukan pemeriksaan kepekaan terhadap obat-obat yang di-
gunakan.
Imunoterapidengan BCG untuk memperpendek kurun waktu
pengobatan dengan paduan obat ganda, jangka panjang, bifasik,
yang terdiri dari INH dan SM, dapat dipertimbangkan bila
paduan obat yang dimaksud digunakan oleh golongan kasus TB
yang mempunyai strain hasil yang sensitif penuh terhadap INH
dan SM, tidak pernah memperoleh obat-obat anti-TB sebelum-
nya, dan telah sembuh bakteriologis pada akhir bulan pengobat-
an ke-enam.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih disampaikan kepada P.T. Ciba-Geigy Pharma di Indonesia
atas bantuannya sehingga penelitian klinis ini dapat diselesaikan pada waktu
yang telah ditetapkan.
KEPUSTAKAAN
1. Handojo RA. Anggraeni Inggrid Handojo. Various types of Specific
Acquired Deficient Immune Status (SADIST fallowing various kinds of
microbial infection. 5a. the clinical management of diseases that may
produce SARIS with lymphocyte predominance. Cermin Dania Kedokt
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 39
1994;93. 37-46.
2. Handojo RA. Anggraeni Inggrid Handojo. Various types of Specific
acquired Deficient Immuns Status (SADIS) following various kinds of
microbial infection. 5b. the clinical management of diseases that may
produce SADIS with lymphocyte depletion. Cumin Dunia Kedokt 1994;
96.4354.
3. Handojo RA. Short course chemotherapy in Indonesia. Proceeding I of the
Eastern Regional Tuberculosis Conference of IUAT in Jakarta Indonesia.
1983, pp
.
13347.
4. Hongkong Chest Service/British Medical Research Council. Controlled
trial of 6-month and 8.month regimens in the treatment of pulmonary
tuberculosis. The results up to 24 months. Tubercle 1979; 60: 20110.
5. Singapore Tuberculosis Service/British Medical Research Council.Clinical
trial of6-month and 4,month regimens of chemotherapy in the treatment of
pulmonary tuberculosis. The results up to 30 months. Tubercle 1984; 62.
95102.
6. East and Central Africa/British Medical Research Council. Controlled
clinical trial of 4 short course regimens of chemotherapy (three fix-month
and one eight-month) for pulmonary tuberculosis. Fifth Collabomove
study (first report). Tubercle 1983; 64: 153166.
7. Handojo RA. Sandi Agung, Anggraeni Inggrid Handojo. Keefektifan pa-
duan obot ganda bifasik anti-tuberkulose alas dasar kegiatan and-mikrobial
dan atas dasar kegiatan pemulihan imunitas protektif.2. penilian atas dasar
kegiatan anti-mikrobial paduun obat. Cumin Dunia Kedokteran (akan
dicetak).
8. Handajo RA. The spectrum of immune status in individual cases of
pulmonary tuberculosis. Pam 1991; 11: 202.
9. Handojo RA. The pattern of tuberculin reaction for the determination of
immune status in a homogeneous group of individuals. Paru 1991; 11:
1920.
10. Handojo RA, Anggraeni Inggrid Handojo. Varous types of Specific
Acvired Deficient Immune Status (SADIS) following various kinds of
microbial infection. I. the immune defense mechanism. Wellcome Journal
of health 1993:5: 1322.
11. Stanford Rs Shield Ml, Rook CAW. How environmental mycobacteria
may predetermine the protective efficacy of BCG Tubercle 1981; 62:
5562.
12. Handojo RA, Anggraeni Inggrid Handojo. Various types of Specific
Acquired Deficient Immune Status (SADIS) following various kinds of
microbial infection.2. the TB-type of SADIS. W ellcome Journal of Health
1993; 6: 1320.
13. Lusiana Djunaedi. Pengaruh penggunaan imuno-modulator dan imuno-
terapi terhadap keberhasilan pengobatan. Paru 1987; 12: 247.
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998
40