background image
269
| MEI - JUNI 2010
lATAR BElAKANG
Endometriosis adalah kelainan di mana
jaringan endometrium dapat ditemu-
kan di luar kavum uteri. Endometrio-
sis diperkirakan merupakan kelainan
ginekologik yang terjadi pada sekitar
6-10% wanita. Kondisi endometriosis
dapat memicu masalah klinis serius
pada wanita karena dapat berhubun-
gan dengan kejadian nyeri panggul
kronik, dan infertilitas
pada wanita usia
reproduksi.
1
Sejak beberapa dekade terakhir te-
lah banyak penelitian dilakukan untuk
meningkatkan pemahaman menge-
nai penyebab penyakit ini. Salah satu
hipotesis yang sering digunakan untuk
menjelaskan terjadinya endometriosis
adalah teori patogenesis Sampson
(1929), yang dihubungkan dengan ke-
jadian menstruasi retrograd.
Beberapa
teori lain juga telah diperkenalkan ter-
masuk teori metaplasia, teori penye-
baran limfogen atau hematogen serta
hasil temuan lain yang mencoba men-
ghubungkan kejadian endometriosis
dengan karakteristik jaringan endo-
metrium yang abnormal, faktor gene-
tik, perubahan lingkungan peritone-
um, penurunan fungsi imunitas, serta
peningkatan kemampuan angiogene-
sis.
2
Dasar-dasar teori yang diajukan
tersebut sebenarnya ditujukan untuk
mencari penjelasan, mengapa jaring-
an endometrium memiliki tingkat
survival yang tinggi meski berada di
lingkungan di luar cavum uteri. Diper-
kirakan tingkat survival yang tinggi ini
disebabkan oleh karakteristik jaring-
an endometrium tersebut atau oleh
kondisi lingkungan sekitar yang san-
gat mendukung. Berbagai pemikiran
tersebut pada akhirnya memunculkan
dugaan adanya keterkaitan antara
mekanisme regenerasi jaringan endo-
metrium dengan tingkat kemampuan
survival jaringan endometrium di luar
cavum uteri.
Lapisan endometrium adalah salah
satu jaringan yang memiliki tingkat
regenerasi yang cukup baik. Hal ini
dibuktikan dengan selalu terbentuknya
lapisan endometrium baru pada siklus
haid berikutnya, meski sebelumnya
telah terjadi peluruhan lapisan endo-
metrium apabila tidak terjadi kehamil-
an. Lapisan endometrium yang luruh
pada saat haid berasal dari lapisan
fungsional. Oleh karena itu lapisan
basal cavum uteri diperkirakan memi-
liki fungsi yang cukup esensial untuk
proses regenerasi lapisan endome-
trium. Hal ini terbukti pada kasus Ash-
erman Syndrome, kerusakan lapisan
endometrium basal akibat tindakan
kuret berlebihan dapat mengakibat-
kan gangguan regenerasi jaringan en-
dometrium. Akibatnya pasien dapat
mengalami amenorea sekunder.
Akhir-akhir ini peran sel punca dalam
proses regenerasi jaringan pada um-
umnya telah banyak dibahas. Konsep
regenerasi sel endometrium yang di-
mediasi oleh sel punca endometrium
telah dipostulasikan sejak 35 tahun
yang lalu. Penulisan makalah ini ditu-
jukan untuk menelaah kemungkinan
adanya peran sel punca/ progenitor
endometrium dalam patogenesis en-
dometriosis.
Sel Punca
Sel punca adalah sel yang mampu
memperbaharui dirinya sendiri (self re-
newal) dan memiliki kemampuan dife-
rensiasi menjadi banyak tipe sel lain
di dalam tubuh. Sel punca berdasar-
kan asalnya dapat dibagi menjadi sel
punca embrionik, yang berarti be-
rasal dari jaringan embrionik dan sel
punca dewasa, yang berarti berasal
dari jaringan dewasa. Berdasarkan
kemampuan diferensiasi, sel punca
embrionik memiliki plastisitas lebih
tinggi dibandingkan dengan sel pun-
ca dewasa; berarti kemampuan dife-
rensiasi sel punca embrionik akan lebih
lebar dibandingkan dengan sel punca
dewasa.
3,4
Kehadiran sel punca perlu
dibuktikan dengan teridentifikasinya
fungsi sel punca, yaitu klonogenisitas,
kemampuan proliferasi, memperba-
harui dirinya sendiri (self-renewal) dan
diferensiasi.
5
Klonogenisitas adalah
kemampuan sel tunggal untuk mengi-
nisiasi suatu koloni sel saat sel tung-
gal tersebut ditanamkan pada media
cloning densitas rendah atau melalui
dilusi terbatas. Cara ini digunakan un-
tuk melakukan karakterisasi sel punca
dewasa dan sel progenitornya serta
mencari petanda sel punca.
6
Diferen-
siasi adalah perubahan fenotip sel aki-
bat aktivitas ekspresi gen. Sel punca
Peranan Sel Punca Endometrium
dalam Patogenesis Endometriosis
Grace Valentine
1
, Kanadi Sumapraja
2
1.lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
2. Bagian Imunoendokrinologi Reproduksi, Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_177 mei ok.indd 269
4/26/2010 10:55:17 AM
background image
271
| MEI - JUNI 2010
TINJAUAN
PUSTAKA
dewasa bersifat multipoten yang be-
rarti sel punca dewasa hanya dapat
berdiferensiasi menjadi komponen sel
pada jaringan tempat sel punca dew-
asa ini berada.
7
Kemampuan pemba-
ruan diri adalah kemampuan sel punca
untuk memproduksi sel punca anak
yang identik. Hal ini dapat dilakukan
melalui pembelahan asimetris mau-
pun pembelahan simetris. Pembelah-
an asimetris artinya menghasilkan satu
sel anak yang identik dan satu sel anak
yang telah terdiferensiasi.
5
Sementara
itu pembelahan simetris akan meng-
hasilkan 2 sel anak yang identik atau 2
sel progenitor transit amplifying (TA).
Sel progenitor atau
tissue-specific
stem cells hanya akan memiliki jalur
diferensiasi tertentu saja dan hanya
akan memiliki kemampuan pembaru-
an diri yang terbatas. Sedangkan sel
TA yang dihasilkan selanjutnya dari sel
progenitor anak akan memiliki prop-
erti yang terletak di antara sel punca
dan sel yang telah berdiferensiasi;
yaitu potensi proliferasi yang terbatas
dan tidak mampu memperbarui diri.
Selanjutnya sel TA akan melalui beber-
apa tingkat pembelahan sel progresif
sebagai bagian dari amplifikasi selular
dan kemudian mengalami diferensiasi
terminal.
8
yang sangat dinamis, karena menga-
lami regenerasi secara siklik pada tiap
siklus haid. Pada dasarnya secara rutin
lapisan endometrium akan mengalami
proses regenerasi, diferensiasi dan pe-
luruhan pada masa reproduksi.
10
Lapisan endometrium manusia da-
pat dibagi menjadi 2 lapisan, yaitu
lapisan basalis (stratum basal) dan
lapisan fungsional (stratum fungsional)
(2/3 atas). Lapisan basalis tidak ikut
luruh pada saat haid dan bertang-
gung jawab dalam proses regenerasi
lapisan fungsional pada siklus haid
berikutnya. Proses proliferasi dan dife-
Niche sel punca adalah suatu lingkun-
gan fisiologis yang spesifik bagi sel
punca (sel niche bersama dengan ma-
triks ekstraselular) dan memiliki fungsi
regulasi terhadap sel punca.
8
Fungsi
utama niche sel punca ini adalah untuk
mendeteksi kebutuhan perbaikan dan
penggantian jaringan, yang selanjut-
nya akan mengeluarkan sinyal-sinyal
terhadap sel punca setempat untuk
mengadakan proliferasi dan diferen-
siasi.
9
Regenerasi lapisan endometrium
Lapisan endometrium merupakan
salah satu jaringan di tubuh manusia
rensiasi lapisan fungsional dipicu oleh
perubahan sekuensial hormon steroid
selama siklus haid. Sebaliknya lapisan
basalis hanya akan mengalami pro-
liferasi minimal dan tidak sensitif ter-
hadap perubahan hormonal selama
siklus haid.
Adanya efek hormon steroid pada
lapisan endometrium dibuktikan den-
gan adanya ekspresi reseptor hormon
steroid pada lapisan endometrium.
Hormon estrogen berfungsi mengen-
dalikan survival, viabilitas, dan efek mi-
togenik melalui reseptor estrogen 1
(ESR1). Reseptor ESR1 merupakan re-
septor estrogen yang cukup dominan
ditemukan di lapisan endometrium.
Sebaliknya reseptor estrogen 2 (ESR2)
ternyata hanya sedikit diekspresikan
di lapisan endometrium. Pengamatan
selanjutnya menunjukkan bahwa ESR2
ternyata berfungsi memicu diferen-
siasi sel epitel melalui mekanisme
regulasi negatif terhadap respon yang
terjadi melalui ESR1.
11
Pada fase proliferasi di mana hormon
estrogen cukup dominan, terda-
pat aktivitas proliferasi endometrium
yang cukup ekstensif sehingga ter-
bentuklah lapisan fungsional. Namun
saat mendekati ovulasi, tingkat pro-
liferasi akan menurun secara gradual
dan lapisan fungsional yang terbentuk
akan mengalami diferensiasi di bawah
pengaruh hormon progesteron yang
merupakan hormon yang dominan
pada fase sekresi. Pada fase sekresi,
sel stroma akan mengalami reaksi
Gambar 1. Hirarki
diferensiasi sel punca
7
CDK ed_177 mei ok.indd 271
4/26/2010 10:55:17 AM
background image
272
| MEI - JUNI 2010
TINJAUAN
PUSTAKA
desidualisasi untuk mengantisipasi ke-
mungkinan datangnya embrio. Apabi-
la tidak terjadi kehamilan, seiring de-
ngan menurunnya kadar progesteron,
maka lapisan endometrium yang telah
mengalami diferensiasi tersebut akan
mengalami apoptosis.
12
Sel punca endometrium
Konsep
kemampuan
regenerasi
lapisan endometrium oleh sel punca
yang terdapat pada lapisan basalis
endometrium telah dipostulasikan
sejak 35 tahun yang lalu.
13,14
Meski de-
mikian peran sel punca dalam proses
regenerasi lapisan endometrium baru
dapat dibuktikan beberapa tahun
terakhir. Dalam suatu penelitian te-
lah dibuktikan bahwa hasil kultur sel
endometrium uterus ternyata mampu
menghasilkan suatu koloni sel yang
memiliki tingkat proliferasi tinggi. Ha-
sil kultur tersebut diperkirakan meru-
pakan suatu kelompok sel punca /
sel progenitor. Hal ini membuktikan
adanya stem cell niche pada lapisan
endometrium.
10
Selanjutnya koloni sel
hasil kultur tersebut ternyata terbukti
pula memiliki kemampuan untuk ber-
diferensiasi menjadi sel adiposit, sel
otot polos, sel kondrosit dan sel os-
teoblas. Kelompok sel-sel tersebut
ternyata memiliki jumlah yang relatif
sama sepanjang siklus haid. Temuan ini
menunjukkan bahwa jumlah sel punca
di endometrium tidak bergantung
pada kadar hormon dalam siklus haid.
Aktivitas kelompok sel tersebut dapat
terlihat baik pada fase proliferasi mau-
pun fase sekresi. Hal ini menunjukkan
peranan sel punca yang penting pada
proses regenerasi endometrium. Po-
tensi proliferasi sel punca pada lapisan
endometrium akan tetap dipertah-
ankan meski tidak ada lagi pengaruh
hormon pada siklus haid yang fisiolo-
gis. Hal ini ditunjukkan dengan kem-
balinya proliferasi endometrium pada
wanita pasca menopause yang me-
nerima terapi sulih hormon.
15
Asal sel punca yang terdapat pada
lapisan endometrium masih menjadi
bahan pertanyaan. Penelitian Taylor HS
menyimpulkan adanya kemungkinan
bahwa sel punca endometrium berasal
dari migrasi sel punca sumsum tulang
melalui aliran darah perifer.
16
Namun
penelitian yang lain juga menunjukkan
mungkin sel punca tersebut memang
berasal dari endometrium.
10
Estrogen adalah hormon yang ber-
peran cukup penting dalam proses
proliferasi
lapisan
endometrium.
Apakah hormon estrogen memiliki
peran pada sel punca? Ekspresi resep-
tor estrogen (Esr1) pada sel punca/ sel
progenitor endometrium telah diteliti
in vivo pada model tikus Label Retain-
ing Cells (LRC). Ternyata Esr 1 hanya
diekspresikan oleh sebagian kecil sel-
sel epitel dan stroma lapisan endo-
metrium. Hal ini menunjukkan bahwa
peran estrogen dalam stimulasi prolif-
erasi LRC epitel kemungkinan besar
dilakukan melalui mekanisme tidak
langsung, yaitu melalui sinyal parakrin
yang dilepaskan oleh sel niche stroma
subepitel yang mengandung Esr1.
17,18
Pemikiran ini menunjukkan penting-
nya peran sel niche stroma dalam
mentransmisikan sinyal proliferasi ke-
pada sel punca/ sel progenitor epitel.
Faktor pertumbuhan yang diproduksi
secara lokal diperkirakan berperan
dalam regenerasi endometrium. Fak-
tor pertumbuhan ini memediasi efek
mitogenik estrogen dan efek difer-
ensiasi progesteron melalui interaksi
otokrin dan/ atau parakrin di antara sel
epitel dan stroma.
19
Belum diketahui
bagaimana ekspresi reseptor estro-
gen atau progesteron sel punca pada
lapisan endometrium manusia.
Peranan sel punca/ progenitor
endometrium dalam patogenesis
endometriosis
Kejadian endometriosis diperkirakan
berhubungan dengan kemampuan
proliferasi endometrium yang ab-
normal. Hal ini ditunjukkan dengan
kemampuan proliferasi jaringan en-
dometrium di luar kavum uteri yang
berada di bawah pengaruh hormon
siklus haid. Sel punca/ progenitor
pada lapisan endometrium diper-
kirakan memiliki peran dalam patofisi-
ologi penyakit ini. Pemikiran tersebut
didukung dengan adanya teori yang
menyatakan bahwa bahwa fragmen
endometrium yang lepas pada saat
menstruasi dan mengalami menstruasi
retrograd selanjutnya dapat mencapai
rongga peritoneum.
2
Pada 6-10% wanita dengan endo-
metriosis, mungkin terjadi pelepasan
sel punca/ sel progenitor dari lapisan
basal endometrium bersamaan den-
gan fragmen endometrium yang be-
rasal dari lapisan fungsional pada
saat menstruasi. Selanjutnya sel-sel
endometrium tersebut akan mencapai
rongga peritoneum dan menempel
pada lapisan peritoneum. Terdapat-
nya sel punca pada lesi endometriosis
di bawah pengaruh hormon siklus haid
diperkirakan akan mendukung kesin-
tasan lesi endometriosis tersebut. Lesi
endometriosis yang didukung kehad-
iran sel punca/ sel progenitor diper-
kirakan dapat bertahan lama sedang-
kan lesi yang hilang secara spontan
mungkin berasal dari sel
Transit Am-
plifying (TA) yang matur.
20
Penelitian terbaru juga menemukan
bukti monoklonalitas pada tiap lesi
endometriosis. Hasil temuan ini meng-
indikasikan bahwa setiap fokus lesi en-
dometriosis ternyata berasal dari satu
sel progenitor.
21
Temuan ini berarti
mendukung konsep endometriosis
berasal dari sel punca.
SIMPUlAN
Penemuan sel punca/ progenitor en-
dometrium melalui penelitian fung-
sional beberapa tahun terakhir telah
membuka jalan baru untuk menemu-
kan patogenesis endometriosis yang
terkait dengan peran sel punca. Peran
sel punca/ progenitor dalam patogen-
esis endometriosis diperkirakan dipicu
oleh adanya suatu kejadian menstrua-
si retrograd yang juga membawa sel
punca pada lapisan basal ke dalam
rongga abdomen. Untuk memahami
peran sel punca endometrium dalam
patogenesis endometriosis secara
jelas masih membutuhkan penelitian
dan telaah kritis lebih lanjut.
CDK ed_177 mei ok.indd 272
4/26/2010 10:55:18 AM
background image
273
| MEI - JUNI 2010
TINJAUAN
PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
1. Giudice LC, Kao LC. Endometriosis. Lancet 2004; 364: 1789-99.
2. Sampson J. Peritoneal endometriosis due to menstrual dissemination of endometrial tissue into pelvic cavity. Am J Obstet Gynecol 1927; 14:422-425.
3. Bongso A, Richards M. History and perspective of stem cell research. Best Pract Res Clin Obstet Gynaecol 2004; 18: 827­842.
4. Shostak S . (Re)defining stem cells. Bioessays 2006; 28: 301­308.
5. Morrison SJ, Shah NM, Anderson DJ. Regulatory mechanisms in stem cell biology. Cell 1997; 88: 287­298.
6. Weissman IL. Stem cells: units of development, units of regeneration, and units in evolution. Cell 2000; 100: 157­168.
7. Pellegrini G, Golisano O, Paterna P, Lambiase A, Bonini S, Rama P, De Luca M . Location and clonal analysis of stem cells and their differentiated progeny in the
human ocular surface. J Cell Biol 1999; 145: 769­782.
8. Fuchs E, Segre JA. Stem cells: a new lease on life. Cell 2000; 100: 143­155.
9. Moore KA, Lemischka IR. Stem cells and their niches. Science 2006; 311: 1880­1885.
10. Chan RW, Schwab KE, Gargett CE. Clonogenicity of human endometrial epithelial and stromal cells. Biol Reprod 2004; 70: 1738­1750.
11. Cooke PS, Buchanan DL, Lubahn, DB, Cunha GR. Mechanism of estrogen action: lessons from the estrogen receptor-alpha knockout mouse. Biol. Reprod. 1998;
59: 470­475.
12. Brenner RM, Slayden OD, Rodgers WH., Critchley HO, Carroll R, Nie XJ, Mah K. Immunocytochemical assessment of mitotic activity with an antibody to phos-
phorylated histone H3 in the macaque and human endometrium. Hum. Reprod. 2003; 18: 1185­1193.
13. Prianishnikov VA. On the concept of stem cell and a model of functional­morphological structure of the endometrium. Contraception 1978; 18: 213­223
14. Padykula HA, Coles LG, McCracken JA, King NW Jr, Longcope C, Kaiserman-Abramof IR. A zonal pattern of cell proliferation and differentiation in the rhesus
endometrium during the estrogen surge. Biol Reprod 1984; 31: 1103­1118.
15. Schwab KE, Chan RW, Gargett CE. Putative stem cell activity of human endometrial epithelial and stromal cells during the menstrual cycle. Fertil Steril 2005; 84:
1124­1130.
16. Taylor HS. Endometrial cells derived from donor stem cells in bone marrow transplant recipients. JAMA 2004; 292: 81­85.
17. Cervello I., Martinez-Conejero JA, Horcajadas JA, Pellicer A, Simon C.Identification,characterization and co-localization of label-retaining cell population in
mouse endometrium with typical undifferentiated markers. Hum. Reprod. 2007; 22: 45­51.
18. Cooke PS, Buchanan DL, Lubahn DB, Cunha GR. Mechanism of estrogen action: lessons from the estrogen receptor-alpha knockout mouse. Biol. Reprod. 1998;
59: 470­475.
19. Gargett CE, Schwab KE, Chan RW. Hormone and growth factor signaling in endometrial renewal: Role of stem/ progenitor cells. Mol. Cell. Endocrinol. 2008; 288:
22-29.
20. Gargett CE. Uterine stem cells: what is the evidence? Hum. Reprod. Update 2007; 13: 87­101.
21. Wu Y, Basir Z, Kajdacsy-Balla A, Strawn E, Macias V, Montgomery K, Guo SW. Resolution of clonal origins for endometriotic lesions using laser capture microdis-
section and the human androgen receptor (HUMARA) assay. Fertil. Steril 2003; 79 (suppl. 1): 710­717.
CDK ed_177 mei ok.indd 273
4/26/2010 10:55:19 AM