background image
Hipoglikemia Pada Anak
Nurdin Badollah, Satriono
Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin/RSU Ujungpandang, Ujungpandang
PENDAHULUAN
Hipoglikemia (H) ialah suatu penurunan abnormal kadar
gula darah. Definisi H pada anak.belum bisa ditetapkan dengan
pasti, namun berdasarkan . pendapat dari beberapa sarjana
dapat dikemukakan angka-angka seperti terlihat pada tabel
1
1-4
Tabel 1. Nilai kadar glukose darah/plasma atau serum untuk diagnosis
H pada berbagai kelompok umur anak
Glokuse <mg/dl
Kelompok umur
Darah Plasma/serum
Bayi/anak
Neonatus
* BBLR/KMK
* BCB
0
­
3
hr
3 hr
<40 mg/100 ml
<20 mg/100 ml
<30 mg/100 ml
<40 mg/100 ml
<45 mg/100 ml
<25 mg/100 ml
<35 mg/100 ml
<45 mg/100 ml
H masih merupakan masalah pada bayi/anak. Gejala
klinik, patofisiologik dan akibat lanjut akut maupun kronllk H,
erat kaitannya dengan kelompok usia tertentu dan tahap
perkembangannya. Berbagai sindrom hipoglikemik ada
kecenderungan terdapat pada umur-umur khusus (Gambar 1).
H bisa berdiri sendiri atau dapat disertai oleh kelainan
endokrin misalnya diabetes melitus
4
. Sebab itu penanganannya
harus disesuaikan dengan penyakit yang mendasarinya.
Makalah ini membahas secara singkat berbagai aspek
hipoglikemia.
INSIDENSI
Frekuensi H pada bayi/anak belum diketahui pasti. Di
Amerika dilaporkan sekitar 14000 bayi menderita H. Gutber-
let dan Cornblath melaporkan frekuensi H 4,4 per 1000 ke-
lahiran hidup dan 15,5 per 1000 BBI:R
1
. Hanya 200 ­ 240
penderita H persisten maupun intermitten setiap tahunnya yang
masuk rumah sakit
2
. Angka ini berdasarkan observasi bahwa
penderita H berjumlah 2 ­ 3 per 1000 anak yang masuk rumah
sakit
1,2
, sedangkan anak yang dirawat berjumlah 80.000
pertahun
2
.
Gambar 1.
Frekuensi sindrom H pada berbagai golongan umur anak
(dikutip dari 2).
ETIOLOGI
H dapat disebabkan oleh berbagai kelainan mekanisme
kontrol pada metabolisme glukose, antara lain : inborn erors
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 27
background image
of metabolism, perubahan keseimbangan endokrin dan penga-
ruh obat-obatan maupun toksin
4
.
Penyebab-penyebab H dapat dilihat pada tabel II
4
:
Tabel II. Penyebab hipoglikemia pada anak
A. Hiperinsulinisme
1.
Tumor
sel
beta
2.
Adenomatosis
sel
beta
3.
Nesidioblastosis
4.
Hiperplasia
sel
beta
a.
Dalam
hubungannya
dengan
hipopituitarisme
b.
Bayi
dari
ibu
diabetes
melitus
c.
Bayi
yang
menderita
eritroblastosis
fetalis
d.
Beckwith
syndrome
e.
Leprechaunism
f.
Kausa
tidak
dilcetahui
5.
Teratoma
yang
mengandung
jaringan
pankreas
6. Defek fungsi sekretori sel beta
B. Defisiensi enzim hati
1.
Glukose
6 fosfatase
2. Amilo 1 - 6 glukosidase
3.
Sistem
fosforilase
4. Sintetase untuk glikogen
5.
Fruktose
1
fosfat
aldolase
6. Fruktose 1 - 6 difosfatase
7.
Piruvat
karboksilase
8.
Defisiensi
fosfoenolpiruvat
karboksikinase
9. Galaktose 1 fosfat uridil transferase
10. Branched chain amino acid abnormalities
C. Defisiensi
endokrin
1.
Kelenjar
hipofise
a.
Defisiensi
hormon
pertumbuhan
(GH)
b. Defisiensi ACTH
c.
Panhipopituitarisme
­ hipoinsulinisme
­ hiperinsulinisme
2.
Kelenjar
adrenalin
a.
Penyakit
Addison
b.
Hipoplasia
adrenal
bawaan
c.
Hiperplasia
adrenal
bawaan
d.
Defisiensi
familial
glukokortikoid
e.
Adrenal
medullary
unresponsiveness
3.
Defisiensi
glukagon
D. Hipoglikemia
ketosis
E. Obat dan toksin
1.
Etil
alkohol
2.
Salisilat
3.
Sulfonilurea
4.
Propanolol
5.
Jamaican
vomiting
sickness
F. Lain-lain
1.
Kerusakan
hati
a. Reye syndrome
b.
Leukemia
2.
Malabsorpsi
3.
Renal
glucosuria
4.
Malnutrisi
­
kwashiorkor
­
diet
rendah
fenilalanin
5.
Neoplasma
di
luar
pankreas
Hipoglikemia pada neonatus bisa disebabkan oleh penyebab-
penyebab di atas, namun bila H neonatus tadi berulang/me-
netap, dapat dipikirkan penyebab seperti yang terlihat pada
tabel III
2
:
Tabel III. Penyebab H berulang atau menetap pada neonatus
A. Hormone Excess-hyperinsulinism
1.
Exomphalos, macroglossia, gigantism syndrome of Beckwith
Wiedemann
2.
"Infant
giants"
3. Kelainan patologik sel beta :
a.
Adenoma
b.
Nesidioblastosis
c. Hiperplasia
d. Leucine or other amino acid sensitivity
B. Defisiensi
hormonal
Aplasia atau hipoplasia kelenjar hipofise dengan defisiensi hormon
multipel
C. Defek metabolisme karbohidrat heriditer
1.
Glycogen
storage
disease,
Type
I
2.
Intolerans
fruktose
3.
Galaktosemia
4.
Defisiensi
sintetase
glikogen
5. Defisiensi fruktose 1 - 6 difosfatase
D. Defek metabolisms asam amino herediter
1.
Maple
syrup
urine
disease
2.
Asidemia
metilmalonik
3.
Asidemia
propionik
4.
Tirosinosis
Hipoglikemia neonatus dapat disebabkan oleh penyakit/
kelainan penyerta, seperti yang terlihat pada Tabel IV
2
:
Tabel IV. Penyakit/kelainan penyerta yang bisa menyebabkan H
1.
Patologik susunan saraf pusat (defek bawaan, infeksi intra uterin
2.
atau perinatal, perdarahan atau kernikterus)
3.
Sepsis
4.
Hydrops fetalis
5.
Kelainan jantung bawaan
6.
Asfiksia
7.
Anoksia
8.
Perdarahan kelenjar adrenalin
9.
Hipotiroidismc
10.
Kelainan bawaan multipel
11.
Tetanus neonatorum
12.
Cold injury
13.
Pasca transfusi tukar
14.
Obat-obat yang diberikan kepada ibu
15.
Penghentian tiba-tiba pemberian glukose hipertonik parenteral.
MANIFESTASI KLINIK
Neonatus
H simtomatik pada neonatus cenderung terjadi selama 6-12
jam kehidupan. Sering menyertai penyakit-penyakit seperti :
distress perinatal, terlambat pemberian minum dan bayi dari
ibu DM. Tidak ada perbedaan dalam hal jenis kelamin. Juga
termasuk dalam golongan ini ialah bayi dari ibu DM insulin
dependen (IDM) dan ibu menderita DM kehamilan (IGDM).
Meskipun sebanyak 50% dari IDM dan 25% IGDM mempunyai
kadar glukose < 30 mg/dl selama 2-6 jam kehidupan, ke-
banyakan tidak memperlihatkan akibat-akibat dari hipogli-
kemianya. Umumnya sembuh spontan, tetapi sebagian kecil
(10-20%) kadar gula tetap rendah. Beberapa di antaranya
menunjukkan respons yang balk terhadap suntikan glukagon
300 mikro gram atau 0,3 mg/kgBB im, tidak lebih 1 mg total-
nya
2
.
H neonatus simtomatik gejalanya tidak khas, misalnya :
apati, anoreksia, hipotoni, apnu, sianosis, pernapasan tidak
teratur, kesadaran menurun, tremor, kejang tonik/klonik,
menangis tidak normal dan cengeng. Kebanyakan gejala per-
tama timbul sesudah 24-28 jam kehidupan
2,3,4
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
28
background image
Bayi/anak
Gejala-gejala dapat berupa: sakit kepala, nausea, cemas,
lapar, gerakan motorik tidak terkoordinasi, pucat, penglihatan
b'erkunang-kunang, ketidakpedulian, cengeng, ataksia,
strabismus, kejang,
,
malas/lemah, tidak ada perhatian dan
gangguan tingkah laku
2
'
4
. H bisa disertai atau tidak dengan
banyak keringat dan takhikardi. Serangan ulang gejala-gejala
tadi dapat terjadi pada waktu-waktu tertentu setiap hari, se-
hingga kita harus waspada terhadap kemungkinan hipogli-
kemia. Pemeriksaan glukose darah pada saat timbulnya gejala
sangat penting
2
.
hal
PENDEKATAN DIAGNOSTIK
Masalah yang dihadapi ialah dalam hal menetapkan H dan
menentukan kausanya. Banyak anak secara klinik menunjuk-
kan H, tetapi hanya dapat dibuktikan secara laboratorik jika me
nakai pemeriksaan khusus. Jika H sudah ditetapkan, penting
untuk menentukan penyebabnya dan pemilihan prosedur
diagnostik. Sebaiknya dilakukan secara individual berdasarkan
penampilan gejala klinik dan anamnesis pada masing-masing
penderita
4
.
Kelompok usia neonatus
Berikut ini dapat dilihat skema pendekatan diagnostik H
pada neonatus (Gambar 2) :
ambar 2.
Pendekatan diagnostik hipoglikemia pada bayi baru lahir
kema pendekatan diagnostik ini berguna untuk menguji saring
Untuk H berulang/menetap pada neonatus dapat diadakan
pendekatan diagnostik dengan memakai therapeutic trial (lihat
pengobatan)
2
.
Kelompok usia bayi
Penyebab-penyebab utama H pada tahun pertama
·
Hiperinsulinisme
·
defisiensi enzim hepar
· Hiperinsulinisme
Ditemukan sebanyak 50% dari semua kasus H bayi.
Diagnosis H dicurigai bila serangan cenderung berulang
2
.
Gejala hampir selalu ada dan biasanya konsisten untuk se-
tiap penderita. Uji gula darah pada saat serangan terutama
pada waktu kejang penting untuk kelompok usia ini. Jika
pengobatan sudah diberikan tanpa dilakukan konfirmasi hipo-
glikemianya atau tidak melakukan pemeriksaan darah seperti
pada tabel V (sebelum dan sesudah pemberian glukagon),
maka puasa sampai 24 jam bisa berguna untuk diagnosis. Jika
ada hiperinsulinisme, H simptomatik timbul sesudah puasa
3­6 jam dan disertai dengan rendahnya kadar beta hidroksi
butirat (benda-benda keton), FFA dan hiperinsulinemia relatif
(> 12 mikro unit/ml). Respons hiperglikemia terhadap gluka-
gon meningkat2. Uji toleransi tolbutamid memberikan hasil
reaksi yang hebat
4
.
Penting untuk membuat diagnosis yang tepat, karena peng-
obatan yang spesifik bisa mencegah atau mengembalikan ke-
lainan-kelainan nerologik dan cacat lainnya, misalnya: ganggu-
an pertumbuhan, akromegali atau katarak.
·
Glycogen storage disease, Type I
Penyakit ini merupakan penyebab tersering H yang disebabkan
oleh defisiensi enzim hati dan kausanya ialah defisiensi glukose
6 fosfatase. Penyakit ini bisa menyebabkan penghambatan
total, baik pada glukoneogenesis maupun glikogenolisis. Bebe-
rapa bayi memperlihatkan gejala H berat dan asidosis, sedang-
kan yang iainnya dengan gejala gangguan pertumbuhan ter-
utama pada bayi dan anak kecil. Penampilan gejala hepato-
megali hebat penting untuk diagnostik, ginjal juga membesar,
bayi dan anak nampak pendek disertai hipotoni. Meningkatnya
jaringan lemak pada muka dan ekstremitas memberikan gam-
baran anak tersebut seolah-olah gizi baik.
Disfungsi trombosit menyebabkan mudahnya terjadi per-
darahan (wring terjadi perdarahan hidung). Biopsi hati diperlu-
kan untuk pemeriksaan enzim spesifik yang definitif
2
. Penyakit
lain dari kelainan enzim hati
2,4
yaitu .:
­
Glycogen storage disease, Type III, disebabkan oleh defi-
siensi amilo 16 glukosidase
­
Glycogen storage disease, Type VI oleh defisiensi
fosforilase
­
Fructose pathway defects, misal : hereditary fructose in-
tolerance
­
Pyruvate carboxylase deficiency
­
Defisiensi fosfoenolpiruvat karboksikinase
­
Galaktosemia
­
Branched chain amino acid defects
Untuk kelainan-kelainan tersebut perlu prosedur diagnostik
khusus.
Kelompok usia anak
·
Hipoglikemia ketosis
G
(dikutip dari 2).
S
bayi-bayi risiko tinggi antara lain: KMK, BMK, pasangan bayi
kembar yang lebih kecil berat badannya, IDM, IGDM,
erithroblastosis berat (Hb tali pusat < 10 gr%), bayi dengan
hanya pembesaran hepar, bayi dari saudara yang menderita H
neonatal atau kematian bayi yang tidak diketahui penyebab-
nya. Juga diindikasikan pada bayi anoksia berat, distress
perinatal (Apgar skor 5 pada 1 menit pertama) dan bayi SMK
atau BMK yang disertai exomphalos, gigantisme, makroglosia
atau bayi dengan mikropenis/defek garis tengah bawaan. Pada
uji saring ini digunakan dextrostix dan dilakukan pada bayi
umur 2, 4, 12, 21 dan 48 jam.
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 29
background image
Secara klasik H ini terjadi pada pagi hari sesudah tidur ma-
lam
t rendah kalori, tinggi lemak dan rendah
genik)
4
. Anak mungkin menderita defi-
GH, ACTH,
Diagn
s
n adanya ketonuria, hipo-
h (Tabel V). Serta tidak
2
4
interpretasi uji tole-
asi lemak pada
­30 mg/100 ml. Kadar
·
Leukemia
Kausa H di sini tidak diketahui, diduga akibat berkurangnya
kadar glukose 7 fosfatase pada sel-sel hati yang diinfiltrasi oleh
sel leukemia.
·
Kwashiorkor
Hipoglikemia ringan bisa merupakan komplikasi pada pe-
nyakit ini akibat gangguan glukoneogenesis
4
.
·
Tumor di luar pankreas
Tumor biasanya merupakan neoplasma(sarkoma) meso-
dermal yang besar, terdapat dalam rongga perut/dada. H oleh
tumor mungkin kurang didiagnosis, karena gula darah tidak
rutin diperiksa pada anak
'
yang menderita tumor. Mekanisme-
nya belum jelas.
Di bawah ini disajikan pemeriksaan untuk menilai meta-
bolisme hidrat-arang/pemeriksaan darah untuk diagnostik H
2
:
Tabel V. Hasil laboratorium darah pada berbagai keadaan hipoglikemia
Hypopituitarism
yang lama, atau menyertai suatu penyakit infeksi/gangguan
gastrointestinal. H dapat dicetuskan oleh puasa yang lama (18­
24 jam) atau die
hidratarang (diet keto
siensi endokrin tersendiri maupun kombinasi (
tiroid, kort
l
iso ), hipoalaninemia.
osi ditegakkan berdasarka
meriksaan dara
glikemia dan hasil pe
ada reaksi terhadap pemberian glukagon (Gambar 3) . Serang-
an H bereaksi baik terhadap pemberian glukose. Di antara se-
rangan, uji toleransi hidrat arang memberikan hasil normal .
Mekanisme pasti tentang H ketosis belum jelas. Namun
ada sarjana mengemukakan mekanisme sebagai berikut: bisa
terjadi sebagai akibat timbulnya secara simultan dua dari tiga
faktor antara lain: kelainan nutrisi, kepekaan terhadap puasa
yang ada hul'jtzngannya dengan kelompok umur dan defisiensi
hormon
5
.
Tipe penyakit ini paling sering ditemukan pada anak. Yaitu
lebih dari 50% kasus. Onset penyakit biasanya. mulai terjadi
pada umur 1,5 ­ 5 tahun dan remisi spontan pada usia 9 ­ 10
tahun, d 2 kali > 9. Penderita biasanya BBLR
4
.
·
Adenoma sel beta
Kelainan ini harus dipertimbangkan pada H berulang, ter-
Hyperinsulinism
Neonate 3­5
yrs.
Metabolic
GSDI,
FDPase, etc.
Ketotic
Glucose
Insulin
Ketones
FFA
Lactate
Alanine
Uric Acid
Cortisol
HGH
T.T.
N
±
N
N
N/
N
N
N
N
N
/N
±
±/
N
N/
±
N
±
±
±
N/
N/
N
Response To Glucagon
At Time Of Hypoglycemia
Or After Fasting
Response To Fasting
utama sesudah umur 3 tahun. Secara klasik H berulang ini ter-
jadi sesudah puasa singkat atau olah raga dan resisten terhadap
obat-obatan. Sampai sekarang belum ada uji toleransi khusus
atau pemeriksaan hormon untuk menetapkan diagnosis pada
anak. Insulin plasma penting dalam meng
ransi.
Hiperinsulinemia, balk spontan maupun yang diinduksi
merupakan suatu indikasi untuk pemeriksaan radiologik dan
tindakan bedah.
·
H reaktif.
H ini biasa timbul pada umur 5­6 tahun. Dapat terjadi se-
sudah 3 ­ 4 jam pemberian makan. Diagnosis dibuat dengan uji
toleransi glukose oral 5 jam. Suatu pendekatan yang barn yaitu
dengan monitor glukose dan memperhitungkan indeks H
disertai simtom yang diusulkan Haji­Georgopoulos
2
.
Penyebab-penyebab H lainnya :
·
Kerusakan hati
Kerusakan hati yang hebat bisa mengganggu metabolisme
hidrat-arang, sehingga terjadi H. Zat-zat hepatotoksik : fosfor,
hidrokarbon (tetra kloride) dan hidrazin. Infiltrasi yang luas
pada hati oleh sel neoplasma, jaringan fibrotik, granuloma atau
lemak bisa menyebabkan H. Demikian pula hepatitis infeksiosa
akut atau kronis pada stadium terminal.
Mekanismenya belum diketahui sepenuhnya. Tetapi H
mungkin akibat kegagalan penyimpanan glikogen, gangguan
pelepasan glukose ke dalam darah dan
.
berkurangnya sintesis
glukose dari asam amino
4
.
·
Reye syndrome
an ensefalopati dan degener
Ditandai deng
alat-alaf dalam. Kadar gula darah < 25
insulin normal dan gula darah tidak ada reaksi terhadap pem-
berian glukagon. Hal ini disebabkan oleh menurunnya produksi
glukose hati.
Gambar 3.
Uji diagnostik pada hipoglikemia bayi dan anak (dikutip
dari 2).
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
30
background image
PENGOBATAN
Neonatus
a) H asimptomatik
Jika pemeriksaan uji dextrostix menunjukkan kadar gula
darah rendah, harus dikuatkan oleh pemeriksaan laboratorik.
Bila hasil pemeriksaan laboratorik juga menunjukkan kadar
gula rendah (hipoglikemia), diberikan infus gltikose 6 ­ 8 mg/
kg B
-
obat
peroral diberikan jika ditoleransi. Sebaiknya
dibe
pada keadaan
ukose hipertonik ini secara perlahan-
laha
jumlah kasus (1 ­ 12%) yang gejala kliniknya menetap/
beru
bil darah 5 ­ 10 CC sebelum dan sesudah
kagon (30 mikro gram/kgBB iv/im/ic tidak lebih
dari
g menetap/
B/menit sampai kadar glukose darah menjadi normal
2
.
b) H simptomatik
Bila klinik dan uji dextrostix menunjukkan H, keadaan ini
harus dikuatkan oleh pemeriksaan laboratorik. Infus glukose
harus segera dimulai (glukose peroral bukan merupakan peng
an adekuat untuk H simptomatik). Glukagon bisa diberikan
selama terpasang infus glukose. Jika pemeriksaan laboratorik
menunjukkan H dan gejala hilang sesudah pemberian glukose
iv, ini membuktikan adanya H simptomatik. Pengobatan
dilanjutkan dengan glukose parenteral 8 ­ 10 mg/kg BB/ menit.
Makanan
rikan NaCl (2 ­ 3 meq)/kgBB/hari sesudah 12 jam untuk
mencegah hiponatremia. Dua puluh empat jam kemudian di-
berikan KC1 1 ­ 2 meq/kgBB/hari. Kadar gula darah dipantau
setiap 4 ­ 6 jam sampai kadar gula darah tetap
normal. Selanjutnya gl
n dikurangi kecepatan tetesannya (10­8­6­4 mg/kgBB/
menit) dengan larutan glukose 5% untuk mencegah reaksi H.
Pengobatan glukose parenteral ini biasa diperlukan 48­72
jam. Penderita semacam ini berjumlah 15% kasus dan disebut
H simptomatik transien
2
.
c ) H neonatus menetap/berulang
Se
lang meskipun sudah diberikan glukose iv 12 16 mg/
kgBB/menit, maka harus dipikirkan penyebab primemya
(Tabel III). Diam
pemberian glu
.1 mg).
Oleh karena pada neonatus kerusakan potensial akibat H
menetap/berulang begitu besar, diagnostic therapeutic trial
(Tabel VI) harus segera dimulai
2
:
Tabel VI. Diagnostic therapeutic trial pada H neonatus yan
berulang
2
.
In addition to intravenous glucose (12 to 14 mg/kg/min)
in sequence add
2­3 days
Prednisone or
Hydrocortisone
2 mg/kg/day P.O.
5 mg/kg/day I.M.
3­5 days
Growth Hormone
1 u/day I.M.
3­5 days
Diazoxide
P.O. t.i.d.
10-25 mg/kg/day
Surgery
trial i
Respon terhadap
·
K
ni bisa menggolongkan ke dalam :
Untuk itu perlu tindakan pembedahan (pankrea-
engobatan selanjutnya ditujukan kepada masing-
atan hiperinsulinisme dipakai prosedur se-
e, Type I
patan 4 ­ 6 mg/kgBB/menit selama ma-
lam
i
kan memperbaiki asidosis kronis, zat-zat kimia darah menjadi
egali dan diikuti dengan
um
2
­ Glyco
Pengobatannya ialah
ng yang
s
ususny elama ta
perta
2
.
­
tose pat
ay defec
ua gej
-gejala an h
setelah pem
an
m
bebas
tose
2
.
A
·
likemi
etosis
obatan
sar dan
akit
erdiri atas tindak
e-
d
a: mengh
ari pua
bih
0 ­ 1 jam da
n-
ari penyebab-penyebab muntah. Jika hal ini tidak mungkin
maka d
ahan dengan minum air gula (air
jeruk m
sel
sampai
menc
g lebih 8 tahun
6
.
Dalam keadaan serangan H diberikan segera 1 ­ 2 ml glu-
kose 50%/kgBB iv, dilanjutkan dengan infus glukose 10%
6
.
Diet tinggi protein tinggi hidrat arang dengan pemberian 4 ­ 5
kali/hari
4
.
PROGNOSIS
Jika tidak diobati, H yang berat dan berkepanjangan dapat
menyebabkan kematian pada setiap golongan umur.
Pada neonatus prognosis tergantung dari berat, lama, ada-
nya gejala-gejala klinik dan kelainan patologik yang menyertai-
nya, demikian pula etiologi, diagnosis dini dan pengobatan
yang adekuat
1
.
a) H neonatus
Berdasarkan tingkat beratnya H neonatus dapat digolong-
kan
1
:
1.
H transisional
2.
H sekunder
3.
H transien
4.
H berat (berulang)
ad 1. Prognosisnya baik dan tergantung kepada kelainan yang
mendasarinya misal : asfiksia perinatal
1
.
Tidak ada korelasi antara rendahnya kadar gula
dengan mortalitas/morbiditas bayi. Kebanyakan bayi
p
ad 2. Mortalitas neonatus pada kelompok ini disebabkan oleh
kelainan yang menyertainya. Bayi yang menderita H
adar gula darah normal sesudah pemberian glukokortikoid
dan atau GH menduga adanya hipopituitarisme kongenital.
·
Respon yang kurang terhadap semua hormon, begitu juga
diazoxide menduga adanya hiperinsulinisme. Hiperinsulin-
isme ini bisa disebabkan oleh : adeno sel beta, nesidio-
blastosis.
tektomi). P
masing penyebabnya.
Bayi
Untuk pengob
perti yang telah diuraikan di atas.
·
Defisiensi enzim
­
Glycogen storage diseas
Makan makanan hidrat arang yang sering telah digunakan
dengan hasil bervariasi. Sekarang telah digunakan pengobatan
dengan pemberian makanan melalui naso gastric drips. Kurang
lebih 1/3 dari energi total sehari diberikan dalam bentuk
glukose dengan kece
hari dengan menggunakan pompa otomatis. Makanan pagi
harinya harus diberikan sebelum sonde dicabut. Pengobatan in
a
normal, perdarahan hidung berhenti, mengecilnya hepato-
m
percepatan pert
ase, Type III
buhan .
gen storage dise
makan makanan hidrat ara
ering, kh
a s
hun
ma
Fruc
hw
ts
Sem
ala
ak
ilang
beri
akanan
fruk
nak
Hipog
a k
Peng
da
peny
ini t
an s
n hi
erhan
ind
sa le
dari 1
2
d
apat dilakukan penceg
anis) pada malam hari
ama beberapa tahun
anak
apai umur kuran
teta hidup walaupun dengan kadar gula 20 mg/100m1
2
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 31
background image
tipe ini, sedikit menderita sekuele akibat hipbglikemia-
tetapi lebih banyak akibat kelainan patologik yang
uan
u dan kejang-kejang yang tidak ada hu-
isme)
erat dan tidak ada respon terhadap pengobatan
med
o
yang hidu
ukkan perawakan yang relatif pendek te-
api.tidak a
antara-
nya mem
berat,
gangguan mental dan seri
n kejan
penting
is dini dan
h yan
­
Gangguan metabolisme
Prog
ng
dari ma
ng peny
sa
pertama unt
yc0,gen stor
Type
­
Gan
etabolisme a
o yang. dis
isal-
nya: Maple syrup urine disea
emia metilmalo k, tirosi-
s. Masi g-masing mempuny
onosis yang meragukan.
)
t
gan
yan
pad
4 -
nat
­ 15 tahun. Prognosisnya dapat di-
ambarkan sebagai berikut : anak-anak yang diobati secara
1 meninggal karena tindakan operasi, 1 menderita DM
yang
le nerologik maupun kepri-
laku. Empat belas anak (56%) sembuh
emia. In: Behrman RE and
b JC. Ketotic Hypogly-
aron Z. Recent Progress in Pediatric
E
enfant. In: Job JC and
ique et Croissance, 1st ed. eds. Paris:
nces. 1978; pp 407­423.
nya,
menyertainya.
ad 3. Bayi yang termasuk dalam kelompok ini bila tidak di-
obati akan mati. Bayi-bayi tersebut seringkali pada
BBLR dan KMK yang bisa disertai dengan komplikasi
akibat BBLR dan KMK sendiri, demikian pula tnasalah-
masalah perinatal yang bisa menyebabkan gangg
mental, prilak
bungannya dengan hipoglikemia
l
.
Pada penelitian prospektif dengan menggunakan
kontrol, bayi-bayi kelompok ini yang diamati sampai
umur 7 tahun ternyata terdapat gangguan intelektual
yang minimal, tetapi tidak ada cacat nerologik yang
berat
2
.
ad 4. Keompok ini bisa dibagi atas beberapa katagori yang
masing-masing mempunyai masalah tersendiri yang
mempengaruhi prognosisnya.
·
Defisiensi hormon multipel (hipopituitarisme bawaan)
Sering kali disertai H berat bahkan fatal pada hari-hari per-
tama, nampaknya akibat defisiensi hormon hipofise anterior.
Dari 26 kasus yang dilaporkan 2/3 meninggal (5 pada hari per-
tama, 4 pada masa neonatus dan 5 antara umur 2 bulan sampai
17 tahun). Beberapa di antaranya yang hidup menunjukkan
gejala retardasi.
Prognosis terhadap perkembangannya tergantung dari ada-
nya defisiensi hormon-hormon lainnya dan berhasilnya peng-
obatan substitusi
l
.
·
Kelebihan hormon (hiperinsulin
Pada sindroma Beckwith Wiedemann, retardasi mental ke-
mungkinan disebabkan oleh H yang tidak diobati, meskipun
dengan pengobatan adekuat prognosis masih meragukan, sebab
adanya anomali multipel yang menyertainya.
­
Infant giants (Foetopathia Diabetica) : Biasanya memper-
lihatkan H b
ikamentosa dan memerlukan pankreatektomi total. Mereka
yang hidup biasanya memperlihatkan retardasi perkembangan
yang sedang atau berat
1
.
­
Aden ma sel beta : Pada penderita yang diamati, bayi-bayi
p menunj
t
da yang menderita diabetes dan beberapa di
perlihatkan gangguan nerologik sedang atau
ng kali denga
g-kejang. Maka,
diagnos
tindakan beda
hidrat arang :
g segera.
nosis tergantu
sing-masi
ebab, misalnya: H bi fatal pada hari
uk gl
gguan m
age disease,
sam amin
I.
ertai H, m
se , asid
ai pr
ni
nosi
b
n
Bayi/anak
H tergantung dari etiologinya, cenderung kurang bera
pada bayi yang lebih tua dan anak. Tetapi dapat berakibat
gguan kepribadian kelainan pelaku dan kelainan nerologik.
Nam paknya terdapat kepekaan umur khusus pada H ketosis
g dimulai pada umur 9 ­ 12 bulan dan mencapai puncaknya
a umur 18 ­ 30 bulan, kemudiaf sembuh sendiri pada umur
7 tahun
1
atau 9 ­ 10 tahun
4
.
Adenoma sel beta frekuensi meningkat sesudah masa neo-
us yaitu pada umur 5
g
bedah
memerlukan insulin, 1 hanya memerlukan insulin selama
28 hari dan 8 mempunyai sekue
badian dan tingkah
sempurna
1
.
KEPUSTAKAAN
1.
Cornblath M. The Late Effects of Hypoglycemia. In: Chiumello G and
Laron Z. Recent Progress in Pediatric Endocrinology. eds. London:
Academic Press. Vol 12, 1977; pp 101­111.
2.
Cornblath M and Poth M. Hypoglycemia. In: Kaplan SA. Clinical
Pediatric and Adolescent Endocrinology. ed. Philadelphia: WB Saunders
Co. 1982; pp 157­167.
3.
Dacou C. Hypoglycemia. In: Manual of Pediatrics 3rd ed. New Delhi.
Orient Longman. 1973; pp 544­552.
4.
Digeorge AM and Schwartz R. Hypoglyc
Vaughan VC. Nelson Textbook of Pediatrics. 12th ed. eds. Tokyo: WB
Saunders Co, Igaku Shoin Ltd. 1983; pp 1421­1431.
5.
Chaussain JL, Georges P, Calzada L and Jo
cemia. In: Chiumello G and L
ndocrinology. eds. London: Academic Press, vol 12, 1977; pp
113­118.
ussain JL. Hypoglycemies Spontaneus de L
6.
Cha
Pierson M. Ebdicrinologie Pediatr
Flammarion, Medecine­Scie
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
32