background image
HASIL PENELITIAN
Efek Teratogen Fraksi Sisa Ekstrak
Daun Emilia sonchifolia (L)DC in ovo
Almandy A.
Jurusan Farmasi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Andalas, Padang
ABSTRAK
Uji teratogenitas dan toksisitas fraksi sisa ekstrak daun Emilia sonchifolia (L.)
DC telah dilakukan secara in - ovo pada telur puyuh.
Senyawa uji yang telah dilarutkan dengan larutan fisiologis steril dengan
volume 0,05 ml disuntikkan secara aseptic pada telur yang telah diinkubasi selama empat
hari. Kemudian telur diinkubasi sampai hari ke 13. Pada hari ke-14 embrio dikeluarkan.
Sebagian embrio direndam dalam larutan Bouin dan sisanya dalam larutan Alizarin merah.
Hasil menunjukkan bahwa tidak terlibat efek teratogen pada dosis 0.005 - 5,000 mg/
telur. Kematian embrio tergantung pada dosis yang diberikan.
PENDAHULUAN
Tumbuhan Emilia sonchifolia (L) DC secara tradisional di
Sumatera digunakan untuk mengobati demam, nyeri badan,
bisul dan reumatik. Pada pengujian sebelumnya telah diuji pula
efek antiinfamasi dan analgetik tumbuhan ini
(1,2)
.
Dalam usaha penemuan obat baru yang berasal dari
tanaman sebenamya tahap pengujian toksisitas dan keamanan
merupakan tahap awal yang harus dilalui, namun pada
kebanyakan penelitian tahap ini sering dilupakan.
Salah satu uji toksisitas yang disyaratkan derah uji
teratogenitas. Setiap senyawa yang memiliki efek teratogen
dapat dikembangkan menjadi obat dengan peringatan pemakaian
yang keras. Karena itu penelitian teratogen untuk senyawa bakal
obat, kosmetika dan makanan perlu dilakukan pada tahap awal.
Dalam British Pharmacopeia sifat teratogenitas suatu senyawa
obat telah dicantumkan dalam setiap pemberian senyawanya,
namun hal yang sama belum banyak ditemukan dalam
Farmakope Indonesia
Selain dengan cara in-vivo, uji teratogenitas dapat juga
dilakukan dengan cara in-ovo pada telur unggas. Di samping
cara ini dapat memprediksikan sifat toksisitas senyawa uji,
metade in-ovo dapat dilakukan dengan mudah dan biaya yang
murah
(3,4)
.
Makalah ini membahas hasil pengamatan toksisitas dan
teratogenitas senyawa Emilia sonchifolia (L.) DC secara in-ovo
dengan menggunakan telur puyuh sebagsi media uji.
BAHAN
Tanaman yang digunakan diperoleh dari daerah Lubuk
Minturun, Padang dan identifikasi dilakukan di Laboratorium
Taksonomi Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Andalas.
Media uji teratogenitas yang digunakan adalah telur puyuh
fertil jenis Coturnix-coturnix japonica yang dibeli dari
peternakan rakyat di kota Padang.
CARA KERJA
Penyiapan Sampel
Daun tanaman yang sudah dirajang lulus direndam dengan
etanol 96%. Setelah empat bari perendaman, sampel disaring
sehingga diperoleh sari etanol, ampas sampel direndam kembali
dalam etanol. Perlakuan yang sama dilakukan sampai empat kali.
Semua sari etanol dikumpulkan dan diuapkan dengan bantuan
pompa vakum sampai diperoleh sari yang kental. Sari kental
tensebut dikocok dengan petroleum eter dan dipisahkan. Bagian
petroleum dicuci dengan air. Sari air disari dengan kloroform,
dikocok dan dipisahkan, kemudian dicuci dengan air. Semua
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999 27
background image
I
fraksi air dikumpulkan dan diuapkan dengan pompa vakum
sampai diperoleh fraksi sisa yang kental.
Penyiapan Dosis
Fraksi sisa ditimbang masing-masing 2, 4, 40, 400, 1200
dan 2000 mg dan masing-masing dilarutkan dalam larutan
Natrium Klorida steri10.9%sampai volume 20 ml. Senyawa uji
diatas dibaikan masing-masing sebanyak0,05 ml/telur sehingga
dosis yang diberikan adalah 0,(05; 0,010; 0,1;1,000; 3,000 dan
5,000. Dap kelompok dosis menggunakan tujuh both talur.
Pemberian Senyawa Uji
Senyawa uji diberikan pada hari ke-4 setelah inkubasi
dengan cara menyuntikan pada kuning telur. Bekas suntikan
ditutup dengan lilin steril. Telur diinkubasi sampai hari ke-13
pada suhu 38° - 39°C dengan kelembaban 65 - 80%. Pada hari
ke-14 inkubasi embrio dikeluarkan. Embrio dicuci, dikeringkan,
dan ditimbang. Sebagian direndam dalam larutan Bouin selama
14 hari untuk pengamatan bagian dalam nbuh dan sebagian
dengan larutan Alizarin selama 3 hari untuk pengamatan
pertulangan
(5,6,7)
.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari 2,4 kg daun segar diperoleh fraksi sisa sebanyak 30,5
gram ekstrak kental. Fraksi sisa digunakan karena dari penelitian
terdahulu atas sejumlah fraksi ternyata fraksi sisa yang
menunjukkan efek farmakologis
(1,2)
.
Perlakuan secara in-ovo dilaksanakan dalam kondisi aseptis
agar kontaminasi mikroba yang mungkin menyebabkan kelainan
pada embrio dapat dihindari.
Hubungan berat badan embrio dengan dosis yang diberikan
dapat dilihat pada Tabel 1. Terlihat bahwa makin besar dosis
yang diberikan makin berkurang berat embrio. Berat embrio pada
kelompok kontrol (yang hanya diberi larutan fisiologis) dan
normal (yang tidak diberi apa-apa) secara statistik tidak
menunjukkan perbedaan yang berarti. Berat embrio dalam
pengamaan teratologi perlu diamati karena terdapat hubungan
kecacatan yang timbul dengan pengurangan berat
(8)
.
Tabel 1. Pengaruh peningkatan dosis terhadap persentase berat
rata-rata
embrio
(n=7)
Dosis
(mg/telur)
Persentase berat
Embrio rata-rata
Kontrol
Normal
0,005
0,010
0,100
1,000
3,000
5,000
57,93
57,96
57,98
58,00
58,21
58,03
57,85
57,17
Pengaruh peningkatan dosis terhadap kematian embrio dapat
dilihat pada Tabel 2. Pada kelompok kontrol dan normal serta
kelompok dosis 0,005 tidak menunjukkan kematian embrio;
dosis 0,01 sampai dosis 5 mg/telur menunjukkan persentae
kematian yang
meningkat.
Tabel 1. Pengaruh peningkatan dasis terhadap persen kematian
(n=7)
Dosis
(mg/telur)
Persentase berat
Embrio rata-rata
Kontrol
Normal
0,005
0,010
0,100
1,000
3,000
5,000
00,00
00,00
00,00
14,29
40,00
71,43
84,62
91,67
Hasil fiksasi dengan larutan Bouin dan Alizarin tidak
menunjukkan kelainan. Parameter yang diamati pada kelompok
yang direndam dengan larutan Bouin adalah langit-langit,
hati, ampela, serta kelompok mata dan bagian dalam perut.
Parameter yang diamati pada kelompok yang diperlakukan
dengan larutan Alizarin adalah semen pertulangan seperti tulang
kepala, rasa. sayap, tulang belakang dan tungkai sata tulang
jari, juga tidak menunjukkan kelainan.
Hasil pengamatan anti menunjukkan bahwa senyawa yang
dibaikan tidak menunjukkan adanya sifat teratogen, kecuali
kematian. Kematian dapat disebabkan sifat toksik senyawa
terhadap sel yang tumbuh secana bedebihan sementara terato-
gen disebabkan oleh gangguan senyawa terhadap bagian sel yang
penting pada masa organogenesis.
KESIMPULAN
·
Fraksi sisa ekstrak daun Emilia soncchifolia (L.) DC pada
dosis 0,005-5,000 mg/telur tidak memberikan efek teratogen
pada embrio telur puyuh.
·
Peningkatan dosis fraksi sisa ekstrak daun Emilia sonchtfolia
(L.) DC dengan dosis 0,005-5,000 mg/telur meningkatkan
persentase kematian embrio puyuh.
KEPUSTAKAAN
1. Bend W. Uji efek Antiinflamasi ekstrak Daun Emilia sonchifolia (L)
DC pada Mencit. Skripsi Sarjana Farmasi. FMIPA Unand. Padang 1992.
2. Nofimaldi, Uji efek Analgetik ekstrak Daun Emilia sonchifolia (L) DC
pada Mencit dengan metode Writing Test dan Tail Flik. Skripsi Sarjana
Farmasi, FMIPA Unand. Padang. 1993.
3. Kemper FH. Luepe NP Toxicity Testing by The Hens Egg Test (HET),
Fed Chem Toxic, 1986; 28 :6474
4. Karnofsky DA. The Chick Embryo in Drug Screening : Survey of
Teratological Effect Observed in The 4­day Chick Embryo, Stan Med
Bull 1965; 13: 194­201.
5. McManus JF. Staining Methods Histologic ad Histochemical. New
York: Harper & Row, 1964.
6. Wilson JG. Hand Book of Teratology. New York, Plenum Press. 1978.
7. Herbison RD, Teratogen, in : Cassaret and Douls Toxicology. New York:
McMillan Pub Coy; 1986
8. Castalo PJ. et al. Relationship between Fetal Weight and Mal-
formation in Developmental Abnormalities, Toxic And Appl Pharm.
1991; 119: 156­165,
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999
28