TINJAUAN PUSTAKA
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
186
PENDAHULUAN
Amlodipin adalah antagonis kalsium (calcium antagonist = CA)
dari kelas dihidropiridin (DHP) dengan masa kerja yang panjang,
sehingga dapat diberikan sekali sehari untuk pengobatan hipertensi
dan angina pektoris. Obat ini disintesis oleh Pusat Riset Pfizer.
FARMAKODINAMIK
Sebagai CA, amlodipin menghambat masuknya ion kalsium
melalui kanal kalsium pada membran sel otot dan sel saraf. Ada 2
macam kanal kalsium, yakni VOC (voltage-operated channel)
yang terbuka oleh depolarisasi, dan ROC (receptor-operated channel)
yang terbuka oleh norepinefrin atau neurotransmiter lainnya
tanpa depolarisasi. VOC ada 3 jenis, yakni kanal N (neuronal), T
(transient) dan L (long-lasting). Hanya kanal L (terdapat di otak,
jantung, otot polos, dan otot rangka) yang sensitif terhadap CA.
1-3
Untuk kontraksi, otot jantung memerlukan ion kalsium yang
masuk dari luar di samping ion kalsium intrasel, otot polos ber-
gantung hampir seluruhnya pada ion kalsium ekstrasel, sedangkan
otot rangka tidak memerlukan ion kalsium ekstrasel; karena itu
CA menghambat kontraksi otot polos dan otot jantung, tetapi
tidak menghambat kontraksi otot rangka. Di antara otot polos,
yang paling sensitif adalah otot polos vaskular koroner dan
skeletal, kurang pada otot polos vaskular ginjal, dan bervariasi
pada otot polos vaskular otak. Efek CA lemah dan bervariasi dalam
menghambat otot polos vaskular kulit, otot polos bronkus, dan
otot polos esophagus dan usus.
1
, CA jauh lebih aktif dalam
menyebabkan dilatasi arteriol daripada dilatasi vena.
1
Pada jantung, ion kalsium ekstrasel juga diperlukan untuk pem-
bentukan impuls SA dan AV. CA kelas DHP, bersifat vasku-
loselektif, artinya aktivitas hambatannya terhadap kontraksi otot
polos vaskular lebih besar dibanding hambatannya terhadap
kontraksi otot jantung maupun terhadap konduksi AV dan
denyut jantung. Amlodipin, sebagai CA golongan DHP generasi
baru menunjukkan efek vaskuloselektivitas yang lebih tinggi
dibanding CA generasi lama.
6,7
Sifat vaskuloselektif golongan
DHP ini, membawa keuntungan pada pengobatan hipertensi
dan angina karena menurunkan tahanan tepi maupun serangan
angina tanpa efek samping pada jantung dan relatif aman dalam
kombinasi dengan ß-bloker. Di samping itu, pada gangguan
fungsi jantung juga lebih aman; amlodipin dapat diberikan pada
gagal jantung derajat ringan sampai sedang.
8-10
FARMAKOKINETIK
Amlodipin lambat diabsorpsi (kadar puncak dicapai dalam waktu
6-9 jam) dan tidak lengkap dari saluran cerna, karena sifat basa
amlodipin relatif kuat sehingga sebagian besar amlodipin dalam
bentuk ion di sepanjang saluran cerna. Dengan hanya sedikit me-
ngalami eliminasi lintas pertama, maka bioavailabilitas amlodipin
cukup tinggi, bahkan tertinggi di antara berbagai CA (60-65%).
11
Amlodipin terdistribusi luas dalam tubuh, dengan volume distribusi
15-25 L/kg (rata-rata 21 L/kg). Ikatan dengan plasma protein
kuat (92-98%), tetapi tidak ada interaksi pergeseran protein
dengan obat asam seperti warfarin, fenitoin, dan sebagainya,
karena amlodipin sebagai basa lemah berikatan dengan protein
plasma yang berbeda.
11,12
Amlodipin mengalami metabolisme hepatik yang ekstensif tapi
lambat sehingga waktu paruh eliminasinya panjang (35-48 jam)
dan masa kerjanya lama sehingga dapat diberikan dengan dosis
sekali sehari untuk mengontrol tekanan darah dan iskemia
miokard selama 24 jam.
13,14
Dalam 24 jam, fluktuasi kadar
terendah (C
min
= trough conc.) terhadap kadar puncak (C
max
=
peak conc.) atau rasio T/P untuk amlodipin yang mempunyai t
1
/
2
rata-rata 40 jam adalah 0,66.
15
Dalam JNC VI (Pedoman Pengobatan Hipertensi dari Amerika
Serikat) tahun 1997 disebutkan bahwa formulasi obat antihiper-
tensi yang optimal haruslah memberikan efikasi selama 24 jam
dengan dosis sekali sehari, dengan minimal 50% dari efek puncak
masih tinggal pada akhir 24 jam
16
, dengan kata lain dalam 24
jam rasio T/P harus minimal 50%, dan amlodipin memenuhi
kriteria tersebut. Dalam JNC VI juga disebutkan bahwa obat
antihipertensi dengan masa kerja lebih dari 24 jam adalah
menarik karena banyak pasien secara tidak sengaja lupa minum
obat paling sedikit 1 dosis setiap minggunya. Amlodipin karena
waktu paruhnya antara 1
1
/
2
- 2 hari, maka jika lupa minum 1 dosis,
penurunan tekanan darahnya masih bertahan sampai 48 jam
setelah pemberian obat.
17,18
Akan tetapi kedua pernyataan dari
JNC VI tersebut tidak lagi muncul dalam JNC VII tahun 2003.
19
Amlodipin mencapai steady-state setelah 7-10 hari dengan dosis
sekali sehari, dengan kadar plasma pada steady-state sekitar 3
kali lebih tinggi dari kadarnya setelah sekali pemberian (rasio
akumulasi sekitar 3).
15
Amlodipin:
Farmakologi dan Penggunaan Terapi
pada Penyakit Kardiovaskular
Arini Setiawati
Departemen Farmakologi & Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta - Indonesia
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
187
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
188
TINJAUAN PUSTAKA
Hasilnya: TD yang dicapai rata-rata (SD) 128/78 (12/8) mm Hg di
kelompok TD yang lebih rendah dan 141/85 (12/7) mm Hg di
kelompok TD biasa. Penurunan GFR rata-rata dari nilai awal
setelah 4 tahun tidak berbeda bermakna antara kelompok TD
yang lebih rendah (-2,21 mL/min/1,73 m
2
per tahun) dan TD
biasa (-1,95 mL/min/1,73 m
2
per tahun; p=0,24). Penurunan
GFR antar kelompok obat tidak berbeda bermakna. Dalam hal
penurunan risiko outcome klinik gabungan, kelompok ramipril
22% lebih baik dibanding kelompok metoprolol dan 38% lebih
baik dibanding kelompok amlodipin, dan tidak ada perbedaan
bermakna antara amlodipin dan metoprolol.
· VALUE
35
Uji klinik acak, tersamar ganda, membandingkan valsartan vs amlo-
dipin dalam menurunkan gabungan mortalitas dan morbiditas
jantung pada pasien hipertensi dengan risiko kardiovaskular tinggi,
umur > 50 tahun, yang diberikan selama rata-rata 4,2 tahun.
Kelompok valsartan 80-160 mg/hari (n=7.649) vs amlodipin
5-10 mg/hari (n=7.596), dan antihipertensi lain bila perlu.
Hasilnya: Penurunan TD 1,5/1,3 mm Hg lebih rendah dengan amlo-
dipin. Gabungan mortalitas dan morbiditas pada kelompok
valsartan 10,6% (25,5 per 1.000 pasien-tahun) dan pada kelompok
amlodipin 10,4% (24,7 per 1.000 pasien-tahun), rasio hazard
1,04 (95% CI 0,941,15, p=0,49).
· ASCOT BPLA
36
Uji klinik acak, berpembanding plasebo, untuk membandingkan
efek amlodipin + perindopril jika perlu, versus atenolol + bendro-
flumetiazid jika perlu terhadap infark miokard nonfatal dan
penyakit jantung koroner fatal pada pasien hipertensi dengan
risiko sedang (misalnya DM 27%) tanpa penyakit jantung sebe-
lumnya. Kelompok amlodipin (5/10 mg sehari) + perindopril (4/8 mg
sehari) (n=9.639) vs kelompok atenolol (50/100 mg sehari) +
bendroflumetiazid (12,5/25 mg sehari) (n=9.618).
Hasilnya: Uji klinik dihentikan dini setelah median 5,5 tahun karena
kematian semua sebab 7,7% pada kelompok amlodipin vs 8,5%
pada kelompok atenolol, infark miokard nonfatal + penyakit
jantung koroner fatal 4% vs 4,6% dengan penurunan TD dengan
amlodipin 2,7/1,9 mm Hg lebih rendah dibanding dengan atenolol.
· ACCOMPLISH
37
Uji klinik acak, tersamar ganda, pada pasien hipertensi dengan
risiko tinggi untuk kejadian kardiovaskular untuk membandingkan
benazepril + amlodipin vs benazepril + HCT. Endpoint primer
adalah gabungan kejadian kardiovaskular. Kelompok benazepril
+ amlodipin (n=5.744) dan kelompok benazepril + HCT (n=5.762)
diobati selama 36 bulan.
Hasilnya: Tekanan darah pada kelompok benazepril + amlodipin
131,6/73,3 mmHg dan pada kelompok benazepril + HCT 132,5/
74,4 mmHg. Kejadian kardiovaskular primer pada kelompok
benazepril + amlodipin 9,6% dan pada kelompok benazepril +
HCT 11,8%, penurunan risiko absolut 2,2% atau penurunan risiko
relatif 19,6% (rasio hazard 0,8; 95% CI 0,72-0,90; p<0,001).
2. Angina pektoris
· CAPE
26
Uji klinik acak, tersamar ganda, untuk menilai efek anti-iskemik
amlodipin dengan pembanding plasebo pada 250 pasien dengan
angina stabil kronik dengan alokasi 2:1. Dosis amlodipin awal 5
mg sekali sehari selama 4 minggu, ditingkatkan menjadi 10 mg
sekali sehari selama 4 minggu lagi (65% pasien sudah mendapat
ß-bloker dengan dosis yang dipertahankan). Amlodipin menurunkan
episode depresi segmen ST 60% vs plasebo 44% (p=0,025).
Serangan angina berkurang dengan amlodipin 69% vs plasebo
41% (p=0,0001) dan konsumsi nitrogliserin turun dengan amlo-
dipin 67% vs plasebo 18% (p=0,0002).
· CAPE II
38
Uji klinik acak, tersamar ganda, pada pasien angina stabil kronik
dengan episode iskemik > 4 atau depresi segmen ST > 20 menit
pada EKG 72 jam, diberi amlodipin 10 mg sekali sehari atau
diltiazem XL 300 mg sekali sehari selama 14 minggu. Selanjut-
nya, atenolol 100 mg ditambahkan pada amlodipin dan isosor-
bid 5-mononitrat 100 mg ditambahkan pada diltiazem. Ambu-
latory monitoring (72 jam) dan exercise diulang sesudah kedua
fase, pada pengobatan dan sesudah 24 jam bebas obat.
Hasilnya: Monoterapi dengan amlodipin dan diltiazem XL efektif
terhadap gejala iskemia, iskemia pada ambulatory dan iskemia
akibat exercise. Terapi kombinasi mengurangi iskemia lebih
lanjut, dengan amlodipin/atenolol superior dibanding diltiazem
XL/isosorbid 5-mononitrat. Amlodipin/atenolol superior secara
bermakna selama interval bebas obat dalam mempertahankan
pengurangan iskemia.
3. Aterosklerosis
· CAPARES
39
Uji klinik acak, tersamar ganda, pada 635 pasien yang menjalani
PTCA. Amlodipin 10 mg atau plasebo mulai diberikan 2 minggu
sebelum PTCA dan dilanjutkan sampai 4 bulan setelah PTCA.
Endpoint angiografik primer adalah berkurangnya diameter
lumen minimal (MLD) dari sejak PTCA sampai follow-up, diukur
dengan angiografi koroner kuantitatif (QCA). Endpoint klinik
adalah kematian, infark miokard, bedah pintas koroner dan
PTCA ulang.
Hasilnya: Berkurangnya MLD tidak beda antara amlodipin dan
plasebo (0,30 vs 0,29 mm). Kebutuhan PTCA ulang amlodipin
vs plasebo = 3,1% vs 7,3% (p=0,02), risiko relatif = 0,45 (95%
CI 0,22-0,91). Kejadian klinik gabungan 9,4% vs 14,5% (p=0,049);
RR 0,65 (CI=0,430,99).
· PREVENT
40
Uji klinik acak, tersamar ganda, amlodipin 10 mg (n=417) vs
plasebo (n=408) selama 36 bulan pada pasien dengan penyakit
arteri koroner yang terbukti secara angiografik. MLD awal 30%,
berkurang dengan amlodipin vs plasebo 0,084 vs 0,095 mm
(p=0,38). Dengan ultrasonografi ketebalan intima-media (IMT)
diukur, dan amlodipin menurunkan IMT 0,0126 mm, sedangkan
Ada 16 metabolit (semuanya tidak aktif) dikeluarkan dalam urin dan
feses, sedangkan ekskresi bentuk utuh dalam urin < 10%. Karena
itu waktu paruh tidak berubah pada gangguan fungsi ginjal, tetapi
memanjang pada sirosis hati dan pada orang tua.
11,12
Tidak ada
laporan mengenai interaksi farmakokinetik obat yang bermakna.
20
PENGGUNAAN TERAPI
Indikasi amlodipin adalah hipertensi esensial, angina pektoris
stabil, dan angina vasospastik. Kontraindikasinya adalah hiper-
sensitif terhadap derivat dihidropiridin dan kehamilan, serta
hati-hati pada pasien dengan penyakit nodus SA, dan stenosis
aorta. Cara pemberiannya oral dengan dosis awal 5 mg sekali
sehari dan dosis ditingkatkan sampai maksimal 10 mg sekali
sehari tergantung pada respon terapi.
12
INDIKASI
1. Hipertensi esensial
Mekanisme kerja antihipertensi amlodipin berdasarkan vasodila-
tasi arterial perifer sehingga menurunkan resistensi perifer.
Amlodipin telah terbukti efektif sebagai monoterapi dalam
pengobatan hipertensi.
21
Tekanan darah (TD) turun tanpa
perubahan denyut jantung. Dengan amlodipin 10 mg sekali
sehari, TD sistolik turun 15-30 mm Hg dan TD diastolik turun
10-20 mm Hg. Dalam kombinasi dengan diuretik tiazid, efek
aditif hanya sedikit.
22
Dalam kombinasi dengan lisinopril, efek
aditifnya besar, dan pasien kulit hitam yang biasanya kurang
responsif dengan penghambat ACE dibanding pasien kulit putih,
memberikan respon yang sama terhadap kombinasi ini.
23
2. Angina pektoris stabil
Mekanisme kerja antiangina amlodipin berdasarkan pengurangan
beban hilir (akibat penurunan resistensi perifer) dan vasodilatasi
koroner. Amlodipin monoterapi telah terbukti efektif untuk
pengobatan angina pektoris stabil dalam berbagai uji klinik dengan
pembanding plasebo, diltiazem dan nadolol. Dibandingkan plasebo,
amlodipin sekali sehari memperpanjang durasi exercise dan me-
ningkatkan beban kerja, mengurangi jumlah serangan angina dan
konsumsi gliseril trinitrat, serta mengurangi iskemia miokard
yang terbukti secara EKG.
25-27
Amlodipin 5-10 mg sekali sehari
menunjukkan aktivitas antiangina yang sebanding dengan
diltiazem 3 kali sehari maupun nadolol sekali sehari.
28
Dalam
kombinasi dengan ß-bloker dan nitrat kerja lama memberikan
efek antiangina yang aditif tanpa meningkatkan efek samping.
24
3. Angina vasospastik (Angina variant atau Prinzmetal)
Mekanisme kerja amlodipin untuk indikasi ini adalah vasodilatasi
arteri koroner. Amlodipin terbukti efektif mengurangi serangan
angina dan frekuensi elevasi atau depresi segmen ST pada
pemantauan EKG Holter pada uji klinik dengan pasien angina
variant.
29,30
EFEK SAMPING
Absorpsi amlodipin yang lambat menyebabkan kadarnya dalam
plasma lambat meningkat, sehingga mula kerjanya lambat.
Akibatnya, terjadi vasodilatasi gradual menyebabkan efek samping
akibat vasodilatasi akut berkurang, seperti nyeri kepala, muka
merah, dan pusing. Penurunan TD yang perlahan mengurangi
terjadinya refleks baroreseptor seperti takikardia dan palpitasi,
sedangkan edema perifer hanya berkurang sedikit.
31
Edema perifer (5-10%), muka merah (2-5%), rasa capai (4,6%),
hipertrofi gusi dan ginekomastia adalah efek samping amlodipin,
yang lebih sering terjadi pada dosis 10 mg atau lebih.
12
Edema
oleh CA tidak dapat dikurangi dengan diuretik, tetapi reversibel
jika dosis diturunkan atau obat dihentikan.
12
UJI KLINIK yang besar/menonjol (Mega/Landmark trials)
1. Hipertensi
· TOMHS
32
Uji klinik acak, tersamar ganda berpembanding plasebo, mem-
bandingkan 5 obat antihipertensi untuk pengobatan hipertensi
ringan selama 4,4 tahun. Kelompok plasebo (n=234), klortalidon
(n=136), asebutolol (n=132), doxazosin (n=134), amlodipin
(n=131), dan enalapril (n=135).
Hasilnya: tidak ada perbedaan bermakna antara amlodipin 5 mg
sekali sehari dengan antihipertensi yang lain dalam meregresi
massa ventrikel kiri, kadar lipid darah dan outcome klinik.
· ALLHAT
33
Uji klinik acak, tersamar ganda, berpembanding zat aktif (klorta-
lidon), membandingkan 3 antihipertensi pada pasien hipertensi
risiko tinggi (minimal 1 faktor risiko penyakit jantung koroner
lain), umur 55 tahun atau lebih selama rata-rata (SD) 4,9 tahun
(1,4 tahun). Kelompok klortalidon 12,5-25 mg/hari (n=15.255),
amlodipin 2,5-10 mg/hari (n= 9.048) dan lisinopril 10-40 mg/hari
(n=9.054). Outcome primer adalah gabungan penyakit jantung
koroner fatal atau infark miokard nonfatal.
Hasilnya: outcome primer terjadi pada 2.956 pasien dan tidak
ada perbedaan antara ke-3 obat. Dibandingkan dengan klortali-
don (kejadian 6 tahun, 11,5%), risiko relatif (RR) 0,98 (95% CI,
0,90-1,07) untuk amlodipin (kejadian 6 tahun, 11,3%) dan 0,99
(95% CI 0,91-1,08) untuk lisinopril (kejadian 6 tahun, 11,4%).
· AASK
34
Uji klinik pada 1.094 pasien Amerika berkulit hitam umur 18-70
tahun dengan penyakit ginjal hipertensi (GFR = 20-65 mL/
min/1,73 m
2
) yang dibagi secara acak untuk mencapai 2 tujuan
tekanan darah rata-rata, 102-107 mm Hg (biasa; n=554) atau <
92 mm Hg (lebih rendah; n=540), dan untuk mendapatkan terapi
awal dengan ß-bloker (metoprolol 50 - 200 mg/hari; n=441),
penghambat ACE (ramipril 2,5-10 mg/hari; n=436) atau CA DHP
(amlodipin 5-10 mg/hari; n=217). Outcome utama adalah kecepatan
perubahan filtrasi glomerulus (slope GFR); outcome klinik adalah
gabungan penurunan GFR > 50% dari nilai awal (atau > 25 mL/
min/1,73 m
2
), penyakit ginjal tahap akhir, atau kematian. Tiga
perbandingan pengobatan utama: TD biasa vs TD lebih rendah;
ramipril vs metoprolol; dan amlodipin vs metoprolol.
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
187
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
188
TINJAUAN PUSTAKA
Hasilnya: TD yang dicapai rata-rata (SD) 128/78 (12/8) mm Hg di
kelompok TD yang lebih rendah dan 141/85 (12/7) mm Hg di
kelompok TD biasa. Penurunan GFR rata-rata dari nilai awal
setelah 4 tahun tidak berbeda bermakna antara kelompok TD
yang lebih rendah (-2,21 mL/min/1,73 m
2
per tahun) dan TD
biasa (-1,95 mL/min/1,73 m
2
per tahun; p=0,24). Penurunan
GFR antar kelompok obat tidak berbeda bermakna. Dalam hal
penurunan risiko outcome klinik gabungan, kelompok ramipril
22% lebih baik dibanding kelompok metoprolol dan 38% lebih
baik dibanding kelompok amlodipin, dan tidak ada perbedaan
bermakna antara amlodipin dan metoprolol.
· VALUE
35
Uji klinik acak, tersamar ganda, membandingkan valsartan vs amlo-
dipin dalam menurunkan gabungan mortalitas dan morbiditas
jantung pada pasien hipertensi dengan risiko kardiovaskular tinggi,
umur > 50 tahun, yang diberikan selama rata-rata 4,2 tahun.
Kelompok valsartan 80-160 mg/hari (n=7.649) vs amlodipin
5-10 mg/hari (n=7.596), dan antihipertensi lain bila perlu.
Hasilnya: Penurunan TD 1,5/1,3 mm Hg lebih rendah dengan amlo-
dipin. Gabungan mortalitas dan morbiditas pada kelompok
valsartan 10,6% (25,5 per 1.000 pasien-tahun) dan pada kelompok
amlodipin 10,4% (24,7 per 1.000 pasien-tahun), rasio hazard
1,04 (95% CI 0,941,15, p=0,49).
· ASCOT BPLA
36
Uji klinik acak, berpembanding plasebo, untuk membandingkan
efek amlodipin + perindopril jika perlu, versus atenolol + bendro-
flumetiazid jika perlu terhadap infark miokard nonfatal dan
penyakit jantung koroner fatal pada pasien hipertensi dengan
risiko sedang (misalnya DM 27%) tanpa penyakit jantung sebe-
lumnya. Kelompok amlodipin (5/10 mg sehari) + perindopril (4/8 mg
sehari) (n=9.639) vs kelompok atenolol (50/100 mg sehari) +
bendroflumetiazid (12,5/25 mg sehari) (n=9.618).
Hasilnya: Uji klinik dihentikan dini setelah median 5,5 tahun karena
kematian semua sebab 7,7% pada kelompok amlodipin vs 8,5%
pada kelompok atenolol, infark miokard nonfatal + penyakit
jantung koroner fatal 4% vs 4,6% dengan penurunan TD dengan
amlodipin 2,7/1,9 mm Hg lebih rendah dibanding dengan atenolol.
· ACCOMPLISH
37
Uji klinik acak, tersamar ganda, pada pasien hipertensi dengan
risiko tinggi untuk kejadian kardiovaskular untuk membandingkan
benazepril + amlodipin vs benazepril + HCT. Endpoint primer
adalah gabungan kejadian kardiovaskular. Kelompok benazepril
+ amlodipin (n=5.744) dan kelompok benazepril + HCT (n=5.762)
diobati selama 36 bulan.
Hasilnya: Tekanan darah pada kelompok benazepril + amlodipin
131,6/73,3 mmHg dan pada kelompok benazepril + HCT 132,5/
74,4 mmHg. Kejadian kardiovaskular primer pada kelompok
benazepril + amlodipin 9,6% dan pada kelompok benazepril +
HCT 11,8%, penurunan risiko absolut 2,2% atau penurunan risiko
relatif 19,6% (rasio hazard 0,8; 95% CI 0,72-0,90; p<0,001).
2. Angina pektoris
· CAPE
26
Uji klinik acak, tersamar ganda, untuk menilai efek anti-iskemik
amlodipin dengan pembanding plasebo pada 250 pasien dengan
angina stabil kronik dengan alokasi 2:1. Dosis amlodipin awal 5
mg sekali sehari selama 4 minggu, ditingkatkan menjadi 10 mg
sekali sehari selama 4 minggu lagi (65% pasien sudah mendapat
ß-bloker dengan dosis yang dipertahankan). Amlodipin menurunkan
episode depresi segmen ST 60% vs plasebo 44% (p=0,025).
Serangan angina berkurang dengan amlodipin 69% vs plasebo
41% (p=0,0001) dan konsumsi nitrogliserin turun dengan amlo-
dipin 67% vs plasebo 18% (p=0,0002).
· CAPE II
38
Uji klinik acak, tersamar ganda, pada pasien angina stabil kronik
dengan episode iskemik > 4 atau depresi segmen ST > 20 menit
pada EKG 72 jam, diberi amlodipin 10 mg sekali sehari atau
diltiazem XL 300 mg sekali sehari selama 14 minggu. Selanjut-
nya, atenolol 100 mg ditambahkan pada amlodipin dan isosor-
bid 5-mononitrat 100 mg ditambahkan pada diltiazem. Ambu-
latory monitoring (72 jam) dan exercise diulang sesudah kedua
fase, pada pengobatan dan sesudah 24 jam bebas obat.
Hasilnya: Monoterapi dengan amlodipin dan diltiazem XL efektif
terhadap gejala iskemia, iskemia pada ambulatory dan iskemia
akibat exercise. Terapi kombinasi mengurangi iskemia lebih
lanjut, dengan amlodipin/atenolol superior dibanding diltiazem
XL/isosorbid 5-mononitrat. Amlodipin/atenolol superior secara
bermakna selama interval bebas obat dalam mempertahankan
pengurangan iskemia.
3. Aterosklerosis
· CAPARES
39
Uji klinik acak, tersamar ganda, pada 635 pasien yang menjalani
PTCA. Amlodipin 10 mg atau plasebo mulai diberikan 2 minggu
sebelum PTCA dan dilanjutkan sampai 4 bulan setelah PTCA.
Endpoint angiografik primer adalah berkurangnya diameter
lumen minimal (MLD) dari sejak PTCA sampai follow-up, diukur
dengan angiografi koroner kuantitatif (QCA). Endpoint klinik
adalah kematian, infark miokard, bedah pintas koroner dan
PTCA ulang.
Hasilnya: Berkurangnya MLD tidak beda antara amlodipin dan
plasebo (0,30 vs 0,29 mm). Kebutuhan PTCA ulang amlodipin
vs plasebo = 3,1% vs 7,3% (p=0,02), risiko relatif = 0,45 (95%
CI 0,22-0,91). Kejadian klinik gabungan 9,4% vs 14,5% (p=0,049);
RR 0,65 (CI=0,430,99).
· PREVENT
40
Uji klinik acak, tersamar ganda, amlodipin 10 mg (n=417) vs
plasebo (n=408) selama 36 bulan pada pasien dengan penyakit
arteri koroner yang terbukti secara angiografik. MLD awal 30%,
berkurang dengan amlodipin vs plasebo 0,084 vs 0,095 mm
(p=0,38). Dengan ultrasonografi ketebalan intima-media (IMT)
diukur, dan amlodipin menurunkan IMT 0,0126 mm, sedangkan
Ada 16 metabolit (semuanya tidak aktif) dikeluarkan dalam urin dan
feses, sedangkan ekskresi bentuk utuh dalam urin < 10%. Karena
itu waktu paruh tidak berubah pada gangguan fungsi ginjal, tetapi
memanjang pada sirosis hati dan pada orang tua.
11,12
Tidak ada
laporan mengenai interaksi farmakokinetik obat yang bermakna.
20
PENGGUNAAN TERAPI
Indikasi amlodipin adalah hipertensi esensial, angina pektoris
stabil, dan angina vasospastik. Kontraindikasinya adalah hiper-
sensitif terhadap derivat dihidropiridin dan kehamilan, serta
hati-hati pada pasien dengan penyakit nodus SA, dan stenosis
aorta. Cara pemberiannya oral dengan dosis awal 5 mg sekali
sehari dan dosis ditingkatkan sampai maksimal 10 mg sekali
sehari tergantung pada respon terapi.
12
INDIKASI
1. Hipertensi esensial
Mekanisme kerja antihipertensi amlodipin berdasarkan vasodila-
tasi arterial perifer sehingga menurunkan resistensi perifer.
Amlodipin telah terbukti efektif sebagai monoterapi dalam
pengobatan hipertensi.
21
Tekanan darah (TD) turun tanpa
perubahan denyut jantung. Dengan amlodipin 10 mg sekali
sehari, TD sistolik turun 15-30 mm Hg dan TD diastolik turun
10-20 mm Hg. Dalam kombinasi dengan diuretik tiazid, efek
aditif hanya sedikit.
22
Dalam kombinasi dengan lisinopril, efek
aditifnya besar, dan pasien kulit hitam yang biasanya kurang
responsif dengan penghambat ACE dibanding pasien kulit putih,
memberikan respon yang sama terhadap kombinasi ini.
23
2. Angina pektoris stabil
Mekanisme kerja antiangina amlodipin berdasarkan pengurangan
beban hilir (akibat penurunan resistensi perifer) dan vasodilatasi
koroner. Amlodipin monoterapi telah terbukti efektif untuk
pengobatan angina pektoris stabil dalam berbagai uji klinik dengan
pembanding plasebo, diltiazem dan nadolol. Dibandingkan plasebo,
amlodipin sekali sehari memperpanjang durasi exercise dan me-
ningkatkan beban kerja, mengurangi jumlah serangan angina dan
konsumsi gliseril trinitrat, serta mengurangi iskemia miokard
yang terbukti secara EKG.
25-27
Amlodipin 5-10 mg sekali sehari
menunjukkan aktivitas antiangina yang sebanding dengan
diltiazem 3 kali sehari maupun nadolol sekali sehari.
28
Dalam
kombinasi dengan ß-bloker dan nitrat kerja lama memberikan
efek antiangina yang aditif tanpa meningkatkan efek samping.
24
3. Angina vasospastik (Angina variant atau Prinzmetal)
Mekanisme kerja amlodipin untuk indikasi ini adalah vasodilatasi
arteri koroner. Amlodipin terbukti efektif mengurangi serangan
angina dan frekuensi elevasi atau depresi segmen ST pada
pemantauan EKG Holter pada uji klinik dengan pasien angina
variant.
29,30
EFEK SAMPING
Absorpsi amlodipin yang lambat menyebabkan kadarnya dalam
plasma lambat meningkat, sehingga mula kerjanya lambat.
Akibatnya, terjadi vasodilatasi gradual menyebabkan efek samping
akibat vasodilatasi akut berkurang, seperti nyeri kepala, muka
merah, dan pusing. Penurunan TD yang perlahan mengurangi
terjadinya refleks baroreseptor seperti takikardia dan palpitasi,
sedangkan edema perifer hanya berkurang sedikit.
31
Edema perifer (5-10%), muka merah (2-5%), rasa capai (4,6%),
hipertrofi gusi dan ginekomastia adalah efek samping amlodipin,
yang lebih sering terjadi pada dosis 10 mg atau lebih.
12
Edema
oleh CA tidak dapat dikurangi dengan diuretik, tetapi reversibel
jika dosis diturunkan atau obat dihentikan.
12
UJI KLINIK yang besar/menonjol (Mega/Landmark trials)
1. Hipertensi
· TOMHS
32
Uji klinik acak, tersamar ganda berpembanding plasebo, mem-
bandingkan 5 obat antihipertensi untuk pengobatan hipertensi
ringan selama 4,4 tahun. Kelompok plasebo (n=234), klortalidon
(n=136), asebutolol (n=132), doxazosin (n=134), amlodipin
(n=131), dan enalapril (n=135).
Hasilnya: tidak ada perbedaan bermakna antara amlodipin 5 mg
sekali sehari dengan antihipertensi yang lain dalam meregresi
massa ventrikel kiri, kadar lipid darah dan outcome klinik.
· ALLHAT
33
Uji klinik acak, tersamar ganda, berpembanding zat aktif (klorta-
lidon), membandingkan 3 antihipertensi pada pasien hipertensi
risiko tinggi (minimal 1 faktor risiko penyakit jantung koroner
lain), umur 55 tahun atau lebih selama rata-rata (SD) 4,9 tahun
(1,4 tahun). Kelompok klortalidon 12,5-25 mg/hari (n=15.255),
amlodipin 2,5-10 mg/hari (n= 9.048) dan lisinopril 10-40 mg/hari
(n=9.054). Outcome primer adalah gabungan penyakit jantung
koroner fatal atau infark miokard nonfatal.
Hasilnya: outcome primer terjadi pada 2.956 pasien dan tidak
ada perbedaan antara ke-3 obat. Dibandingkan dengan klortali-
don (kejadian 6 tahun, 11,5%), risiko relatif (RR) 0,98 (95% CI,
0,90-1,07) untuk amlodipin (kejadian 6 tahun, 11,3%) dan 0,99
(95% CI 0,91-1,08) untuk lisinopril (kejadian 6 tahun, 11,4%).
· AASK
34
Uji klinik pada 1.094 pasien Amerika berkulit hitam umur 18-70
tahun dengan penyakit ginjal hipertensi (GFR = 20-65 mL/
min/1,73 m
2
) yang dibagi secara acak untuk mencapai 2 tujuan
tekanan darah rata-rata, 102-107 mm Hg (biasa; n=554) atau <
92 mm Hg (lebih rendah; n=540), dan untuk mendapatkan terapi
awal dengan ß-bloker (metoprolol 50 - 200 mg/hari; n=441),
penghambat ACE (ramipril 2,5-10 mg/hari; n=436) atau CA DHP
(amlodipin 5-10 mg/hari; n=217). Outcome utama adalah kecepatan
perubahan filtrasi glomerulus (slope GFR); outcome klinik adalah
gabungan penurunan GFR > 50% dari nilai awal (atau > 25 mL/
min/1,73 m
2
), penyakit ginjal tahap akhir, atau kematian. Tiga
perbandingan pengobatan utama: TD biasa vs TD lebih rendah;
ramipril vs metoprolol; dan amlodipin vs metoprolol.
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
189
TINJAUAN PUSTAKA
plasebo meningkatkan IMT 0,033 mm (p=0,007). Kematian semua
sebab dan kejadian kardiovaskular yang mayor tidak berbeda
bermakna antara amlodipin dan plasebo, tetapi amlodipin me-
nyebabkan lebih sedikit angina tidak stabil (4,8%/tahun vs 6,9%
/tahun) dan revaskularisasi koroner (4,2%/tahun vs 7,0%/tahun;
p<0,001).
· CAMELOT
41
Uji klinik acak, tersamar ganda selama 24 bulan membanding-
kan amlodipin 10 mg dengan enalapril 20 mg dan plasebo pada
1.991 pasien dengan penyakit arteri koroner yang terbukti
secara angiografik koroner (>20% stenosis) dan TD diastolik
<100 mm Hg. Parameter efikasi primer adalah insidens kejadian
kardiovaskular untuk amlodipin vs plasebo.
Hasilnya: TD awal 129/78 mm Hg untuk semua pasien, turun 4,8/2,5
mmHg dengan amlodipin, 4,9/2,4 mm Hg dengan enalapril,
naik 0,7/0,6 mm Hg dengan plasebo (p<0,001 untuk kedua obat vs
plasebo). Kejadian kardiovaskular 23,1% pada kelompok plasebo,
16,6% pada kelompok amlodipin (rasio hazard = 0,69; 95% CI =
0,54-0,88; p=0,003) dan 20,2% pada kelompok enalapril (rasio
hazard = 0,85; 95% CI = 0,67-1,07; p=0,16).
· NORMALISE
41
Substudi dari CAMELOT pada 274 pasien yang diukur progresi
aterosklerosisnya dengan ultrasound intravaskular (IVUS).
Hasilnya: Progresi aterosklerosis pada kelompok amlodipin
cenderung menurun vs plasebo (p=0,12). Dibandingkan dengan
nilai awal, IVUS menunjukkan progresi di kelompok plasebo
(1,3%; p<0,001), kecenderungan progresi pada kelompok
enalapril (0,8%; p=0,08) dan tidak ada progresi di kelompok
amlodipin (0,5%; p=0,31). Untuk kelompok amlodipin, hubungan
antara penurunan TD dengan progresi adalah r=0,19 (p=0,07).
DAFTAR PUSTAKA
1. Struyker-Boudier HAJ, Smith JFM, De Mey JGR. The pharmacology of calcium
antagonists: a review. J Cardiovasc Pharmacol. 1990; 15(Suppl 4):S1-S10.
2. Schwartz A. Calcium antagonists: review and perspective on mechanism of action.
Am J Cardiol. 1989; 64:3I-9I.
3. Triggle DJ. Calcium channel drugs: structure-function relationships and selectivity of
action. J Cardiovasc Pharmacol. 1991; 18(Suppl 10):S1-S6.
4. American Medical Assoc. Division of Drugs and Toxicology. Drug Evaluations Annual
1993. Ch 23. Calcium channel blocking drugs. Chicago: AMA; 1993. p.529-45.
5. Barnes PJ. Clinical studies with calcium antagonists in asthma. Br J Clin Pharmacol.
1985; 20: 289S-298S.
6. Ljung B. Vascular selectivity of felodipine. Drugs. 1985; 29(Suppl 2):46-58.
7. Matlib MA, French JF, Grupp IL, Van Gorp C, Grupp G, Schwarz A. Vasodilatory
actions of amlodipine on rat aorta, pig coronary artery, human coronary artery, and on
isolated Langendorff rat heart preparations. J Cardivasc Pharmacol. 1988; 12(Suppl
7):S50-S54.
8. Packer M. Treatment of chronic heart failure. Lancet 1992; 340:92-5.
9. Packer M, Nicod P, Khandheria BR, et.al. Randomized, multicenter, double-blind,
placebo-controlled evaluation of amlodipine in patients with mild-to-moderate heart
failure. J Am Coll Cardiol. 1991; 17:274A.
10. Terland O. treatment of chronic heart failure (Letter). Lancet 1992;340:670-1.
11. Murdoch D, Heel RC. Amlodipine: a review of its pharmacodynamic and pharmacoki-
netic properties, and therapeutic use in cardiovascular disease. Drugs. 1991;
41(3):478-505.
12. Amlodipine (besylate). In: Dollery C, editor. Therapeutic Drugs. 2nd ed. Edinburgh:
Churchill
Livingstone;
1999.
13. Kaplan NM. Amlodipine in the treatment of hypertension. Postgrad Med J. 1991;
67(Suppl
5):
S15-S19.
14. Taylor SH. A review of amlodipine in myocard ischemia. Postgrad Med J. 1991;
67(Suppl
5):S48S51.
15. Setiawati A. Pharmakokinetik antagonis kalsium dan relevansi kliniknya. Medika.
1994;
20(No.12):49-55.
16. The Sixth Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation,
and Treatment of High Blood Pressure. Arch Intern Med. 1997; 157:2413-46.
17. Mroczek WJ, Burris JF, Allenby KS. A double-blind evaluation of the effect of amlodi-
pine on ambulatory blood pressure in hypertensive patients. J Cardiovasc Pharmacol.
1988; 12(Suppl 7): S79-S84.
18. Meredith P. Predictable pharmacokinetics of amlodipine. Presented at XIVth Congress
of the European Society of Cardiology, Barcelona, 1992.
19. Chobanian AV, Bakris GL, Black HR, Cushman WC, Green LA, Izzo JL, et al, and the
National High Blood Pressure Education Program Coordinating Committee. The
Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation,
and Treatment of High Blood Pressure JAMA. 2003; 289(19):2560-72.
20. Meredith PA, Elliott HL. Clinical pharmacokinetics of amlodipine. Clin Pharmacokinet.
1992;
22(1):22-31.
21. Julius S. Amlodipine in hypertension: an overview of the clinical dossier. J Cardiovasc
Pharmacol. 1998; 12(Suppl 7):S27-S33.
22. Cappuccio FP, Markandu ND, Singer DR, Buckley MG, Miller MA, Sagnella GA, et al.
A double-blind crossover study of the effect of concomitant diuretic therapy in
hypertensive patients treated with amlodipine. Am J Hypert. 1991; 4(4, pt 1):297-302.
23. Cappuccio FP, Markandu ND, Singer DR, MacGregor GA. Amlodipine and lisinopril in
combination for the treatment of essential hypertension: efficacy and predictors of
response. J Hypert. 1993; 11:839-47.
24. Pfizer Central Research. Data on file.
25. Ezekowitz MD, Hossack K, Mehta JL, Pool PE, Singh JB, Pasternak RC. Amlodipine in
chronic stable angina: results of a multicenter double-blind crossover trial. Am Heart J.
1995;
129:527-35.
26. Deanfield JE, Detry J-M RG, Lichtlen PR, Magnani B, Sellier P, Thaulow E. Amlodipine
reduces transient myocardial inchemia in patients with coronary artery disease:
double-blind Circadian Anti-ischemia Program in Europe (CAPE trial). JACC 1994;
24:1460-7.
27. Deedwania PC Cheitlin MD, Das SK, Pool PE, Singh JB, Pasternak RC. Amlodipine once
a day in stable angina: double-blind crossover comparison with placebo. Clin Cardiol.
1993;
16:599-602.
29. Chahine RA, Feldman RL, Giles TD, Nicod P, Raizner AE, Weiss RJ, et al. Randomized
placebo-controlled trial of amlodipine in vasospastic angina. Amlodipine Study 160
Group. JACC 1993; 21:1365-70.
28. Mulcahy D, Purcell H, Sparrow J, et al. Effects of amlodipine versus diltiazem on
morning peak in myocardial ischemic activity in angina pectoris. Am J Cardiol. 1993;
72:1203-6.
30. Watanabe K, Izumi T, Miyakita Y, et al. Efficacy of amlodipine besylate therapy for
variant angina: evaluation by 24-hour Holter monitoring. Cardiovasc Drugs Ther.
1993;
7:923-8.
31. Bremmer AD, Fell PJ, Hosie J, James IGV, Saul PA, Taylor SH. Early side-effects of
antihypertensive therapy: comparison of amlodipine and nifedipine retard. J Hum
Hypert. 1993; 7:79-81.
32. Neaton JD, Grimm RH Jr, Prineas RJ, Stamler J, Grandits GA, Elmer PJ, et al, for the
Treatment of Mild Hypertension Study Research Group. Treatment of mild hypertension
study: final results. JAMA 1993; 270:713-24.
33. The Antihypertensive and Lipid-Lowering Treatment to Prevent Heart Attack Trial
(ALLHAT) Officers and Coordinators for the ALLHAT Collaborative Research Group.
Major outcomes in high risk hypertensive patients randomized to angiotension-
converting enzyme inhibitor or calcium channel blocker vs diuretic. JAMA 2002;
288:2981-97.
34. Wright JT Jr, Bakris G, Green T, Agodoa LY, Appel LJ, Charleston J.Effect of blood
pressure lowering and antihypertensive drug class on progression of hypertensive
kidney disease: results from the AASK trial. JAMA 2002; 288:2421-31.
35. Julius S, Kjeldsen S, Weber M, Brunner HR, Ekman S, Hansson L, et al, for the VALUE
trial group. Outcomes in hypertensive patients at high cardiovascular risk treated with
regimens based on valsartan or amlodipine: VALUE randomized trial. Lancet 2004;
363:2022-31.
36. Dahlof B, Sever PS, Pouller NR, et al, for the ASCOT investigators. Prevention of
cardiovascular events with an antihypertensive regimen of amlodipine adding
perindopril as required versus atenolol adding bendroflumethiazide as required in the
Anglo-Scandinavian Cardiac Outcomes Trial Blood Pressure Lowering Arm (ASCOT-
BPLA): a multicentre randomized controlled trial. Lancet 2005; 366:895-906.
37. Jamerson K, Weber MA, Bakris GL, Dahlof B, Pitt B, Shi V, et al, for the ACCOMPLISH
trial investigators. Benazepril plus amlodipine or hydrochlorothiazide for hypertension
in high-risk patients. NEJM 2008; 359:2417-28.
38. Deanfield JE, Detry J-M, Sellier P, Lichtlen PR, Thaulow E, Bultas J, et al, CAPE II Trial
Investigators. Medical treatment of myocardial ischemia in coronary artery disease:
effect of drug regime and irregular dosing in the CAPE II trial. JACC 2002; 40:917-25.
39. Jorgensen B, Smonsen S, Endresen K, Forfang K, Vatne K, Hansen J, et al. Restenosis
and clinical outcome in patients treated with amlodipine after angioplasty: results from
the coronary angioplasty amlodipine restenosis study (CAPARES). JACC 2000; 35:592-9.
40. Pitt B, Byington RP, Furberg CD, Hunninghake DB, Mancini J, Miller ME, et al, for the
PREVENT Investigators. Effect of amlodipine on the progression of atherosclerosis and
the occurrence of clinical events. Circulation 2000; 102:1503-10.
41. Nissen SE, Tuzcu EM, Libby P, Thompson PD, Ghali M, Garza D, et al, for the CAMELOT
investigators. Effect of antihypertensive agents on cardiovascular events in patients
with coronary disease and normal blood pressure. The CAMELOT study: a randomized
controlled trial. JAMA 2004; 292:2217-26.