HASIL PENELITIAN
Efikasi B thuringiensis H-14
(Vectobac G) terhadap Jentik
Anopheles barbirostris vd. Wulp
di Laboratorium
Umi Widyastuti, Widiarti, Sustriayu Nalim
Stasiun Penelitian Vektor Penyakit. Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Salatiga, Jawa Tengah
ABSTRAK
Suatu penelitian telah dilakukan di laboratorium Stasiun Penelitian Vektor Penyakit,
Salatiga untuk mengetahui efikasi Bacillus thuringiensis H- 14 (Vectobac G) terhadap
jentik nyamuk Anopheles barbirostris.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa B. thuringiensis H-14 dosis 0,28 g/m
2
efektif
membunuh jentik An. barbirostris pada semua instar, baik yang diberi makan maupun
tanpa pemberian makan serbuk campuran bekatul dan daging. Kematian rata-rata jentik
An. barbirostris 24 jam seteiah aplikasi B. thuringiensis H-14 berkisar antara 80%100%.
Kematian jentik instar IV yang diberi makan serbuk campuran bekatul dan daging (80%)
menunjukkan perbedaan yang bermakna (p < 0,05) dibandingkan dengan 7 perlakuan
yang lain (kematian jentik berkisar antara 98,75%100%).
PENDAHULUAN
Penyakit malaria dan filariasis sampai saat ini masih me-
rupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Kedua
penyakit tersebut penularannya berlangsung melalui gigitan
nyamuk.
Nyamuk Anopheles barbirostris telah dilaporkan sebagai
vektor penyakit malaria dan fliariasis di Sulawesi, Flores dan
Timor Akan tetapi di Jawa nyamuk An. barbirostris tidak di-
laporkan sebagai vektor meskipun populasinya cukup tinggi
(2)
.
Jentik An. barbirostris pada umumnya ditemukan di sawah, ku-
bangan air di tanah, tepi sungai yang lambat alirannya, sumur,
rawa-rawa dan saluran irigasi
(1)
.
Dalam program pemberantasan malaria dan filariasis, salah
satu kegiatan yang dilakukan adalah upaya pemberantasan vektor
baik pada stadium dewasa maupun jentik
(3)
. Salah satu cara yang
mulai banyak diteliti, potensial dan mempunyai prospek yang
baik adalah pengendalian vektor secara hayati dengan meng-
gunakan bakteri Bacillus thuringiensis H- 14 yang bersifat pato-
gen terhadap jentik nyamuk.
Bacillus thuringiensis H- 14 yang ditemukan pertama kali di
Israel pada tahun 1976, merupakan bakteri pembentuk spora
yang memproduksi kristal protein toksin (delta-endotoksin) di
dalam sel selama fase sporulasi
(4)
. Bakteri ini dikenal mempunyai
patogenisitas tinggi terhadap jentik nyamuk dan jentik lalat
hitam. Aktivitas larvisida B. thuringiensis H-14 selalu dihu-
bungkan dengan kristal protein toksin yang berperan sebagai
racun perut
(5)
.
Guna meneliti efikasi B. thuringiensis H- 14 terhadap jentik
nyamuk An. barbirostris dilakukan suatu studi di laboratorium.
BAHAN DAN CARA KERJA
Pada penelitian ini digunakan B. thuringiensis H- 14, berupa
formulasi granuler dengan nama dagang Vectobac G yang mem-
punyai potensi 200 ITU/mg., diaplikasikan dengan dosis 0,28 g/
m
2
. Sebelum digunakan Vectobac G direndam terlebih dahulu
selama 24 jam.
Sebanyak 40 jentik An. barbirostris masing-masing instar I,
II, III dan IV dimasukkan ke dalam cawan petri (diameter 15cm)
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997 33
Di samping itu tingginya kematian jentik mungkin juga
disebabkan oleh keberadaan toksin B. thuringiensis dalam
formulasi granuler Vectobac yang mungkin berada di daerah
permukaan air sehingga hal ini sesuai dengan perilaku jentik
Anopheles yang biasa mengambil makanan di daerah permuka-
an air dan jarang mengambil makanan di bawah 12 mm dan
permukaan
(12)
.
yang diisi dengan 200 ml air steril dan Vectobac G.
Makanan jentik berupa serbuk campuran bekatul dan daging
dengan perbandingan 10:4 diberikan sesuai dengan besarnya
instar jentik
(6)
.
Pengamatan terhadap kematian jentik dilakukan 24 jam
setelah aplikasi Vectobac G.
Pada penelitian ini digunakan Rancangan Acak Lengkap
(RAL) dengan 8 perlakuan dan 4 kali ulangan. Untuk memban-
dingkan antar perlakuan digunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ)
dengan taraf kepercayaan 5%.
KESIMPULAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa B. thuringien-
sis H-14 (Vectobac G) efektif membunuh jentik An. barbirostris
pada semua instar baik yang diberi makan ataupun tanpa ma-
kanan campuran bekatul dan daging. Kematian rata-rata jentik
An. barbirostris 24 jam setelah aplikasi B. thuringiensis H-14
berkisar antara 80%100%. Kematian jentik An. barbirostris
instar IV yang dibeni makan serbuk campuran bekatul dan
daging (80%) menunjukkan perbedaan yang bermakna (p<0,05)
dibandingkan dengan 7 perlakuan yang lain (kematian jentik
berkisar antara 98,75%100%).
Penelitian dilakukan di laboratorium Stasiun Penelitian
Vektor Penyakit, Salatiga.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil analisis data kematian jentik An. barbirostris
terlihat ada beda nyata antar perlakuan. Kematian jentik instar IV
pada perlakuan dengan diberi makan serbuk campuran bekatul
dan daging (M
1
I
4
) sebesar 80% berbeda nyata dengan kematian
7 perlakuan yang lain yang berkisar antara 98,75%l00% (p <
0,05) (Tabel 1).
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada DR. MF.
Sustriayu Nalim, Pjh. Kepala Stasiun Penelirian Vektor Penyakit, Salatiga, yang
telah membina dalam penelitian ini, memberikan komentar dan Saran dari
awal hingga selesainya makalah ini.
Tabel 1. Kematian jentik An. barbirostris 24 jam setelah aplikasi B.
thuringiensis H-14 (Vectobac G).
Perlakuan
Kematian jentik An. barbirostris 24 jam setelah aplikasi
B. thuringiensis H-14 (%)*
M
0
I
1
M
0
I
2
M
0
I
3
M
0
I
4
M
1
I
1
M
1
I
2
M
1
I
3
M
1
I
4
100
b
l00
b
99,38
b
98,75
b
100
b
99,38
b
98,75
b
80
a
KEPUSTAKAAN
1. Hoedojo. Bionomics of An. barbirostris Van der Wulp in several areas of
Indonesia. Pros. Kongr. Entomol. Nas. 1987.
2. Lien JC, Kawengian BA, Partono F, Lami B, Cross JH. A brief survey of
the mosquitoes of South Sulawesi, Indonesia, with special reference to the
identification of An. barbirostris (Diptera: Culicidae) from the Margo
lembo area. J. Med. Entomol. 1977; 13(6): 719727.
Keterangan:
* Rata-rata dari 4 kali ulangan. 14 jentik instar [
I
1
I
4
: jentik instar I - IV
M
0
: tanpa
makan.
3. Dit. Jen. P2MPLP. Malaria. 1983.
M
1
: diberi
makan.
4. WHO. Data sheet on the biological control agent. B. thuringiensis serotype
H-14 (de Barjac, 1978). 1979.
Angka-angka yang diikuti huruf tidak sama menunjukkan perbedaan yang ber-
makna pada p < 0,05.
5. Aly C. Feeding behavior of Ae. vecans larvae (Diptera: Culicidae) and its
influence on the effectiveness ofB. thuringiensis var. israelensis. Bull. Soc.
Vector Ecol. 1983; 8(2): 94100.
Efikasi B. thuringiensis H-14 terhadap jentik nyamuk di-
pengaruhi oleh berbagai macam faktor. Berbagai faktor tersebut
antara lain adalah instar jentik, makanan, periode pemaparan
(expose period), kualitas air, strain bakteri, perbedaan kepekaan
masing-masing spesies nyamuk yang diuji, suhu air dan formu-
lasi B. thuringiensis H-14 khususnya tingkat pengendapan
(7,8,9)
.
Selain itu dipengaruhi juga oleh adanya toksin di daerah makan
jentik (larval feeding zone) dan perilaku makan dan spesies
nyamuk sasaran
(10)
.
6. Erlina 5, Sularto, Nalim S. Pengaruh beberapa catu makanan larva pada
pertumbuhan dan angka kematian (mortalitas) larva An. aconitus. Sem.
Parasitol. Nas. & Kongr. P41111, Yogyakarta. 1985.
7. Mulla MS. Darwazeh HA, Aly C. Laboratory and field studies on new
formulations of two microbial control agent against mosquitoes. Bull. Soc.
Vector Rcol.l986; 11(2): 25563.
8. Mian LC, Mulla MS. Factor influencing activity of the microbial agent B.
sphaericus against mosquito larvae. Bull. Soc. Vector aol. 1983; 8(2):
128134.
9. Becker N, Margalit J. Control of Diptera with B. thuringiensis israelensis.
Tersedianya makanan dapat merangsang jentik untuk mema-
kan
(11)
, sehingga kemungkinan juga akan meningkatkan jumlah
B. thuringiensis H-14 yang tertelan. Dalam penelitian terlihat
pada perlakuan M
1
I
1
, M
1
I
2
, M
1
I
3
, dan M
1
I
4
. Sebaliknya pada per-
lakuan yang tidak diberi makan campuran bekatul dan daging
(M
0
I
1
, M
0
I
2
, M
0
I
3
dan M
0
I
4
),kondisi jentik relatif lemah sehingga
kematian jentik tinggi.
10. Mulla MS. Darwazeh HA, Tietze NS. Efficacy of B. sphaerocus 2362
formulations against floodwater mosquitoes. J. Am. Mosq. Assoc. 1988;
4(2): 17274.
11. Larget T. Simulation studies on the persistence of B. thuringiensis H- 14.
WHO/VBC/84.906. 1984.
12. Ragoonansingth RN, Njunwa RJ, Curtis CF. Becker N. A field study of B.
sphaericus for the control of Culicine and Anophelinae mosquitoes larvae
in Tanzania. Bull. Soc. Vector Ecol. 1992; 17(1): 4550.
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
34