TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Inhibin Sebagai Bahan Alternatif
Kontrasepsi Pria
Cornelis Adimunca*, Sutyarso**
*) Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan Ri, Jakarta
* *) Jurusan Biologi MIPA Universitas Lampung (UNILA), Lampung
PENDAHULUAN
Berbagai usaha telah dan terus dilakukan oleh para ahli di
bidang andrologi, untuk memperoleh bahan kontrasepsi pria
yang aman dan bersifat reversibel. Usaha tersebut didorong oleh
kesadaran penuh akan pertambahan penduduk di dunia
(1)
.
Mengingat pria merupakan 50% dari program Keluarga
Berencana yang terlupakan
(2)
, keterlibatan pria dalam program
ini harus diupayakan secara intensif oleh semua pihak, yaitu
dengan mencari bahan untuk kontrasepsi. Saat ini alat kon-
trasepsi pria hanya terbatas pada kondom dan vaksetomi,
sedangkan bahan atau substansi yang dapat mengendalikan
kualitas dan kuantitas spermatozoa belum dikembangkan. Salah
satu substansi yang dapat mengendalikan pembentukan sperma-
tozoa adalah inhibin.
Inhibin tergolong peptida yang dihasilkan dalam testis. Se-
cara teori, kerja inhibin menghambat pelepasan FSH (Follicle
Stimulating Hormon) tanpa mempengaruhi sekresi testosteron
(2)
.
Secara normal, FSH tersebut sangat diperlukan dalam proses
spermatogenesis dan LH (Luteinizing Hormon) diperlukan untuk
merangsang produksi testosteron. Didasarkan ha! tersebut, maka
sterilitas dapat dibuat tanpa defisiensi androgen yaitu, dengan
hambatan selektif FSH oleh inhibin. Dengan demikian inhibin
mempunyai potensi sebagai bahan kontrasepsi pria.
Tujuan makalah ini adalah untuk mencari dan menginfor-
masikan sifat dan kegunaan inhibin, untuk dapat digunakan
dalam program Keluarga Berencana.
SIFAT INHIBIN
Inhibin merupakan protein (non-steroid), mempunyai Berat
Molekul lebih dari 10.000 dan larut dalam air. Diduga, inhibin
disekresi oleh sel Sertoli atau beberapa unsur tubulus semini-
ferus dan ditemukan pula dalam cairan antrum folikuli
(4)
.
Inhibin pertama kali diperkenalkan oleh Mc Cullagh tahun
1932, mempunyai aktivitas anti-gonadotropin dan bersifat ter-
molabil
(5)
. Ini berarti bahwa, sekresi FSH secara tidak bebas di-
atur oleh inhibin, sedangkan testosteron secara umpan balik
menghambat sekresi LH.
Isolasi peptida basa dan plasma semen manusia memper-
lihatkan adanya aktifitas seperti inhibin (inhibin-like activity),
yaitu menekan sekresi FSH baik secara in vitro maupun in
vivo
(6)
. Peptida tersebut telah dikarakterisasi dan diurutkan asam
aminonya secara sintetik dan menunjukkan aktivitas biologi
penuh secara in vitro. Peptida sintetik tersebut tersusun atas
kelipatan 31 asam amino (Gambar 1).
Gambar 1. Susunan asam amino dan inhibin-like yang berasal dan seminal plasma manusia.
CARA ISOLASI INHIBIN
Plasma semen dan sapi atau manusia, disentrifus pada 2.200
g selama 15 menit, untuk memisahkan spermatozoa dan cairan
plasma semen. Protein dalam supernatan diendapkan dengan.
ethanol absolut 86%, kemudian endapan dipisahkan dengan
sentrifugasi pada suhu 4°C. Selanjutnya endapan dilarutkan
kembali dengan akuades dan dikeringkan secara freeze-dried.
Fraksi yang diperoleh disebut crude-material. Supernatan yang
mengandung steroid diekstraksi dengan kloroform-eter dua bagian
(1:1), kemudian dengan dua bagian dietil eter. Fraksi yang larut
dalam eter dipisahkan dan digunakan untuk uji steroid. Fraksi ini
tidak menghambat sekresi FSH dan LH setelah diinjeksikan pada
tikus jantan yang telah dikastrasi. Sebaliknya terjadi hambatan
sekresi FSH, sedangkan sekresi LH normal, setelah tikus di-
injeksi dengan fraksi crude material yang telah dimurniksan.
Pemurnian crude material menggunakan gel filtrasi Sephadex G
100 pada suhu 4°C dan dielusi dengan 0,05 M buffer fosfat pH
7,4 atau 0,05 M sodium asetat pH 4.
Cara yang lebih sederhana adalah sebagai berikut
(7)
: Cairan
rete testes biri-biri (ram) disentrifus pada 3.000 g selama 15
menit dengan suhu 4°C, untuk mengendapkan spermatozoa.
Supernatan yang diperoleh langsung dipergunakan dalam pene-
litian tanpa terlebih dahulu dimurnikan. Dengan cara yang sama,
telah berhasil diisolasi substansi penghambat sekresi FSH dari
plasma semen sapi
(8)
. Hasilnya menunjukkan bahwa substansi
tersebut sebagai penghambat sekresi FSH pada tikus percobaan.
Selain cara in vivo di atas dapat pula dilakukan secara in
vitro. Hasil isolat kultur sel granula folikel pre-ovulasi, dimasuk-
kan ke kultur sel-sel hipofisis
(4)
. Diperoleh hasil bahwa isolat
tersebut mengandung substansi inhibin yang menekan produksi
FSH dalam kultur sel-sel hipofisis. Dari kultur tubulus semini-
ferus secara in vitro
(9)
diperoleh petunjuk bahwa sekresi inhibin
pada tikus dewasa, bervariasi menurut tingkat (stage) dan siklus
tubulus seminiferus. Kandungan inhibin tinggi pada tingkat II
sampai VI dan rendah pada tingkat VIIVIII dari siklus. Apabila
dikultur lebih dari 48 jam, maka sekresi inhibin tinggi pada
tingkat III sampai VI dan rendah pada tingkat VIIVIII.
EKSPRESI GEN UNTUK PROTEIN INHIBIN
Inhibin mempunyai aktifitas menghambat FSH bila terdapat
dalam jumlah berlebih melalui mekanisme umpan balik negatif,
namun belum diketahui hal apa yang mempengaruhi sel-sel
dalam tubulus seminiferus untuk memproduksi inhibin. Untuk
itu telah dilakukan penelitian ekspresi gen terhadap mRNA
(messenger Ribonucleic Acid) inhibin secara in vitro
(10)
. Hasilnya
menunjukkan bahwa penambahan FSH (550 ng/ml) pada kultur
sel Sertoli, menyebabkan konsentrasi inhibin meningkat 47 kali
dibandingkan kontrol; akan tetapi pada penambahan testosteron
(1 mu mol/L), konsentrasi inhibin tidak menunjukkan pening
katan. Dengan kata lain FSH meningkatkan ekspresi mRNA
inhibin sub unit-alfa tanpa dipengaruhi oleh testosteron, se-
baliknya FSH atau testosteron tidak mempengaruhi ekspresi
mRNA sub unit-beta B. Dengan demikian ekspresi gen dari sel
Sertoli membentuk mRNA inhibin dan bertranslasi membentuk
inhibin, sangat bengantung pada FSH dan tidak pada testosteron.
Juga telah dipelajari mekanisme pengendalian ekspresi
mRNA sub unit-alfa, sub unit-beta A dan sub unit-beta B oleh
FSH dan steroid Penelitian secara in vitro ini meng kultur sel
granulosa ovarium tikus dewasa. Diperoleh hasil bahwa
pemberian FSH meningkatkan jumlah mRNA inhibin sub unit-
alfa, sub unit-beta A dan sub unit-beta B menjadi 60, 70 dan 66
kali lebih besar dari kelompok kontrol. Pada pemberian estradiol,
diperoleh jumlah mRNA inhibin sub unit-alfa dan sub unit-beta
B adalah 4 kali dan 2 kali lebih besar terhadap kontrol,
sedangkan mRNA inhibin sub unit-beta A tidak terukur. Pada
pemberian testosteron (DHT) dan campuran androgen-estrogen,
diperoleh pengaruh yang tidak konsisten. Hasil tersebut menun
jukkan, bahwa ekspresi gen untuk inhibin sub unit-alfa dikontrol
oleh FSH. Selain itu FSH juga berfungsi menginduksi gen untuk
inhibin sub unit-beta pada sel-sel granulosa. Dengan demikian
ketiga gen mempunyai pola ekspresi yang sama, yaitu dikontrol
oleh FSH selama diferensiasi sel-sel granulosa.
FUNGSI INHIBIN PADA SPERMATOGENESIS
Proses normal spermatogenesis diatur oleh sistem hormon
(FSH, LH dan testosteron), yang pengendaliannya melalui poros
hipotalamus-hipofisis-testis (Gambar 2). FSH mempengaruhi
sel Sertoli dan sel spermatogenik untuk metabolisme normal; sel
Sertoli di bawah pengaruh FSH mensintesis protein pengikat
androgen (ABP) yang berfungsi untuk mengikat testosteron,
untuk selanjutnya digunakan dalam proses pembelahan dan
pematangan spermatogonia menjadi spermatozoa. Adapun LH
penting dalam mempengaruhi sel Leydig memproduksi
testosteron.
Gambar 2. Hubungan poros Hipotalamus-Hipofisis-Testis. lnhibin me-
nekan
FSH
dan
Testosteron
menekan
LH.
Inhibin merupakan protein yang juga dihasilkan oleh sel
Sertoli
(10)
. Secara normal fungsinya mengatur sekresi FSH
melalui mekanisme umpan balik negatif; dengan demikian
inhibin yang berlebihan akan menekan sekresi FSH oleh
hipofisis. Apabila inhibin meningkat terus (penambahan secara
eksogen), maka konsentrasi FSH menjadi rendah jauh di bawah
normal. Akibatnya spermatogenesis dapat terganggu dan jumlah
spermatozoa di bawah normal, bahkan menjadi azospermia.
Penggunaan inhibin untuk kontrasepsi pria dirasakan perlu
dan sangat baik, sebab pemberian inhibin secara eksogen akan
menghambat sekresi FSH tetapi tidak menghambat sekresi LH;
dengan demikian maka produksi androgen (testosteron) oleh sel
Leydig tidak terganggu, ini berarti libido tetap tidak terganggu.
Di bawah ini ada beberapa hasil penelitian mengenai pengaruh
substansi inhibin terhadap spermatogenesis.
Dengan cara isolasi seperti yang dikemukakan terdahulu
dengan spektrofotometri (panjang gelombang 280 nm) diperoleh
dua puncak yang berbeda yaitu PI dan PII. Dalam suasana asam
PII memisah menjadi dua puncak yaitu, ACI dan ACII. Fraksi
ACI tidak mempengaruhi penurunan konsentrasi FSH dan LH
dalam serum. Namun fraksi ACII yang diberikan secara intra
peritonial (i .p) menurunkan secara nyata konsentrasi FSH
serum, akan tetapi konsentrasi LH tidak dipengaruhi (Tabel 1).
Dissel-Emiliani dkk
(12)
juga telah melakukan penelitian
pengaruh inhibin (dari cairan folikel bovin/bFF) terhadap jumlah
sel spermatogenik testes mencit dan hamster. Cairan folikel
Bovin yang diinjeksikan secara intraperitoneal selama dua hari
pada mencit, mengakibatkan penurunan 91% spermatogonia A-
4, 74% spermatogonia dan 67% spermatogonia B dibanding
kontrol. Selain itu, juga FSH turun menjadi 6% lebih rendah dan
kontrol. Pada hamster, perlakuan yang sama selama 4 hari juga
menurunkan jumlah sel-sel spermatogenik. Spermatogonia A-3
turun 86%, spermatogonia In turun 61%, spermatogonia B-I
turun 55% dan spermatogonia B-2 turun 94% dibanding kontrol.
Dengan demikian disimpulkan bahwa cairan folikel bovin me
ngandung substansi inhibin yang dapat mengendalikan perkem-
bangan sel-sel spermatogenik. Pengaruhnya terjadi pada epitel
tubulus seminiferus, akibat rendahnya sekresi FSH.
Sharpe memberikan Ethane Dimethane Sulphonat untuk
merusak fungsi sel Leydig
(13)
, dari hasil penelitian tersebut di-
simpulkan bahwa inhibin disekresi oleh sel Sertoli, kemudian
dikeluarkan ke dalam cairan interstitial. Di samping itu, me-
ningkatnya sekresi inhibin berkorelasi negatif terhadap sekresi
FSH.
KESIMPULAN
1) Inhibin dapat menekan sekresi FSH oleh hipofisis melalui
mekanisme umpan balik negatif.
2) Inhibin dihasilkan oleh sel Sertoli dan komponen epitel
tubulus seminiferus pada jantan (pria), sedangkan pada betina
(wanita) dihasilkan oleh sel-sel folikel ovarium yang sedang
tumbuh (menuju folikel Graft).
3) Inhibin adalah hormon peptida, berat molekul lebih dari
10.000 dan termolabil.
4) Karena inhibin menekan FSH tanpa menekan LH, maka
produksi androgen (testosteron) tetap normal. Dengan demikian
libido dipertahankan, namun spermatogenesis dapat dihambat.
5) Inhibin dapat digunakan sebagai bahan kontrasepsi
hormonal pada pria.
SARAN
1) Masih perlu dilakukan penelitian mengenai hubungan an-
tara dosis pemberian inhibin dan waktu penyembuhan (recovery)
selama siklus spermatogenesis.
2) Demikian pula mengenai kemungkinan terjadinya kekebal-
an atau reaksi silang dalam sistem imun, setelah pemberian
inhibin ini.
KEPUSTAKAAN
1. Bremner WJ, De Kretser DM. The Prospects for New Reversible Male
Tabel 1. Pengaruh fraksi ACII dari seminal plasma terhadap konsentrasi FSH dan LH pada
tikus
jantan.
Experiment
Treatment
Injection
route
No. of
rats
Serum FSH
(ng mil = s.e.m.)
NIAMD-FSH-RP,
Serum LH
(ng ml
-2
± s.e.m.)
NIAMD-LH-RP,
Normal rats
NaCl0.9%
i.p.
10
581.0±45.6
39.8+_ 7.1
200 tg AcII
i.p.
10
423.0±39.9*
39.1 ± 4.8
500 gg AcII
i.p.
10
342.7 ± 44.6t
29.1 ± 4.6
NaCI0.9%
i.p.
5 638.0±46 26.4±
5.3
200 gg AcII
i.p.
5
458.0 ± 59.1 *
20.0 ± 5.4
NaCl 0.9%
i.v.
10
425.7 ± 30.8
48.9 ± 7.1
160µgAcII i.v. 10 315.0±32.2*
62.6±
8
Castrated rats
NaCI0.9%
i.v.
10
1,261.0 ± 96
293.0 ± 25
200µgAcII i.v. 10 855.0±47.2t
320.0±41.1
500
µg AcII
i.v.
8
805.0 ± 31.4t
289.0 ± 45
NaC10.9%
i.p.
10
1,080.0±74.1 248.3±61.7
200
µg AcII
i.p.
10
795.0 ± 50.6*
324.2 ± 70.9
NaCl 0.9%
i.p.
5
824.0 ± 83.9
421.0 ± 90.2
200µgAcII
i.p.
5
588.0 ± 56.2*
260.0 ± 22.7
Keterangan :
u.p : intraperitoneal;
i.v : intravena
*
: p
<
0,05
: p
<0.025
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997 31
Contraceptives. N Engl. J Med 1976; 295: 111 117.
2. Moeloek N. Kontrasepsi Pria : Masa Kini dan Masa Akan Datang. Medika
1990; 16(2): 15159.
3. Ganong WF. Gonad : Perkembangan dan Fungsi Sistem Reproduksi.
Dalam: Fisiologi Kedokteran, terjemahan oleh Sutarman, 9th (ed). EGC,
Jakarta. 1980 hal. 411.
4. Erickson GF, Hsueh AJW. Secretion of inhibin by Rat Granulosa Cells in
Vitro. Endocrinology 1978; 103: 19601963.
5. Franchimont P, Chari S. Demoulin A. Hypothalamus-Pituitary-Testes
Interaction. J Reprod Fertil 1975; 44: 335350.
6. Ramasharma K, Sairarn MR. Seidah NG, Chretien M, Manjunath P.
SchillerPW. Isolation, Structure and Synthesis of a Human Seminal
Plasma Peptide with Inhibin-like Activity. Science 1984; 223: 1199202.
7. Setchel BP, Jacks F. Inhibin-like Activity in Rate Testis Fluid. J
Endocrinol 1974; 62: 675676.
8. Franchimont P. Chari S. Hagelstein MT. Dpraiswami S. Existence of a FSH
inhibiting Factor "Inhibin" in Bull Seminal Plasma. Nature 1975; 257:
402404.
9. Gonzales GF. Risbridger GP, Hodgson YH, Poilamen P. De Kretser DM.
Stage-Spesific inhibin Secretion by Rat Seminiferous Tubules. Deprod
Fertil Dev 1989; 1: 275279.
10. Toebosch AM, Robertson DM. Klaij IA, Dc Jong FH, Grootegoed JA.
Effect of FSH and Testosteron on Highly Purified Rat Sertoli Cells :
Inhibin Alfa-sub unit mRNA Expression and inhibin Secretion are
Enhanced by FSH but not by Testosteron. J Endocrinol (England) 1989;
122: 757762.
11. Turner IM, Saunders PT, Shimasaki S, Hillier SG. Regulation of Inhibin
sub-unit Gene Expression by FSH and Estradiol in Cultured Rat Granulosa
Cells. Endocrinology 1989; 125: 279092.
12. Van Dissel-Emiliani FM, Grootenhuis AJ, D Jong FH. Dc Rooij DG.
Inhibin Reduces Spermatogonial Number in Testes of Adult Mice and
Hamsters. Endocrinology 1989; 125: 1899903.
13. Sharpe RM, Madocks SMRC. Evaluation of the Relative importance of
Endocrine and Paracrine Factors in Control of the Levels of inhibin in the
Testicular interstitial fluid. Int J Androl 1989; 12: 295306.
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
32