background image
30
Diagnostik Talasemia dan
Kepentingannya
Sunarto
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
RSUP DR. Sardjito, Yogyakarta
PENDAHULUAN
Talasemia adalah anemi hemolitik herediter yang dise-
babkan oleh kurang atau tidak adanya sintesis rantai globin yang
merupakan penyusun hemoglobin (Hb). Karena ada 4 macam
rantai globin, yaitu , , , dan yang merupakan penyusun Hb
setelah lahir, maka dikenal talasemia , , , dan . Di samping
itu ada bentuk campuran, seperti talasemia . Dua bentuk
talasemia yang mempunyai arti klinik ­ karena menimbulkan
gejala ­ adalah talasemia- dan talasemia-. Karena sifat resesif
dari gena globin dan pewarisannya menurut hukum Mendel
autosomal, maka hanya bentuk homozigot yang menimbulkan
masalah klinik.
Di samping talasemia, Hb E merupakan stigma di Asia
Tenggara. Sebenarnya HbE homozigot hanya menunjukkan ge-
jala Minis anemia ringan, tetapi bila Hb E berinteraksi dengan
talasemia-(3 sehingga terjadi heterozigot campuran (compound
heterozygote = penyakit tal. /Hb E), maka penderita akan me-
nunjukkan gejala klinis seperti talasemia mayor, meskipun
biasanya lebih ringan. Interaksi antar tipe talasemia atau antara
talasemia dan hemoglobinopati lain dapat kompleks sehingga
memerlukan uji laboratorium yang kompleks pula
(1)
.
Dalam makalah ini akan dibicarakan uji diagnostik pada
talasemia, manfaatnya untuk mengenal kasus dan dampaknya
terhadap penanggulangan talasemia.
UJI LABORATORIUM PADA TALASEMIA
Berbagai uji laboratorium diperlukan untuk diagnostik sin-
drom talasemia, mulai dari uji darah sederhana, indeks hemato-
logik, morfologi eritrosit dan jumlah retikulosit yang semuanya
termasuk pemeriksaan rutin; selanjutnya fragilitas eritrosit yang
sangat mudah untuk dilaksanakan, pemeriksaan Hb F, Hb A2, Hb
E dan elektroforesis yang memerlukan peralatan tidak terlalu
canggih sampai analisis sintesis globin dan analisis DNA yang
lebih canggih
(2,3)
, beberapa di antaranya seperti tertera di bawah.
Preparat apus darah tepi sindrom talasemia menunjukkan
kelainan yang jelas, berupa anisositosis yang nyata, hipokromi,
poikilositosis, bentuk sel tak keruan (bizarre cell), fragmented
cell, normoblas (asidofil) kadang sampai banyak sekali sehingga
mempertinggi jumlah leukosit, basophilic stippling; sel target
(menyolok pada Hb E homozigot); retikulosit meningkat. Ada-
nya inclusion bodies dalam eritrosit pada pengecatan dengan
brilliant cresyl blue atau methylene blue merupakan kriteria
diagnostik penyakit Hb H
(1)
.
Mean corpuscular volume (MCV) dan mean corpuscular
hemoglobin (MCH) bersama fragilitas osmotik merupakan uji
saring yang sederhana dan cepat
(3)
. Bain
(4)
melaporkan pada
wanita hamil, MCV kurang dari 83 uu3 dapat dipakai sebagai uji
saring awal trait talasemia- dengan sensitivitas amat tinggi.
Demikian pula MCH <26uug. Sayang sekali nilai-nilai itu hanya
Key words : - and -thalassemia ­ routine tests ­ globin synthesis and DNA analysis ­
thalassemia diagnosis ­ thalassemia control program.
background image
31
dapat diandalkan bila diperoleh dengan electronic counter.
Pemeriksaan yang setara dengan nilai MCV dan MCH adalah
pemeriksaan mikroskopik preparat apus darah tepi dengan pe-
ngecatan Giemsa, Wright, May-Grunwald atau May-Grunwald-
Giemsa. Adanya mikrositosis dan hipokromi harus mengingat-
kan kita kepada trait talasemia di samping anemi defisiensi
besi
(2,3)
.
Uji fragilitas osmotik satu tabung dengan 0,36% larutan
salin terbufer mudah sekali dikerjakan dan mempunyai arti yang
sangat penting sebagai uji saring: pada orang normal lebih dari
96% eritrosit akan terhemolisis, sedangkan pada penderita
talasemia atau trait banyak eritrosit tidak mengalami hemolisis
osmotik
(3)
.
Inclusion bodies dalam eritrosit merupakan kelebihan globin-
dan dapat diperlihatkan dengan pengecatan methylene blue
(tampak bulat, terdistribusi tak rata) atau dengan brilliant cresyl
blue (tampak berukuran sama dan rata terdistribusi). Uji ini
merupakan kriteria diagnostik penyakit Hb H
(3)
. Inclusion
bodies juga terdapat pada talasemia- pasca splenektomi
(1)
.
Hb F diperiksa dengan memanfaatkan sifat resistennya
terhadap asam dan alkali kuat. Secara mikroskopik, pada preparat
apus darah tepi yang dipaparkan pada larutan asam semua Hb
kecuali Hb F akan terelusi keluar, sehingga eritrosit yang me-
ngandung banyak Hb F akan tampak oranye atau merah dengan
pengecatan eosin atau tampak biru tua dengan pengecatan amido
black; sel yang tidak mengandung Hb F tampak pucat sehingga
dinamakan ghost cell. Normal kurang dari 8% eritrosit memper-
lihatkan pengecatan positif ringan; pada talasemia- banyak
sekali eritrosit tercat dengan intensitas tak sama antar sel, sedang
pada high persistent fetal hemoglobin (HPFH) kcnaikan Hb F
merata pada semua eritrosit
(2)
. Pemeriksaan Hb F spektrofoto-
metrik metode Pembrey (modifikasi dari metode dua-menit
Betke) memberi basil yang reproducible pada kadar Hb F
0,5­50%, sedangkan untuk kadar Hb F di atas 50% metode
Jonxis dan Visser lebih baik
(1)
. Hb F meninggi pada 50% trait
talasemia-, tetapi ini tidak punya anti diagnostik. Hb F amat
meningkat pada talasemia- homozigot dan pada HPFH
(3)
.
Elektroforesis Hb memegang pecan sangat penting pada
diagnostik sindrom talasemia
(1)
. Elcktroforesis dapat memisah-
misahkan berbagai jenis hemoglobin. Prinsip elektroforesis adalah
memanfaatkan sifatamfoter dari globin sebagai molekul protein.
Rantai globin ­ dari Hb normal maupun abnormal ­ mempu-
nyai muatan listrik dengan kekuatan yang berbeda-beda. Bila
hemolisat eritrosit ditaruh dalam medan listrik, maka berbagai
macam Hb akan bergerak ke arah salah satu kutub dengan
kecepatan yang berbeda-beda tergantung dari muatan listriknya,
sehingga dalam waktu tertentu akan terpisah satu sama lain.
Dalam praktek biasanya dipakai lempeng selulose asetat sebagai
supporting medium, meskipun mungkin starch gel medium Iebih
baik
(1)
.
Dengan elektroforesis, Hb A2, Hb E dan lain-lain Hb dapat
ditentukan secara kuantitatif dengan cara mengelusi pita-pita
basil elektroforesis. Prosedur ini secara teknis rumit sedang
penentuan dengan densitometer (scanner) kurang dapat diandal-
kan
(2,3)
.
Elektroforesis juga digunakan untuk memisah-misahkan
fragmen deozynucleic acid (DNA) dengan ukuran panjang yang
berbeda-beda pada analisis DNA.
Kromatografi mikrokolom merupakan cara yang mudah
dan memuaskan untuk menentukan Hb A2 dan Hb E. Nilai
normal adalah 1,5%­3,5% dengan rerata 2,28%; pada trait
talasemia- berkisar 3,6%­7,8% dengan rerata 5,2%, sedangkan
pada Hb E homozigot berkisar antara 25% sampai 30%
(2,3)
.
Uji
prespitasi DCIP (dichlorophenolindolphenol)
digunakan untuk uji saring Hb E. Molekul Hb E akan mengalami
disosiasi dan presipitasi bila diinkubasikan dengan cat tersebut
pada 37°C. Timbulnya banyak endapan pada dasar tabung me-
nunjukkan Hb E homozigot, sedangkan kekeruhan atau endapan
ringan terdapat pada Hb E heterozigot, penyakit Hb H dan
penyakit tal- /Hb E. Kekeruhan juga terdapat pada normal,
defisiensi besi, trait talasemia dan hemoglobin Constant Spring
(Hb CS)
(3)
.
Analisis sintesis rantai globin adalah pemeriksaan laborato-
rium yang secara tegas membuktikan ketidakseimbangan pro-
duksi rantai globin pada talasemia. Rantai globin masih disintesis
oleh retikulosit, sehingga sintesis rantai itu dapat diukur secara
in vitro pada eritrositdarah tepi
(1,5,6,7,8)
. Pada prosedur ini eritrosit
diinkubasikan dengan leucin radioaktif selama waktu tertentu,
kemudian dicuci, dilisiskan dan rantai-rantai globin dipisahkan
dengan kromatografi kolom. Jumlah radioaktivitas yang terikat
pada masing-masing jenis rantai globin menunjukkan besarnya
sintesis selama masa percobaan itu.
Gambar 1 memperlihatkan analisis sintesis rantai , dan
pada normal dan pada talasemia
(1)
.
Analisis DNA adalah teknik pemeriksaan yang relatif baru.
Pada prosedur ini DNA yang dianalisis bisa dari sel apa saja,
karena setiap sel dari suatu individu mengandung semua gena/
DNA yang ada pada individu tersebut, tetapi gena tertentu hanya
berfungsi pada organ tertentu; misalnya gena yang menyandi
insulin hanya berfungsi pada sel- Langerhans, gena globin da-
lam eritrosit saja yang berfungsi membentuk rantai globin. Ka-
rena itu analisis DNA untuk mendeteksi mutasi pada gena globin
dapat dilakukan pada leukosit polimorfonuklear, fibroblas, sel
epitel pipi dan sebagainya
(9)
, bahkan pada darah kering
(10)
.
Terhadap DNA dapat dilakukan pemeriksaan
(1,11,12)
:
1. Deteksi direk delesi gena : dengan analisis Southern blot
delesi gen- pada talasemia- ° heterozigot dapat digunakan
probe gen-C, dan pada talasemia-
+
dan talasemia-a° homozigot
dengan menggunakan probe gen-.
2. Deteksi direk gena mutan dengan enzim endonuklease restrik-
tif : endonuklease restriktif­ suatu enzim berasal dari bakteri ­
memotong DNA pada tempat tertentu. Ragmen yang dihasilkan
mempunyai ukuran bermacam-macam dan dapat dipisah-pisahkan
dengan elcktroforesis. Apabila suatu mutasi menyebabkan hi-
langnya suatu sisi restriksi (restriction site) dalam gena, maka
suatu fragmen restriksi dengan ukuran berbeda akan muncul dan
ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya abnormalitas
gena.
3. Deteksi mutasi dengan probe oligonukletida sintetik : bila
mutasi telah diketahui, maka suatu probe oligonukleotida ­ yaitu
background image
32
Gambar 1. Sintesis rantai globin: pada orang normal sintesis globin- dan - seimbang; pada
talasemia- globin- << globin-
(1)
.
suatu untai DNA yang komplementer dengan DNA mutan ­
dapat disintesis. Oligonukleotida tersebut akan mengidentifikasi
mutan secara langsung.
4) Deteksi mutasi dengan linkage analysis : cara ini dapat di-
gunakan bila mutasi tidak dikenal. Seperti di atas, endonuklease
restriksi menghasilkan fragmen dengan berbagai ukuran pan-
jang. Beberapa tempat pemotongan adalah polimorfik dan sifat
ini diwariskan menurut hukum Mendel; restriction fragment
length polymorphism (RFLP). Jika lokus mutan terkait terhadap
polimorfisme, maka analisis DNA dari orang tua dan lain-lain
anggota keluarga mengenai polimorfisme tcrsebut dapat meng-
identifikasi apakah anak atau janin mewarisi mutasi tersebut.
Untuk dapat dianalisis jumlah DNA harus cukup. Dari
cuplikan yang hanya sedikit, DNA dapat diperbanyak dengan
cloning
(13,14)
atau dengan polymerase chain reaction (PCR).
Kloninggen memerlukan waktu sampai 10 hari, sedangkan pro-
sedur PCR hanya memerlukan waktu beberapa jam
(15,16,17,18)
.
Prinsip cara ini adalah: oligonukleotida sintetik yang komple-
menter dengan suatu segmen DNA/gena dapat bertindak sebagai
primgr yang dapat mengamplifikasi gena itu secara enzimatik in
vitro, sehingga dari satu untai DNA dapat diperbanyak menjadi
> 10
6
kali.
Suatu prosedur yang baru-baru ini dikembangkan adalah
deteksi mutan secara langsung dengan cara amplification refrac-
tory mutation system (ARMS). Prinsip cara ini adalah: hanya
primer yang komplementer dengan urutan DNA mutan yang
dapat mengamplifikasikan segmen DNA target
(19,20)
.
Jika mutan
yang diteliti memang komplementer dengan primer yang di-
pakai, maka akan terjadi amplifikasi, sebaliknya tidak terjadi-
nya amplifikasi berarti mutan yang diteliti tidak komplementer
dengan primer yang dipakai, sehingga percobaan harus dilanjut-
kan lagi dengan primer yang lain. DNA produk amplifikasi di-
elektroforesis dan selanjutnya dibaca dengan probe radioaktif
atau divisualisasikan dengan pengecatan etidium bromida.
Gambar 2 memperlihatkan basil analisis DNA pada talasemia-
(21)
.
Uji-uji laboratorium di atas diperlukan sesuai dengan ke-
pcntingannya seperti dibicarakan di bawah.
TALASEMIA MAYOR
Diagnosis talasemia mayor khususnya talasemia-P° biasa-
nya tidak sulit, karena gejala kliniknya yang khas berupa kega-
background image
33
a
b
Gambar 2. Pola elektroforesis DNA hasil PCR prosedur ARMS :
i
Marker
OX
174
Hae
III digested; ii blanko:
a.
iii
sampel
+
primer
IVS1­Nt5 mutan ­> amplifikasi (pita 285bp)
iv sampel + primer IVSI­Nt5 normal ­> amplifikasi negatif
Kesimpulan
:
homozigot
IVS1­Nt5mutan/IVSI­Nt5mutan
b. iii sampel + primer IVSI­Nt5 mutan ­> amplifikasi (pita 285bp)
iv sampel + primer IVS1­Nt5 normal ­> hasil idem
Kesimpulan : heterozigotIVSI­Nt5mu.
,
n/IVS1­Nt5normal
Pita
861
bp
=
hasil amplifikasi dengan primer kontrol (untuk mengontrol apakah
PCR efektif).
galan pertumbuhan, anemi sedang sampai berat, mungkin ikterus
ringan, wajah mongoloid, rodent like mouth mungkin tampak,
(hepato) splenomegali yang bisa masif; tulang mengalami per-
ubahan, kortek menjadi tipis, medula porosis. Kedua orang tua
sebagai trait mempunyai Hb A2 yang meningkat. Elektroforesis
memastikan ada/tidaknya HbE atau Hb patologik yang lain.
Untuk pemantauan hemosiderosis perlu pcmeriksaan kadar
besi serum, kapasitas ikat besi (IBC) laten, kadar feritin. Pe-
nimbunan besi pada jaringan dapat dilihat dari pungsi sumsum
tulang.
Penderita penyakit tal-R/HbE umumnya memperlihatkan
gejala sama dengan talasemia mayor, meskipun lebih ringan.
Pada elektroforesis ditcmukan HbF meningkat dan pita Hb E.
Diagnosis talasemia mayor dan Hb E cukup dengan uji
laboratorium rutin, kadar Hb F, anal isis HbA2 pada orang tua dan
mungkin elektroforesis. Dalam praktek analisis sintesis globin
tidak dikerjakan terhadap penderita talasemia, tetapi analisis
DNA penderita banyak dilakukan karena diperlukan untuk
memperoleh informasi, khususnya macam-macam mutasi yang
ada pada populasi/ras tertentu
(20,22,23,24,25)
.
Pola mutasi ini sangat
diperlukan untuk kepentingan diagnosis prenatal.
TALASEMIA MINOR (HETEROZIGOT, TRAIT ATAU
PEMBAWA BAKAT
Talasemia minor tidak menimbulkan masalah klinis, biasa-
nya anemi ringan, kadar Hb rata-rata 1­2 g% di bawah nilai
normal, indeks hematologik menunjukkan volume rata-rata
eritrosit (MCV) dan hemoglobin per eritrosit rata-rata (MCH) di
bawah normal
(4)
seperti anemia defisiensi besi. Diagnosis tala-
semia minor diperlukan untuk mcnerangkan atau meramalkan
pola pewarisan pada keluarga dan untuk kepentingan konsultasi
pranikah. Gambar 3 memperlihatkan tata alir penelusuran diag-
nosis trait talasemia.
TALASEMIA INTERMEDIA
Ini suatu istilah klinis untuk bentuk talasemia dengan ber-
background image
34
Gambar 3. Pola uji saring talasemia di lapangan
(3)
bagai variasi spektrum klinik. Genotipik dapat : talasemia-
+
,
talasemia- dan HPFH, interaksi talasemia- atau dengan
Hb S, C, E dan lain-lain, talasemia- heterozigot berat, tala-
semia-, interaksi talasemia- dengan - talasemia- atau -
dengan komplikasi kelainan akuisita
(1)
. Untuk diagnosis kasus-
kasus demikian diperlukan analisis DNA dan penelusuran
pedigree
(1,2)
.
DIAGNOSIS PRENATAL
Pada penanggulangan talasemia diagnosis prenatal sangat
penting peranannya. Diagnosis prenatal dapat dilakukan dengan:
1) analisis sintesis globin in vitro, 2) analisis DNA
(9)
.
Dari 0,5 ml darah fetal yang diperoleh pada fetal blood
sampling dapat dilakukan analisis sintesis rantai globin. Analisis
sintesis globin merupakan uji yang sangat reliabel, sampai 99%
ketepatan
(9)
; sayang fetal blood sampling baru dapat dilaksanakan
setelah minggu ke-16 kehamilan. Pada janin 9­22 minggu rasio
0/y normal adalah > 0,10, pada trait talasemia-(3 dan trait HbE
0,06­0,10, pada talasemia- homozigot dan tal- /HbE 0,03­
0,04, pada HbE homozigot 0,045
(18)
.
Penelitian molekular hemoglobin telah demikian maju,
sehingga struktur molekular dan urutan DNA Hb normal dan
berbagai Hb patologik telah diketahui
(12,26)
. Ini membawa dam-
pak yang sangat penting bagi diagnosis prenatal, karena dengan
ini dimungkinkan menganalisis cuplikan jaringan janin yang
dapat diperoleh pada trimester pertama (minggu ke-8) kehamilan
dengan chorionic villus sampling (CVS). Dengan prosedur PCR,
sejumlah amat kecil dari cuplikan itu dapat diamplifikasi untuk
dianalisis. Prosedur diagnosis ini memerlukan waktu hanya
12­24 jam
(18,19)
.
Cara ini dapat digunakan untuk mendeteksi
hidrop fetalis Hb Bart dan mutasi talasemia-.
Bila telah diketahui macam-macam mutasi genetik dalam
suatu populasi maka dengan menggunakan primer ARMS yang
sesuai adanya mutasi gen dapat diketahui dengan mudah dan
cepat
(19,20)
.
DAMPAK TERHADAP PENANGGULANGAN
Kemajuan diagnostik talasemia telah memberi manfaat yang
nyata pada program penanggulangan talasemia, terutama dalam
pencegahan lahirnya bayi talasemia homozigot. Prevensi tala-
semia pada mulanya tidak efektif, hanya dengan upaya menu-
runkan lahirnya talasemia homozigot dengan mengubah pola
perkawinan antar heterozigot. Studi di Eropa dan Mediterania
pada tahun 70-an telah membuktikan bahwa penanggulangan
talasemia dengan menyertakan diagnosis prenatal amat efektif
(9)
.
Diagnosis antenatal telah mengurangi 50% kelahiran talasemia
homozigot di Yunani, 60% di Sardinia, 92% di Cyprus, 90% di
Italia utara dalam 5 tahun
(27,28)
. Dengan dicapainya kemajuan
dalam diagnostik pada trimester pertama kehamilan, 99% dari
pasangan di Sardinia mau menerima diagnosis prenatal sebagai
cara untuk memantau janin yang menderita talasemia
(29)
.
KESIMPULAN
Kemajuan dalam pemahaman patogenesis talasemia, struktur
molekular Hb dan kemajuan teknik laboratorium telah mem-
bawa kemajuan besar dalam diagnostik talasemia. Diagnostik
talasemia makin tinggi sensitivitas dan spesifisitasnya, makin
mudah dilaksanakan dan makin praktis untuk dilaksanakan baik
untuk kepentingan klinik maupun lapangan. Diagnosis prenatal
bermanfaat besar dan selanjutnya membawa dampak keberhasil-
an mencegah kelahiran talasemia homozigot.
background image
35
KEPUSTAKAAN
1. Weatherall DJ, Clegg JB. The Thalassemia Syndromes. 3rd ed. London:
Blackwell Scient Publ, 1980.
2. Kaufman RE. Analysis of abnormal hemoglobins. In: Kocpke, JA. eds.
Practical Hematology. 1st ed. New York: Churchill Livingstone Inc, 1991.
pp 251-294.
3. Organizing Committee (eds). Manual of Laboratory Diagnosis. Workshop
on Laboratory Diagnosis of Thalassemia and Hemoglobinopathies Includ-
ing Prenatal Diagnosis. Jakarta, 1992.
4. Bain JB. Screening of antenatal patients in a multiethnic community for
thalassemia trait. J Clin Pathol 1988; 41: 481-5.
5. Conconni F, Bargellesi A, Del Senno L, Menegatti E, Pontremoli S, Russo
G. Globin chain synthesis in Sicilian thalassemic subjects. Brit J Ilaematol
1970; 19: 469-75.
6. Friedman SI-I, Schwartz E, Ahem V, Ahem E. Globin synthesis in the
Jamaican Negro with 13-thalassemia. Brit J Haematol 1974; 28: 505-13.
7. Kazazian HH, Ginder GD, Snyder PG, Van Beneden RJ, Woodhead AP.
Further evidence of quantitative deficiency of chain-specific globin mRNA
in thalassemia syndromes. Proc Nall Acad Sci USA 1975; 72: 567-71.
8. Nienhuis AW, Turner P, Benz Jr EJ. Relative stability of a- and (l-globin
messengerRNAs in homozygous
+
-thalassemia. Proc Natl Acad Sci USA
1977; 74: 3960-64.
9. Wong HB. Prenatal diagnosis of some haematological genetic diseases.
Konas V PHTDI - Semarang, 1986.
10. Huang SZ, Zhou XD, Zhu H, Ren ZR, Zeng YT. Detection of thalassemia
mutations in Chinese using amplified DNA from dried blood specimens
Hum Genet 1989; 84: 129-31.
11. Todd D, Chan V. The thalassemia an update. Med Progr 1989; 16: 51-62.
12. Bunn HF, Forget BG. Hemoglobin : Molecular, Genetic and Clinical
Aspects. 1st ed. Philadelphia: WB Saunders Co, 1986. pp 225-305.
13. Chan F, Chan TK, Kn YW, Todd D. A novel -thalassemia frameshift
mutation (codon 14/15), detectable by direact visualization of abnormal
restriction fragment in amplified genomic DNA. Blood 1988; 72: 1420-3.
14. Fucharoen S, Kobayashi Y, Fucharoen G et al. A single nucleotide deletion
in codon 123 of -globin gene cat ses an inclusion body -thalassaemia
trait : a novel elongated globin chain
Makabe
. Brit J Haematol 1990; 75:
393­9.
15. Saiki RK, Gelfand DH, Stoffel Set al. Primer directed enzymatic amplifi-
cation of DNA with a thermostable DNA polymerase. Science 1988; 239:
487-91.
16. Amheim N, Levenson CH. Polymerase chain reaction. C and En: Special
Report 1989; 17: 36-47.
17. Wong C, Dowling CE, Saiki RK, Iliguchi RG, Erlich HA, Kazazian Jr HH.
Characterization of 5-thalassemiamutations using direct genomic sequenc-
ing of amplified single copy DNA. Nature 1987; 330: 384-6.
18. Fucharoen S, Winichagoon P, Thonglairoam V et al. Prenatal diagnosis of
thalassemia and hemoglobinopathies in Thailand : Experiences from 100
pregnancies. Southeast Asian J Trop Med Publ Health 1991; 22: 16-29.
19. Old JM, Varawalla NY, Weatherall DJ. Rapid detection and prenatal
diagnosis of 13-thalassemia: studies in Indian and Cypriot populations in the
UK. Lancet 1990; II: 834-37.
20. Varawalla NY, Old JM, Sarkar R, Venkatesan R, Weatherall DJ. The
spectrum of -thalassemia mutations on the Indian subcontinent: the basis
for prenatal diagnosis. Brit J Haematol 1991; 78: 242-7.
21. Lani F.DeteksiMutasiGenaPenderitaThalasemia- di RSUP DR Sardjito
Yogyakarta. Tesis S2 - UGM 1991.
22. Winichagoon P, Fucharoen S, Thonglairoam V, Tanapotiwirut V, Wasi P.
-thalassemia in Thailand Ann NY Acad Sci 1990; 612: 31-42.
23. Winichagoon P, Thonglairoam V, Fucharoen S, Tanpaichito VS, Wasi P.
-thalassemia in Thailand. Hemoglobin 1988; 12: 485-98.
24. Chan V, Chan TK, Chebab FF, Todd D. Distribution of -thalassemia
mutations in South China and their association with haplotypes. Hum Genet
1987; 41: 678-85.
25. Lie-Injo LE, Cai SP, Wahidiyat I et al. -thalassemia mutations in Indonesia
and their linkage to -haplotype. Am J Hum Genet 1989; 45: 971-5.
26. Vogel F, Motulsky AG. Human Genetics Problem and Approaches. 2nd ed.
Berlin: Springer-Verlag, 1986.
27. WHO. Community control of hereditary anaemias: Memorandum from
WHO meeting. Bull WHO 1983; 61:63-80.
28. Angastiniotis MA, Hadjiminas MG. Prevention of thalwemia in Cyprus.
Lancet 1981; I: 369-71.
29. Clegg JB. Prenatal diagnosis of haemoglobinopathies. Semiloka Tha-
lassemia : Thalassemia Sebagai Masalah Kesehatan. Yogyakarta, 1993.
Lack of money is the root of alt evil
(Mark Twain)