background image
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
33
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
TINJAUAN PUSTAKA
34
SIMPULAN
Sebagian besar pasien operasi elektif tidak memerlukan konsul-
tasi pada seorang Spesialis Penyakit Dalam (SpPD) , kecuali yang
sudah diketahui mempunyai penyakit ikutan (ko-morbid).
Konsultasi perioperatif dimintakan kepada seorang SpPD
biasanya karena kasus sulit (83%), problem spesifik (81%), dan
untuk persiapan pasien sebelum operasi (50%). Kasus-kasus
sulit yang sering dikonsultasikan adalah optimisasi penderita
jantung (93%), stratifikasi faktor risiko jantung (83%), penggu-
naan
-blockers (76%), pengelolaan pasien diabetes (74%).
Tugas seorang SpPD dalam penatalaksanaan perioperatif adalah :
a. Menemukan penyakit ko-morbid yang dapat merupakan
faktor risiko pembeda-han atau pembiusan
b. Mengoptimasi kondisi pasien pre-operatif
c. Mengenal dan mengobati komplikasi yang berhubungan
dengan
operasi
d. Bekerjasama dalam satu tim (dengan spesialis bedah,
anastesi,dll)
Terjadinya komplikasi post-operatif adalah karena penata-
laksanaan peri-operatif yang kurang teliti atau penatalaksanaan
komplikasi intraoperative yang kurang agresif.
REFERENSI
1. Paus-Jenssen L, Ward HA, Card SE. An Internist's role in perioperative medicine : a survey of
surgeon's opinions. BMC Fam Pract 2008 :9: 4.
2. Institute for Clinical Systems Improvement (ICSI) ; Health Care Guidelines. Preoperative
Evaluation. 8th ed, July 2008.
3. Cohn L SL, Smetana GW. Update in Perioperative Medicine. Annals Int Med 2007 ;147 :
263-267
4. Michota FA . The preoperative evaluation and use of laboratory testing. Cleveland Clinical
Journal of Medicine; 73 (1) S4-S7
5. Eagle K et al. ACC/AHA Guideline Update for Perioperative Cardiovascular Evaluation for
Non-Cardiac Surgery- Executive Summary. JACC 2002:39:542-553
6. Loh-Trivedi, Rothenberg DM. Perioperative Management of the Diabetic Patients.
http://emedicine.medscpae.com/article/284451
7. Hoogwere BJ. Perioperative management of diabetes mellitus. Cleveland Clin J Med 2006;
73;
S95-S99.
8. Auerbach AD. Perioperative cardiac risk reduction. Cleveland Clin J Med 2006; 73; S25-S29.
9. Cohn SL . Cardiac risk stratification before non-cardiac surgery. Cleveland Clin J Med 2006;
73;
S25-S29.
10. American Heart Association/American College of Cardiology. Perioperative beta-blockers
therapy for non cardiac surgery. Published 06/26/2006. http:// www. medscape. Com
/viewartcle/536412
11. Roesli RMA. Gangguan Ginjal Akut Peri-operatif. Roesli RMA ed. Gangguan Ginjal Akut.
Diagnosis & Pengelolaan. Pusat penerbitan Ilmiah. Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran UNPAD/ RS dr. Hasan Sadikin. Bandung, 2008, hal 181-186.
12. Schreiber MJ. Minimizing perioperative complications in patients with renal insufficiency.
Cleveland Clin J Med 2006; 73; S116-S120.
13. Krishnan M. Preoperative care of patients with Kidney Disease. Am Fam Physician. 2002.
http://www.afp/20021015.
14. Rosner MH, Okuswa MD. Acute kidney injury associated with cardiac surgery. Clin J Am Soc
Nephrol
2006;1:19-32
15. Smetana GW. Preoperative pulmonary evaluation. Identifying and reducing risks for
pulmonary. Cleveland Clin J Med 2006; 73; S36-S40.
16. Pile JC. Evaluating postoperative fever. Cleveland Clin J Med 2006; 73; S62-S66.
17. Jahan A. Septic shock in the postoperative patient. Cleveland Clin J Med 2006; 73; S67-S71.
18. Gordon SM. Antibiotic prophylaxis against postoperative wound infections. Cleveland Clin J
Med 2006; 73; S42-S45.
Mengatasi Defisiensi Vitamin Mineral
adalah Investasi bagi Kemanusiaan
Yekti Hartati, Mira Dewi, Darwin Karyadi
Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor, Bogor, Indonesia
1. KONSEKUENSI DEFISIENSI VITAMIN DAN MINERAL
SELAMA SIKLUS KEHIDUPAN
Seribu hari pertama dari konsepsi sampai umur 2 tahun adalah
rentang waktu yang kritis bagi setiap anak untuk terjadinya
defisiensi gizi mikro. Bila dalam 6 bulan pertama setelah lahir
tidak diberi ASI eksklusif, atau bila makanan pendamping ASI
yang diberikan setelah masa itu tidak tercukupi baik secara
kualitatif (gizi mikro) maupun kuantitatif (gizi makro), maka bayi
akan berisiko mengalami defisiensi vitamin dan mineral
1
.
Secara global diperkirakan sekitar 2 biliun orang di seluruh dunia
menderita defisiensi vitamin dan mineral. Konsekuensinya adalah
meningkatnya kekerapan infeksi, penurunan kemampuan untuk
mengatasi infeksi, berkurangnya kelangsungan hidup, serta
gangguan kapasitas mental. Risiko-risiko ini mengancam dengan
serius selama masa tumbuh kembang anak. Proses pembelajaran
di sekolah terganggu karena sering sakit dan daya tangkap
pelajaran terganggu. Pada tahap dewasa, defisiensi vitamin dan
mineral mempengaruhi energi fisik, sehingga produktivitas kerja
menurun. Defisiensi pada wanita hamil mengancam kesehatan serta
mengancam keselamatan kelahiran dan kehidupan bayinya
2
.
Pada gambar 1 diperlihatkan pengaruh timbal balik akibat defisiensi
vitamin-mineral pada setiap tahap siklus hidup manusia.
Gambar 1. Konsekuensi dari defisiensi vitamin dan mineral selama siklus
kehidupan. Diadaptasi dari United Nations Administrative Committee on
Sub-Committee on Nutrition (ACC/SCN),
2. DAMPAK GIZI MIKRO PADA KESEHATAN MANUSIA
Sejak awal abad ke-20, temuan-temuan teknis dan ilmiah
telah membawa peningkatan kesehatan dan kesejahteraan
manusia. Salah satunya adalah temuan signifikan bahwa di
dalam makanan terkandung vitamin-mineral dan bila terjadi
defisiensi akan menimbulkan masalah serius pada kesehatan
serta tumbuh kembang. Riset dan studi mengenai intervensi
gizi mikro membuktikan manfaatnya terhadap kelangsungan
hidup dan tumbuh kembang serta penurunan angka mortalitas
dan morbiditas.
Gizi mikro hanya diperlukan dalam takaran yang relatif kecil
untuk menghasilkan dampak besar terhadap fungsi biologis
seperti otak, sistem saraf, pertumbuhan tulang, sistem imun
dan mata
3
.
Terdapat lima macam gizi mikro yang terpenting karena
dampaknya yang besar terhadap kelangsungan hidup, tumbuh
kembang dan kesehatan (tabel 1).
Tabel 1. Gizi mikro serta dampaknya terhadap kelangsungan
hidup, tumbuh kembang dan kesehatan
ABSTRAK
Kualitas manusia ditentukan oleh tercukupinya faktor gizi sedini mungkin. Tidak terpenuhinya kecukupan akan akses gizi
mikro baik melalui diet, fortifikasi maupun suplementasi, akan mengakibatkan penderitaan bagi individu, keluarga,
masyarakat dan bangsa. Upaya untuk mengatasi defisiensi gizi mikro atau mikronutrisi karenanya merupakan investasi
bagi manusia yang berkualitas di masa depan. Artikel ini membahas tentang penyebab utama dan konsekuensi dari
defisiensi vitamin dan mineral serta aspek pembiayaan dan azas manfaatnya.
background image
3. PENYEBAB UTAMA DEFISIENSI VITAMIN DAN MINERAL
Seperti gizi kurang dan gizi buruk pada umumnya, sebab-sebab
defisiensi vitamin dan mineral adalah beragam dan saling berkaitan
4
.
Gambar 2. Penyebab utama defisiensi vitamin dan mineral
Diadaptasi dari: Determinants of Malnutrition: The State of the World's
Children, UNICEF, 1998
Penyebab Langsung
Diet yang kurang
Penyebab paling cepat defisiensi gizi mikro adalah rendahnya
asupan gizi karena diet yang kurang. Secara alami, vitamin dan
mineral terkandung dalam makanan. Diet yang beragam seperti
daging, telur, ikan, susu, kacang-kacangan, sayur-mayur dan
buah-buahan adalah hal terbaik untuk memenuhi kebutuhan
akan gizi mikro
5
.
Perbaikan diet bagi penduduk miskin adalah hal penting yang
fundamental; merupakan pekerjaan besar yang kompleks dan
memakan waktu lama untuk mencapainya, dan juga sangat
tergantung pada peningkatan pendapatan. Dalam jangka
pendek situasi ini dapat diselamatkan dengan intervensi yang
cost-elective termasuk suplementasi dan fortifikasi.
Penyakit
Penyakit mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menyerap
dan mempertahankan cadangan vitamin dan mineral. Bahkan
pada situasi tertentu dapat menghilangkan zat gizi, seperti
kehilangan seng selama diare6. Defisiensi vitamin dan mineral
dapat berkompromi pada infestasi penyakit cacing, seperti
penyakit cacing tambang, kendati pada situasi tidak stabil
menjadi rentan menimbulkan komplikasi lain.
Penyebab Tidak Langsung
Penyebab tidak langsung adalah kurangnya akses terhadap
bahan makanan, perawatan kesehatan yang kurang memadai,
dan penerapan pola asuh yang menghambat pertumbuhan
dan kesehatan.
Pendidikan mengenai gizi dan pengasuhan anak kepada ibu-
ibu sangat penting. Beberapa praktek yang memberi dampak
pada status gizi dan kesehatan anak adalah hal hal sebagai
berikut
7
:
1. Pemberian air susu ibu eksklusif selama 6 bulan pertama
2. Penyediaan makanan padat gizi sebagai makanan pen-
damping air susu ibu atau komplementer.
3. Merangsang mental bayi dan balita untuk meningkatkan
perkembangan fisik dan kognitif.
4. Mengunjungi pusat kesehatan rujukan (puskesmas dan
posyandu)
untuk suplementasi gizi mikro dan imunisasi.
Perspektif yang perlu diperhatikan bukan saja pada kondisi
"normal". Pada situasi darurat, letupan defisiensi vitamin dan
mineral akan bermanifes lebih nyata seperti pada situasi
perang, bencana alam, banjir, tanah longsor, letusan gunung,
kegagalan panen, kekeringan, epidemi penyakit seperti diare,
wabah ber- bagai penyakit infeksi. Sebagai contoh di kamp
pengungsi Myanmar tahun 2003 dan di Thailand 65% anak-
anak menderita anemi defisiensi besi; pada keadaan darurat
ditentukan target yang tepat dengan cakupan memadai,
yang sudah baku, yaitu pemberian kapsul vitamin A dosis
tinggi. Namun gizi mikro lain sering masih terabaikan. Berba-
gai pembelajaran dapat diambil seperti di Zambia, fortifikasi
tepung jagung dengan seng, besi, asam folat, dan vitamin A
sekaligus berhasil menurunkan prevalensi dengan signifikan.
Panitia PBB untuk Gizi merekomendasikan kombinasi berba-
gai intervensi seperti melalui pangan, distribusi suplemen
menurut target, fortifikasi keluarga atau home fortifikasi
dengan bubuk gizi mikro
8
.
4. INTERVENSI MIKRO-NUTRIEN MERUPAKAN INVESTASI
BIAYA RENDAH BERHASIL GUNA TINGGI
Konsensus Copenhagen
Untuk memecahkan tantangan global milenium baru berdasarkan
pada riset dan kajian, para komisi pakar bertemu di Kopenhagen
dan menyimpulkan bahwa terdapat 10 prioritas tantangan
global, yakni :
1. Polusi udara
2. Konflik
3. Penyakit-penyakit
4. Pendidikan
5. Pemanasan global
6. Kelaparan dan gizi buruk
7. Sanitasi dan air
8. Subsidi dan hambatan perdagangan
9. Terorisme
10. Pemberdayaan perempuan.
Selanjutnya, panel yang terdiri dari pakar-pakar penyandang hadiah
Nobel menyusun urutan prioritas sebagai berikut (tabel 2) :
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
36
background image
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
37
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
TINJAUAN PUSTAKA
38
Tabel 2. Hasil Konsensus Kopenhagen 2008
Penjabaran dan penjelasannya adalah sebagai berikut :
Vitamin A
Suplementasi vitamin A bersama seng mencapai urutan ter-
tinggi karena merupakan intervensi cost-effective tertinggi untuk
mencegah morbiditas dan mortalitas anak. Harga vitamin A hanya 2
sen dolar per kapsul. Diperlukan 2 kali masing-masing 1 kapsul
dalam setahun untuk setiap anak dengan harga yang bervariasi
dari satu negara dibandingkan negara lain tergantung besarnya
cakupan
8
.
Seng
Konsensus Copenhagen merekomendasikan suatu metoda
sebagai intervensi cost effective tinggi untuk mengatasi diare
dengan pembuktian yang meyakinkan. Harga seng per tablet
dan biaya pengobatan cukup murah. Harga untuk pengobatan
10-14 hari hanya 20-28 dolar sen; termasuk ongkos operasional
hanya 47 dolar sen. Kajian keberhasilan telah dibuktikan melalui
uji lapangan mencakup 58 juta anak di Afrika
9
.
Besi
Fortifikasi besi menduduki posisi ke-tiga setelah iodisasi garam
menurut Konsesus Kopenhagen. Proporsi komponen besi relatif
sedikit. Dengan perkembangan teknologi fortifikasi besi pada
tahun 2007, kira-kira 27% tepung terigu telah terfortifikasi besi.
Hal tersebut merupakan proyek besar yang memberi dampak yang
sangat berarti pada kapasitas produktivitas kerja. Suplementasi
wanita hamil dengan besi merupakan intervensi dengan harga
relatif murah yaitu US $ 66-115 per DALY (disability adjusted life
year), dan telah menurunkan angka mortalitas yang tinggi pada
ibu hamil di wilayah Asia Tenggara dan sub Sahara Afrika.
Harga per satuan untuk wanita hamil diperkirakan sebesar US
$ 10-50 per tahun, termasuk ongkos operasional
10
.
Iodium
Iodisasi garam merupakan kisah sukses internasional yang
berazas manfaat meningkatkan tingkat intelektualitas bangsa
seluruh dunia. Namun demikian iodisasi garam universal tidak
luput dari kesulitan di daerah terisolasi yang relatif kecil, meski
diupayakan teratasi dalam 5 tahun ke depan
11
.
Dengan biaya iodisasi yang hanya lima sen per anak per tahun,
diperkirakan investasi tahunan sebesar US $ 19 juta saja dapat
meningkatkan cakupan iodisasi garam menjadi 80% dari: 51%
di Asia selatan, 64% di sub Sahara Afrika dan 50% di Eropa
timur dan Uni Soviet.
Investasi ini akan memberi keuntungan bagi 380 juta orang.
Keuntungan berupa perbaikan kesehatan dan peningkatan
penghasilan di masa depan diperkirakan sebesar US $ 570 juta.
Dengan demikian, setiap dolar yang diinvestasikan akan mem-
berikan keuntungan sebesar US $ 3012.
Biofortifikasi
Meskipun merupakan teknologi yang masih baru, biofortifikasi
sudah memberi dampak perbaikan asupan vitamin untuk me-
ngatasi defisiensi. Diperkirakan biaya tahunan per panen, per
negara, berkisar antara US $ 500.000 -1.000.000. Biaya yang
ditabung per DALY berkisar antara US$ 10 ­ 12013.
Fortifikasi Rumah (Keluarga)
Hasil penelitian mengenai fortifikasi rumah atau keluarga yang
terutama ditujukan pada balita memberi harapan baik terutama
di negara berkembang dengan pendapatan rendah, angka
kematian bayi tinggi, anemia dan diare. Diperkirakan biaya
tahunan per kematian yang dicegah adalah sebesar US $ 406
dan per DALY sebesar US $ 12-2014. Karena efek suplementasi
besi pada anemia berdampak pada kenaikan fungsi kognitif,
perolehan pendapatan dari setiap dolar pada program inter-
vensi multiple micro-nutrient powder atau fortifikasi rumah di-
perkirakan sebesar US $ 3715.
Tabel 3. Data Efektivitas Biaya Untuk Sejumlah Intervensi Mikro-
nutrien
PENUTUP
Kualitas kehidupan setiap manusia ditentukan sejak dini oleh
gizi. Tanpa tercukupinya mikronutrien vital baik melalui diet,
fortifikasi maupun suplementasi, seorang individu akan men-
derita sepanjang hidupnya.
Dengan 2 milyar orang yang menderita defisiensi mikronu-
trien, terdapat kebutuhan yang amat besar. Walaupun banyak
kasus defisiensi dan merupakan tantangan besar, terdapat
solusi yang efektif dari segi biaya. Untuk mencapai Millenium
Development Goals 2015, diperlukan visi strategis untuk ber-
investasi. Tersedianya dana serta komitmen yang kuat di-
dukung kemitraan, akan memperluas pencapaian intervensi
mikronutrien.
Daftar Rujukan
1. Sanghvi T, Ross J, Heymann H. Why is reducing vitamin and mineral deficiencies
critical for development? Food and Nutrition Bull. 2007. 28.p.167
2. Whitcher JP, Srinivasan M, Upadhyay MP. Corneal Blindness : a global perspective, Bull WHO.
2001; 79 (3): 217
3. UNICEF. The Micronutrient Initiative, Vitamin and Mineral Deficiency: a global progress report,
Ottawa.
2004.p.20
4. Copenhagen Consensus. The world's best investment: Vitamin for undernourished children,
according to top economists, including 5 nobel Laureates, Press Release, 30 May 2008
5. Micronutrient Initiative, Vitamin A: the scope of the problem, MI, Ottawa
(www.Micronutrient.org)
6. Horton S et al. Best practice paper. Micronutrient's supplements for child survival (vitamin A
and Zinc), Copenhagen Consensus Center, Copenhagen, 2008, p. 14
7. Cauffield LE et al. Stunting, wasting, and micronutrient deficiency disorder. In: Jamison DT et
al. Disease control priorities in developing countries, 2nd ed. Washington DC, World Bank,
2006
p.561
8. Fiedler JL. The cost of child health days: a case study of Ethiopias enhanced outreach
strategies. Washington DC, 2007.
9. Robberstad BT et al. Cost effectiveness of Zinc as adjunct therapy for acute childhood
diarrhea in developing countries. WHO Bull. 2004;82(7):523-31
10. Horton S, Alderman H, Rivera JA, Copenhagen Consensus 2008 Challenge Paper: Hunger
and Malnutrition, Copenhagen Consensus Center, Copenhagen, May 2008. pp. 32-33
11. Centers for Diseases Control. Trends in Wheat flour fortification with folic acid and iron
worldwide,
2004-2007.
12. Baltussen R, Knai C, Mona S, Iron fortification and iron supplementation are cost effective
interventions to reduce iron deficiency in four subregions of the world. J. Nutr. 2004;134(10):
2678-84
13. Horton S, Alderman H, Rivera JA, Copenhagen Consensus 2008 Challenge Paper: Hunger
and Malnutrition, Copenhagen Consensus Center, Copenhagen, May 2008, P 32-33
14. Horton S, Mannar V, Wesley A, Best practises paper: Food fortification, September 2008, in
press.
p.21
15. Meenakshi JV et al. How cost-effective is biofortification in combating micronutrient
malnutrition? An exante assessment. 2007. Harvestplus working. Paper no 2, Washington DC
background image
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
37
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
TINJAUAN PUSTAKA
38
Tabel 2. Hasil Konsensus Kopenhagen 2008
Penjabaran dan penjelasannya adalah sebagai berikut :
Vitamin A
Suplementasi vitamin A bersama seng mencapai urutan ter-
tinggi karena merupakan intervensi cost-effective tertinggi untuk
mencegah morbiditas dan mortalitas anak. Harga vitamin A hanya 2
sen dolar per kapsul. Diperlukan 2 kali masing-masing 1 kapsul
dalam setahun untuk setiap anak dengan harga yang bervariasi
dari satu negara dibandingkan negara lain tergantung besarnya
cakupan
8
.
Seng
Konsensus Copenhagen merekomendasikan suatu metoda
sebagai intervensi cost effective tinggi untuk mengatasi diare
dengan pembuktian yang meyakinkan. Harga seng per tablet
dan biaya pengobatan cukup murah. Harga untuk pengobatan
10-14 hari hanya 20-28 dolar sen; termasuk ongkos operasional
hanya 47 dolar sen. Kajian keberhasilan telah dibuktikan melalui
uji lapangan mencakup 58 juta anak di Afrika
9
.
Besi
Fortifikasi besi menduduki posisi ke-tiga setelah iodisasi garam
menurut Konsesus Kopenhagen. Proporsi komponen besi relatif
sedikit. Dengan perkembangan teknologi fortifikasi besi pada
tahun 2007, kira-kira 27% tepung terigu telah terfortifikasi besi.
Hal tersebut merupakan proyek besar yang memberi dampak yang
sangat berarti pada kapasitas produktivitas kerja. Suplementasi
wanita hamil dengan besi merupakan intervensi dengan harga
relatif murah yaitu US $ 66-115 per DALY (disability adjusted life
year), dan telah menurunkan angka mortalitas yang tinggi pada
ibu hamil di wilayah Asia Tenggara dan sub Sahara Afrika.
Harga per satuan untuk wanita hamil diperkirakan sebesar US
$ 10-50 per tahun, termasuk ongkos operasional
10
.
Iodium
Iodisasi garam merupakan kisah sukses internasional yang
berazas manfaat meningkatkan tingkat intelektualitas bangsa
seluruh dunia. Namun demikian iodisasi garam universal tidak
luput dari kesulitan di daerah terisolasi yang relatif kecil, meski
diupayakan teratasi dalam 5 tahun ke depan
11
.
Dengan biaya iodisasi yang hanya lima sen per anak per tahun,
diperkirakan investasi tahunan sebesar US $ 19 juta saja dapat
meningkatkan cakupan iodisasi garam menjadi 80% dari: 51%
di Asia selatan, 64% di sub Sahara Afrika dan 50% di Eropa
timur dan Uni Soviet.
Investasi ini akan memberi keuntungan bagi 380 juta orang.
Keuntungan berupa perbaikan kesehatan dan peningkatan
penghasilan di masa depan diperkirakan sebesar US $ 570 juta.
Dengan demikian, setiap dolar yang diinvestasikan akan mem-
berikan keuntungan sebesar US $ 3012.
Biofortifikasi
Meskipun merupakan teknologi yang masih baru, biofortifikasi
sudah memberi dampak perbaikan asupan vitamin untuk me-
ngatasi defisiensi. Diperkirakan biaya tahunan per panen, per
negara, berkisar antara US $ 500.000 -1.000.000. Biaya yang
ditabung per DALY berkisar antara US$ 10 ­ 12013.
Fortifikasi Rumah (Keluarga)
Hasil penelitian mengenai fortifikasi rumah atau keluarga yang
terutama ditujukan pada balita memberi harapan baik terutama
di negara berkembang dengan pendapatan rendah, angka
kematian bayi tinggi, anemia dan diare. Diperkirakan biaya
tahunan per kematian yang dicegah adalah sebesar US $ 406
dan per DALY sebesar US $ 12-2014. Karena efek suplementasi
besi pada anemia berdampak pada kenaikan fungsi kognitif,
perolehan pendapatan dari setiap dolar pada program inter-
vensi multiple micro-nutrient powder atau fortifikasi rumah di-
perkirakan sebesar US $ 3715.
Tabel 3. Data Efektivitas Biaya Untuk Sejumlah Intervensi Mikro-
nutrien
PENUTUP
Kualitas kehidupan setiap manusia ditentukan sejak dini oleh
gizi. Tanpa tercukupinya mikronutrien vital baik melalui diet,
fortifikasi maupun suplementasi, seorang individu akan men-
derita sepanjang hidupnya.
Dengan 2 milyar orang yang menderita defisiensi mikronu-
trien, terdapat kebutuhan yang amat besar. Walaupun banyak
kasus defisiensi dan merupakan tantangan besar, terdapat
solusi yang efektif dari segi biaya. Untuk mencapai Millenium
Development Goals 2015, diperlukan visi strategis untuk ber-
investasi. Tersedianya dana serta komitmen yang kuat di-
dukung kemitraan, akan memperluas pencapaian intervensi
mikronutrien.
Daftar Rujukan
1. Sanghvi T, Ross J, Heymann H. Why is reducing vitamin and mineral deficiencies
critical for development? Food and Nutrition Bull. 2007. 28.p.167
2. Whitcher JP, Srinivasan M, Upadhyay MP. Corneal Blindness : a global perspective, Bull WHO.
2001; 79 (3): 217
3. UNICEF. The Micronutrient Initiative, Vitamin and Mineral Deficiency: a global progress report,
Ottawa.
2004.p.20
4. Copenhagen Consensus. The world's best investment: Vitamin for undernourished children,
according to top economists, including 5 nobel Laureates, Press Release, 30 May 2008
5. Micronutrient Initiative, Vitamin A: the scope of the problem, MI, Ottawa
(www.Micronutrient.org)
6. Horton S et al. Best practice paper. Micronutrient's supplements for child survival (vitamin A
and Zinc), Copenhagen Consensus Center, Copenhagen, 2008, p. 14
7. Cauffield LE et al. Stunting, wasting, and micronutrient deficiency disorder. In: Jamison DT et
al. Disease control priorities in developing countries, 2nd ed. Washington DC, World Bank,
2006
p.561
8. Fiedler JL. The cost of child health days: a case study of Ethiopias enhanced outreach
strategies. Washington DC, 2007.
9. Robberstad BT et al. Cost effectiveness of Zinc as adjunct therapy for acute childhood
diarrhea in developing countries. WHO Bull. 2004;82(7):523-31
10. Horton S, Alderman H, Rivera JA, Copenhagen Consensus 2008 Challenge Paper: Hunger
and Malnutrition, Copenhagen Consensus Center, Copenhagen, May 2008. pp. 32-33
11. Centers for Diseases Control. Trends in Wheat flour fortification with folic acid and iron
worldwide,
2004-2007.
12. Baltussen R, Knai C, Mona S, Iron fortification and iron supplementation are cost effective
interventions to reduce iron deficiency in four subregions of the world. J. Nutr. 2004;134(10):
2678-84
13. Horton S, Alderman H, Rivera JA, Copenhagen Consensus 2008 Challenge Paper: Hunger
and Malnutrition, Copenhagen Consensus Center, Copenhagen, May 2008, P 32-33
14. Horton S, Mannar V, Wesley A, Best practises paper: Food fortification, September 2008, in
press.
p.21
15. Meenakshi JV et al. How cost-effective is biofortification in combating micronutrient
malnutrition? An exante assessment. 2007. Harvestplus working. Paper no 2, Washington DC