background image
ULASAN
Berbagai Cara Pemberantasan
Larva Aedes aegypti
Hadi Suwasono
Stasiun Penelitian Vektor Penyakit, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Drepartemen Kesehatan RI, Salatiga, Indonesiaa
PENDAHULUAN
Sejak terjadinya wabah Demam Berdarah Dengue (DBD)
pertama kali di Surabaya pada tahun 1968, penyakit ini hingga
sekarang menurut laporan DitJen. PPM dan PLP telah tersebar di
27 propinsi di Indonesia. Dari 300 kabupaten di 27 propinsi pada
tahun 1988 tercatat 45.79 1 penderita dengan 1.432 kematian
(1)
.
Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini
sampai sekarang belum ditemukan obat/vaksinnya sehingga
salah satu cara pencegahannya adalah memberantas vektornya.
Vektor DBD ini mempunyai tempat perkembangbiakan yang
terbatas yakni di lingkungan tempat tinggal manusia terutama di
dalam rumah meskipun dapat pula di luar rumah. Berdasarkan
hal tersebut maka pemberantasan vektor DBD stadium pra-
dewasa relatif lebih mudah daripada stadium dewasanya. Pem-
berantasan stadium pradewasa dapat dilakukan secara hayati
atau kimiawi.
Dalam makalah ini ditinjau berbagai cara pemberantasan
baik hayati maupun kimiawi yang pernah dilakukan/diteliti
terhadap larva Ae. aegypti.
PEMBERANTASAN SECARA KIMIAWI
Mengingat tempat perkembangbiakan larva vektor DBD
pada penampungan air yang airnya digunakan bagi kebutuhan
sehari-hari terutama untuk minum dan masak, maka larvisida
yang digunakan harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
efektif pada dosis rendah, tidak bersifat racun bagi manusia/
mamalia, tidak menyebabkan perubahan rasa, warna dan bau
pada air yang diperlakukan, dan efektivitasnya lama.
Beberapa larvisida dengan kriteria seperti tersebut di atas
sebagian telah digunakan secara luas (operasional) dan sebagian
lainnya masih dalam tahap uji laboratorium atau uji lapangan
skala kecil.
1) Temephos (Abate)
Larvisida ini terbukti efektif terhadap larva Ae. aegypti dan
daya racunnya rendah terhadap mamalia
(2)
. Pada program pe-
nanggulangan vektor DBD di Indonesia, temephos sudah diguna-
kan sejak 1976 dalam bentuk (formulasi) butiran pasir (sand
granules) dengan dosis 1 ppm.
2) Methoprene (OMS-1697)
Pada uji lapangan yang dilakukan oleh ten Houten dkk
(3)
di
daerah Jakarta Utara ternyata methoprene berhasil menekan ke-
padatan nyamuk Ae. aegypti yang menggigitJhinggap pada orang
dan munculnya nyamuk tersebut selama sebulan. Larvisida ini
termasuk jenis penghambat tumbuh serangga (insect growth
regulator).
3) Diflubenzuron (OMS-1804)
Penggunaan larvisida ini pada tempat penampungan air
(tempayan) berhasil mengendalikan larva Ae. aegypti selama 18
minggu
(4)
.
4) Triflumuron (OMS-2015)
Larvisida jenis penghambat tumbuh serangga ini efektivi-
tasnya telah dibuktikan
(5)
. Pada uji laboratorium, dosis 1 ppm
berhasil menekan perkembangan pupa Ae. aegypti menjadi de-
wasa selama 8 minggu. Uji lapangan pada dosis 0,075 ppm
ternyata berhasil menurunkan populasi Ae. aegypti sampai 2
minggu setelah perlakuan.
5) Vetrazin (OMS-2014)
Uji laboratorium dan lapangan ventrazin terhadap larva Ae.
aegypti membuktikan bahwa LC50 nya terhadap Ae. aegypti
sebesar 0,48 mg/I (laboratorium) sedang efektivitasnya di la-
pangan sama dengan methoprene
(6)
.
Selain senyawa-senyawa kimia sintetis seperti tersebut di
atas terdapat pula senyawa-senyawa kimia yang berasal dari
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
32
background image
alam yakni dan beberapa tumbuh-tumbuhan. Senyawa-senyawa
tersebut dapat terkandung di akar, batang, daun, buah atau biji
dan tumbuh-tumbuhan tersebut. Monzon dkk
(7)
meneliti 5
spesies tumbuhan yang diduga berpotensi larvisida terhadap
larva Ae. aegypti dan Culex quinquefasciatus. Salah satu di
antaranya adalah Langsap (Lansium domesticum). Ekstrak kasar
daun tumbuhan tersebut mempunyai LD9O terhadap larva Ae.
aegypti instar 1 sebesar 16,33 16 g%. Nilai tersebut paling
kecil di antara nilai LD9O 4 jenis tumbuhan lain yang diteliti;
dengan kata lain daun Langsap mengandung senyawa yang
berpotensi besar sebagai larvisida bagi larva Ae. aegypti.
Penelitian menggunakan tumbuh-tumbuhan lain telah di-
lakukan di laboratorium mereka menggunakan juice Bawang
merah (Allium cepa); dosis 5­25% tampaknya dapat menyebab-
kan kematian larva Ae. aegypti instar III sedang dosis 1%
memacu pertumbuhan pradewasanya. Penelitian daya bunuh
ekstrak biji Jarak (Ricinus communis) terhadap larva Ae. aegypti
di laboratorium menunjukkan bahwa dosis-dosis 500 ppm; 750
ppm; 1.000 ppm; 1.250 ppm dan 1.500 ppm menyebabkan ke-
matian larva Ae. aegypti instar III berturut-turut sebesar 16%;
65%; 71%; 86% dan 77%
(9)
.
PEMBERANTASAN SECARA HAYATI
Pengendalian larva Ae. aegypti secara hayati tidak sepopuler
cara kimiawi oleh karena penurunan padat populasi yang di-
akibatkannya terjadi perlahan-lahan tidak sedrastis bila meng-
gunakan larvisida (kimiawi). Organisme yang digunakan dalam
pengendalian secara hayati umumnya bersifat predator, parasitik
atau patogenik dan umumnya ditemukan pada habitat yang sama
dengan larva yang menjadi mangsanya. Beberapa di antaranya
telah diuji coba di laboratorium dan di lapangan pada skala kecil.
1) Toxorhynchites sp
Larva Tx. splendens instar I diuji coba di daerah pemukim-
an di Jakarta untuk mengendalikan larva Ae. aegypti yang berada
di tempat-tempat penampungan air penduduk. Hasil yang di-
peroleh dan uji coba tersebut ternyata masih kurang memuas-
kan
(10)
. Pada tahun berikutnya dilakukan uji coba serupa di daerah
semi pedesaan di Ungaran, Jawa Tengah menggunakan larva Tx.
amboinensis instar II dan III
(11)
. Hasil yang diperoleh dan uji
coba terakhir tersebut ternyata tidak jauh berbeda dengan yang
terdahulu yakni penurunan padat populasi larva Ae. aegypti di
daerah perlakuan secara statistik tidak berbeda nyata bila di-
bandingkan dengan daerah kontrol (tanpa perlakuan).
2) Mesostoma sp.
Organisme tersebut termasuk bangsa cacing Turbellaria
berukuran 0,1­0,5 cm bersifat predator terhadap larva nyamuk.
Pada uji laboratorium yang dilakukan di Malaysia cacing ter-
sebut terbukti sangat efektif dalam menekan populasi nyamuk
demikian pula dengan uji lapangannya (persawahan). Selain
larva Aedes beberapa generasi lainnya seperti Culex, Anopheles
dan Toxorhynchites dapat dimangsa oleh jenis cacing tersebut.
LD 50 cacing tersebut terhadap 50 larva Ae. aegypti yang dipajan
(exposure) selama 24 jam adalah 2,45
(12)
.
3) Labellula
Masyarakat awam mengenal organisme tersebut sebagai Ca-
pung (dragonfly) termasuk golongan serangga Anisoptera. Nimfa
serangga tersebut yang hidup di dalam air telah lama diketahui
sebagai predator larva nyamuk baik di laboratorium maupun di
alam. Berdasarkan sifat tersebut pada uji coba yang dilakukan di
Myanmar ternyata nimfa Labellula ukuran sedang mampu me-
mangsa larva dan pupa Ae. aegypti sebanyak 133 ± 21 dalam
waktu 24 jam. Kemampuan tersebut ternyata 3 kali lebih banyak
daripada kemampuan larva Tx. splendens yang sebesar 40±6
(13)
.
4) Mesocyclops aspericornis
Jenis Copepoda yang tersebar sebagai plankton dan benthos
ini bersifat predator. Pada suatu penelitian di Polynesia Peran-
cis terbukti bahwa M. aspericornis pengaruhnya tidak konsis-
ten terhadap larva Ae. aegypti yang ditemukan berada di tangki
air, drum dan sumur yang bertutup. Keadaan tersebut tampaknya
bergantung pada tersedianya mikrofauna di tempat perkembang-
biakannya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan Copepoda ter-
sebut.
5) Romanomermis iyengari
Organisme ini termasukjenis cacing Nematoda dan bersifat
parasit pada larva nyamuk. Cacing tersebut tumbuh dan ber-
kembang jadi dewasa di dalam tubuh larva yang di parasitnya.
Setelah dewasa cacing tersebut keluar dari tubuh inangnya
(larva) dengan jalan menyobek dinding tubuh inang sehingga
menyebabkan kematian inang tersebut. Penelitian di laborato-
rium dengan menggunakan perbandingan jumlah parasit dan
inang (larva Ae. aegypti) 1: 1 diperoleh rata-rata infeksi sebesar
33,75%
(15)
.
KESIMPULAN
Walaupun berbagai jenis larvisida kimiawi sering diguna-
kan dalam pemberantasan larva Ae. aegypti namun penelitian
tentang tumbuh-tuinbuhan yang berpotensi larvisida masih perlu
dan dikembangkan. Demikian halnya dengan penggunaan jasad
hayati sebagai pemberantas larva vektor Demam Berdarah Dengue
Ae. aegypti.
KEPUSTAKAAN
1. Sumengen S. Suroso 1, Kasnodiharjo, Pranoto, Martono S. Kadir AA, Hari
P. Pemberantasan penyakit demam berdarah dengue melalui pengawasan
kualitas lingkungan. Medika 1991; 7: 1­4.
2. Laws Jr ER, Morales FR, Hayes Jr WJ. Toxicology of abate in volunteers.
Arch. Environ. Health 1967; 14: 289.
3. ten Houten A, Aminah S. Gratz NG, Mathis HL. Pilot trial with
methoprene (OMS 1697) against Ae. aegypti in Jakarta, Indonesia. 1980.
WHONBC/ 80.796. p pp.
4. Aminah S. Mathis HL, Seregeg 1G. Persistence of two insect development
inhibitors in domestic water containers in Jakarta, Indonesia, 1981. WHO/
VB 7 pp.
5. Sukirno M, Aminah S. Efektivitas IGR triflumuron (OMS 29015) terhadap
larva Ae. Aegypti di Tanjung Priok, Jakarta. Seminar Parasitologi Nasional
dan Kongres P41 III. Yogyakarta. 1981.
6. Sukirno M, Aminah 5, Mathis 1-IL. Small scale field tests (phase 2) and
laboratory tests (phase 1) with OMS 2014 (Vetrazin) an insect growth
regulator against Cx quinquejasciatus and Ae. aegypti in Jakarta. Indo-
nesia. Bull. Penelit. Kes. 1980; 15(4): 8­14.
7. Monzon RB, AIviorJP, Lucson LLC, Morales AS. Mutuc FES. Larvicidal
potential of five Phillipine plants against Ae. aegypti (L) and Cx. quinque-
.fasciatus (Say). Southeast Asian J. hop. Med. Pub. 1-11th. 1994: 25(4):
755­59.
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 33
background image
8. Aminah S, Sudomo M, Murad J. Pengaruh allelopat dan juice tanaman
Alium cepa (bawang merah) terhadap larva Ae. aegypti di laboratorium.
Makalah Kongres Nasional Biologi VII, Palembang, 1985.
12. Yap HH, Loh PY, Chong NL, Ho SC, Ismail R, Tan WL, Teh LB.
Laboratory studies on predation of turbellarian (Mesostoma sp) on Ae.
aegypti, An. sinensis, Cx. quinquefasciatus and Ma. uniformis. Trop.
Biomedicine 1993; 10(2): 129­33.
9. Aminah S, Hermawanto. Studi pendahuluan daya bunuh ekstrak biji jarak
(Ricinus conununis) terhadap larva Ae. aegypti di laboratorium. Makalah
Simposium Penelitian Tumbuhan Obat VI. Depok, 1988.
13. Sebastian A, Thu MM, Kyaw M, Scm MM. The use of dragonfly nymphs
in the control of Ae. aegypti. Southeast Asian J. Trop. Med. Pub. HIth.
1980; 11(1): 104­7.
10. Anis B, Kirnowardoyo 5, Atmosudjono S, Supardi P. Suppression of larva
Ae. aegypti population in household water storage containers in Jakarta,
Indonesia through releases of first instar Tx. splendens larvae. J. Amer.
Mosq. Control Assoc. 1989; 5: 235­238.
14. Lardeux FJR. Biological control of Culicidae with copepod Mesocyclops
aspericornis and larvivorous fish (Poecilliidae) in village of French Poly
nesia. Med. Vet. Entomol. 1992; 6: 9­15.
11. Anis B, Nalim 5, Hadisuwasono, Widiarti, Triboewono D. Tx. amboinensis
larvae released in domestic containers fail to control dengue vectors in rural
village in central Java. J. Amer. Mosq. Control Assoc. 1990; 6(1): 75­8.
15. Widiarti, Nalim 5, Triutami HN. Uji kepekaan Ae. aegypti dan Ae. albo
pictus terhadap infeksi Romanomermis iyengari di laboratorium (laporan
pendahuluan). Bull. Pen. Kes. 1987; 15(3): 32­4.
Kalender Peristiwa
September 10-13, 1997 ­ KURSUS P
PENCEGA
KANKER B
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jl. Salemba 6 Jakarta, INDONESIA
Sekr. : Bagian Pato logi Anatomik
FK U
ersitas Indonesia
Jl.Raya Salemba Raya 6
Jakarta, INDONESIA
ENYEGARAN III DAN LOKAKARYA
HANDAN DETEKSI DINI PENYAKIT
AGI DOKTER UMUM
,
niv
A thread will tie an honest men better
Than a rope will do a rogue
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
34