CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
212
P
asien dikatakan hipertensi resisten, jika tekanan darah
mereka tetap di atas target walaupun telah menggunakan
3 macam obat; atau tekanan darah tinggi terkontrol tapi
diperlukan 4 atau lebih obat.
Studi mendapatkan bahwa 30% orang dengan tekanan
darah tinggi termasuk hipertensi resisten; faktor umur dan
obesitas merupakan 2 faktor utama kondisi ini, yang
makin banyak ditemukan di Amerika sehubungan dengan
perbaikan kesejahteraan.
Orang dengan hipertensi resisten memiliki risiko kardio-
vaskular dan sering mempunyai kondisi kesehatan yang
menyulitkan usaha mengelola tekanan darah mereka.
Menurut komite AHA, tahap pertama adalah untuk
menentukan apakah seseorang benar-benar mengalami
hipertensi resisten, yang tidak sama dengan hipertensi
tidak terkontrol. Penanganan hipertensi resisten membu-
tuhkan pertimbangan faktor gaya hidup yang berkontri-
busi pada masalah, diagnosis dan penanganan penyebab
sekunder dan penggunaan obat multipel secara efektif.
Faktor gaya hidup mencakup berat badan, asupan garam
dan konsumsi alkohol. Obesitas dikaitkan dengan ting-
ginya tekanan darah dan penurunan berat badan dapat
menurunkan tekanan darah dan mengurangi jumlah obat
yang diperlukan untuk mengontrol tekanan darah. Diet
ketat asupan garam biasa dilakukan pada pasien hiper-
tensi resisten dan dapat membantu menurunkan tekanan
darah. Asupan alkohol berlebihan juga berkaitan dengan
hipertensi resisten. Penelitian menunjukkan mengurangi
konsumsi alkohol juga dapat membantu menurunkan
tekanan darah.
Komite juga mendaftar sejumlah kondisi kesehatan yang
dapat menyumbang pada hipertensi resisten, temasuk :
Obstructive Sleep Apnea (OSA), Penyakit ginjal parenkim,
Aldosteronisme primer dan Stenosis arteri ginjal.
Obat dimasukkan ke dalam area ketiga oleh komite.
Penggunaan obat-obat yang meningkatkan tekanan darah
seperti obat-obat anti inflamasi (NSAID) harus dikurangi atau
dihindari, jika mungkin, pada pasien-pasien hipertensi resisten.
Komite mencatat bahwa diuretik sering kurang dimanfaat-
kan pada pasien hipertensi resisten. Menurut mereka,
beberapa pasien dapat memanfaatkan penambahan anta-
gonis reseptor mineralokortikoid (ARM) pada regimen
penanganan mereka. ARM dapat menangani aldostero-
nisme primer yang ditemukan pada sekitar 20% penderita
hipertensi resisten.
Menurut ketua komite, Dr. David A. Calhoun, profesor
pada Vascular Biology and Hypertension Program di
Universitas Alabama, Birmingham, manfaat ARM dalam
menangani hipertensi resisten baru-baru ini telah dikonfirmasi.
Penggunaan ARM memerlukan pemantauan biokimia,
khususnya kadar kalium (potasium) karena adanya risiko
hiperkalemi.
(NFA)
Sumber : Hypertesion online, MedlinePlus
B E R I T A T E R K I N I
Pedoman baru penanganan
hipertensi resisten
Faktor gaya hidup dan rekomendasi pengobatan adalah topik di dalam pedoman penanganan
hipertensi resisten yang dikeluarkan oleh American Heart Association (AHA) April 2008.
Regimen dosis ganda, waktu pemberian dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan juga
ditampilkan dalam pedoman yang dipublikasikan secara online pada jurnal Hypertension.
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
217
F
elix Arellano dkk dari Risk Management Resources
Espaņa, telah melaporkan hasil suatu studi pasien derma-
titis atopik di Inggris. Dengan menggunakan database
Health Improvement Network (THIN) di Inggris, peneliti
membandingkan kejadian kanker pada pasien dermatitis
atopik dengan kejadian kanker pada orang yang tidak
menderita dermatitis atopik.
Studi tersebut mencatat kejadian kanker secara umum,
seperti tingkat kejadian limfoma, melanoma dan kanker
kulit nonmelanoma pada kedua populasi pasien. Dari
4.456.008 pasien yang terlibat dalam studi tersebut,
232.309 pasien atau 5,2% menderita dermatitis atopik.
Hasilnya menunjukkan bahwa 129.972 pasien yang lebih
kurang setengahnya adalah wanita, didiagnosis kanker
selain kanker kulit nonmelanoma. Tingkat kejadian kanker
secara keseluruhan (selain kanker kulit nonmelanoma),
limfoma, melanoma dan kanker kulit nonmelanoma masing-
masing adalah 42,42, 1,7, 1,72 dan 11,69 per 10.000
orang per tahun. Pada pasien yang menderita dermatitis
atopik, Dr.Arellamo mencatat bahwa tingkat kejadian kanker
meningkat dengan usia khususnya pada populasi wanita,
meskipun secara umum, kejadian pada pria lebih tinggi
dibanding wanita dalam setiap usia.
Hasil studi tersebut menunjukkan ada peningkatan risiko
kanker secara keseluruhan dan subtipe kanker limfoma
pada pasien yang menderita dermatitis atopik. Hasil studi
ini sebaiknya tidak hanya diketahui oleh dokter kulit tetapi
juga oleh semua profesi medis untuk lebih ketat mengontrol
pasien yang menderita dermatitis atopik.
Menurut Dr.Arellano, kemungkinan peningkatan risiko ter-
jadinya keganasan tersebut adalah karena stimulasi kronik
sistem imun oleh antigen menyebabkan terjadinya mutasi
pro-onkogenik secara acak yang dapat menyebabkan pe-
ningkatan risiko berkembangnya kanker. Secara keseluruhan,
tercatat lebih kurang 40% peningkatan risiko kanker meliputi
limfoma, melanoma kulit, dan kanker kulit nonmelanoma
pada pasien dengan dermatitis atopik dibandingkan dengan
pasien tanpa penyakit tersebut.
Menurut Dr. Arellano, penemuan bahwa tingkat kejadian
melanoma lebih tinggi pada pasien dermatitis atopik
adalah mengejutkan karena dermatitis atopik dikaitkan
dengan penurunan jumlah nevi melanotik. Peningkatan
risiko melanoma pada pasien atopik dapat dijelaskan jika
penentu melanoma lain seperti jenis kulit, warna mata dan
rambut, riwayat sunburn, dan riwayat keluarga melanoma
juga dimasukkan dalam pertimbangan studi tersebut.
Tetapi karena hal tersebut tidak dimasukkan, maka hasil
studi tersebut sebaiknya diinterpretasikan dengan hati-hati
dan kaitan antara dermatitis atopik dan melanoma sebaik-
nya dieksplorasi lebih lanjut dalam studi analisis dengan
kontrol faktor risiko yang lengkap untuk melanoma dan
validasi diagnosis melanoma.
(EKM)
Referensi :
Petroi I. Atopic dermatitis patients may have increased risk of malignancies.
Dermatology Times Feb 2008. http://www.modernmedicine.com/modern-
medicine/content/printContentPopup.jsp?id=492819
BERITA TERKINI
Dermatitis atopik
berkaitan dengan keganasan
Dermatitis atopik diderita oleh lebih kurang 20% anak-anak dan 1-3% orang dewasa di negara berkembang.
Menurut studi saat ini, pasien dengan dermatitis atopik lebih berisiko menderita keganasan
seperti limfoma, melanoma kulit dan kanker kulit nonmelanoma.