background image
Farmakologi dan Penggunaan Terapi
Obat-obat Sitoproteksi
Arini Setiawati
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitaslndonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Ketidakseimbangan antara faktor-faktor agresif(asam dan
pepsin) dan faktor-faktor defensif (resistensi mukosa) pada
mukosa lambung-duodenum menyebabkan terjadinya gastritis,
duodenitis, ulkus lambung dan ulkus duodenum
(1)
. Asam lam-
bung yang bersifat korosif dan pepsin yang bersifat proteolitik
merupakan dua faktor terpenting dalam menimbulkan kerusakan
mukosa lambung-duodenum
(2)
. Faktor-faktor agresif lainnya
adalah garam empedu, obat-obat ulserogenik (aspirin dan anti-
inflamasi nonsteroid lainnya, kortikosteroid dosis tinggi), me-
rokok, etanol, bakteria, leukotrien B4 dan lain-lain
(1,3,4)
.
Faktor-faktor yang merupakan mekanisme proteksi mukosa
lambung-duodenum adalah sawar mukus·bikarbonat, sawar
mukosa, aliran darah mukosa dan regenerasi mukosa. Me-
kanisme proteksi mukosa lambung-duodenum terhadap ke-
rusakan oleh faktor-faktor agresif ini disebut dengan istilah
sitoproteksi. Meskipun mekanisme sitoproteksi ini belum
diketahui secara pasti, ada bukti bahwa prostaglandin endogen
memegang peranan penting
(1­5)
.
Mukus, yang disekresi oleh sel-sel goblet dan kelenjar
Brunner, berupa gel kental yang lengket dan tidak larut dalam air,
yang melapisi seluruh permukaan mukosa lambung-duodenum
secara merata dengan ketebalan 5­10 kali tinggi sel mukosa.
Fungsinya untuk memberikan perlindungan mekanis pada epitel
lambung-duodenum, untuk mengurangi difusi ion hidrogen dan
pepsin dari lumen. Mukus merupakan polimer yang mengan-
dung 4 sub-unit glikoprotein. Degradasi mukus oleh pepsin atau
zat mukolitik menyebabkan lapisan mukus berkurang tebalnya.
Sebaliknya, prostaglandin menambah tebal mukus. Ion bikar-
bonat disekresi oleh sel-sel epitel permukaan lambung dan duo-
denum proksimal, berdifusi melalui lapisan gel mukus ke arah
lumen. Fungsinya untuk menetralkan asam lambung yang ber-
difusi masuk dari lumen. Akibatnya terdapat gradien pH dari
lumen (pH 2) ke permukaan sel epitel (pH 7-8). Lapisan mukus
dengan bikarbonat ini disebut sawar mukus bikarbonat.
Sawar mukosa terdiri dari membran apikal sel-sel epitel
permukaan dan right-junction antar sel, yang ditutup dengar
lapisan fosfolipid yang hidrofobik, sehingga merupakan sawar
yang tidak dapat ditembus oleh ion hidrogen dari lumen. Tetapi
sawar ini bisa dirusak oleh berbagai zat seperti garam-garam
empedu, obat-obat ulserogenik, alkohol dan lain-lain sehingga
ion hidrogen dapat berdifusi balik dari lumen ke jaringan
mukosa dan menyebabkan kerusakan mukosa. Regenerasi
mukosa dimulai dari prolifersi sel di zone proliferatif yang
kemudian bermigrasi ke permukaan untuk menggantikan sel-sel
epitel permukaan yang rusak. Proses reepitelisasi ini berjalar
dengan cepat asal terlindung dari suasana asam yang merusak
sel-sel tersebut.
Aliran darah mukosa, memegang peranan vital dalam
proteksi mukosa karena fungsinya membawa oksigen, zat-zat
makanan dan bikarbonat ke epitel permukaan dan menyingkir-
kan ion hidrogen yang menembus sawar mukus bikarbonat dan
sawar mukosa. Aliran darah mukosa yang kurang telah terbukti
merupakan faktor yang penting dalam menyebabkan kerusakan
mukosa. Dalam hal ini, kurangnya oksigen dan zat-zat makanan
yang dibawa ke epitel permukaan menyebabkan terganggunya
berbagai mekanisme sitoproteksi (produksi mukus dan bikar-
bonat, sawar mukosa yang utuh, regenerasi mukosa yang cepat).
Di samping itu, kurangnya ion bikarbonat hidrogen yang di-
bawa dan ion hidrogen yang disingkirkan dari epitel permukaan
memudahkan terjadinyakerusakan mukosa. Mukosa duodenum
lebih peka terhadap kurangnya aliran darah dibanding mukosa
lambung. Sebaliknya, peningkatan aliran darah mukosa telah
terbukti dapat melindungi mukosa dari kerusakan zat-zat perusak
seperti garam empedu dan aspirin
(2,3)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 29
background image
PENGOBATAN
Tujuan pengobatan ulkus peptikum adalah :
1.
Menghilangkan rasa nyeri dan menyembuhkan ulkus.
2.
Mencegah kambuhnya ulkus dan mencegah terjadinya
komplikasi.
Berdasarkan patofisiologinya, terapi farmakologik ulkus
peptikum ditujukan untuk menekan faktor-faktor agresif dan/
atau memperkuat faktor-faktor defensif. Sampai saat ini peng-
obatan ditujukan untuk mengurangi asam lambung, yakni
dengan cara menetralkannya dengan antasida atau mengurangi
sekresinya dengan obat-obat antisekresi yakni :
30
1.
H
2
bloker : simetidin, ranitidin, famotidin, nizatidin.
2.
Muskarinik bloker : pirenzepin.
3.
Penghambat pompa proton (H+/K+ ATPase) : omeprazol
(5-7)
.
Oleh karena asam memecah molekul pepsinogen yang inaktif
menjadi pepsin yang aktif serta memberikan pH yang dibutuhkan
untuk aktivitas pepsin (aktivitas pepsin sangat menurun pada
pH lebih dari 4 dan pepsin menjadi inaktif pada pH netral atau
alkalis), maka dengan mengurangi asam, kedua faktor agresif
yang utama ini (asam dan pepsin) dapat diatasi
(2)
.
Akhir-akhir ini, pengobatan ulkus peptikum mulai dituju-
kan untuk memperkuat mekanisme defensif mukosa lambung
duodenum, yakni dengan obat-obat sitoproteksi. Obat sitopro-
teksi ­ bermula dari prostaglandin ­ didefinisikan sebagai obat
yang dapat mencegah atau mengurangi kerusakan mukosa lam-
bung atau duodenum oleh berbagai zat ulserogenik atau zat
penyebab nekrosis, tanpa menghambat sekresi atau menetralkan
asam lambung
(6,8)
. Jadi obat sitoproteksi dapat mencegah keru-
sakan mukosa lambung yang acid-mediated (misalnya aspirin)
maupun yang acid-independent (misalnya oleh alkohol). H
2
bloker tidak termasuk obat sitoproteksi yang efektif untuk
mencegah kerusakan mukosa yang acid-mediateci
(8)
.
Selanjutnya akan dibahas berbagai obat sitoproteksi yang
telah mapan (established) efek sitoproteksinya pada manusia
maupun penggunaan kliniknya sebagai anti ulkus. Obat-obat ini
dapat dibagi dalam 2 kelompok(
9
) :
1. Analog prostaglandin (PG)
­
Analog PGE
1
: misoprostol, rioprostil.
­
Analog PGE
2
: enprostil, arbaprostil, trimoprostil
2. Non-prostaglandin, semuanya dengan proteksi lokal
­
Karbenoksolon
­
Sukralfat
­
Bismuth koloidal
­
Setraksat
(10)
.
1. Analog prostaglandin
Karena konsep sitoproteksi berasal dari studi eksperimental
yang mempergunakan prostaglandin, maka prostaglandin (PG)
alamiah maupun sintetik menjadi prototip obat sitoproteksi. Oleh
karena PG alamiah dipecah dalam waktu beberapa detik, maka
dibuat PG sintetik (analog PG) yang cukup stabil agar dapat
digunakan sebagai obat. Banyak analog PG yang telah disintesis,
tetapi baru ada 5 analog PG yang telah diteliti manfaat kliniknya
untuk pengobatan ulkus peptikum (lihat di atas) dan beberapa di
antaranya telah dipasarkan (di luar negeri). Selain efek sitopro-
teksi (pada dosis kecil maupun besar), PG juga mempunyai efek
antisekresi (pada dosis besar). Jadi PG pada dosis kecil hanya
menimbulkan efek sitoproteksi dan antisekresi. Efek sitoproteksi
PG berhubungan dengan besarnya dosis.
Mekanisme sitoproteksi mencakup
(3,6,7)
:
1)
PGE dan PGI meningkatkan aliran darah mukosa lambung
duodenum (vasodilatasi, sedangkan PGF
2
vasokonstriksi).
2)
PGE meningkatkan sekresi mukus lambung-duodenum.
r
3)
PGE meningkatkan sekresi bikarbonat lambung-duodenum
(tidak semua PG).
4)
PGE memperkuat sawar mukosa lambung duodenum
dengan meningkatkan kadar fosfolipid mukosa sehingga me-
ningkatkan hidrofobisitas permukaan mukosa dan dengan de-
mikian mencegah/mengurangi difusi balik ion hidrogen.
5)
PGE menyebabkan hiperplasia mukosa lambung duodenum
(terutama di antara antrum lambung), terutama dengan mem-
perpanjang daur hidup sel-sel epitel yang sehat (terutama sel-sel
di permukaan yang memproduksi mukus), tanpa meningkatkan
aktivitas proliferasi
(11,12)
.
Dengan demikian terjadi proteksi zone proliferatif mukosa
oleh PG, yang penting untuk regenerasi mukosa. Bila zone ma-
sih utuh, maka bila terjadi kerusakan sel-sel epitel permukaan
(misalnya pada erosi), segera terjadi penggantian sel-sel barn
hasil proliferasi sel-sel di zone tersebut yang kemudian ber-
migrasi ke permukaan. Tetapi bila zone ini telah rusak/tidak
ada (mis. pada ulkus), mekanisme sitoproteksi PG tidak dapat
menyembuhkan.
Hasil berbagai uji klinik menunjukkan bahwa :
1)
Analog PGE efektif untuk menyembuhkan ulkus bila di-
gunakan dalam dosis tinggi, yakni dosis sitoproteksi dan anti
sekresi, tetapi efektifitasnya umumnya inferior bila dibanding-
kan dengan H
2
bloker, baik dalam mempercepat kesembuhan
atau menghilangkan rasa nyeri, kecuali rioprostil yang mem-
punyai efektivitas sebanding dengan H
2
bloker dan dapat diberi-
kan sekali sehari
(9,13­16)
.
2)
Dalam dosis rendah, yakni dosis yang diperkirakan mengu-
rangi sekresi asam lambung, obat-obat ini memperlihatkan efek
sitoproteksi, yakni dapat mencegah kerusakan dan mengurangi
perdarahan mukosa lambung duodenum akibat pemberian alkohol,
aspirin atau obat-obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID) lain-
nya; tetapi tidak efektif untuk menyembuhkan ulkus
(7)
. Untuk
pencegahan kerusakan lambung inipun diperlukan dosis tinggi,
yakni dosis anti ulkus agar mendapatkan hasil yang maksimal
(17)
.
Misalnya pada penggunaan misoprostol untuk mencegah ter-
jadinya ulkus lambung akibat pemberian NS AID pada penderita
asteo-artritis"), dosis anti ulkus 200 µg 4 x sehari menurunkan
insiden ulkus lambung dari 21,7% (pada kelompok plasebo)
menjadi 1,7% dalam 3 bulan, sedangkan insidens ulkus lambung
pada kelompok misoprosto1100 µg 4 x sehari masih 5,6%.
NSAID tampaknya lebih banyak disertai ulkus lambung
daripada ulkus duodenum. Hal ini terlihat dari prevalensi ulkus
lambung pada penderita yang menggunakan NSAID secara
kronik (terutama penderita artritis) yang sangat tinggi, yakni
antara 9­22%, tetapi kurang konsisten dengan ulkus duode-
num
(19)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
background image
3) Efek samping yang sering timbul dengan analog PGE
adalah diare (biasanya ringan dan hanya sementara), yang ber-
hubungan dengan besamya dosis karena merupakan akibat efek
PG meningkatkan sekresi cairan di usus halus. Insidens diare
antara 5­34% dengan misoprostol dan antara 5­55% dengan
enprostil pada dosis anti-ulkus. Rionrostil lebih jarang menim-
bulkan diare dibandingkan PG lainnya. PG juga menimbulkan
nyeri abdomen (10-20%), mungkin akibat kerjanya meningkatkan
kontraksi otot polos usus. Selain itu ada efek samping yang serius
yakni misoprostol dapat menginduksi kontraksi uterus sehingga
tidak boleh diberikan pada wanita hamil. Enprostil juga me-
ningkatkan kontraksi uterus, tetapi tidak menyebabkan aborsi
pada dosis yang digunakan. Sedangkan rioprostil tampaknya
tidak mempunyai efek kontraksi uterus, tetapi hal ini perlu
konfirmasi lebih lanjut
(7,9,13-16)
.
Bahwa analog PG yang mempunyai efek sitoproteksi dan
anti sekresi temyata tidak lebih efektif dibandingkan dengan H
2
bloker yang hanya mempunyai efek antisekresi dalam me-
nyembuhkan ulkus, memang mengherankan; mungkin hal ini
disebabkan oleh :
1)
Istilah sitoproteksi berasal dari percobaan pada tikus, di-
mana pemberian PG mencegah/mengurangi kerusakan epitel
lambung dan mencegah stasis sirkulasi. Mencegah kerusakan
tidak sama dengan proses penyembuhan. Proses penyembuhan
membutuhkan regenerasi sel-sel mukosa yang rusak, dan
proses ini berjalan dengan spontan dan cepat asal tidak terpapar
pada suasana asam yang merusak sel-sel tersebut. Sedangkan
pencegahan kerusakan mukosa oleh PG melalui hiperplasia sel-
sel mukosa yang sehat dan berbagai mekanisme lain telah
disebut sebelumnya. Tanpa aktivitas anti sekresi, tampaknya
PG tidak dapat mengaktifkan proses regenerasi sel yang
dibutuhkan untuk penyembuhan ulkas. Ini berarti bahwa efek
sitoproteksi dari PG tidak ikut berperan/minimal dalam proses
penyembuhan ulkus sehingga penyembuhan ulkus oleh analog
PG bergantung pada aktivitas anti sekresinya.
2)
Misoprostol dan enprostil adalah penghambat sekresi asam
lambung dengan kekuatan sedang. Potensi anti sekresi
misoprostol kira-kira sebanding dengan simetidin dan potensi
enprostil kira-kira terletak di antara simetidin dan ranitidin
l">
.
Sedangkan penyembuhan ulkus dan hilangnya rasa nyeri
tampaknya bergantung pada penghambatan asam lambung.
Oleh karena analog PG yang ada sekarang ini umumnya
inferior dalam efektivitas (kecuali rioprostil) dan menimbulkan
banyak efek samping (diare, nyeri abdomen, sifat abortifasien),
maka analog PG yang sekarang ini tidal dapat menggantikan H
2
bloker untuk menjadi pilihan utama untuk menyembuhkan ulkus
peptikum
(17)
.
Meskipun efek sitoproteksi tidak dapat diandalkan untuk
penyembuhan ulkus, tetapi dari efek ini diharapkan 3 hal,
yakni :
1) Analog PG diharapkan berguna untuk mencegah kerusakan
saluran cerna akibat pemberian obat ulserogenik secara kronik.
Ini telah terbukti untuk misoprostol, yang ternyata bermanfaat
untuk mencegah terjadinya ulkus lambung akibat pemberian
NSAID pada penderita osteoartritis. Tetapi sebagaimana telah
disebutkan di atas, hasil yang terbaik diperoleh dengan dosis
misoprostol sebagai anti ulkus". Untuk penggunaan ini, tidak
diketahui apakah analog PG lebih efektif dibanding H
2
bloker,
karena belum ada perbandingan langsung. Tetapi, pada studi
eksperimental, telah ditunjukkan bahwa misoprostol dalam
dosis anti sekresi yang sebanding dengan simetidin ternyata
jauh lebih efektif dalam mengurangi kerusakan lambung akibat
pemberian etano180% intragastrik maupun pemberian tolmetin
(suatu NSAIDY)
(4,17)
. Hal ini menunjukkan bahwa efek sitopro-
teksi dari analog PG juga ikut berperan dalam mencegah ke-
rusakan lambung tersebut, di samping efek antisekresinya.
2) Analog PG dapat memperpanjang masa remisi ulkus yang
disembuhkan dengan obat ini. Masa remisi ulkus duodenum
setelah sembuh dengan misoprostol dibanding dengan simetidin
dan hasil meta-analisis terlihat bahwa untuk penderita dengan
ulkus yang kronik, masa remisinya tidak berbeda antara miso-
prostol dengan simetidin tetapi untuk penderita tanpa riwayat
ulkus sebelumnya, masa remisinya lebih panjang dengan
misoprostol dibanding dengan simetidin
(13)
. Efek misoprostol
terhadap masa remisi ulkus lambung belum jelas
(14)
. Angka
kekambuhan ulkus duodenum setelah rioprostil tidak berbeda
bermakna dengan simetidin
(20)
. Untuk enprostil, belum ada data
mengenai efeknya terhadap masa remisi ulkus
(15)
.
3) Merokok diharapkan tidak mempengaruhi penyembuhan
ulkus oleh analog PG. Merokok merupakan faktor risiko terjadi-
nya ulkus, memperlambat penyembuhan ulkus dan memperce-
pat kmbuhnya ulkus peptikum. Merokok tidak mempengaruhi
sekresi asam basal lambung dan pepsin, tetapi meningkatkan
sekresi akibat stimulasi dengan pentagastrin. Merokok meng-
hambat sintesis PGE
2
di mukosa lambung tetapi tidak mem-
pengaruhi produksi PG di mukosa duodenum. Merokok nam-
paknya mengurangi efektivitas obat-obat antisekresi tetapi
tidak mempengaruhi efektivitas obat-obat sitoproteksi. Penyem
buhan ulkus duodenum oleh misoprostol, umumnya tidak di-
pengaruhi oleh merokok
(21)
. Demikian juga dengan penyem-
buhan ulkus duodenum oleh enprostil
(13,21)
maupun rioprostil
(20)
tampaknya juga tidak dipengaruhi oleh merokok. Diperkirakan
pada perokok dengan ulkus duodenum, merokok menghambat
penglepasan PG di duodenum terhadap rangsangan asam,
meskipun produksi PG basal tidak dipengaruhi
(22)
. Untuk penyem-
buhan ulkus lambung, pengaruh rokok tidak konsisten
(21)
.
Selanjutnya untuk pengobatan jangka panjang mencegah
kambuhnya ulkus duodenum, enprostil dengan dosis setengah
dari dosis untuk menyembuhkan ulkus (35 µg malam hari)
menghasilkan kekambuhan 2 kali lipat dari ranitidin setelah 1
tahun (62% versus 29%). Tetapi pada dosis enprostil 70 µg
malam hari (sama dengan dosis untuk menyembuhkan ulkus),
angka kekambuhan sama dengan ranitidin (juga dalam dosis
penyembuhan, 300 µg malam hari) setelah 6 bulan (29% vs
31%). Mengingat efek samping enprostil yang relatif tinggi,
maka obat ini tidal dapat dianjurkan untuk pengobatan jangka
panjang mencegah kambuhnya ulkus
(15)
.
2. Non prostaglandin : obat sitoproteksi dengan proteksi
lokal.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 31
background image
a.
Karbenoksolon, suatu derivat asam glikonizinat sintetik,
adalah obat sitoproteksi dengan proteksi lokal yang pertama
dipasarkan. Mekanisme kerjanya mencakup : stimulasi sekresi
mukus, stabilisasi membran sel dan mempercepat regenerasi sel-
sel epitel permukaan yang rusak (mekanisme sitoproteksi, se-
bagian melalui peningkatan kadar PG di mukosa akibat peng-
hambatan deaktivasinya), aktivasi anti peptik (sebagai yang
membentuk sawar lokal). Dengan dosis 200-300 mg sehari, obat
ini sebanding efektivitasnya dengan simetidin dalam memper-
cepat penyembuhan ulkus lambung dan duodenum. Tetapi efek
samping sistemiknya (retensi garam dan air, edema, hipertensi,
hipokalemia) yang potensial membahayakan menyebabkan obat
ini sekarang telah ditinggalkan (obsolete)
(8,10)
.
b.
Sukralfat adalah garam aluminium dari sukrose sulfat. Pada
suasana asam (perut kosong), obat ini membentuk pasta kental
secara selektif mengikat pada ulkus (berupa kompleks yang
stabil antara molekul obat dengan protein pada permukaan
ulkus, yang tahan hidrolisis oleh pepsin) dan berlaku sebagai
barier yang melindungi ulkus terhadap difusi asam, pepsin dan
garam empedu (proteksi lokal). Sukralfat juga mempunyai efek
sitoproteksi pada mukosa lambung melalui 2 mekanisme yang
terpisah, yakni (a) melalui pembentukan PG endogen dan
(b) efek langsung meningkatkan sekresi mukus
(24,25)
. Efek si-
toproteksi ini tidak memerlukan suasana asam(
26
).
Sukralfat sebanding efektivitasnya dengan simetidin dalam
menyembuhkan ulkus lambung maupun ulkus duodenum.
Untuk ulkus duodenum, sukralfat (4 g/hari diberikan 4 x 1 g atau
2 x 2 g pada perut kosong) dan simetidin (1 g/hari atau 4 x 300 mg)
memberikan kecepatan penyembuhan yang sebanding (> 70%
setelah 4 minggu)
r
'
.24
). Penyilangan penderita yang belum sem-
buh selama 4 minggu lagi, kembali memberikan laju kesem-
buhan yang tidak berbeda (sekitar 70%). Ini menunjukkan
bahwa masing-masing obat dapat menyembuhkan sebagian
besar penderita yang belum sembuh dengan obat sebelumnya
(7)
.
Kombinasi simetidin dengan sukralfat bersifat sinergistik dan
mempercepat penyembuhan ulkus(
o
. Pada perokok, sukralfat
memberikan laju kesembuhan yang lebih tinggi dibandingkan
simetidin. Hal ini mungkin berkaitan dengan sifat sitoproteksi
dari sukralfat. Di samping itu, penderita yang disembuhkan
dengan simetidin lebih cepat kambuh dibanding penderita yang
sembuh dengan sukralfat, demikian juga di antara penderita yang
perokok. Pada umumnya masa remisi setelah pengobatan dengan
sukralfat 2 x lebih panjang dibanding dengan simetidin. Hal ini
mungkin berkaitan dengan efek sitoproteksi dari sukralfat
(7,22,24)
.
Suatu studi lain yang meneliti angka kekambuhan pada penderita
ulkus duodenum, prepilorus dan lambung setelah sembuh
dengan simetidin atau sukralfat, ternyat angka kekambuhan
setelah 12 bulan tidak berbeda antara kedua obat, tetapi ada
perbedaan dalam efek merokok. Merokok mempengaruhi
angka kekambuhan dan masa remisi setelah terapi dengan
simetidin, tetapi tidak mempengaruhi hasil terapi dengan
sukralfat
(28)
. Sukralfat 2 g sehari lebih efektif dari plasebo dan
sebanding dengan simetidin untuk terapi jangka panjang men-
cegah icambuhnya ulkus duodenum
(9)
.
Untuk ulkus lambung, sukralfat (4 g/hari, diberikan 4 x 1 g
pada perut kosong) dan simetidin (1 g/hari atau 4 x 300 mg)
memberikan kecepatan penyembuhan yang sebanding (sekitar
70-80% setelah 6-8 minggu). Sukralfat 2 g sehari (sekali malam
hari) lebih efektif dari plasebo untuk mengurangi kambuhnya
ulkus lambung
(9,27)
.
Sukralfat (4 x 1 g sehari pada perut kosong) ternyata efektif
untuk mengurangi kerusakan mukosa lambung dan gejala-gejala
saluran cema akibat penggunaan NSAID
(29)
.
Karena mengandung aluminium, sukralfat menyebabkan
konstipasi ringan pada 2-10% penderita, dan dapat menimbul-
kan toksisitas aluminium pada penderita gagal ginjal. Kerugian-
nya yang utama adalah cara pemberiannya; biasanya 4 x sehari,
terutama pada ulkus lambung, serta tidak diberikan bersama
antasida ataupun makanan
(9,23,24)
.
t
1
c.
Bismuth kolodial adalah garam bismuth koloidal dari
asam sitrat. Seperti sukralfat, obat ini pada pH asam (< 5)
membentuk lapisan pelindung yang selektif di dasar ulkus (berupa
kompleks bismuth glikoprotein) dan bertindak sebagai barier
terhadap difusi asam, pepsin dan empedu. Obat ini juga mem-
punyai efek sitoproteksi pada mukosa lambung melalui pem-
bentukan PG endogen. Baru-baru ini ditemukan efek tambahan,
yakni bakterisidal terhadap Campylobacter pylori, yang sering
ditemukan di mukosa lambung (daerah antrum) dan metaplasia
lambung di duodenum pada sebagian besar penderita ulkus
peptikum (lebih banyak pada ulkus duodenum dari pada ulkus
lambung), Kolonisasi C. pylori pada mukosa lambung berhu-
bungan erat dengan gastritis, tetapi peranannya dalam etiologi
ulkus belum jelas, karena (a) kuman tersebut jarang ditemukan
pada ulkusnya sendiri; (b) kuman ini masih terdapat di daerah
antrum dalam densitas yang sama dengan sebelum pengobatan
walaupun ulkusnya telah sembuh dengan H
2
bloker, sukralfat
atau anolog PGE; (c) setelah ulkus sembuh dan kuman ini
dibasmi dengan garam bismuth, penderita tetap remisi meski-
pun C. pylori telah berkolonisasi kembali; (d) sukralfat tidak
mempengaruhi kuman ini, tetapi masa remisinya juga
panjang
(6,7,9,30­32)
. Salah satu kemungkinan mekanisme kerja C.
pylori dalam menimbulkan gastritis dan ulkus peptikum adalah
mencernakan lapisan mukus dengan enzim-enzim protease dan
glikosilhidrolase yang dihasilkan oleh kuman ini
(33)
.
Bismuth koloidal (120 mg 4 x sehari atau 240 mg 2 x sehari
pada perut kosong) juga sebanding efektivitasnya dengan si-
metidin untuk menyembuhkan ulkus duodenum maupun ulkus
lambung. Bahkan obat ini dapat menyembuhkan ulkus duode-
num yang resisten terhadap simetidin 1,6 g/hari. Di samping itu
obat ini menghasilkan masa remisi yang lebih panjang setelah
disembuhkan ulkus duodenumnya dibanding dengan H
2
bloker.
Hal ini dihubungkan dengan kemampuan garam bismuth ini
untuk membasmi C. pylori, tetapi mungkin juga karena efek
sitoproteksinya
(6,7,9,23,30)
.
Merokok nampaknya tidak mempengaruhi angka kesem-
buhan ulkus peptikum yang diobati dengan bismuth koloidal.
Demikian juga angka kekambuhan setelah terapi dengan obat
ini tampaknya tidak dipengaruhi oleh rokok
(22,30)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
32
background image
Bismuth bersifat neurotoksik (ensofalopati), terutama bila
diberikan pada penderita dengan riwayat gagal ginjal. Selain itu
dapat terjadi pewarnaan (hitam) pada lidah, gigi dan feses yang
reversibel. Juga dapat terjadi konstipasi dan melena. Oleh ka-
rena itu, obat ini tidal( boleh digunakan dalam terapi jangka
panjang. Obat ini diberikan 2-4 kali sehari, tidak boleh bersama
antasida, susu ataupun makanan, selama tidak lebih dari 8
minggu dan dengan interval minimal 2 bulan. Untuk eradikasi
C. pylori, yang disertai dengan angka kekambuhan yang lebih
rendah, obat ini harus diberikan 4 kali sehari
(9,23,30)
.
d. Setraksat, yang merupakan ester dari asam traneksamat,
adalah salah satu obat untuk proteksi mukosa lambung yang
bekerja lokal meningkatkan aliran darah mukosa atau memper-
baiki mikrosirkulasi mukosa di tepi ulkus dan di mukosa yang
bebas ulkus. Obat ini juga meningkatkan pembentukan PG
endogen di mukosa, meningkatkan produksi mukus dan meng-
hambat difusi balik ion hidrogen sehingga menghambat konversi
pepsinogen menjadi pepsin. Akibatnya terjadi percepatan
regenerasi sel-sel mukosa, dengan demikian percepatan pe-
nyembuhan ulkus, mungkin akibat peningkatan suplai darah ke
tepi ulkus
(10,34­37)
.
Setraksat (200 mg 4 x sehari sesudah makan dan sebelum
tidur atau 400 mg 2 kali sehari) lebih efektif dibanding dengan
plasebo untuk penyembuhan ulkus lambung maupun duodenum
dalam waktu 8 minggu
(38­40)
. Kombinasi setraksat dan simetidin
lebih efektif dibanding simetidin saja untuk penyembuhan ulkus
dalam waktu 4 maupun 8 minggu
(34)
. Dalam dosis 200 mg 2-3 x
sehari, setraksat lebih efektif dibanding dengan antasid atau
plasebo untuk terapi jangka panjang untuk mencegah kam-
buhnya ulkus lambung maupun duodenum selama 6-13 bu-
1an
(34,41,42)
.
Angka kekambuhan ulkus (lambung atau duodenum)
setelah 6 bulan sembuh dengan setraksat lebih rendah diban-
dingkan dengan simetidin (8% vs 17,2%) dan tidak berbeda
bermakna dengan kombinasi simetidin dan setraksat (10,7%)
(43)
.
Setraksat (200 mg 4 x sehari) bersama antasid lebih efektif
dibandingkan antasid saja untuk menyembuhkan gastritis akut
(erosif dan hemoragik) dalam waktu 2 minggu
(44)
. Setraksat
sendiri lebih cepat/lebih efektif untuk menyembuhkan gastritis
akut maupun kronik dibanding antasid
(45)
atau plasebo
(46)
. Pem-
berian seraksat (200 mg 4 x sehari) bersama NSAID selama 2
minggu pada penderita osteoartritis ternyata dapat mengurangi
kerusakan mukosa lambung maupun duodenum (hiperemi, erosi
dan ulkus) akibat NSAID. Efek setraksat bermakna untuk lam-
bung, tetapi tidak bermakna untuk duodenum
(47)
.
Efek samping setraksat ringan dan praktis hanya berupa
gangguan saluran cerna, yang paling sering hanyalah konstipasi
ringan pada 1-2% penderita.
RINGKASAN DAN KESIMPULAN
Berdasarkan patofisiologinya, pengobatan ulkus maupun
gastritis dapat ditujukan untuk menekan faktor-faktor agresif
atau memperkuat faktor-faktor defensif mukosa lambung duo-
denum. Sampai sekarang pengobatan terutama ditujukan untuk
mengurangi asam lambung dan dalam kelompok obat-obat ini,
H
2
bloker pada saat ini merupakan obat standar karena efektivi-
tas, keamanan dan kepraktisan penggunaannya dalam terapi
jangka panjang untuk mencegah kambuhnya ulkus.
Tetapi akhir-akhir ini pengobatan ulkus mulai ditujukan
untuk memperkuat mekanisme defensif, yakni dengan obat-obat
sitoproteksi. Ada 2 kelompok yakni (1) Analog prostaglandin
obat sitoproteksi dengan anti sekresi, yakni misoprostol, enpros-
til dan rioprostil, dan (2) Non-prostaglandin (obat sitoproteksi
dengan proteksi lokal), yakni sukralfat, bismuth koloidal dan
setraksat. Untuk terapi jangka pendek menyembuhkan ulkus,
hanya sukralfat, bismuth koloidal dan rioprostil yang sebanding
dengan H
2
bloker (sukralfat juga sebanding keamanannya), te-
tapi sukralfat dan bismuth tidak praktis penggunaannya. Obat-
obat sitoproteksi mempunyai keuntungan dibandingkan dengan
H
2
bloker, yakni memberi masa remisi yang lebih panjang
(kelompok PG belum jelas) dan angka kesembuhan serta angka
kekambuhan yang tidak dipengaruhi oleh merokok (setraksat
belum jelas). Kedua efek ini dikaitkan dengan sifat sitoproteksi
(untuk bismuth koloidal dihubungkan juga dengan sifat bakte-
risidalnya terhadap Campylobacter pylori. Efek lain yang juga
dikaitkan dengan sitoproteksi adalah efektivitas misoprostol,
setraksat dan sukralfat untuk mengurangi kerusakan mukosa
saluran cerna, terutama lambung, akibat pemberian kronik
NSAID. Untuk terapi jangka panjang mencegah kambuhnya
ulkus, sukralfat dan setraksat sudah mapan penggunaannya.
Garam bismuth tidak boleh dipergunakan karena toksisitasnya,
sedangkan kelompok PG tampaknya tidak dianjurkan.
Analog PG yang ada sekarang pada umumnya inferior
dibanding H
2
bloker untuk terapi jangka pendek menyembuhkan
ulkus, baik efektivitas (kecuali rioprostil) maupun efek sam-
pingnya; tetapi penyembuhan ulkus duodenum oleh analog PG
tampaknya tidak dipengaruhi oleh merokok. Efek obat-obat ini
pada masa remisi masih belum jelas. Sedangkan untuk terapi
jangka panjang, tampaknya analog PG tidak dapat dianjurkan.
Tetapi analog PG efektif untuk mencegah/mengurangi keru-
sakan mukosa lambung oleh NSAID.
Setraksat sangat aman, tetapi efektivitasnya mungkin tidak
sebaik H
2
bloker, terutama untuk penyembuhan ulkus duode-
num. Obat ini memberikan masa remisi yang lebih panjang dari
H
2
bloker, tetapi belum diketahui apakah efek terapinya di-
pengaruhi oleh merokok. Setraksat juga efektif untuk terapi
jangka panjang mencegah kambuhnya ulkus, untuk memper-
cepat penyembuhan gastritis dan untuk mengurangi kerusakan
mukosa lambung oleh NSAID. Obat ini diberikan 2-4 x sehari,
tetapi tidak tergantung pada waktu makan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa :
1.
Efek sitoproteksi saja, tanpa adanya efek lain, tidak cukup
untuk menyembuhkan ulkus.
2.
Efek sitoproteksi dapat memperpanjang masa remisi ulkus,
tetapi untuk analog PG masih belum jelas.
3.
Efek sitoproteksi berguna bagi perokok, karena efek ini bisa
mengatasi efek merokok terhadap kesembuhan dan kekambuh-
an ulkus, tetapi untuk analog PG terhadap ulkus lambung tidak
jelas, sedangkan untuk setraksat tampaknya masih belum diteliti.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 33
background image
4.
Obat sitoproteksi berguna untuk mencegah atau mengurangi
kerusakan lambung akibat pemberian kronik NSAID (kecuali
garam bismuth). Meskipun untuk PG masih digunakan dosis
sitoproteksi + anti sekresi, untuk hasil yang terbaik tampaknya
efek sitoproteksinya ikut berperan.
5.
Obat sitoproteksi, karena mekanisme kerjanya yang ber-
beda, dapat digunakan untuk mengobati ulkus yang resisten
terhadap H
2
bloker (analog PG) dan setraksat (belum diketahui).
6.
Obat sitoproteksi, mengingat ketintungannya dalam mem-
perpanjang remisi pada perokok, mungkin dapat dipikirkan untuk
menjadi alternatif dari H
2
bloker untuk menjadi pilihan pertama
dalam pengobatan ulkus.
7.
Kombinasi obat terhadap faktor agresif dengan obat sito-
proteksi diharapkan akan memberikan efek yang sinergistik
dalam menyembuhkan ulkus. Ini telah terbukti pada kombinasi
simetidin dengan sukralfat dan kombinasi simetidin dengan
setraksat. Analog PGE yang ada sekarang tidak memberikan efek
yang lebih baik karena efek sitoproteksinya mungkin tidak ikut
berperan/minimal dalam proses penyembuhan ulkus.
KEPUSTAKAAN
1.
Sontag SI. Prostaglandins in peptic ulcer disease : An overview of current
status and future directions. Drugs 1986; 32: 445­57.
2.
Mc Guigan JE. Peptic ulcer. Dalam : Petersdof RG, Adams RD, Braun-
wald E, Isselbacher KJ, Martin JB, Wilson JD, ed. Harrison
'
s Principles of
Internal Medicine. Ed 10. New York : Mc Graw-Hill International, 1983 :
1697­712.
3.
Shorrock CJ, Rees RDW. Overview of gastroduodenal mucosal protec-
tions. Am J Med 1988; 84 (suppl 2A): 25­34.
4.
Bright-Azare P, Habte T, Yirgou B, Benjamin J. Prostaglandins, H
2
receptor antagonists and peptic ulcer disease. Drugs 1988; 35 (suppl 3):
1­9.
5.
Berardi RR. Future trends in the treatment of peptic ulcer disease. Pharm I
1986 (July): 168­72.
6.
Weir DG. Peptic ulceration. BMJ 1988; 296: 195­200.
7.
Lam SK. An update on peptic ulcer treatment. Med Progr 1987 (July):
27­34.
8.
Tamawski A. Cytoprotective drugs : focus on antacids. Drugs Invest 1990;
2 (suppl): 1-6.
9.
Guslandi M. Cytoprotective drugs for peptic ulcer. Drugs of Today 1988;
24(7): 491­507.
10.
Arakawa T, Kobayashi K. Topically active mucosal agents in protection of
the gastric mucosa : focus on drugs from Japan. Drugs Invest 1990; 2
(suppl 1): 32.
11.
Tytgat GNJ, Offerhaus GJA, Van Minnen AJ, Evens V, Hensen Logmans
SC, Samson G. Influence of oral 15 (R)-15-methyl Prostaglandin E
2
on
human gastric mucosa. Gastroenterology 1986; 90 (5, pan 1): 1111­20.
12.
Halter F, Inauen W, Schurer-Maly CC, Koelz HR. Effect of indomethacin,
prostaglandins and omeprazole on healing of experimental gastric ulcers.
Drug Invest 1990; 2 (suppl 1): 27­30.
13.
Penston JG, Wonnsley KG. H
2
-receptor antagonists vs prostaglandins : in
peptic ulcer disease. Med Prog 1989 (Oct): 13­25.
14.
Monk JP, Clissold SP. Misoprostol : a preliminary review of its pharma-
codynamic and phannacokinetic properties, and therapeutic efficacy in the
treatment of peptic ulcer disease. Drugs 1987; 33: 1­30.
15.
Goa KL, Monk JP, Enprostil : a preliminary review of its pharmaco-
dynamic pharmacokinetic properties, and therapeutic efficacy in the
treatment of peptic ulcer disease. Drugs 1987; 34: 539­59.
16.
Dammann HG, Walter TA, Muller P, Simon B. Night-time rioprostil
versus ranitidin in duodenal ulcer healing. Lancet 1986; 2: 335-6.
17.
Hawkey CJ, Walt RP. Prostaglandins for peptic ulcer : a promise unful-
filled. Lancet 1986; 2: 1084­7.
18.
Graham DY, Agrawal NM, Roth SH. Prevention of NSAID induced
gastric ulcer with misoprostol : multi centre, double-blind, placebo-
controlled trial. Lancet 198, 2:L 1277­80.
19.
Hawkey Cl. Nonsteroidalantiinflammatory drugs and peptic ulcer. BMJ
1990; 300: 278­84.
20.
Maggilio F, Ohmeiss H. Gastroenterology 1988. 95: 256.
21.
Lam SK. Prostaglandins, smoking, duodenal ulcers. Lancet 1987; 1:
212­3.
22.
Gulandi M. How does smoking harm the duodenum ? BMJ 1988; 1: 311.
23.
Piper DW, Stiel D. Site protective agents for peptic ulcer. Med Progr 1986
(August) : 11­3.
24.
Brogden RN, Heel RC, Speight TM, Avery GS. Sucralfate : a review of its
pharmacodynamic and theraupetic use in peptic ulcer disease. Drugs 1984;
27: 1984­109.
25.
Lam SK, Sabesin SM. Acid, cytoprotection, and peptic ulcer. Am J Med
1987; 83 (suppl 3B): 1­3.
26.
Danesh BJ, Duncan A, Russell RI. Is an acid pH medium required for the
protective effect of sucralfate against mucosal injury? Am J Med 1987; 83
(suppl 3B): 11­3.
27.
Marsk IN, Girdwood AH, Wright JP, dkk. Nocturnal dosage regimen of
sucralfat in maintenance treatment of gastric ulcer. Am J Med 1987; 83
(suppl 3B): 95­8.
28.
Glise H, Carling L, Haalerbaeck B, dkk. Relapse rate of healed duodenal,
prepyloric, and gastric ulcers treated either with sucralfate or cimetidin.
Am J Med 1987; 83 (suppl 3B): 105­9.
29.
Caldwell JR, Roth SH, Wu WC, dkk. Sucralfate treatment of nonsteroidal
antiinflammatory drug-induced gastrointestinal symptoms and mucosal
damage. Am J Med 1987 : 74­82.
30.
Wagstaff AJ, Benfield P, Monk JP. Colloidal bismuth subcitrate : a review
of its pharmacodynamic and pharmaconiketic properties, and its thera-
peutic use in peptic ulcer disease. Drugs 1988; 36: 132­57.
31.
Homick RB. Peptic ulcer disease : a bacterial infection ? N Engl J Med
1987; 316 (25):60.
32.
Arakawa T. Tanaka K. Association of Helicobacter pylori with gastritis,
duodenitis and peptic ulcer diseases. Drugs Invest 1990 2 (suppl 1) : 60.
33.
Nakajima M, Tanaka N, Kuyawama H. Digestion of human gastric mucus
by extracellular enzymes of Helicobacter pylori. Drugs Invest 1990; 2
(suppl 1) : 60.
34.
Miyake T. Defense mechanism of the gastroduodenal ulcer its therapy,
with special reference to mucosal blood flow (Extended Abstr). Dalam :
Cetraxate Satellite Symposium, 7th Asian Pacific Congress of Gastro-
enterology, Tokyo : Excerpta Medics, 1985 : 36-43.
35.
Murakami M, Nakamura N. Effect of cetraxate on mucosal blood flow
(Extended Abstr). Dalam : Pustaka 34 : 10­2.
36.
Kawano S. Gastric mucosal hemodynamics and gastric ulcer (Extended
Abstr). Dalam : Pustaka 34 : 13­6.
37.
Kobayashi K. Difference in relapse rates of gastric ulcer after treatment
with cimetidine plus cetraxate (Extended Abstr). Dalam : Pustaka 34 :
19­22.
38.
Miyoshi A, Okuhara T, Kishimato S, dkk. Clinical efficacy evaluation of
cetraxate against peptic ulcer. Jap Arch Int Med 1977; 24(4): 105.
39.
Vanasin B. A placebo-controlled double-blind study of cetraxate in the
treatment of gastric ulcer (from 1980­1984) (Extended Abstr). Dalam
Pustaka 34 : 17­8.
40.
Yu JY, Wang TH, Wang CY, Chen RRL, Sung JL. Therapeutic effect of
intraxate on duodenal ulcer : a double blind test. I Formosan Med Assoc
1981; 80: 442­8.
41.
Wang CY. Long term maintenance treatment with cetraxate in chronic
duodenal ulcer (Extended Abstr). Dalam: Pustaka 34 : 27­8.
42.
Phomphutukul K, Prisontarangkoon 0, Klunklin K. The use of cetraxate in
the treatment and maintenance therapy of gastric ulcer. Dalam : Jumal
Simposium Gastritis dan Tukak Peptik.
43.
Nagamachi Y. What's new in the pharmacology of cetraxate ? Extended
Abstr. Dalam : Pustaka 34:6­9.
44.
Kim BS. A clinical trial on cetraxate in acute gastritis in Korea Extended
Abstr. Dalam : Pustaka 34 : 32­5.
45.
Yamagata S. Therapeutic effect of cetraxate against acute gastritis and
acute exacerbation of chronic gastritis Extended Abstr. Dalam : Pustaka
34: 29­31.
background image
46.
Hadi S, Abdurachman SA, Julianto W. A clinical trial of cetraxate on
gastritic patients. Satellite Symposium of Cetraxate, 5th APCDE­8th
APCGE. Seoul, 1­13 October 1988.
47.
Adnan HM, Daud R, Kusmadi. Kemampuan perlindungan mukosa lam-
bung oleh obat sitoprotektif. Dalam : Pustaka 42.
Kalender Kegiatan Ilmiah
December 7­9, 1992
Third Western Pacific Congress on
Chemotherapy and Infectious Diseases
Nusa Dua, Bali, INDONESIA
Secr.: Clinical Pharmacology Unit
Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital/
University of Indonesia
Jalan Diponegoro 71
Jakarta 10002 INDONESIA
TOPICS
--
Current knowledge of Infections in the Western Pacific area.
--
Recent progress in antimicrobial chemotherapy.
--
Impact of resistance to antimicrobial agents.
--
Advances in rapid diagnostic microbiology.
--
Immunotherapy in infectiousdiseases.
--
Extended experience in Austro ­ Asian AIDS.
--
A focus on nosocomial infections.
--
How to cope with paediatric problems in infections.
--
Sexually transmitted diseases update.
--
Dengue and viral disease progress.
--
Diagnopsis and therapy of mycotic infections.
--
Malaria and current prophylaxis in parasitic diseases.
--
Failure analysis of antimicrobial
.
treatment.
--
Views on today's and tomorrow vaccines.
--
The present approach to the septicemias.
--
Problems and update of respiratory tract infections.
--
Typhoid fever and salmonellosis.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 35