background image
HASIL PENELITIAN
Gambaran Klinis
Tuberkulosis Milier pada Bayi
Bambang Supriyatno
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ABSTRAK
Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah di dunia termasuk negara berkem-
bang seperti Indonesia. Pada anak, selain tatalaksana TB masih kurang diperhatikan,
diagnosis TB pada anak pun masih sulit ditegakkan apalagi pada bayi kurang dari 1
tahun, sehingga under/over diagnosis dan under/over treatment sering terjadi
(1)
.
Berbagai upaya diagnosis telah banyak dilakukan baik pemeriksan serologi maupun
kultur untuk mencari M. tuberculosis. Namun pemeriksaan penunjang tersebut belum
mampu menentukan apakah seorang anak sakit TB atau hanya terinfeksi M. tuber-
culosis tanpa sakit. Para ahli sepakat bahwa anamnesis dan pemeriksaan klinis masih
merupakan cara diagnosis TB pada anak.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran klinis pasien TB berat
khususnya TB milier pada bayi kurang dari 1 tahun. Penelitian bersifat retrospektif
dengan menelusuri catatan medik pasien yang dirawat dengan TB milier sejak Januari
2000-Desember 2001. Diagnosis TB milier ditentukan oleh supervisor Pulmnologi
Anak FKUI RSCM berdasarkan gambaran klinis dan radiologis. Didapatkan 19 pasien
TB milier dengan perbandingan lelaki dan perempuan adalah 1:1. Kebanyakan berusia
6 bulan. Keluhan terutama adalah demam, berat badan turun atau tetap, dan anoreksi
masing-masing 89,5%; 89,5%; dan 84,2%. Pembesaran kelenjar, hati, dan limpa,
masing-masing didapatkan pada 73,7%; 57,9%; dan 47,7%. Uji tuberkulin positif
didapatkan pada 52,6%, peningkatan laju endap darah dan anemia didapatkan pada
63,2% dan 57,9% pasien.
Penelitian ini mendapatkan bahwa gejala klinis yang paling menonjol pada TB
milier bayi di bawah 1 tahun adalah demam, berat badan tidak naik atau turun, serta
anoreksia. Sedangkan pembesaran kelenjar getah bening, hati, maupun limpa cukup
banyak dijumpai. Sebagian besar pasien TB milier uji tuberkulinnya positif. Dengan
mengetahui gambaran klinis dan pemeriksan penunjang sederhana, diagnosis TB milier
pada bayi di bawah 1 tahun dapat ditentukan.
Kata kunci: gambaran klinis, TB milier, bayi
PENDAHULUAN
Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah di dunia
termasuk negara berkembang seperti Indonesia. Pada anak,
selain tatalaksana TB masih kurang diperhatikan, diagnosis TB
masih sulit ditegakkan apalagi pada bayi kurang dari 1 tahun,
sehingga under/over diagnosis dan under/over treatment sering
terjadi.
1
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menentukan
diagnosis TB pada anak seperti uji serologis, kultur M. tuber-
culosis dan lain-lain, namun masih belum mampu memastikan
diagnosis secara sederhana, murah, cepat dan akurat.
2,3
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002
26
background image
TB dapat menyerang semua lapisan, jenis kelamin dan
usia. Bila TB terjadi pada masa bayi, diagnosis sering terlambat
karena keterlambatan bayi dibawa ke petugas kesehatan dalam
hal ini dokter. Tidak jarang bayi dibawa sudah dalam keadaan
berat seperti TB milier atau meningitis. Sebenarnya bila TB di-
ketahui lebih awal, kemungkinan menjadi berat dapat dicegah.
4
Di bawah ini akan diuraikan beberapa gambaran klinis dan
laboratorium TB milier pada bayi.
METODOLOGI
Populasi penelitian adalah semua pasien rawat inap di
Bagian Anak FKUI, periode Januari 2000 - Desember 2001
yang didiagnosis TB milier berdasarkan gambaran klinis dan
Rontgen dada. Diagnosis TB milier ditegakkan oleh Supervisor
Pulmonologi Anak setelah memeriksa gambaran klinis dan
radiologis pasien. Pasien tersebut diikuti perjalanan klinisnya
dan dicatat di formulir yang disediakan. Pencatatan meliputi
identitas, gejala klinis, pemeriksaan fisis, laboratoris, dan
outcome. Data dianalisis dan disajikan dalam bentuk narasi dan
tabel.
HASIL PENELITIAN
Selama periode tersebut, terdapat 19 pasien dengan diag-
nosis TB milier, lelaki 11 pasien dan perempuan 8 pasien,
dengan rentang usia 2,5-11 bulan, terbanyak berusia 1-6 bulan
(tabel 1).
Tabel 1. Karakteristik pasien berdasarkan umur dan jenis kelamin
Jenis kelamin
Umur
(bulan)
Laki-laki Perempuan
Total
<1 0 0 0
1-6 8
6 14
>6-12 3
2
5
Total
11 8 19
Keluhan demam, berat badan turun atau tetap, dan batuk
menempati urutan teratas masing-masing 17/19 (89,5%), di-
ikuti oleh anoreksia (16/19; 84,2%); 5/19 pasien menderita
kejang (tabel 2).
Tabel 2. Gejala klinis
Gejala Jumlah
Persentase
Demam 17
89,5
BB tetap/turun
17
89,5
Anoreksia 16
84,2
Batuk
14
73,7
Sesak 9
47,4
Keringat malam
8
42,1
Kejang 5
26,3
Riwayat kontak TB
10
52,6
Pembesaran kelenjar
14
73,7
Hepatomegali 11
57,9
Splenomegali 9
47,4
BCG Scar
11 57,9
Keterangan: Pasien dapat mempuyai gejala >1
Hepatosplenomegali ditemukan pada kira-kira 50% pasien,
sedangkan pembesaran kelenjar getah bening ditemukan pada
14/19(73,7%) pasien. Adanya riwayat kontak TB dijumpai
pada 10/19(52,6%) pasien, 3 kasus dengan kontak pasti (BTA
positif) dan sisanya baru diduga. BCG scar (parut BCG) di-
temukan pada 11/19 pasien.
Pada tabel 3 terlihat bahwa gizi buruk dijumpai pada 8/19
pasien sedangkan gizi kurang dijumpai pada 9/19 pasien.
Tabel 3. Berdasarkan status gizi
Status gizi
Jumlah
Persentase
Gizi buruk
8
42,1
Gizi kurang
9
47,4
Gizi baik
2
10,5
Total 19
100
Anemia terdapat pada 11/19 pasien dan peningkatan LED
(laju endap darah) terjadi pada 12/19 pasien. (tabel 4).
Tabel 4. Berdasarkan uji laboratorium
Pemeriksaan Jumlah
Persentase
Anemia 11
57,9
LED meningkat
12
63,2
Limfositosis 5
26,3
Uji tuberkulin (Mantoux) positif didapatkan 10/19 pasien,
7 di antaranya dengan indurasi >15 mm, 6 pasien negatif; 3
pasien belum sempat dinilai karena meninggal sebelum uji
tuberkulin dibaca.
Tabel 4. Berdasarkan uji Mantoux
Ukuran (mm)
Jumlah
Persentase
<10 6 31,6
10-15 3 15,8
15-20 7 36,8
>20 0 0
Keterangan: 3 pasien tidak sempat dibaca
DISKUSI
TB masih merupakan masalah di Indonesia. TB dapat me-
nyerang semua usia termasuk bayi (di bawah 1 tahun). Peneliti-
an ini menemukan peningkatan kasus TB milier dibanding
tahun sebelumnya yaitu sekitar 12 pasien dalam 3 tahun ter-
akhir. Peningkatan ini dapat terjadi mungkin karena terjadinya
krisis moneter yang mengakibatkan kurangnya perhatian orang
tua terhadap gizi anaknya. Terlihat di tabel 3 bahwa 42,1%
pasien termasuk gizi buruk, padahal status gizi sangat menentu-
kan beratnya penyakit TB yang diderita
5
.
Tidak tampak perbedaan jenis kelamin di kalangan pen-
derita;terutama berusia 1-6 bulan. Hal ini sesuai dengan
Lincoln,
6
yang mendapatkan bahwa jika terjadi perburukan,
akan terlihat dalam waktu 6 bulan pertama setelah infeksi.
Mungkin saja infeksi terjadi segera setelah lahir karena eratnya
kontak yang ada; kontak TB dijumpai pada 10/19 kasus, 3
kasus terbukti penderita TB, sedangkan lainnya diduga yaitu
diobati TB oleh dokter dan terdapat hemoptoe tetapi tidak
dapat menunjukkan hasil BTA. Tidak tertutup kemungkinan
kontak TB yang lain sebenarnya positif, tetapi disangkal oleh
keluarga.
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002 27
background image
katan jumlah sel dengan dominasi limfosit
9
pada pemeriksaan
Demam, berat badan turun atau tetap, serta anoreksia me-
nempati urutan atas sebagai gejala TB pada bayi. Hal ini sesuai
dengan Miller
7
. Algoritme Konsensus Nasional TB Anak
8
me-
ngenai Diagnosis dan Tatalaksana TB pada anak pun menem-
patkan ketiganya dalam kelompok gejala utama. Biasanya ke-
luhan di atas sudah dicoba untuk diobati oleh orang tua atau
oleh tenaga kesehatan (dokter) sebelum datang ke rumah sakit.
Konsensus Nasional TB Anak memakai patokan jika ada gejala
demam yang tidak jelas penyebabnya, berat badan yang tidak
naik setelah pemberian gizi, harus dicurigai TB dan memerlu-
kan pemeriksaan lebih lanjut.
cairan serebrospinal. Pemeriksaan kultur terhadap cairan sere-
brospinal hasilnya negatif.
KESIMPULAN
TB dapat mengenai seluruh lapisan masyarakat termasuk
bayi. TB milier dapat mengenai bayi, terbanyak pada usia 1-6
bulan. Tidak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan. Ge-
jala dan tanda tersering TB milier pada bayi adalah demam,
berat badan turun atau tetap, anoreksia, pembesaran kelenjar
getah bening, dan hepatosplenomegali. Uji tuberkulin positif
didapatkan pada 10/19(52,6%) pasien, sedangkan parut BCG
dijumpai pada 11/19(57,9%) pasien. Perlu penelitian lebih lan-
jut mengenai peran BCG dalam mencegah terjadinya TB berat.
Gejala batuk dijumpai pada 14/19 pasien; batuk merupa-
kan gejala utama infeksi saluran nafas akut; yang mencuriga-
kan TB biasanya batuk lama yang bukan karena asma atau
penyakit lain seperti pertusis.
Kejang pada TB berat (milier) mungkin akibat meningitis
9
.
Pada penelitian ini kejang didapatkan pada 5/19 pasien, 4 di-
diagnosis meningitis tuberkulosis sedangkan 1 pasien kejang
demam.
KEPUSTAKAAN
Pemeriksaan fisik menemukan pembesaran kelenjar getah
bening dan hepatosplenomegali. Hal ini sesuai dengan kepus-
takaan yang menyatakan bahwa TB berat (TB milier) sebagian
besar akan melibatkan organ lain seperti hati, limpa, dan
kelenjar getah bening.
10
1.
Departemen Kesehatan RI. Gerakan terpadu nasional penanggulangan
tuberkulosis. Jakarta,1999; hal 1-16.
2.
American Thoracic Society. Diagnostic standards and classificatiuon of
tuberculosis. Am Rev Respir Dis 1990; 142:725-35.
3.
Inselman LS. Tuberculosis in children : An update. Pediatr Pulmonol
1996; 21:101-120
Pada penelitian ini terlihat bahwa LED yang meningkat
dan limfositosis bukan merupakan tanda utama. LED memang
tidak mempunyai peran berarti terhadap diagnosis TB
5
. Uji
tuberkulin positif didapatkan pada 10/19 pasien. Terdapat 6
pasien dengan uji tuberkulin negatif, mungkin akibat anergi,
meskipun harus dibuktikan lebih lanjut
11.
Tiga pasien tidak
dapat ditentukan hasil uji tuberkulinnya karena meninggal
sebelum sempat dibaca. Yang menarik pada penelitian ini ada-
lah adanya 11/19 pasien dengan parut BCG positif, padahal
dikatakan BCG dapat mencegah TB yang berat termasuk TB
milier. Sterne
12
juga mempertanyakan pengaruh BCG terhadap
pencegahan TB pada anak. Kesan yang didapatpun hampir
sama yaitu BCG tidak dapat mencegah TB berat.
4.
American Thoracic Society. Treatment of tuberculosis and tuberculosis
infection in adults and children. Am Respir J Crit Care Med 1994;
149:1359-74.
5.
Rahajoe NN. Beberapa masalah diagnosis dan tatalaksana tuberkulosis
anak. Dalam: Rahajoe N, Rahajoe NN dkk. Penyunting. Perkembangan
dan masalah pulmonologi anak saat ini. Jakarta: FKUI, 1994; hal.161-81.
6.
Lincoln EM, Sewell EM. Tuberculosis in children., London: McGraw
Hill Book, 1963; hal.18-54.
7.
Miller FJW. Tuberculosis in children. New York, 1982; hal 3-36.
8.
UKK Pulmonologi. Pertemuan UKK Pulmonologi Ikatan Dokter Anak
Indonesia, 12-13 Desember 1998 di Bandung.
9.
Kumar S, Singh SN, Kohli N. A diagnostic rule for tuberculous
meningitis. Arch Dis Child 1999; 81:221-4.
10.
Houwert KAF, Borggreven PA, Schaaf HS, Nel E, Donald PR, Stolk J.
Prospective evaluation of World Health Organization criteria to assist
diagnosis of tuberculosis in children. Eur Respir J 1998; 11:1116-20.
11.
Watkins RE, Brennan R, Plant AJ. Tuberculin reactivity and the risk of
tuberculosis: a review. Int J Tuberc Lung Dis 2000; 4:895-903.
Pada penelitian ini 4 pasien yang meninggal seluruhnya
TB milier dan meningitis tuberkulosis. Diagnosis meningitis
tuberkulosis di sini hanya berdasarkan gejala klinis dan pening-
12.
Sterne JAC, Rodrigues LC. Does the efficacy of BCG decline with time
since vaccination?. Int J Tuberc Lung Dis 1998; 2(3):200-7.
We have more indolence in the mind than in the body
(La Rochefoucauld)
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002
28