background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996 37
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Antijamur Sistemik
Max Joseph Herman
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Jamur yang penting secara medis dapat dikelompokkan
menjadi 4 kelompok morfologis yaitu ragi tulen seperti Crypto-
coccus neoformans, jamur yang menghasilkan pseudomiselium
seperti Candida albicans, jamur filamen yang menghasilkan
miselium sejati seperti Aspergillusfumigatus dan jamur bentuk
ganda (ragi maupun filamen) bergantung pada kondisi kultur
seperti Histoplasma capsulatum. Infeksi jamur atau mikosis
secara tradisional dapat dibedakan menjadi mikosis superfisial
yang mungkin diatasi secara sistemik maupun topikal.
Berlainan dengan bakteri yang merupakan organisme
prokaryotik, jamur bersifat eukaryotik dengan dua struktur sel
yang peiTting secara medis yaitu chitin dinding sel (bukan
peptidoglikan sehingga tidak peka terhadap antibiotika yang
rnenghambat sintesis peptidoglikan) dan ergosterol serta zymo-
sterol membran sel. Garis besar perbandingan antara jamur dan
bakteri dapat dilihat dalam Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan jamur dan bakteri
Parameter Jamur
Bakteri
Diameter
Inti
Sitoplasma
Membran sel
Spora
Dimorfisme termal
Metabolisme
± 4 µm
eukaryotik
ada mitokondria,
retikulum endoplasma
ada sterol
seksual dan aseksual
untuk reproduksi
ada (beberapa)
butuh C organik,
tidak da anaerob
obligatif
± 1 µm
prokaryotik
tidak ada
tidak ada (kecuali
Mycoplasma)
endospora untuk
pertahanan
tidak ada
banyak tidak butuh C
organik, banyak anaerob
obligatif
Untuk tujuan terapi mikosis dapat dikelompokkan menjadi
dermatofitosis, infeksi mukokutan dan infeksi sistemik. Derma-
tofitosis umumnya melibatkan kulit, rambut dan kuku yang
disebabkan oleh spesies Epidermophyton, Trichophyton dan
Microsporum yang adakalanya membutuhkan terapi jangka
panjang. Infeksi mukokutan hanya melibatkan candidiasis yang
pada manusia umumnya disebabkan oleh C. albicans atau
kadang-kadang C. tropicalis atau C. parapsilosis yang mem-
pengaruhi kulit yang lembab atau membran berlendir seperti
rongga mulut, saluran pencernaan, perianal dan vulvovaginal.
Sedangkan mikosis sistemik dapat dikelompokkan lagi menjadi
infeksi subkutan dan infeksi dalam dengan organisme penyebab
yang biasanya masuk ke badan melalui pernapasan dan infeksi
mungkin tersebar melalui darah ke organ lain.
Di samping amfoterisin B yang merupakan obat antijamur
pilihan sejak dikenalnya akhir tahun 1950 sampai sekarang,
pemakaian ketokonazol yang dikenal tahun 1981, flukonazol
tahun 1990 dan itrakonazol tahun 1992 terus meningkat. Meski
pun belum ada perbandingan data efikasi langsung, untuk ba-
nyak mikosis sistemik kelompok antijamur azol efektif dan me-
rupakan alternatif aman dan amfoterisin B dan dua antijamur
lama lain yaitu flusitosin dan mikonazol.
MIKOSIS SISTEMIK
Infeksi jamur patogen melalui pernapasan mungkin hilang
dengan sendirinya. Histoplasmosis akut, coccidioidomycosis dan
blastomikosis serta kasus subakut cryptococcosis yang terbatas
pada paru orang yang awalnya normal mungkin tidak membu-
tuhkan terapi. Kemoterapi akan dibutuhkan bila pneumonia
hebat, infeksi kronis, terjadi penyebaran atau pada penderita
dengan gangguan kekebalan tubuh. Mikosis sistemik juga
mungkin berat, bersifat kronis dan sulit didiagnosis. Karena
sebagian besar antijamur tidak aktif terhadap bakteri dan tidak
selalu mungkin untuk membedakan antara infeksi jamur, bakteri
atau campuran keduanya hanya berdasarkan pada tanda dan
background image
gejala, organisme penyebab harus diidentifikasi sebelum terapi
dimulai. Hal ini penting khususnya karena antijamur pilihan
untuk mikosis sistemik memiliki potensi besar untuk reaksi yang
tidak diharapkan, misalnya amfoterisin B, hidroksistilbamidin
dan mikonazol yang digunakan per iv serta flusitosin, K1 dan
ketokonazol yang digunakan per oral.
Aspergilosis
Aspergilosis paru invasif terjadi pada penderita dengan
kekebalan tubuh sangat menurun dan kurang memberikan
respons terhadap terapi antijamur. Obat pilihan adalah amfote-
risin B 0,5-1,0 mg/kg bobot badan per hari atau dalam
kombinasi dengan rifampin maupun flusitosin yang sebaiknya
diberikan saat infeksi dini.
Blastomikosis
Obat pilihan sekarang adalah ketokonazol (400 mg sehari
per oral selama 6-12 bulan) di samping itrakonazol (200-400
mg per hari) yang toleransinya lebih baik, sedangkan amfoteri-
sin B (0,4 mg/kg bobot badan sehani selama 10 hari) dicadang-
kan bila ketokonazol tidak bisa digunakan, infeksi dalam dan
progresif cepat atau blastomikosis dalam susunan saraf pusat.
Candidiasis
Candidiasis saluran urine akibat kateter atau alat me-
merlukan terapi pada penderita batu ginjal, obstruksi saluran
urine, transplantasi ginjal atau diabetes melitus yang tidak
dikontrol. Selain invasi parenkim ginjal, irigasi amfotensin B
(50 µg/ml selama 5-7 hari) sudah mencukupi dan bila melibat
kan parenkim dibutuhkan terapi per iv seperti halnya candidia-
sis organ dalam yang lain.Flusitosin digunakan dalam kombinasi
dengan amfoterisin B khususnya pada C.meningitis karena difusi
ke tempat infeksi tertentu Iebih baik daripada amfoterisin B
sehingga memungkinkan penurunan dosis amfoterisin B.
Coccidiodomycosis
Infeksi kronis oleh Coccidiodes immitis kadang tidak mem-
berikan respons terhadap kemoterapi dan memerlukan reseksi.
Bila menyebar di luar paru amfoterisin B per iv bermanfaat se-
bagai terapi awal pada penderita sakit berat atau penurunan
kekebalan tubuh, sedangkan ketokonazol berguna untuk supresi
jangka panjang lesi kulit, tulang dan jaringan lunak penderita
dengan kekebalan tubuh normal. Obat pilihan untuk infeksi
meninge adalah amfoterisin B secana intratekal.
Cryptococcosis
Amfoterisin B merupakan obat pilihan dengan dosis iv
0,4-0,5 mg/kg bobot badan dan lama terapi bergantung pada
kecepatan kultur menjadi negatif. Penambahan flusitosin me-
mungkinkan penurunan dosis amfoterisin B menjadi 0,3 mg/kg
bobot badan. Toksisitas flusitosin dan kambuhan kerap kali
terjadi pada kasus AIDS sehingga terapi supresif seumur hidup
dengan amfoterisin B 1 mg/kg bobot badan per minggu di-
butuhkan. Flukonazol juga terbukti bermanfaat untuk supresi
pada kasus AIDS dan sebagai terapi primer untuk infeksi me-
ningen ganas tertentu.
Histoplasmosis
400 mg ketokonazol per hari dapat digunakan untuk
sebagian besar kasus histoplasmosis paru atau infeksi non
meningen lain yang lebih ringan pada sistem kekebalan tubuh
normal. Amfoterisin B juga dapat digunakan, dengan lama peng-
obatan 6-12 bulan untuk ketokonazol dan 10 minggu untuk
amfoterisin B per iv. Pada kasus kambuhan dan AIDS dibutuh-
kan amfoterisin B iv mingguan setelah pengobatan intensif.
Mukormikosis
Mukormikosis kraniofasial diatasi dengan amfoterisin B
per iv, pembedahan dan kontrol diabetes melitus yang biasanya
menyertainya. Mukormikosis paru-paru biasanya fatal meski-
pun diobati dengan amfoterisin B yang merupakan pilihan
utama.
Parakoksidiodomikosis
Ketokonazol 400 mg per hari merupakan pilihan utama,
untuk kasus berat dibutuhkan amfoterisin B awalnya dan peng-
obatan dilanjutkan paling tidak 6-12 bulan.
Sporotrikosis
Larutan KI jenuh per orang merupakan pilihan utama
untuk sporotrikosis limfokutan, sedangkan untuk paru dan tu-
lang harus digunakan amfoterisin B meskipun sering gagal.
Reseksi lokal lesi kecil dalam paru perlu dipertimbangkan.
Pemakaian topikal antijamur biasanya tidak berhasil untuk
mikosis kuku (onikomikosis),rambut (tinea capitis) serta mikosis
subkutan seperti sporotrikosis dan kromomikosis yang membu-
tuhkan terapi sistemik. Sebaliknya ada antijamur sistemik yang
bisa digunakan untuk infeksi topikal seperti beberapa dan ke-
lompok imidazol dan triazol yang digunakan untuk kandidiasis
mukokutan dan tinea versicolor.
Tabel 2. Terapi Antijamur untuk Mikosis Sistemik
Infeksi
Terapi
dianjurkan
Terapi
alternatif
Keterangan
Aspergilosis
Blastomikosis
Kandidiasis
Koksidiodomi-
kosis
Cryptococcosis
Histoplasmosis
Parakoksidi-
oidomikosis
Sporotrikosis
Mukormikosis
Phykomikosis
Zygomikosis
amfoterisin B iv
amfoterisin B iv
amfoterisin B iv
amfoterisin B iv
amfoterisin B iv
amfoterisin B iv
amfoterisin B iv
atau ketokonazol po
amfoterisin B iv
KI po
amfoterisin B iv
flusitosin po
amfoterisin B iv
mikonazol iv
ketokonazol po
flusitosin po
amfoterisin B iv
ketokonazol po
mikonazol iv
sulfonamid po
imunosupresi
dosis 1 mg/kg/hari
kombinasi
tidak untuk kasus
diseminasi
kombinasi
altematif untuk
kasus yang ringan
amfoterisin B
untuk kasus serius
KI uptuk limfatik
Profilaksis antijamur pada neutropenia
Pemakaian antijamur makin meningkat dalam pencegah-
an mikosis sistemik pada penderita neutropenia, khususnya
mikonazol, flukonazol dan itrakonazol. Pada penerima trans-
plantasi sumsum tulang flukonazol menurunkan frekuensi
kolonisasi sebagian besarjamur, frekuensi mikosis sistemik dan
mortalitas, sedangkan pada leukemia akut dosis yang sama
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
38
background image
(400 mg per hari) tidak menurunkan frekuensi mikosis invasif
tetapi menurunkan penggunaan empiris amfoterisin B dan
tingkat mortalitas.
AMFOTERISIN B
Amfoterisin B yang ditemukan dan diisolasi dan strain Str.
nodosus pada tahun 1956 merupakan antibiotika kelompok
makrolida poliena yang memiliki 7 ikatan rangkap konyugasi
pada posisi trans dan 3-amino-3,6-dideoksimanosa yang ber-
hubungan melalui ikatan glikosida. Sesuai dengan namanya sifat
amfoter diberikan oleh gugus karboksil pada cincin utama dan
gugus amino pada mikosamin.Kelarutannya dalam air yang kecil
pada pH netral menyulitkan pemberian per iv hingga perlu so-
lubilisasi melalui dispersi koloid dalam deoksikolat atau pem-
bentukan derivat N-asil maupun ester dan gugus karboksi.
Aktivitas
Amfoterisin B aktif terhadap Candida sp., Cryptococcus
neoformans, Blastomyces dermatitidis, Histoplasma capsulatum,
Torulopsis glabrata, Coccidiodes immitis, Paracoccidiodes
braziliensis, Aspergillus sp, dan hanya aktif terbatas terhadap
protozoa, Leishimania braziliensis dan Naegleria fowleri serta
tidak memiliki aktivitas anti bakteri.
Aktivitasnya sebagian bergantung pada ikatannya pada
lingkungan steroid, khususnya ergosterol, yang ada dalam
membran sel jamur yang peka sehingga meningkatkan per-
meabilitas membran dan pada oksidasi sel-sel jamur; sedangkan
resistensi umumnya terjadi karena mutan yang terbentuk me
miliki kadar ergosterol yang berkurang dalam membran selnya
dan strain tertentu memiliki kadar prazat ergosterol yang
meningkat tetapi dengan affinitas lebih rendah terhadap
antibiotika poliena. Kepekaan bervariasi antar spesies tetapi
hampir seragam dalam suatu spesies dan MIC yang tepat ber-
gantung pada metoda penetapannya.
Absorpsi, distribusi dan ekskresi
Absorpsi amfoterisin B dan saluran pencernaan hampir
tidak ada, infus iv 0,5 mg/kg bobot badan berulang menghasil-
kan kadar plasma 1-1,5 µg/ml pada akhirnya dan kemudian
menurun menjadi 0,5-1,0 µg/m1 dalam 24 jam berikutnya. Obat
dilepaskan dan bentuk kompleks dengan deoksikolat dalam
aliran darah dan dalam plasma Iebih dan 90% terikat pada pro-
tein khususnya B-lipoprotein. 2-5% dosis dikeluarkan dalam
urine pada terapi harian dan eliminasi tidak berubah pada
penderita anefrik atau hemodialisis. Kadar dalam cairan tubuh
lebih kurang 2/3 kadar plasma dengan waktu paruh eliminasi
I.k. 15 hari. Setelah terapi dihentikan amfoterisin B masih ada
dalam serum selama 7-8 minggu karena dilepaskan perlahan dari
depot jaringan. Dosis efektif bergantung pada tipe dan berat
infeksi, biasanya dosis uji 1 mg/20 ml dextrosa 5% per iv selama
20-30 menit. Sementara itu suhu, denyut jantung, laju respirasi
dan tekanan darah harus direkam. Bila fungsi jantung dan paru
baik serta tidak ada reaksi samping yang berarti, maka dosis
dapat dinaikkan menjadi 0,3 mg/kg bobot badan per iv selama
2-24 jam.
Efek samping
Sejumlah besar efek tidak diharapkan bisa timbul dan yang
paling umum adalah demam (biasanya berkurang meskipun
pemakaian dilanjutkan) dan azotemia serta didahului oleh
dyspnea dan takikardia. Kemampuannya untuk membebaskan
interleukin-1 dan faktor nekrosis tumor dari monosit dan makro-
fag murine invitro dapat menerangkan mekanisme pirogeni-
tasnya. Azotemia terjadi pada 80% kasus mikosis dalam yang
diberikan amfoterisin B dan toksisitas bergantung pada dosis,
bersifat sementara dan meningkat pada pemakaian bersama obat
nefrotoksis lain seperti aminoglikosida atau siklosporin. Meski-
pun demikian gangguan fungsional permanen tidak lazim pada
fungsi ginjal yang awalnya normal, kecuali dosis melebihi 3-4
g untuk dewasa. Selama dan beberapa minggu setelah terapi
mungkin terjadi asidosis tubular dan ekskresi ion kalium dan
magnesium, sehingga biasanya dibutuhkan suplemen tambah-
an pada terapi jangka panjang serta pemantauan elektrolit se-
rum minimal 2 x seminggu. Heparin 10 mg sering ditambahkan
ke dalam infus dalam upaya mengurangi flebitis.
Amfoterisin B dapat berinteraksi dengan glikosida digitalis
sehingga menimbulkan keracunan digitalis melalui mekanisme
penurunan kalium darah.
Penggunaan
Terapi sistemik hanya diberikan untuk penderita di bawah
pengawasan ketat dengan mikosis fatal progresif yang disebab-
kan oleh jamur yang peka dan harus dilanjutkan untuk waktu
yang cukup, biasanya 2-4 bulan, untuk mencegah kekambuhan.
Sedangkan pemakaian dalam kehamilan harus sangat berhati-
hati meskipun belum ada bukti teratogenitas.
Cara penyimpanan, penyiapan dan pemakaian amfoterisin
B harus diperhatikan benar-benan karena ketidak-stabilannya
terhadap misalnya panas dan pH rendah, sedangkan dosis harus
diindividualisasi atas dasar beratnya penyakit dan toleransi
penderita.
Pemakaian iv utama untuk penatalaksanaan mukormikosis,
aspergillosis invasif, sporotrikosis ekstrakutan dan kriptokokso-
sis. Meskipun imidazol dan triazol bermanfaat pada blastomi-
kosis, histoplasmosis, koksidioidomikosis dan parakoksidioido-
mikosis, lebih disukai amfoterisin B bila perkembangan penyakit
sangat cepat seperti pada kasus imunitas menurun atau bila
menyangkut susunan saraf pusat. Amfoterisin B juga cfapat di-
gunakan untuk neutropenia dan demam yang tidak memberikan
respons terhadap antibakteri spektrum lebar dan pemakaian
topikal hanya bermanfaat pada kandidiasis kulit.
IMIDAZOL DAN TRIAZOL
Berbeda dengan amfoterisin B yang diproduksi secara
alamiah, kelompok antijamur azol merupakan senyawa sintetik
yang diklasifikasi sebagai imidazol (mikonazol dan ketokonazol)
atau triazol (itrakonazol dan flukonazol) bergantung kepada
jumlah kandungan atom nitrogennya ada 2 atau 3. Struktur kimia
dan profil farmakologis ketokonazol dan itrakonazol sama,
flukonazol unik karena ukuran molekulnya yang kecil dan lipo-
filisitasnya yang lebih kecil.
Efek antijamur azol terutama ditujukan pada ergosterol yang
merupakan sterol utama dalam membran sel jamur. Inhibisi sin-
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996 39
background image
tesis sterol melalui interaksi dengan demetilase C
14A
suatu
enzim yang bergantung pada sitokrom P-450 yang dibutuhkan
untuk pengubahan lanosterol menjadi ergosterol. Kekurangan
ergosterol menyebabkan fluiditas membran sehingga
menurunkan aktivitas enzim yang berkaitan dengan membran
dan mengakibatkan peningkatan permeabilitas serta hambatan
pertumbuhan dan perbanyakan sel. Efek antijamur lain dan azol
mencakup inhibisi respirasi endogen, interaksi toksin dengan
fosfolipia membran dan transfer morfigenetik ragi menjadi
bentuk misel. Sebagai perbandingan amfoterisin B terikat
irreversibel pada ergosterol dan flusitosin menghambat sintesis
protein.
Interaksi azol dengan demetilase C
14A
dalam sel jamur juga
menyokong efek toksis utama azol pada sel mammalia, misalnya
secara klinis ketokonazol menyebabkan kelainan endokrin pada
manusia karena inhibisi enzim sitokrom P-450 yang dibutuhan
untuk sintesis hormon steroid adrenal dan gonad. Akan tetapi
efek tidak diharapkan ini malah dimanfaatkan untuk mengurangi
produksi hormon steroid pada sindroma Cushing atau kanker
prostat. Suatu perbedaan penting antara imidazol dan triazol
adalah affinitas triazol yang lebih besar terhadap enzim
sitokrom P-450 dan jamur dibandingkan dengan dan manusia.
Farmakologi
Ketokonazol dan itrakonazol hanya tersedia per oral dan
merupakan basa lemah yang membutuhkan lingkungan asam
untuk solubilisasi dan absorpsi yang optimal (penggunaan pe-
nyekat reseptor histamin H
2
menurunkan absorpsi). Variabilitas
makanan mengurangi absorpsi dan ketersediaan-hayati keto-
konazol,sebaliknya untuk itrakonazol malah meningkat 2 sampai
3 kali bila bersama makanan dibandingkan dengan perut
kosong. Variasi ambang plasma puncak setelah dosis tunggal
200 mg ketokonazol dan itrakonazol lebih kurang 0,3-3,0 µg/
ml. Kadar plasma puncak itrakonazol, tetapi tidak ketokonazol,
3-5 x lebih besar setelah 7-14 hari terapi dibandingkan dengan
setelah pemakaian dosis tunggal. Untuk mempersingkat waktu
mencapai keadaan setimbang pada infeksi serius dianjurkan dosis
200 mg 3 dd itrakonazol; absorpsinya tidak berubah oleh ada-
nya makanan atau keasaman lambung. Kadar plasma puncak
hampir sama dengan dosis dicapai dalam 2-4 jam setelah pe-
makaian oral serta 2-2,5 kali lebih besar pada keadaan setim-
bang (yang dicapai dalam 6-10 hari setelah terapi dimulai)
dibandingkan setelah dosis tunggal.
Ketokonazol dan itrakonazol terikat kuat pada protein
plasma (>99%)tetapi obat yang bebas terdistribusi baik ke semua
jaringan. Karena lipofilisitasnya kadar keduanya, khususnya
itrakonazol, dalam urine dan cairan serebrospinal lebih kecil
dan 1,0 µg/ml. Kadan itrakonazol dalam tulang, hati, eksudat
radang, sputum dan jaringan adiposa serta keratin mencapai 5
µg/ml pada pemakaian 200-400 mg sehani. Flukonazol mirip
dengan non-azol, flusitosin, dalam hal kelanutannya yang besar
dalam air, sedikit terikat pada protein plasma dan volume
distribusi mendekati air tubuh total. Kadar flukonazol dalam
hampir semua jaringan dan cairan > 50% kadar plasmanya dan
khususnya tinggi dalam urine dan cairan otak. Kadar puncak
dalam cairan serebrospinal pada meningitis fungal mendekati
70-90% kadan puncak plasma, demikian pula kadarnya dalam
urine mungkin> 100 µg/ini dan jauh lebih tinggi dan pada oral
azol lainnya.
Metabolisme ketokonazol dan itrakonazol terutama di hati
dan dikeluarkan hampir seluruhnya dalam feces dan urine. Dari
lebih 30 metabolit itrakonazol yang diketahui, hanya hidroksi-
itrakonazol yang memiliki aktivitas antijamur dan dikeluarkan
lebih cepat dan pada itrakonazol sendiri meskipun kadar plasma
metabolit ini pada keadaan setimbang hampir dua kali lipat dari
senyawa induknya. Oleh karena itu kadar plasma itrakonazol
yang diukur dengan cara spesifik seperti HPLC jauh lebih ren-
dah dibandingkan dengan cara biologis. Waktu paruh terminal
ketokonazol dan itrakonazol pada keadaan setimbang 7-10 jam
dan 24-42 jam serta akan meningkat dengan naiknya dosis dari
100 menjadi 400 mg sehani yang menunjukkan bahwa jalur
metabolisme dalam hati sudah jenuh dalam rentang dosis terapi.
Karena hanya sedikit itrakonazol dan ketokonazol dikeluarkan
dalam urine, maka diperlukan penyesuaian dosis pada gagal
ginjal. Berbeda halnya pada metabolisme flukonazol yang se-
dikit, 80% dosisnya dikeluarkan dalam bentuk utah dalam urine
dengan waktu paruh eliminasi terminal meningkat dari l.k. 30
jam pada fungsi ginjal normal menjadi 98 jam pada gagal ginjal
serius (kecepatan filtrasi glomerulus <20 ml/mt).
Aktivitas dan resistensi
Baik imidazol maupun triazol aktif terhadap Cryptococcus
neoformans, C. albicans, dan jamur dimorf yang umum seperti
Coccidioides brasiliensis dan Sporothrix schenckii. Kekecuali-
an yang nyata adalah ketidak-aktifan mikonazol terhadap B.
dermatidis. Itrakonazol lebih aktif dan yang lain terhadap
Aspergillus sp.
Sampai saat ini timbulnya resistensi terhadap azol yang
klinis penting meskipun setelah terapi jangka panjang jarang,
tetapi kegagalan terus meningkat pada kasus HIV.
Efek samping
Ketokonazol, flukonazol dan itrakonazol lebih ditolerir dari-
pada antijamur yang lebih tua. Gejala gastrointestinal yang
berkaitan dengan dosis paling umum, tetapi hingga dosis 400
mg sehari jarang sampai mengharuskan penghentian terapi.
Meskipun sebagian besar penderita dengan induksi kenaikan
kadar aminotransferase plasma bersifat asimptomatik, keto-
konazol dan lebih jarang lagi triazol mungkin menimbulkan
hepatitis yang klinis penting atau fatal. Studi fungsi hati, khusus-
nya penentuan aminotransferase plasma, harus dilakukan
sebelum pengobatan dan secara berkala sesudahnya dan karena
umumnya kasus hepatitis akibat azol terjadi dalam beberapa
bulan tahap awal terapi, waktu ini pemantauan sangat penting.
Terapi selalu harus dihentikan bila hepatitis simptomatik atau
ada bukti lab disfungsi hati yang persisten atau progresif. Ruam
kulit eksfoliatif termasuk sindrom Steven Johnson yang fatal di-
jumpai pada penerima flukonazol yang menderita AIDS dan
multiple drug therapy.
Perbedaan utama toksisitas potensial antana ketokonazol
dan triazol yang Iebih banu adalah efeknya terhadap steroido-
genesis. Pada dosis> 400 mg sehani ketokonazol secana rever-
sibel menghambat sintesis testosteron (dan karena itu estradiol)
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
40
background image
dan kortisol yang mengakibatkan berbagai gangguan endokrin
seperti ginekomastia, oligospermia, berkurangnya libido, impo-
tensi, ketidak-teraturan menstruasi dan kadang insuffisiensi
adrenal. Sebaliknya flukonazol dan itrakonazol dalam dosis
yang dianjurkan tidak menghambat steroidogenesis.
Interaksi obat
Interaksi azol dengan obat lain seperti fenobarbital, HCT,
metilprednisolon, klordiazepoksid dan karbamazepin tidak
begitu pénting dan diketahui jelas. Sebagian besar interaksi ter-
jadi melalui mekanisme inhibisi absorpsi azol yang menyebab-
kan penurunan ketersediaan hayati atau interferensi aktif enzim
mikrosom hati yang mengubah metabolisme dan kadar plasma
azol atau obat yang berinteraksi atau keduanya. Tingkat interaksi
dengan enzim hati bervariasi antar penderita, dosis azol dan obat
yang bersangkutan. Ketokonazol invitro memiliki efek inhibisi
jauh lebih besar daripada flukonazol dan itrakonazol terhadap
sitokrom P450 katalis pengubahan siklosporin menjadi
metabolit utamanya, tetapi ketiga azol tersebut meningkatkan
nyata kadar plasma sikiosporin pada transpiantasi organ
sehingga pemberian bersama obat lain yang dapat berinteraksi
membutuhkan pemantauan cermat kadar plasma azol maupun
obat yang berkaitan.
Penggunaan
Sampai kini peran azol oral dalam penatalaksanaan kan-
didemia atau kandidiasis yang menyebar belum jelas, tetapi hasil
penelitian menunjukkan bahwa flukonazol dan amfoterisin B
sama efektifnya untuk terapi kandidemia (khususnya infeksi
karena kateter) pada penderita tanpa neutropenia. Untuk
kandidiasis ginjal atau kandiduria karena kadarnya dalam bentuk
aktif yang tinggi dalam urine, flukonazol sangat bermanfaat dan
lebih disukai daripada flusitosin yang juga dikeluarkan cepat
melalui saluran urine karena lebih ditolerir dan jarang
menimbulkan resistensi. Flukonazol juga merupakan alternatif
efektif dan aman dan amfoterisin B untuk penatalaksanaan
kandidiasis serius pada penerima transplantasi organ, khususnya
yang menggunakan siklosprorin.
Flukonazol merupakan azol paling baik untuk meningitis
akibat kriptokokus karena penetrasinya yang tinggi ke dalam
cairan serebrospinal dan sebanding dengan amfoterisin B sebagai
terapi primer termasuk pada kasus AIDS yang membutuhkan
terapi pemeliharaan seumur hidup untuk mencegah kambuhan.
Setelah perbenihan cairan serebrospinal negatif, flukonazol
lebih unggul daripada amfoterisin B karena kambuhan dan efek
samping yang lebih sedikit.
Sejak dikenalnya ketokonazol tahun 1981, antijamur azol
makin penting perannya dalam penatalaksanaan mikosis ende-
mik (blastomikosis, koksidiodomikosis, histopiasmosis). Untuk
blastomikosis maupun histoplasmosis dibutuhkan 400-800 mg
ketokonazol atau 200-400 mg itrakonazol sehari sebagai alter-
natifdari amfoterisin B, sedangkan untuk koksidiomikosis yang
relatif paling sulit diatasi azol yang lebih baru memberikan
keuntungan dalam hal toleransi yang lebih baik, khususnya untuk
pemakaian jangka panjang dibandingkan dengan amfoterisin B
atau mukonazol yang harus digunakan per iv dengan dosis total
tinggi. Sediaan parenteral mikonazol dalam minyak jarak
polietoksi per iv atau intratekal sudah jarang digunakan dengan
berkembangnya obat yang lebih baru.
Tabel 3. Sifat Farmakologis Antijamur Sistemik
Parameter
Amfote-
risin B
Flusi-
tosin
Miko-
nazol
Ketoko-
nazol
Itrako-
nazol
Fluko
nazol
Bioavail. (%)
< 5
> 80
25
75*
> 70
> 80
Ik. protein
(%)
91­95 4 91­93 99 >
99 11
Vol. dist.
(1/kg) 4
0
06­0,7
­
­
­
0,7­08
Puncak plasma
(pg/ml)
1,2­2,0 30­45 1,2­2,5 1,5­3,1 0,2­0,4 10,2
dosis (mg)
50 iv
2000 po 400
iv 200
po
200 po
200 po
Waktu puncak
(jam)
­ 2 ­ 1­4
4­5
2­4
t112 elim.
15 hr
3­6 j
20­24 j
7­101 24­42 j 23­31 j
Obat utuh da
lam urine (%)
3
> 75
1
2­4
< 1
80
Kadar dalam
cairan otak/
plasma (%)
2­4
> 75
5­10
< 10
< 1
> 70
pKa 5
5;l0,0
­
6,65
­
­
­
* Relatif terhadap larutan oral pada subyek normal
GRISEOFULVIN
Pertama kali diisolasi dan Penicillium griseofulvum tahun
1939 dan tidak aktif terhadap bakteri sehingga diabaikan saja.
Barn tahun 1946 setelah dikenalnya griseofulvin dan
Penicillium janczewski yang aktif terhadap jamur, melalui ber-
bagai penelitian akhirnya tahun 1958 uji klinik dimulai serta
dikembangkan sebagai antijamur.
Griseofulvin praktis tidak larut dalam air, bersifat termo-
stabil dan aktif invitro terhadap berbagai spesies Microsporum,
Epidermophyton dan Trichophyton serta inaktif terhadap bakteri
atau jamur lain, ragi, Actinomyces atau Nocardia. Griseofulvin
mematikan sel jamur muda yang metabolismenya aktif tetapi
hanya menghambat pertumbuhan sd jamur yang lebih tua.
Manifestasi morfologis yang menonjol dan kerja griseofulvin
adalah produksi sel-sel inti ganda saat obat menghambat mito-
sis jamur. Griseofulvin menyebabkan pemutusan berkasmitotik
melalui interaksi dengan mikrotubulus terpolimerisasi.
Farmakologi
Per oral 0,5 g griseofulvin menghasilkan kadar puncak
plasma lebih kurang 1 µg/ml dalam 4 jam dengan variasi lebar
karena ketidak-larutannya. Absorpsi dapat ditingkatkan bila
digunakan bersama makanan berlemak dan karena disosiasi serta
disagregasi menentukan ketersediaan-hayati maka digunakan
bentuk mikro atau ultramikro. Waktu paruh plasma ± 1 hari
dan sekitar 50% dosis dijumpai dalam urine da waktu 5 hari
terutama dalam bentuk metabolit yaitu 6-metil-griseofulvin.
Griseofulvin terdeposisi dalam prekursor sel keratin dan saat
diferensiasi tetap terikat sehingga bersifat resisten terhadap
invasi jamur yang ditunjukkan oleh pertumbuhan baru rambut
atau kuku yang pertama kali bebas jamur.
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996 41
background image
Aktvftas
Aktif terhadap sp.Microsporum, Trichophyton atau Epider-
mophyton yang menimbulkan infeksi pada kulit. Infeksi yang
segera dapat ditangani dengan griseofulvin meliputi infeksi
rambut (tinea capitis) akibat sp. Microsporum dan Trichophyton,
ringworm kulit, tinea cruris dan corporis.
Efek samping dan interaksi obat
Insiden reaksi samping serius jarang, biasanya sakit kepala
yang kadang berat tetapi sementara terjadi. Manifestasi sistim
saraf lain adalah neuritis tepi, letargi, konfusi, vertigo, pandang
an kabur dan peningkatan efek alkohol; sedangkan terhadap
saluran pencernaan antara lain mual, muntah, diare, flatulen,
mulut kering dan stomatitis. Efek hematologis yang mungkin
adalah leukopenia, neutropenia, monositosis yang sering kali
hilang bila terapi dihentikan (uji darah harus dilakukan minimal
1 x seminggu selama bulan pertama terapi). Efek terhadap ginjal
yang umum albuminuria dan cylindruria tanpa gagal ginjal serta
terhadap kulit berupa ruam kulit, eritema, fotosensitivitas dan
erupsi vesicular.
Griseofulvin menginduksi enzim mikrosom hati sehingga
meningkatkan kecepatan metabolisme warfarin dan kadang
dibutuhkan penyesuaian dosis warfarin, sebaliknya barbiturat
dapat menurunkan absorpsi griseofulvin dalam saluran
pencernaan.
Penggunaan
Griseofulvin tersedia dalam berbagai dosis (125, 250 dan
500 mg),untuk dewasa 0,5-1,0 g dan anak-anak 10 mg/kg bobot
badan sehari. Dosis lebih besar dapat digunakan untuk jangka
pendek pada infeksi luas dan serius, kemudian diturunkan bila
sudah ada respons. Hasil terbaik akan diperoleh bila terapi da-
lam interval 6 jam dan harus dilanjutkan sampai kulit, rambut
atau kuku yang bebas infeksi tumbuh menggantikan jaringan
yang terinfeksi, setidak-tidaknya 1 bulan untuk infeksi kulit ke-
pala dan rambut, 6-9 bulan untuk infeksi kuku jan tangan serta
1 tahun untuk kuku kaki.
FLUSITOSIN
Aktivitas dan resistensi
Merupakan senyawa pirimidin terflorinasi sintetis yaitu 5-
floro-sitosin yang mulanya dikembangkan sebagai antikanker
tetapi ternyata secara klinis aktif terhadap jamur nonfilamen
seperti Cryptococcus neoformans, sp. Candida, Torulopsis gla-
brata dan penyebab kromomikosis. Aktivitasnya bergantung
pada pengubahannya menjadi 5-floro-urasil dengan melepaskan
amin dan kemudian dimetabolisme pertama kali oleh enzim
pyrofosforilase UMP menjadi asam 5-floro-uridilat yang
berkaitan dengan RNA jamur (melalui sintesis 5-floro-uridin
trifosfat) yang penting dalam sintesis nukleoprotein atau
dimetabolisme menjadi asam 5-floro-deoksi-uridilat (inhibitor
poten sintetase timidilat) yang mengganggu sintesis DNA.
Dalam hal ini sel mammalia tidak mengubah flusitosin menjadi
5-floro- urasil.
Resistensi mudah timbul dan kadang selama dalam waktu
pengobatan karena kemungkinan hilangnya permease yang
dibutuhkan untuk transport sitosin atau penurunan aktivitas
pyrofosforilase UMP dan deaminase sitosin. Oleh karena itu
sering digunakan dalam kombinasi dengan amfoterisin B yang
memberikan keuntungan tambahan dalam hal penurunan dosis
amfoterisin B yang dibutuhkan dan diduga amfoterisin B dengan
Tabel 4. Efek Samping Antijamur Sistemik
Organ/
Sistem
Amfoterisin B
Flusitosin
Mikonazol
. Ketokonazol
Flukonazol Itrakonazol
Saluran
mual, muntah,
mual,
mual, muntah mual, muntah,
mual,
mual,
pencema- anoreksia
muntah,
anoreksia,
muntah
muntah
an
diare,
nyeri
abd.
Kulit -
nyeri abd.
ruam
ruam, pruritus ruam, pruritus
ruam eksfol. ruam,
Hati
-
> amino-
-
> amino-
> amino-
pruritus
> amino
transferase
transferase transferase
transferase
hepatitis
hepatitis
hepatitis
hepatitis
Sumsum anemia
anemia, anemia,
-
-
-
tulang
leukopenia
leukopenia
Ginjal azotemia,
trombo-
sitopenia
-
trombo
sitopenia
-
- -
-
Sistem
asidosis tubular,
hipokalemia,
hipomagnesia
- -
hiperlipidemia, insuff. ginjal,
-
hipokalemia
endokrin
hiponatremia
impotensi,
hipertensi
gynecomastia
udema,
<
libido,
gg.
impotensi
Lainnya tromboflebitis,
konfusi flebitis
menstruasi
sakit kepala,
sakit kepala, sakit kepala,
sakit kepala,
demam sakit
kepala
demam
psikosis
demam
fotofobia
seizure
pusing
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
42
background image
mengganggu permeabilitas membran jamur memudahkan ma
suknya flusitosin ke dalam sel jamur.
Farmakologi
Per oral absorpsi dan saluran pencernaan baik dan ambang
puncak plasma 70-80 µg/ml dicapai dalam waktu 1-2 jam se-
telah dosis oral 37,5 mg/kg bobot badan dengan distribusi ke
seluruh tubuh serta ambang dalam cairan otak dan saraf pusat
mendekati 80% ambang plasma. Ikatan dengan protein plasma
kecil dan eliminasi terutama dalam bentuk utuh melalui urine
(63-84%) dengan bersihan ± 75% dan bersihan kreatinin dan
waktu paruh 3-6 jam pada orang normal atau mungkin men-
capai 200 jam pada gagal ginjal.Oleh karena itu pada insufisiensi
ginjal perlu pemantauan kadar obat dalam darah dan dipelihara
antara 50-100 µg/ini. Pada fungsi ginjal normal biasanya dosis
total 50-150 mg/kg bobot badan per hari dalam dosis terbagi
dengan selang waktu 6 jam dan bila dalam kombinasi dengan
amfoterisin B dosis lazim amfoterisin B 0,3 mg/kg bobot badan
per hari dan flusitosin 150 mg/kg bobot badan per hari dalam 4
dosis. Farmakokinetika obat pada orang normal dan pada
insufisiensi ginjal menjadi dasar untuk modifikasi dosis pada
gagal ginjal.
Efek samping
Meskipun tidak setoksis amfoterisin B, flusitosin dapat
menyebabkan ruam kulit, mual, muntah dan diare serta entero-
colitis. Efek samping serius yang umum adalah penekanan
fungsi sumsum tulang berupa leukopenia atau trombositopenia,
khususnya pada gangguan hematologis yang dirawat dengan
radiasi atau obat yang merusak sumsum tulang. Toksisitas lebih
sering terjadi pada kasus AIDS atau azotemia dan bila kadar
plasma > 100 µg/ml akibat pengubahan flusitosin menjadi 5-
floro-urasil oleh flora mikroba dalam intestin penderita.
Penggunaan
Amfoterisin B tetap merupakan yang paling efektif untuk
mengatasi infeksi jamur dan ragi,sedangkan flusitosin digunakan
terutama daI kombinasi dengannya. Kecuali untuk kromo-
blastomikosis timbulnya resistensi membatasi penggunaan
flusitosin dalam bentuk tunggal. Pemakaian 100-150 mg/kg
bobot badan per hari bersama dengan amfoterisin B 0,3 mg/kg
bobot badan per hari merupakan pilihan utama untuk meningi-
tis akibat cryptococcus dan candida. Pemakaian hams hati-hati
Tabel 5. Beberapa Sediaan Antijamur Sistemik yang Beredar di Indo-
nesia
Obat Dosis
Bentuk
Sediaan
Contoh nama dagang
Itrakonazol 100
mg
kapsul
Forcanox,
Sporacid,
Ketokonazol 200
mg
tablet
Sporanox, Petrazol
Fungazol, Formyco,
2%
krim, sol, gel
Interzol, Mycoral, Nizoral
Ketomed
Flukonazol 50,150
mg kapsul
Diflucon
Griseofulvin
2 mg/ml
125, 250, 330,
injeksi
tablet
Fungistop, Grivin, Fulcin,
500
mg
Griseofort,
Mycostop
Amfoterisin B 50 mg
injeksi
Fungizone
pada depresi sumsum tulang dan tidak boleh untuk penderita
lewat peka, sedangkan pada kehamilan hanya untuk infeksi
jamur sistemik serius karena keamanannya belum terbukti.
HIDROKSISTILBAMIDIN ISETIONAT
Bersifat fungisid dengan mekanisme tidak jelas dan pernah
digunakan per iv untuk blastomikosis tetapi tidak seefektif
amfoterisin B sehingga jarang digunakan lagi. Ketersediaan
hayati per oral kecil sekali dan efek samping serius seperti
hipotensi serta takikardia mungkin diperkecil dengan infus
larutan encer perlahan-lahan. Efek samping yang umum adalah
anoreksia, mual, muntah, malaise dan sakit kepala.
KESIMPULAN
Meskipun obat pilihan untuk penatalaksanaan mikosis dalam
tiga dekade terakhir meningkat jauh, prinsip farmakologis terapi
antijamur hanya sebagian dimengerti,antara lain karena kesulitan
utama dalam uji invitro resistensi primer maupun sekunder tidak
memberikan informasi klinis yang berarti dan adanya variasi
lebar dalam hasil uji kepekaan dengan berbagai metoda serta
antar laboratorium sehingga tanpa mengetahui kadar obat yang
dibutuhkan untuk inhibisi pertumbuhan jamur invitro tentu saja
sulit memperkirakan kadar obat terapetik. Hasil yang didapat
dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk media pertumbuhan
yang digunakan, pH, suhu dan ukuran inokulum. Korelasi
distribusi jaringan dan antijamur dengan hasil secara klinis
bervariasi misalnya penatalaksanaan sistemik jamur kulit dengan
griseofulvin dan ketokonazol dimungkinkan oleh terkonsen-
trasinya obat dalam stratum korneum karena partisi ke dalam
lemak kulit ataupun ikatan dengan keratinosit. Dalam hal ini
penggunaan umum antijamur bebas tanpa konsultasi dokter
merupakan pertimbangan penting dalam penatalaksanaan
mikosis superfisial.
Azol oral merupakan kemajuan besar dalam terapi antijamur
sistemik dan di antaranya flukonazol yang mempunyai profil
farmakologis paling menarik termasuk kemampuannya untuk
memberikan kadar obat aktif yang tinggi dalam cairan otak dan
urine. Azol oral I, ketokonazol, tidak begitu ditolerir diban-
dingkan dengan flukonazol atau itrakonazol dan berhubungan
dengan efek toksis yang secara klinis penting seperti hepatitis
dan inhibisi sintesis hormon steroid. Meskipun demikian harga-
nya lebih murah sehingga patut dipertimbangkan untuk
pengobatan jangka panjang. Azol oral merupakan alternatif
efektif dan amfotenisin B dan flusitosin pada terapi mikosis
tertentu. Ketokonazol dan itrakonazol efektif pada mikosis
endemik kronis termasuk blastomikosis, koksidioidomikosis
dan histoplasmosis; sedangkan itrakonazol juga efektif pada
penderita dengan sporotrikhosis dan aspergillosis. Flukonazol
bermanfaat pada bentuk umum meningitis jamur yang dise-
babkan oleh coccidioides dan cryptococcus di samping pada
kandidemia.
KEPUSTAKAAN
1. American Medical Association, AMA Drug Evaluations, 6th ed. Philadel-
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
44
phia: WB. Saunders Company, 1986: 1491, 1497, 1514-1516, 1553-1562.
2. Avery GS. Drug Treatment, 2nd ed. Sydney: Adis Press, 1980 : l26 1137-
8. 1217, 1236, 1300.
3. Cocabo SC et al. IIMS vol. 23 : 3, 1994.
4. Como JA. Dismukes WE. Oral Azol Drugs as Systemic Antifungal
Therapy, N. EngI. J. Med. 1994; 330: 263-70.
5. Gilman AG et al. The Pharmacological Basis of Therapeutics, 8th ed., vol.
II. Singapore: Pergamon Press, Inc., 1991 : 1165-1175.
6. Greenwood D. Antimicrobial Therapy. London: Bailliere Tindall, 1983
50-3.
7. Levinson WE, Jawetz E. Medical Microbiology & Immunology, 2nd ed.,
Prentice Hall International Inc., 1992 : 225-38.
8. Osol Act al. Remington's Pharmaceutical Sciences, 15th ed. Pennsylvania:
Mack PubI. Co., 1975 : 1164-69.
Kalender Peristiwa
Mei 20 ­ 31, 1996 ­ PELATIHAN DOKTER PEMERIKSA KESEHATAN TE-
NAGA KERJA
Gedung Tripartit Depnaker
J1. Gatot Subroto, Jakarta
Sekr.: Wisnu
PP 1DM Gedung Mochtar It. 2
Jl. Cikini (Pegangsaan Timur) 16
Jakarta 10320
Tel. 021 315 3115
Fax 021 310 2913
Juni 10 ­ 15, 1996 ­ PELATIHAN MANAJEMEN KESEHATAN PERNAFAS-
AN OKUPASI
Gedung Tripartit Depnaker
Jl. Gatot Subroto, Jakarta
Sekr.: Wisnu
PP IDKI Gedung Mochtar lt. 2
Jl. Cikini (Pegangsaan Timur) 16
Jakarta 10320
Tel. 021 315 3115
Fax 021 310 2913
16
­
20
Juni,
1996
­
KONGRES NASIONAL ILMU KESEHATAN ANAK
(KONIKA) X
Bukittinggi, 16­20 Juni 1996
Sekr.: Bagian Ilmu Kesehatan Anak
RSUP Dr. M. Djamil
Jl. Perintis Kemerdekaan
Padang
INDONESIA
Tel./Fax: (0751) 37913