background image
Pengaruh Merokok
terhadap Kesehatan
Drg. Yuyus Rusiawati
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
PENDAHULUAN
Smoking or health, the choice is yours, adalah tema yang
sangat mengena yang dicanangkan oleh Organisasi Kesehatan
Sedunia (WHO) pada tahun 1984, sebagai tahun kampanye
kesehatan yang ditujukan kepada usaha-usaha untuk me-
ngurangi risiko kebiasaan merokok terhadap kesehatan. Tahun
tersebut akhirnya berlalu tanpa meninggalkan kesan apa-apa,
kecuali satu kali diselenggarakannya Simposium Rokok oleh
Departemen Kesehatan dan beberapa tulisan di swat kabar atau
majalah. Kenyataan lebih banyak yang memilih smoking dari
pada memilih health.
Apabila kalangan kesehatan di Amerika Serikat
mendambakan tercapainya Smokeless Society pada tahun 2000,
maka kita di Indonesia harangkali lebih tepat membuat sasaran
masyarakat "merokok tetapi sehat", mengingat besarnya
peranan rokok balk dalam ekonomi masyarakat maupun dalam
ekonomi negara. Sayang sekali saat ini kedua tujuan tersebut
tampaknya masih sulit akan tercapai, lebih-lebih untuk sasaran
yang kedua tersebut. Walaupun demikian sedikitnya ada tanda-
tanda yang agak menggembirakan dengan melihat indikator-
indikator seperti:
1)
Persentase perokok pria di Amerika menurun dari 42%
menjadi 30% sejak tahun 1964.
2)
Perokok di kalangan medis menurun dari 30% pada tahun
1967 menjadi 21% pada tahun 1975.
3)
Persentase berhenti merokok meningkat dari 10,4% pada
tahun 1955 menjadi 29,2% pada tahun 1975.
1
.
Tujuan tulisan ini untuk memberi gambaran kerugian
kebiasaan merokok terhadap kesehatan, khususnya di daerah
rongga mulut.
KOMPONEN BAHAN TEMBAKAU/ASAP ROKOK
Ada banyak komponen dalam tembakau yang mengganggu
kesehatan, antara lain: karhon­monoksida, nikotin'dan tar.
Karbon monoksida adalah gas yang tidak berwarna dan tidak
berbau; kira-kira 3% sarnpai 5% dari asap rokok teradiri dari
karBon monoksida. Orang bukan perokok yang berada di
ruangan yang penuh dengan asap rokok juga akan kemasukan
karbon monoksida ini. Nikotin adalah alkaloid berminyak yang
dapat mempengaruhi sistem saraf pusat sebagai stimulan atau
penenang tergantung dari jumlah yang diisap serta keadaan
fisiologis dan psikologis si pemakai.
Karbon monoksida dan nikotin bersama-sama mempe-
ngaruhi kerja jantung; karbon monoksida mengurangi kadar
oksigen dalam darah, sedangkan nikotin menstimulasi aksi
jantung sehingga memerlukan oksigen lebih banyak. Karena
karbon monoksida dan nikotin juga meninggikan endapan
lemak pada dinding arteri maka dapat dipahami adanya peranan
tembakau dalam menimbulkan kejadian-kejadian gangguan
koroner dan in fark miokard
2-4
.
Tar adalah komponen dalam asap rokok yang tinggal se-
bagai sisa sesudah dihilangkannya komponen nikotin dan cair-
an . Tar bersifat karsinogen.
Rokok kretek yang terdapat di Indonesia ternyata mem-
punyai kadar tar, nikotin dan karnon monoksida yang jauh
lebih tinggi daripada sigaret di Australia dan Amerika.(Tabel 1)
Tabel 1. Kadar nikotin dan karbon monoksida dari beberapa merek
rokok.
Merek Rokok
Particulate
(mg)
Nikotiri*
(mg)
Karbon monoksida
(mg)
Djarum
Dji Sam Soe
GudangGaram
Wismilak
Australian Brands
53,7
40,7
52,0
48,3
17,0
5,07
5,31
5,28
5,10
1,1
19,5
23,0
18,2
19,7
14,2
*nilai rata-rata.
Sumber: Puslit Penyakit Tidak Menular dan Dept. of Science and Environment
Australia
5
.
Di negara-negara yang maju diadakan usaha untuk me-
ngurangi bahaya merokok dengan cara mengharuskan pe-
rusahaan rokok untuk membatasi isi nikotin dan tar dalam
sigaret yang diproduksi
2,3
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990
30
background image
BAHAYA MEROKOK TERHADAP KESEHATAN
Pada saat ini di kalangan kesehatan, rasanya tidak ada
yang meragukan bahwa kebiasaan merokok bukan saja
mengganggu kesehatan tetapi juga merupakan salah satu
penyebab utama kematian dan masalah utama kesehatan
masyarakat.
Akibat-akibat tersebut :
Mengurangi umur harapan hidup.
Seorang yang telah merokok 2 bungkus sigaret selama 25
tahun, harapan hidupnya akan lebih pendek
,,
8,3 tahun di-
bandingkan mereka yang tidak merokok.
Risiko kematian karena kanker paru pada perokok 2
sampai 25 kali lebih tinggi daripada bukan perokok, tergantung
derajat beratnya perokok. Kanker lain yang juga lebih sering
ditemukan di kalangan perokok (risiko 2 sampai 17 kali
dibandingkan bukan perokok); ialah: kanker laring, kanker
mulut, kanker esofagus, kanker kandung kemih, dan kanker
pankreas.
Terjadinya kanker di rongga mulut dipengaruhi oleh ke-
biasaan merokok berat yang berkaitan dengan predisposisi
sistemik misalnya defisiensi vitamin A dan vitamin B
kompleks, rangsangan lokal oleh gigi tiruan yang mengiritasi
jaringan lunak rongga mulut.
Penyakit jantung koroner
Perokok tanpa hipertensi dan kolesterol tinggi mendapat
risiko menderita penyakit jantung koroner 60% lebih tinggi dari
bukan perokok, sedang bila disertai faktor risiko lain yaitu
hipertensi dan kadar kolesterol tinggi, maka risiko ini menjadi
lebih tinggi lagi.
Selain itu, merokok juga meningkatkan risiko terjadinya
trombosis pada wanita yang menggunakan kontrasepsi
Oral.
1,2,4,6-8
Bronkitis kronis dan emfisema
Penyakit yang ditandai oleh sesak napas menahun yang
menyebabkan penderitaan bertahun-tahun lamanya sebelum
orang tersebut meninggal akan menyerang 4 sampai 25 kali
lebih banyak pada perokok.
Lahir mati dan berat badan lahir rendah
lbu-ibu yang merokok mempunyai risiko lebihtinggi untuk
melahirkan bayi mati atau bayi lahir hidup dengan berat badan
kurang dibandingkan dengan ibu-ibu yang tidak merokok.
Anak-anak dari orang tua perokok umumnya lebih kecil,
jasmani dan sosial kurang berkembang dibandingkan anakanak
dari orang tua bukan perokok.
Tukak lambung (ulkus peptileum)
Penderita tukak lambung lebih sering dijumpai pada pe-
rokok, dan penyembuhannya lebih sulit selama mereka masih
merokok.
Alergi dan penurunan daya tahan tubuh
Keadaan ini merupakan efek langsung dari asap rokok
pada tubuh manusia akibat iritasi yang terus menerus.
Beberapa penyakit rongga mulut
Tembakau adalah bahan utama rokok, dan nikotin dalam
asap tembakau dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan
mukosa mulut. Cara penggunaan lain dengan jalan dikunyah
dan dihisap seperti pada sugi tembakau atau susur juga mem-
berikan efek iritasi yang serupa.
Akibat kebiasaan merokok akan terjadi perubahan dalam
rongga mulut. Warna gigi dapat berubah oleh karena tobacco
stain, selain itu penggunaan pipa dapat mengganggu jaringan
lunak mulut sehingga terjadi stomatitis dan leukoplakia nikotin.
Leukoplakia didiagnosis berdasarkan anamnesis, gambaran
klinis, dan biopsi jaringan
6
. Bisa juga terjadi Ieukoedema pada
mukosa mulut dan smoker's keratosis pada perokok yang
memakai pipa. Karena oral hygiene yang jelek dan adanya latar
belakang penyakit sistemik, pada perokok aktif dapat terjadi
periodontitis, calculus gingivitis dan Vincent's infection
6
.
Laporan WHO menyatakan bahwa kanker mulut merupa-
kan salah satu dari enam jenis kanker yang paling umum di
Asia Tenggara; hal ini berhubungan dengan kebiasaan merokok
dengan pipa. Menurut perkiraan WHO, 90% diduga disebabkan
merokok dengan pipa.
HASIL PENGAMATAN DAN PENELITIAN
Penelitian mengenai hubungan merokok dan penyakit di
negara-negara yang sedang berkembang terbanyak dilakukan di
India. Ditemukan bahwa penyakit kanker paru-paru, mulut dan
faring ada hubungannya dengan merokok. Dalam survai yang
dilakukan di distrik Mampuri ditemukan 214 orang penderita
penyakit kanker mulut dan faring per I juta penduduk, dan
kelompok orang yang mempunyai kebiasaan sehari-hari
mengunyah tembakau delapan kali lebih tinggi persentasenya
dibandingkan dengan kelompok yang tidak mempunyai
kebiasaan itu
2
.
Mengenai kebiasaan merokok, Survai Kesehatan Rumah
Tangga 1986, menghasilkan data kebiasaan merokok pada laki-
laki 14 tahun ke atas sebesar 45,8% dan pada wanita 14 tahun
ke atas 2,9%
9
. Survai di Lombok dan Yogyakarta menunjukkan
bahwa 75% dari 61% dari pria dewasa adalah perokok, pada
wanita angka tersebut sekitar 3%
19
. Survai di Semarang
menunjukkan prevalensi merokok 96,1% pada tukang becak,
79,0% pada pegawai paramedik, 51,9% pada pegawai negeri
dan 36,8% pada dokter. Sekitar 13% dari penduduk Semarang
adalah perokok berat (lebih dari 20 batang sehari).
10
Di Nepal kebiasaan merokok sudah sangat membudaya,
prevalensi merokok mencapai 84,7% pada pria dan 71,7% pada
wanita 21 tahun ke atas. Rokok tradisional di daerah pedesaan
ialah bidi dan sulpa sedangkan sigaret atau rokok putih mulai
banyak diisap di daerah perkoraan. Kebiasaan merokok ini
dirnulai pada usia relatif muda, pada golongan umur 8 tahun
sekitar 12% sudah menjadi perokok (sekurangnya 1 batang
sehari).
10
Survai di Kandy (Srilangka) mendapatkan prevalensi
merokok pada 48.2% pria dan 1,6% wanita dewasa, pada
kelompok dokter hanya 30% sedangkan 18% lainnya adalah
bekas perokok. Pada anak sekolah usia 6 ­ 20 tahun di
Colombo didapatkan 27% pernah merokok; 12% merokok
setiap hari
1
.
Di Thailand, survai kesehatan rumah tangga tahun 1981
menunjukkan prevalensi merokok sebesar 51,2% pada pria dan
4,4% pada wanita golongan umur 10 tahun ke atas, sedangkan
survai kebiasaan merokok di kalangan dokter pria adalah
sebesar 20,5%, 2,5% di kalangan doker wanita dan 25,5% di
antaranya telah berhenti merokok
10
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990 31
background image
Penelitian S.B. Duggirala (1977) dengan cara kuesioner
atas` 440 mahasiswa kedokteran menghasilkan prevalensi
kebiasaan merokok di lingkungan mahasiswa kedokteran
tersebut sebesar 38,2%, bekas perokok 12,3% (ex-smokers) dan
yang tidak merokok 49,5%.
11
KESIMPULAN DAN SARAN
Banyak penyakit yang dapat ditimbulkan oleh rokok,
terutama yang di rongga mulut berupa leukoplakia yang
merupakan permulaan dari kanker, dan dapat menyebabkan
beberapa macam kanker yaitu kanker lidah, kanker bibir,
kelenjar ludah, gusi dan dasar mulut.
Untuk mengurangi bahaya merokok bagi kesehatan gigi
dan mulut diajukan saran-saran sebagai berikut :
1)
Diadakan usaha untuk mengurangi bahaya merokok dengan
mengharuskan perusahaan rokok untuk membatasi nikotin, tar
dalam sigaret yang diproduksi
2
.
2)
Menjauhi cara merokok dengan pipa yang dapat mengiritasi
bibir dan jaringan sekitarnya.
3)
Tidak membiasakan mengunyah tembakau dan/atau me-
letakkan tembakau di bagian mukosa mulut (susur).
4)
Melakukan penelitian yang mendukung program penang-
gulangan merokok.
KEPUSTAKAAN
1.
WHO Expert Committee : Smoking and Its Effects on Health,
1975.
2.
Saroso J. Merokok dan Kesehatan. Simposium Merokok dan Kesehatan.
Jakarta: 26­28 Mei 1983.
3.
Saroso J. Lokakarya Merokok dan Kesehatan, 14­15 September
1984.
4.
Surgeon General. The Health Consequences of Smoking. US Department
of Health and Human Services. 1982.
5.
Gunawan. Laporan hasil penelitian bidang penyakit tidak menular
dan radiologi 1975­1983. Badan Litbangkes (unpublished
document).
6.
Enny Marwati. Leukoplakia dalam mulut karena kebiasaan merokok.
Majalah Ilmiah Kedokteran Gigi 1980; 2 (4).
7.
Pindborg JJ. Dental specialists working in India proved that oral
precancerous lesion ­ the precursors of mouth cancer ­ occur primarily
among individuals who chew betel nuts or smoke tobacco. World Health.
(June) 1981. p. 22.
8.
Mangunnegoro H. Masalah Rokok dan Kesehatan. Diskusi Panel Rokok
dan Kesejahteraan Masyarakat, 25 Juli 1987.
9.
Santoso SS, Budiarso LR. Survai Kesehatan Rumah Tangga
1986: Kebiasaan merokok, minuman keras dan makan sirih. Badan
Litbangkes.
10.
Gunawan S. Seminar di Kathmandu. Badan Litbangkes. Depkes RI. 26­30
Maret 1984.
11.
Duggirala SB. Medical students, smoking behaviour and social
responsibility. J World Smoking & Health. 1981.
12.
Surgeon General : The Health Consequences of Smoking. US Department
of Health and Human Services. 1980.
13.
WHO Expert Committee. Smoking Central strategies in developing
countries. WHO Techn Rep Ser 695 WHO Geneva, 1983.
14.
Setiadi L. Kanker mulut di 11 daerah Pusat Patologi dari tahun
1977­1979. Puslit Penyakit Tidak Menular, Badan Litbang
Kesehatan, Jakarta.
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990
32