background image
344
T
I
n
j
A
u
A
n
P
u
S
T
A
K
A
|
a g u s t u s 2 0 0 9
345
T
I
n
j
A
u
A
n
P
u
S
T
A
K
A
|
a g u s t u s 2 0 0 9
Bakteri
C.jejuni
EPEC
EIEC
S.boydii
S.sonnei
C.albicans
C.parapsilosis
C.tropicalis
.....(tulisan tdk jelas)
Jamur
Parasit
.....(tulisan tdk jelas)
C.parvum
C.lambia
Tabel 1.Etiologi diare kronik pada pasien AIDS
Bakteri
Virus
Protozoa
Salmonella
Rotavirus
Criptosporidium
Escherichia coli
Norovirus
Microsporidium
Clostridium perfringens
Isospora
Staphylococcus aureus
Cyclospora
Aeromonas hydrophylia
Giardia lamblia
Bacillus cereus
Entamoeba hystolitica
Vibrio cholera
Campylobacter
Shigella
Clostridium difficile
Yersinia
Vibrio parahaemolyticus
Enteroinvasive E.coli
Plesiomonas shigelloides
Klebsiella oxytica
H
IV pada anak khas ditandai
dengan adanya disfungsi usus
berupa diare, malabsorbsi
besi, steatore, insufisiensi
pankreas,malabsorbsi laktosa, berkurang-
nya absorbsi usus,kebocoran protein mela-
lui usus dan permeabilitas usus yang men-
ingkat.
Biasanya disertai penyakit penyerta
yaitu gizi buruk tipe marasmik ( 80%),
TB Paru (30%), Pneumonia pneumosis-
tis jiroveci /PCP (10%), dan diare kronik
(55%). Diare kronik pada anak dengan
HIV sebagian besar terjadi karena infeksi
usus, sedangkan pada 15-46% kasus diare
kronik anak dengan AIDS tidak ditemukan
patogen penyebab.
Diare adalah bertambahnya frekuensi
defekasi lebih dari biasanya (> 3 kali da-
Diare pada HIV
Zn DIAR
Dr. Yuly
Rs Karya Husada Cikampek
Diagram 2 Enteropatogen penyebab diare
pada 100 sampel tinja anak dengan AIDS
lam 24 jam) disertai perubahan konsistensi
tinja dengan / tanpa darah dan/ atau lendir.
Berdasarkan lamanya diare dibedakan
menjadi dua yaitu diare akut dan kronik.
Diare akut (acute watery diarrhoea)
didefinisikan sebagai buang air besar (de-
fekasi) > 3 kali dalam 24 jam dengan kon-
sistensi cair dan berlangsung < 1 minggu.
Dapat terjadi pada anak dengan infeksi
HIV simtomatik. Diare akut umumnya
disebabkan oleh infeksi virus (40-60%),
hanya 10% disebabkan oleh infeksi bakteri
yang rentan terhadap antibiotika. Penyebab
lain adalah infeksi parenteral, salah makan,
malabsorbsi, kadang oleh faktor kejiwaan.
Diare kronik adalah diare yang ber-
langsung > 14 hari. Umumnya terjadi pada
anak terinfeksi HIV. Terbanyak pada usia
1-5 tahun (80%).
background image
346
T
I
n
j
A
u
A
n
P
u
S
T
A
K
A
|
a g u s t u s 2 0 0 9
347
T
I
n
j
A
u
A
n
P
u
S
T
A
K
A
|
a g u s t u s 2 0 0 9
Pemeriksaan penunjang
Tahap 1
Uji Tinja
Kultur bakteri dan deteksi virus
Pemeriksaan telur dan parasit
Uji toksin C.difficile
Pemeriksaan Cryptosporidia
Breath hydrogen test
Tahap 2
Sigmoidoskopi dan biopsi
Mikroskop : Mycobacteria, CMV, Cryptos-
poridia
Kultur : Mycobacteria
Tahap 3
Endoskopi dan kolonoskopi
Mikroskop : Mycobacteria, CMV, Cryp-
tosporidia
Kultur : Mycobacteria
Mikroskop elektron dan diagnostik mo le-
kular
Tata laksana
1. Pemberian cairan dan elektrolit
Tanpa dehidrasi : cairan rumah tangga
·
dan Asi diberikan semaunya,oralit
diberikan sesuai usia setiap kali buang
air besar dengan dosis :
< 1tahun : 50-100 ml
1-5 tahun : 100-200 ml
>5 tahun : semaunya
Dehidrasi ringan-sedang : rehidrasi
·
dengan oralit 75 ml/kgbb. dalam 3 jam
pertama dilanjutkan dengan pemberi-
an oralit sesuai kehilangan cairan yang
sedang berlangsung sesuai umur sep-
erti diatas setiap kali buang air besar
Dehidrasi berat: Rehidrasi parenteral
·
dengan cairan RL/RingAs 100 ml/
kgbb.
Cara pemberian :
- <1tahun : 30 ml/kgbb dalam 1
jam pertama dilanjutkan de-
ngan 70 ml/kgbb dalam 5 jam
berikutnya
- >1tahun : 30 ml/kgbb dalam
½ jam pertama dilanjutkan
de ngan 70 ml/kgbb dalam 2½
jam berikutnya
- Berikan minum jika anak su-
dah mau minum : 5 ml/kgbb
selama proses rehidrasi
2. Pemberian nutrisi
Nilai gizi seimbang,cukup karbohidrat,
·
protein,vitamin dan mineral
Bebas laktosa
·
Rendah lemak,rendah serat
·
Pemberian ASI diteruskan
·
Diberikan dalam porsi kecil tetapi de-
·
ngan frekuensi yang sering ±6x/hari
3. Terapi spesifik
Salmonella : Ampisilin, Amoksisilin,
·
TMP-SMX, Cefotaxim, Ceftriaxon
Shigella : Ampisilin, Amoksisilin,
·
TMP-SMX, Cefotaxim, Ceftriaxon,
Cefixim, Ciprofloxacin,
Ofloxcacin
·
Campylobacter : Eritromisin, Cipro-
·
floxacin
Mycobacterium avium complex: Klari-
·
tromisin + Etambutol + Rifabutin
Mycobacterium tuberculosis : Terapi
·
standar untuk tuberkulosis
Yersinia enterocolica : TMP-SMX
·
Giardia lamblia : Metronidazol
·
E.hystolitica : Metronidazol
·
C.difficile : Spiramisin, metronidazol,
·
vankomisin
C.parvum : Paromomisin
·
Microsporidia : Albendazol
·
Cytomegalovirus : Terapi suportif,
·
Gansiklovir (mahal)
Rotavirus : Terapi suportif, Hyperim-
·
mune bovine colostrum
Ket : Ciprofloxacin tidak dapat diberi-
·
kan pada bayi dan anak < 5 tahun,
Rifabutin tidak tersedia di kawasan
Asia Tenggara
4. Terapi lain
Mikronutrien : vitamin A,B12,Asam
·
folat, Zinc, Fe untuk regenerasi mu-
kosa dan fungsi imunologis
Probiotik
·
n
Pedoman tatalaksana infeksi HIV dan terapi retroviral pada anak di Indonesia. Dalam: Kurniati N,penyunting. Jakarta:Depkes RI;2008.
1.
Pusponegoro H, Hadinegoro SR, Firmanda D dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Ed.1.Jakarta;IDAI 2005,h 49-52
2.
Wilcox CM, Wanke CA. Evaluation of the HIV-infected patient with diarrhea. Diunduh dari:htttp://www.update.com/online/content/topic
3.
Ball C. Diarrhea in patient with AIDS .AIDS Read.2002:12:380-8
4.
Greenberg PD,Cello JP.Treatment of severe diarrhea caused by C.parvum with oral bovine immunoglobulin concetrate in patient with AIDS. J AIDS.Hum.
5.
Retrovirol.1996;13 :348-54
Rossit ARB, Almeida MTG, Nogueira CAM, Oliveira JDC, Barbosa D, Moscardini A,dkk.Bacterial,yeast,parasitic and viral enteropathogens in HIV-infected children
6.
from Sao Paolo State. Southern Brazil.Diag.Microbiol.Inf.Dis.2007;57 :59-66
Guarino A, Bruzzese E, Marco GD, Buccigrossi V. Management of gastrointestinal disorders in children with HIV infection. Pediatr Drugs.2004;6 :347-62
7.
FAO/WHO. Joint Working Group Guidelines for Probiotic in food.Http//www.who.int/foodsafety/fs_management/en/probiotic_guidelines,pdf.
8.
Daftar Pustaka
ETIOLOGI
Leptospirosis disebabkan bakteri pato-
gen berbentuk spiral genus Leptospira, fami-
li leptospiraceae dan ordo spirochaetales.
Spiroseta berbentuk bergulung-gulung ti-
pis, motil, obligat, dan berkembang pelan
anaerob. Genus Leptospira terdiri dari 2
spesies yaitu L interrogans yang patogen
dan L biflexa bersifat saprofitik.
Berdasarkan temuan DNA dapat di-
identifikasi 7 species patogen pada lebih
250 varian serologi (serovars). Leptospira
dapat menginfeksi sekurangnya 160 spe-
sies mamalia di antaranya tikus, babi, an-
jing, kucing, rakun, lembu, dan mamalia
lainnya. Hewan peliharaan yang paling
berisiko adalah kambing dan sapi. Resevoar
utamanya di seluruh dunia adalah bina-
tang pengerat dan tikus. Di Amerika yang
paling utama adalah anjing, ternak, tikus,
binatang buas dan kucing. Berberapa sero-
var dikaitkan dengan beberapa binatang,
L pomona and L interrogans terdapat pada
lembu dan babi, L grippotyphosa pada lem-
bu, domba, kambing, dan tikus, L ballum
dan L icterohaemorrhagiae sering dikait-
kan dengan tikus dan L canicola dikaitkan
dengan anjing. Beberapa serotipe penting
lainnya adalah L.autumnalis, L.hebdomidis,
dan L.australis.
Penularan penyakit ini bisa melalui tikus,
babi, sapi, kambing, kuda, anjing, serangga,
burung, landak, kelelawar dan tupai.
EPIDEMIOLOGI
Dikenal pertamakali sebagai penyakit
occupational pada beberapa pekerja pada
tahun 1883. Pada tahun 1886 Weil meng-
ungkapkan manifestasi klinis 4 penderita
penyakit kuning berat, disertai demam,
perdarahan dan gangguan ginjal. Sedang-
kan Inada mengidentifikasikan penyakit
ini di Jepang pada tahun 1916.
Penyakit ini dapat menyerang semua
usia, sebagian besar 10-39 tahun, pada
laki-laki usia pertengahan; mungkin usia
adalah faktor risiko. Angka kejadian pe-
nyakit tergantung musim. Di negara tropis
sebagian besar saat musim hujan, di negara
barat terjadi saat akhir musim panas atau
awal musim gugur karena tanah lembab
dan alkalis.
Angka kejadian penyakit Leptospira
sebenarnya sulit diketahui. Kasus leptos-
pirosis umumnya
underdiagnosed, unre-
ported dan underreported karena beberapa
kasus asimtomatis atau bergejala ringan,
self limited, salah diagnosis dan nonfatal.
Di Amerika Serikat (AS) tercatat 50 sam-
pai 150 kasus leptospirosis setiap tahun.
Sekitar 50% terjadi di Hawaii. Di Indonesia
penyakit demam banjir sudah sering dila-
porkan di daerah Jawa Tengah seperti Kla-
ten, Demak atau Boyolali. Beberapa tahun
terakhir juga dilaporkan di daerah banjir
seperti Jakarta dan Tangerang. Bakteri lep-
tospira juga banyak berkembang biak di
daerah pesisir pasang surut seperti Riau,
Jambi dan Kalimantan.
Angka kematian akibat leptospirosis
tergolong tinggi, mencapai 5-40%. In-
feksi ringan diperkirakan pada 90% kasus.
Anak balita, orang lanjut usia dan pende-
rita immunocompromised berrisiko kema-
tian tinggi. Pada usia di atas 50 tahun, ri-
siko kematiannya bisa mencapai 56%. Pada
penderita ikterus yang sudah mengalami
kerusakan hati, risiko kematiannya lebih
tinggi.
Paparan pekerjaan diperkirakan pada
30-50% kasus. Kelompok berisiko utama
adalah para pekerja pertanian, peternakan,
penjual binatang, bidang agrikultur, ru-
mah jagal, tukang ledeng, buruh tambang
batubara, militer, tukang susu, dan tukang
jahit. Ancaman juga bagi yang mempunyai
hobi aktivitas di danau atau sungai, seper-
ti berenang atau rafting dan kegiatan yang
berhubungan dengan air yang tercemar.
Berkemah dan bepergian ke daerah ende-
mik, berkendara roda dua melalui genang-
an juga menambah risiko.
PATOFISIOLOGI DAN
PATOGENESIS
Di Indonesia, penularan paling sering
melalui tikus. Air kencing tikus terbawa ban-
jir kemudian masuk ke tubuh manusia me-
lalui permukaan kulit yang terluka, selaput
lendir mata dan hidung. Bisa juga melalui
makanan atau minuman yang terkontamina-
si urine tikus yang terinfeksi leptospira.
Sejauh ini tikus merupakan reservoir
dan sekaligus penyebar utama leptospirosis.
Beberapa hewan lain seperti sapi, kambing,
domba, kuda, babi, anjing dapat terserang
leptospirosis, tetapi potensi menularkan ke
manusia tidak sebesar tikus. Leptospirosis
tidak menular langsung dari pasien ke pa-
sien. Masa inkubasi leptospirosis 2 - 26 hari.
Sekali berada di aliran darah, bakteri ini bisa
menyebar ke seluruh tubuh dan mengaki-
batkan gangguan khususnya hati dan ginjal.
Di ginjal kuman akan migrasi ke inter-
stitium, tubulus renal, dan tubular lumen
menyebabkan nefritis interstitial dan nek-
rosis tubular. Gagal ginjal biasanya karena
kerusakan tubulus, hipovolemia karena
dehidrasi dan peningkatan permeabilitas
kapiler. Gangguan hati berupa nekrosis
sentrilobular dengan proliferasi sel Kupffer
menyebabkan ikterus.
Leptospira juga dapat menginvasi otot
skeletal menyebabkan edema, vakuolisasi
miofibril, dan nekrosis fokal. Gangguan
sirkulasi mikro muskular dan peningkatan
Leptospirosis pada Manusia
Widodo Judarwanto
allergy Behaviour Clinic, Picky Eaters Clinic (Klinik Kesulitan Makan) Rumah sakit Bunda, Jakarta, Indonesia
PENDAHULUAN
Salah satu penyakit yang dapat terjadi paska banjir adalah leptospirosis. Penyakit menular ini adalah penyakit hewan yang dapat
menjangkiti manusia; termasuk penyakit zoonosis yang paling sering di dunia. Leptospirosis juga dikenal dengan nama flood
fever atau demam banjir karena memang muncul karena banjir. Di beberapa negara leptospirosis dikenal dengan nama demam
icterohemorrhagic, demam lumpur, penyakit Stuttgart, penyakit Weil, demam canicola, penyakit swineherd, demam rawa atau
demam lumpur.