TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Penatalaksanaan Baku
dan Menyeluruh pada HIV/AIDS
Dr. Candra Wibowo
Residen Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado
PENDAHULUAN
Sejak 20 tahun yang lalu, human immunodeficiency virus
(HIV) sudah diketahui sebagai penyebab penyakit acquired
immunodeficiency syndrome (AIDS); namun penatalaksanaan-
nya belum memberikan hasil yang memuaskan dalam hal
penurunan angka kesakitan dan kematian HIV/AIDS, terutama
di negara sedang berkembang. Banyak penelitian dilakukan
bertujuan untuk mendapatkan penatalaksanaan yang baku dan
menyeluruh; dari pencegahan penularan horizontal maupun
vertikal, pemakaian kombinasi antiretrovirus (ARV) bagi orang
dengan HIV/AIDS (ODHA), pencegahan dan pengobatan
infeksi oportunistik (IO) dan pencegahan post exposure (PPE)
HIV sampai pemberian imunisasi yang masih dalam penelitian.
Kompleksnya masalah yang dihadapi dalam penatalaksanaan
HIV/AIDS, memerlukan satu tim kerja terdiri dari berbagai
bidang ilmu yang solid dan profesional untuk menurunkan
angka insidensi dan prevalensi HIV/AIDS.
(1-3)
Di Indonesia, jumlah ODHA dari tahun ke tahun
cenderung meningkat. Pada akhir Mei 2001 tercatat 1.956
kasus yang ditemukan pada saat uji darah donor, uji saring
pecandu narkotika, tes gratis HIV dan ODHA yang dirawat/
memerlukan bantuan tenaga medis. Jumlah sebenamya
pengidap HIV/AIDS di Indonesia belum diketahui, tetapi
diperkirakan jauh lebih banyak dari angka tersebut di atas
(4)
.
Saat ini baru Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto
Mangunkusumo Jakarta yang mampu memberikan layanan
hesehatan ODHA secara menyeluruh; padahal ODHA tersebar
di seluruh daerah Indonesia, bahkan jumlah terbanyak di
Irian
(3,4)
.
Dalam tinjauan kepustakaan ini diuraikan penatalaksanaan
HIV/AIDS yang baku dan menyeluruh, dengan harapan dapat
diterapkan seoptimal mungkin sesuai dengan sumber dana dan
sumber daya manusianya.
PENATALAKSANAAN PADA ORANG DEWASA
Konseling dan Edukasi
Konseling dan edukasi perlu diberikan segera sesudah
diagnosis HIV/AIDS ditegakkan dan dilakukan secara berke-
sinambungan. Bahkan, konseling dan edukasi merupakan pilar
pertama dan utama dalam penatalaksanaan HIV/AIDS; karena
keberhasilan pencegahan penularan horizontal maupun ver-
tikal, pengendalian kepadatan virus dengan ARV, peningkatan
CD4, pencegahan dan pengobatan IO serta komplikasi lainnya
akan berhasil jika konseling dan edukasi berhasil dilakukan
dengan baik. Pada konseling dan edukasi perlu diberikan
dukungan psikososial supaya ODHA mampu memahami,
percaya diri dan tidak takut tentang status dan perjalanan alami
HIV/AIDS, cara penularan, pencegahan serta pengobatan
HIV/AIDS dan IO; semuanya ini akan memberi keuntungan
bagi ODHA dan lingkungannya
1,5-8
.
Antiretrovirus (ARV)
Indikasi pemberian ARV yaitu pada infeksi HIV akut,
ODHA yang menunjukkan gejala klinis atau ODHA tanpa
gejala klinis yang memiliki CD4 < 500/mm
3
dan atau RNA
HIV > 20.000/ml. serta pada PPE HIV
1,2,6
.
Kombinasi ARV merupakan dasar penatalaksanaan pem-
berian antivirus terhadap ODHA; karena dapat mengurangi
resistensi, menekan replikasi HIV secara efektif sehingga
kejadian penularan/IO/komplikasi lainnya dapat dihindari, dan
meningkatkan kualitas serta harapan hidup ODHA. Dua
golongan ARV yang diakui Food and Drug Administration
(FDA) dan World Health Organization (WHO) adalah
penghambat reverse transcriptase (PRT), yang terdiri dari
analog nukleosida dan non-analog nukleosida, serta peng-
hambat protease (PP) HIV. Ketiga jenis ini dipakai secara
kombinasi dan tidak dianjurkan pada pemakaian tunggal.
Penggunaan kombinasi ARV merupakan farmakoterapi yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 27
rasional; sebab masing-masing preparat bekerja pada tempat
yang berlainan atau memberikan efek sinergis terhadap yang
lain. Preparat golongan PRT analog nukleosida menghambat
beberapa proses polimerisasi deoxyribo nucleic adid (DNA)
sel termasuk sintesis DNA yang tergantung pada ribonucleic
acid (RNA) pada saat terjadi reverse transkripsi; sedangkan
PRT analog non-nukleosida secara selektif menghambat proses
reverse transkripsi HIV-1. Penghambat protease bekerja
dengan cara menghambat sintesis protein inti HIV
(1-3,6,9,10)
.
United States Public Health Service (USPHS) dan WHO
menganjurkan kombinasi ARV yang dipakai sebagai peng-
obatan pertama kali adalah 2 preparat PRT analog nukleosida
dengan PP, atau 2 preparat PRT analog nukleosida dikom-
binasikan dengan analog non-nukleosida. Sedangkan kom-
binasi antara PRT nukleosida, non-nukleosida dengan PP
dipertimbangkan sebagai kombinasi pada pengobatan kasus
lanjut
(1-3)
.
Perlu diperhatikan kombinasi saquinavir dengan ritonavir
akan meningkatkan kadar saquinavir dalam plasma, karena
ritonavir menghambat kerja enzim sitokrom P450. Sedangkan
zidovudin (ZDV) dengan stavudin dan efavirenz dengan
saquinavir merupakan kombinasi antagonis satu dengan yang
lain. Nevirapin akan menurunkan berturut-turut kadar dalam
plasma saquinavir, ritonavir, indinavir dan lopinavir jika
dikombinasikan, sehingga kombinasi ARV ini jangan
dilakukan
1,2,11,12
.
Tabel 1. Kombinasi antiretroviral
Kriteria
Kombinasi
Penghambat
Reverse Transcriptase
Penghambat
Protease
Sangat dianjurkan
Didanosin+Lamivudin
Didanosin+Stavudin
Didanosin+Zidovudin
Didanosin+Efirenz+
Lamivudin/ Stavudin/
Zidovudin
Lamivudin+Zidovudin
Lamivudin + Stavudin
Indinavir
Indinavir+Ritonavir
Lopinavir+Ritovanir
Nelfinavir
Ritonavir+Saquinavir
Altematif Zidovudin+Zalsitabin
Amprenavir
Nelfinavir+Saquinavir
Ritonavir
Saquinavir
Tidak dianjurkan
Stavudin+Zidovudin
Zalsitabin+Didanosin
Zalsitabin + Lamivudin
Zalsitabin + Stavudin
Sumber: US. Deportment of Health and Human Services. Guidelines for the use
of antiretroviral agents in hiv-infected adults and adolescents. MMWR 2001;
50: 1-115
2
.
Kombinasi ARV pada pengobatan pertama perlu diubah
jika ditemukan hal-hal sebagai berikut
(1,2,5,6)
:
1. Penurunan RNA HIV plasma < 0,5-0,75 log
10
dalam 4
minggu atau < 1 log
10
dalam 8 minggu setelah pengobatan
pertama diberikan.
2. Kegagalan penekanan RNA HIV sampai batas tak ter-
deteksi, dalam 4-6 bulan setelah pengobatan pertarna diberikan.
3. Deteksi ulang RNA HIV plasma setelah kepadatan virus
tak terdeteksi, berkembang mengalami peningkatan walaupun
ARV masih terus diberikan.
4. Jumlah CD4 tetap mengalami penurunan.
5. Keadaan klinis yang memburuk.
6. Terdapatnya efek:samping ARV.
Pencegahan dan Pengobatan Infeksi Oportunistik (IO)
Penyebab utama kematian ODHA adalah infeksi oppor-
tunistik. Center of Disease Control (CDC)menganjurkan
pemberian regimen pencegahan bagi semua pasien dengan
status imun yang buruk tanpa kecuali. Infeksi oportunistik yang
sering dijumpai di Amerika dan Eropa adalah Pneumocystis
Carinii Pneumonia (PCP), sedangkan di negara berkembang
(Afrika, Asia Tengah dan Asia Tenggara) termasuk Indonesia
adalah tuberkulosis paru
1-4,12-14
.
Rifampisin menurunkan berturut-turut kadar plasma
nevirapin, delavirdin (analog non-nukleosida), saquinavir,
indinavir, nelfinavir, amprenavir dan lopinavir (penghambat
protease); sedangkan ketokonazol menurunkan kadar plasma
nevirapin sehingga pemberian bersama obat-obat tersebut harus
dihindari
2,12-14
.
Imunisasi pasif dan aktif dilakukan untuk mencegah in-
feksi oportunistik; pemberian imunisasi aktif sebaiknya bukan
imunisasi yang meagandung mikroba hidup/yang dilemahkan.
Beberapa penelitian menyimpulkan tak perlu penyesuaian dosis
dan menunggu kadar tertentu CD4 untuk melakukan imuni-
sasi
12,15
.
PENATALAKSANAAN PADA IBU HAMIL/MELAHIR-
KAN
Konseling, Edukasi dan Uji Saring Antepartum
The American College of Obstetricians and Gynaecologists
(AGOG) dan USPHS menganjurkan konseling, edukasi dan Uji
saring HIV sebagai bagian perawatan antepartum yang di-
lakukan secara rutin dan sukarela oleh ibu hamil dengan risiko
tinggi infeksi HIV dan ibu hamil dengan HIV/AIDS (IHDHA).
Dalam konseling dan edukasi, perlu dukungan psikososial ibu
supaya tidak takut dan percaya diri mengenai status HIV dan
kehamilannya, tentang perjalanan alami HIV, cara penularan
dan pencegahan perinatal serta keuntungan pemberian ARV
bagi ibu dan janin/bayi. Hasil negatif uji saring pada ibu risiko
tinggi infeksi HIV perlu diulang 4 minggu kemudian mengingat
kemungkinan window period pada saat pemeriksaan di-
lakukan
16-19
.
Antiretrovirus (ARV)
Pemberian kombinasi ARV merupakan penatalaksanaan
baku IHDHA tanpa memandang status kehamilan, sama seperti
pemberian ARV pada ODHA karena telah dipertimbangkan
farmakokinetiknya dan tidak terbukti memberikan efek terato-
genik pada janin/bayi jika diberikan setelah umur kehamilan 14
minggu
16-19
.
Pada pencegahan penularan HIV perinatal (PHP), baik
ACOG, USHS maupun WHO menganjurkan kombinasi ARV
untuk menekan replikasi virus secara cepat sampai batas yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
28
tidak dapat dideteksi; sehingga diharapkan PHP, tidak terjadi,
mengurangi kejadian resistensi dan memberi kesempatan per-
baikan imunitas ibu
16,17,19
. Pemberian kombinasi ARV mulai
diberikan pada IHDHA yang memiliki CD4 < 500/mm
3
atau
kepadatan virus > 10.000/ml dengan atau tanpa gejala klinis;
sedangkan pemberian ZDV tunggal dapat dilakukan jika CD4 >
500/mm
3
dan kepadatan virus 4.000 - 10.000/ml dengan dosis
100 mg 5 kali sehari yang dimulai setelah trimester I sampai
masa persalinan
15
. Pada saat mulai persalinan (kala I), ZDV
diberikan secara intravena 2 mg/kg BB dalam 1 jam, dan
diteruskan 1 mg/kg BB/jam sampai pengikatan tali pusat bayi;
kemudian diikuti dengan pemberian ZDV oral pada bayi
setelah berumur 12 jam dengan dosis 2 mg/kg BB/6 jam selama
6 minggu. Semua ARV diberikan setelah trimester I (14
minggu umur kehamilan) untuk menghindari beberapa efek
teratogenik. Namun, jika ibu sedang menjalani pengobatan
ARV dan kemudian hamil, pengobatan tersebut dilanjutkan
sebab penghentian, ARVakan mengakibatkan rebound pheno-
menon jumlah virus
16,17,19-21
.
Pada beberapa penelitian berskala besar, ZDV terbukti
menurunkan PHP dari 22,6% menjadi 7,6% jika diberikan
selama antepartum, intrapartum dan postpartum. Tidak didapat-
kan perbedaan yang bermakna pada efek samping dan toksisitas
ZDV dibandingkan plasebo, kecuali anemia pada bayi yang
hilang setelah ZDV dihentikan; sedangkan kelainan kongenital
tidak lebih tinggi dari populasi umum. Oleh sebab itu, ADV
sebaiknya ada pada setiap regimen kombinasi karena terbukti
menurunkan PHP
16,17,19-21
.
Sekarang sedang dilakukan penelitian penggunaan ZDV
oral jangka pendek untuk mencegah PHP. Jika berhasil dan
dapat dijadikan protokol, diharapkan akan menurunkan kejadi-
an PHP lebih banyak lagi; mengingat biaya lebih murah,
kepatuhan lebih tinggi dan jangkauan lebih luas dibandingkan
dengan penggunaan ZDV jangka panjang
22-24
.
Pada penelitian di Afrika oleh Wiktor dkk
22
dan Dabis
dkk
23
serta di Thailand oleh Shafter dkk
24
, pemberian ZDV
jangka pendek memperlihatkan penurunan PHP 38-50% walau-
pun air susu ibu masih tetap diberikan. Di sini, ZDV oral baru
diberikan pada umur kehamilan 36 minggu dengan dosis 300
mg 2 kali sehari sampai masa persalinan (kala I), kemudian 300
mg 3 jam sekali dari kala I sampai kala IV dan diteruskan
dengan 300 mg 2 kali sehari selama 7 hari postpartum; sedang-
kan bayi diberikan ZDV oral setelah berumur 12 jam dengan
dosis 2 mg/ kg BB/6 jam selama 6 minggu
19,22-24
.
Pencegahan dan Pengobatan Infeksi Oportunistik (IO)
Sesuai CDC dan WHO, pencegahan dan pengobatan IO
pada IHDHA sama dengan pencegahan dan pengobatan IO
pada ODHA
12-14,16-17
. Lihat tabel 2.
lmunoterapi dan Imunisasi
Uji tahap I hyperimmune anti HIV Immunoglobulin
(HIVIG) yang diberikan ke IHDHA meningkatkan titer anti-
bodi p24 yang tinggi pada bayi baru lahir, sehingga mampu
menekan terjadinya PHP. Namun, penelitian Lambert dkk
(25)
tidak menunjukkan efikasinya dalam penurunan PHP diban-
dingkan dengan pemberian ZDV. Sedangkan penelitian me-
ngenai imunisasi pasif dan aktif untuk mencegah PHP sedang
dilakukan. Pemberian minimal 3 dosis vaksin recombinant
envelope setiap bulan berturut-turut menunjukkan peningkatan;
antibodi pada manusia tanpa efek teratogenik pada binatang ;
percobaan
15,16
.
Perawatan Antepartum
Perawatan antepartum IHDHA ditujukan bukan hanya
perawatan rutin saja, melainkan juga strategi pencegahan PHP
dan pengobatan serta komplikasi-komplikasinya. Setiap
kunjungan antepartum diperhatikan masalah psikososial ibu,
gejala dan tanda infeksi HIV serta IO. Pemantauan kesejah-
teraan janin sebaiknya dilakukan secara non invasif, karena
pemeriksaan diagnostik invasif meningkatkan risiko PHP,
kecuali atas indikasi yang kuat
16,17,19
.
Jumlah CD4 dan kepadatan virus dipantau selama perawat-
an antepartum setiap trimester atau setiap 4 minggu jika ARV
diberikan guna mengikuti perkembangan penyakit, keberhasil-
an ataupun resistensi ARV serta menentukan langkah lebih
lanjut. Di samping itu, pemeriksaan hemoglobin, lekosit dan
trombosit juga dilakukan setiap 4 minggu untuk menilai efek
penekanan ARV terhadap sumsum tulang
16,19
.
Cara Persalinan
Pada saat persalinan harus dihindari semua manipulasi
yang dapat meningkatka risiko PHP melalui kontak darah atau
sekret genital ibu; serperti persalinan vagina dengan solusio
plasenta, plasenta previa, perdarahan jalan lahir, ketubah pecah
dini serta partus lama. Pada kasus tersebut, mernpercepat kala
II atau operasi cesarea perlu dilakukan
16,17,26-28
.
Penelitian di Swiss, Perancis, London dan daratan Eropa
lainnya menunjukkan penurunan kejadian PHP 50-87% pada
IHDHA yang menjalani operasi cesarea eletif. Namun,
sebagian besar subyek penelitian juga menggunakan ZDV
selama kehamilannya
(16,26)
. Penelitian di Rwanda mendapatkan
kematian IHDHA post operasi cesarea yang' bermakna diban-
dingkan dengan yang tidak terinfeksi HIV, walaupun hal ini
tidak ditemukan di Eropa
(16,17)
. Sebaliknya, hasil penelitian di
Amerika dan Vietnam tidak didapatkan perbedaan bermakna
dalam penurunan PHP antara kelompok yang dilakukan operasi
cesarea elekif dengan kelompok yang diberikan profilaksis
ZDV; bahkan untuk menyelamatkan seorang bayi dari PHP;
memerlukan 12-16 operasi cesarea elektif. Oleh karena itu,
operasi cesarea bukan untuk menurunkan kejadian PHP dan
dilakukan atas indikasi obstetri
(16,17,28)
.
Air Susu Ibu (ASI)
Air susu ibu selain mengandung faktor imun non spesifik
(secretary leucocyte protease inhibitor, lactoferrin, comple-
ment, glycosaminoglycan), epidermal growth factor (EGF) dan
transforming growth factor (TGF)
, ternyata juga me-
ngandung HIV dan DNA provirus dalam jumlah yang cukup
banyak untuk menambah risiko PHP sampai 14%
16-18,29,30
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 29
Tabel 2. Pengobatan dan Pencegahan Infeksi Oportunistik
Patogen Indikasi
Pencegahan
Pencegahan
Pengobatan
Pneumocytis carinii
- CD4< 200/mm
3
- panas > 2 minggu
Pilihan : - kotrimoksasol forte sekali sehari
Altematif : - kotrimoksasol forte 3 kali/minggu
- dapson 50 mg 2 kali/hari atau
100 mg sekali sehari
- dapson 50 mg/hari + pirimetamin
50 mg/minggu+leukovorin
25 mg/minggu
- pentamidin aerosol 300 mg/hari
- atovaquon 1500 mg sekali sehari
Pilihan : - kotrimoksasol forte 2 tablet 3 kali sehari
selama 21 hari
Altematif : - dapson 10o mg/had + trimetoprim 20
mg/kg BB/hari selama 21 hari
- klindamisin 300.600 mg 4 kali sehari
+ primakuin 15 mg/hari selama 21 hari
- atovaquon 1500 mg sekali sehari
selama 21 hari
Toxoplasma gondii
- CD4< 100/mm
3
- IgG
toksoplasma
Pilihan : - kotrimoksasol forte sekali sehari
Altematif : - dapson50 mg/hari+pirimetamin
50 mg/minggu + leukovoin
25 mg/minggu
- atovaquon 1500 mg sekali sehari
Pilihan : - sulfadiazin 1-2mg+pirimetamin
Ibu hamil : - spiramisin 1 g 3 kali/hari selama 1-2 minggu
Altematif : - klindamisin 300-600 mg 4 kali sehari+
primakuin 15 mg/hari selama 21 hari
- dapson 50 mg/hari + pirimetamin 50 mg/
minggu + leukovorin 25 mg/minggu
- atovaquon 1500 mg sekali sehari
H. capsulatum
- CD4< 100mm
3
- Daerah endemis
Pilihan : - itrakonazol 200 mg/hari
Altematif : - flukonazol 400 mg/hari
- amphoterisin 1 g/minggu IV
Amphoterisin 1 g/kg BB/hari secara IV selama 7 hari
dilanjutkan dengan itrakonazol 200 mg/hari
Candida vagina/
oropharygeal
- CD4 < 500/mm
3
- Sering kambuh
Pilihan : - flukonazol 100-200 mg/hari
Altematif : - itrakonazol 200 mg/hari
Pilihan : - flukonazol 100-200 mg/hari
Altematif : - itrakonazo1200 mg/hari
M. avium complex
- CD4< 50/mm
3
Pilihan : - azitromisin 1200 mg/minggu
Altematif : - klaritromisin 500 mg 2 kali sehari
- rifampisin 300 mg sekali sehari
Klaritromisin 500 mg 2 kali sehari atau azitromisin 1200
mg/hari + rifampisin 300 mg sekali sehari + etambutol
15 mg/kg BB/hari
M. tuberculosis
- Tes Mantoux > 5 mm
- Kontak erat dengan
penderita tb. aktif
Isoniazid 300 mg/hari + piridoksin 50 mg/hari
selama 12 bulan
Rifampisin 600 mg/hari + pirazinamid 15-20
mg/kg BB/hari, jika resisten terhadap isoniazid
Seperti pasien tuberkulosis paru pada umumnya
(sesuai dengan kriteria WHO)
Cytomegalovirus
(CMV)
- CD4 <50/mm
3
- Antibodi CMV +
Pilihan : gansiklovir 1 g 3 x sehari
Altematif : sidofovir 5 mg/kg BB setiap
minggu (IV)
Pilihan : gansiklovir 1 g 3 x sehari
Altematif : foscarnet 90-120 mg/kg BB/hari (IV)
Varicella zoster
Kontak dengan
penderita
Ig varicella zoster (VIZIG) 6,25 ml, diberikan
< 96 jam setelah kontak
Asiklovir 800 mg 5 kali sehari selama 2 minggu
Herpes simplex
Kontak dengan
penderita
Pilihan : asiklovir 200 mg 3 kali sehari atau
400 mg 2 kali sehari
Altematif : famsiklovir 500 mg 2 kali sehari
Asiklovir 200 mg 3 kali sehari atau 400 mg 2 kali sehari
Salmonella sp.
Terdapat bakteri
salmonela
Siprofloksasin 500 mg 2 kali sehari
- Siprofloksasin 500 mg 2 kali sehari
Virus hepatitis A
Anti HAV -
Vaksin hepatitis A : 2 dosis
-
Virus hepatitis B
Anti HBs dan
HBs -
Vaksin hepatitis b : 3 dosis
-
Virus influenza
Semua ODHA
Vaksin influenza inaktivasi, setiap tahun
menjelang musim influenza
-
S. pneumoniae
Semua ODHA
Vaksin pneumokokus 23 valen polisakarida
0,5 ml IM
-
Sumber : US Public Health Services. Guidelines for the preventiopn of opportunistic infections in person infected with human immunodeficiency syndome. MMWR
2001; 50 : 322-48
12
.
Di negara maju, pemberian ASI sudah tidak dianjurkan
lagi; narnun di negara berkembang dimana kesehatan sanitasi
lingkungan tak mendukung dan tak cukup tersedianya susu
formula serta masalah ekonomi, maka pemberian ASI eksklusif
masih dapat dilakukan dibandingkan dengan pemberian mixed
breast feeding
7,16,17,29-31
.
Pada penelitian Mofenson dkk
31
, pemberian ASI 3 bulan
pertama menunjukkan penurunan kejadian PHP, karena kan-
dungan EGF dan TGF (3 dalam ASI akan mematangkan per-
kembangan epitel mukosa yang merupakan barrier penting di
samping faktor imun non spesifik yang mampu bekerja sebagai
antivirus.
PENATALAKSANAAN POST EXPOSURE
Konseling, Edukasi dan uji Darah Post Exposure
Tenaga medis, paramedis dan pekerja di bidang kesehatan
lainnya merupakan salah satu kelompok risiko tinggi terinfeksi
HIV akibat paparan produk ODHA. Konseling dan edukasi post
exposure penting, terutama berhubungan dengan psikososial
dan perilaku untuk mencegah penularan sekunder (seperti tidak
melakukan hubungan seksual, pemakaian kondom, mencegah
kehamilan, menghindari pemberian ASI) sampai terbukti
sumber infeksi tidak mengandung HIV
11,16,32
.
Uji darah post exposure untuk menilai antibodi HIV atau
RNA HIV dilakukan segera setelah terpapar untuk mengetahui
status infeksi HIV yang bersangkutan; 6 minggu, 12 minggu
sampai 6 bulan kemudian, jika hasil uji darah negatif baru
disimpulkan tidakterinfeksi HIV
1,32
.
Antiretroviral (ARV),
Pencegahan post exposure (PPE) HIV dengan ARV se-
baiknya dimulai secepat mungkin tanpa kecuali (hamil atau
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
30
tidak). Pada percobaan binatang, didapatkan bahwa pemberian
ARV setelah 36 jam paparan tidak efektif mencegah infeksi
HIV; narnun pada manusia belum ada penelitian mengenai hal
ini
16,32
.
Saat ini, CDC dan USPHS menganjurkan pemberian kom-
binasi ARV untuk PPE, walaupun ZDV sendiri mampu me-
nurunkan serokonversi sampai 79% pada penelitian retros-
pektif
16,32
. Kombinasi dasar ARV oral selama 4 minggu yang
diberikan terdiri dari ZDV 300 mg 2 kali sehari, lamivudin 150
mg 2 kali sehari atau lamivudin 150 mg 2 kali sehari dengan
stavudin 40 mg 2 kali sehari atau stavudin 40 mg 2 kali sehari
dengan didanosin 400 mg sekali sehari. Sedangkan kombinasi
lanjut ARV yang diindikasikan untuk kasus HIV positif kelas 1
dengan cidera kulit dalam dan HIV Positif kelas 2 terdiri dari
regimen kombinasi dasar ditambah salah satu dari ARV yang
disebutkan berturut-turut dengan dosisnya sebagai berikut:
infinavir 800 mg 3 kali sehari, nelfinavir 750 mg 3 kali sehari,
efavirenz 600 mg sekali sehari atau abakavir 300 mg 2 kali
sehari
32
.
PENUTUP
Penurunan angka kesakitan dan kematian HIV/AIDS
memerlukan penatalaksanaan baku dan menyeluruh pada
ODHA dan IHDHA. Konseling dan edukasi adalah pilar per-
tama dan utama untuk mencapai keberhasilan penatalaksanaan
HIV/AIDS. Pemberian ARV dianjurkan dalam bentuk kom-
binasi untuk mengurangi resistensi dan mernpercepat penurun-
an kepadatan HIV sampai batas yang tidak terdeteksi.
Cara persalinan dengan operasi caesarea dilakukan sesusi
indikasi obstetri dan bukan untuk menurunkan kejadian PHP.
Pemberian ASI di negara sedang berkembang masih dianjur-
kan, karena PHP pada mixed feeding ternyata lebih tinggi.
Pencegahan post exposure sebaiknya dilakukan secepat
mungkin dengan kombinasi ARV sesuai dengan keadaan waktu
terpapar.
KEPUSTAKAAN
1.
Fauci AS, Lane HC. Human immunodeficiency syndrome (HIV): AIDS
and related disorder. In : Braunwald E, Fauci AS, Kasoer DL, et al (Eds).
Harrison's Principles of Internal Medicine. 15
th
ed. New York: McGraw-
Hill; 2001; p.1852-908.
2. CDC. Guidelines for the use of antiretroviral agents in HIV-infected
adults and adolescents. August 2001; p. 1-115.
3.
Djoerban Z. Penatalaksanaan AIDS. Dalam : Setiati S, Sudoyo AW, Alwi
I, dkk (Eds). Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Penyakit Dalam 2000.
Jakarta : Pusat Informasi dan Penerbitan FKUI; 2001; hal. 1-8.
4. Nes. Upaya turunkan laju infeksi HIV. Kompas 2001 Nov. 16; hal 10
(Col. l).
5. Chippindale S, French L. HIV counselling and the psychosocial ma-
nagement of patients with HIV or AIDS. Br Med J 2001; 322:1533-5.
6. Mindel A, Tenant M. Natural history and management of early HIV
Infection. Br Med J 2001; 322:1290-3.
7.
Grant AD, Delock KM. HIV Infection and AIDS in the developing world.
Br Med J 2001; 322 :1475-8.
8. Benyamini E, Coico R, Sunshine G. Aquired immunodeficiency
syndrome. In: Benyamini E, Jeffrey DJ (Eds). Immunology A Short
Course 4
th
ed. New York : Wiley-Liss; 2000. pp. 361-8.
9. Pillay D. Analysis of prevalence of HIV-1 drug resistance in primary
infection. Br Med J 2001; 322 :1087-8.
10. Paterson DL, Swindells S, Mohr J, et al. Adherence to protease inhibitors
therapy and outcomes inpatients with HIV infection. Ann Intern Med
2000;133 : 21-30.
11. Gilbert DN, Moellering RC, Sande MA. The Stanford Guide to
Antimicrobial Therapy 31
th
ed. New York : Antimicrobial Inc; 2001.
12. 2001 USPHS/IDSA. Guidelines for the prevention of opportunistic
infections in person infected with human immunodeficiency syndrome.
Jul. 2001. p.1-68.
13. Centre of Desease Control. Updated guidelines for the use of rifabutin or
rifampin,, for the treatment and prevention of tuberculosis among
HIV-infected patients taking protease inhibitor or non nucleoside reverse
transcriptase inhibitors. MMWR 2000; 49 (RR 10).
14. American Thoracic Society.Targeted tuberculosis testing and treating off
latent tuberculosis infection.Am J Respir Crit Care Med 2000 ; 217 : 41-7.
15. Heyward WL, MacQueen KM, Jaffe HW. Obstacles and progress forward
development of a preventive HIV vaccine. Intern Assoc Phys AIDS Care.
2001.
16. Hueppchen NA, Anderson JR, Fox HE. Human immnunodeficiency virus
infection. In : Cohen WR (Ed). Complications of Pregnancy 5
th
ed.
Philadelphia: Lippicott Williams and Wilkins ; 2000. pp. 677-91.
17. Mofenson LM, Mantyre JA. Advanced and research directions in the
prevention of mother-to-child HIV-1 transmission. Lancet 2000 ; 355 :
2237-44.
18. Newel ML, Peckham C. Vertica transmission of HIV in Europe. In :
Jeffries DJ, Hudson CN (Eds). Viral Infections in Obstetrics and
Gynaecology 1
st
ed. London: Arnold ; 1999. pp. 135-48.
19. CDC. Public Health Services task for recommendations for use of
andretroviral drugs in pregnant women infected with HIV-1 for maternal
health and for reducing perinatal HIV-1 transmission in the us. MMWR
2001 ; 50 (RR.11).
20. Ditrame ANRS 049 Study Group. 15-month efficacy of maternal oral
zidovudine to decrease vertical transmission of HIV-1 in breastfed
African children. Lancet 1999; 354 : 2050-7.
21. Guay LA, Musoka P, Fleeting T, et. al. Intrapartum and neonatal
single-dose nevirapine compared,with zidovudine for prevention of
mother-to-child transmission of HIV- I in Kampala, Uganda : hivnet 012
randomised trial. Lancet 1999; 354: 795-802.
22. Wiktor SZ, Ekpini E, Karon JM, et al. Short-course oral zidovudine for
prevention of mother-to-child transmission of HIV-1 in Abidjan, Cote
d'Ivoire : a randomised trial. Lancet1999;353:781-5.
23. Dabis F, Msellati P, Meda N, et al. 6-month efficacy, tolerance, and
acceptability of a short regimen of oral zidovudin to reduce vertical
transmission of HIV in breastfed children in Cote d'Ivoire and Burkina
Faso : a double-blind placebo-controlled multi-centre trial. Lancet 1999;
353:786-92.
24. Shaffer N, Chuachoowong R, Mock PA, et al. Short-course zidovudine,
for perinatal HIV-1 transmission in Bangkok, Thailand : a randomised
controlled trial. Lancet 1999; 353 : 773-80.
25. Lambert JS, Mofenson LM, Fletcher CV, et al. Safety and pharmaco-
kinetics of hyperimmune anti HIV immunoglobulin administered to
HIV-infected pregnant women of and their newborns. Lancet 1998;
353:1477-82.
26. The European Mode of Delivery Collaboration. Elective caesarean section
versus vaginal delivery in preventiop of vertical HIV-1 transmission : a
randomised clinical trial. Lancet 1998; 353 : 1035-39.
27. Gcubert TA, Reindell D, Kastner Ralph, et A1. Complications after
caesarean section in HIV-1 infected women not taking antiretroviral
treatment. Lancet 1999; 353 :1612-4.
28. Newell ML, Lin HH, Kao JH, et al. Caesarean section and risk of vertical
transmission of HIV-1 infection. Lancet 1994; 353 : 1464-7.
29. Wise J. Breast feeding safer than mixed feeding for babies of HIV
mothers. Br Med J 2001; 322 : 511-3.
30. Coutsoudis A, Pillay K, Spooner E, Kuhn S. Influence of infant-feeding
pattern on early mother-to-child transmission of HIV-1 in Durban, South
Africa : a prospective cohort study Lancet 1999; 354 : 471-6.
31. Mofenson LM, Lambert JS, Steiehm ER, et al. Risk factors for perinatal
transmission of human immnunodeficiency virus type 1. N Engl J Med
1999; 322 : 385-93.
32. US Departemen of Health and Human Services. Guidelines for the
management of occupational exposure to HBV, HCV and HIV recom-
mendations for postexposure prophylaxis. MMWR 2001; 50 (RR 11).
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 31