background image
Aktivitas lodium Sebagai Germisida
Sarkoidosis
Drs Usman Suwandi
Pusat Penelitian dan Pengembangan PT Kalbe Farma, Jakarta
PENDAHULUAN
Germisida merupakan substansi yang mampu membunuh
mikroorganisme, sehingga substansi yang bersifat Germisida
harus mempunyai aktivitas anti mikroba. Banyak substansi
yang mempunyai kemampuan antimikroba, salah satu di
antaranya yaitu Iodium. Atas dasar sifat-sifat antimikroba yang
dimilikinya, iodium banyak dipakai untuk berbagai ma-cam
tujuan. Seperti dikatakan oleh Gershenfeld (1968) bahwa
iodium telah digunakan dalam berbagai hal, yaitu :
1.
Antiseptik pada kulit, luka danmukosa permukaan tubuh.
2.
Untuk sterilisasi udara dan benda-benda lain.
3.
Sebagai pencegah dan terapi penyakit yang disebabkan
oleh bakteri; fungi dan virus.
4.
Untuk disinfeksi berbagai pemakaian air seperti air minum
dan air kolam renang.
5.
Untuk sanitasi alat-alat makan dan minum.
Sebagai Antiseptik, Iodium mempunyai peranan dalam
menciptakan kondisi aseptik, hal ini disebabkan oleh aktivi-
tasnya sebagai antimikroba. Iodium merupakan antiseptik yang
diunggulkan, karena sifat-sifat yang dimilikinya. Seperti yang
telah dikemukakan oleh Harvey S.C. (1980), Iodium sebagai
antiseptik merupakan agen yang sangat berharga karena
efektivitasnya, nilai ekonomisnya dan toksisitasnya rendah
terhadap jaringan. Selain itu, larutan yang mengandung elemen
iodium merupakan antiseptik dengan aktivitas antimikroba
berspektrum luas, walaupun aktivitas mereka akan berkurang
dengan adanya substansi lain yang bersifat alkali dan adanya
zat organik
l
.
Aktivitas Iodium pada beberapa kulit cenderung me-
nyebabkan rasa panas dan membakar , apabila penanganannya
kurang hati-hati, akan dapat menyebabkan rasa panas sekali.
Disamping itu iodium berisft iritan terhadap inemb ran yang
halus. Walaupun demikian, beberapa penelitian yang telah
dilakukan dengan teknik biakan, pada kulit dan membran
manusia dan binatang, memperlihatkan bahwa iodium relatif
tidak toksik
2
.
AKTIVITAS IODIUM SEBAGAI ANTI­BAKTERI
Karakteristik yang menyolok dari Iodium sebagai bakteri-
sida antara lain, kurang selektifnya mereka memusnahkan
bakteri yang berbeda, sehingga hampir semua bakteri mati pada
konsentrasi yang hampir sama. Seperti pernah disebutkan oleh
McCulloch (1945), bahwa konsentrasi iodium yang dibutuhkan
sebagai desinfektan tidak terlalu bervariasi terhadap spesies
microorganisme yang berbeda, Ini telah dibuktikan dalam
penelitian Gershenfeld dan Witlin, (1949a), dengan
menggunakan larutan iodium babas 2% (1 ml) mampu memati-
kan secara efektif dalam waktu 1 menit terhadap staphylococ-
cus aureus, Salmonella typhosa, Escherichia coli dan Pseudo-
monas aeruginosa volume 20 ml serta Bacillus mesentericus
volume 10 ml dalam biakan "FDA broth
"
yang berumur 24
jam
3
.
Walaupun banyak senyawa-senyawa yang mempunyai
aktivitas antibakteri, namun hanya beberapa saja yang mem-
punyai aktivitas antibakteri memadai. Iodium merupakan salah
satu antibakteri yang baik, seperti telah dibuktikan oleh
Lebduska dan Pidra (1940), mereka telah memeriksa 128
senyawa untuk mengetahui kemampuan mereka menghambat
pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli yang
diinokulasikan pada plate agar. Hasilnya didapatkan bahwa
iodium, trikhlorofenol dan salisilaldehide mampu menekan
pertumbuhan bakteri dengan sempurna. Sedangkan fenol, O­
kresol, timol, khloralhidrat, hidroksikuinolin dan karvakrol
hanya mampu menghambat sebagian
2
.
AKTIVITAS IODIUM SEBAGAI ANTI­FUNGI
Iodium sebagai antifungi telah ditunjukkan oleh banyak
peneliti. Mereka telah mencoba menggunakan berbagai spesies
fungi untuk menguji efektifitas. Iodium sebagai antifungi. Se-
bagai antifungi, Iodium ternyata efektip terhadap Trichophyton
gypseum, Monflia albicans, Epidermophyton inguinale,
Monilia, Torula dan fungi lainnya. Konsentrasi letal lodium
terhadap setiap spesies sedikit bervariasi. Sebagai contoh kon-
sentrasi iodium yang diperlukan memusnahkan berbagai jenis
fungi yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti dapat dilihat
pada tabel 1.
Atas dasar kemampuannya sebagai antifungi, claim bidang
medis, iodium sering dipakai untuk pengbbatan infeksi
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 31
background image
Tabel 1. Konsentrasi iodium sebagai antifungi
3
.
Konsentrasi
Iodium
Fungi Peneliti
1 :
3000
Trichophytin gypseum
Monilia albicans
Emmons, 1933
1 :
85000
Epidermophyton inguinale
Schamberget, 1931
1 : 715 Monilia
Tortilla
Epidermaphyton
Tricophyton
Comez­vega, 1935
1 :
1430
Saccharomycetes
Gomes­vega, 1935
jamur. Seperti yang dikatakan oleh Harvey S.C., (1980), bahwa
-tincture iodium dapat digunakan untuk pengobatan berbagai
bentuk mycoses superficial cutaneous
4
kering dan larutan
iodium dapat dipakai untuk bentuk basah. Bahkan Vilanova
(1953), lebih spesifik lagi menyebutkan, larutan 1% iodium
dalam alkohol dapat dipakai untuk pengobatan Tinea versicolor
atau Panu
s
.
AKTIVITAS IODIUM SEBAGAI GERMISIDA LAINNYA
Selain dapat membunuh bakteri dan fungi dari berbagai
macam jenis dengan konsentrasi bervariasi, iodium juga mem-
punyai sifat sporasida, virusida, protozoasida dan metazoasida.
Sebagai sporasida iodium termasuk efektip. Bahkan karena
aktivitasnya sebagai sporasida dan bakterisida yang efektip,
iodium pernah dianjurkan sebagai Emergency sterilizing Agent
untuk alat-alat bedah
3
. Banyak bukti aktivitas sporasida telah
ditunjukkan dengan berbagai percobaan. Beberapa peneliti
telah menggunakn beberapa jenis spora dan konsentrasi
iodium yang bervariasi. Untuk melihat aktivitas sporasida
iodium dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Waktu yang diperlukan untuk mem~asnahkan
beberapa spora dengan berbagai konsentrasi Iodium .
Konsentrasi
Iodium
Jenis
Spora
waktu untuk
Mematikan Spora
Peneliti
40 ppm
288 ppm
67 ppm
35 ppm
2%
B. metiens
B. metiens
B. metiens
B. metiens
B. subtilis
B. anthracis
B. mesentericus
B. megatherium
Clostiridum
tetani
2,2 ­ 5 menit
5,1 menit
18 menit
33 menit
90 menit s/d
`lebih 5,5 jam
Wyss & strands-
kov (1945).
Allawala & Rie-
gelman (1953).
Gershenfeld &
Witlin (1949 a).
Sebagai virusida Iodium telah digunakan sebagai pencegah
terhadap virus influenza dan herpes, serta sebagai terapi
terhadap variola (small pox)dan varicela (chicken pox)
3
. Demi-
.
'
kin juga chang dan Morris (1953) telah mengatakan,
beberapa PPM iodium akan mampu menginaktivasi virus polio
myelitis dalam waktu 5­10 menit
2
.
Sebagai protozoasida dan metazoasida, Iodium beserta
devirat dan kombinasinya telah digunakan terhadap amoeba,
trichomonad dan terhadap berbagai jenis cacing seperti
Strongyloides, trichuris dan oxyuris
3
.
CARA BEKERJANYA IODIUM DAN PENGHAMBAT
AKTIVITAS IODIUM
Banyak bukti-bukti yang menunjukkan iodium sebagai anti
mikroba yang efektip. Namun adanya zat-zat tertentu akan
dapat menghambat aktivitas iodium sebagai anti mikroba.
Seperti dikatakanoleh Kojima (1940), adanya zat-zat organik
dan anorganik tertentu akan menetralisir efek iodium. Senyawa
organik penetralisir efek iodium antara lain : serum, gliserin,
syrup, feses, telur, susu, urine, dahak dan sebagainya, sedang
substansi anorganik penetralisir efek iodium antara lain sodium
tiosulfat, logam merkuri dan ammonia. Selain zatzat tersebut,
keefektifan iodium juga dapat berubah dengan adanya protein
atau zat-zat organik yang lain
3
.
Dengan adanya zat organik, iodium berikatan secara
kovalen, tetapi kebanyakan berikatan tidak kuat
,
sehingga
iodium dapat dilepaskan denan lambat. Oleh karena itu
efektifitasnya sedikit berkurang .
Cara bekerjanya Iodium membunuh bakteri belum dapat
diketahui dengan pasti. Namun demikian, McCulloch (1932)
percaya, iodium tnemusnahkan mikroorganisme dengan cara
membentuk garam dengan protein melalui halogenasi langsung.
Sedangkan Sollman (1948)mengatakan,elemen iodium akan
mempresipitasi protein sebagian iodium akan diabsorpsi,
sebagian iodium berikatan tidak kuat dan sebagian akan di-
ubah menjadi ion-ion iodida. Karena ia berikatan tidak kuat, ia
akan terus menetrasi sehingga aktivitasnya meluas ke dalam
3
.
PENGGUNAAN IODIUM SEBAGAI ANTIMIKROBA
Sebagai antiseptit kulit
Penggunaan iodium sebagai antiseptik kulit, merupakan
salah satu pemanfaatan sifat antimikroba yang dimilikinya.
Sebagai antiseptik kulit, sediaan iodium digunakan untuk
mendukung . keadaan aseptik yang dikehendaki, seperti di-
katakan oleh Walter (1948). Sediaan tincture atau larutan
iodium merupakan antipseptik yang ideal dan aman untuk
keperluan disenfeksi kulit sebelum pengambilan darah untuk
transfusi atau tujuan penelitian
3
.
Selain itu larutan iodium 0,1% atau 0,05% telah digunakan
secara efektip sebagai antiseptik mouthwashes, gargling the
throat, Vaginal douch dan pencuci daerah badan lainnya.
Bahkan tincture atau larutan iodium juga dapat dipakai pada
waktu akan memberikan obat secara ' parenteral terutama
intravena, intrateka dan intramuscular
3
.
Pemakaian tunggal iodium 2% dalam alkohol 70% sebagai
disinfeksi kulit dapat dicapai dalam 15 - 20 detik. Bahkan
iodium 0,5% dalam air atau alkohol yang dipakai untuk meng-
usap kulit (swabbing) dan dibiarkan sampai kering, ternyata
masih bersifat lethal terhadap staphilococcus aureus setelah 2
jam
2
Iodium tersedia dalam berbagai macam bentuk. Di antara
bentuk-bentuk sediaan Iodium, tingtur alkohol merupakan
sediaan yang paling baik, seperti disebutkan oleh Harvey S.C.
(1980)
s
bahwa iodium dalam bentuk tingtur dengan vehicle
alkohol adalah sediaan yang paling baik, ini disebabkan sifat
penetrasi dan penyebarannya. Sebagai contoh sediaan yang
digunakan untuk menangani infeksi kutan (kulit) yang di-
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992
32
background image
sebabkan oleh bakteri dan fungi dapat digunakan larutan
iodium atau tinctur iodium USP.
Potensi iodium sebagai anti mikroba selain tergantung
pada bentuk sediaannya, juga tergantung pada konsentrasinya.
Pada kulit, tingtur iodium 1% akan membunuh 90% bakteri
dalam waktu 90 detik, sedang larutan iodium 5% akan
membunuh dalam waktu 60 detik dan untuk tincture iodium
7% dalam waktu 15 detik
4
.
Iodium sebagai disinfeksi air dan alat-alat lain
Sebagai desinfeksi air, Chang & Morris (1953)
2
meng-
anjurkan kandungan Iodium 8 ppm, karena dalam waktu 10
menit sudah mampu membunuh patogen water-borne,
termasuk amuba dan virus pada temperatur normal. Kemam-
puan iodium sebagai disenfeksi air, telah dimanfaatkan untuk
disinfeksi kolam renang. Penelitian yang pernah dilakukan
Campbell et. al. (1961) melaporkan iritasi mata menjadi
berkurang dari 80,2% pada air yang diklorinasi menjadi 23,4%
pada air yang diiodinasi. Selain itu dari penelitian Favero &
Drake (1964) mengatakan, iodium kelihatan lebih efektip dari
pada klorin terhadap indikator standar bakteri fekal, Coliform,
Enterococci dan Staphylococi
3
.
Sebagai disinfeksi air minum, iodium dapat digunakan
untuk membuat air minum menjadi aman untuk diminum,
seperti yang dikatakan oleh Harvey (1980), dengan menambah
3 tetes tingtur iodium per quart air, sudah mampu membunuh
amuba dan bakteri dalam 15 menit, tanpa menyebabkan air
menjadi tidak enak"
4
Untuk peralatan tertentu, terutama alat-alat yang di-
pengaruhi oleh panas; iodium pernah dianjurkan sebagai
emergency sterilizing agent, karena efisiensi dan kecepatan
bakterisidanya. Untuk sterilisasi dingin termometer klinis
Gershetife'ld (1968) menyebutkan, tingtur iodium USP XIV
atau larutan iodium NF IX ternyata lebih efektip dari pada etil
alkohol atau isopropil alkohol
4
.
PENUTUP
Sebagai Germisida, iodium telah terbukti efektip sebagai
bakterisida, fungisida, sporasida, virusida, protozoasida dan
metazoasida.
Iodium sebagai antimikroba memang dapat diandalkan dan
telah banyak dibuktikan dalam berbagai penelitian. Ke-
mamptian tersebut telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai
tujuan, di antaranya untuk pencegahan atau terapi berbagai
infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri dan fungi. Bahkan
dengan memanfaatkan sifat Fungisidanya, tingtur iodium telah
digunakan untuk pengobatan infeksi jamur superfisial seperti
panu' atau tinea versikolor.
Larutan iodium lemah sering digunakan untuk petolongan
pertama luka-luka kecil atau lecet, namun bekerjanya akan
cepat diinaktifkan oleh substansi-substansi jaringan.
Pada saat ini, banyak sediaan yang mengandung iodium,
derivat atau kombinasinya secara resmi dicantumkan dalam
monograp berbagai farmakope. Sediaan tersebut biasanya
bertujuan sebagai antibakteri, antifungi, antiseptik ekstern dam
sebagainya
6
.
Efek toksik iodium relatif rendah. Karena iodium mem-
punyai sifat korosif, maka efek toksik tersebut sebagian besar
mungkin disebabkan kegiatan lokal elemen-elemen dalam
saluran pencernaan
2
. Kebanyakan iodium bila diberikan pada
kulit, akan menimbulkan rasa panas, apalagi pemakaian tingtur
Iodium pada permukaan yang lecet, akan menimbulkan rasa
sangat lnenyengat.
KEPUSTAKAAN
1.
AMA Division Of Drugs, Dermatologic preparations dalam : AMA drug
Evaluation 5 th. ed. Philadelphia WB Saunders Company, 1983 : 1385 ­
1386.
2.
Sykes G. Disinfection and Sterilization. London , D. Van Nostrand
Company, Inc. 1958. 325 ­ 333.
3.
Gershenfeld L. Iodine dalam Disinfection, sterilization and Preservation.
Editors Lawrence CA and SS Block. Philadelphia : Lea & Febiger 1968 :
529 ­ 343.
4.
Harvey
*
SC. Antiseptics and Disinfectans Fungicides . Ectoparasiticides
dalam The Pharmacological Basic of Therapeutics 6 th. ed. editor : Gilman
AG et. at. New York . Memillian Publishing Co. Inc. 1980. 964 ­ 987.
5.
Vilanova X and Cardenal C. Tinea versicolor dalam Handbook of Tropical
Dermatology and medical Mycology vol II. editor : RDG. Simons.,
Elsevier Publishing Company 1953
.
1103 ­ 1112.
6.
Farmakope Indonesia 3 ed., Departemen Kesehatan Republik Indonesia
1979.
7.
DEPARTMEN OF PHARMACEUTICAL SCIENCES Iodine dalam
Martindale Extra Pharmacopoeia 28 th. ed., Editor : Reynolds, JEF The
Pharmaceutical Press. 1982: 862 ­ 863.
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 33