LAPORAN KASUS
Sindrom Wolff-Parkinson-White
dengan Takikardia Atrioventrikuler
Reentri pada Seorang Wanita Muda
laporan kasus
B.P. Putra Suryana, Djanggan Sargowo
Laboratorium/SMF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar, Malang
ABSTRAK
Sindrom Wolff-Parkinson-White (WPW) didapatkan 0,1-0,3% dari populasi,
sebagian besar asimtomatik tapi kasus dengan kematian mendadak juga dilaporkan.
Serangan takikardia atrioventrikuler reentri memerlukan perhatian dan penanganan
yang serius.
Seorang wanita 36 tahun yang dirawat di CVCU RSUD Dr. Saiful Anwar Malang
didiagnosis sindrom WPW dengan takikardia AV reentri berdasarkan keluhan palpitasi
dan sinkop, pada rekaman EKG pertama tampak gelombang QRS 214 denyut/menit,
bentuk normal dan teratur; pada rekaman EKG kedua tampak irama halus, pemendekan
interval PR, gelombang delta dan perubahan segmen ST-gelombang T.
Sindrom WPW timbul akibat adanya jalur Kent yaitu jalur assesori yang
menghubungkan atrium dengan ventrikel di luar jalur konduksi normal. Tiga gambaran
dasar EKG sindrom WPW adalah interval PR kurang dari 120 msec, durasi kompleks
QRS melebihi 120 msec dengan gelombang delta dan perubahan pada gelombang ST-
T. Bentuk takikardia pada sindrom WPW disebut takikardia AV reentri.
Penanganan sindrom WPW terdiri dari penanganan pada saat serangan akut
takikardia, pencegahan serangan takikardia berikutnya dan ablasi jalur assesori dengan
teknik radiofrekuensi.
PENDAHULUAN
Sindrom pre-eksitasi adalah aktivasi ventrikel oleh impuls
dari atrium yang muncul lebih awal dari yang diharapkan
melalui jalur konduksi atrioventrikuler normal. Impuls tersebut
dihantarkan melalui jalur assesori yang merupakan jalur pintas
(bypass) terhadap nodus AV. Sindrom Wolf-Parkinson-White
(WPW) adalah salah satu bentuk sindrom pre-eksitasi dengan
prevalensi 0,1-0,3 dari populasi, tetapi sebanyak 50% dari selu-
ruh penderita tersebut asimtomatik. Sebagian besar sindrom
WPW tanpa kelainan jantung. Prognosis pada umumnya baik,
walaupun risiko kematian mendadak pernah dilaporkan
(1)
. Hasil
sebuah evaluasi elektrokardiografi (EKG) pada 22.500 orang
sehat, didapatkan gambaran konduksi WPW 0,25% dan se-
banyak 1,8% dengan takiaritmia
(2)
.
Tulisan ini bertujuan untuk melaporkan seorang wanita
muda dengan sindrom WPW yang mendapat serangan taki-
kardia atrio-ventrikuler di CVCU RSUD Dr. Saiful Anwar
Malang.
KASUS
Seorang wanita 36 tahun karyawan instalasi farmasi se-
buah rumah sakit mendadak mengeluh dadanya terasa ber-
debar, merasa lemah dan tidak sadarkan diri beberapa saat.
Selama dua hari sebelumnya penderita kelelahan karena ada
acara keluarga. Sebelumnya penderita sering merasakan dada
berdebar bila kelelahan, hilang dengan sendirinya bila ber-
istirahat.
Penderita tampak cemas, kompos mentis dengan tekanan
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001
24
darah 140/70 mmHg, nadi teraba sangat cepat, lemah dan ter-
atur, pernapasan 26 x/menit, temperatur 37,2º C. Pemeriksaan
batas-batas jantung normal, suara jantung terdengar lemah dan
cepat. Pemeriksaan paru normal. Pemeriksaan fisik pada hari
berikutnya tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 72 x/menit, ter-
atur, isi kuat, pernapasan 22 x/menit. Suara jantung I dan II
jelas, tidak terdengar bising jantung, frekuensi teratur
72x/menit.
Pemeriksaan laboratorium : kadar Hb 10,0 g/dl, lekosit
10.000/ul, hematokrit 30,0%, trombosit 265.000/ul, glukosa
darah sewaktu 148 mg/dl, natrium 145 mmol/l, kalium
3,55mmol/l, klorida 106 mmol/l.
Pemeriksaan foto toraks posisi PA : tampak kontur jantung
normal dengan CTR 40% dan corakan bronkovaskuler normal.
Pemeriksaan ekokardiografi : fungsi ventrikel kanan dan kiri
normal, tidak didapatkan katup-katup jantung.
Deskripsi rekaman EKG (Lampiran 1 dan 2) :
1.
Rekaman EKG hari I : irama ventrikel (QRS) yang cepat
dan teratur, frekuensi 214 x/menit, bentuk QRS yang nor-
mal, gelombang P tidak dapat dikenali karena tertumpuk
dengan gelombang T, depresi ST pada lead II, III, V1-V6.
2.
Rekaman EKG hari II : irama sinus 71 x/menit, interval PR
0,06 detik, durasi delta, gelombang delta tampak jelas dan
positif pada lead V2-V6 depresi ST pada aVL, V2 dan V3
serta R pattern di V1 dan V2.
Diagnosis :
Berdasarkan gejala klinis palpitasi, sinkop, takikardia, pe-
meriksaan EKG pertama irama ventrikel yang cepat dan ter-
atur, pemeriksaan EKG kedua irama sinus dengan pemendekan
interval PR, gelombang delta, pelebaran QRS dan perubahan
ST maka ditegakkan diagnosis takikardia atrial paroksismal
pada sindrom Wolf-Parkinson-White.
Terapi :
Penderita dirawat di CVCU RSUD Dr. Saiful Anwar
Malang dengan pemberian oksigen 4 liter/menit melalui kanula
hidung, langsung dilakukan manuver Valsava dan pemberian
verapamil 3x80 mg peroral, dalam 30 menit kemudian pen-
derita merasa baik dan tidak berdebar, monitor menunjukkan
irama sinus 100 denyut/menit. Penderita dipulangkan pada hari
ketiga dengan terapi verapamil 3x80 mg peroral selama 7 hari
dan nasehat tidak melakukan aktivitas berat serta latihan cara
manuver Valsava kepada keluarga penderita bila terjadi serang-
an takikardi lagi di rumah.
PEMBAHASAN
Diagnosis sindrom WPW
Sindrom WPW terjadi akibat adanya jalur assesori yang
menghubungkan atrium dengan ventrikel di luar jalur konduksi
normal. Jalur tersebut dinamakan jalur asesori atrioventrikuler
atau jalur Kent. Tiga gambaran dasar EKG pada sindrom WPW
adalah
(2,3)
:
1.
Interval PR kurang dari 120 msec pada saat irama sinus.
2.
Durasi kompleks QRS melebihi 120 msec disertai bagian
landai pada awal kompleks QRS yang disebut gelombang delta.
3.
Perubahan sekunder pada gelombang ST-T.
Gambaran EKG pada kasus ini memenuhi ketiga kriteria
tersebut sehingga diagnosis sindrom WPW pada kasus ini dapat
ditegakkan.
Etiologi Sindrom WPW
Sindrom WPW didapatkan pada semua kelompok umur,
mulai dari fetus sampai usia lanjut dan pada kembar identik.
Sebagian besar penderita sindrom WPW mempunyai jantung
normal, beberapa kelainan yang pernah dilaporkan adalah ano-
mali Ebstein, prolaps katup mitral dan kardiomiopati. Jalur
assesori sangat mungkin terbentuk secara kongenital, walaupun
manifestasinya diketahui pada tahun-tahun selanjutnya sehing-
ga diduga kelainan yang didapat. Peningkatan prevalensi sin-
drom preeksitasi pada suatu keluarga menimbulkan dugaan
adanya faktor herediter dalam sindrom preeksitasi ini
(2)
. Pada
kasus ini tidak didapatkan kelainan jantung dan tidak ada
riwayat kelainan yang sama pada keluarga maka sangat mung-
kin jalur assesori terjadi secara kongenital.
Takikardi Atrioventrikuler Reentri pada Sindrom WPW
Anulus katup mitral dan trikuspid berfungsi juga sebagai
barier anatomik karena tersusun oleh jaringan fibrous yang
tidak dapat menghantarkan impuls melalui jalur asesori dengan
sistem konduksi normal. Kalau konduksi melalui nodus AV
lebih lambat dibandingkan periode refrakter jalur asesori maka
jalur asesori akan terstimulasi secara retrograde (berlawanan
arah) membawa impuls yang merangsang kembali atrium.
Bentuk tersebut dinamakan takikardia atrioventrikuler (AV) re-
entri (atrioventricular reentrant tachycardia). Denyut atrial
prematur melalui jalur konduksi normal menimbulkan taki-
kardia AV reentri
(2,4)
.
Prasyarat untuk timbulnya takikardia reentri adalah adanya
area blok konduksi satu arah (an area of unidirectional con-
duction block) dan area konduksi lambat (an area of slow
conduction). Keaktifan sirkuit reentri ditentukan oleh periode
refrakter sirkuit yang lebih pendek daripada siklus takikardi.
Takikardi AV reentri ortodromik paling sering diawali oleh de-
nyut prematur atrial yang spontan. Aktivasi atrial secara
retrograd melalui jalur konduksi normal menimbulkan takikardi
AV reentri antidromik, yang sering terjadi pada jalur lateral
kiri
(5,6)
.
Kecenderungan timbulnya takiaritmi pada usia dewasa dan
lanjut menurun, mungkin disebabkan oleh fibrosis atau proses
lainnya pada lokasi jalur asesori tersebut
(2)
.
Serangan takikardi atrial paroksismal pada kasus ini me-
rupakan suatu takikardi AV reentri ortodromik karena bentuk
kompleks QRS normal, pada takikardi AV reentri antidromik
tampak bentuk QRS yang lebar dan bizzare.
Lokasi Jalur Assesori pada Sindrom WPW
Lokasi jalur assesori paling sering didapatkan berturut-
turut pada dinding bebas kiri, posteroseptal, dinding bebas
kanan, dan anteroseptal. Lokasi jalur asesori dapat ditentukan
dengan analisis polaritas gelombang delta pada 12 lead EKG.
Hasil analisis tersebut kemudian disesuaikan dengan tabel
dengan nomor yang menunjukkan lokasinya pada gambar ana-
tomi jantung
(2)
. Hasil analisis gelombang delta pada kasus ini
paling sesuai dengan posisi nomor 5 pada tabel maka lokasi
jalur assesori pada penderita sindrom WPW ini adalah para-
septal kanan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001
25
Tabel 1. Analisa gelombang delta
(2)
.
Delta Wave Polarity
I II III
aVR
aVL
aVF
VI
V2 V3 V4
V5
V6
1
+
+ + (±)
-
± (+) +
±
±
+ (±)
+
+
+
2
+
+
- (±)
-
+ (±) ± (-) ± + (±) + (±)
+
+
+
3 + ±
(-) - - + -
(±) ± ± ± + + +
4 + - - - + -
±
(+)
± + + + +
5 + - -
-
(±)
+ - ± + + + + +
6 + - - - + - + + + + + +
7 + - -
+
(±)
+ - + + + + +
-
(±)
8 - (±)
±
± + (±) - (±)
±
+
+
+
+ - (±) - (±)
9 - (±)
+
+
-
- (±)
+
+
+
+
+
+
+
10
+
+ + (±)
-
±
+ ± (+) +
+
+
+
+
Keterangan :
± = Initial 40 msec delta wave isoelectric
+ = Initial 40 msec delta wave positive
- = Initial 40 msec delta wave negative
Penentuan lokasi jalur asesori dengan algoritma EKG
dilaporkan merupakan prosedur yang sederhana dan cukup
akurat untuk merencanakan tindakan ablasi radiofrekuensi.
Prosedur ini mampu menentukan lokasi jalur asesori dengan
benar pada 95% kasus
(7)
. Pemeriksaan elektrofisiologi adalah
prosedur yang penting sebelum dilakukan kateterisasi jantung
untuk tindakan ablasi permanen jalur asesori tersebut. Tujuan
evaluasi elektrofisiologi adalah : (1) untuk mendiagnosis ada-
nya jalur asesori; (2) untuk menentukan karakteristik takikardia
yang timbul, cara induksi dan cara terminasinya; (3) me-
nentukan lokasi jalur asesori dan (4) untuk menentukan fungsi
karakteristik jalur tersebut
(5)
.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan takikardia AV reentri pada saat serangan
akut tergantung pada penyakit jantung yang mendasarinya.
Penanganan lini pertama adalah manuver vagal termasuk pe-
mijatan sinus karotis, manuver Valsava dan Mueller, gagging
dan kadang-kadang kompres air es pada wajah
(2)
.
Initial drug of choice adalah adenosin 6-12 mg diberikan
iv cepat. Verapamil 5-10 iv atau diltiazem 0,25-0,35 mg/kgBB
iv menghentikan reentri nodus AV dalam waktu sekitar 2 menit
pada 90% kasus setelah manuver vagal dan adenosin gagal
(2,8)
.
Penggunaan adenosin triphosphate dilaporkan cukup efektif
dan aman, mampu menghentikan 84% kasus takikardi nodus
AV reentri di RS Jantung Harapan Kita Jakarta
(9)
.
Pemberian DC shock secara dini dipertimbangkan bila
terdapat gejala dan tanda dekompensasi jantung. Pemberian DC
shock pada penderita yang telah menerima digitalis dapat me-
nimbulkan aritmia ventrikuler yang serius
(2)
.
Pencegahan serangan berikutnya pada beberapa penderita
berhasil dengan istirahat, reassurance dan sedasi. Pemberian
quinidine dan propranolol atau prokainamid dan verapamil
yang bertujuan menurunkan kemampuan konduksi kedua ujung
sirkuit reentri bermanfaat mencegah serangan akut. Amiodaron
dan obat kelas I
c
juga dilaporkan bermanfaat
(2)
. Faktor presi-
pitasi timbulnya takikardi pada beberapa kasus yang dapat
diidentifikasi adalah kafein dan kurang tidur
(5)
.
Penanganan terhadap jalur assesori memerlukan tindakan
ablasi bila serangan aritmi sering dan tidak terkontrol dengan
obat-obatan. Ablasi radiofrekuensi adalah konsep prosedur ku-
ratif baru yang sukses dan morbiditas minimal
(2,10)
.
KESIMPULAN
Seorang wanita didiagnosis sindrom Wolf-Parkinson-
White dengan takikardi AV reentri berdasarkan keluhan pal-
pitasi dan sinkop dengan rekaman EKG yang khas. Jalur
assesori Kent pada kasus ini merupakan suatu kelainan
kongenital tanpa disertai kelainan jantung lainnya.
Manuver Valsava dilanjutkan dengan verapamil 3x80 mg
peroral berhasil menghentikan serangan takikardi AV reentri.
Penderita disarankan untuk istirahat yang cukup untuk men-
cegah serangan berikutnya. Prognosis penderita ini baik karena
tidak terdapat kelainan jantung yang menyertainya dan
mungkin tidak memerlukan tindakan ablasi radiofrekuensi.
KEPUSTAKAAN
1.
Gora A. Trial tachydysrhythmias. In: Hoekstra JW (ed). Handbook of
Cardiovascular Emergencies. Boston: Little, Brown adan Co; 1997: 267-
87.
2.
Zipes DP. Specifik Arrhythmias: Diagnosis and Treatment. In:
Braunwald E. (ed). Heart Disease. A Textbook of Cardiovascular
Medicine, 4
th
ed, vol. 1. Philadelphia : WB Saunders Co; 1992: 667-718.
3.
Josephson ME. The tachyarrhytmias. In: Fauci AS, et al (eds). Harrison's
Principles of Internal Medicine, 14
th
ed vol 1. New York : McGraw-Hill;
1998: 1270-1.
4.
Beckman KJ, Lazzara R. Cardiac Arrhythmias and Conduction
Disturbance. In: Kaufman CE, McKee PA (eds). Essentials of
Pathophysiology. Boston: Little, Brown and Co; 1996: 3-10.
5.
Obel OA, Camm AJ. Accessory Pathway Reciprocating Tachycardia.
European heart Journal 1998; 19 (Supplement E.).
6.
Sandoe E, Sigurd B. Arrhytmia. Diagnosis and Management. A Clinical
Electrocardiographic Guide. Fahmed AG, Gallen, 1984; 80-7.
7.
Gunawan SA, Teo WS, Ruth Kam, Barendra, Tun Shwe, Tan A. A Sim-
plified ECG algorithm for Localization of Accessory Pathways (Abs-
tract). Dept of Cardiology Singapore General Hospital. Kongres Nasional
VII Perhimpunan Kardiologi Indonesia, Bandung : 25-29 Juni 1994.
8.
Massie BM, Amidon TM. Heart. In: Tierney LM et al (eds). Current
Medical Diagnosis and Treatment, 37
th
eds. Connecticut : Appleton and
Lange, 1998; 392.
9.
Chandramin, Sunarya Surianata, Santoso Karo-Karo, Afdhalun A. hakim,
Ronally Rasmin. Terminasi Takikardia Supraventrikuler Paroksimal
dengan ATP intravena di UGD RS Jantung Harapan Kita, Jakarta
(Abstrak). Kongres Nasional VII Perhimpunan Kardiologi Indonesia,
Bandung: 25-29 Juni 1994.
10.
Wagshal AB. Management of Cardiac Arrhythmias with Radiofrequency
Catheter Ablation. Arch Intern Medi 1995; 155: 137-47.
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001
26
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001
27