background image
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
PENDAHULUAN
Membaiknya pelayanan kesehatan dan pesatnya kemajuan di
bidang kedokteran membuat usia harapan hidup makin tinggi.
Namun di sisi lain muncul berbagai keluhan baru yang umumnya
terkait dengan usia lanjut, termasuk ARMD (age related macular
degeneration) atau sering pula disebut dengan AMD (age macular
degeneration). Survai kesehatan indera penglihatan dan pendengaran
(1993-1996) menunjukkan angka kebutaan 1,5%. Kebutaan terkait
usia lanjut menyumbang 0,38 %, lebih rendah dibanding katarak
0,78%
1
, namun katarak dapat direhabilitasi dengan tindakan
operasi sedangkan untuk ARMD sampai saat ini belum ada tindakan
yang menjanjikan. WHO (2003) memperkirakan 8 juta orang
mengalami kebutaan karena ARMD.
2
Hal ini merupakan bencana
sosial dan ekonomi bagi penderita dan keluarganya karena produk-
tivitas yang menurun.
ARMD adalah penyakit mata yang menyerang polus posterior
retina tepatnya daerah makula, sering terjadi pada usia lebih dari
50 tahun.
3,4
Saat ini ARMD merupakan penyebab kebutaan
utama di negara maju. Awal ARMD ditandai dengan terbentuknya
drusen yang tampak sebagai lesi kekuningan yang terletak di
lapisan retina luar di polus posterior. ARMD mempunyai 2 bentuk
klinis yaitu ARMD non neovaskular (non eksudatif) dan neovaskular
(eksudatif).
3,5
Bentuk non neovaskular lebih sering ditemui, meru-
pakan 90% dari semua kasus ARMD.
6,7
Bentuk neovaskular
hanya kurang dari 10%
6
, tetapi 85% menyebabkan gangguan
penglihatan berat.
3,8
Akhir-akhir ini klasifikasi ARMD dilakukan menurut kelompok
peneliti Age-Related Eye Disease Study (AREDS) berdasarkan
ukuran drusen. Ukuran drusen dapat diperkirakan dengan mem-
bandingkannya dengan kaliber vena besar di sekitar papil yaitu
kurang lebih 125 mikron.
1. ARMD dini: terdapat banyak drusen kecil ( Æ <63 ±), disertai
beberapa drusen sedang (Æ 63-124±), atau kelainan epitel
pigmen retina (EPR),
2. ARMD menengah: terdapat sangat banyak drusen sedang dan
paling
sedikit
terdapat satu drusen besar (Æ > 125 ±), atau
atrofi geografikan yang tidak melibatkan sentral fovea,
3. ARMD lanjut: adanya satu atau lebih tanda berikut:
i. atrofi geografikan EPR dan koriokapiler yang melibatkan
sentral
fovea,
ii. makulopati neovaskular seperti neo-vaskularisasi koroid,
hemorrhagic detachment retina sensoris atau EPR, eksudat
lemak, proliferasi fibrovaskular subretina dan sikatrik disiformis.
7
Gejala ARMD awalnya terjadi pada satu mata, sehingga penderita
sering mengabaikannya. Mereka baru menyadari ketika mata yang
satunya lagi juga mengalami hal yang sama. Keluhan yang sering
dirasakan berupa menurunnya tajam penglihatan, menurunnya
sensitifitas kontras, adanya daerah yang lebih buram di bagian
lapang pandang sentral (skotoma sentral) dan bila penderita melihat
garis lurus, akan terlihat melengkung.
5
Penyebab ARMD belum diketahui pasti, tetapi sering dihubung-
kan dengan faktor risiko usia, jenis kelamin, ras, genetik, riwayat
keluarga, hipertensi, kebiasaan merokok dan nutrisi.
5,6,7
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik klinik
penderita ARMD yang berobat ke Rumah Sakit Mata Cicendo
Bandung pada periode Juli-November 2004.
METODOLOGI
Penelitian bersifat observasional prospektif atas penderita ARMD
yang datang berobat ke bagian retina Rumah Sakit Mata Cicendo.
Penilaian ARMD dilakukan berdasarkan pemeriksaan klinis dengan
funduskopi tidak langsung memakai lensa +20 D setelah pupil
dilebarkan dengan tetes mata tropikamid 1%, dan lensa +90 D
dengan memakai biomikroskop di kamar gelap.
Stadium klinik ARMD diklasifikasikan sesuai dengan Age-Related
Eye Disease Study (AREDS). Analisis data dilakukan dengan meng-
gunakan metode statistik deskriptif terhadap seluruh variabel yang
diamati.
HASIL
Dari bulan Juli 2004 sampai dengan November 2004 diperoleh
99 penderita ARMD yang berobat ke unit retina RS Mata Cicendo.
Karakteristik sampel penelitian
Tabel 1 menyajikan data karakteristik demografi ARMD.
Pada umumnya responden yang berobat ke rumah sakit adalah
perempuan (54,5 %). Umur termuda 50 tahun dan tertua 85
tahun, rerata umur 68,9 tahun; terbanyak pada kelompok umur
70-79 tahun (39,4%) dan paling sedikit pada kelompok umur
80-89 tahun (10,1%). Pendidikan responden sebagian besar
Sekolah Dasar (SD) atau setingkat (40,4%). Kebanyakan ibu rumah
tangga (tidak bekerja) 36,4%.
28
Karakteristik Klinik Penderita ARMD
di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung
Erry
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem & Kebijakan Kesehatan,
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departeman Kesehatan RI, Jakarta, Indonesia
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
29
Tabel 3. Klasifikasi Penderita ARMD RS Mata Cicendo berdasarkan umur
dan jenis kelamin 1 Juli 2004 - 30 November 2004
ARMD stadium lanjut dibagi dalam 2 bentuk yaitu: neovaskular
dan non neovaskular.
Bentuk neovaskular lebih banyak (38,4%) dibandingkan dengan
bentuk non neovaskular (7,07%).
Tabel 4. ARMD stadium lanjut berdasarkan umur dan jenis kelamin yang
berobat ke RS Mata Cicendo 1 Juli 2004 - 30 November 2004
Penderita ARMD dibagi 3 kelompok yaitu: stadium awal, mene-
ngah dan lanjut. Setiap stadium dibagi menurut umur dan jenis
kelamin. Stadium lanjut yang terbanyak (45,5%) dan pada
kelompok umur 70-79 tahun (19,19%) dengan jenis kelamin
perempuan 13,1%. Sedangkan stadium dini hanya 25,3%.
Klasifikasi ARMD dikelompokkan berdasarkan perbedaan ke dua
mata yaitu mata kanan dan kiri. Dari 198 mata, stadium awal
lebih banyak di mata kanan (37,4%). Dan stadium lanjut bentuk
neovaskular lebih banyak di mata kiri (44,3%). Di dua mata kiri
belum terjadi ARMD.(Tabel 5)
Tabel 5. Stadia ARMD Pasien yang Berobat ke RS Mata Cicendo periode 1
Juli 2004 - 30 November 2004
Tabel 1. Karakteristik penderita ARMD yang Berobat ke RS Mata Cicendo
1 Juli 2004 - 30 November 2004
Pola Penderita ARMD
Seluruh (100%) penderita ARMD mengeluh penglihatannya
buram; keluhan metamorphopsia dengan skotoma hanya 11%.
Keluhan penderita tergantung dari stadium ARMD.
Tabel 2. Keluhan Penderita ARMD yang Berobat ke RS Mata Cicendo
1 Juli 2004 - 30 November 2004
Variabel
Jumlah (n = 99
Persentase (%)
Jenis Kelamin
Laki-laki
45
45,4
Perempuan
54
54,5
Umur (tahun)
50 59
12
12,1
60 69
38
38,4
70 79
39
39,4
80 89
10
10,1
Pendidikan
SD
40
40,4
SMP
19
19,2
SMA
19
19,2
Sarjana
1
1,0
Tidak Sekolah
20
20,2
Pekerjaan
Pegawai Negeri Sipil
1
1,0
Wiraswasta
25
25,3
Petani
12
12,1
Pensiunan
25
25,3
Ibu Rumah Tangga
36
36,4
Keluhan
Jumlah mata (n=198)
Persentase(%)
Buram 198
100
Metamorphopsia 54
27,27
Skotoma 48
24,24
Metamorphopsia +
Skotoma 22
11,1
Buram + Metamorphopsia
+ Skotoma
124
62,62
Stadium awal
Stadium menengah
Stadium lanjut
Umur Laki-laki Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki Perempuan
(tahun)
n (%)
n (%
n (%)
n(%)
n (%)
n (%)
50-59
3 (3,03)
5 (5,05)
-
1 (1,01)
1 (1,01)
3 (3,03)
60-69
4 (4,04)
4 (4,04)
13 (13,13)
2 (2,02)
6 (6,06)
9 (9,09)
70-79
6 (6,06)
2 (2,02
5 (5,05)
6 (6,06)
6 (6,06)
13 (13,13)
80-89
1 (1,01)
-
-
2 (2,02)
2 (2,02)
5 (5,05)
Jumlah 14(14,14) 11(11,11)
18(18,18) 11(11,11)
15(15,15)
30(30,30)
Neovaskular Non neovaskular
Umur
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
(tahun)
n (%)
n (%
n (%)
n(%)
50-59
1 (1,01)
3 (3,03)
-
-
60-69
6 (6,06)
7 (7,07)
-
2(2,02)
70-79
5 (5,05)
13 (13,13)
1 (1,01)
-
80-89
1 (1,01)
2 (2,02)
1 (1,01)
3 (3,03)
Jumlah
13(13,13)
25(25,25)
2 (2,02)
5 (5,05)
Stadium
Mata Kanan
Mata Kiri
n (%)
n (%)
Awal
37 (37,37)
26 (26,80)
Menengah 22
(22,22) 21
(21,65)
Lanjut Neovaskular
35 (35,35)
43 (44,33)
Non neovaskular
5 (5,05)
7 (7,23)
Jumlah
99 (100%)
97 (100%)
background image
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
PENDAHULUAN
Membaiknya pelayanan kesehatan dan pesatnya kemajuan di
bidang kedokteran membuat usia harapan hidup makin tinggi.
Namun di sisi lain muncul berbagai keluhan baru yang umumnya
terkait dengan usia lanjut, termasuk ARMD (age related macular
degeneration) atau sering pula disebut dengan AMD (age macular
degeneration). Survai kesehatan indera penglihatan dan pendengaran
(1993-1996) menunjukkan angka kebutaan 1,5%. Kebutaan terkait
usia lanjut menyumbang 0,38 %, lebih rendah dibanding katarak
0,78%
1
, namun katarak dapat direhabilitasi dengan tindakan
operasi sedangkan untuk ARMD sampai saat ini belum ada tindakan
yang menjanjikan. WHO (2003) memperkirakan 8 juta orang
mengalami kebutaan karena ARMD.
2
Hal ini merupakan bencana
sosial dan ekonomi bagi penderita dan keluarganya karena produk-
tivitas yang menurun.
ARMD adalah penyakit mata yang menyerang polus posterior
retina tepatnya daerah makula, sering terjadi pada usia lebih dari
50 tahun.
3,4
Saat ini ARMD merupakan penyebab kebutaan
utama di negara maju. Awal ARMD ditandai dengan terbentuknya
drusen yang tampak sebagai lesi kekuningan yang terletak di
lapisan retina luar di polus posterior. ARMD mempunyai 2 bentuk
klinis yaitu ARMD non neovaskular (non eksudatif) dan neovaskular
(eksudatif).
3,5
Bentuk non neovaskular lebih sering ditemui, meru-
pakan 90% dari semua kasus ARMD.
6,7
Bentuk neovaskular
hanya kurang dari 10%
6
, tetapi 85% menyebabkan gangguan
penglihatan berat.
3,8
Akhir-akhir ini klasifikasi ARMD dilakukan menurut kelompok
peneliti Age-Related Eye Disease Study (AREDS) berdasarkan
ukuran drusen. Ukuran drusen dapat diperkirakan dengan mem-
bandingkannya dengan kaliber vena besar di sekitar papil yaitu
kurang lebih 125 mikron.
1. ARMD dini: terdapat banyak drusen kecil ( Æ <63 ±), disertai
beberapa drusen sedang (Æ 63-124±), atau kelainan epitel
pigmen retina (EPR),
2. ARMD menengah: terdapat sangat banyak drusen sedang dan
paling
sedikit
terdapat satu drusen besar (Æ > 125 ±), atau
atrofi geografikan yang tidak melibatkan sentral fovea,
3. ARMD lanjut: adanya satu atau lebih tanda berikut:
i. atrofi geografikan EPR dan koriokapiler yang melibatkan
sentral
fovea,
ii. makulopati neovaskular seperti neo-vaskularisasi koroid,
hemorrhagic detachment retina sensoris atau EPR, eksudat
lemak, proliferasi fibrovaskular subretina dan sikatrik disiformis.
7
Gejala ARMD awalnya terjadi pada satu mata, sehingga penderita
sering mengabaikannya. Mereka baru menyadari ketika mata yang
satunya lagi juga mengalami hal yang sama. Keluhan yang sering
dirasakan berupa menurunnya tajam penglihatan, menurunnya
sensitifitas kontras, adanya daerah yang lebih buram di bagian
lapang pandang sentral (skotoma sentral) dan bila penderita melihat
garis lurus, akan terlihat melengkung.
5
Penyebab ARMD belum diketahui pasti, tetapi sering dihubung-
kan dengan faktor risiko usia, jenis kelamin, ras, genetik, riwayat
keluarga, hipertensi, kebiasaan merokok dan nutrisi.
5,6,7
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik klinik
penderita ARMD yang berobat ke Rumah Sakit Mata Cicendo
Bandung pada periode Juli-November 2004.
METODOLOGI
Penelitian bersifat observasional prospektif atas penderita ARMD
yang datang berobat ke bagian retina Rumah Sakit Mata Cicendo.
Penilaian ARMD dilakukan berdasarkan pemeriksaan klinis dengan
funduskopi tidak langsung memakai lensa +20 D setelah pupil
dilebarkan dengan tetes mata tropikamid 1%, dan lensa +90 D
dengan memakai biomikroskop di kamar gelap.
Stadium klinik ARMD diklasifikasikan sesuai dengan Age-Related
Eye Disease Study (AREDS). Analisis data dilakukan dengan meng-
gunakan metode statistik deskriptif terhadap seluruh variabel yang
diamati.
HASIL
Dari bulan Juli 2004 sampai dengan November 2004 diperoleh
99 penderita ARMD yang berobat ke unit retina RS Mata Cicendo.
Karakteristik sampel penelitian
Tabel 1 menyajikan data karakteristik demografi ARMD.
Pada umumnya responden yang berobat ke rumah sakit adalah
perempuan (54,5 %). Umur termuda 50 tahun dan tertua 85
tahun, rerata umur 68,9 tahun; terbanyak pada kelompok umur
70-79 tahun (39,4%) dan paling sedikit pada kelompok umur
80-89 tahun (10,1%). Pendidikan responden sebagian besar
Sekolah Dasar (SD) atau setingkat (40,4%). Kebanyakan ibu rumah
tangga (tidak bekerja) 36,4%.
28
Karakteristik Klinik Penderita ARMD
di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung
Erry
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem & Kebijakan Kesehatan,
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departeman Kesehatan RI, Jakarta, Indonesia
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
29
Tabel 3. Klasifikasi Penderita ARMD RS Mata Cicendo berdasarkan umur
dan jenis kelamin 1 Juli 2004 - 30 November 2004
ARMD stadium lanjut dibagi dalam 2 bentuk yaitu: neovaskular
dan non neovaskular.
Bentuk neovaskular lebih banyak (38,4%) dibandingkan dengan
bentuk non neovaskular (7,07%).
Tabel 4. ARMD stadium lanjut berdasarkan umur dan jenis kelamin yang
berobat ke RS Mata Cicendo 1 Juli 2004 - 30 November 2004
Penderita ARMD dibagi 3 kelompok yaitu: stadium awal, mene-
ngah dan lanjut. Setiap stadium dibagi menurut umur dan jenis
kelamin. Stadium lanjut yang terbanyak (45,5%) dan pada
kelompok umur 70-79 tahun (19,19%) dengan jenis kelamin
perempuan 13,1%. Sedangkan stadium dini hanya 25,3%.
Klasifikasi ARMD dikelompokkan berdasarkan perbedaan ke dua
mata yaitu mata kanan dan kiri. Dari 198 mata, stadium awal
lebih banyak di mata kanan (37,4%). Dan stadium lanjut bentuk
neovaskular lebih banyak di mata kiri (44,3%). Di dua mata kiri
belum terjadi ARMD.(Tabel 5)
Tabel 5. Stadia ARMD Pasien yang Berobat ke RS Mata Cicendo periode 1
Juli 2004 - 30 November 2004
Tabel 1. Karakteristik penderita ARMD yang Berobat ke RS Mata Cicendo
1 Juli 2004 - 30 November 2004
Pola Penderita ARMD
Seluruh (100%) penderita ARMD mengeluh penglihatannya
buram; keluhan metamorphopsia dengan skotoma hanya 11%.
Keluhan penderita tergantung dari stadium ARMD.
Tabel 2. Keluhan Penderita ARMD yang Berobat ke RS Mata Cicendo
1 Juli 2004 - 30 November 2004
Variabel
Jumlah (n = 99
Persentase (%)
Jenis Kelamin
Laki-laki
45
45,4
Perempuan
54
54,5
Umur (tahun)
50 59
12
12,1
60 69
38
38,4
70 79
39
39,4
80 89
10
10,1
Pendidikan
SD
40
40,4
SMP
19
19,2
SMA
19
19,2
Sarjana
1
1,0
Tidak Sekolah
20
20,2
Pekerjaan
Pegawai Negeri Sipil
1
1,0
Wiraswasta
25
25,3
Petani
12
12,1
Pensiunan
25
25,3
Ibu Rumah Tangga
36
36,4
Keluhan
Jumlah mata (n=198)
Persentase(%)
Buram 198
100
Metamorphopsia 54
27,27
Skotoma 48
24,24
Metamorphopsia +
Skotoma 22
11,1
Buram + Metamorphopsia
+ Skotoma
124
62,62
Stadium awal
Stadium menengah
Stadium lanjut
Umur Laki-laki Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki Perempuan
(tahun)
n (%)
n (%
n (%)
n(%)
n (%)
n (%)
50-59
3 (3,03)
5 (5,05)
-
1 (1,01)
1 (1,01)
3 (3,03)
60-69
4 (4,04)
4 (4,04)
13 (13,13)
2 (2,02)
6 (6,06)
9 (9,09)
70-79
6 (6,06)
2 (2,02
5 (5,05)
6 (6,06)
6 (6,06)
13 (13,13)
80-89
1 (1,01)
-
-
2 (2,02)
2 (2,02)
5 (5,05)
Jumlah 14(14,14) 11(11,11)
18(18,18) 11(11,11)
15(15,15)
30(30,30)
Neovaskular Non neovaskular
Umur
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
(tahun)
n (%)
n (%
n (%)
n(%)
50-59
1 (1,01)
3 (3,03)
-
-
60-69
6 (6,06)
7 (7,07)
-
2(2,02)
70-79
5 (5,05)
13 (13,13)
1 (1,01)
-
80-89
1 (1,01)
2 (2,02)
1 (1,01)
3 (3,03)
Jumlah
13(13,13)
25(25,25)
2 (2,02)
5 (5,05)
Stadium
Mata Kanan
Mata Kiri
n (%)
n (%)
Awal
37 (37,37)
26 (26,80)
Menengah 22
(22,22) 21
(21,65)
Lanjut Neovaskular
35 (35,35)
43 (44,33)
Non neovaskular
5 (5,05)
7 (7,23)
Jumlah
99 (100%)
97 (100%)
background image
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
Dari seluruh penderita yang mengeluh buram, 74 mata (37,4%)
dapat terkoreksi dengan baik. Keluhan tergantung dari stadium
ARMD. Keluhan buram lebih mudah diungkapkan oleh respon-
den karena tingkat pendidikan yang rendah, padahal saat pe-
meriksaan dengan kartu Amsler ditemui distorsi garis lurus
(metamorfopsia) dan skotoma. Pada saat itu ARMD telah mema-
suki stadium lanjut bentuk neovaskular, sehingga harus cepat
ditangani.
Sebagian besar pasien datang pada stadium lanjut lebih karena
pada stadium awal dan menengah hampir tidak ada keluhan;
akan tetapi pada pemeriksaan fundus dengan 90 Dioptri ditemui
drusen dengan berbagai ukuran. ARMD stadium menengah ini
perlu segera ditangani karena 18% akan berkembang ke
stadium lanjut dalam waktu 5 tahun, meningkat sampai 26%
bila terdapat drusen besar bilateral.
7
Pada stadium lanjut tajam
penglihatan sentral menurun dengan cepat karena skotoma
sehingga akan terlihat bercak hitam pada setiap objek.
Berbeda dengan kepustakaan, pada penelitian ini bentuk ARMD
neovaskular lebih banyak dibanding dengan nonneovaskular. Hal
ini karena penelitian dilakukan di rumah sakit dan bentuk
neovaskular lebih sering menyebabkan penderita merasa tidak
nyaman dalam melakukan aktifitas sehari-hari akibat metamor-
fopsia dan skotoma sentral sehingga mereka mendatangi pusat
pelayanan mata. Walaupun bentuk nonneovaskular persentase-
nya lebih kecil, tetapi dapat menyebabkan kehilangan tajam
penglihatan sentral 12% sampai 21% tergantung besarnya lesi
makula, persentase ini lebih besar bila nonneovaskular berubah
menjadi neovaskular. Hal ini bisa terjadi bila ditemui soft drusen
besar, hiperpigmentasi makula dan disertai hipertensi sistemik.
Di antara kedua mata kanan dan kiri, 2 mata tidak terlihat adanya
drusen. Awal ARMD terjadi pada satu mata (dalam hal ini tidak
ada perbedaan sisi mata yang terkena) sehingga penderita
cenderung mengabaikannya dan baru menyadari saat mata
sebelahnya juga ikut terkena; berat ringannya ARMD sering tidak
sama antara kedua mata. Studi sebelumnya menemukan 26%
ARMD akan bilateral (2 mata) setelah lebih dari 5 tahun.
7
Gangguan penglihatan (WHO) terbagi atas: penglihatan rendah
jika tajam penglihatan dengan koreksi terbaik bisa mencapai <
6/18 atau 0,3; dan dikatakan buta jika tajam penglihatan < 3/60
atau 0,05.6. Masih banyak kasus dengan tajam penglihatan yang
baik karena drusen belum mencapai makula sentral, hal ini perlu
diwaspadai karena tajam penglihatan salah satu mata cenderung
lebih berat dari mata sebelahnya.
Tabel 7. Komplikasi pada Kasus ARMD yang Berobat ke RS Mata Cicendo
1 Juli 2004 - 30 November 2004
Dari 45 penderita ARMD stadium lanjut hanya 40% yang
menjalani tindakan (tabel 8). Tindakan yang dilakukan hanya
sebatas FFA 31,1% ; hanya 4,4% yang dilanjutkan dengan TTT.
Tabel 8. Tindakan atas kasus ARMD di RS Mata Cicendo 1 Juli 2004 - 30
November 2004
PEMBAHASAN
Wanita lebih berisiko menderita ARMD. Risiko ini akan mening-
kat dengan bertambahnya umur: pasien ARMD lebih sering pada
kelompok umur 60-79 tahun. Pertambahan umur meningkatkan
penyakit sistemik seperti hipertensi, hiperkolesterol dan penyakit
jantung; faktor tersebut mempercepat terjadinya ARMD.
8
Hal ini
sesuai dengan penemuan Beaver Dam Eye Study dan Framingham
Eye Study.
31
Tajam Penglihatan
n (%)
Baik
74 (37,37)
Low vision
69
(34,85)
Buta
55
(27,78)
Jumlah
198 (100%)
Kompilasi
Mata
Kanan Mata
Kiri
n (%)
n (%)
Sikatrik disiformis
8 (20)
8 (16)
Pendarahan submakula
4 (10)
3 (6)
Pendarahan vitreus
1 (2,5)
-
Tindakan
Jumlah
n
(%)
FFA (fundus fluorescein angiography)
14 (31,1)
TTT (transpupillary thermotherapy) 2
(4,44)
Pneumatic displacement 1
(2,22)
Vitrektomi
1 (2,22)
Pada tabel 6 terlihat dari198 mata yang diperiksa tajam peng-
lihatannya, 74 mata masih baik dan 55 mata dengan kategori buta.
Tabel 6. Tajam Penglihatan Penderita ARMD yang Berobat ke RS Mata
Cicendo 1 Juli 2004 - 30 November 2004
Dari 90 mata ARMD stadium lanjut (40 mata kanan dan 50 mata
kiri), pada 24 mata didapatkan komplikasi (tabel 7).
Komplikasi yang terbanyak dalam bentuk skar disiformis (20%
mata kanan, 16 % mata kiri); hanya 1 mata yang telah mengalami
perdarahan vitreus.
background image
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi yang pesat dewasa ini, telah mengaki-
batkan pencemaran lingkungan yang makin berat. Sejalan dengan
itu maka perlu dilakukan suatu penelitian tentang respon biologik
dari xenobiotik atau senyawa yang bersifat racun, untuk dapat
memahami efeknya terhadap tubuh manusia.
Salah satu xenobiotik yang cukup akrab dengan kehidupan manusia
sehari-hari adalah benzo(
)piren (BP). BP merupakan senyawa
hidrokarbon polisiklik aromatik yang digolongkan sebagai senyawa
pro karsinogen kuat. Senyawa ini dijumpai di lingkungan sebagai
hasil pirolisis lemak atau sebagai hasil proses pembakaran yang
tidak sempurna, seperti pada daging panggang, sate, makanan
yang diasap, asap rokok dan asap kendaraan bermotor
(1, 2, 3)
.
Hingga saat ini masih terus berkembang anggapan BP sebagai
penyebab kanker. Sebagai senyawa karsinogen, BP dapat me-
nimbulkan mutasi gen yang dapat dimanifestasikan sebagai
kerusakan kromosom, yaitu terjadi aberasi atau terbentuk patahan-
patahan kromosom.
Pada tahap telofase, fragmen kromosom dan atau massa kromatin
dalam sel akan tertinggal pada sitoplasma membentuk struktur
menyerupai inti sel dengan diameter antara 1/20 sampai 1/5
diameter inti yang dinamai mikronukleus(MN)
(4)
. Jadi terbentuknya
mikronukleus pada sel merupakan indikasi terjadinya aktivitas
mutagenik yang merusak kromosom.dan akhirnya memicu terjadi-
nya kanker. Metode penentuan MN yang cukup sederhana dapat
dilakukan pada sel PCE dari apusan sumsum tulang hewan rodensia
(5)
.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek mutagenik BP,
melalui uji MN pada sel PCE yang diambil dari sumsum tulang femur
mencit albino.
BAHAN DAN TATA KERJA
Bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini berkualitas
proanalisis diperoleh dari E. Merck terdiri atas: BP, metanol, etanol,
larutan garam fisiologis, larutan pewarna Giemsa yang telah di-
encerkan lima kali dalam metanol dan Oleum olivarum. Peralatan
yang digunakan adalah kaca objek, standing jar, berbagai alat gelas,
alat suntik, kandang tikus dan mikroskop Nikon MM-21 dengan
pembesaran 2000 kali.
33
Uji Mutagenisitas Benzo(
)piren dengan
Metode Mikronukleus pada Sumsum
Tulang Mencit Albino (Mus musculus)
Yana Sumpena*, Rochestri Sofyan*, Rusi Rusilawati**
*Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknik Nuklir - BATAN, **Universitas Pendidikan Indonesia
ABSTRAK
Benzo (
) piren (BP) sebagai senyawa yang bersifat karsinogen diduga dapat menimbulkan kerusakan
pada kromosom. Salah satu cara pemeriksaan kerusakan kromosom adalah dengan uji mikronukleus
(MN). Efek mutagenik dari BP telah diteliti menggunakan uji MN pada sel eritrosit polikromatik (PCE) dari
sumsum tulang femur mencit albino. Mencit albino diberi perlakuan dengan menginjeksikan larutan BP
0,3% (b/v) sebanyak 0,1 ml pada daerah tengkuk secara subkutan, sebanyak sepuluh kali dalam interval
waktu satu hari. Setelah 120 hari, baik mencit perlakuan maupun kontrol dibunuh dengan cara dislokasi
leher, diambil sumsum tulang femurnya, lalu dibuat preparat apusan dengan pewarnaan Giemsa. Terben-
tuknya MN pada sel PCE diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 2000 kali. Banyaknya MN
dalam sel PCE atau MNPCE dihitung per 1000 sel PCE, yang kemudian disebut sebagai frekuensi MNPCE,
dengan satuan permil. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian BP dapat menyebabkan fre-
kuensi MNPCE menjadi 38,82 Ø 8,70 permil (n=10) dibandingkan dengan kontrol dengan frekuensi
MNPCE sebesar 2,19 Ø 0,99 permil (n=10). Kenaikan frekuensi MNPCE yang cukup besar tersebut menun-
jukkan bahwa BP memiliki efek mutagenik dengan tingkat mutagenisitas yang cukup tinggi.
Kata kunci: benzo (
) piren, mikronukleus, karsinogen.
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
32
DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan RI. Rencana Strategis Nasional Penanggulangan
Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (PGPK) untuk Mencapai Vision 2020.
Jakarta,
2003.
2. Chopdar A, Chakravarthy U. Age-related macular degeneration. BMJ 2003;
326:485-8.
3. O
,
Connel SR, Bressler NM. Age-related macular degeneration. Dalam:
Regillo CD, Brown GC, Flynn HW, penyunting. Vitreoretinal disease: the
essentials. New York: Thieme Medical Publisher; 1999:213-40.
4. Sarks SM, Sarks JP. Age-related maculopathy: non neovascular age-related
macular degeneration and the evolution of geographic atrophy. Dalam: Ryan
SJ, penyunting. Medical Retina. Edisi ke-3. Vol. 2. Singapore: Mosby. 2001:
1064-96.
5. Bressler NM. Early detection and treatment of neovascular age-related
macular degeneration. JABFP 2002; 15:142-52.
6. Evans J. Age-related macular degeneration. Dalam: Johnson GJ, Minassian
DC, Weale RA, West SK, penyunting. The epidemiology of eye disease. Edisi
ke-2.
London:Arnold
2003:356-68.
7. American Academy of Ophthalmology. Age-related macular degeneration,
preferred practice pattern. San Francisco: American Academy of Ophthal-
mology, 2003 (dikutip 10 Desember 2004). URL: http:// www.aao.org/
aao/education
library/ppp/index.cfm.
8. Seddon JM. Epidemiology of age-related macular degeneration. Dalam: Ryan
SJ, penyunting. Medical Retina. Edisi ke-3. Vol. 2. Singapore: Mosby; 2001:
1039-47.
9. Bressler NM, Bressler SB, Fine SL. Neovascular (exudative) age-related macular
degeneration. Dalam: Ryan SJ, penyunting. Medical Retina. Edisi ke-3. Vol. 2.
Singapore:
Mosby;2001:1100-31.
10. Cavallerano AA. Age-related macular degeneration. Dalam: Cavallerano AA,
Gutner RK, Oshinskie LJ, penyunting. Macular disorder and illustrated diag-
nostic guide.Boston: Butterworth-Heinemann;1997:111-34.
11. Deutman A. Age-related macular degeneration. Dalam: Boyd BF, Boyd S.
penyunting. Retinal and vitreoretinal surgery. Panama: Highlights of Ophthal-
mology 2002:237-95.
12. Schatz H, Yannuzzi LA, Gitter KA. Subretinal neovascularization. Dalam:
Yannuzzi LA, Gitter KA, Schatz H, penyunting. The macular a comprehensive
text and atlas. USA: Baltimore; 1979:180-208.
13. Kraut JA. Vision rehabilitation. Dalam: Tasman W, Jaeger EA, penyunting.
Duane_s Clinical Ophthalmology (CD-ROM). Baltimore:Lippincott Williams &
Wilkins;2003.
14. Amin HI, Donald HR, Johnson RN, Ai E, Schatz H. Age-related macular
degeneration. Dalam: Tasman W, Jaeger EA, penyunting. Duane_s Clinical
Ophthalmology (CD-ROM). Baltimore:Lippincott Willians & Wilkins;2003.
15. Lanzetta P, Michieletto P, Pirracchio A, Bandello F.Early vascular changes
induced by transpupillary thermotherapy of choroidal neovascularization.
Ophthalmology
2002;109:
1098-1104.
16. Reichel E, Berrocal AM, Kroll AJ, Desai V, Duker JS, Puliafito CA. Transpupillary
thermotherapy of occult subfoveal chroidal neovascularization in patients with
age-related macular degeneration. Ophthalmology 1999;106: 1908-14.
Tajam penglihatan rendah (low vision) perlu perhatian karena dalam
hitungan minggu dapat menjadi buta, terutama bila dijumpai
drusen lima atau lebih, terdapat satu atau lebih drusen yang ber-
ukuran besar, adanya hiperpigmentasi fokal dan adanya riwayat
hipertensi sistemik;
9
untuk mengantisipasinya, setiap penderita
dengan drusen di makulanya agar memantau sendiri penglihatan
sentralnya dengan menggunakan kartu Amsler; jika terlihat
distorsi garis lurus (metamorfopsia) dan bercak hitam (skotoma
sentral), penderita harus segera mendapatkan tindakan.
9
Setiap
ophtalmolog disarankan selalu melakukan pemeriksaan fundus
karena kebanyakan ARMD tanpa keluhan tajam penglihatan
selama belum melibatkan penglihatan sentral.
Scar disiformis adalah bentuk akhir dari neovaskular. Karena proses
iskemik terbentuk pembuluh darah baru berupa neovaskularisasi
choroidal (CNV) di submakula. CNV mudah pecah menyebabkan
perdarahan subretina; jaringan scar ini dapat terus berproliferasi
sehingga dapat menimbulkan ablasio (lepas) retina.
9-12
Penderita
dapat memanfaatkan sisa penglihatannya dengan menggunakan
alat bantu optik seperti lensa, teleskop, kaca pembesar atau
CCTV (close circuit television).
13
Saat ini banyak pilihan tindakan, tetapi bukan untuk memper-
baiki penglihatan melainkan hanya untuk mempertahankan
penglihatan yang masih tersisa. Oleh karena itu hanya sebagian
kecil responden yang bersedia menjalani intervensi, karena selain
faktor di atas juga biaya yang tidak kecil. Pemeriksaan fundus
fluorescein angiography (FFA) merupakan gold standard pada
kecurigaan CNV. Gambaran FFA dapat menentukan tipe lesi,
ukuran dan lokasi CNV, sehingga tindakan selanjutnya dapat
dipertimbangkan. FFA juga digunakan sebagai penuntun tindakan
laser dan sebagai pemantau dalam menentukan adanya CNV
yang menetap atau berulang setelah tindakan laser.
7,9,14
Pada penelitian ini hanya sebagian (14 penderita) yang bersedia
menjalani FFA dan dari hasil FFA hanya 2 penderita yang
menjalani tindakan Transpupillary thermotherapy (TTT). TTT
merupakan suatu terapi yang sedang berkembang; menggu-
nakan iradiasi rendah dengan sinar laser inframerah (810 nm)
sehingga panas yang dihasilkan tidak merusak jaringan dan
dapat digunakan pada CNV subfovea dengan lesi okult.
15,16
Saran
Penelitian ini merupakan langkah awal terhadap ARMD yang mem-
punyai akses ke Pusat Pelayanan Mata (Rumah Sakit Mata), sehingga
angka ARMD yang diperoleh belum mencerminkan keadaan yang
sesungguhnya di dalam masyarakat.
Untuk itu :
1. Perlu dilakukan kajian epidemiologis.
2. Untuk efisiensi perlu disosialisasikan penggunaan kartu Amsler.
3. Perlu fasilitas direct opthalmoskop di puskesmas