HASIL PENELITIAN
Status Kekebalan
terhadap Difteri dan Tetanus
pada Anak Usia 4-5 Tahun
dan Siswa SD kelas VI
Muljati Prijanto, Sarwo Handajani, Dewi Parwati, Farida Siburian, Sumarno, Hambrah Sri Wurjani
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) setiap bulan November dilaksanakan mulai
tahun 1998. Imunisasi DT 1 dosis diberikan pada siswa SD kelas 1, dan TT 1 dosis
masing-masing pada siswa kelas II, III.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kekebalan terhadap difteri dan tetanus
pada anak Balita (4-5 tahun) dan siswa kelas VI SD, yang diperlukan sebelum kegiatan
dimulai. Pemeriksaan antibodi terhadap difteri dan tetanus dilakukan dengan cara uji
netralisasi pada sel vero dan pasif haemaglutinasi.
Status kekebalan terhadap difteri pada 110 orang anak (4-5 tahun), 36 orang dari Irja
dan 74 orang dari Kalteng, masing-masing 74,32% dan 77,78%. Titer rata-rata antibodi
0,03 IU/ml dan 0,04 IU/ml. Status kekebalan terhadap tetanus pada anak yang sama,
masing-masing mencapai 100% dengan titer rata-rata antibodi 0,17 IU/ml dan 0,04IU/ml.
Status imunisasi DPT 3 dosis, masing-masing 78,95% dan 86,49%. Status kekebalan
terhadap difteri dan tetanus pada 118 orang siswa SD kelas VI (10-14 tahun) di Bogor
adalah 98,92% dan 100% dengan titer antibodi rata-rata 0,09 IU/ml dan 0,98 IU/ml.
Dengan BIAS, imunisasi DT hanya diberikan 1 dosis, sedangkan sebelumnya siswa
kelas 1 menerima 2 dosis. Untuk memperoleh perlindungan jangka panjang terhadap
difteri masih diperlukan imunisasi 2 dosis.
PENDAHULUAN
Sejak tahun 1983 anak sekolah merupakan salah satu
sasaran program imunisasi untuk mencegah penyakit difteri
dan tetanus. Imunisasi DT 2 dosis diberikan pada siswa SD
kelas I dan TT 2 dosis selang 1 bulan pada siswa kelas VI.
Memasuki tahun 1990 cakupan imunisasi DPT 3 pada bayi
diatas 80%, sehingga dapat dikatakan bahwa lebih dari 80%
anak yang masuk SD pada tahun 1997 telah memiliki
kekebalan terhadap difteri, pertusis dan tetanus.
Pada tahun 1998, mulai dilaksanakan bulan imunisasi
anak sekolah (BIAS), secara serentak sedap bulan November.
Imunisasi disesuaikan dengan jadwal pemberian 5 dosis TT
pada Wanita Usia Subur (WUS), yaitu imunisasi dasar DPT
dianggap setara TT 2 dosis, pada siswa SD kelas I hanya
diberikan 1 kali DT, pada siswa kelas II dan III, diberikan TT
masing-masing 1 dosis. Dengan demikian diharapkan setelah
lulus SD mereka telah mendapat imunisasi TT 5 dosis. Untuk
itu akan digunakan kartu seumur hidup. Imunisasi masih
diberikan pada semua siswa SD hanya pada tahun 1998,
karena siswa kelas IV-VI tidak menjadi sasaran lagi pada
tahun berikutnya. Pada saatnya nand imunisasi pada wanita
usia subur akan dapat dihentikan. Setelah tercapainya cakupan
imunisasi DPT >80%, maka diperlukan perubahan jadwal
imunisasi. Untuk itu perlu adanya data dasar status kekebalan
terhadap difteri dan tetanus pada umur sasaran.
Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat kekebalan
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002
24
terhadap difteri dan tetanus pada anak umur 4-5 tahun dan
siswa SD kelas VI (umur 10-14 tahun). Hasilnya diharapkan
untuk menunjang perubahan jadwal imunisasi DT dun TT
pada anak SD, dalam upaya pencapaian eliminasi tetanus
neonatorum di Indonesia.
BAHAN DAN CARA
Daerah penelitian adalah Irian Jaya dan Kalimantan
Tengah. Daerah tersebut mewakili daerah sulit dijangkau di
luar Jawa, mengingat telah tersedianya sera anak Balita dari
penelitian evaluasi PIN tahun 1996. Kabupaten Bogor, Jawa
Barat, dipilih dengan pertimbangan bahwa Bogor pernah
digunakan sebagai uji coba operasional pemberian TT 5x dan
adanya kerja sama masyarakat yang baik.
Kelompok studi terdiri dari :
1)
Anak balita umur 4-5 tahun sebanyak 110 orang. Tiga
puluh enam orang berasal dari kabupaten Manokwari, dun 10
Jayapura, Irian Jaya dan dari kabupaten Kotawaringin Timur
dan Palangkaraya, Kalimantan tengah sebanyak 74 orang.
2)
Siswa SD kelas VI umur 10-14 tahun sebanyak 188
orang yang berasal dari 2 sekolah dasar di kecamatan
Cijunjung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Anak-anak tersebut selanjutnya diambil darahnya sebanyak
1ml. Sebelum pengambilan darah, orang tua telah mendapat
penjelasan dun menyetujuinya.
Pengambilan darah: dilakukan dari vena lengan sebanyak 1
ml. Pada kelompok anak balita, sera diperoleh dari penelitian
evaluasi PIN II. Sera disimpan pada suhu 70° C sampai
dilakukan pemeriksaan. Pemeriksaan antibodi terhadap difteri
dilakukan dengan cara netralisasi menggunakan sel vero,
sedangkan antibodi terhadap tetanus diperiksa dengan cara
haemaglutinasi pasif
(1,2)
. Titer antibodi yang dianggap protektif
terhadap difteri dan tetanus adalah 0,01 IU/ml atau lebih.
Analisa data : dilakukan dengan menghitung persentase
kekebalan terhadap difteri dan tetanus. Menghitung GMT (titer,
rata geometrik) dari titer antibodi terhadap difteri dan tetanus;
pada musing-musing kelompok studi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dipilihnya sampel kelompok dari Irian Jaya dn
Kalimantan Tengah mewakili daerah luar Jawa. Selain itu
karena tersedianya sera bayi umur 4-5 tahun dari daerah sulit
dijangkau yang diambil untuk penelitian evaluasi PIN II.
mengingat sasaran penelitian sama maka sera tersebut dapat
digunakan untuk mengetahui status imunisasi terhadap difteri
dan tetanus.
Anak balita umur 4-5 tahun berjumlah 36 orang dari Irian
Jaya dun 74 orang dari Kalimantan Tengah. Jumlah anak yang
telah mendapat imunisasi DPT 3 dosis pada kelompok studi
dari Irian Jaya sebanyak 30 orang (78,95%) sedangkan dari
Palangkaraya 64 orang (86,49%o) selebihnya mendapat
imunisasi DPT 2 dosis atau tidak ada data. Data status
imunisasi dicatat oleh . petugas kesehatan daerah setempat.
Status kekebalan terhadap difteri di daerah yang sama
masing-masing adalah 77,78% dan 74,32%, dengan titer
rata-rata antibodi 0,03 IU/ml dan 0,04 IU/ml (Tabel 1).
Sedangkan status kekebalan terhadap tetanus di Irian Jaya dan
Kalimantan Tengah musing-musing adalah 100%;; dengan titer
rata-rata antibodi musing-musing 0,17 IU/ml dun 0,41 IU/ml.
Hasil penelitian lain di Kabupaten Bogor pada 121 orang
siswa SD kelas I (umur 5-8 tahun) menunjukkan bahwa
sebelum imunisasi DT lx status kekebalan terhadap difteri
adalah 85%. Hasil tersebut lebih tinggi bila dibandingkan
dengan pada anak, umur 4-5 tahun di Irian Jaya dan Kalimantan
Tengah (77,8% dun 74,3%). Titer rata-rata antibodi terhadap
difteri adalah 0,03 IU/ml (0,0235 - 0,0363 IU/ml). Status
kekebalan terhadap tetanus pada 121 orang anak yang sama,
tidak berbeda dengan hasil pada anak umur 4-5 tahun di Irian
Jaya dan Kalimantan Tengah yaitu 100%. Titer rata-rata
antibodi tetanus pada penelitian tersebut adalah 0,65 IU/ml
(0,5756 - 0,7299 IU/ml). Status imunisasi DPT lengkap dari
anak-anak tersebut berdasarkan KMS dan ingatan sebesar
68,60%, sedangkan sisanya mendapat imunisasi DPT tidak
lengkap.
Hasil penelitian serupa yang dilakukan apda siswa SD I
kelas I (umur 7-8 tahun) di Bekasi tahun 1985
(4)
, menunjukkan
status kekebalan terhadap difteri hanya sebesar 56,1% (306 dari
545 orang) dengan titer antibodi rata-rata 0.01-0.02 IU/ml. Pada
saat itu cakupan imunisasi DPT belum mencapai lebih dari
80%. Bila hasil penelitian tersebut dibandingkan dengan pene-
litian tahun 1997, menunjukkan bahwa meningkatnya cakupan
imunisasi DPT telah meningkatkan status kekebalan terhadap
difteri yang sangat berarti sampai anak berumur 8 tahun.
Tabel 2 menunjukkan status kekebalan terhadap difteri dan
tetanus pada 118 orang siswa SD kelas VI, yang pernah
mendapat imunisasi ulangan DT 2 dosis pada waktu siswa kelas
I SD. Status kekebalan terhadap difteri sebesar 98,92% dengan
titer antibodi rata-rata 0,10 IU/ml, sedangkan status kekebalan
terhadap tetanus 100% dengan titer rata-rata yaitu 0,98 IU/ml.
Hasil pendataan status imunisasi DPT dun DT dari orang tua
siswa, seluruhnya diperoleh berdasarkan ingatan, mengingat
imunisasi tersebut telah lama dilakukan, sehingga ketepatannya
sangat rendah.
Penelitian serupa dilakukan di Jepang
(5)
pada 36 orang
anak umur 13-16 tahun yang pernah mendapat DPT 4 dosis
(imunisasi dasar dan ulang), dan mendapat imunisasi DT 1
dosis pada umur 12 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa status
kekebalan terhadap difteri sebesar 94,9% dan status kekebalan
terhadap tetanus sebesar 97,4% dengan titer antibodi rata-rata
terhadap tetanus dan difteri masing-masing sebesar 97,4%
IU/ml dun 1,16 IU/ml. Bila dilihat status imunisasi DT dari
kelompok anak pada penelitian di Jepang dan Indonesia sama
yaitu telah mendapatkan imunisasi terhadap difteri dan tetanus
sebanyak 5 kali. Status kekebalan terhadap difteri dan tetanus
pada penelitian di Jepang lebih rendah bila dibandingkan
dengan hasil penelitian di Indonesia, sedangkan titer antibodi
rata-rata memberikan hasil sebaliknya.
Pada BIAS siswa SD hanya mendapatkan DT 1 dosis,
sedangkan dalam program lama siswa kelas I mendapatkan
imunisasi DT sebanyak 2 dosis. Berdasarkan hasil kekebalan
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 25
terhadap difteri pada siswa SD kelas VI (10-14 tahun), maka
untuk memperoleh perlindungan jangka panjang terhadap
difteri pada BIAS masih perlu tersedianya vaksin dT (vaksin
difteri yang dimurnikan, 2 Lf) bila akan diberikan pada siswa
kelas 2 ke atas.
Tabel 1. Persentase kekebalan terhadap difteri dan tetanus pada anak
umur 4-5 tahun di Irian dan Jaya Kalimantan Tengah.
Lokasi
Umur
(th)
Difteri Tetanus
N
(%)
GMT
(IUml)
N
%o
GMT (IU/ml)
Irian Jaya
4-5
36 77,78
0,0326
38 100
0,1707
(28)
(0,0265-0,0401)
(0,1122-0,2598)
Kalteng 4-5 74
74,32
0,0442
72
100
0,4142
(55)
(0,0323-0,0606)
(0,2924-0,5869)
Keterangun:
Titer antibodi protektif :.
Tabel 2. Persentase kekebalan terhadap difteri dan tetanus pada siswa
Sekolah Dasar kelas VI di Cijunjung, Bogor, jawa Barat.
Jumlah siswa
Kekebalan terhadap
(10-14 th)
(%)
GMT (IU/ml)
Difteri
Tetanus
Difteri
Tetanus
118 98,92
100
0,0975
0,9809
(107)
(0,0747-0,1273)
(0,8758-1,0986)
Keterangan:
Titer antibodi protektif :
0,01 IU/ml.
KESIMPULAN
·
Status kekebalan terhadap difteri pada anak balita di Irian
Jaya dan Kalimantan Tengah masing-masing sebesar 77,78%
dan 74,32%. Status kekebalan terhadap tetanus di kedua
daerah tersebut masing-masing 100%.
·
Titer rata-rata antibodi terhadap difteri pada anak-anak di
daerah yang sama masing-masing 0,03 IU/ml dan 0,04 IU/ml.
Titer rata-rata antibodi terhadap tetanus di kedua daerah
tersebut masing-masing adalah 0,17 IU/ml dan 0,41 IU/ml.
·
Status kekebalan terhadap difteri dan tetanus pada siswa
SD kelas VI di Kabupaten Bogor masing-masing adalah
98,92% dan 100% dengan titer antibodi rata-rata
masing-masing adalah 0,10 IU/ml dan 0,98 IU/ml.
·
Penggunaan KMS atau pencatatan lain di daerah peneliti-
an masih rendah, sehingga perlu ditingkatkan.
Untuk memperoleh perlindungan jangka panjang terhadap
difteri, pada program BIAS masih diperlukan imunisasi difteri
2 dosis. Bila imunisasi difteri diberikan pada anak diatas 7
tahun, maka perlu tersedianya vaksin dT (vaksin difteri yang
dimurnikan, 2 Lf).
UCAPAN TERIMA XASIH
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada UNICEF yang
telah memberikan dana untuk penelitian ini. Terima kasih kami sampaikan
pula kepada Kepala Sekolah Dasar Cijunjung I dan II, beserta semua staf
pengajar yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini. Terima kasih kami
sampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Kepala
Puskesmas Kedunghalang beserta semua staf yang telah membantu
pelaksanaan ini.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Kameyama S, Kondo S. Titration of tetanus antitoxin by passive
haemaglutination : 1. Titration of guinea pig antitoxin at various periode
of immunization. Jap. J med Sci & Biol; 1975; 28: 127-138.
2.
Miyamura K, Tajid E, Ito A, Murata R, Kono R. Micro cell culture
method for determination of diphtheria toxin and antitoxin titration titres
using vero cell. Studies on factors affecting the toxin and antitoxin
titration. J Biol Stand; 1974; 2; 189,201.
3.
Sarwo Handayani dkk. Status kekebalan anak SD kelas I, sebelum dan
sesudah imunisasi DT 1 dosis. laporan akhir. 1997.
4.
Dyah W Isbagio, Mulyati Prijanto, Eko Suprijanto, Rini Pangastuti.
Reaksi kekebalan anak-anak Sekolah Dasar terhadap Toksoid Difteri 2
Lf Cermin Duni Kedok 1987; 45 : 22-7.
5.
Takahashi M, Komiya, Fukuda T, Nagaoka Y et al. A Comparison of
young and aged population for the diphtheria and tetanus antitoxin titers
in Japan. Jap J. Med Sci Biol 1997; 50 : 87-95.
Live with
yourself, keep
within
your means
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002
26