background image
82
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
Pemeriksaan Laboratorium
Dalam Anti Aging Medicine
Tv{boob!Jnnbovfm
Efqbsufnfo!Qbupmphj!Lmjojl!Gblmvubt!Lfeplufsbo!Vojwfstjubt!Joepoftjb-!!Kblbsub
BCTUSBL
Penuaan adalah proses fisiologis yang akan dialami oleh seluruh mahluk hidup bila berumur panjang, terjadinya ber-
beda dan kecepatan usia mulai proses juga berbeda. Dalam memasuki usia tua, seorang individu seringkali mengal-
ami berbagai gejala, tanda dan keluhan. Kumpulan gejala, tanda dan keluhan tersebut umumnya disebut sindroma
penuaan. Penelitian menunjukkan penyebab utama kerusakan fisik yang disebabkan penuaan adalah kemunduran
hormon seiring dengan bertambahnya usia. Proses penuaan sangat bervariasi dan dapat dipercepat, diperlambat
atau dibalik tergantung pada hormon yang mengatur dege-nerasi dan regenerasi tubuh di tingkat sel.
Pada tahun 1990, Dr. Daniel Rudman menemukan proses penuaan dapat dicegah dengan mengintervensinya
dan lahirlah anti aging medicine. Tujuan anti aging adalah mencegah penuaan dini, mencegah penyakit degeneratif
seperti jantung, paru, stroke dan mencapai usia tua tetap produktif dan sehat.
Pemeriksaan laboratorium untuk menentukan status "panjang umur" bersandar pada tiga pilar yang penting yaitu
evaluasi status hormon, penilaian risiko kardio vaskuler, dan penapisan keganasan. Untuk penilaian status "anti
aging" yang diperlukan adalah pemeriksaan laboratorium untuk mengevaluasi status hormon agar dapat dideteksi
apakah sudah terjadi penurunan hormon. Pada proses penuaan terjadi penurunan hormon tubuh seiring dengan
bertambahnya usia. Oleh karena itu penting untuk mengukur kadar hormon sebelum melakukan terapi sulih hor-
mon. Terapi sulih hormon hanya untuk mengganti hormon yang hilang akibat proses penuaan ke kadar normal
fisiologis. Terapi sulih hormon dapat memberikan manfaat yang mengagumkan sebagai anti aging jika diberikan
secara bijaksana dengan pengawasan laboratoris secara periodik untuk menjamin kadar hormon yang efektif
dalam darah.
Kata Kunci : Pemeriksaan Laboratorium, Evaluasi Sistem Hormon, Anti Aging Medicine
QFOEBIVMVBO
Menurut WHO saat ini setiap negara di dunia juga
menghadapi peningkatan tajam populasi usia diatas
60 tahun. Perubahan ini berhubungan erat dengan
perbaikan sanitasi dan eliminasi penyakit infeksi anak;
peningkatan harapan hidup, kognitif serta meningkat-
nya ketergantungan pada orang lain.
(1)
Penuaan adalah proses fisiologis yang akan dialami
oleh seluruh mahluk hidup, jika mahluk itu diberi ke-
sempatan berumur panjang, terjadinya berbeda dan
kecepatan usia mulai proses juga berbeda. Dalam me-
masuki usia tua, seorang individu seringkali mengalami
berbagai gejala, tanda dan keluhan. Kumpulan gejala,
tanda dan keluhan tersebut umumnya disebut dengan
satu kata yaitu sindrom penuaan. Sindrom ini biasa-
nya timbul akibat keengganan/penolakan dan/atau
kekurangsiapan seorang/ individu dalam menyong-
song penuaan dan dipresipitasi oleh penurunan hor-
mon tubuh yang relatif cepat. Penelitian menunjukkan
kemunduran hormon seiring bertambahnya usia meru-
pakan penyebab utama kerusakan fisik yang disebab-
kan penuaan. Proses penuaan sangat bervariasi dan
dapat dipercepat, diperlambat atau dibalik tergantung
pada hormon yang mengatur degenerasi dan rege-
nerasi tubuh di tingkat sel.
(1,2)
Penelitian menunjukkan,
penuaan sebagian besar disebabkan oleh penurunan
Growth Hormone / Insulin-like Growth Factor-I
(GH/
IGF-I) secara drastis dalam tubuh setelah dewasa. Ha-
sil penelitian telah membuktikan bahwa, terapi GH/
IGF-I dapat mencegah, memperlambat bahkan mem-
balikkan sebagian besar penyakit atau keadaan yang
berhubungan dengan proses penuaan. Mereka yang
mengalami sindroma penuaan umumnya ingin agar
penuaan yang dialaminya saat ini bisa ditunda, dice-
gah, atau dikembalikan lagi seperti keadaan sebelum-
nya (diremajakan).
(1,2,3,4)
Pada tahun 1990, Dr. Daniel Rudman menemukan
proses penuaan dapat dicegah dengan menginter-
vensinya dan lahirlah
anti aging medicine
. Tujuan anti
aging adalah mencegah penuaan dini, mencegah pe-
nyakit degeneratif seperti jantung, paru,
stroke
dan
mencapai usia tua tetap produktif dan sehat.
(5)
Hasil Penelitian
background image
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
83
Pemeriksaan laboratorium untuk menentukan status
"panjang umur" bersandar pada tiga pilar yang penting
yaitu evaluasi status hormon, penilaian risiko kardio
vaskuler, dan penapisan keganasan. Untuk penilaian
status "
anti aging
" yang diperlukan adalah evaluasi
status hormon agar dapat dideteksi apakah sudah ter-
jadi penurunan hormon. Penelitian menunjukkan pada
proses penuaan terjadi penurunan hormon tubuh se-
iring dengan bertambahnya usia. Oleh karena itu pen-
ting untuk mengukur kadar hormon sebelum melaku-
kan terapi sulih hormon.
(5)
Terapi sulih hormon hanya
untuk mengganti hormon yang hilang akibat proses
penuaan ke kadar normal fisiologis. Terapi sulih hor-
mon dapat memberikan manfaat yang mengagumkan
sebagai
anti aging
jika diberikan secara bijaksana de-
ngan pengawasan laboratoris secara periodik untuk
menjamin kadar hormon yang efektif dalam darah.
(1)
IPSNPO!ZBOH!CFSQFSBO!QBEB!QFOVBBO
Ipsnpo!Nfmbupojo
Melatonin dihasilkan oleh kelenjar pineal; merupakan
hormon yang produksinya peka (sensitif) terhadap sik-
lus cahaya siang dan malam, berkaitan erat dengan
ritme sirkadian; dan menurun secara alami sesuai
pertambahan usia. Penurunan ini akan menyebabkan
gangguan
circadian clock
(ritme harian). Selanjutnya,
kulit dan rambut akan berkurang pigmentasinya. Se-
lain itu, terjadi pula gangguan tidur. Kadar terapi mela-
tonin untuk mengatur gangguan tidur mungkin berada
dalam nilai rentang dewasa muda. Disebutkan pula
bahwa melatonin mempunyai sifat antioksidan yang
kuat. Kadar optimal untuk efek antioksidannya belum
diketahui dengan pasti.
(2,5,6,7)
Ipsnpo!Qfsuvncvibo!)
Hspxui!Ipsnpof0HI
*!ebo!
Jotvmjo.Mjlf!Hspxui!Gbdups!J
!)JHG.J*
Hormon pertumbuhan memiliki status khusus pada
pemeriksaan status
anti aging
sehingga penilaian
akurat kadar hormon pertumbuhan sangat penting.
Secara umum perubahan hormonal yang akan ter-
jadi pada penuaan adalah penurunan
Growth Hor-
mon
(GH) dan
Insulin-like Growth Factor-1
(IGF-1) atau
somatomedins
.
(1,3,4,5)
Pengukuran kadar GH dalam
saliva seperti
insulin-like growth factor
I (IGF-1) tidak
bisa dipercaya karena produksi lokal yang berlebihan
dari otot-otot mandibula.
(5)
GH dihasilkan oleh hipo-
fise anterior dan sekresinya dipacu oleh
GH releasing
hormon
,
Growth Hormon Releasing Hormon
(GHRH)
yang timbul pada saat "tidur dalam" dan secara acak
pada saat bangun (misal saat olah raga). Penurunan
GH dan IGF-1 akan menyebabkan peningkatan proses
apoptosis di berbagai sel tubuh dan hal ini akan me-
nyebabkan proses penuaan berjalan lebih cepat.
(2)
Sifat pelepasan GH yang pulsatif menyebabkan pengu-
kuran kadar GH dalam darah sangat tidak praktis, yang
terbaik adalah pengukuran kadar GH dalam urin 24
jam untuk
monitoring
pengobatan GH.
(5,8,9)
Kadar GH
dalam urin berkorelasi dengan pelepasan sentral GH
dan injeksi GH. IGF-I dapat disintesis disemua organ,
tetapi produksi terbesar terjadi di hati. Sintesis IGF-I dia-
tur oleh GH, maka kadar IGF-I merefleksikan kadar GH.
Kadar IGF-I relatif stabil sepanjang hari sedangkan GH
bersifat pulsatif, sehingga pengukuran IGF-I dalam da-
rah lebih disukai untuk penentuan status
anti aging
.
(5,9)
Di sirkulasi, IGF-I berikatan dengan protein transport yai-
tu
IGF Binding Protein
(IGFBP). Terdapat 10 (sepuluh)
IGFBP, tetapi yang terpenting IGFBP3 karena mengikat
95% IGF-I didalam darah. Pada saat ini, 3 jenis tes yang
paling berarti untuk
monitoring
pada pemberian GH
adalah kadar GH urin 24 jam, kadar IGF 1 serum dan
kadar protein pengikat primer IGF 1, yaitu IGFBP3 (
Insu-
lin-like Growth Factor Binding Protein 3
).
(9)
Ipsnpo!Qspmblujo
Pada proses penuaan terjadi peningkatan prolaktin
yang disekresi oleh kelenjar hipofise anterior. Hormon
ini meningkat sejalan dengan perubahan emosi dan
stres. Peningkatannya akan diikuti oleh penurunan hor-
mon testosteron melalui mekanisme pada pusat hipo-
talamus, kelenjar hipofise anterior atau langsung pada
testis. Peningkatan hormon prolaktin juga sering diser-
tai dengan timbulnya berbagai penyakit psikosomatis.
(2)
Gpmmjdmf! Tujnvmbujoh! Ipsnpo
! )GTI*! ebo!
Mvufjoj{joh!
Ipsnpo
!)MI*
FSH dan LH dihasilkan oleh hipofise anterior.
Follicle
Stimulating Hormon
(FSH)
Luteinizing Hormon
(LH).
FSH berhubungan dengan spermatogenesis pada pria
dan perkembangan folikel ovarium dan estrogen pada
wanita. LH berhubungan dengan stimulasi produksi
testosteron pada pria dan estrogen pada wanita. FSH
dan LH meningkat jika terjadi kerusakan testis secara
keseluruhan (
pan/primer testicular failure
). Penurunan
kadar LH mungkin disebabkan karena testosteron pada
penuaan kehilangan biopotensi sehingga tidak efektif
dalam
feedback mechanism
, atau oleh karena stres
fisik dan psikis pada orang tua (pada orang muda stres
justru akan meningkatkan kadar LH) sedangkan pada
wanita post menopause akan terjadi peningkatan FSH
dan LH.
Ipsnpo!Besfobm
Kelenjar adrenal menghasilkan hormon aldosteron,
kortisol, dehydroepiandrosterone (DHEA) dan andro-
stenedion. Defisiensi aldosteron cukup sering dijumpai.
Gejala utama adalah mengantuk, poliuria dan lemah.
Penurunan aldosteron berakibat langsung pada kadar
background image
84
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
Natrium plasma karena terjadi pengeluaran Natrium
melalui ginjal sehingga kadar Natrium plasma menu-
run dan Kalium plasma meningkat. Pengukuran kadar
aldosteron serum digabung dengan pengukuran kadar
natrium dan kalium dalam serum sudah cukup mema-
dai untuk menilai defisiensi hormon aldosteron.
(5)
Ipsnpo!Lpsujtpm
Kortisol dianggap sebagai hormon stres yang utama
didalam tubuh. Hormon ini mengalami perubahan yang
tajam sepanjang hari, yaitu turun hingga kira-kira 90%
dari pagi hingga petang hari. Kadar kortisol tertinggi
antara pukul 07.00­09.00 pagi dan terendah antara
pukul 23.00 malam­04.00 pagi.
(5,8)
Oleh karena itu nilai
normal berbeda tergantung waktu pengambilan. Karena
kortisol disekresikan dengan cepat sebagai respon stres,
keadaan yang menimbulkan stres menjelang pemerik-
saan dapat meningkatkan kadar kortisol. Kadar kortisol
yang sangat tinggi pada pengumpulan petang hari sa-
ngat spesifik untuk
Cushing's Syndrome
. Pemeriksaan
kortisol dapat menggunakan spesimen darah atau saliva
dan spesimen yang terbaik adalah urin 24 jam, karena
kortisol menunjukkan adanya variasi diurnal.
(5,8)
EIFB!)
Efijespfqjboesptufspo
*!ebo!EIFB.T!)
Tvmgbu
*
DHEA dan DHEA-S (sulfat) di sintesa dari kolesterol,
melalui pregnenolone dan sekresinya diatur oleh
ACTH. (gambar 1).
(5)
Gambar 1. Biosintesa Gonadal dan Adrenal Steroid
Waktu paruh DHEA-S (10­20 jam) lebih panjang
daripada DHEA (1­3 jam), sehingga kadar DHEA-S
300­500 kali lebih tinggi daripada DHEA dan lebih
stabil. Oleh karena itu lebih dianjurkan memeriksa ka-
dar DHEA-S dan untuk memeriksa DHEA-S dapat digu-
nakan spesimen darah atau saliva.
(5,11)
Dehydroepiandrosterone
(DHEA) dan
Dehydroepi-
andro-sterone sulfat
(DHEA-S) diproduksi oleh kelenjar
supra-renal dan merupakan salah satu precusor hor-
mon testosteron. Penurunan hormon DHEA/DHEAS
akan diikuti : meningkatnya
interleukin 6
(IL-6) yang
merupakan mediator peningkatan osteoclast yang me-
nyebabkan berkurangnya masa tulang (osteoporosis),
perubahan rasio
cluster differentiation
sehingga timbul
reaksi autoantibodi, kekakuan pembuluh darah koroner,
kegemukan karena penurunan
Resting Metabolic Rate
(RMR), dan kelelahan kronis yang lain. Penurunan hor-
mon ini biasanya akan berhubungan dengan penurunan
kekebalan tubuh yang sesuai dengan teori penuaan
imunologis (
immunological senescence theory
).
(2)
Boesptufofejpo
Androstenedion adalah androgen adrenal. Andro-
stenedion sebagai prohormon untuk estron dan estra-
diol serta testosteron (gambar 1). Pengukuran kadar
dalam serum merupakan baku emas. Pengukuran
dalam urin 24 jam tidak bisa dilakukan karena jumlah
yang dieksresi sangat sedikit.
(5)
Uftuptufspo
Penting bagi pria maupun wanita. Testosteron dise-
kresi oleh sel Leydig testikular dan dapat dikonversi
menjadi dihidrotestosteron. Testosteron total terdiri
dari 3 bentuk yaitu 65% terikat SHBG, 30­32% terikat
albumin dan 1­4% bentuk bebas. Testosteron dalam
bentuk bebas dan terikat albumin, disebut sebagai tes-
tosteron "
bioavailable
". Dianjurkan untuk mengukur tes-
tosteron "
bioavailable
" yang dapat dilakukan dengan 2
metode yaitu metode penghitungan dan metode presip-
itasi. Metode penghitungan yaitu membagi testosteron
total dengan SHBG (
Sex Hormone Binding Globulin
)
menghasilkan
free androgen index
(FAI). Pada metode
presipitasi dilakukan penghilangan testosteron/SHBG
kompleks sehingga menyisakan
free testosterone
dan
albumin testosteron untuk diukur.
(5,12)
Testosteron mengalami variasi diurnal dan kadarnya
menurun sesuai dengan pertambahan usia, baik pada
pria maupun wanita. Tetapi yang pasti menurun se-
benarnya adalah hormon
free testosterone
/
bioavail-
able testosterone
saja. Penurunan hormon testos-
teron umumnya disebabkan karena faktor organik
lain yang mendasari, misalnya :
Atrofi testis
karena
apoptosis yang secara langsung akibat perubahan
GH dan IGF-1 ;
Feedback mechanism
karena adanya
zeno
atau
pseudo-estrogen
dan konsumsi jamu/obat-
obatan yang tidak terkontrol ; penurunan frekuensi,
amplitudo denyutan dan kemampuan
luteinizing hor-
mone
(LH) dalam menstimulasi produksi testosteron
oleh sel leydig ; berkurangnya LH karena hormon tes-
Kolesterol
Pregnenolon
Dihydrostestosterone
DHEA
Dehidroepiandrosteron
Testosteron
Progesteron
Esteron
Androstenedion
Estradiol
background image
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
85
tosteron yang dihasilkan sendiri kehilangan biopotensi
untuk memberi umpan balik (
feedback mechanism
),
atau berkurangnya sensitivitas reseptor LH di dalam
sel Leydig (sel yang memproduksi testosteron dalam
testis). Kadar testosteron urin 24 jam berkorelasi
baik dengan produksi harian sehingga dapat diguna-
kan untuk evaluasi terapi.
(2,10)
Ejijesptuftuptufspo!)EIU*
DHT berasal dari androstenedion dan testosteron
(gambar 1). Pengukuran kadar DHT serum adalah
baku emas. DHT sangat sedikit diekskresi dalam urin
sehingga urin 24 jam tidak bisa digunakan sebagai in-
dikator produksi DHT.
(5)
Metabolit utama DHT adalah androstanediol yang
dapat diukur dalam serum dan urin sebagai andro-
stanediol glukuronida yang menggambarkan hasil
metabolisme DHT. Pada wanita dengan kelebihan hor-
mon androgen, sering dijumpai kadar testosteron dan
DHT normal tetapi ternyata kadar androstanediol glu-
kuronida dalam serum sangat tinggi.
(5)
Ftusphfo
Estrogen adalah androgen aromatik dan terutama
berasal dari gonad walaupun jaringan lemak mampu
menghasilkan sedikit estrogen. Kadar estrogen se-
rum merupakan spesimen pilihan. Estrogen terdapat
dalam 3 jenis yaitu
estradiol, estron
dan
estriol
.
Estra-
diol
adalah hormon yang paling berpotensi di antara
ketiga jenis estrogen utama.
Estron
berada dalam
keseimbangan dengan estradiol dan mempunyai afini-
tas pengikatan reseptor estrogen kira-kira 1/10 dari
estradiol. Peningkatan estradiol berhubungan dengan
peningkatan estron dan sebaliknya.
Estriol
adalah
hormon yang paling lemah diantara ketiga estrogen,
dengan afinitas pengikatan reseptor estrogen kira-
kira 1/100 dari estradiol. Beberapa klinikus menggu-
nakan
free estradiol index
(FEI) yang merupakan hasil
penghitungan dengan membagi estradiol / SHBG (
Sex
Hormone Binding Globulin
). Hari 14­23 dari siklus
haid adalah waktu terbaik untuk menilai estriol, estron
dan estradiol.
(5)
Qsphftufspo
Diproduksi di otak, adrenal, testis, ovarium, dan plasen-
ta. Fungsi progesteron pada wanita sudah jelas, tetapi
fungsi pada laki-laki belum jelas. Diduga, progesteron
berperan pada kebotakan dan fungsi prostat. Untuk
pengukuran kadar progesteron dianjurkan menggu-
nakan serum karena pengukuran pada saliva mem-
beri hasil yang sangat bervariasi.
Kadar progesteron berfluktuasi selama siklus mens-
truasi dengan puncaknya pada fase luteal antara hari
ke 20­23.
(5)
Sex Hormon Binding Globulin (SHBG)
SHBG mengikat testosteron, DHT dan estradiol de-
ngan afinitas lebih besar daripada ikatannya dengan
DHEA, androstenedion dan estriol. SHBG adalah gliko-
protein plasma dan diproduksi oleh sel hati kemudian
masuk ke sirkulasi darah. Kadar SHBG jauh lebih tinggi
pada anak-anak daripada orang dewasa. Pada puber-
tas kadar SHBG menurun baik pada laki-laki maupun
wanita. Pada anak laki-laki penurunan SHBG disebab-
kan meningkatnya produksi testosteron.
(5)
QFNFSJLTBBO!MBCPSBUPSJVN
Pada evaluasi status hormon harus diperhatikan faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.
Beberapa hormon dalam tubuh menunjukkan peruba-
han siklik sepanjang hari, misalnya
Growth Hormone
,
kortisol. Oleh karena itu waktu pengambilan sampel
darah perlu dicatat dengan tepat. Pada wanita pola
hormon seperti estradiol, LH, FSH dan progesteron
menunjukkan irama siklik (siklus haid). Evaluasi status
hormon dalam tubuh dapat menggunakan tiga jenis
spesimen, yaitu saliva, darah dan urin. Masing-masing
spesimen memiliki kelebihan dan kekurangan.
(5,11)
Evaluasi status hormon dengan menggunakan spesi-
men saliva masih belum banyak berkembang. Hal ini
disebabkan kadar hormon yang rendah di dalam sa-
liva yang berkisar antara 1­10% dari kadar hormon
dalam darah dan pada pasien-pasien yang sudah tua
kadar hormon dalam saliva lebih rendah lagi, sehing-
ga dibutuhkan metode pemeriksaan dengan tingkat
sensitivitas yang sangat tinggi. Selain itu, penyakit
perio-dontal yang sering ditemui pada orang sehat
dapat menyebabkan kontaminasi darah pada saliva
sehingga spesimen tersebut tidak representatif lagi.
Kadar hormon dalam saliva mencerminkan fraksi be-
bas dari hormon di dalam plasma. Fraksi bebas dalam
darah, sebagaimana diukur dengan keseimbangan
dialisis, sangat berkorelasi dengan kadar hormon
dalam saliva. Hal ini disebabkan sebagian hormon
fraksi bebas yang terdapat di sirkulasi darah akan
masuk ke dalam saliva. Pengumpulan spesimen saliva
umumnya dikumpulkan pada pagi hari sebelum sikat
gigi, makan atau minum, kecuali melatonin. Sebelum
pengumpulan spesimen saliva pasien disuruh berku-
mur-kumur. Hormon dalam saliva stabil pada suhu ru-
ang selama paling sedikit 3 minggu.
(5,11)
Keuntungan menggunakan spesimen saliva adalah
mudah didapat, bersifat tidak invasif, ekonomis, dapat
dilakukan di rumah sehingga praktis untuk evaluasi
background image
86
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
fluktuasi harian hormon. Waktu pengambilan spesi-
men sangatlah penting untuk hormon yang mempu-
nyai variasi diurnal karena memberikan nilai normal
yang berbeda untuk waktu pengambilan spesimen
yang berbeda.
(5,11)
Serum dan plasma merupakan spesimen baku emas
dalam evaluasi hormon. Metode pemeriksaan bia-
sanya cukup sensitif. Serum dan plasma dapat digu-
nakan untuk evaluasi
Circadian homon
, tetapi memiliki
kekurangan yaitu pasien harus dipungsi vena berkali-
kali. Sehingga spesimen serum dan plasma paling
baik digunakan untuk mengukur kadar puncak setelah
diserap.
(5)
Waktu pengambilan spesimen sangat pen-
ting, tergantung dari cara pemberian hormon terse-
but. Direkomendasikan pada pemberian hormon per
oral spesimen darah diambil 2 jam kemudian dan 4
jam setelah pemberian trans dermal. Hormon yang
diberi melalui suntikan (terutama dalam bentuk depot)
sangat bervariasi dalam waktu absorpsi maksimal-
nya.
(11)
Spesimen urin terutama berguna untuk evaluasi me-
tabolisme hormon. Dibutuhkan urin kumpulan 24 jam.
Selain itu, spesimen urin 24 jam berguna untuk meme-
riksa hormon yang menunjukkan variasi diurnal karena
dapat mengevaluasi produksi hormon selama 24 jam.
Masalah yang dihadapi dengan spesimen urin 24 jam
adalah gangguan fungsi ginjal dan kesulitan pasien me-
ngumpulkan urin 24 jam. Selama pengumpulan urin 24
jam, urin disimpan di lemari es (4
0
C).
(11)
Faktor lain yang harus dipertimbangkan dalam evaluasi
hormon adalah dalam bentuk apa hormon tersebut di-
ukur, bisa dalam bentuk bebas atau terikat dengan pro-
tein.
(5,11)
Pemeriksaan hormon dapat dilakukan dengan
metode radioimmunoassay,
Enzyme Linked Immunoas-
say
(ELISA) dan
immunochemiluminescence
.
(5)
LFTJNQVMBO
Penuaan biologis merupakan gejala penurunan hor-
mon, dan karena penurunan hormon dapat dihindari,
penuaan biologis dapat dicegah, diperlambat atau
dibalikkan tergantung pada hormon yang mengatur
degenerasi dan regenerasi tubuh pada tingkat sel.
Oleh karena itu penting untuk mengukur kadar hor-
mon sebelum melakukan terapi sulih hormon agar
dapat dideteksi apakah sudah terjadi penurunan hor-
mon. Terapi sulih hormon hanya untuk mengganti hor-
mon yang hilang akibat proses penuaan ke kadar nor-
mal fisiologis. Terapi sulih hormon dapat memberikan
manfaat yang mengagumkan sebagai
anti aging
jika
diberikan secara bijaksana dengan pengawasan labo-
ratoris secara periodik untuk menjamin kadar hormon
yang efektif dalam darah.
LFQVTUBLBBO
1. Eulis A.D, Wibowo C. Introduction to Anti Aging Medicine. Cermin
Dunia Kedokteran No. 148, 2005; 55-59.
2. Wibowo S. Andropause: Keluhan, diagnosis dan penanganannya. Buku
kumpulan Makalah The Concepts of Anti Aging, 11­12 Oktober
2003, hal. 11-35.
3. Thomson JL, Butterfield GE, Gylfadottir UK. Yesavage J, Markus R, Hintz
RL, Pearman A. Effect of human growth hormone, insulin-like growth
factor-1 and diet and exercise on body composition of obese postmeno-
pausal women. J Clin Endocrinol Metab. 1998; 83: 1447-58.
4. Chapman IR, Bach MA, Cauter EV. Stimulation of the growth hormone
(GH)-insulin-like growth factor-1 axis by daily administration of a GH
secretagogue (MK677) in healthy elderly subjects. J Clin Endocrinol
Metab 1996; 81: 4249­58.
5. Jacques B, Laboratory Medicine for the Anti Aging Practitioner. In:
Anti Aging Medical Therapeutics, 1st ed. The American Academy of
Anti Aging Medicine; 2003: 317-28.
6. Hertoghe T. Senescence: Theoretical bases (causes, epidemiology,
longevity factors); Physiology of aging of the endocrine glands. In: Anti-
Aging Medicine Specialization-International Committee for Education
in Anti-Aging Medicine. Paris, 2003.
7. Blackman MR. Age related alterations in sleep quality and neuroendo-
crine function interrelationships and implications. JAMA. 2000 Aug
16; 284(7): 879-81.
8. Marshall JC. Control of pituitary Hormone secretion­Role of pulsati-
lity. In: Besser MG, Thorner MO (eds). Comprehensive Clinical Endocri-
nology. Mosby. 2002: 35-46.
9. Ruiz-Torrez A, Soares De Melo Kirzner M. Ageing and longevity are
related to Growth Hormone / Insulin-like Growth Factor-1 secretion.
Gerontology 2002; 48(6):401-7.
10. Kula K. Wranicz K, Strzolanda M, Bolinska-Soltysiak H. Sex hormone
and lutenizing hormone (LH) in a double sample venous blood lipid
profile in men with coronary artery disease (CAD). The Aging Male
1998; 1(suppl 1): 044.
11. Buletin khusus ABC, edisi I / 2003.
12. Lunenfeld B Preface. The Aging Male 2001; 4: 201­202 (Abstracts
of the 3rd World Congress on the Aging Male, Berlin, Germany Feb-
ruary 7-10, 2002).