HASIL PENELITIAN
Uji Patogenisitas Isolat
B. thuringiensis yang Ditumbuhkan
dalam Buah Kelapa terhadap
berbagai Jentik Nyamuk
di Laboratorium
Blondine Ch P, RA Yuniarti
Stasiun Penelitian Vektor Penyakit, Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Rl, Salatiga
ABSTRAK
Bacillus thuringiensis merupakan salah satu spesies bakteri yang digunakan untuk
pengendalian jentik nyamuk. Bakteri ini perlu dikembangkan mengingat pentingnya
pelestarian lingkungan yang bebas insektisida.
Ditemukannya bakteri patogen B. thuringiensis (100 PS) yang diisolasi dari habitat
tanah dan ditumbuhkan dalam buah kelapa.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui patogenisitas isolat B. thuringiensis (100
PS) yang ditumbuhkan dalam buah kelapa terhadap berbagai jentik nyamuk.
Isolat B. thuringiensis (100 PS) yang ditumbuhkan dalam media kimiawi Tryptose
Phosphate Broth (TPB) sebagai standar.
Hasil pengujian patogenisitas isolat B. thuringiensis (100 PS) yang ditumbuhkan
dalam buah kelapa dan media TPB terhadap jentik nyamuk Anopheles aconitus, An.
barbirostris, Aedes aegypti, dan Culex quinquefasciatus, menunjukkan patogenisitas >
50% selama 24 dan 48 jam pengujian. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara
persentase kematian jentik yang diuji dari isolat yang ditumbuhkan dalam buah kelapa
dan media TPB (p > 0,05). Buah kelapa dapat digunakan sebagai medium untuk
pertumbuhan B. thuringiensis.
Kata kunci : B. thuringiensis, kelapa, patogenisitas, jentik nyamuk
PENDAHULUAN
Di daerah tropis seperti Indonesia, nyamuk merupakan
serangga yang sering mengganggu kehidupan manusia. Di
samping itu nyamuk juga dapat menyebarkan penyakit seperti
malaria, demam berdarah dengue dan filariasis. Untuk meng-
atasi hal tersebut, manusia lebih cenderung menggunakan
insektisida misalnya etofenprox untuk penyemprotan rumah-
rumah. Selain itu dapat pula menggunakan obat pembasmi
nyamuk yang dijual bebas seperti obat nyamuk bakar, tissue,
oles, elektrik dan sebagainya. Mengingat banyaknya bahan
aktif insektisida yang mudah diperoleh, dan kemungkinan besar
dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, mendorong di-
kembangkannya jazad hayati seperti Bacillus thuringiensis.
Salah satu kelebihan bakteri ini adalah sifatnya yang spesifik
sehingga dapat menekan populasi jentik nyamuk, narnun tidak
mencemarkan lingkungan, atau mematikan organisme lain yang
bukan sasaran.
Salah satu karakteristik dari B. thuringiensis adalah dapat
memproduksi kristal protein di dalam sel bersama-sama dengan
spora pada waktu sel mengalami sporulasi
(1)
.
Laboratorium jazad hayati Stasiun Penelitian Vektor Pe-
nyakit telah berhasil mengisolasi B. thuringiensis dari tanah dan
menumbuhkan bakteri tersebut pada media air kelapa dan en-
dosperm kelapa (santan), dengan patogenisitas > 50% terhadap
jentik nyamuk Ae. aegypti dan Cx. quinquefasciatus
(2)
.
Suatu penelitian yang dilakukan di "Alexander von Hum-
boldt Tropical Medicine Institute" di Lima, Peru adalah me-
numbuhkan B. thuringiensis israelensis dalam media alami
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
20
buah kelapa sebab kelapa kaya akan asam amino dan karbo-
hidrat
(3)
. Selain itu kelapa relatif rnurah, dapat diperoleh setiap
saat dan terdapat dimana-mana. Sedangkan media kimia seperti
agar nutrien, "NYSMA", "NYPC" dan Triptose Phosphate
Broth yang merupakan media baku untuk pertumbuhan B.
thuringiensis harganya mahal dan tidak mudah diperoleh. Ber-
dasarkan informasi di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui patogenisitas isolat B. thuringiensis (100 PS) yang
ditumbuhkan dalam buah kelapa terhadap berbagai jentik
nyamuk di laboratorium.
BAHAN DAN CARA KERJA
A. Bahan Penelitian
Media yang digunakan adalah buah kelapa serta media
Tryptose Phosphate Broth (TPB) sebagai media standar.
Isolat B. thuringiensis (100 PS) yang diperoleh dari hasil
isolasi dari habitat tanah menurut metode Chilcott dan Wigley
(1988)
(4)
. Buah kelapa yang digunakan adalah kelapa kering
yang beratnya sekitar 1250 gram dan berisi air kelapa sebanyak
500 ml. Sebelum digunakan, terlebih dahulu tempurung kelapa
dibersihkan dengan alkohol 70%. Jentik nyamuk vektor yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Anopheles aconitus, An.
barbirostris, Aedes aegypti dan Culex quinquefasciatus masing-
masing instar III, hasil koloni di laboratorium.
Cara Kerja
Pertumbuhan dan Uji Patogenesitas Isolat B. thuringiensis
(100 PS) sebagai berikut :
Isolat B. thuringiensis (100 PS) yang ditemukan dibuat
kultur murni pada media "NYSMA" miring dan diinkubasi
pada suhu 30°C selama 4 hari. Sesudah diinkubasi dari media
"NYSMA" diambil 10 ose penuh (loopfull) dan dimasukkan ke
dalam 50 ml Tryptose Phosphate Broth (TPB). Sesudah itu
media TPB di shake (goyang) pada temperatur kamar selama
48 jam. Sesudah 48 jam, biakan murni pada media TPB di-
masukkan ke dalam buah kelapa dan diinkubasi selatna 6 hari
pada temperatur kamar. Sesudah 6 hari, dilakukan pengujian
patogenisitas menurut metode Chilcott dan Wigley
(4)
, sebagai
berikut :
Ambil 15 ml broth (diambil dari 50 ml TPB) dan dimasuk-
kan ke dalam mangkok plastik berisi 100 ml air suling dan 25
jentik An. aconitus instar III (umur 6-7 hari). Sebagai kontrol,
mangkok plastik hanya diisi 150 ml air suling dan 25 jentik An.
aconitus. Untuk setiap perlakuan dilakukan 3 kali ulangan.
Pengamatan dilakukan selama 24 dan 48 jam pengujian. Uji
patogenisitas terhadap An. barbirostris, Ae. aegypti dan Cx.
quinquefasciatus dilakukan dengan cara yang sama.
Biakan murni isolat B. thuringiensis (100 PS) yang di-
simpan pada media "NYSMA", diambil 2 ose penuh (loopfull)
dan dimasukkan ke dalarn 50 ml TPB sebagai media kimiawi
(media standar). Media TPB di shake (goyang) pada temperatur
kamar selama 48 jam. Sesudah 48 jam, pengujian patogenisitas
dilakukan menurut metode Chilcott dan Wigley (1988)
(4)
se-
bagai berikut :
Ambil 15 ml broth (diambil dari 50 ml TPB) dan dimasuk-
kan ke dalatn mangkok plastik berisi 100 ml air suling dan 25
jentik An. aconitus instar III (umur 6-7 hari). Sebagai kontrol,
mangkok plastik hanya diisi 150 ml air suling dan 25 jentik An.
aconitus. Untuk setiap perlakuan dilakukan 3 kali ulangan.
Pengamatan dilakukan selama 24 dan 48 jam pengujian. Uji
patogenisitas terhadap jentik An. barbirostris, Ae. aegypti dan
Cx. quinquefasciatus dilakukan dengan cara yang sama.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengujian patogeiusitas isolat B. thuringiensis (100
PS), setelah ditumbuhkam dalam buah kelapa terhadap ber-
bagai jentik nyamuk instar III pada 24 dan 48 jam pengajuan,
disajikan pada Tabel 1.
Uji patogenisitas isolat B. thuringiensis (100 PS) yang
ditumbuhkan dalam buah kelapa terhadap jentik An. aconitus,
An. barbirostris, Ae. aegypti dan Cx. quinquefasciatus masing-
masing instar IlI, menunjukkan potogenisitas > 50% pada 24
dan 48 jam pengujian. Persentase kematian jentik An. aconitus,
An. barbirostris, Ae. aegypti dan Cx. quinquefasciatus, berturut
-turut 76%, 78%, 97% dan 74% selama 24 jam pengujian dan
100%, 92%, 100% dan 100% pada 48 jam pengujian (Tabel 1).
Uji patogenisitas isolat B. thuringiensis (100 PS) yang
ditumbuhkan dalarn media kimiawi TPB terhadap jentik An.
aconitus, An. barbirostris, Ae. aegypti dan Cx. quinquefasciatus
masing-masing instar III, menunjukkan patogenisitas > 50%.
Persentase kematian jentik An. aconitus, An. barbirostris, Ae.
aegypti dan Cx. quinquefasciatus berturut-turut 73%, 80%,
78% dan 65% selama 24 jam pengujian dan 100%, 100%,
100% dan 88% pada 48 jam pengujian.
Uji yang dilakukan terhadap persentase kematian jentik An.
aconitus, An. barbirostris, Ae. aegypti dan Cx. quinquefasciatus
dari isolat yang ditumbuhkan dalam buah kelapa dan media
TPB, tidak menunjukkan beda nyata pada 24 maupun 48 jam
pengujian (p > 0,05). Hal ini berarti bahwa buah kelapa dapat
digunakan sebagai media pengganti TPB. Walaupun tidak ada
perbedaan yang bermakna, akan tetapi isolat. Bacillus
thuringiensis (100 PS) yang ditumbuhkan dalam buah kelapa
menunjukkan patogenisitas tinggi terhadap jentik Ae. aegypti
yaitu 97% selama 24 jam pengujian dan 100% pada 48 jam
Tabel 1. Hasil uji patogenisitas isolat B. thuringiensis (100 PS) yang ditumbuhkan dalam buah kelapa
terhadap berbagai jentik nyamuk instar III.
Persentase kematian berbagai jentik nyamuk*
An. aconitus
An. barbirostris
At. aegypti Cx.
quinquefasciatus
Isolat Media
24 jam 48 jam 24 jam
48 jam
24 jam
48 jam
24 jam
48 jam
100
PS
Kelapa
TPB
76
73
100
100
78
80
92
100
97
78
100
100
74
65
100
88
* = rata-rata 3 kali ulangan
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001 21
pengujian. Hal ini mungkin dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor misalnya kebiasaan dan perilaku makan jentik, formulasi
(khususnya tingkat pengendapan/sedimentasi) serta adanya
toksin di daerah makan jentik (larval feeding zone)
(5,6)
. Ber-
dasarkan faktor daerah makan jentik dan tingkat sedimentasi/
pengendapan, dapat diduga bahwa toksin B. thuringiensis lebih
cepat mengendap ke bawah di dasar yang merupakan daerah
makan jentik Ae. aegypti daripada di bawah permukaan air
(suspension feeders) yang merupakan daerah makan bagi jentik
Cx. quinquefasciatus
(7)
. Sedangkan jentik Anopheles yang
mempunyai kebiasaan mengambil makanan (termasuk toksin)
di daerah permukaan (lebih kurang 1-2 mm) dan bukan di
dasar
(8)
. Setelah melihat persentase kematian berbagai jentik
nyamuk yang > 50%, maka perlu dilakukan serologi dari isolat
B. thuringiensis (100 PS) tersebut untuk mengetahui serotipe-
nya. Sampai dengan saat ini telah dikenal 58 antisera - H
standar, untuk menentukan serotipe bakteri B. thuringiensis
yang diperoleh dari Institut Pasteur Perancis (Happy Widiastuti,
Komunikasi Pribadi).
Bacillus thuringiensis serotipe H-14 telah diketahui mem-
punyai patogenisitas tinggi terhadap jentik nyamuk dan jentik
lalat hitam
(1)
. Asam amino dan karbohidrat yang dikandung
buah kelapa merupakan sumber protein bagi pertumbuhan B.
thuringiensis. Karena itu buah kelapa dapat digunakan sebagai
media alami yang perlu dikembangkan lebih lanjut untuk per-
tumbuhan B. thuringiensis.
KESIMPULAN DAN SARAN
Patogenisitas isolat B. thuringiensis (100 PS) yang di-
tumbuhkan dalam buah kelapa terhadap jentik An. aconitus, An.
barbirostris, Ae. aegypti dan Cx. quinquefasciatus menunjuk-
kan patogenisitas > 50% pada 24 dan 48 jam pengujian.
Tidak ada perbedaan yang bermakna antara persentase ke
matian jentik An. aconitus, An. barbirostris, Ae. aegypti dan
Cx. quinquefasciatus dari isolat yang ditumbuhkan dalam buah
kelapa dan media Tryptose Phosphate Broth (p > 0,05).
Buah kelapa dapat digunakan sebagai medium alami untuk
pertumbuhan B. thuringiensis.
Penelitian ini akan dikembangkan lebih lanjut dengan
menggunakan kelapa sebagai media untuk pertumbuhan B.
thuringiensis sehingga dapat digunakan untuk pengendalian
jentik nyamuk di lapangan.
KEPUSTAKAAN
1.
WHO. Data sheet on the biological control agent Bacillus thuringiensis
serotype H-14. 1979. WHO/VBC/79.750.13p.
2. Blondine ChP, Widyastuti U, Sukarno, Subiantoro. Pertumbuhan isoltt
Bacillus thuringiensis pada media kelapa dan uji patogenisitasnya
terhadap jentik nyamuk vektor. Cermin Dunia Kedokt. 1997; 119: 50-3.
3. Anonim. Malaria Control in a Nutshell International Development
Research Centre. 2p. 1995.
4. Chilcott CN, Wigley PJ. Technical note: an improved method for
differential staining of Bacillus thuringiensis crystals. Letters in Appl
Microbiol 1988;7: 67-70.
5. Aly C, Mulla MA, Bo-Zhaoxu, Schnetter W. Rate of ingestion by
mosquito larvae (Diptera, Culicidae) as a factor in the effectiveness of a l
stomach toxin. J. Med. Entomol. 1988; 25(3): 191-6.
6. Chilcott CN, Pillai JS. The use of coconut wastes for the production
Bacillus thuringiensis var. israelensis. 1985.
7.
Becker N, Djakaria S, Kaiser A, Zulhasril O, Ludwig HW. Efficacy of a
new tablet formulations of an Asperogenous strain of Bacillus
thuringiensis israelensis against larvae of Aedes aegypti. Bull. Soc.
Vector Ecol. 1991 16(1):1-7.
8. Aly C, Mulla MS, Schnetter N, Bo-Zhaoxu. Floating bait formulations
increase effectiveness of B. thuringiensis var israelensis against
Anopheles larvae. J Am Mosq Contr Assoc. 1987.
RALAT
Pada CDK edisi No. 130/2001 halaman 54 terdapat kekeliruan judul naskah yang
berbunyi :
Teknik Imunodiagnostik dalam Masyarakat: I. Prinsip-prinsip dasar teknik
imunodiagnostik oleh Iwan H. Utama, I Nym. Suarsana.
Seharusnya:
Teknik Imunodiagnostik dalam Kesehatan Masyarakat: 1. Prinsip-prinsip dasar
teknik imunodiagnostik oleh Iwan H. Utama, I Nym. Suarsana
Demikian kekeliruan telah kami perbaiki dan terima kasih.
Redaksi
Living is not breathing, it is acting
(Rousseau)
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
22