TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Informasi Tumbuhan Obat
sebagai Anti Jamur
Dian Sundari, M. Wien Winarno
Pusat Penelitian dan Pengembangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan Rl, Jakarta.
ABSTRAK
Pemanfaatan tumbuhan obat untuk mengatasi penyakit kulit akibat jamur telah
lama dikenal oleh nenek moyang kita.
Metode penulisan dengan cara informasi data dari penelusuran berbagai hasil
penelitian serta beberapa pustaka.
Hasil penelusuran pustaka mendapatkan 36 tanaman yang telah diteliti, secara
in-vitro. Bentuk sediaan uji mulai dari infus/rebusan, bentuk ekstraknya, maupun
minyak atsirinya. Sedangkan jamur yang diuji adalah yang menyebabkan infeksi kulit
misalnya : Aspergilus niger, Aspergilus flavus, Tricophyton rubrum, Tricophyton
ajelloi, Tricophyton mentagrophytes, Microsporum gypseum, Microsporum canis,
Epidermo floccosum, dan Candida albicans.
PENDAHULUAN
Dalam sistematika organisme hidup, jamur ditempatkan
dalam kelas tersendiri, tidak ditempatkan sebagai kelas tum-
buhan dan juga kelas hewani. Sebagian besar jamur adalah
saprofilik, di alam berperan sebagai pengurai bahan organik,
yang bermanfaat untuk peragian makanan dan juga produksi
antibiotika. Di sisi lain jamur dapat menyebabkan penyakit
infeksi dikenal dengan nama mikosis
(1,2)
.
Mikosis dibedakan 2 kelompok: mikosis superfisial ter-
dapat pada kulit, kuku, rambut dan selaput lendir dan mikosis
sistemik. Ada mikosis terletak di tengah-tengah yaitu akibat
Candida, infeksi biasanya superfisial, tetapi kadang-kadang
menyebar luas
(2,3)
.
Penggunaan obat jamur untuk mikosis sistemik, seperti
Amfoterisin B yang dihasilkan oleh Streptomyces nodus,
mempunyai efek samping kerusakan ginjal. Sedang Nistatin
yang dihasilkan oleh Streptomyces noursei merupakan obat
mikosis superfisial dengan penggunaan topikal, dapat me-
nyebabkan iritasi kulit meskipun jarang
(6)
. Demikian juga
penggunaan obat jamur yang lain terutama untuk mikosis sis-
temik mempunyai efek samping mulai dari mual, muntah,
sakit kepala sampai hipertensi, trombositopenia dan leuko-
penia
(7)
.
Pemanfaatan bahan tumbuh-tumbuhan untuk tujuan peng-
obatan penyakit kulit akibat jamur dikenal juga oleh nenek
moyang kita, umumnya pemakaiannya berdasarkan peng-
alaman; karena itu, penilaian dan pengkajian khasiatnya secara
ilmiah perlu dilakukan baik secara invitro maupun invivo.
Tujuan penulisan ini untuk mengetahui tumbuhan apa
saja yang telah diteliti khasiat antijamurnya terutama yang
menyerang kulit melalui informasi data sekunder dari pene-
lusuran berbagai hasil penelitian dan pustaka.
Tulisan tersebut tentunya masih banyak kekurangannya,
tetapi diharapkan informasi tersebut berguna sehingga nanti-
nya dapat dilakukan penelitian lebih lanjut.
HASIL PENELITIAN ANTI JAMUR
Penelitian-penelitian tumbuhan sebagai anti jamur yang
berhasil dihimpun mencatat 36 tumbuhan dalam beberapa
bentuk sediaan mulai dari infus/rebusan, bentuk ekstraknya,
maupun minyak atsirinya. Sedangkan yang diuji hanya jamur
yang menyebabkan infeksi kulit misalnya : Aspergilus niger,
Aspergilus flavus, Tricophyton rubrum, Tricophyton ajelloi,
Tricophyton mentagrophytes, Microsporum gypseum, Micros-
porum canis, Epidermo floccosum, dan Candida albicans
(Tabel 1).
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001
28
Keterangan :
a = Candida albicans; b = Aspergilus niger, c = Aspergilus flavus, d = Tricophyton rubrum;
e = Tricophyton ajelloi; f = Tricophyton mentagrophytes; g = Mycrosporum gypseum;
h = Epidermo floccosum.
+ = menghambat pertumbuhan; - = tidak menghambat
Nomor pada kolom 5 menunjukkan kepustakaan dan kolom yang kosong belum ada data penelitian.
PEMBAHASAN
Mikosis atau penyakit kulit akibat jamur, sering dialami
terutama oleh orang yang kurang menjaga kebersihan tubuh-
nya. Penyakit tersebut tidak berbahaya, tetapi sangat meng-
ganggu yaitu : rasa gatal pada kulit, disertai timbulnya ruam
sampai melepuh berisi nanah. Bisa mengenai semua bagian
kulit, tetapi biasanya menyerang kulit kepala, lipat paha, lipat
lengan, kaki dan kuku.
Penggunaan tumbuhan obat untuk mengatasinya telah
lama dikenal oleh nenek moyang kita.
Dari 36 tanaman yang diuji terdapat 8 tanaman yaitu :
Allium cepa L., Canangium adoratum L., Cassia fistula L.,
Clerodendron indicum L., Elephanthopus scaber L., Euphor-
bia hirta L., Jatropha curcas L dan Leucaena leucocephala
(Lam.) de Wit., tidak dapat menghambat pertumbuhan jamur
Aspergilus niger dan Aspergilus flavus. Hal tersebut mungkin
karena jamur tersebut sangat tahan terhadap zat aktif tumbuhan
tersebut di atas terutama terhadap minyak atsirinya. Tetapi
terdapat 10 tumbuhan yang dapat menghambat kedua jamur
tersebut di atas.
Alpinia galanga L. atau laos tumbuhan tersebut cukup
lengkap data penelitiannya sebagai anti jamur yaitu baik
varietas putih maupun merah, bentuk sediaan yang diujipun
bervariasi mulai dari perasan, infus, ekstrak etanolnya maupun
minyak atsirinya. Ternyata rimpang laos dapat menghambat
pertumbuhan 5 jamur yaitu : Tricophyton rubrum, Tricophyton
ajelloi, Tricophyton mentagrophytes, Mycrosporum gypseum
dan Epidermo floccosum. Zat aktif anti jamur yaitu asetoksi
kavikol asetat yang merupakan senyawa minyak atsiri.
Andrographis paniculata Ness. (sambiloto) bentuk sedia-
an infusnya dapat menghambat pertumbuhan 4 jamur yaitu :
Candida albicans, Tricophyton rubrum, Tricophyton menta-
grophytes dan Epidermo floccosum. Diduga kandungan gliko-
sidanya yang bersifat antijamur.
Cassia alata L. bentuk sediaan ekstrak etanolnya, dapat
juga menghambat pertumbuhan 4 jamur yaitu Candida
albicans, Tricophyton rubrum, Mycrosporum gypseum, dan
Epidermo floccosum. Diduga kandungan glikosida antrakinon
yang bersifat antijamur, karena terdapat gugus -OH fenolik.
Candida albican, selain dapat menyebabkan infeksi pada
kulit dapat juga menyebabkan infeksi pada selaput mukosa,
pada wanita sering menyebabkan keputihan. Terdapat sepuluh
tanaman yang telah diketahui dapat menghambat pertumbuhan
jamur tersebut. Bahan yang diuji meliputi minyak atsiri,
dekok, infus, ekstrak etanol dan ekstrak minyak bumi.
Wagner (1977), mengatakan monoterpena, diterpena dan
seskuiterpena yang merupakan senyawa dari minyak atsiri,
selain bersifat antibakteri juga bersifat antijamur.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang dikumpulkan ter-
catat 36 tumbuhan yang telah diteliti secara in-vitro terhadap
jamur Aspergilus niger, Aspergilus flavus, Tricophyton rub-
rum, Tricophyton ajelloi, Tricophyton mentagrophytes, Micro-
sporum gypseum, Microsporum canis, Epidermo floccosum,
dan Candida albicans.
Zat aktif yang dapat menghambat pertumbuhan jamur
diduga minyak atsiri, dan glikosida.
KEPUSTAKAAN
1.
Michael J. dkk. Dasar-dasar Mikrobiologi (terjemahan). UI Press. Jakarta
1986.
2. Dwidjoseputro.
Dasar-dasar
Mikrobiologi. Penerbit Djambatan, Jakarta
1985.
3.
Cavanagh F. Analtical Microbiolog. Academic Press. New York: 1963.
4.
Yezdana M. et al. Studies on antifungal properties of indigenous plants
from the Karachi region. Part II. Pak. J. Sci. Ind. Res. 1989; 32 (9) :
608-11.
5.
Shadab Qamar, Chaudhary FM. Antifungal activity of some essential oils
from local plants. Pak. J. Sci. Ind. Res. 1991; 34 (I) : 30-1.
6.
Farmakologi dan Terapi edisi II. Bag. Farmakologi FK UI. Jakarta. 1983.
7.
Herman MJ. Antijamur Sistemik. Cermin Dunia Kedokteran 1996; 108 :
37-44.
8. Lili Hamzah. Uji daya anti jamur dari infus herba sambiloto terhadap
beberapa jamur penyebab penyakit kulit. Jurusan farmasi FMIPA UI
1994.
9. Wagner H, Wolff P. New natural product and plants drugs with
pharmacological, biological or therapeutical activity 1977.
10. Ita Yukimartati. Perbedaan aktivitas antimikroba minyak atsiri dengan
ekstrak eter Minyak bumi rimpang temu mangga (C. mangga Val.)
Jurusan Farmasi MIPA UNPAD 1991.
11. Dien Ariani L. dkk. Daya antimikroba ekstrak brotowali terhadap S.
aereus, E. coli, C. albicans dan T. ajelloi. Warta Tumbuhan Obat Indon.
1998; 4 (2) : 15-7.
12. Chang HM. Pharmacology and applications of Chinese materia Iviedica.
World Scientific Publishing Co. Pte Ltd. 1986.
13. Erny Sihaya. Uji daya hambat ekstrak daun ketepeng (C. alata L.)
terhadap pertumbuhan T. rubrum. Jurusan Farmasi MIPA UNHAS.
1988.
14. Cooy P. Pengaruh ekstrak temuhitam (C. aeroginosa Roxb.) terhadap
jamur E. floccosum penyebab penyakit kurap. Jurusan Farmasi MIPA
UNHS 1986.
15. Oei Ban Liang dkk. Efek koleretik dan antikapang komponen C.
xanthrorrhiza Roxb. dan C. domestica Val. PT Darya Varia Laboratoria.
1986.
16. Endang Adriyani. Uji khasiat sediaan daun pegagan (C. asiatica L.)
terhadap S. aereus, E. coli dan C. albicans secara in-vitro. Fakultas
Farmasi. UGM. 1987.
17. Rahayu. Pengaruh infusa umbi lapis A. sativum L. terhadap pertumbuhan
C. albicans dan A. niger. Fakultas Farmasi UNAIR. 1992.
18. Pudjiastuti. Uji pendahuluan daya antibakteri dan antijamur kulit batang
C. fistula L. terhadap beberapa kuman dan jamur penyebab penyakit
kulit. Jurusan farmasi MIPA UI. 1994.
19. Aan Risma. Uji pendahuluan efek antimikroba dari infus daun johar
terhadap beberapa bakteri dan jamur peneyabab penyakit kulit. Jurusan
Farmasi MIPA UI. 1994.
20. Dedi Sutardi. Uji daya antimikroba suposutoria vagina minyak atsiri
daun sirih terhadap C. albicans. Jurusan Farmasi UNPAD 1994.
21. Nur Patria T. Aktivitas antimikroba minyak atsiri kuncup bunga cengkeh
dan bunga kenanga terhadap S. aureus, E. colli dan A. flavus secara
invitro. Fakultas Farmasi UGM 1995.
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001
30
26. Asni Amir. Efek anti jamur perasan rimpang Laos terhadap jamur M.
gypseum, T. rubrum dan E. floccosum dengan metode silinder. Fakultas
Farmai UNTAG 1990.
22. M. Nordin A. Uji aktivitas antimikroba minyak ketumbar secara in-vitro.
Fakultas Farmasi UGM. 1996.
23. Nurul Khikmah. Aktivitas antimikrobia atsiri daun kemangi dan rimpang
kunyit terhadap B. cereus, P. fluorescens dan A. flavus secara invitro.
Fakultas Farmasi UGM 1995.
27. Julia Kalumpiu. Pemeriksaan beberapa zat kandungan L. galanga dan
pengaruh infusnya terhadap T. mentagophytes dan T. rubrum. Fakultas
farmasi Widman. 1981.
24. Debora B. Penelitian daya hambat ekstrak daun tereba (R.. nastutus L.)
terhadap kapang penyebab penyakit kurap. Jurusan Farmasi MIPA
UNHAS. 1988.
28. Sandra W. Perbandingan daya anti fungi ekstrak rimpang lengkuas putih
dan lengkuas merah terhadap T. ajelloi. Fakultas Farmasi Widman 1995.
25. Asri Sulistijowati. Efek ekstrak daun kembang bulan (T. diversifolia A.
Gray) terhadap C. albicans dan S. aureus serta profil kromatografinya.
Fakultas farmasi UG 1992.
29. Ishantica. Studi perbandingan antara minyak atsiri lengkuas merah hasil
isolasi dingin dengan panas dan uji antijamur terhadap jamur M.
gypseum. Fakultas Farmasi Univ. Pancasila. 1993.
Idle folks lack no excuses
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001 31