TINJAUAN KEPUSTAKAAN
United Airway Disease
apakah itu ?
Heru Sundaru
Subbagian Alergi-Imunologi Klinik, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Berkembangnya ilmu kedokteran membuat para dokter
mengambil spesialisasi, bahkan super spesialisasi. Hal ini
mungkin bermanfaat pada penyakit-penyakit yang jarang atau
sulit tetapi pada penyakit-penyakit yang sering seperti asma
dan rinitis tidak selalu tepat. Rinitis alergik dan asma sering
dikelompokkan sebagai penyakit saluran napas bagian atas dan
bagian bawah, meskipun pada kenyataannya kedua penyakit
tersebut sering terdapat pada penderita yang sama; penata-
laksanaannya sering dilakukan oleh dua spesialis yang berbeda.
Seorang spesialis paru atau penyakit dalam yang me-
nangani asma sering terfokus pada gejala sesak pasien dan
sangat sedikit menaruh perhatian kepada saluran napas bagian
atas atau bahkan saluran cerna. Demikian pula sebaliknya ahli
THT terfokus kepada hidung atau sinus, tanpa pernah me-
nanyakan keluhan asmanya; padahal dalam praktek sangat
banyak kaitan antara saluran napas bagian atas dan bawah atau
lebih spesifik lagi kaitan rinitis dan asma.
Kalau dicermati dalam praktek sering didapatkan (a) asma
bersama-sama rinitis (b) infeksi virus saluran napas bagian atas
mendahului eksaserbasi asma (c) rinitis sebagai faktor risiko
untuk asma dan (d) infeksi sinusitis paranasal berkaitan dengan
asma; terutama pada pasien anak. Begitu eratnya hubungan
asma dan rinitis sehingga ada peneliti yang menyatakan kedua-
nya merupakan kesatuan penyakit yang disebut rinobronkitis
1
atau United Airway Disease.
2
Kenyataan di atas mendukung
konsep bahwa alergi sebenarnya bukan merupakan penyakit
satu organ sasaran, melainkan kelainan yang melibatkan
banyak organ. Tidak salah kalau dikatakan alergi merupakan
penyakit sistemik.
3
Asma bronkial dan rinitis alergik, termasuk dalam golong-
an penyakit atopi. Sebagai penyakit atopi keduanya sering
dijumpai pada seorang penderita. Penjelasan mengapa bisa
terjadi bersama-sama, belum sepenuhnya terungkap. Faktanya
kejadian rinitis lebih sering dijumpai dibanding asma; tetapi
bila hal tersebut terjadi pada seorang penderita, pengobatan
lebih sering ditujukan pada keluhan asmanya dan mengabaikan
gejala rinitisnya. Hal ini sebenarnya kurang menguntungkan,
karena pengobatan rinitis tidak jarang memperbaiki asmanya.
Makalah ini akan membahas hubungan asma dan rinitis,
ditinjau dari hubungan anatomi fisiologi, epidemiologi, re-
aktivitas saluran napas, serta pengaruh obat anti rinitis terhadap
asma, serta mekanismenya.
ANATOMI DAN FISIOLOGI
Saluran napas manusia secara fungsional terbagi menjadi
dua bagian, sebagai penghantar dan pertukaran udara. Meski-
pun dari hidung sampai ke alveoli anatomisnya berbeda, tetapi
fungsinya merupakan suatu kesatuan. Sebagai saluran napas
terdepan, hidung berfungsi (1) menghangatkan, melembabkan
dan menyaring udara (2) sebagai organ penciuman dan (3)
konservasi uap air dan panas terhadap udara lingkungan.
Fungsi menghangatkan, melembabkan dan menyaring udara ini
pada dasarnya untuk melindungi saluran napas bagian bawah
terhadap pengaruh udara dingin, kering maupun udara kotor
karena polusi. Bila hidung tidak berfungsi karena sesuatu hal,
maka saluran napas bagian bawah akan terkena dampaknya.
Rongga hidung dapat digambarkan sebagai ruangan kaku yang
tepinya dibatasi oleh tulang-tulang wajah dan perubahan salur-
an napasnya disebabkan oleh perubahan ketebalan jaringan
mukosa; hal ini karena jaringan mukosa hidung banyak me-
ngandung pembuluh darah yang membentuk sinusoid-sinusoid.
Pembuluh darah ini dipengaruhi oleh sistem saraf di sekitar
rongga hidung sehingga mudah melebar dan menyempit. Se-
baliknya bronkus dan cabang-cabangnya mempunyai cincin
kartilago yang tidak lengkap, yang kemudian dilengkapi oleh
otot polos. Makin ke distal kartilago ini makin kecil, akhirnya
hilang pada bronkiolus. Kontraksi otot polos akan mempeng-
aruhi diameter saluran napas.
Obstruksi saluran napas dapat terjadi karena : (1) vaso-
dilatasi, (2) edema jaringan, (3) sumbat mukus, (4) kontraksi
otot polos. Pada rinitis peranan vasodilatasi sangat menonjol.
Hal ini terbukti bila diberi obat golongan alfa adrenergik, obs-
truksi hidung akan segera berkurang atau hilang dan hal ini
Dibacakan pada acara Seminar Sehari "United Airway Disease", Hotel
Acacia,10 Mei 2003.
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
22
tidak terjadi pada asma. Sebaliknya pada asma, yang bronkus-
nya mengandung otot polos berespons sangat baik terhadap
agonis beta 2.
Meskipun obstruksi hidung sangat mengganggu, tetapi
tidak mengancam jiwa penderita, karena ia masih dapat ber-
napas melalui mulut. Sebaliknya obstruksi total bronkus akan
menyebabkan kolaps paru dan shunting aliran darah dari
jantung kanan ke kiri.
Rongga hidung mempunyai andil 50% pada resistensi
saluran napas dan hal ini berarti penting pada fungsi alveoli.
Bernapas melalui mulut atau trakeostomi dapat menyebabkan
kolaps alveoli dan shunting aliran darah dari jantung kanan ke
kiri. Hilangnya peranan humidifikasi akan menimbulkan masa-
lah, terutama bila udara yang dihirup dingin dan kering, karena
akan mengeringkan sekret dan menyebabkan spasme bronkus
di saluran napas bagian bawah. Untuk mengatasi hal tersebut,
produksi sekret akan bertambah, yang selanjutnya akan me-
ningkatkan gejala penyakit paru. Oleh karena itu salah satu
tujuan pengobatan adalah mengembalikan fungsi hidung untuk
melindungi saluran napas bagian bawah.
Terdapat persamaan dan perbedaan antara hidung dan
bronkus. Perbedaan yang menonjol adalah (1) hidung me-
ngandung sinusoid-sinusoid yang sangat berperan pada obs-
truksi hidung, sementara vasodilatasi kurang berperan pada
asma (2) sekret hidung mudah dikeluarkan sedangkan pada
asma dapat menyumbat (3) otot-otot polos dijumpai pada
bronkus, tidak pada saluran hidung. Agaknya istilah the nose
consists of two congested bronchi without smooth muscles ada
benarnya.
4
Dalam beberapa hal terdapat kesamaan rinitis dan asma,
keduanya didasari oleh reaksi inflamasi.
5
EPIDEMIOLOGI
Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa asma dan
rinitis sering terdapat bersama-sama. Gejala-gejala hidung di-
laporkan pada 28 - 78% penderita asma dibandingkan yang
hanya 20% pada masyarakat luas. Demikian pula rinitis alergik
dapat dijumpai pada 19 - 38% penderita asma, jauh lebih tinggi
dibandingkan hanya 3-5% di masyarakat.
6-7
Dari suatu survei
yang melibatkan 6563 penduduk, diagnosis rinitis alergik atau
asma yang baru, didapatkan 2 sampai 4 kali lebih tinggi pada
penduduk yang mempunyai salah satu dari kedua penyakit tadi
dibanding penduduk yang riwayatnya tidak mempunyai kedua
penyakit tadi.
8
Settipane dkk
9
meneliti 690 mahasiswa yang tidak men-
derita asma, diikuti selama 23 tahun. Mereka yang pada tahun
1961 mempunyai gejala hidung, menderita asma 3 kali lebih
sering (10,5%) dibanding tanpa rinitis (3,6%) (tabel 1).
Tabel 1. Rinitis alergik sebagai faktor risiko timbulnya asma baru : 23
tahun pemantauan.
9
Diagnosis sewaktu
mahasiswa
Total
risiko
Asma
baru
% Nilai
P
Rinitis alergik
musiman dan bukan
musiman
162 17 10.5
<
0.002
Bukan rinitis alergik
528
19
3.6
Total 690
36
5.2
* Tidak ada riwayat asma saat ini atau sebelumnya
Hipereaktivitas saluran napas
Hipereaktivitas saluran napas erat kaitannya dengan asma
bronkial, dan merupakan salah satu kriteria diagnosis.
10
Mani-
festasi klinis hipereaktivitas adalah bronkokontriksi setelah
terpajan udara dingin, bau menyengat, debu, asap, atau uap di
udara. Di laboratorium hipereaktivitas dapat diukur melalui uji
provokasi bronkus dengan metakolin, histamin atau kegiatan
jasmani. Umumnya terdapat hubungan antara derajat hiper-
eaktivitas dengan derajat beratnya asma.
Banyak penelitian melaporkan bahwa pasien-pasien de-
ngan rinitis alergik tanpa disertai asma secara klinis sering
menunjukkan hipereaktivitas bronkus. Prevalensinya berbeda-
beda tergantung metode dan definisi reaktivitas yang dipakai.
Diperkirakan 11% sampai 32% penderita rinitis menunjukkan
hipereaktivitas bronkus dalam derajat lebih ringan dibanding
penderita asma dengan inhalasi zat-zat seperti histamin, meta-
kolin atau karbakol.
11-12
Di antara penderita rinitis alergik
musiman tanpa asma terjadi kenaikan reaktivitas bronkus
selama musim tepung sari (pollen). Madonni dkk
11
melapor-
kan kenaikan insiden hipereaktivitas bronkus pada penderita
rinitis alergik musiman sebelum dan selama musim tepung sari
dari 11% menjadi 48%. Juga dilaporkan bahwa penderita rinitis
alergik perennial mempunyai derajat reaktivitas yang lebih
tinggi dibanding rinitis alergik musiman.
13
Meskipun ada peneliti yang menyatakan reaktivitas bron-
kus dalam derajat asma pada penderita rinitis merupakan faktor
resiko untuk asma (PC20 metakolin < 8 mg/ml)
13
, penelitian
lain menemukan bahwa hipereaktivitas bronkus pada penderita
rinitis tidak bermanfaat dalam meramalkan penderita rinitis
untuk berkembang menjadi asma.
14
Sampai sekarang masih sulit menentukan apakah rinitis
merupakan manifestasi pertama dari alergi pernapasan yang
kebetulan mempunyai asma atau mempunyai peranan langsung
sebagai penyebab asma. Masalah ini memerlukan penelitian
epidemiologi jangka panjang pada penderita dengan rinitis
alergik, termasuk penilaian reaktivitas bronkus. Data penelitian
laboratorium maupun hasil terapi akan sangat membantu.
15
EFEK TERAPI RINITIS TERHADAP ASMA
Dalam menilai hubungan asma dan rinitis, efek terapi se-
cara tidak langsung memperkuat dugaan tersebut. Dua macam
obat yang sering dipakai pada pengobatan rinitis alergik yaitu
kortikosteroid aerosol intranasal dan antihistamin.
Kortikosteroid aerosol intranasal
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menilai ke-
efektifan kortikosteroid intranasal pada penderita rinitis alergik
musiman dan perenial. Corren dkk
16
melakukan penelitian
pengaruh beklometason intranasal pada penderita rinitis alergik
musiman yang mempunyai asma. Reaktivitas bronkus me-
ningkat selama musim tepung sari pada penderita yang men-
dapat plasebo tetapi tidak meningkat pada penderita yang men-
dapat terapi kortikosteroid. Karena penderita yang diselidiki
terlalu sedikit, tidak didapatkan perbedaan bermakna dalam hal
gejala asma, nilai arus puncak ekspirasi maupun nilai-nilai
spirometri. Namun demikian paling tidak dapat disimpulkan
bahwa terapi profilaksis kortikosteroid intranasal dapat men-
cegah peningkatan reaktivitas bronkus selama musim tepung
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 23
sari pada penderita rinitis yang disertai asma.
Herrikson dkk
17
serta Watson dkk
18
melakukan penelitian
pada penderita rinitis perenial yang juga mempunyai asma.
Setelah 4 minggu memakai budesonide intranasal terjadi per-
baikan obstruksi hidung, pernapasan mulut berkurang di-
banding dengan kontrol. Perbaikan fungsi hidung ini juga
menurunkan gejala asma serta kejadian asma akibat kegiatan
jasmani.
20
Menurut Watson dkk
18
perbaikan asma ini mungkin
berhubungan dengan perbaikan fungsi hidung dan bukan efek
langsung pada saluran napas bagian bawah. Kedua penelitian di
atas juga didukung oleh Wood dan Eggleston
19
bahwa
triamsinolon intranasal juga menurunkan reaktivitas saluran
napas bagian atas dan bawah terhadap pemajanan dengan
alergen bulu kucing.
Antihistamin
Histamin merupakan salah satu mediator yang penting
pada asma alergik. Sebagai antagonis reseptor H1, antihistamin
mempunyai pengaruh pada fungsi paru. Penelitian menunjuk-
kan bahwa obat ini dapat memperbaiki gejala dan fungsi paru
pada asma. Oleh karena itu, tidak seperti pada kortikosteroid
intranasal, perbaikan yang didapat karena antihistamin pada
asma tidak hanya disebabkan perbaikan saluran napas bagian
atas.
Penelitian pada generasi pertama antihistamin menunjuk-
kan sangat sedikit efek perbaikannya pada asma
20
dan efek
sampingnya sangat mengganggu; oleh karena itu antihistamin
ditinggalkan; tetapi dengan munculnya generasi kedua anti-
histamin yang dikatakan lebih aman dan bekerja lebih spesifik
terhadap reseptor H1, menjadi menarik untuk dipelajari
kembali.
21
Rafferty dkk
22
menunjukkan bahwa terfenadin dapat me-
ngurangi gejala asma serta kebutuhan bronkodilator dan sedikit
memperbaiki fungsi paru, tetapi memerlukan dosis sangat besar
yaitu 240-540 mg sehari. Grant dkk
23
melaporkan bahwa
cetirizin 15-20 mg sehari dapat mengurangi gejala rinitis dan
asma, namun perbaikan fungsi paru tidak berbeda bermakna
dibanding plasebo. Perlu dikemukakan bahwa pemakaian anti-
histamin perlu mempertimbangkan selain kefektifannya juga
keamanan. Jika mungkin untuk pengobatan alergi dipakai anti-
histamin generasi kedua yang selain efektif, aman dan dapat
dikatakan hampir bebas efek samping. Sejauh ini obat-obat
yang memenuhi kriteria tadi adalah loratadin, setirizin dan
feksofenadin. Ketiga obat tersebut selain mempunyai efek
antihistamin juga anti-inflamasi alergik, artinya dapat meng-
hambat migrasi eosinofil. Seperti diketahui eosinofil berperan
penting pada inflamasi alergi yang terjadi pada rinitis alergik
maupun asma.
24-25
Penelitian menunjukkan bahwa ketiga anti-
histamin tadi mampu menekan produksi atau penampilan
ICAM-1 (inter-cellular adhesion molecule-1) pada sel endotel
kapiler,
26-31
yang diperlukan untuk migrasi eosinofil dari
kapiler ke jaringan. Konsekuensi pemakaian obat yang mem-
punyai aksi antihistamin maupun anti-inflamasi adalah ber-
kurangnya gejala dan menurunnya reaktivitas jaringan terhadap
zat-zat yang memprovokasinya. Dengan demikian dapat di-
simpulkan bahwa antihistamin khususnya generasi kedua ber-
manfaat pada rinitis yang disertai asma.
Pada penelitian paralel acak buta ganda terkontrol, kembali
Ciprandi dkk
32
melaporkan pemberian terfenadin secara kon-
tinyu selama 12 bulan pada anak-anak sekolah yang menderita
rinokonjungtivitis dan atau asma intermiten ringan yang alergi
tungau debu rumah. Dibanding dengan pasien yang mendapat
plasebo, pasien yang mendapat terapi terfenadin 1 mg/kgBB
menunjukkan perbaikan gejala alergi secara bermakna (p<
0,003) dan penurunan inflamasi terlihat dari infiltrasi sel
radang dan ekspresi ICAM-1 di hidung (p<0,001). Absensi
sekolah dan kunjungan ke dokter juga berkurang (p<0,003).
Tidak didapatkan efek samping pada kedua kelompok.
Laporan terakhir dari Ciprandi dkk
33
menyatakan bahwa
pemberian cetirizin jangka panjang tidak saja mengurangi
gejala alergi saluran napas bagian atas dan bawah (Gb. 1 dan 2)
tetapi juga biaya pemakaian obat tambahan seperti pemakaian
obat anti asma steroid topikal dan antibiotik dibandingkan
pemakaian obat bila perlu (tabel 2).
Tabel 2. Rerata biaya pengobatan setiap anak selama 6 bulan
33
Placebo (US$)
Cetirizin (US$)
Cetirizin (dosis tambahan)
20.01
3.5
Cetirizin reguler
-
43.7
Albuterol inhalasi
0.50
0.38
Fluticasone inhalasi
17.38
11.55
Acetaminophen 13.8
16.2
Antibiotik 208.7
18.2
Total 279.54
181.83
Mekanisme hubungan asma dan rinitis
Meskipun terdapat bukti-bukti bahwa rinitis alergik mem-
pengaruhi asma tetapi mekanisme yang menghubungkan dis-
fungsi saluran napas atas dan bawah dapat dikatakan belum
terungkap. Berbagai teori diajukan untuk menerangkan hu-
bungan antara rinitis dan asma, antara lain :
(1) refleks naso-bronkial.
(2) meningkatnya inhalasi melalui mulut terhadap udara
dingin, kering atau alergen inhalasi.
(3) drainase post-nasal bahan-bahan inflamasi ke saluran
napas bagian bawah.
(4) absorpsi mediator atau faktor kemotaktik.
(5) menurunnya respons terhadap adrenergik beta.
Refleks naso-bronkial, terungkap dari penelitian Kaufman
dan Wirght
34
yang membuktikan pemberian silikat di mukosa
hidung manusia bukan penderita asma menyebabkan pening-
katan resistensi saluran napas bagian bawah. Spasme bronkus
yang terjadi pada pemberian silikat di hidung ternyata dapat
dihambat dengan atropin
34
dan reseksi saraf trigeminus
35
; ke-
jadian tersebut mendukung peranan refleks kolinergik. Meski-
pun masih terdapat silang pendapat, Yan dan Salome
36
melaku-
kan uji provokasi histamin pada hidung penderita rinitis alergi
dan asma yang stabil, ternyata didapatkan penurunan volume
ekspirasi paksa detik pertama (FEV1) lebih dari 10% pada 8
dari 12 penderita. Cepatnya respons saluran napas bagian
bawah menunjukkan adanya kemungkinan peranan refleks
naso-bronkial. Tetapi penelitian Little dkk
37
tidak menyokong
peranan refleks naso-bronkial, karena dengan pemberian fenile-
frin yang bukan anti-kolinergik, refleks naso-bronkial dapat
dihambat.
Pernapasan mulut terjadi akibat hidung tersumbat oleh
edem jaringan dan sekret. Penelitian sebelumnya menunjukkan
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
24
bahwa bernapas melalui mulut meningkatkan kemungkinan ter-
jadinya serangan asma karena kegiatan jasmani.
38
Perbaikan
fungsi hidung diduga dapat memperbaiki gejala asma. Hal ini
karena udara yang dihirup akan disaring, dihangatkan dan di-
lembabkan dulu sebelum mencapai bronkus. Alergen dan
polutan akan tersaring di hidung.
Drainase bahan-bahan inflamasi dari saluran napas bagian
atas ke saluran napas bagian bawah mungkin terjadi (post-nasal
drip). Meskipun pada kelinci percobaan rinosinusitis dapat
meningkatkan reaktivitas saluran napas,
39
Bardin, dkk
40
mem-
buktikan dengan zat radioaktif, tidak ada aspirasi cairan sinus
ke dalam bronkus.
Akibat reaksi alergi sangat mungkin terjadi absorbsi zat-
zat mediator atau kemotaktik, sebelum akhirnya mencapai
bronkus.
16
Teori ini menyatakan bahwa pada penyakit atopi,
termasuk di dalamnya asma dan rinitis, kepekaan reseptor sel-
selnya menurun terhadap rangsangan adrenergik beta.
KESIMPULAN
Penelitian epidemiologik menunjukkan bahwa rinitis aler-
gik dan asma sering terdapat bersama-sama, dan hipereaktivitas
bronkus non spesifik dapat dijumpai pada sebagian penderita
rinitis alergik tanpa gejala asma. Sampai sekarang belum jelas
mekanisme hubungan rinitis alergik dan asma, meskipun ke-
duanya merupakan penyakit inflamasi. Pada penderita rinitis
yang juga asma, kortikosteroid intranasal dan antihistamin
khususnya generasi kedua dapat mengurangi gejala asma dan
bahkan pada sebagian penderita dapat memperbaiki fungsi paru
dan reaktivitas bronkus. Meskipun pengobatan rinitis alergik
mempunyai efek perbaikan asma, belum jelas apakah peng-
obatan rinitis dapat mempengaruhi perjalanan penyakit asma.
KEPUSTAKAAN
1.
Simon FER. Allergic rhinobronchitis: the asthma-allergic rhinitis link. J
Allerg Clin Immunol 1994; 104 : 534-40.
2.
Passalacqua G Ciprandi G, Canonica GW. United airway diseases: thera-
peutic implication. Thorax 2000: 55(Suppl 2)S26-S27.
3.
Schleimer RP, Togias AG. Introduction. Systemic Aspects of Allergic
Diseases. J Allerg Clin Immnunol 2000; 106(Suppl): 191s
4.
Mygind N, Bisgaard H. Applied anatomy of the airways. Dalam : Mygind
N, Pipkorn F, Dahl R, eds. Rhinitis and asthma. Similarities and
differences. Copenhagen: Munksgaard. 1990: 21-37.
5.
Persson CCA. Pipkorn U. Pathogenesis and pharmacology of asthma and
rhinitis. Dalam : Mygind N, Pipkorn F, Dahl R, eds. Rhinitis and asthma.
Similarities and differences. Copenhagen. Munksgaard, 1990: 275-88.
6.
Smith JM. Epidemiology and natural history of asthma, allergic rhinitis
and atopic dermatitis. Dalam: Middleton E, Reed CE, Ellis EF, Adkinson
NF. eds. Allergy : Principle and practice. 3rd ed. St. Louis: Mosby, 1988:
891-929.
7.
Dahl R. Rhinitis and asthma. Dalam : Mygind N, Naclerio RM, eds.
Allergic and non allergic rhinitis. Clinical aspects. Copenhagen: Munks-
gaard, 1993: 184-8.
8.
Broder I, Higgin MW, Mathews KP, Keller B. Epidemiology of asthma
and allergic rhinitis in a total community. Tecumseh, Michigan. J Allerg
Clin Immunol 1974; 54: 100-10.
9.
Settipane RJ, Hagy GW, Settipane GA. Longterm risk factors for
developing asthma and rhinitis : a 23-year follow up study of college
students. Allerg Proc 1994; 15: 21-5.
10.
NHLBI/WHO Workshop report. Global Initiative for Asthma. Publication
No. 95-3859. January 1995; 1-176.
11.
Madonini E, Briatico-Vangosa B, Pappacoda A, Maccagini G, Cardani A,
Saporiti F. Seasonal increased bronchial reactivity in allergic rhinitis. J
Allerg Clin Immunol 1987; 79: 358-63.
12.
Ramsdale EH, Morris MM, Roberts RS, Hargreave FE. Asymptomatic
bronchial hyperresponsiveness in rhinitis. J Allerg Clin Immunol 1985;
75: 573-7.
13.
Verdiani P, Di Carlo S, Baronti A. Different prevalence and degree of
nonspesific bronchial hyperreactivity between seasonal and perennial
rhinitis. J Allerg Clin Immunol 1990; 86: 576-82.
14.
Prieto L, Berto JM, Guiterrez V. Airway responsiveness to metacholine
and risk of asthma in patients with allergic rhinitis. Ann Allerg 1994; 72:
534-9.
15.
Corren J. Allergic rhinitis and asthma: How important is the link ? J
Allerg Clin Immunol 1997; 99: 5781-6.
16.
Corren J. Adinoff AD, Buchmeier AD, Irvin CG. Nasal beclomethasone
prevents the seasonal increase in bronchial responsiveness in patients
with allergic rhinitis and asthma. J Allerg Clin Immunol 1992; 98: 250-6.
17.
Henriksen JW, Wenzel A. Effect of an intranasal administered corti-
costeroid (budesonide) on nasal obstruction, mouth breathing and
asthma. Am Rev Respir Dis 1984; 130: 1014-8.
18.
Watson WTA, Becker AB, Simmons FER. Treatment of allergic rhinitis
with intranasal corticosteroids in patients with mild asthma: Effect on
lower airway responsiveness. J Allerg Clin Immunol 1993; 91: 97-101.
19.
Wood RA, Eggleston PA. The effects of intranasal steroids on nasal and
pulmonary response to cat exposure. Am J Respir Crit Care Med 1995;
151: 315-20.
20.
Karlin JM. The use of antihistamines in asthma. Ann Allerg 1972; 30:
342-7.
21.
Meltzer EO. The use of anti-H1 drugs in mild asthma. Allergy 1995; 50:
41-7.
22.
Rafferty P, Jackson L, Smith R, Holgate ST. Terfenadine: a potent H1-
receptor antagonist in the treatment of grass pollen sensitive asthma. Br J
Clin Pharmacol 1990; 30: 229-35.
23.
Grant JA, Nicodemus CF, Findaly SR et al. Cetirizine in patients with
seasonal allergic rhinitis and concomitant asthma: prospective
randomized, placebo-controlled trial. J Allerg Clin Immunol 1995; 95:
723-32.
24.
Cristina Seminario M, Gleich GJ. The role of eosinophils in the
pathogenesis of asthma. Curr Op Immunol 1994; 6: 860-4.
25.
Mygid N. Pathophysiology of allergic rhinitis. Eur Respir Rev 1994; 4:
248-51.
26.
Paolieri F, Battifora M, Riccio AM et al. Terfenadine and fexofenadine
reduce in vitro ICAM-1 expression on human continuous cell link. Ann
Allerg Asthma Immunol 1998; 81: 601-7.
27.
Abdelaziz MM, Devalia JL. Kahir OA et al. Effect of fexofenadine on
eosinophil-induced changes in epithelial permeability and cytokine relea-
se from nasal epithelial cells of patients with seasonal allergic rhinitis. J
Allerg Clin Immunol 1998; 101: 410-20
28.
Vignola AM, Crampetle L, Mondain M et al. Inhibitory activity of
loratadine and descarboethoxyloratadine on expression of ICAM-1 and
HLA-DR by nasal epithelial cells. Allergy 1995; 50: 2000-3.
29.
Redier H, Chanez P, De Vos C et al. Inhibitory effect of cetirizine on
bronchial eosinophil recruitment induced by allergen inhalation challenge
in allergic patients with asthma. J Allerg Clin Immunol 1992; 90: 215-24.
30.
Ciprandi G, Buscaglia S, Pesce G et al. Cetirizine reduces inflammatory
cell recruitment and ICAM-1 (or CD-54) expression on conjunctival
epithelium in both early and late phase reaction after allergen-specific
challenge. J Allerg Clin Immunol 1995; 95: 612-21.
31.
Fadel R, Herpin-Richard N, Rilioux JP, Henocq E. Inhibitory effect of
cetirizine 2 HCl on eosinophil migration in vivo. Clin Allerg 1987; 17:
373-9.
32.
Ciprandi G, Ricca V, Tosca M, Landi M, Passalaeque G, Cononica GW.
Continuous antihistamine treatment controls allergic inflammation and
reduces respiratory morbidity in children with mite allergy. Allergy 1999;
54: 358-65.
33.
Ciprandi G, Tosca M, Passalaequa G, Cononica G. Longterm cetirizine
treatment reduces allergic symptoms and drug prescriptions in children
with mite allergy. Ann Allerg Asthma Immunol 2001; 87: 222-6.
34.
Kaufman J, Wright GW. The effect of nasal and nasopharyngeal irritation
on airway resistance in man. Am Rev Resp Dis 1969; 100: 626-30.
35.
Kaufman J, Chen JC, Wright GW. The effect of trigeminal resection on
reflex bronchoconstriction after nasal and nasopharyngeal irritation in
man. Am Rev Resp Dis 1970; 101: 768-9.
36.
Yan K, Salome C. The response of the airways to nasal stimulation in
asthmatics with rhinitis. Eur J Resp Dis 1983; (suppl): 105-8.
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 25
37.
Little NT, Carlisle CC,Millman RP, Braman SS. Changes in airway resis-
tance following nasal provocation.Am Rev Respir Dis 1990;141:580-3.
39.
Brugman SM, Larson GL, Henson PM, Honor J, Irvin CG. Increased
airway responsiveness associated with sinusitis in a rabbit model . Am
Rev Resp Dis; 147: 314-20.
38.
Shurtman-Ellstein R, Zeballos RJ, Buckley JM, Souhrada JF. The bene-
ficial effect of nasal aerating in exercise induced broncho-constriction.
Am Rev Respir Dis 1978; 118: 65-73.
40.
Bardin PG, Van-Heerden BB, Joubert JR. Absence of pulmonary
aspiration of sinus contents in patients with asthma and sinusitis. J Allerg
Clin Immunol 1990; 86: 82-8.
Gambar 1. Rerata skor mingguan gejala saluran napas bagian atas (rinitis) selama 24 minggu.* Perbedaan
bermakna (p < 0.05). (Ciprandi dkk : Ann Allerg Asthma Immunol, 2001; 807: 222-6)
Gambar 2. Rerata skor mingguan saluran napas saluran bawah (asma) selama 24 minggu.* Perbedaan bermakna
(p < 0.05). (Ciprandi dkk : Ann Allerg Asthma Immunol, 2001; 807: 222-6).
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
26