background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Farmakoterapi Terkini
Hepatitis Virus Kronik
Candra Wibowo
Residen Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi/
RSUP Manado, Manado
ABSTRAK
Farmakoterapi hepatitis virus kronik masih merupakan masalah di sebagian besar
belahan dunia. Terapi ideal belum ada, karena belum ditemukan obat spesifik yang
memberi hasil memuaskan. Farmakoterapi hepatitis virus kronik difokuskan pada
hepatitis virus B,C dan D, karena virus tersebut paling sering menyebabkan hepatitis
virus kronik dengan segala komplikasinya. Penggunaan IFN secara tunggal maupun
kombinasi dengan ribavirin, saat ini merupakan terapi utama untuk hepatitis virus
kronik, di samping lamivudin yang digunakan pada hepatitis virus B kronik. Farmako-
terapi kombinasi merupakan solusi yang menjanjikan bagi pengelolaan hepatitis virus
kronik di masa depan.
PENDAHULUAN
Hepatitis virus kronik adalah penyakit hati nekroinflamasi
dengan perjalanan penyakit lebih dari 6 bulan, bersifat lambat
progresif dan disebabkan oleh virus hepatitis B, C, D dan G.
Hepatitis virus kronik merupakan penyebab utama sirosis hati
dan karsinoma hepatoseluler dengan segala penyulitnya di
seluruh dunia.
1-3
Virus hepatitis B (VHB) menginfeksi sekitar 400 juta
penduduk dunia; 5-20% penduduk Asia Tenggara, Afrika dan
Cina mengidap hepatitis virus B (HVB) kronik dan seper-
tiganya menjadi sirosis hati atau karsinoma hepatoseluler
dengan berbagai komplikasinya, meskipun program vaksinasi
terus berjalan.
4,5
Angka prevalensi di Indonesia sekitar 10%,
dan 5-10% dari semua kasus HVB menjadi kronik.
6,7
Di
samping itu, terdapat sekitar 170 juta manusia di dunia
terinfeksi virus hepatitis C (VHC) dengan angka prevalensi 3%
dan di Indonesia 1- 2,4%. Hanya 15% penderita hepatitis virus
C (HVC) dapat sembuh spontan, 85% berkembang menjadi
kronik.
8,9
Virus hepatitis D (VHD) merupakan virus RNA yang
tidak sempurna dan selalu membutuhkan keberadaan VHB.
Perjalanan hepatitis virus D (HVD) kronik menyebabkan 70%
kasus berkembang menjadi sirosis; untungnya insidensi dan
prevalensinya rendah, yaitu 4% dan 6%.
2,3
Sedangkan virus
hepatitis G (VHG) muncul sebagai koinfeksi pada 5-15% HVB
dan 10-15% HVC. Prevalensi HVG di Jakarta 2%
10
. Virus ini
menyebabkan hepatitis kronis pada sekitar 29% karena 25-30%
asam aminonya sama dengan asam amino VHC; meskipun
demikian sampai sekarang VHG belum banyak dipahami dan
masih terus dipelajari di berbagai laboratorium penelitian.
2,3,10
Pemberian farmakoterapi yang rasional pada hepatitis
virus kronik ditujukan untuk mengeliminasi atau paling tidak
menekan kepadatan virus sampai batas tak terdeteksi; sehingga
dapat menghentikan/menghambat laju progresivitas penyakit
dan komplikasinya serta meningkatkan kualitas hidup pasien.
1-
3,5,9
Dalam tinjauan kepustakaan ini diuraikan farmakoterapi
rasional pada hepatitis virus kronik, dengan harapan dapat
diterapkan dan memberikan hasil yang memuaskan.
FARMAKOTERAPI HVB KRONIK
Sampai saat ini, farmakoterapi HVB kronik belum
cukup memuaskan; karena masih rendahnya angka kesembuh-
an dan tingginya angka kekambuhan. Meskipun demikian,
farmakoterapi yang rasional mampu meningkatkan survival
rate, kualitas hidup dan memperbaiki prognosis.
2,3,5,9
Pengobatan HVB kronik tergantung pada status replikasi
virus, oleh sebab itu farmakoterapi tidak diberikan pada HVB
kronik asimtomatik dan karier non-replikasi.
2-5
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003 29
background image
Core Working Party
11
menganjurkan penggunaan inter-
feron
(IFN) atau lamivudin sebagai farmakoterapi yang
rasional sesuai indikasinya. Thymosin
1 dan antiviral lainnya
masih memerlukan penelitian lebih lanjut walaupun penelitian-
penelitian yang sudah selesai memberikan hasil yang cukup
menggembirakan.
2,3,11
Keberhasilan pengobatan hepatitis virus kronik dinyatakan
sebagai end of treatment viral response, yaitu tidak terdetek-
sinya DNA VHB pada akhir program pengobatan dan sustained
viral response, yaitu tidak terdapatnya DNA VHB setelah 6
bulan pengobatan selesai.
2-4,12
Interferon
Interferon
sebenarnya diproduksi tubuh dan dipakai
sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap antigen karena
memiliki sifat antiviral, antiproliferasi dan juga sebagai imuno-
modulator. Cara kerja IFN
adalah mencegah penetrasi virus
dengan cara mengikat virus yang berada di luar sel, meng-
ganggu sintesis messenger RNA, proses translasi protein virus
dan merangsang fosfodiesterase yang mampu menghambat
transfer RNA, sehingga proses polimerisasi peptida virus tidak
akan terjadi serta produksi virion terganggu. Selain itu, IFN
juga menekan adenylate oligomer (pengaktif endoribo- nuklea-
se sel laten) sehingga sel yang terinfeksi dan RNA virus akan
rusak. Efek lain adalah merangsang ekspresi Human Leukocyte
Antigen kelas I pada permukaan membran hepatosit yang
membantu meningkatkan efek lisis limfosit T sitotoksik.
1-3,13,14
Indikasi pemberian IFN
adalah HVB kronik fase repli-
kasi aktif yang ditandai dengan terdeteksinya HBe Ag, DNA
VHB dan kadar aminotransferase 2-5 kali nilai nor- mal serta
biopsi hati menunjukkan nekroinflamasi (tidak mutlak dilaku-
kan); sedangkan kontraindikasinya meliputi usia > 60 tahun,
terdapat / riwayat gangguan psikiatri / depresi berat, kehamilan,
epilepsi, diabetes melitus / hipertensi / penyakit kardiovaskuler
yang tidak terkontrol, penyakit otoimun, penurunan sistem
imun, netropenia (<1.500/mm
3
), trombositopenia (< 100.000/
mm
3
), dekompensasi hati dan pasca transplantasi serta keadaan
umum yang buruk. Dosis IFN
5 juta unit setiap hari atau 10
juta unit 3 kali seminggu secara subkutan selama 4-6 bulan.
Meskipun IFN
diberikan pada fase replikasi aktif, hanya 33-
40% yang memperoleh sustained viral response yang ditandai
dengan menghilangnya DNA VHB dan terdeteksinya anti HBe
serta perbaikan struktur histologi hati yang nyata.
4-6,13
Faktor-
faktor yang mempengaruhi respon pengobatan selain fase
replikasi aktif dan proses nekroinflamasi hati, yaitu sistem
imunitas, saat pemberian IFN setelah diagnosis ditegakkan,
kadar DNA VHB dalam tubuh, jenis kelamin serta jenis
penularan VHB yang didapat.
2-4
Penelitian-penelitian me-
nyimpulkan, bahwa pemberian IFN
yang dilakukan tidak
pada fase replikasi aktif, diberikan setelah 1 tahun diagnosis
ditegakkan, kandungan virus > 200 pg/ml, status imun yang
rendah dan atau penularan yang terjadi sewaktu perinatal,
hanya memberikan respon pengobatan kurang dari 5%,
sedangkan pemberian ulang IFN
pada kasus kambuh tidak
memperbaiki respon pengobatan.
4-6
Pengobatan IFN
sebaiknya dievaluasi secara berke-
sinambungan. Kadar aminotransferase, HBs Ag, HBe Ag, anti
HBe diperiksa setiap 4 minggu dan DNA VHB setiap 3 bulan
selama pengobatan, serta 6 bulan setelah pengobatan selesai.
2-6
Efek samping yang sering timbul adalah flu-like symptoms,
depresi, netropenia dan trombositopenia; sedangkan efek
samping lain jarang terjadi, seperti hipersensitivitas, berat
badan turun, diare, alopesia, susah konsentrasi, gangguan tidur,
delirium, koma, kejang, tuli, perdarahan retina, menarik diri
dari lingkungan, keinginan bunuh diri, infeksi sekunder,
sindrom nefrotik, aritmia, gagal jantung, eksaserbasi akut
penyakit hati.
1-6
Analog Nukleosida
Lamivudin
Lamivudin adalah suatu enantiomer 3' thiacytidine yang
merupakan analog nukleosida dengan aktivitas antiviral yang
poten terhadap VHB. Lamivudin menghambat sintesis DNA
dengan cara mengganggu kerja enzim reverse transcriptase
sehingga selain menghentikan replikasi dan membunuh virus
dengan jalan menghambat metabolisme, juga mencegah terben-
tuknya pregenom baru yang dapat menginfeksi hepatosit sehat.
Preparat ini tidak mempengaruhi mitokondria sel, sehingga
toksisitasnya paling rendah di antara analog nukleosida lain.
Lamivudin diabsorbsi secara baik di usus serta diekskresikan
sebagian besar melalui ginjal; oleh karena itu perlu penyesuai-
an dosis pada kasus dengan bersihan kreatinin < 50 ml/menit,
sedangkan sirosis hati dengan dekom pensasi tidak mem-
butuhkan penyesuaian dosis.
1-3,6,15
Core Working Party
11
menganjurkan pemberian lamivudin
oral 100 mg sekali sehari selama 12 bulan. Angka serokonversi
mencapai 65% dengan perbaikan histologi hati yang nyata jika
diberikan pada pasien dengan kadar aminotransferase > 5 kali
nilai normal, dan angka sustained viral response 72%. Pada
aminotransferase 2-5 kali nilai normal serokonversi hanya
25%; namun jika diperpanjang sampai 3 tahun, maka serokon-
versinya mencapai 65%.
11,15,16
Indikasi pemberian lamivudin adalah HVB kronik fase
replikasi aktif yang ditandai dengan terdeteksinya HBeAg dan
DNA HVB, kadar aminotransferase > 2 kali nilai normal,
biopsi hati menunjukkan nekroinflamasi, gagal dengan peng-
obatan IFN
, pasien immunocompromised, precore mutant,
sirosis hati dekompensasi atau pasca transplantasi hati. Kontra-
indikasinya tidak ada, hanya perlu hati-hati terhadap mutan
YMDD pada pemberian lamivudin jangka panjang (>3
tahun).
6,11,15,17
Hasil penelitian lamivudin menunjukkan, bahwa dosis
yang sama mampu menekan replikasi VHB pada pasien
immunocompromised dan pasien HVB kronik strain precore
mutant dengan sustained viral response 60%; sedangkan IFN
tidak.
15,17,18,
Pemberian lamivudin pada pasien dekompensasi
hati menghasilkan perbaikan yang nyata secara klinis, serologi
maupun histologi dengan sustained viral response mencapai
40% sehingga dapat menunda kebutuhan transplantasi.
7,19-21
Selain itu, lamivudin juga dipakai sebagai obat yang diberikan
sebelum dan setelah transplantasi hati, karena mampu
menurunkan angka reinfeksi pada hati yang dicangkok-
kan.
11,19,21
Pada kasus mutasi YMDD, dianjurkan lamivudin
terus diberikan karena ternyata masih mampu menekan repli-
kasi semua VHB wildtype dan sebagian virus yang mengalami
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003
30
background image
YMDD. Hal ini ditunjukkan dengan didapatkannya perbaikan
klinis, kadar aminotransferase, serologi dan histologi pasien-
pasien mutasi YMDD yang terus mendapat lamivu-
din.
11,15,17,22,23
Keberhasilan lamivudin dinilai dengan memeriksa kadar
aminotransferase, HBs Ag, HBe Ag, anti HBe setiap 4 minggu
dan DNA HVB setiap 3 bulan selama pengobatan serta 6 bulan
setelah pengobatan selesai.
5,6,11,15
Efek samping lamivudin sangat minimal, banyak peneliti
tidak mendapatkannya;berupa rasa lelah, sakit kepala ringan,
mulut kering, mual, kembung, sendi ngilu dan kadang-kadang
diare.
5,6,11,15
Lobukavir
Lobukavir merupakan analog guanosin yang mampu
menekan replikasi VHB secara bermakna dengan dosis 200 mg
sekali sehari selama 12 minggu. Angka sustained viral
response mencapai 60% dengan efek samping ringan, seperti
anoreksia, pusing atau nyeri perut. Namun penelitian klinis saat
ini dihentikan karena ditemukannya kejadian keganasan pada
semua tikus percobaan yang diberi lobukavir jangka pan-
jang.
4,5,11
Famsiklovir
Famsiklovir merupakan analog asiklik guanin yang meng-
hambat polimerisasi DNA HVB. Pada penelitian pendahuluan,
famsiklovir 500 mg 3 kali sehari selama 12 minggu mampu
menekan replikasi VHB; namun efektivitas dan efikasinya
lebih rendah dibandingkan dengan lamivudin, sehingga kurang
menarik untuk diteliti lebih lanjut dibandingkan dengan analog
nukleosida yang lain.
4,5,11
Adefovir
Adefovir dipivoksil adalah analog adenosin yang dapat
menekan replikasi DNA VHB dengan sustained viral response
70% pada pemberian 30 mg sekali sehari selama 24 minggu.
Preparat ini mudah diabsorbsi dengan efek samping ringan
seperti mual, nyeri kepala, pusing, nyeri perut atau diare. Tidak
didapatkan mutasi virus selama penelitian klinis; bahkan VHB
yang resisten terhadap lamivudin maupun famsiklovir dapat
dieliminasi dengan adefovir. Saat ini sedang dilakukan peneliti-
an secara intensif berskala besar terhadap adefovir di-
pivoksil.
4,5,11
Kortikosteroid
Kortikosteroid dapat digunakan pada peningkatan kadar
aminotransferase < 2 kali nilai normal.Pada penelitian, priming
prednisolon sebelum pemberian IFN
menunjukkan angka
serokonversi 36%. Dosis prednisolon dimulai 60 mg/hari,
diturunkan 20 mg tiap 2 minggu; kemudian IFN
diberikan
setelah 2 minggu pasien bebas prednisolon.
24,25
Imunomodulator
Beberapa imunomodulator seperti interleukin-2, inter-
leukin-12, levamisol, vaksinasi DNA dan vaksinasi pre S/S
sedang dalam penelitian pendahuluan untuk pengobatan HVB
kronik. Vaksinasi pre S/S 20
µg intramuskuler sekali sebulan
selama 3 bulan berturut-turut memberikan sustained viral
response 20%. Thymosin
1 telah menunjukkan efikasinya
dalam beberapa penelitian pendahuluan sebagai imunomudu-
lator yang mampu meningkatkan respon Th1. Sustained viral
response yang diperoleh dengan dosis 1,6 mg 2 kali seminggu
selama 6 bulan mencapai 40%.
1-4,11,26
Obat Tradisional
Obat tradisional/obat Cina tradisional dari daun dan tum-
buhan (schizadrine, curcuma, ginseng, dll.) dikatakan memiliki
efek antiviral, imunomodulator dan hepato- protektor, namun
perlu penelitian lebih lanjut untuk direkomendasikan.
11
Kombinasi
Farmakoterapi kombinasi akan menjadi pilihan utama
pada pengelolaan HVB kronik di masa depan. Kombinasi yang
rasional terdiri dari preparat antiviral analog nukleosida yang
mampu menekan kepadatan virus, imunomodulator dan imuni-
sasi yang dapat merangsang respon sel Th serta limfosit T
sitotoksik untuk mengeliminasi sisa-sisa virus intraseluler.
3-5,11
Pada penelitian multisenter di Amerika dan Eropa,kombinasi
IFN
dengan lamivudin tidak memperlihatkan keunggulan
pada kasus baru, kambuh dan gagal INF
.
4,5,11,27
Dua penelitian
yang dilakukan dengan priming lamivudin 8 minggu, kemudian
diteruskan dengan penambahan IFN
selama 4-6 bulan me-
nunjukkan serokonversi 29% lebih tinggi dibandingkan hanya
dengan pemberian IFN
atau lamivudin tunggal. Namun,
penelitian lebih lanjut masih diperlukan sebelum merekomen-
dasikannya.
27
FARMAKOTERAPI HVC KRONIK
Konsep farmakoterapi HVC kronik sekarang adalah sedini
dan seagresif mungkin serta kombinasi sehingga tak ada
kesempatan untuk mutasi; mengingat monoterapi IFN standar
selama ini tidak memuaskan. Terapi diberikan pada fase aktif
yang ditandai dengan peningkatan aminotransferase dan atau
tanda inflamasi pada biopsi hati.
8,9,12,28,29
Interferon
Pemakaian IFN
pada HVC kronik untuk menurunkan
produksi virion, induksi anti virus pada sel hati yang belum
terinfeksi, meningkatkan respon imun dengan cara mengaktif-
kan makrofag, sel natural killer, dan sel T sitotoksik, mening-
katkan sintesis sitokin dan merangsang ekspresi Human
Leukocyte Antigen kelas I pada permukaan membran hepatosit.
Monoterapi IFN
ditujukan pada terapi induksi HVC kronik
fase aktif dan kasus dengan kontraindikasi ribavirin. Kontra-
indikasi pemberian IFN
sama seperti yang dibahas pada
farmakoterapi HVB kronik dengan IFN
.
9,12,30
Terapi induksi HVC kronis membutuhkan IFN
dosis
tinggi untuk menurunkan kepadatan VHC secara efektif. Pe-
nelitian Lam dkk.
31
menyimpulkan, bahwa pemberian IFN
10
juta unit subkutan setiap hari selama 14 hari dan dilanjutkan
dengan dosis 3 juta unit 3 kali seminggu selama 12 bulan dapat
menurunkan kadar RNA VHC sampai 97,4%. Core Working
Party
11
dan European Association of Study for the Liver
30
menganjurkan pemberian IFN
5 juta unit setiap hari selama
4-6 minggu pertama sebagai terapi induksi, kemudian dilanjut-
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003 31
background image
kan dengan dosis 3 juta unit 3 kali seminggu selama 12 bulan
dengan atau tanpa ribavirin (terutama untuk genotip 1 dan 4).
Monoterapi IFN
untuk kasus dengan kontraindikasi
ribavirin, diberikan dengan dosis 5-10 juta unit 3 kali seminggu
selama 6-12 bulan, atau 3 juta unit 3 kali seminggu selama 12-
24 bulan, atau 3-5 juta unit setiap hari sampai RNA VHC
negatif dilanjutkan dengan 3 juta unit 3 kali seminggu selama
6-12 bulan.
8,12,28-30
Pilihan lain adalah pegylated IFN
yang
merupakan produk baru IFN
dengan masa paruh panjang (40
jam), sehingga dapat menekan replikasi VHC terus-menerus.
Preparat ini diberikan 180
µg setiap minggu subkutan selama
12 bulan, namun masih dalam penelitian untuk direkomen-
dasikan sebagai farmakoterapi HVC kronik. Penelitian yang
telah selesai menunjukkan sustained viral response-nya 45%,
jauh lebih baik dibandingkan dengan IFN
biasa.
11,30,32,33
Keberhasilan pengobatan IFN
dievaluasi dengan
pemeriksaan kadar aminotrans ferase dan RNA VHC yang
dilakukan pada bulan ke-3.Jika hasil aminotransferase normal
atau RNA VHC negatif, pengobatan diteruskan sampai 12
bulan; sebaliknya bila amino- transferase tetap dan RNA VHC
masih positif, sebaiknya pengobatan dihentikan atau diubah
karena kemungkinan terjadinya sustained viral response sangat
rendah.
9,12,28-30
Ribavirin
Ribavirin adalah analog guanosin yang menggangu sintesis
RNA, sehingga pembentukan RNA dan replikasi VHC
terhambat. Obat ini mampu menurunkan kadar aminotrans-
ferase tetapi daya antiviralnya sangat rendah, sehingga tidak
dianjurkan sebagai monoterapi HVC kronik. Indikasi ribavirin
adalah HVC kronik dan harus dikombinasikan dengan IFN
;
sedangkan kontraindikasinya meliputi gagal ginjal, anemia,
kehamilan, penyakit kardiovaskular tak terkontrol, hipertensi
tak terkontrol, atau usia > 60 tahun. Dosis ribavirin sesuai
dengan berat badan; untuk berat badan > 75 kg - 1.200 mg se-
hari, 55-75 kg - 1.000 mg sehari dan < 55 kg - 800 mg sehari
secara oral. Efek samping yang sering timbul adalah hemolisis,
dispepsia, insomnia dan nyeri kepala.
28,29,34
Kortikosteroid
Kortikosteroid sudah dibuktikan dalam beberapa penelitian
tidak berguna dalam pengelolaan HVC kronik.
28,29,35
Obat Tradisional
Obat tradisional/obat Cina tradisional dari daun dan tum-
buhan (schizandrin, curcuma, ginseng, dll.) dikatakan memiliki
efek antiviral, imunomodulator dan hepato- protektor, namun
perlu penelitian lanjut untuk direkomendasikan.
28-30
Kombinasi
Sejak tahun 1999, farmakoterapi rasional HVC kronik
mengalami perubahan yang cukup mendasar.
28,29
Core Working
Party
11
dan European Association of Study for the Liver
30
menganjurkan kombinasi IFN
dan ribavirin sebagai pilihan
pertama pengobatan HVC kronik.Tidak seperti sebelumnya,
dimana IFN
dipakai sebagai monoterapi dan bila tidak ada
respon, baru dikombinasi dengan ribavirin. Latar belakang
pemilihan kombinasi adalah sifat VHC yang sangat mudah
mengadakan mutasi, sehingga sistem imun tubuh tak mampu
mengikutinya dan akibatnya pada suatu saat seorang pasien
HVC kronik dapat mengandung berbagai macam genom VHC
yang berbeda. Fenomena ini disebut quasi-species. Farmako-
terapi kombinasi terbukti meningkatkan angka sustained
viral response. Pada kasus baru, sustained viral response men-
capai sekitar 40%, 2 kali lebih tinggi dibandingkan monoterapi
IFN
. Pada kasus kambuh dengan IFN , 38% di antaranya
mencapai sustained viral response setelah diberi kombinasi
dengan ribavirin. Sedangkan kasus-kasus non responsif
(genotip 1 dan 4), angka sustained viral response nya hanya
28%.
36-38
Penelitian dengan memperpanjang masa pengobatan
sampai 48 minggu pada genotip 1 dan 4 (non responsif)
memberikan angka sustained viral response 2 kali lebih tinggi
sedangkan pada genotip 2 dan 3 (responsif) tidak didapatkan
peningkatan yang bermakna jika dibandingkan dengan peng-
obatan selama 24 minggu.
37
Indikasi farmakoterapi kombinasi IFN
dan ribavirin
adalah HVC kronik dengan peningkatan kadar aminotrans-
ferase, sirosis hati terkompensasi, dan atau ditemukannya
gambaran hepatitis kronik pada biopsi hati; baik pada kasus
baru, kambuhan maupun non responsif. Kontraindikasinya
meliputi terdapat / riwayat gangguan psikiatri,depresi berat,
kehamilan, serangan kejang, diabetes melitus / hipertensi /
penyakit kardiovaskuler yang tak terkontrol, penyakit otoimun,
sirosis hati dekompensasi, usia > 60 tahun, gagal ginjal,
hemoglobin < 12 g/dl, lekosit < 1.500/mm
3
dan trombosit <
100.000/mm
3
.
12,28-31
Dosis kombinasi yang dianjurkan yaitu, IFN
3 juta unit
3 kali seminggu subkutan, ribavirin 800-1.200 mg sehari per
oral dengan lama pengobatan tergantung genotipnya. Genotip 1
(dengan jumlah virus < 2 juta/ml), 2 dan 3 selama 6 bulan;
sedang kan genotip 1 dengan jumlah virus > 2 juta/ml dan
genotip 4 selama 12 bulan.
9,12,28-30
Perkembangan farmakoterapi HVC kronik masa depan
bertumpu pada farmakoterapi kombinasi.
9,12,28,29
Pegylated IFN
180 µg sekali seminggu (subkutan) menjanjikan sustained
viral response yang cukup tinggi (70%) pada pasien baru, jika
dikombinasi dengan ribavirin selama 12 bulan.
32,33
Beberapa
preparat yang sedang dalam penelitian adalah penghambat
protease, helikase, polimerase RNA serta penghambat replikasi
virus seperti penghambat sistem retikuloendotelial virus, anti-
sense oligonucleotide dan ribozim (suatu enzim penghancur
molekul virus RNA).
9,12,28-30
FARMAKOTERAPI HVD KRONIK
Pada penelitian VHD memiliki respon terhadap IFN
lebih rendah dibandingkan VHB. Meskipun IFN
diberikan 5
juta unit setiap hari atau 10 juta unit 3 kali seminggu selama
minimal 12 bulan, angka kekambuhannya masih cukup tinggi
setelah IFN
dihentikan. Mengingat keberadaan virus ini
selalu bersamaan dengan VHB maka IFN
yang diberikan
selain menghambat replikasi VHB juga VHD. Belum ada anti-
viral lain sebagai farmakoterapi rasional untuk HVD sampai
saat ini.
3,5,11
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003
32
background image
FARMAKOTERAPI HVG KRONIK
Pemberian IFN
sebesar 5 juta unit setiap hari atau 10
juta unit 3 kali seminggu selama minimal 6 bulan mampu
menekan replikasi VHG, namun hampir semua kasus meng-
alami kekambuhan setelah IFN
dihentikan. Mengingat se-
dikitnya hasil penelitian yang ada saat ini serta sedang ber-
langsungnya beberapa penelitian tentang HVG, maka reko-
mendasi farmakoterapi yang rasional untuk HVG belum
dikeluarkan.
3,5,10,11
KEPUSTAKAAN
1. Dienstag JL, Isselbacher KJ. Chronic hepatitis. In Braunwald E, Fauci
AS, Kasner DL, et al (eds). Harrison's Principles of Internal Medi-
cine. 15
th
ed. McGraw Hill, New York 2001, pp 1742-52.
2. DiBisceglie AM, Hoofnagle JH. Management of chronic viral
hepatitis. In Bacon BR, DiBisceglie AM (Eds). Liver Disease Diagnosis
and Management. Churchill Li vingstone, Philadelphia 2000, pp 98-106.
3. Nurjanah .Therapy for chronic viral hepatitis.J Gastroenterol Hepatol
2001;2:28-35.
4. Guan R, Merican I, Amarapukar D, et al. Chronic hepatitis B infection :
manage ment practices in Asia. Med Progress 2001; 28 : 25-9.
5. Malik AH, Lee WM. Chronic hepatitis B virus infection : treatment
stategies for the next millennium. Ann Intern Med 2000; 132 : 723-31.
6. Sulaiman A. Petunjuk praktis penggunaan lamivudin pada infeksi
hepatitis B. Dalam Setiati S, Bawazier LA, Atmakusuma D, dkk. (eds).
Current Treatment in Internal Medicine. Pusat Informasi dan Penerbit-
an, Jakarta 2000, hal 63-6.
7. Lesmana LA. Terapi lamivudin pada sirosis hati dekompensasi yang
disebabkan hepatitis B. Dalam Setiati S, Bawazier LA, Atmakusuma D,
dkk.(eds). Current Treatment in Internal Medicine. Pusat Informasi dan
Penerbitan, Jakarta 2000, hal 67-70.
8. Sulaiman A. Terapi standar mutakhir hepatitis C kronik. Dalam Setiati
S, Bawazier LA, Atmakusuma D, dkk. (eds). Current Treatment in
Internal Medicine. Pusat Informasi dan Penerbitan, Jakarta 2000, hal 47-
52.
9. Lesmana LA. A change of strategy in the therapy of chronic hepatitis
C. Acta Med Indonesiana 2001; 33 : 35-9.
10. Widjaja S. Perkembangan mutakhir virus hepatitis G. Maj Ked Indon
2000; 47 : 440-4.
11. Core Working Party. Consensus statements on the prevention and
management of hepatitis B and hepatitis C in the Asia-Pasific region. J
Gastroenterol Hepatol 2000 ; 15 : 825-41.
12. Setiawan PB. Up date on hepatitis C : focus on new treatment strategy.
Dalam Tjokropraworo A, Pranawa, Yogiantoro M, Setiawan PB, Adi S
(eds). Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan XVI. Penerbit FK Unair,
Surabaya 2001, hal 171-88.
13. Papatheodoridis GV, Manesis E, Hadziyannis SJ. The long-term
outcome of interferon
treated and untreated patients with HBe Ag
negative chronic hepatitis B.J Hepatol 2001; 34 : 306-13.
14. Kao JH, Wu NH, Chen PJ, Lai MY, Chen DS. Hepatitis B genotypes
and the respon to interferon therapy. J Hepatol 2001; 34 : 998-1002.
15. Leung N. Lamivudine for chronic hepatitis. Med Progr 2001; 28: 43-8.
16. Santautonio T, Mazzola M, Iacovazzi T, et al. Long term follow-up of
patients with anti HBe/HBV DNA positive chronic hepatitis B treated for
12 months with lamivudine. J Hepatol 2000; 32 : 300-6.
17. Leung N. Long term ( 3 years ) clinical data with lamivudine. In Clinical
Experience with Antiviral in Hepatitis B: Therapeutic Update. Moore
Communication, New York 1999, pp 116-23.
18. Tassopoulos NC, Volpes R, Pastore G, et al. Efficacy of lamivudine in
patients with HBe antigen negative/HBV DNA positive ( precore mutant
) chronic hepatitis B. Hepatol 1999; 29 : 889-96.
19. Villenueve JP, Condreay LD, Willem B, et al. Lamivudine treatment for
decompensated cirrhosis resulting from hepatitis B. Hepatol 2000; 31 :
207-10.
20. Kapoor D, Guptan RC, Wakil SM, et al. Beneficial effects of lamivudine
in hepatitis B virus-related decompensated cirrhosis. J Hepatol 2000; 33 :
308-12.
21. Fontana R, Hann HW, Wright T, et al. Lamivudine treatment for chronic
hepatitis B liver transplant candidates. Gastroenterol 2000;118 : 1226-30.
22. Atkins M, Hunt CM, Brown N. Clinical significance of YMDD mutant
hepatitis B virus in a large cohort of lamivudine treated hepatitis B. J
Hepatol 1999; 28 : 319-25.
23. Tatulli I, Francavilla R, Rizzo G, et al. Lamivudine and
interferon in
combination long term for precore mutant chronic hepatitis B. J Hepatol
2001; 35 : 805-10.
24. Itoh Y, Okanoue T, Sakamoto S. The effects of prednisolone and
interferon on serum MCS-F consentrations in chronic hepatitis B. J
Hepatol 1997; 26 : 244-52.
25. Yeh CT, Sheen IS. Prednisolone modulates the therapeutic effect of IFN
to eliminate preferentially the hepatitis B virus precore stop mutant. J
Hepatol 2000; 32 : 829-36.
26. Pol S, Nalpas B, Driss F, et al. Efficacy and limitation of a specific
immunotherapy in chronic hepatitis B. J Hepatol 2001; 34 : 917-21.
27. Barbaro G, Zechini R, Pellicelli A, et al. Long-term efficacy of IFN and
lamivudin in combination compared to lamivudine monotherapy. J
Hepatol 2001; 35 : 406-11.
28. Davis GL. Treatment of chronic hepatitis C. Br Med J 2001; 323: 1141-2.
29. Agarwal K, Jones DE. Treatment of hepatitis C infection. Br Med J 1999;
139:450-4
30. Rodes J, Sherlock S, Benhamou JP. European association of study
for the liver international consensus conference on hepatitis C. J Hepatol
1999; 30 : 956-61.
31. Lam NP, Gretch DR, Pitrack DL, Leyden T. Dose dependent acute
reduction of genotype 1 hepatitis C virus with
IFN. J Hepatol 1996; 22
: 172-6.
32. Heathreote EJ, Shiffman ML, Cooksley GE, et al. Peginterferon
-2a in
patients with chronic hepatitis C and cirrhosis. N Engl J Med 2000; 343 :
1672-80.
33. Zeuzem S, Feinman SV, Rasenacle J, et al. Peginterferon
-2a in
patients with chronic hepatitis C. N Engl J Med 2000; 343 : 1666-72.
34. Kjaengard LL, Krogsgaard K, Gluud Christian. Interferon
with or
without ribavirin for chronic hepatitis C: review of randomised trials. Br
Med J 2001: 323: 1151-5
35. Guilera M, Forns X, Torras X, et al. Pre-treatment with prednisolone
does not improve the efficacy of subsequent
interferon therapy in
chronic hepatitis C. J Hepatol 2000; 33 : 135-41.
36. Fabrizi F, Locatelli F. Combination of interferon
and ribavirin the
treatment of hepatitis C implications for the clinical. J Hepatol 1999; 32 :
2079-81.
37. Davis GL, Esteban-Mar R, Rustgi V, et al. Interferon
-2b alone or in
combination with ribavirin treatment of relapse of chronic hepatitis C.
N Eng J Med 1999; 339 : 1493-9.
38. Ballobuono A, Mondazzi L, Tempini S, et al. Early addition of ribavirin
to interferon in chronic hepatitis C not responsive to interferon
monotherapy. J Hepatol 2000 ; 33; 463-8.
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003 33