H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
410
PEMBAHASAN
Sampel dalam penelitian ini adalah 30 orang penderita rinitis
alergi dan 30 orang kontrol berusia antara 17 - 60 tahun dengan
rerata (mean) umur 27,97 tahun. Perempuan sedikit lebih banyak
daripada laki-laki, terbanyak di kelompok umur 20 tahun;
paling sedikit kelompok umur 51 - 60 tahun.
Sesuai klasifikasi ARIA WHO 2001, penderita rinitis alergi persisten
sedang berat merupakan sampel terbanyak pada penelitian ini
yaitu 46,7% kemudian rinitis alergi persisten ringan (36,7%),
intermiten ringan (13,3%) dan rinitis alergi intermiten sedang
berat (3,3%). Alimah Y (2005) dalam penelitiannya juga men-
dapatkan rinitis alergi persisten sedang berat yang paling banyak
yaitu 57,5% dari seluruh sampel. Hal ini karena rinitis alergi umum-
nya dianggap bukan penyakit yang amat serius bahkan sering
diabaikan. Biasanya penderita baru datang memeriksakan diri
apabila gejala-gejala rinitis alergi sudah berlangsung lama dan
mengganggu aktifitas sehari-hari seperti ada gangguan tidur,
kegiatan di sekolah / pekerjaan, bersantai maupun berolahraga
atau telah timbul komplikasi rinitis alergi.
Pada penelitian ini dilakukan timpanometri terhadap kedua
kelompok sampel. Hasilnya menunjukkan bahwa pada penderita
rinitis alergi didapatkan 1 orang (3,3%) timpanogram tipe B dan
3 orang (10,0%) timpanogram tipe C. Sedangkan pada kelompok
kontrol semuanya dengan timpanogram tipe A dan tipe As.
Angka ini hampir sama dengan hasil penelitian Lazo-Saenz,dkk.
yang melakukan pemeriksaan timpanometri pada 80 orang rinitis
alergi dan 50 orang normal sebagai kontrol, didapatkan 3%
kelompok rinitis alergi dengan timpanogram tipe B dan 13%
tipe C sedangkan pada kelompok kontrol semua dengan timpa-
nogram tipe A.
Bila dilihat dari klasifikasi rinitis alergi, timpanogram tipe B dan
tipe C hanya didapatkan pada penderita rinitis alergi persisten
sedang berat (4 orang -13,3%). Ini menunjukkan bahwa penderita
tersebut telah mengalami gangguan ventilasi tuba Eustachius.
Keadaan ini akibat proses inflamasi alergi di mukosa nasofaring
dan tuba Eustachius yang berlangsung lama dan berat sehingga
tuba tidak mampu menyeimbangkan tekanan telinga tengah
dengan tekanan udara sekitarnya. Hasil uji statistik (Chi-Square, p
< 0,05) antara tipe timpanogram dengan rinitis alergi (ARIA
WHO 2001) pada telinga kanan dan kiri didapatkan nilai p yang
tidak bermakna (kanan p = 0,698 dan kiri p = 0,787 ).
Tabel 3 menunjukkan tes Valsava lebih banyak yang gagal di
kelompok kasus (76,7%). Ini berarti tuba Eustachius pada
penderita rinitis ini tidak mampu menyeimbangkan tekanan
telinga tengah dengan udara sekitarnya yang lebih tinggi. Pada
kedua pemeriksaan tes fungsi tuba ini, kegagalan proses ekualisasi
karena obstruksi oleh edema mukosa tuba Eustachius dan muara
tuba di nasofaring.
Uji statistik (Chi-Square) antara tes Valsava kelompok kontrol dan
kelompok kasus pada kedua telinga menghasilkan nilai p yang
tidak bermakna (kanan p =0,258 dan kiri p =0,608). Selain itu,
dilakukan juga pengujian terhadap klasifikasi, tipe timpanogram,
tes Toynbee, dan tes Valsava antara telinga kanan dan telinga kiri.
Dengan uji statistik Chi-Square didapatkan tidak ada perbedaan
yang bermakna antara telinga kanan dan telinga kiri pada rinitis
alergi ( ARIA WHO 2001) dengan tipe timpanogramnya. Demikian
pula pada tes Toynbee dan tes Valsava tidak didapatkan perbe-
daan yang bermakna antara telinga kanan dan telinga kiri.
Semua nilai p yang tidak bermakna tersebut mungkin karena
besar sampel penelitian yang merupakan jumlah minimal yang
dapat digunakan untuk penelitian.
SIMPULAN
Rinitis alergi (ARIA WHO 2001) tidak berpengaruh bermakna
terhadap gangguan fungsi ventilasi tuba Eustachius diband-
ingkan dengan kelompok kontrol.
Berbagai derajat rinitis alergi (ARIA WHO 2001) tidak berpen-
garuh bermakna terhadap gangguan fungsi ventilasi tuba
Eustachius.
SARAN
Meskipun ditemukan pengaruh yang tidak bermakna, penga-
ruh rinitis alergi terhadap gangguan fungsi ventilasi tuba tidak
dapat diabaikan.
Penanganan rinitis alergi jangan hanya difokuskan pada
gejala di hidung saja tetapi perlu juga diingat komplikasinya
terhadap fungsi tuba Eustachius.
Perlu penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar
dengan metode dan alat lain untuk mendapat hasil yang lebih
akurat.
KEPUSTAKAAN
Bousquet J, Cauwenberge P V, Khaltaev N. ARIA Workshop Group. WHO. Allergic Rhinitis
and Its Impact on Asthma. J Allergy Clin Immunol. 2001, 108 (5 suppl); S147-S276.
Quraishi SA, Davies MJ, Craig TJ. Inflammatory Responses in Alergic Rhinitis: Traditional
Approaches and Novel Treatment Strategies. JAODA 2004; 104 (5suppl):57-S15.
Roland P, McCluggage CM, Sciinneider GW. Evaluation and Management of Allergic Rhinitis:
a Guide for Family Physicians. Texas Acad. Fam. Physicians 2001, 1- 15.
Virant FS. Allergic Rhinitis, Immunol. Allerg. Clin. North Am. 2000;20(2):265-282.
Mandel E, Casselbrant M, Fireman P. Otitis Media. In: Atlas of Allergies and Clinical Immuno-
logy 3
th
ed, Fireman P (ed.) Philadelphia: Mosby, Elsevier, 2002, 79 -93.
Restuti RD, Sosialisman. Otitis Media Efusi kaitannya dengan Rinitis Alergi. Dalam: Kumpulan
Naskah Simposium Nasional Perkembangan Terkini Penatalaksanaan Beberapa penyakit
Penyerta Rinitis Alergi. Malang. 2006, 1-9.
Ghosh MS, Kumar A. Study of Middle Ear Pressure in Relation to Eustachian Tube Patency. Ind
J Aerospace Med 2002;46(2): 27-31.
O
,
Connor AF. Exanination of The Ear. In: Scott-Brown
,
s Otolaryngology, 6
th
ed. Kerr AG.(ed.)
Butterworth; London: 1997 , p.20-23.
Peck JE. Audiology. In: Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery 8
th
ed. Lee KJ (ed.)
New York:McGraw-Hill, 2003, p.24-64.
Bluestone CD, Klein JO. Otitis Media. Atelectasis and Eustachian Tube Dysfunction, in
Pediatric Otolaryngology 3
th
, vol 1. Bluestone et al. (eds.) Philadelphia:WB. Saunders Co.
1996.p.388-450
Lazo-Saenz JG, Galvan-Aguilera AA, Martinez-Ordaz VA et al. Eustachian Tube Dysfunction
in Allergic Rhinitis. Otolaryngol Head and Neck Surg. 2005;132(4): 626-9.
Kudelska, Poludniewska B, Biszewska J, Silko, Godlewska. Assessment of the Hearing Organ
in the Patients with Perennial and Seasonal Allergic Rhinitis. Otolaryngol Pal. 2005;59(1):
97-100.
Cauwenberge PV, Wang D. Rhinitis and Otitis. In: Rhinitis Mechanisms and Management.
Naclerio et al.(eds.) New York: Marcel Dekker. 1999.p. 447- 458
Sweetow RW, Bold JM. Eustachian Tube Dysfunction Test. Available at www.
audiologyonline.com, accessed 3/24/2007
1.
2.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
411
PENDAHULUAN
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral kesehatan
secara keseluruhan dan perihal hidup sehingga perlu dibudi-
dayakan diseluruh masyarakat (Yuyus. R, 1996). Gigi yang sehat
adalah gigi yang rapi, bersih, bercahaya dan didukung oleh gusi
yang kencang dan berwarna merah muda. Pada kondisi normal,
dari gigi dan mulut yang sehat tidak tercium bau tidak sedap.
Kondisi ini hanya dapat dicapai dengan perawatan yang tepat
(1, Lesmana, 1999). Keadaan oral hygine yang buruk seperti
adanya kalkulus dan stain, banyak karies gigi, keadaan tidak
bergigi atau ompong dapat menimbulkan masalah dalam
kehidupan seharihari
(2)
.
Karies gigi adalah penyakit jaringan keras gigi yang ditandai
dengan terjadinya mineralisasi bagian anorganik dan deminer-
alisasi substansi organik
(3)
. Karies dapat terjadi pada setiap gigi
yang erupsi, pada tiap orang tanpa memandang umur, jenis
kelamin, bangsa, maupun status ekonomi
(4)
.
Periodontium adalah jaringan penyangga gigi yang terdiri dari
jaringan gusi, tulang alveolar, ligamentum periodontal dan
cementum yang melekat pada akar gigi (5,Lesmana, 1999).
Marshall-Day menyatakan umumnya keradangan gingiva
pada usia muda rata-rata mencapai 75% atau lebih dan akan
meningkat mendekati 100%
(6,7.8)
.
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai
berikut : kelainan gigi dan mulut tersering manakah yang dapat
ditemui dan adakah perbedaan antara tahun 1994 dan 2004 ?
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan
cross sectional. Subjek penelitian ini semua adalah pasien yang
datang berobat ke poliklinik gigi dan mulut RSUD dr Muwardi
pada tahun 1994 dan 2004. Data yang dikumpulkan berupa
macam kelainan gigi dan tindakan pada tahun 1994 dan 2004.
HASIL PENELITIAN
Berikut hasil penelitian yang dilakukan di RSUD dr Muwardi
Solo seperti yang disajikan dalam gambar berikut:
ABSTRAK
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral kesehatan secara keseluruhan dan perihal hidup. Gigi yang sehat adalah
gigi yang rapi, bersih, bercahaya dan didukung oleh gusi yang kencang dan berwarna merah muda. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui macam kelainan dan tindakan yang dilakukan di RSUD dr Muwardi Solo. Jenis Penelitian ini adalah
observasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian ini adalah pasien yang datang berobat ke poliklinik Gigi
dan Mulut RSUD dr Muwardi, Surakarta. Jumlah sampel adalah semua pasien yang datang ke poliklinik selama 1 tahun pada
tahun 1994 dan 2004. Data berupa macam kelainan gigi dan mulut dan tindakan. Data yang terkumpul dianalisis dengan
analisa kuantitatif dan disajikan dalam gambar. Kesimpulan penelitian ini adalah ada perbedaan dalam macam kelainan gigi
dan mulut dan ada perbedaan tindakan antara tahun 1994 dan 2004. Ada kenaikan jumlah pada macam kelainan dan tinda-
kan yang nyata.
Kata kunci : Kelainan Gigi; Kelainan Jaringan Pendukung Gigi; Tindakan; Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut
Kelainan Gigi dan Jaringan
Pendukung Gigi yang Sering Ditemui
Adi Prayitno
Bagian Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta /
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Muwardi Surakarta.
Gambar 1. Menunjukkan macam kelainan gigi dan jaringan pendukung gigi tahun 1994
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
414
Gigi yang sehat adalah gigi yang rapi, bersih, bercahaya dan di
dukung oleh gusi yang kencang dan berwarna merah muda.
Pada kondisi normal, dari gigi dan mulut yang sehat tidak
tercium bau yang tidak sedap. Kondisi ini hanya dapat dicapai
dengan perawatan yang tepat (Eddy, 2003).
Keadaan oral hygine yang buruk seperti adanya kalkulus dan
stain, banyak karies gigi, keadaan tidak bergigi atau ompong
dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan seharihari
(Gabriella, 2000). Kebersihan mulut adalah cermin kesehatan.
Faktanya, ada penyakit yang berhubungan dengan kesehatan
mulut dan gusi tersebut (Anonim (A), 2002). Dalam kehidupan
sehari-hari sering dijumpai orang-orang yang merasa malu
untuk tersenyum atau berbicara dengan leluasa. Hal ini terjadi
karena bebagai macam hal, antara lain keadaan oral hygiene
atau kebersihan mulut yang buruk, banyak gigi karies atau
dapat juga karena ompong (Gabriella, 2002). Penyakit gigi dan
mulut yang paling banyak menyerang manusia adalah karies
gigi dan penyakit periodontal (Kristanti, dkk, 1995).
Karies gigi adalah penyakit jaringan keras gigi yang ditandai
dengan terjadinya mineralisasi bagian anorganik dan demine-
ralisasi dari substansi organik (Anies, dkk, 1997). Karies dapat
terjadi pada setiap gigi yang erupsi, pada tiap orang tanpa
memandang umur, jenis kelamin, bangsa, maupun status
ekonomi (Monang, 1996). Penyakit karies ini masih menjadi
masalah di Indonesia, karena prevalensinya mencapai 80% dari
jumlah penduduk (Anies, dkk, 1997). Prevalensi gigi karies itu
sendiri meningkat dengan bertambahnya usia (Foresster, 1981).
Distribusi karies masyarakat menurut kelompok usia di Kabu-
paten Lampung Tengah Propinsi Lampung tahun 1983 didapat-
kan untuk kelompok usia 10-19 tahun prevalensinya sebesar
71,6%, usia 20-29 tahun sebesar 86,4% dan usia 30-39 tahun
sebesar 87,8% (Adi Prayitno, dkk., 1983).
Periodonsium adalah jaringan penyangga gigi yang terdiri dari
jaringan gusi, tulang alveolar, ligamentum periodontal dan
sementum yang melekat pada akar gigi (Adi Prayitno, 1983;
Lesmana, 1999). Pada penelitian yang dilakukan Marshall-Day
dinyatakan umumnya keradangan gingiva pada usia muda
rata-rata mencapai 75% atau lebih dan akan meningkat men-
dekati 100% (Prijantojo (a, b, c), 1996). Prevalensi terjadinya
gingivitis di Amerika Serikat pada tahun 1988 sampai 1991
menurut kelompok usia didapatkan untuk usia 13-17 tahun
sebesar 65,9% dan usia 18-24 sebesar 73,3% (WHO, 1995).
Pada dasarnya kedua penyakit tersebut di atas disebabkan
karena plak yang melekat pada gigi (Kristanti, dkk, 1995). Plak
yang menempel pada sulcus gingiva mampu menimbulkan
infeksi dan menyebabkan kasus serius (Anonim (B), 2003).
Pada permukaan akar yang terbuka, yang merupakan tempat
melekatnya plak pada penderita dengan resesi gingiva karena
penyakit periodonsium, adalah salah satu tempat yang mudah
diserang karies (Kidd, 1998). Kejadian karies pada akar gigi
biasanya terjadi pada usia dewasa, yaitu usia 18 tahun ke atas.
Terjadinya karies akar gigi dapat dipengaruhi oleh adanya poket
periodontal (De Paolo, 1989). Dari pemantauan Direktorat
Kesehatan Gigi Dir. Yan. Medik pada akhir Pelita V (1984-1994)
menunjukkan pasien yang berobat jalan ke puskesmas karena karies
gigi sebesar 45,7% sedangkan yang disebabkan oleh kelainan
gusi dan periodontal sebesar 31,7% (Kristanti, dkk, 1995).
KESIMPULAN
Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa :
Kelainan tersering untuk tahun 1994 adalah bidang konser-
vasi dan terjarang adalah bidang orthodonsi, sedang kasus
tersering untuk tahun 2004 adalah bidang konservasi dan
terjarang adalah bidang pedodonsi.
Bahwa ada perbedaan pada macam kelainan antara tahun
1994 dengan 2004 dan ada perbedaan pada tindakan
antara tahun 1994 dan 2004.
Ada perbedaan pada jumlah kelainan gigi dan mulut dan
tindakan odontectomy (OD) yang nyata antara tahun 1994
dengan 2004.
DAFTAR PUSTAKA :
Adi Prayitno, dkk, 1997. Kegoyahan Gigi Geligi pada Penyakit Diabetus Mellitus
Tak Terkontrol dan Terkontrol. Fakultas Kedokteran UNS, Surakarta, pp: 26-7.
Gabriella Aditya, 2000. Pemutihan Kembali Gigi yang Berubah Warna dengan
Teknik Bleaching. Jurnal Kedokteran Trisakti. Vol. 19, No.1, p: 29.
Kidd A.M. Edwina, 1998. Dasar-Dasar Karies, Penyakit dan Penanggulangannya,
EGC, Jakarta, pp: 5-8.
Kristanti, Salma Ma»ruf, Ratna Budiarso, Syahrudji Naseh, 1995. Penyakit Gigi
dan Mulut di Indonesia. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia. Tahun XXIII,
No. 8, pp: 542-3.
Anies, Henry Setiawan, Soeharyo Hadisaputro, 1997. Karies Gigi dan Perlaku
Pencegahan serta Pengobatan di Kotamadya Semarang. Majalah Medika
Indonesiana. Vol. 32, No. 1, pp: 37-42.
Anonim (A), 2003. Remehkan Kesehatan Gigi Picu Diabetes. www.sinarharapan.
co.id/iptek/kesehatan.
Anonim (B), 1994. Karang Gigi, File:A\Karang Gigi, Htm.
De Paolo D.F., 1989. Methodology Issue Relative to The Quantification of Root
Surface Caries Gerodontal, pp: 3-6.
Eddy Hasby, 2003 Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut. http://www.kompas.com/
kompas-cetak/0207/19/iptek/pera34.htm. Forrester, 1981. Pediatric Dental Medicine.
Lea and Febiger, Philadelphia, pp : 142-9.
Monang Panjaitan, 1996. Pengaruh Pemberian Obat Kumur Mengandung Fluor
terhadap Perkembangan Karies Gigi Narapidana Lembaga Pemasyarakatan
Tanjung Gusta, Medan. Cermin Dunia Kedokteran. No. 106, pp: 52-3
Adi Prayitno, dkk, 1983. Status Kesehatan Gigi Geligi Masyarakat di Daerah
Lampung. Fakultas Kedokteran Gigi Gadjah Mada, Yogyakarta, pp: 7-12.
Prijantojo (a), 1996. Hambatan Pembentukan Plak Gigi dengan Larutan Obat
Kumur Hexetidine 0,1%. Cermin Dunia Kedokteran. No. 106, p: 55.
Prijantojo (b), 1996. Kondisi Jaringan Periodonsium dari Sekelompok Masyarakat
di Daerah Pedesaan Sesuai dengan Kelompok Umur. Majalah Kesehatan
Masyarakat. Tahun XXIV, No. 2, p: 128.
Prijantojo (c), 1996. Evaluasi Derajat Keradangan Gingiva pada Masyarakat
dengan Tingkat Pendidikan yang Berbeda. Majalah Kesehatan Masyarakat
Indonesia. Tahun XXIV, No. 5, p: 330.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
BERITA TERKINI
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
415
P
ara peneliti menjelaskan bahwa pada hewan yang diteliti,
OxLDL, yang merupakan fraksi yang kecil LDL (0,001%-5%),
berkontribusi dalam proses yang mengarah ke kejadian
sindrom metabolik; hal ini belum dibuktikan pada manusia.
Karena itulah para peneliti ingin mengetahui dengan pasti
hubungan antara konsentrasi OxLDL dengan angka kejadian
sindrom metabolik beserta komponennya (obesitas abdomen,
hiperglikemi, and hipertrigliseridemi) dalam 5 tahun dengan
melakukan penelitian Coronary Artery Risk Development in
Young Adults (CARDIA).
Penelitian ini melibatkan 5115 pasien berusia antara 18-30
tahun pada saat dipilih di tahun 1985-1986 di Amerika
Serikat. OxLDL diperiksakan pada 2823 orang pada tahun
ke-15, sebagai bagian dari penelitian Young Adult Longitudi-
nal Trends in Antioxidants (YALTA). Kriteria eksklusi: kehami-
lan, tidak puasa selama 8 jam sebelum pemeriksaan dilaku-
kan, data tidak lengkap, sudah menderita sindrom metabo-
lik; sehingga yang memenuhi kriteria 1889 pasien.
Hasil : selama 20 tahun penelitian, 243 pasien (12,9%) dari
1889 pasien ini menderita sindrom metabolik. Setelah
menyesuaikan beberapa variabel, OxLDL memperlihatkan
hubungan bertingkat dengan kejadian sindrom metabolik.
Pasien yang memiliki kadar OxLDL tinggi mengalami pening-
katan risiko sindrom metabolik hingga 3,5 kali. (Tabel1)
Tabel 1. Odds ratio untuk kejadian sindrom metabolik setelah follow up
5 tahun dengan pengukuran kadar OxLDL:
Telah disesuaikan untuk umur, jenis kelamin, ras, senter penelitian, merokok,
indeks massa tubuh, aktivitas fisik dan kadar colesterol LDL.
Kadar OxLDL yang tinggi juga disertai dengan komponen
sindrom metabolik: obesitas, hipertrigliseridemi, kadar
glukosa darah puasa yang tinggi, namun tidak disertai
dengan peningkatan tekanan darah atau kolesterol HDL
(high-density lipoprotein cholesterol)
Tabel 2. Odds ratio yang sudah disesuaikan untuk kejadian kompo-
nen sindrom metabolik dengan perbandingan antara kadar OxLDL
yang tinggi dengan yang rendah:
Telah disesuaikan untuk umur, jenis kelamin, ras, senter penelitian, merokok,
indeks massa tubuh, aktivitas fisik dan kadar colesterol LDL
Sebaliknya, kolesterol LDL memperlihatkan hubungan yang
terbatas dengan sindrom metabolik. Para peneliti menga-
takan masih sangat dini untuk mengatakan apakah OxLDL
menjadi salah satu penyebab terjadinya sindrom metabolik;
namun terdapat hubungan yang kuat antara kadar OxLDL
dengan kejadian sindrom metabolik.
Kesimpulan:
OxLDL, merupakan salah satu petanda adanya sindrom
metabolik.
Peningkatan kadar OxLDL disertai dengan peningkatan
komponen sindrom metabolik: obesitas, hipertrigliseridemi,
kadar glukosa darah puasa yang tinggi, namun tidak disertai
dengan peningkatan tekanan darah atau kolesterol HDL.
Perlu penelitian lanjutan untuk memastikan apakah OxLDL
sendiri ikut berperan dalam meningkatkan kejadian sindrom
metabolik. (
YYA)
Referensi :
1. Holvoet P, Lee DH, Steffes M, et al. Association between circulating oxidized lowdensity
lipoprotein and incidence of the metabolic syndrome. JAMA 2008;299:2287-93
2. Hughes
S.
Oxidized LDL Associated with Metabolic Syndrome.http://www.medscape.com/
viewarticle/574827?src=mpnews&spon=2&uac=117092CG
·
·
Komponen sindroma metabolik OR tertinggi vs terendah quintile (95% CI)
Obesitas abdomen
2.1 (1.2 - 3.6)
Glukosa puasa tinggi
2.4 (1.5 - 3.8)
Trigliserida tinggi
2.1 (1.1 - 4.0)
·
Quintile of oxidized LDL
OR (95% confidence interval [CI])
1 (<55.4 U/L)
1
2 (55.4 - 69.1 U/L)
2.1 (1.1 - 3.8)
3 (69.2 - 81.2 U/L)
2.4 (1.3 - 4.3)
4 (81.3 - 97.3 U/L)
2.8 (1.5 - 5.1)
5 (>97.4 U/L)
3.5 (1.9 - 6.6)
CARDIA:
OxLDL dan Sindrom Metabolik
Dalam sebuah penelitian diketahui bahwa konsentrasi OxLDL (oxidized low-density lipoprotein
(LDL)-cholesterol) berkaitan dengan sindrom metabolik. Penelitian tersebut dipimpin oleh dr. Paul
Holvoet dari Katholieke Universiteit Leuven, Belgia, dipublikasikan dalam JAMA edisi Mei 2008.
Sedangkan penulis senior, dr. David Jacobs dari University of Minnesota, Minneapolis mengomen-
tari bahwa hasil penelitian ini merupakan bukti lain bahwa oxLDL merusak dan merupakan risiko
penyakit jantung di kemudian hari, walaupun pada pasien yang masih muda dan sehat.